TUJUAN PENDIDIKAN
A. Nilai Filosofis Sebuah “ Tujuan ”
1. Manusia Adalah Makhluk Berfikir
Sebagaimana telah diterangkan, bahwa manusia dapat berfikir, karena manusia mempunyai akal. Ada sebuah pertanyaan, dikatakan bahwa semua manusia mempunyai akal, akan tetapi ketika akal ini dipakai untuk berfikir dan menghasilkan sebuah pikiran, ide atau gagasan, maka buah pikiran tersebut sangat banyak, sebanyak orang yang berfikir mengenai objek tersebut? Mengapa terjadi demikian! Apakah akal yang ada pada masing-masing manusia itu berbeda? Ataukah ada hal-hal yang membuat kualitas akal tersebut
Ilmu Pendidikan Islam | 68
berbeda! Memang ada buah pikiran yang sama, tetapi pada umumnya berbeda tergantung terhadap keinginan dan tujuan yang akan dicapai dari hasil berfikir tersebut.
Dalam ilmu mantiq atau logika, manusia di definisikan sebagai “hayawan an-natiq” yang berarti hewan yang berfikir. Padahal arti lexical dari “nathiq” orang yang berbicara, tetapi kemudian ditafsirkan dengan berfikir. Mungkin kalau diterjemahkan dengan berbicara, maka tidak ada perbedaan antara hewan dan manusia, sebab setiap hewan juga berbicara, tentunya sesuai dengan bahasa hewan masing-masing. Manusia juga berbicara sesuai dengan bahasanya masing-masing. orang yang berasal dari suku sunda belum tentu paham kalau berbicara dengan orang yang berasal dari suku batak, kalau ia tidak belajar terlebih dahulu.
Ketika orang sunda ingin menguasai bahasa batak, maka ia belajar bahasa batak dengan aturan bahasa batak. Pada proses belajar bahasa batak itulah orang sunda berfikir agar sesegera mungkin mengerti bahasa batak (tulisan dan pengucapan). tatkala orang yang belajarnya bahasa batak itu banyak, misalkan 10 orang bahasa sunda, ternyata hasilnya tidak secara bersamaan bisa bahasa batak. Ada yang betul-betul paham bahkan persis seperti orang batak dalam berdialeknya, tetapi juga ada yang paham bahasa batak, ia mampu berbicara dengan bahasa batak, namun dialeknya masih bahasa sunda dan seterusnya.
Setelah diteliti ternyata jawaban ketidakbersamaan hasil dalam menguasai bahasa batak ini banyak, diantaranya: ada yang cepat berhasil karena ternyata nenek moyangnya dulu adalah orang batak – dalam hal ini berarti proses genetik mempunyai pengaruh terhadap bakat berbahasa seseorang. Ada juga yang cepat bisa karena ia mendapatkan kekasih orang batak, sehingga motivasi untuk menguasai bahasa batak tersebut sangat tinggi, ini juga mempengaruhi terhadap cepatnya proses kemampuan berbahasa batak. Sementara yang lambat menguasai bahasa batak karena ia merasa terpaksa belajar bahasa tersebut, atau karena ketika belajar bahasa batak, ia tidak serius/tidak mempraktekan bahasa batak, malah ia berbicara dengan bahasa sunda.
Ilmu Pendidikan Islam | 69 Pengibaratan ini hanyalah satu contoh kecil dimana manusia mencoba berfikir bersama-sama tetapi kemudian hasilnya ternyata berbeda-beda. Memang terdapat beberapa pengaruh yang mempengaruhi keberhasilan berfikir. Secara global faktor-faktor yang mempengaruhi proses berfikir itu dapat dibagi dua;
a. Faktor yang datang dari dalam (internal) b. Faktor yang datang dari luar (external)
Faktor internal yang mempengaruhi proses berfikir adalah kesiapan fisik, kesiapan akal dan kesiapan ruhani. Sedangkan faktor externalnya adalah pengaruh dari lingkungan, mulai dari keluarga (keluarga serumah, kerabat dekat dan kerabat jauh), lingkungan tetangga (dekat atau jauh), lingkungan bermain, lingkungan belajar (sekolah, kursus, lembaga pendidikan full day dan boarding school).
Uraian proses berfikir yang diakibatkan oleh faktor internal dan ekternal itu mungkin cukup disini, karena penjelasan berikutnya adalah sudah memasuki wilayah ilmu pendidikan.
