• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Kritis

Dalam dokumen Dengan Pendekatan Teologis dan Filosofis (Halaman 117-125)

1. Kebanyakan individu menganggap bahwa pendidikan hanyalah formalitas yang hanya numpang lewat saja dalam sebuah kehidupan, sehingga pendidikan itu hanya dianggap sebagai pelengkap, dan hanya

Ilmu Pendidikan Islam | 102

adalah pedoman dan bekal agar hidup penuh makna dan berkualitas. Fakta di lapangan nampak keengganan individu dalam pendidikan. Sehingga lebih semangat bekerja dari pada belajar. Akhirnya penyesalan kelaklah yang ia tunggu, dimana orang lain sukses karena pendidikan, ia hanya menjadi penonton dan meratapi penyeselannya.

2. Pemahaman orang tua terhadap pendidikan dominan hanya untuk memperoleh ijazah agar mudah bekerja, sehingga pendidikan yang dicari adalah pendidikan yang mempunyai koneksitas dengan dunia kerja. Slogan itu muncul dimana-mana, walau faktanya ternyata tidak mudah juga bekerja, karena memang lapangan pekerjaan sangat terbatas. Padahal bekerja itu salah satu akibat dari pendidikan.

3. Ada kekeliruan yang sudah menjadi watak dalam kehidupan masyarakat, yaitu bahwa kewajiban orang tua dalam pendidikan hanya material saja, tidak perlu orang tua mengajarkan pelajaran, karena anaknya sudah belajar di sekolah, tidak perlu orang tua mengarkan ngaji, karena anaknya sudah ngaji di madrasah atau masjid. Padahal yang paling penting itu adalah komunikasi pendidikan antara orang tua dan anak sebagai recheck atas pendidikannya selama ini. Kekeliruan berfikir ini muncul mungkin karena orang tua tidak mengerti arti dari sebuah kewajiban mendidik, atau karena kesibukan, mereka malas dan lelah.

4. Masyarakat kurang peduli terhadap pendidikan anak-anak, mereka hanya peduli dengan anak kandung, sementara anak tetangga dan yang lainnya tidak dipedulikan. Alasannya itu domain orang tuanya masing-masing, kami tidak mau ikut campur, khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Pembiaran ini lama-lama akan menjadi karakter dan akhirnya anak-anak tidak takut, karena masyarakat juga toleran, akhirnya mereka memperoleh kebebasan itu yang justru menjerumuskan mereka kedalam ketidakteraturan.

5. Sampai saat ini, walaupun pemerintah sudah menggratiskan pendidikan mulai dari SD/MI sampai dengan SMP/MTs,

Ilmu Pendidikan Islam | 103 namun masih banyak anak-anak yang tidak bisa sekolah. Antara lain karena jarak ke sekolah sangat jauh, ini terjadi di daerah-daerah pesisir dan pedesaan. Kedua, anak-anak sudah mengetahui nilai uang, sehingga mereka lebih senang menjadi pengemis dari pada belajar. Ketiga, anak-anak membantu orang tuanya bekerja, sehingga abai dengan pendidikannya. Dalam hal ini diperlukan keseriusan pemerintah untuk mensosialisasikan wajib belajar sembilan tahun. Kementerian pendidikan, kementerian sosial, kementerian agama dan kementerian tenaga kerja harus duduk bersama memikirkan problematika yang terjadi di masyarakat ini.

Ilmu Pendidikan Islam | 104

1. Menurut UUD 1945 pasal 31 dijelaskan bahwa pendidikan adalah tanggungjawab negara/pemerintah.

2. Dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN), (Ketetapan MPR No.IV/MPR/1978), dinyatakan bahwa: “Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan keluarga, sekolah serta masyarakat. Karena itu pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah”.

3. Pengertian dari tanggung jawab adalah suatu sikap seseorang yang secara sadar dan berani mau mengakui apa yang dilakukan / kemudian ia berani memikul segala resikonya.

4. Islam memandang pendidikan sebagai tanggung jawab yang meliputi individu, orang tua, guru, masyarakat dan pemerintah secara bersama.

5. Tanggung jawab individu terhadap pendidikannya sendiri adalah bahwa kewajiban yang melekat pada dirinya sebagai seorang mukallaf, tidak akan bisa dilakukan kecuali dengan ilmu, ilmu itu diperoleh melalui belajar, belajar itu berarti pendidikan. Individu yang mau berubah, berarti individu yang mau dididik.

6. UUSPN No 20 tahun 2003/Bab IV/Pasal 7 ayat 1 dan 2 menyebutkan, “Orang tua berhak berperan serta dalam memilih satuan pendidikan dan memperoleh informasi tentang perkembangan pendidikan anaknya. Orang tua dari anak usia wajib belajar, berkewajiban memberikan pendidikan dasar kepada anaknya.’’

7. Peranan dan tanggung jawab keluarga, terutama orang tua, di mulai dari ketika anak lahir sampai menikah di usia dewasa. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW,’’Kewajiban orang tua kepada anaknya, yaitu memberi nama yang indah, mengajari sopan santun, membaca dan menulis, berenang, memanah dan mengawinkannya apabila ia telah dewasa. (HR.Hakim).

Ilmu Pendidikan Islam | 105 8. Kewajiban seorang guru atau pendidikan tidak hanya transfer of

knowledge tetapi lebih itu ia harus mampu transfer of value sebab guru adalah agent of change. Perubahan-perubahan perbaikan karakter bangsa hanya bisa dirubah dengan perbaikan, dan guru adalah perubahnya.

9. Masyarakat mempunyai tanggung jawab terhadap pendidikan, Karena peserta didik itu hidup ditengah-tengah masyarakat, sehingga masyarakat yang sudah beradab (civil society) menjadi kontrol sosial terhadap pendidikan individu.

10. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia (UUD 1945 hasil amandemen) pasal 31 ayat 2 dan 3, “setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur Undang-undang.”

Ilmu Pendidikan Islam | 106

1. Tuliskan ayat Al-Quran beserta terjemahnya yang menyatakan kewajiban individu untuk memelihara diri dan keluarga dari api neraka? Lalu jelaskan!

2. Tuliskan hadits beserta terjemahnya yang menyatakan bahwa setiap kalian itu adalah pemimpin? Lalu jelaskan!

3. Sebutkan tanggung jawab pemerintah dalam pendidikan menurut Undang Undang Dasar 1945, dan Undang-Undang No.20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional.

4. Kewajiban guru dalam pendidikan tidak hanya transfer of knowledge, tetapi juga transfer of value, jelaskan!

5. Berikan contoh partisipasi masyarakat dalam menegakkan tanggung jawab pendidikan!

***

Ilmu Pendidikan Islam | 107

Daftar Pustaka

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Depdikbud, 1988), Hlm. 288.

Muhammad bin Yazid Abu Abdillah al-Qazwaeni, Sunan Ibnu Majah, (Beirut: Dar Fikr, t.th)

Zakiah Daradzat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996) Suyuthi, Tafsir Durul Mantsur, Juz.29 Surat At-Tahrim CD Maktabah

Maarif Islamiyah

Oemar Muhammad Al-Toumy Al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979)

Ilmu Pendidikan Islam | 109 PETA KONSEP

JENIS-JENIS PENDIDIKAN

NON FORMAL

Dalam dokumen Dengan Pendekatan Teologis dan Filosofis (Halaman 117-125)