• Tidak ada hasil yang ditemukan

Identifikasi Perubahan Taraf Hidup Penerima Program PUAP

Taraf hidup dapat diartikan kualitas kehidupan seseorang atau kemampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sedangkan peningkatan taraf hidup masyarakat, adalah segala kegiatan dan upaya masyarakat untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya (Purnamasari 2015). Taraf hidup sendiri dapat diidentifikasi tingkatannya melalui tingkat pendapatan, tingkat pengeluaran, tingkat investasi, dan juga kondisi fisik dan prasarana tempat tinggal seseorang (Rosyida dan Nasdian 2011).

Perubahan taraf hidup juga dapat digunakan untuk menentukan perubahan kualitas hidup akibat adanya program pembangunan seperti Program PUAP di Desa Ngetuk. Perubahan ini diidentifikasi dengan cara membandingkan setiap indikator taraf hidup dari sebelum program ada yaitu tahun 2011 hingga program sudah berjalan saat ini yaitu tahun 2016. Melalui perubahan taraf hidup ini dapat diukur seberapa jauh ketercapaian tujuan dari Program PUAP di Desa Ngetuk tersebut yaitu untuk meningkatkan taraf ekonomi petani sehingga dapat mencapai perubahan taraf hidup petani Desa Ngetuk.

Fasilitas Rumah Tangga

Fasilitas rumah tangga merupakan keadaan secara fisik tempat tinggal yang ditempati oleh penerima program, serta barang-barang yang dimiliki penerima dalam yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan data pada Tabel 46 fasilitas rumah tangga penerima program PUAP dapat dikategorikan sedang baik sebelum maupun sesudah dengan nilai median keduanya pada tingkat sedang. Sebelum PUAP fasilitas rumah tangga pada tingkat sedang memiliki frekuensi sebanyak 16 penerima atau 35.6 persen, sedangkan setelah program berjalan 5 tahun bertambah menjadi 21 penerima atau 46.7 persen. Penambahan tersebut didapat dari kategori tinggi yang mengalami penurunan dari 15 penerima menjadi 11 penerima dan dari tingkat rendah sebanyak satu penerima mengalami kenaikan ke tingkat sedang.

Tabel 46 Jumlah dan persentase responden berdasarkan fasilitas rumah tangga 2016 Fasilitas Rumah Tangga Sebelum Sesudah Jumlah (n) Persentase (%) Jumlah (n) Persentase (%) Rendah Sedang Tinggi 14 31.1 13 28.9 16 35.6 21 46.7 15 33.3 11 24.4 Total 45 100.0 45 100.0

Fasilitas rumah tangga dengan tingkat sedang ini dapat diartikan 69 persen keadaan tempat tinggal dan fasilitas rumah tangga yang dimiliki penerima sebagian besar sudah dianggap layak huni dan cukup untuk membantu mempermudah aktivitas sehari-hari. Sementara pada tingkat ini cenderung setiap tingkat memiliki

68

proporsi hampir sama sehingga dapat disimpulkan fasilitas rumah tangga tidak menentukan perilaku meminjam PUAP. Selanjutnya jika dibandingkan dengan 5 tahun setelah program berjalan, kondisi fisik tempat tinggal hampir tidak memberikan perubahan karena hanya terjadi kenaikan tingkat pada satu responden. Sementara pada fasilitas rumah tangga terjadi penurunan tingkat dengan frekuensi yang kecil. Secara lebih lengkap akan dijelaskan berikut.

