• Tidak ada hasil yang ditemukan

Modal Sosial Program PUAP

Modal Sosial merupakan kemampuan individu dalam membangun hubungan-hubungan dalam masyarakat seperti kepercayaan, norma-norma, dan jaringan sosial yang membantu individu tersebut untuk bersosialisasi dengan masyarakat dan membantu memenuhi kebutuhan hidupnya. Secara khusus modal sosial juga membantu masyarakat untuk menjalankan suatu kegiatan maupun program baik dari pemerintah maupun swadaya. Penelitian ini menjelaskan hasil identifikasi unsur-unsur modal sosial meliputi jaringan sosial, kepercayaan, dan norma yang diterapkan oleh masyarakat Desa Ngetuk dalam menjalankan usaha taninya. Selain itu juga untuk mengetahui peran modal sosial dalam mendukung berjalannya Program PUAP yang telah dikelola gapoktan sehingga menjadi desa dan tergolong bagus pengelolaannya dibandingkan desa lain.

Kepercayaan

Kepercayaan atau trust merupakan suatu bentuk keinginan untuk mengambil resiko dalam hubungan sosial yang didasari perasaan yakin bahwa orang lain akan melakukan sesuatu sesuai dengan yang kita harapkan dan akan bertindak kedalam pola yang saling mendukung (Putnam dalam Alfitri 2011). Kepercayaan terhadap program merupakan perasaan yakin dari anggota terhadap program maupun orang-orang yang mengurusi program tersebut mampu menjalankan program dengan benar. Kepercayaan ini dilihat dari beberapa indikator meliputi kepercayaan penerima program terhadap pengelola PUAP, penyuluh pendamping, pegurus gapoktan, dan kepercayaan terhadap anggota lain. Berdasarkan hasil penelitian tingkat kepercayaan terhadap program yang dilakukan kepada penerima Program Simpan Pinjam PUAP sebanyak 45 responden, hasil menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan penerima program tergolong tinggi karena sebanyak 75.6% atau 34 orang termasuk pada kategori tingkat kepercayaan tinggi. Sedangkan 24.4% atau 11 orang sisanya masuk pada kategori sedang. Sementara tidak ada penerima yang menempati posisi rendah. Hal ini dapat terlihat pada Tabel 24.

Tabel 24 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat kepercayaan Program PUAP 2016

Tingkat Kepercayaan Jumlah (n) Persentase (%)

Sedang 15 33.3

Tinggi 30 66.7

Total 45 100.0

Tingkat kepercayaan penerima program PUAP di Desa Ngetuk tergolong tinggi dapat dikarenakan sifat dari masyarakat sendiri yang saling mempercayai dan menghargai, selain itu juga didukung oleh kinerja dari pengurus dan anggota yang baik dipandang masyarakat. Sifat saling mempercayai ini dapat dilihat dari perilaku penerima program yang selalu mendukung dan mematuhi aturan gapoktan

42

meskipun pengurus gapoktan tersebut telah beberapa kali berganti dan ada yang kurang kompeten. Sifat tersebut juga tercermin dalam perilaku masyarakat desa yang selalu menuruti arahan dari perangkat desa, terlepas perangkat tersebut memiliki pengetahuan tinggi ataupun tidak. Mereka percaya bahwa arahan perangkat desa untuk membantu masyarakat dan kebaikan desa sendiri.

Kepercayaan tersebut juga tercermin dalam kehidupan penerima program dan pengurus program sendiri. Sebagian besar warga penerima Program PUAP telah mengangsur dan melunasi pinjamannya. Hanya sebagian kecil yang menunggak dan tidak mau melunasi pinjamannya. Adapun sebagian warga yang telat membayar selama 2-3 bulan meskipun secara administratif harus didenda, namun pengurus lebih memilih mengingatkan penerima dahulu dari pada mendenda. Hal ini karena pengurus pun percaya bahwa anggota tani pada dasarnya orang baik-baik dan pasti berusaha melunasi pinjamannya jika telah memiliki uang. Pernyataan ini sesuai dengan penuturan yang dikemukakan oleh salah satu responden berikut.

