• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jenis – Jenis Pendidikan

Dalam dokumen Dengan Pendekatan Teologis dan Filosofis (Halaman 63-68)

Kedudukan Sunnah dalam Tasyri’ Islam

E. Jenis – Jenis Pendidikan

Menurut UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS Bagian Kesatu:

1. Jalur Pendidikan terdiri atas pendidikan formal, non formal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. 2. Pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

diselenggarakan dengan sistem terbuka melalui tatap muka dan/ atau melalui jarak jauh.

Adapun jenis-jenis Pendidikan di Indonesia yaitu:

1. Lembaga Pendidikan Formal Ialah semua bentuk pendidikan yang diadakan di Sekolah atau tempat-tempat tertentu, teratur, sistematis, mempunyai jenjang dan kurun waktu tertentu. Serta berlangsung dari mulai taman kanak-kanak sampai Perguruan Tinggi, berdasarkan aturan resmi yang ditetapkan. Pada umumnya lembaga pendidikan formal adalah tempat pendidikan yang paling memungkinkan seseorang meningkatkan pengetahuan dan paling mudah untuk membina generasi muda yang dilaksanakan oleh Pemerintah dan masyarakat.36

36http//: maydina. multiply. com/Jenjang Pendidikan/di unduh pada hari minggu, tanggal 28 maret 2010, jam 17. 30.

Ilmu Pendidikan Islam | 48

2. Lembaga Pendidikan Non Formal (Pendidikan Luar Sekolah) Ialah semua bentuk Pendidikan yang diselenggarakan dengan sengaja, tertib, dan terencana diluar kegiatan persekolahan. Bidang pendidikan non formal meliputi :

 Pendidikan Masyarakat  Keolahragaan

 Pembinaan Generasi Muda

Mengenai pendidikan non formal pemerintah telah mengaturnya pada pasal 26 UUSPN bahwa:

(1) Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. (2) Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi

peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional.

(3) Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.

(4) Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis.

(5) Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Ilmu Pendidikan Islam | 49 (6) Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan

hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.

3. Lembaga Pendidikan In-Formal ialah Pendidikan yang berlangsung diluar sekolah yang tidak terorganisir secara ketat, tidak terbatas waktu dan tanpa evaluasi. Pendidikan in-formal ini terutama berlangsung di tengah keluarga, namun mungkin juga berlangsung di lingkungan sekitar seperti pasar, terminal, tempat bermain, dan sebagainya.37

Pasal 27 UUSPN mengatakan bahwa :

(1) Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. (2) Hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.

Isu-Isu Etis (Analisis Kritis)

Bagaimanapun seorang anak digembleng di sekolah selama 5-8 jam, tetapi apabila diluar itu yaitudi rumah atau lingkungan tidak baik, maka

kemungkinan besar apabila anak tidak memiliki basic yang kuat, ia akan banyak terpengaruh oleh lingkungan keluarga dan masyarakat di sekitarnya. Berikut ini problematika yang dihadapi dalam pendidikan informal:

1. Latar belakang pendidikan, ekonomi, status sosial dan sebagainya memberikan pengaruh terhadap peningkatan pendidikan anak, tentu pengaruh yang diberikan tidak 100 %,

37Sudirman N, Ilmu Pendidikan, (Bandung: Remadja Karya, t. th), cetakan ke 1, hlm. 21

Ilmu Pendidikan Islam | 50

sebab adakalanya anak menemukan sesuatu (faktor X) diluar keluarga, yang membuatnya berfikir jernih dan termotivasi untuk bangkit memperbaiki taraf hidup keluarga atau karena ia adalah tulang punggung keluarga maka ia merubah semua itu dengan pendidikan sekaligus bekerja;