Tabel 47 Skor rata-rata responden berdasarkan kondisi fisik tempat tinggal 2016

Kondisi Fisik Tempat Tinggal

Skor Rata-Rata 1 Tahun Sebelum Sesudah (Sekarang) Sumber air 2.24 2.24

Status kepemilikan bangunan tempat tinggal 4.60 4.67

Luas bangunan tempat tinggal 2.29 2.33

Jenis lantai bangunan tempat tinggal 4.47 4.71

Jenis dinding bangunan tempat tinggal 3.00 3.00

Jenis fasilitas tempat buang air besa/WC 2.96 2.96

Sumber penerangan tempat tinggal 4.00 4.00

Bahan bakar utama memasak 4.47 4.47

Tabel 47 menenai skor rata-rata responden berdasarkan kondisi fisik tempat tinggal menunjukan bahwa secara keseluruhan kondisi fisik tempat tinggal penerima program memiliki skor sekitar 3 dengan arti memiliki rata-rata kondisi fisik sedang. Jika dilihat dari per kategori sebelumdan sesudah program, kategori status kepemilikan, luas, dan jenis lantai ketika dibandingkan antara sebelum dan sesudah menunjukan peningkatan kecil. Sedangkan selain kategori tersebut tidak memberikan perubahan rata-rata. Namun jika dilihat secara keseluruhan kondisi fisik tempat tinggal antara sebelum dan sesudah program kurang memberi perubahan. Hal ini membuktikan bahwa adanya Program PUAP kurang memberi perubahan kondisi fisik tempat tinggal. Pernyataan ini didukung dengan tingkat kondisi fisik dan tempat tinggal pada tabel berikut.

Tabel 48 Jumlah dan persentase responden berdasarkan kondisi fisik tempat tinggal 2016 Kondisi Fisik Tempat Tinggal Sebelum Sesudah Jumlah (n) Persentase (%) Jumlah (n) Persentase (%) Rendah Sedang Tinggi 12 26.7 11 24.4 17 37.8 17 37.8 16 35.6 17 37.8 Total 45 100.0 45 100.0

Berdasarkan data pada Tabel 48, kondisi fisik tempat tinggal penerima program cenderung pada tingkat sedang dengan median pada tingkat sedang dan frekuensi sebesar 17 orang atau 37.8 persen. Pada tingkat tinggi tidak jauh berbeda yaitu 16 orang atau 35.6 persen dan tingkat rendah 12 orang atau 26.7 persen. Jika dibandingkan dengan 5 tahun setelah program, kondisi ini kurang terjadi perubahan karena hanya ada peningkatan 1 orang dari tingkat rendah ke tingkat tinggi.

69

Perubahan pada penerima tersebut dikarenakan uang pinjaman PUAP digunakan untuk merenovasi rumah sehingga terjadi peningkatan kondisi fisik tempat tinggalnya.

Kurang adanya perubahan kondisi fisik tempat tinggal tersebut dikarenakan pinjaman PUAP yang digunakan untuk tambahan modal usaha rata-rata hanya memberikan sedikit tambahan penghasilan. Sehingga penghasilan kurang mencukupi jika digunakan untuk renovasi tempat tinggal. Selain itu, penerima program merasa renovasi rumah belum menjadi prioritas pengeluaran mereka dikarenakan kondisi fisik rumah yang masih layak huni dan masih nyaman untuk melakukan aktivitas sehari-hari sehingga pengeluaran tersebut lebih diprioritaskan untuk keperluan sehari-hari dan keperluan mendesak.

Selanjutnya pada tingkat barang-barang rumah tangga, Tabel 39 menunjukan kondisi barang-barang rumah tangga cenderung pada tingkat sedang dengan median pada tingkat sedang dan frekuensi 10 orang atau 22.2 persen. Pada tingkat rendah dan tinggi memiliki frekuensi yang lebih tinggi dari pada tingkat sedang dan berimbang yaitu 17 orang atau 37.8 persen dan 18 orang atau 40 persen. Sementara jika dibandingkan dengan setelah program berjalan, terjadi penurunan pada tingkat rendah dan tinggi sebesar 2.2 persen dan 8.8 persen. Sementara pada tingkat sedang terjadi peningkatan sebesar 11.1 persen. Barang-barang rumah tangga setelah program berjalan masih cenderung pada tingkat sedang dengan nilai median pada tingkat sedang.