“Kalau di aturan itu katanya ada tapi sampai selama ini gak dijalankan, karena apa karena akhirnya juga dia baik sendiri. Dulu katanya pak kalau ngagsurnya telat saya tu didenda, tapi selama ini dendanya di administrasi ndak ada. Ya Cuma istilahe kita bikin aturan tapi ya namanya orang ya mas ya” (SKT, 46 Tahun)

Jika diidentifikasi lebih mendalam kepercayaan tersebut sebenarnya menunjukkan nilai yang berbeda-beda pada setiap lembaga atau orang. Seperti kepercayaan terhadap pengurus, anggota, dan penyuluh lapang menunjukan nilai dan tanggapan yang berbeda-beda pula. Seperti penuturan salah seorang informan terkait tanggapannya terhadap pengurus gapoktan sebagai berikut.

“Dari rekan-rekan ada yang bilang, pak pengurus itu sregep (rajin) kok pak nek ono masalah iku (jika ada masalah) langsung ditangani lah masalahnya, tapi juga tanya ini-ini gitu”(SKT, 46 Tahun)

Pendapat tersebut menunjukkan bentuk kepercayaan penerima terhadap pengurus gapoktan. Jika ada masalah pada pengurus maka langsung ditangani agar penerima tidak terkena dampaknya. Secara lebih jelas bentuk kepercayaan penerima pada lembaga dan orang-orang yang terkait seperti pengurus, anggota, dan penyuluh lapang dapat dilihat pada Tabel 25. Tabel tersebut menunjukan bahwa tingkat kepercayaan yang dominan tinggi lebih terlihat pada pengurus gapoktan dengan jumlah 38 orang atau 84.4 persen, dan anggota gapoktan dengan jumlah 39 orang atau 86.7 persen. Sementara penyuluh pendamping menunjukan tingkat kepercayaan antara sedang dan tinggi dengan jumlah tinggi hanya 20 orang atau 44.4 persen.

43

Tabel 25 Jumlah dan persentase responden berdasarkan 2016 tingkat kepercayaan terhadap pengurus gapoktan, anggota, dan penyuluh pendamping 2016

Tingkat Kepercaya

an

Pengurus Gapoktan Anggota

Gapoktan Penyuluh Pendamping Jumlah (n) Persen tase (%) Jumlah (n) Persen tase (%) Jumlah (n) Persen tase (%) Rendah Sedang Tinggi 3 6.7 0 0.0 2 4.4 4 8.9 9 20.0 24 53.3 38 84.4 36 80.0 19 42.2 Total 45 100.0 45 100.0 45 100.0

Tingkat kepercayaan tinggi pada pengurus gapoktan dan anggota gapoktan dapat disebabkan oleh beberapa hal. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa kepercayaan penerima terhadap pengurus dapat dikarenakan faktor dari kinerja pengurus sendiri yang bagus. Seperti yang dikatakan seorang responden bahwa pengurus rata-rata sudah bagus. Hanya sebagian kecil yang kurang bagus dan itu juga sudah diatasi. Kepercayaan terhadap anggota gapoktan sangat tinggi juga dikarenakan selain dari sifat masyarakat juga dilihat dari kinerja penerima program yang sebagian besar bagus dalam mengangsur Program PUAP dan menaati peraturan. Tingginya kepercayaan tersebut membuat pengurus gapoktan menoleransi jaminan pinjaman menjadi ringan agar tidak memberatkan penerima.