2. Tingkat kepedulian orangtua terhadap pendidikan anak masih sangat rendah, hal ini dibuktikan dengan angka partisipasi masyarakat yang sangat rendah dalam memasukkan anaknya untuk sekolah, khususnya wajib belajar sembilan tahun. Masalahnya adalah kemungkinan orangtua tidak mengerti untuk apa sekolah? Bahwa mereka memahami bahwa anak adalah bantuan dari Sang Maha Pencipta untuk membantu orangtua bekerja!, khususnya mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan;

3. Kewajiban orangtua hanya membiayai saja (material), sehingga ketika mereka sudah mengeluarkan sejumlah uang untuk keperluan sekolah, bimbel, privat dan sebagainya. Orangtua sudah tidak mempunyai kewajiban apa-apa lagi, padahal penting bagi orangtua untuk mengecek intelektual, emosional, sosial intelegensi anaknya masing-masing. Artinya, bahwa komunikasi antara orangtua dengan anak, khususnya dalam masalah pendidikan sangat diperlukan. Sesibuk apapun orangtua, maka ia harus meluangkan waktunya untuk memberikan perhatian kepada anak baik intelektual, emosional, sosial, spiritual dan sebagainya. Sehingga fungsi keluarga sebagai al-madrasah al-ula (pendidikan yang pertama) berjalan dengan baik, sebab keluarga juga merupakan alat untuk mengontrol atau mengevaluasi keberhasilan pendidikan anak;

4. Pemahaman bahwa sekolah adalah untuk bekerja. Ketika masyarakat melihat output (lulusan) banyak yang menganggur, terutama pada tingkat pendidikan tinggi (sarjana), maka pemahaman mereka bahwa sekolah tinggi-tinggi tidak diperlukan apabila tidak mempunyai relevansi atau tidak berimplikasi kepada dunia kerja, hasilnya bahwa

Ilmu Pendidikan Islam | 51 semakin tinggi jenjang pendidikan maka semakin rendah angka partisipasi masyarakatnya dalam mengikuti pendidikan; 5. Tidak ada sinergitas antara orangtua atau wali dengan pihak sekolah dalam hal ini kepala sekolah, guru bimbingan konseling, guru wali kelas dan guru bidang studi. Komunikasi aktif antara orangtua dengan sekolah sangat penting, hal ini dimaksudkan untuk mengetahui progress report anak didik, sebab dengan progress report itulah dapat diketahui perubahan dan perkembangan peserta didik. Oleh karena itu perlu direncanakan dan dilaksanakan konsultasi antara orangtua dan sekolah minimal satu semester dua kali, sementara ini orangtua dikumpulkan hanya ketika pembagian raport saja atau menjelang pembagian ijazah atau ketika akan study tour dan sebagainya.

6. Kebiasaan di keluarga memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap perkembangan peserta didik. Tidak sedikit seorang anak cerdas di sekolah namun sikapnya tidak sesuai dengan kecerdasannya. Ini disebabkan oleh pengaruh keluarga yang tidak baik, misalnya perceraian, pertikaian orangtua mereka di hadapan mereka dan sebagainya, sehingga ini membuat anak trauma, tidak saja pada saat itu, bahkan ada kemungkinan akan ia bawa ketika berumah tangga. Faktor dominan anak broken home adalah masalah keluarga, pergaulan bebas, minuman keras, gang dan sebagainya menjadi jalan keluar dan tempat happy bagi mereka (pelampiasan). Oleh karena itu bagi para orangtua apabila terjadi perselisihan antara suami-istri, maka seharusnya tidak dihadapan putra-putrinya, seharusnya mereka tidak perlu tahu. Perlihatkan kehidupan yang romantis, kalaupun terjadi masalah, maka selesaikanlah berdua dikamar atau di tempat nostalgia dulu dan sebagainya, sebab dampak dari pertikaian itu yang menjadi korban setelah mereka adalah anak. Ini memberikan implikasi yang sangat besar terhadap psikologi dan perkembangan anak.

Ilmu Pendidikan Islam | 52

Dalam dokumen Dengan Pendekatan Teologis dan Filosofis (Halaman 63-68)