2. Manusia Adalah Makhluk Unik
Manusia adalah makhluk unik, keunikan ini diakibatkan karena manusia berfikir, semakin banyak manusia berfikir, maka semakin banyak pula keunikannya. Disebut unik karena kepribadian manusia dinamis, tidak seperti hewan yang statis. Sebagai contoh yang namanya kambing makanannya adalah rumput, ia hanya hidup di darat, kalau ditenggelamkan maka kambing akan mati, ia kawin dengan siapa saja asal betinanya mau atau dikawinkan oleh manusia, makanya dari dulu sampai sekarangpun makanan kambing tetap rumput. Kehidupan kambing statis begitu juga dengan hewan-hewan yang lain. Teori mengatakan bahwa kambing adalah pemakan rumput dan termasuk jenis herbifora, selamanya akan bersifat demikian selama kambing masih makan rumput-rumputan. Adapun pada suatu saat kambing makan daging (daging makan daging), jika itu berlaku untuk semua kambing, maka runtuhlah teori yang menyatakan bahwa kambing selama-lamanya adalah pemakan rumput. Tetapi jika hanya berlaku untuk satu atau dua
Ilmu Pendidikan Islam | 70
ekor kambing maka itu mungkin hanya pengkhususan kalau tidak mau disebut kebetulan.
Jika kambing demikian, lain halnya dengan manusia yang pada situasi yang sama ia dapat bergembira juga bersedih. Misalnya saking bergembiranya seseorang bertemu dengan istrinya setelah lama berpisah, maka keduanya malah menangis. Ketika ada orang melihat prilaku keduanya dari jarak yang begitu jauh, tentu jawabannya akan berbeda-beda. Mungkin ada orang yang mengira keduanya terkena kecelakaan, ada orang yang mengira karena kematian keluarganya, karena digusur, atau karena dianiaya oleh orang lain dan sebagainya. Tetapi mungkin juga dengan ciri-ciri nangis tertentu setelah orang yang melihatnya itu memperhatikan, ia akan memprediksi “oh keduanya sedang berbahagia, saking bahagianya lalu keduanya menangis”.
Begitu juga dengan berbagai macam persepsi dan paradigma manusia dapat berbeda dalam satu waktu, sebaliknya dapat sama walaupun dengan waktu yang berbeda. Karena kebenaran manusia tidak bersifat mutlak, Suatu Kebenaran apabila diklasifikasikan kebeberapa bagian, untuk sementara dapat ditarik tiga katagori ;
1) Kebenaran “Absolute True”, kebenaran ini hanya berada pada Allah Swt, sebagai Maha Pencipta dan Maha berkehendak. 2) Kebenaran “Spesifik”, Kebenaran yang ada pada manusia
karena berbeda memandang dari berbagai macam, model, arah, gaya dan cara pandang, sehingga menimbulkan kebenaran yang variatif.
3) Kebenaran “Expanding and Growing”, Kebenaran yang bersifat temporer, pada satu tempat dan masa dipakai, tetapi belum tentu dipakai pada kurun waktu yang lain.
Atas dasar inilah secara teks dan konteks disimpulkan bahwa manusia adalah makhluk unik. Keunikan ini juga merupakan bukti kesempurnaan manusia dari pada hewan. Sebagaimana firman Allah Swt dalam Q.S At-Tin, [95]:4
Ilmu Pendidikan Islam | 71
“sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya”.
3. Kebutuhan Manusia Terhadap Pendidikan
Karena manusia adalah makhluk berfikir, sehingga menjadi makhluk unik, yang kemudian manusia membutuhkan apa yang disebut dengan pendidikan, karena berfikir bagi manusia adalah suatu kebutuhan, maka pendidikan adalah kebutuhan pokok umat manusia. Sebab hewan tidak butuh kepada pendidikan sehingga mereka tidak unik karena memang tidak berfikir, dan disiapkan bukan untuk berfikir tetapi untuk makanan, tunggangan, hiasan manusia sebagai “khalifah fil ardh”.
Sebaliknya manusia diciptakan justru untuk berfikir, berarti juga manusia diciptakan agara belajar atau berpendidikan, sehingga manusia mampu mengolah apa yang telah Allah Swt tundukkan kepada manusia. Apalagi manusia yang beriman kepada Allah Swt, dari alam ruh telah dididik oleh Allah agar menjadi manusia yang beriman dan berfikir. Lebih lanjut bahwa manusia harus mengetahui kenapa ia diciptakan? Untuk apa ia diciptakan? Kedua pertanyaan ini sering dilontarkan oleh para ahli, namun ketika muncul pertanyaan bagaimana manusia diciptakan? Kebanyakan orang mencari terbuat dari bahan apa manusia itu diciptakan! Sementara terhadap pemikiran proses penciptaanya tidak banyak orang yang meneliti kecuali berdasarkan kebutuhan, seperti kehamilan, medis, penyakit dan sebagainya. Padahal manusia dapat belajar dari proses penciptaan tersebut, dan yang paling penting adalah sebelum proses penciptaan itu berlangsung, Allah Swt sudah merumuskan tujuan penciptaannya. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S Adz-Dzariyat, [51] : 56.
Ilmu Pendidikan Islam | 72
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka menyembah-Ku”.