“Bantuan hutang terbatas, tidak pakai agunan mas. Sampai 2 juta itu tidak pakai agunan. Karena saya percaya orang ngetuk itu banyak yang mengembalikan. Banyak yang mengembalikan daripada yang menggelapkan. Saya percaya saja” (TM, 64 Tahun)

Sementara pada tingkat kepercayaan penyuluh lapang tidak setinggi pengurus gapoktan dan anggota gapoktan dikarenakan kinerja dari penyuluh pendamping yang kurang kelihatan menurut penerima program. Penyuluh pendamping jarang datang ke rapat pengurus gapoktan dan jarang melakukan sosialisasi dengan anggota gapoktan sehingga penyuluh pendamping kurang dipercaya oleh penerima program. Bahkan ada beberapa responden yang salah menyebut nama penyuluh dan tidak mengetahuinya. Seperti penuturan salah satu responden berikut.

“Jarang niku kok, kulo nggeh nembe semerep PPL e nggeh. Mas Anton berarti ketoke. Nggeh ngoten niku lah nek mantau mboten terus sering ngoten (PPL jarang hadir, saya juga baru tau PPL nya mas Anton kayanya. Ya kalau memantau tidak sering begitu)” (SHT, 35 Tahun)

Namun terlepas dari kurangnya kinerja penyuluh, masyarakat Desa Ngetuk khususnya penerima Program PUAP masih percaya bahwa penyuluh pendamping tetap mengontrol jalannya Program PUAP meskipun tidak rutin tapi tetap membantu simpan pinjam hingga berjalan terus sampai saat ini.

44

Norma

Norma merupakan sekumpulan aturan yang diharapkan dipatuhi dan diikuti oleh anggota masyarakat dalam suatu entitas sosial tertentu. Norma biasanya memiliki aturan kolektif yang tidak tertulis namun telah dipahami masyarakat dalam mengatur pola hidup mereka seperti menghormati yang lebih tua, sopan santun, tidak mengganggu kesibukan orang lain, dan adat istiadat. Norma berperan sebagai pengatur perilaku seseorang dalam masyarakat dan mampu berperan sebagai kontrol masyarakat agar bertindak patuh sesuai dengan yang masyarakat harapkan. Khususnya pada program, norma mampu mengatur kepatuhan warga terhadap aturan-aturan yang ditetapkan program dan mampu sebagai kontrol agar pelaksana program yang kurang sesuai aturan akan merasa jera dan kurang pantas. Norma pada Desa Ngetuk sendiri telah diterapkan untuk membantu mengatur kepatuhan penerima terhadap Program Simpan Pinjam PUAP. Norma tersebut tercermin dari aturan-aturan yang digunakan sebagai pedoman menjalankan simpan pinjam PUAP ini. Bentuk aturan dan penerapannya sebagai berikut.

Tabel 26 Norma aturan dan penerapan simpan pinjam PUAP 2016

No Aturan Penerapan

1 Pengangkatan anggota tani hanya untuk masyarakat yang bekerja sebagai petani / petani penggarap

Selain petani dan petani penggarap, warga yang memiliki pekerjaan usaha tani dan usaha rumahan boleh menjadi anggota tani.

2 Seluruh anggota diundang rapat bersama

Sebagian anggota yang diundang rapat bersama

3 Peminjam PUAP harus membayar

iuran wajib, pokok, dan sukarela, serta dikenai Bunga 1% selama 10 kali angsuran.

Sesuai aturan

4 Ada jaminan BPKB sepeda motor atau sertifikat berharga lainnya. Namun jika tidak mempunyai harus ada orang yang menjamin

Tidak ada jaminan. Peminjam hanya membawa surat rekomendasi dari ketua potan.

5 Peminjam yang memiliki tunggakan

2 bulan berturut-turut akan didenda.

Tidak ada denda. Hanya diberi surat dan diingatkan oleh pengurus gapoktan dan ketua poktan.

Pada Tabel 26 tersebut menunjukan sebagian aturan terdapat perbedaan dalam penerapannya. Hal ini disebabkan bukan sepenuhnya karena pengurus gapoktan yang kurang menaati peraturan, namun lebih menyesuaikan dengan norma yang ada di masyarakat. Penerapan-penerapan aturan ini telah disepakati bersama anggota dalam musyawarah dengan tujuan agar Program Simpan Pinjam PUAP dapat dimanfaatkan oleh semua anggota tani dan tidak memberi beban bagi mereka. Hingga kepengurusan tahun 2016 ini terbukti penerapan aturan yang lebih mudah tersebut sudah mampu mengatur sistem simpan pinjam dengan baik.