Tabel 49 Jumlah dan persentase responden berdasarkan barang-barang rumah tangga 2016 Barang-barang Rumah Tangga Sebelum Sesudah Jumlah (n) Persentase (%) Jumlah (n) Persentase (%) Rendah Sedang Tinggi 17 37.8 16 35.6 10 22.2 15 33.3 18 40.0 14 31.1 Total 45 100.0 45 100.0

Terjadi penurunan barang-barang rumah tangga sebesar 8.8 persen pada tingkat tinggi ini dikarenakan ada beberapa anggota rumah tangga penerima program yang meninggalkan desa selama 3 sampai 12 bulan untuk bekerja sehingga anggota rumah tangga tersebut berkurang. Beberapa reponden mengatakan bahwa memang sebagian warga laki-laki banyak yang bekerja ke luar desa sebagai kuli proyek dan karyawan dalam waktu yang cukup lama sehingga anggota rumah tangganya berkurang. Selanjutnya jika dilihat besar rata-rata perubahan dalam barang-barang rumah tangga untuk mengetahui rata-rata kepemilikan sebelum dan sesudah program PUAP serta untuk melihat perubahannya, Tabel 49 menunjukan bahwa sebagian besar barang-barang rumah tangga yang dimiliki responden baik sebelum dan sesudah rata-rata berjumlah 1 unit, kecuali handphone rata-rata berjumlah 2 unit. Sementara telepon rumah tidak ada yang menggunakan. Jika dibandingkan, rata-rata kepemilikan barang-barang rumah tangga penerima program mengalami kenaikan kecil. Hal ini menunjukan kebutuhan masyarakat mengalami peningkatan

70

selama 5 tahun setelah program berjalan. Namun peningkatan tersebut sangat kecil sehingga tidak terlalu mempengaruhi tarah hidup.

Tabel 50 Rata-rata responden berdasarkan kepemilikan barang-barang rumah tangga 2016

Barang-barang Rumah Tangga

Rata-Rata Kepemilikan 1 Tahun Sebelum Sesudah (Sekarang) Rumah Kontrakan/Kos 0.07 0.11 Mobil 0.04 0.11 Sepeda Motor 1.58 1.78 Sepeda 0.64 0.64 Mesin Industri 0.04 0.07 Televisi 1.29 1.33 Radio 0.18 0.20 Laptop 0.18 0.20 Komputer 0.04 0.07 Lemari Es 0.58 0.60 Mesin Cuci 0.27 0.31 Telepon Rumah 0 0 Handphone 2.16 2.24

Berdasarkan selruh penjelasan sebelumnya mengenai barang-barang rumah tangga, adanya Program PUAP ini tidak memberikan perubahan yang signifikan sehingga hanya terjadi perubahan kecil saja. Hal ini dikarenakan keuntungan usaha juga masih rata-rata masih tetap atau mengalami sedikit peningkatan sehingga tidak begitu merubah fasilitas yang dimiliki. Adapun jika terjadi perubahan tidak semuanya disebabkan oleh bantuan modal usaha PUAP dikarenakan bantuan tersebut hanya bersifat menambah sedikit modal sehingga dampaknya dalam usaha juga kecil. Seperti penuturan salah satu responden berikut.

“Kalau dianggap perubahan yo bukan berarti melulu dari modal itu, lha sekarang kalau 2 juta itu cuma kemana to mas? Cuma 2 juta trus dianggap ada penambahan itu sama sekali tidak menurut saya” (SNY, 48 Tahun)

Tingkat Pendapatan

Tingkat pendapatan dapat disebut juga tingkat penghasilan atau ukuran tinggi rendahnya penghasilan yang dimiliki baik dari pekerjaan utama, sambilan, maupun pemberian dari orang lain. Pada Program PUAP, pendapatan dilihat dari pemasukan yang didapat penerima program baik dari hasil melakukan usaha tani, pekerjaaan lain, maupun pemberian orang lain. Tabel 51 mengenai skor rata-rata responden berdasarkan pendapatan menunjukan bahwa secara keseluruhan rata-rata pendapatan penerima program jika dibandingkan sebelum dan sesudah program mengalami sedikit peningkatan. Hal ini membuktikan bahwa adanya Program PUAP memberi sedikit peningkatan pendapatan penerima program. Pernyataan ini didukung dengan kondisi tingkat pendapatan penerima program berikut.