Selanjutnya norma dalam masyarakat dapat identifikasi tingkatannya berdasarkan bentuk kepatuhan warga dan sangsi yang diterapkan. Berdasarkan

45

Tabel 27, tingkat norma pada penerima Program PUAP di Desa Ngetuk menunjukan bahwa tingkat norma penerima program tergolong tinggi karena frekuensi tingkat norma tinggi berjumlah 42 orang atau 93.3 persen. Hampir dari keseluruhan penerima program yang diambil memiliki tingkat norma yang tinggi. Sementara sisanya sebesar 3 atau 6.7 persen berada pada tingkat sedang. Tidak ada penerima yang diambil menduduki tingkat norma rendah.

Tabel 27 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat norma 2016

Tingkat Norma Jumlah (n) Persentase (%)

Sedang 8 17.8

Tinggi 37 82.2

Total 45 100.0

Tingkat norma penerima Program PUAP tergolong tinggi terutama disebabkan karakter dari masyarakat sendiri yang sebagian besar terbiasa menaati peraturan pemerintah desa dan aturan masyarakat tidak tertulis dalam kehidupan sehari-hari. Norma-norma yang melekat dalam diri masyarakat tersebut berasal dari adat-istiadat suku jawa ditambah dengan adat-adat Islam sebagai panutan agama mayoritas di desa tersebut. Adat-istiadat suku jawa yang tercermin dalam kehidupan warga Desa Ngetuk meliputi rasa saling membantu dan saling menghargai yang tinggi. Sifat tersebut terlihat dalam penerapan aturan Simpan Pinjam PUAP yang tidak memberatkan penerima. Seperti yang sudah dijelaskan pada aturan program sebelumnya bahwa penerima diperbolehkan untuk menunggak pinjaman ketika tidak memiliki uang dan tidak akan dikenakan denda. Hanya jika dianggap terlalu lama menunggak maka akan diingatkan dan diberi surat agar memenuhi kewajibannya. Pernyataan ini sesuai dengan penuturan yang dikemukakan oleh salah satu informan berikut.

“Wong wong jowo (orang-orang suku jawa) itu tepo seliro atau tenggang rasa. Tenggang rasanya gini, kalau telat sitik (sedikit) ya ndak apa-apa, ndak langsung didenda, ndak terus kaku gitu. Ada aturannya” (TM, 64 Tahun)

Tingkat norma sosial yang tinggi tersebut sebenarnya didapat dari bentuk kepatuhan dan sangsi yang membuat warga jera. Khususnya untuk Program PUAP, secara lebih jelas bentuk kepatuhan penerima terhadap program dapat dilihat pada Tabel 28. Hasil penelitian menunjukan tingkat kepatuhan penerima terhadap program dominan pada tingkat bagus. Hal ini dilihat dari frekuensi bagus menunjukan angka 29 orang atau 64.4 persen dan tingkat sangat bagus berjumlah 12 orang atau 26.7 persen. Frekuensi tingkat biasa saja menunjukan jumlah 4 orang atau 8.9 persen, sementara tingkat tidak patuh dan sangat tidak patuh tidak ada yang menempati.

46

Tabel 28 Jumlah dan persentase responden berdasarkan kepatuhan Program PUAP 2016

Kepatuhan Program Jumlah (n) Persentase (%)

Biasa saja 4 8.9

Patuh 29 64.4

Sangat Patuh 12 26.7

Total 45 100.0

Kepatuhan warga dominan berada pada tingkat bagus ini selain disebabkan oleh adat-istiadat masyarakat suku jawa seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, juga dikarenakan sangsi dari peraturan yang mampu mengontrol dan membuat jera warga jika melanggar. Pada aturan Simpan Pinjam PUAP meski aturan tidak terlalu mengikat dan penerapannya sangat meringankan penerima program, namun penerapan aturan ini mampu mengatur dan sangsinya mampu membuat penerima program merasa jera. Seperti bentuk sangsi berupa peringatan dan surat yang diberikan kepada penunggak ketika telat mengangsur sudah membuat penunggak merasa bersalah terhadap pengurus dan merasa malu kepada anggota tani lain. Rasa malu dan bersalah tersebut membuat penunggak terdorong untuk segera mengangsur tunggakan dan tidak ingin menunggak kembali. Sesuai dengan penuturan yang dikemukakan oleh salah satu responden berikut.

“Nggeh ewoh lah nek teng masyarakat kan ewoh ngoten dadose nggeh termasuk pie ya nggeh termasuk pun sangsi niku. Isinlah ngko disurati niku trus nggeh diperbaiki ngotenlah. Pomone utang kok dikandani iki nunggak loro nggeh disurati sesok dibayar nggeh dibayar (Ya kalau di masyarakat kan tidak enak kalau tidak patuh, jadi itu sudah termasuk sangsi. Malu kalau diberi surat jadi langsung diperbaiki. Semisal ninggak angsuran jika ditegur ya besoknya langsung dibayarkan.)” (SHT, 35 Tahun)

Tabel 29 Rata-rata penilaian responden terhadap norma aturan dan kejeraan sangsi Program PUAP 2016

Norma Aturan dan Kejeraan Sangsi Rata-Rata Skor

Warga mematuhi aturan yang ada dalam masyarakat 4.24

Pemberian sangsi membuat warga jera terhadap aturan

yang ada dalam masyarakat 4.18

Warga mematuhi aturan Pemeritah 4.44

Pemberian sangsi membuat warga jera terhadap aturan

Pemeritah 4.09

Anggota mematuhi aturan Program PUAP 4.18

Pemberian sangsi membuat anggota jera terhadap

aturan Program PUAP 4.04

Secara keseluruhan Tabel 29 menunjukan rata-rata penilaian warga mengenai tingkat kepatuhan mereka terhadap peraturan yang ada di Desa Ngetuk baik dari segi aturan pemerintah, masyarakat, maupun Program PUAP. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat kepatuhan dan tingkat kejeraan sangsi

47

penerima program pada lingkup pemerintah, masyarakat, dan PUAP semuanya menunjukan nilai rata-rata 4 dengan arti penerima patuh tehadap aturan dan sangsi membuat jera. Hal ini menunjukan sebagian besar penerima program patuh terhadap aturan-aturan yang ada di masyarakat baik itu tertulis maupun tidak tertulis. Bentuk kepatuhan masyarakat tersebut mencerminkan rasa kepatuhan dan budi pekerti yang tinggi dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini didukung pendapat salah satu responden berikut.

“Nilaine yo sembilan mas, wonten jogo nggeh jogo, ngeten niki jimpitan nggeh jimpitan, wonten acara kematian, termasuk pun 9 nek niku. Nopo, sosialisasi masyarakate pun sae lah (Nilainya 9 mas, ada rapat ya hadir, ada syukuran dan acara kematian juga hadir. Sosialisasinya masyarakat sudah bagus)” (SHT, 35 Tahun)

Jaringan Sosial

Jaringan merupakan kemampuan seseorang atau sekelompok orang dalam membangun relasinya. Kunci keberhasilan membangun modal sosial terletak pada kemampuan orang melibatkan diri dalam suatu jaringan hubungan sosial. Tingginya jaringan sosial dapat digambarkan dengan seberapa dekat seseorang dengan jaringan-jaringan yang membantu aktivitas sehari-harinya. Khususnya dalam program pembangunan, jaringan sosial dilihat dari kemampuan penerima program dalam menjalin hubungan dengan stakeholder-stakeholder terkait untuk membatu menjalankan program pembangunan tersebut.