71

Tabel 51 Skor rata-rata responden berdasarkan pendapatan per bulan 2016

Pendapatan

Rata-Rata (Ribu Rupiah) 1 Tahun

Sebelum

Sesudah (Sekarang) Pendapatan bersih (uang, barang) sebulan dari

pekerjaan utama 1235.69 1329.24

Pendapatan bersih (uang, barang) sebulan dari

pekerjaan tambahan 855.93 961.16

Pendapatan (uang, barang) sebulan diluar

pekerjaan 298.89 318.89

Berdasarkan data pada Tabel 52 menunjukan tingkat pendapatan penerima program sebelum adanya program PUAP cenderung pada tingkat sedang dengan median pada tingkat sedang dan frekuensi sebesar 32 orang atau 71.1 persen. Sementara pada tingkat rendah hanya 8 orang atau 17.8 persen dan tingkat tinggi hanya 5 orang atau 11.1 persen. Sementara jika dibandingkan dengan 5 tahun setelah PUAP berjalan menunjukan sedikit perubahan yaitu peningkatan tingkat pendapatan pada tingkat tinggi sebesar 4.4 persen dan penurunan tingkat sedang sebesar 4.4 persen. Median sesudah PUAP berjalan juga masih berada pada tingkat sedang.

Tabel 52 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat pendapatan sebulan 2016 Tingkat Pendapatan Sebelum Sesudah Jumlah (n) Persentase (%) Jumlah (n) Persentase (%) Rendah Sedang Tinggi 8 17.8 8 17.8 32 71.1 30 66.7 5 11.1 7 15.6 Total 45 100.0 45 100.0

Besar tingkat pendapatan tersebut menunjukan bahwa penerima program PUAP memiliki usaha dengan pendapatan yang cenderung sedang artinya pendapatan penerima rata-rata mencukupi untuk kehidupan sehari-hari dan usaha penerima program tersebut masih belum banyak berkembang. Dapat dikatakan bahwa usaha tersebut cenderung usaha dengan skala menengah ke bawah dengan penghasilan sesuai skala tersebut. Adapun perubahan tingkat pendapat sangat kecil yaitu 4.4 persen peningkatan dari sedang ke tinggi. Peningkatan pendapatan ini dapat dikarenakan sebagian kecil penerima program merasakan keuntungan sedikit lebih besar dikarenakan sebelum adanya Program PUAP ketika kekurangan modal mereka harus meminjam kepada rentenir dengan bunga yang tinggi, sedangkan setelah ada Program PUAP mereka dapat meminjam dengan bunga yang rendah. Hal ini juga disampaikan oleh salah satu pengurus gapoktan dibawah ini.

“Yo keliatan perubahannya, memang tujuannya agar masyarakat ngetuk tidak terjerat dengan bang titil itu rentenir itu, karena rentenir

72

itu kan ya bunganya memang tinggi jadi ya agak menjerat gitu.” (ZNL, 34 Tahun)

Sementara penerima program lain yang melakukan usaha masih kurang terjadi perubahan pendapatan atau masih tetap. Ataupun jika terjadi perubahan, kuantitasnya sangat kecil sehingga kurang terlihat. Pendapatan penerima yang kurang berubah ini dikarenakan bantuan modal tersebut hanya memberi tambahan kecil pada modal sedangkan usaha penerima rata-rata membutuhkan modal yang lebih banyak lagi jika ingin berkembang. Penerima program lain juga merasa upaya bantuan modal tersebut bagi sebagian pelaku usaha hanya menjadi dana talangan agar usaha masih dapat berjalan. Selain itu beberapa penerima program juga belum merasakan perubahan pendapatan dikarenakan pinjaman modal yang diberikan tidak dimanfaatkan untuk keperluan usaha melainkan untuk keperluan lain sehingga usaha atau pekerjaan mereka tidak berubah. Seperti penuturan responden dan informan berikut.

“Perubahannya dimana ya mas, wong pinjaman juga 2 juta dianggap menaikan yo ra begitu lah mas, kecuali pinjamannya banyak nah itu yo bisa dianggep signifikan” (SNY, 48 Tahun)

“Nggeh niku koyo ga tepat sasaran mas, soale gak semuane kanggo usaha, kadang kanggo keperluan pribadi juga sih. Kadang ono sing ngono tapi yo kebanyakan yo kanggo usaha (Itu seperti tidak tepat sasaran mas, soalnya tidak semua dibuat usaha. Kadang dibuat keperluan pribadi juga. Kadang ada seperti itu namun kebanyakan digunakan untuk usaha. )” (VT, 23 Tahun)