Khusus pada Program PUAP, jaringan sosial akan memfasilitasi penerima program dalam memelihara hubungan baik terhadap stakeholder-stakeholder terkait. Hubungan baik tersebut dapat membantu memperlancar aktivitas simpan pinjam dan memperlancar aktifitas usaha agribisnis mereka. Jaringan sosial dapat dilihat tingkatannya berdasarkan seberapa jauh penerima program membina hubungan dengan stakeholder. Stakeholder Program PUAP sendiri meliputi pengelola program dari kecamatan/kabupaten, penyuluh pendamping, pengurus gapoktan, pemerintah desa, anggota gapoktan, pedagang bahan pertanian, dan tengkulak/pasar. Berdasarkan Tabel 30 menunjukkan bahwa tingkat jaringan sosial pada penerima Program PUAP di Desa Ngetuk memiliki tingkat sedang, dikarenakan frekuensi tingkat sedang menunjukan jumlah 29 orang atau 64.4 persen jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat rendah dan tinggi. Sementara pada tingkat jaringan rendah dan tinggi memiliki jumlah sama yaitu 8 orang atau 17.8 persen.

Tabel 30 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat jaringan Program PUAP 2016

Tingkat Jaringan Jumlah (n) Persentase (%)

Rendah 8 17.8

Sedang 29 64.4

Tinggi 8 17.8

Total 45 100.0

Tingkat jaringan penerima Program PUAP dominan pada tingkat sedang disebabkan dari norma yang ada di masyarakat dan perilaku penerima program

48

sendiri. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa norma sosial di masyarakat tergolong tinggi salah satunya disebabkan oleh adat jawa yang saling menghormati dan menghargai sesama warga baik yang sudah kenal lama maupun baru kenal. Rasa saling menghormati dan menghargai tersebut menciptakan hubungan baik diantara mereka. Bentuk hubungan baik tersebut terus dijaga dan ditingkatkan melalui aktivitas bertegur sapa ketika bertemu. Selanjutnya tempat

berkumpul atau “cangkruk” selalu ramai ketika jam istirahat siang dan malam hari

hanya untuk sekedar berbincang-bincang melepas lelah ataupun berdiskusi serius. Banyak orang menyempatkan hadir ketika ada acara perkumpulan dan syukuran warga dan sering juga diantara mereka yang saling membantu agar acara dapat lebih mudah dikerjakan.

Selanjutnya jika dilihat dari perilaku penerima program, sebagian besar penerima mengikuti norma masyarakat seperti menjaga hubungan baik dengan sering bertemu, bertegur sapa, dan berdiskusi untuk menambah kedekatan jaringan sosial. Hubungan baik diantara pengurus, anggota, maupun stakeholder lain biasanya dipertahankan oleh penerima dan bisa meningkat ketika intensitas pertemuan mereka semakin sering. Terlihat ketika pengurus mengadakan rapat, para undangan banyak yang hadir dan ikut berdiskusi meskipun diantara mereka ada yang tidak menyampaikan pendapat. Begitu pula ketika penyuluh dan pemerintah desa melakukan kegiatan banyak yang hadir kecuali jika ada kegiatan mendesak atau penting. Bentuk kehadiran ini mempererat jaringan sosial antara penerima program dengan stakeholder lain. Namun sebagian stakeholder juga ada yang jarang hadir seperti pengelola PUAP dari kabupaten dan penyuluh pendamping sehingga jaringan mereka rendah karena intnesitas pertemuan mereka yang kecil. Secara lebih rinci bentuk jaringan sosial beberapa stakeholder dapat dilihat pada gambar grafik dibawah ini.

Gambar 2 Tingkat kedekatan responden dengan jaringan Program PUAP pengurus gapoktan, penyuluh pendamping, dan anggota lain

Tidak Kenal Kenal Bertegur

Sapa Berdiskusi Membantu Kegiatan Pengurus Gapoktan 0 1 17 14 13 Penyuluh Pendamping 24 9 4 5 3 Anggota Lain 1 4 10 15 15 0 5 10 15 20 25 30

49

Penerima program memiliki tingkat jaringan rendah dengan penyuluh pendamping dengan frekuensi tidak kenal 24 orang dan kenal 9 orang dikarenakan penyuluh pendamping jarang hadir dalam pertemuan dan jarang berkunjung ke kelompok tani sehingga banyak penerima program yang kurang mengenal penyuluh pendamping. Sementara jaringan penerima program dengan pengurus gapoktan cenderung tinggi dengan frekuensi bertegur sapa 10 orang, berdiskusi 15 orang, dan membantu kegiatan 15 orang dikarenakan pengurus gapoktan sering hadir dalam rapat dan sering berkunjung ke kelompok tani maupun anggota tani sehingga banyak anggota tani yang sudah akrab dengan pengurus gapoktan.

Selanjutnya tingkat jaringan dengan anggota lain tergolong tinggi dikarenakan seringnya mereka bertemu dan berdiskusi dalam perkumpulan maupun kehidupan sehari-hari. Letak tempat tinggal mereka yang berdekatan dan jumlahnya banyak membuat mereka lebih dekat satu dengan yang lain dan sering berbagi informasi. Penerima program juga sering berkumpul dengan anggota lain dan warga lain untuk membantu kegiatan warga karena rasa kebersamaan masyarakat yang tinggi. Seperti yang disampaikan oleh salah satu responden dibawah ini.

“Termasuk patuh, nek nilaine yo sembilan mas, wonten jogo nggeh jogo, ngeten niki jimpitan nggeh jimpitan, wonten acara kematian, termasuk pun 9 nek niku. Nopo, sosialisasi masyarakate pun sae lah (Termasuk patuh dan nilainya 9 mas. Jika ada rapat ya hadir, ada syukuran dan acara kematian juga hadir. Sosialisasinya masyarakat sudah bagus)” (SHT, 35 Tahun)

Gambar 3 Tingkat kedekatan responden dengan jaringan usaha tengkulak/pasar dan pedagang bahan baku

Grafik diatas merupakan tingkat jaringan sosial penerima program dengan tengkulak/pasar hasil usaha dan pedagang bahan baku usaha. Berdasarkan grafik diatas menunjukan bahwa jaringan sosial cenderung tinggi dikarenakan sebagian

Tidak Kenal Kenal Bertegur

Sapa Berdiskusi

Membantu Kegiatan

Tengkulak/pasar 8 7 6 19 5

Pedagang bahan baku 12 6 6 17 4

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

50

besar penerima program sering berdiskusi dengan tengkulak/pasar hasil usaha dan pedagang bahan baku usaha sebanyak 19 dan 17 orang. Hal ini disebabkan karena setiap usaha tani membutuhkan hubungan baik dengan penjual dan pembeli untuk menjalankan aktivitas usaha mereka agar lebih efektif. Selain itu intensitas bertemu penjual dan pembeli sangat sering sehingga membuat hubungan mereka semakin dekat hingga membuat mereka menjadi pelanggan. Hal ini seperti penuturan dari salah satu responden dibawah ini.

“Kulo nek teng peken mayong niku nembe mlebet mawon nggeh pun biasa, kados panggone sampunan (Setiap saya ke pasar mayong, baru masuk saja sudah biasa disapa. Sudah tempatnya bertemu.)” (PY, 35 Tahun)

Sementara sejumlah penerima tidak kenal terhadap tengkulak/pasar hasil usaha dan pedagang bahan baku usaha yaitu sebanyak 8 dan 12 orang dikarenakan beberapa hal yaitu tidak sepenuhnya mereka terjun dalam usaha tani, usaha tani mereka yang kurang berjalan, dan ada yang tidak mengalokasikan pinjaman untuk usaha.

Peran Modal Sosial dalam Program Simpan Pinjam PUAP