Tingkat Tabungan

Tingkat Tabungan dapat dikatakan sebagai ukuran tinggi rendahnya penerima program menyimpan uang dan barang dari sisa pendapatan yang belum digunakan. Tabel 53 mengenai skor rata-rata responden berdasarkan tabungan dilihat dari per kategori sebelum dan sesudah program menunjukan jumlah tabungan uang perbulan mengalami peningkatan sedikit peningkatan rata-rata. Sedangkan jumlah asset yang dimiliki tidak memberikan perubahan rata-rata. Namun jika dilihat secara keseluruhan tabungan antara sebelum dan sesudah program kurang memberi perubahan. Hal ini membuktikan bahwa adanya Program PUAP kurang memberi perubahan pada tabungan. Pernyataan ini didukung dengan pembahasan tingkat tabungan berikut.

Tabel 53 Skor rata-rata responden berdasarkan tabungan per bulan 2016

Tabungan

Rata-Rata (Ribu Rupiah) 1 Tahun

Sebelum

Sesudah (Sekarang)

Jumlah tabungan (uang) setiap bulan 371.11 402.22

Jumah asset dengan satuan rupiah (barang, lahan,

73

Berdasarkan data pada Tabel 54 menunjukan bahwa tingkat tabungan pada penerima program PUAP sebelum mengikuti program cenderung pada tingkat rendah dengan nilai median pada tingkat rendah dan frekuensi sebanyak 28 orang atau 62.2 persen. Sedangkan pada tingkat sedang hanya sedikit yaitu 6 orang atau 13.3 persen dan tingkat tinggi hanya 11 orang atau 24.4 persen. Jika dibandingkan dengan setelah mengikuti program PUAP, hasil menunjukan tidak ada perubahan pada setiap tingkat frekuensi tersebut.

Tabel 54 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat tabungan sebulan 2016 Tingkat Tabungan Sebelum Sesudah Jumlah (n) Persentase (%) Jumlah (n) Persentase (%) Rendah Sedang Tinggi 28 62.2 28 62.2 6 13.3 6 13.3 11 24.4 11 24.4 Total 45 100.0 45 100.0

Tingkat tabungan penerima program cenderung sedang dan tidak terjadi perubahan ini dikarenakan pendapatan rata-rata penerima program hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Beberapa responden mengatakan bahwa mereka tidak menabung karena penghasilan habis untuk keperluan sehari hari saja. Jikapun ada uang sisa, uang tersebut digunakan untuk keperluan bersama seperti acara syukuran, nikahan, dan acara perkumpulan lain. Beberapa penerima juga mengalami penunggakan angsuran dikarenakan pendapatannya telah habis untuk keperluan sehari-hari. Faktor lain yang menyebabkan tingkat tabungan penerima rendah adalah kurangnya niat masyarakat untuk menabung karena pola perilaku masyarakat dari kecil yang tidak terbiasa menabung sehingga ketika ada kelebihan uang selalu dialokasikan untuk kebutuhan lain. Sesuai dengan pernyataan salah satu informan berikut.

“Saya sendiri belum bisa, ndak ada niate dari masyarakat oh saya tak nabung, ndak ada niate itu, makane ndak berkembang” (SD, 49 Tahun)

Sebagian penerima menambahkan jika ada kelebihan pendapatan maka dana tersebut lebih digunakan untuk investasi seperti tanah ataupun untuk bertanam pohon. Ketika ada keperluan mendadak maka mereka akan memanen pohon tersebut untuk menutupi pengeluaran. Selain itu jika terjadi pengeluaran mendadak mereka juga akan melakukan peminjaman baik ke saudara, gapoktan, maupun ke rentenir sekalipun. Meskipun sudah ada pinjaman PUAP, rentenir masih tetap berjalan di Desa Ngetuk dikarenakan adanya dana PUAP belum bisa mencukupi semua pinjaman petani dikarenakan tingginya permintaan pinjaman dari masyarakat.

74

Tingkat Pengeluaran

Tingkat pengeluaran dapat dikatakan sebagai ukuran tinggi rendahnya penerima program mengeluarkan uang dan barang baik pangan maupun non pangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Berdasarkan data pada Tabel 55 menujukan bahwa tingkat pengeluaran penerima program PUAP rata-rata pada tingkat sedang dilihat dari nilai mediannya. Sementara dari segi jumlah frekuensi tertinggi pada tingkat rendah sebanyak 28 orang atau 62.2 persen. Sementara pada tingkat sedang sebanyak 6 orang atau 13.3 persen dan tinggi sebanyak 11 orang atau 24.4 persen. Sementara jika dibandingkan dengan setelah adanya Program PUAP, data menunjukan frekuensi sama sehingga tidak terjadi perubahan frekuensi.

Tabel 55 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat pengeluaran sebulan 2016 Tingkat Pengeluaran Sebelum Sesudah Jumlah (n) Persentase (%) Jumlah (n) Persentase (%) Rendah Sedang Tinggi 28 62.2 28 62.2 6 13.3 6 13.3 11 24.4 11 24.4 Total 45 100.0 45 100.0

Tingkat pengeluaran penerima program PUAP terbanyak pada tingkat rendah memiliki arti penerima program memiliki pola pengeluaran yang sesuai kebutuhan sehari-hari mereka saja. Penerima program umumnya melakukan aktivitas belanja menyesuaikan dengan pendapatanya. Selain itu ada juga beberapa penerima program yang memiliki pengeluaran tinggi disebabkan dari mengalami peningkatan pendapatan dari usaha sendiri ataupun peningkatan pendapatan dari kerluarga seperti suami, anak, dan orang tuanya.

Jika dibandingkan dengan 5 tahun setelah program berjalan, data menunjukan tidak terjadi perubahan dikarenakan adanya perubahan pendapatan penerima cenderung sangat kecil sehingga tidak begitu berpengaruh terhadap pola pengeluaran. Seperti penuturan salah satu penerima program dibawah ini.

“Ho’oh yo pancen sakmono, pancen ra ono perubahan kok mas ket ndisek. (Iya memang segitu. Memang tidak ada perubahan mas dari dulu.)” (SR, 42 Tahun)

Secara lebih jelas jenis pengeluaran penerima program baik pangan maupun non pangan akan dijelaskan dibawah ini.

Tabel ... mengenai skor rata-rata responden berdasarkan pengeluaran jika dilihat dari per kategori sebelum dan sesudah program menunjukan bahwa kategori pengeluaran pangan selama satu bulan mengalami penurunan kecil. Sedangkan kategori pengeluaran pangan dan pengeluaran secara keseluruhan mengalami sedikit peningkatan rata-rata pengeluran. Namun secara keseluruhan karena perubahan pengeluaran menunjukan rata-rata kecil yaitu hanya sekitar 68.000 per bulan maka dapat disimpulkan kurang memberi perubahan. Hal ini membuktikan

75

bahwa selama 4 tahun Program PUAP kurang memberi perubahan pengeluaran. Pernyataan ini didukung dengan bahasan tingkat pengeluaran pada tabel berikut.

Tabel 56 Skor rata-rata responden berdasarkan pengeluaran per bulan 2016

Pengeluaran Rata-Rata Kepemilikan 1 Tahun Sebelum Sesudah (Sekarang)

Pengeluaran pangan selama sebulan 902.49 889.33

Pengeluaran non-pangan selama sebulan 602.67 683.91

Pengeluaran total selama sebulan 1505.16 1573.24

Tabel 57 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat pengeluaran angan sebulan 2016 Tingkat Pengeluaran Pangan Sebelum Sesudah Jumlah (n) Persentase (%) Jumlah (n) Persentase (%) Rendah Sedang Tinggi 17 37.8 17 37.8 16 35.6 16 35.6 12 26.7 12 26.7 Total 45 100.0 45 100.0

Tabel 44 menunjukan bahwa tingkat pengeluaran pangan penerima program rata-rata berada pada tingkat sedang dengan nilai median pada tingkat sedang dan frekuensi sebanyak 16 orang atau 35.8 persen. Sementara pada tingkat rendah lebih tinggi sedikit yaitu 17 orang atau 37.8 peresen dan tingkat tinggi 12 orang atau 26.7 persen. Jika dibandingkan dengan setelah program berjalan tidak terjadi perbahan.

Tingkat pangan penerima program terbesar pada tingkat rendah dan sedang memiliki arti bahwa pola konsumtif penerima program cenderung tidak melebihi pendapatan dan sesuai dengan kebutuhan sehari-hari. Jika dilihat kondisi Desa Ngetuk terlihat bahwa masyarakat lebih sering mengonsumsi makanan dari warung-warung sederhana di sekitar desa. Letak minimarket juga berjarak sekitar 3 kilo meter dari desa sehingga hanya sedikit warga yang berbelanja ke minimarket. Sementara adanya Program PUAP tidak merubah pola pangan penerima dikarenakan hanya terjadi perubahan kecil saja pada tingkat pendapatan sehingga dampaknya kurang dapat dirasakan.

Tabel 58 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat pengeluaran non pangan sebulan 2016 Tingkat Pengeluaran Non Pangan Sebelum Sesudah Jumlah (n) Persentase (%) Jumlah (n) Persentase (%) Rendah Sedang Tinggi 14 31.1 14 31.1 23 51.1 25 55.6 8 17.8 6 13.3 Total 45 100.0 45 100.0

Selanjutnya jika dilihat pola pengeluaran non pangan data pada Tabel 58 menunjukan tingkat pengeluaran non pangan cenderung pada tingkat sedang

76

dengan nilai median pada tingkat sedang dan frekuensi sebanyak 23 orang atau 51.1 persen. Sementara pada tingkat rendah sebesar 14 orang atau 31.1 persen dan tingkat tinggi 8 orang atau 17.8 persen. Kondisi pengeluaran non pangan penerima program cenderung sedang ini memiliki arti pengeluaran kebutuhan rumah tangga penerima program pada tingkat sedang sudah mencukupi kebutuhan aktivitas sehari-hari

Sementara jika dibandingkan dengan 5 tahun setelah program berjalan menunjukan bahwa hanya terjadi penurunan dari tingkat tinggi ke sedang sebesar 4.4 persen. Penurunan yang kecil ini dikarenakan ada beberapa anggota keluarga dari penerima program yang tidak tinggal bersama lagi karena mencari kerja ke luar desa dengan waktu yang lama sehingga pengeluaran keluarga lebih rendah. Selain itu penurunan yang sangat kecil ini juga dikarenakan kebutuhan non pangan rumah tangga dapat bertahan lama sehingga tidak harus membeli baru setiap tahunnya. Kedua alasan diatas sesuai dengan pernyataan penerima program di bawah ini.

“Nggeh niki bapake wonten teng Kalimantan nok bapake kaleh mase, nggeh kerjo teng bangunan, nggeh proyek. Wangsule nggeh lebaran (Iya sekarang bapak sama kakak ada di Kalimantan. Kerja di bangunan proyek. Pulangnya ya waktu lebaran.)” (SLK, 64 Tahun) “Gak tau tuku, wong anu kok mas awet og nek tumbas mas (Tidak pernah beli. Itu sudah tahan lama kok kalau beli.)” (SR, 42 Tahun)

Tingkat Taraf Hidup

Tingkat taraf hidup dapat dikatakan sebagai ukuran tinggi rendahnya kualitas hidup penerima program dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Berdasarkan data pada Tabel 59 menujukan bahwa tingkat taraf hidup penerima rogram sebelum adanya Program PUAP dominan pada tingkat sedang dengan nilai median pada tingkat sedang dan frekuensi sebanyak 19 orang atau 42.2 persen. Tingkat rendah hanya selisih satu dengan tingkat sedang yaitu 18 orang atau 40 persen dan tingkat tinggi sejumlah 8 orang atau 17.8 persen. Jika dibandingkan dengan setelah program berjalan menunjukan penurunan dari tingkat tinggi ke tingkat sedang sebesar 4.4 persen.

Tabel 59 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat taraf hidup 2016 Tingkat Taraf Hidup Sebelum Sesudah Jumlah (n) Persentase (%) Jumlah (n) Persentase (%) Rendah Sedang Tinggi 18 40.0 18 40.0 19 42.2 21 46.7 8 17.8 6 13.3 Total 45 100.0 45 100.0

Tingkat taraf hidup penerima program tertinggi pada tingkat sedang dan tinggi ini membuktikan bahwa pemilihan penerima program PUAP sudah tepat