HASIL PENELITIAN
C. Analisis Pemikiran Integrasi-Interkoneksi Ilmu Pendidikan Islam
Adanya integrasi ilmu adalah dampak dari dikotomi ilmu yang meluas, yang menganggap bahwasanya ilmu terbagi atas dua bagian yaitu: ilmu umum dan ilmu agama. Ini terlihat dengan bayaknya institusi pendidikan di Indonesia. Institusi yang menaawarkan pendidikan umum seakan mengesampingkan pendidikan agama, begitu juga sebaliknya. Dikotomi ilmu memberikan implikasi yang luas terhadap cara pandang manusia terhadap ilmu pengetahuan, sehingga sebuah lembaga pendidikan serta kurikulum pendidikan memisahkan dua konsep yang seharusnya terpadu dan berhubungan (integrasi-
interkoneksi). Konsep integrasi-interkoneksi ilmu belum diterima sepenuhnya,
oleh karna pengaruh yang kuat terhadap pemisahan ilmu pengetahuan (dikotomis).
Kemajuan peradaban ilmu pengetahuan ditandai dengan banyaknya disiplin ilmu yang muncul dan melahirkan ilmuan-ilmun baru yang kompeten dalam bidangnya, dan menjanjikan perubahan yang besar dalam lapangan ilmu pengetahuan. Apabila ilmu pengetahuan umum tidak didasarkan pada ilmu agama, maka niscaya dimasa depan masyarakat dunia akan terbagi menjadi dua kubu, yaitu: Kubu ilmu agama dan kubu ilmu umum yang pada akhirnya terkungkung, terjebak pada sebuah ilmu pengetahuan yang kaku.
Apabila ada yang bertanya tentang sains maka ia akan menjawab, biologi, fisika, matematika, geografi, sosiologi, antropologi dll, dan sebalaliknya apa bila ditanya tentang disiplin ilmu agama ia akan menjawab
fiqh, ilmu tafsir, ilmu hadits, sejarah kebudayaan islam, akidak akhlak dsb, Penomena ini umum terjadi.
Demikian juga pada lembaga pendidikan yang selama ini kita ketahui ada lembaga pendidikan umum dan ada lembaga pendidikan agama. Sebagai gambaran semisal lembaga pendidikan yang berada dibawah kementerian agama seperti madrasah, pondok pesantren, STAIN, IAIN dan UIN serta PTAI lainya disebut lembaga pendidikan agama. Sedangkan sekolah SD, SMP, SMA dan universitas lainya yang berada dibawah kementerian pendidikan Nasioanal disebut lembaga pendidikan umum. Dari sini terjadi jurang pemisah secara jelas dan terang-terangan dikotomi ilmu agama dan ilmu umum di tanah air.
Islam memandang bahwasanya ilmu dan sains tidak memiliki perbedaan, karna baik Al-qur‘an dan As-sunnah tidak membedakan keduanya, yang ada hanya ilmu, tidak ada pemisahan antara sains dan agama. Pembagian adanya sains dan agama hanya merupakan kesimpulan manusia yang memberi klasifikasi ilmu berdasarkan objek kajiannya. Imam Al-Ghazali misalnya membagi ilmu berdasarkan hukum mencarinya yakni, fardhu „ain dan fardhu
kifayah bukan membedakan keduanya dengan ilmu agama dan ilmu umum.
Miskipun pemahaman umat islam (untuk tidak menyebut seluruhnya), sudah terperangkap dan terjebak dampak dari dikotomi ilmu dan mengenal istilah ilmu agama dan ilmu umum. Akan tetapi sudah semestinya tidak lupa memandang bahwa kedua ilmu tersebut dengan kaca mata islami, dan mengintegrasikan ilmu menjadi satu yaitu, ilmu. Karna pada hakikatnya dalam islam setiap ilmu bersumber dari Allah karna datangnya memang dari Allah
82 82
SWT. Inilah yang dinamakan ilmu pendidikan islam yang dikaji dari kacamata atau perspektif islam.
Dalam pemahaman islam Ahmad tafsir memberikan penegasan dengan cukup jelas, sebenarnya manusia itu tidak memiliki pengetahuan sama sekali. Yang memiliki pengetahuan hanyalah Allah. Lantas Allah Menggelarkan dua sumber pengetahuan al-Qur‘an dan alam. Dengan membaca al-Qur‘an manusia memperoleh bermacam-macam pengetahuan, dengan membaca alam manusia juga memperoleh pengetahuan. Pengetahuan yang berasal dari al- Qur‘an tidak mungkin bertentangan dengan pengetahuan yang bersumber dari alam. Karna pengetahuan yang benar bersumber dari yang maha selalu benar, jadi pengetahuan yang bersumber dari alam juga pengetahuan yang berar karna bersumber dari yang maha benar.
Disini terlihat jelas apa yang diungkapkan oleh Ahmad Tafsir ilmu pengetahuan yang datang dari al-Qur‘an dan al-kawn tidaklah bertentangan. Dengan kata lain baik seluruhnya maupun unsurnya tidaklah bersifat dikotomi. Jadi, penganut dikotomi Ahmad Tafsir menyebutnya penganut paham sekuler.
Integrasi ilmu juga dilakukan oleh Imam Suprayogo dengan konsep metafora pohon ilmu di UIN Maulana Maliki Malang. Adanya dikotomi ilmu agama dan umum harus diluruskan, dibenahi dan diberikan pemahaman yang tepat terutama menghadapi peralihan IAIN ke UIN khususnya di UIN Maliki Malang.
Substansi atau tujuan pendidikan islam berdasarkan pohon ilmu menurut Imam Suprayogo adalah untuk mewujudkan intelek yang ulama dan
ulama yang intelek. Indikatornya adalah manuisa yang berilmu, beriman, beramal shaleh dan berakhlakul karimah. Dengan kata lain pendidikan islam yang bersumber dari ayat-ayat kawliyah dan ayat-ayat kawniyah, yaitu untuk mewujudkan intelek yang ulama dan ulama yang intelek.
Hemat penulis pemahaman ayat-ayat kawliyah dan ayat-ayat kawniyah mengindikasikan tidak adanya dikotomi, sehingga terwujudlah intelek yang ulama dan ulama yang intelek dalam melihat esinsi ilmu agama dan umum yang selama ini dikotomis.
Upaya untuk mengintegrasikan antara ilmu agama dan umum sudah dilakukn oleh sebagian intelektual muslim indonesia, misalnya Imam Suprayogo, Amin Abdullah, Kuntowijoyo, Azyumardi Azra, Mukti Ali dll. Amin Abdullah salah satu dari sekian intelektual indonesia yang begitu gigih mendiskusikan dan mendesain format integrasi, dalam bentuk apa yang disebutnya integrasif-interkoneksif.
Horizon keilmuan teoantroposentrik-integralistik yang tergambar pada jaring laba-laba (spider web), Amin Abdullah. Mengindikasikan ilmu pengetahuan yang bersumber dari Tuhan, (Teosentris) dan temuan manusia (antroposentris) pada hakikatnya tidaklah bertentangan. Semuanya terjalin dalam satu kesatuan yang utuh. Menurut penulis tinggal bagaimana konsep metodologi yang digunakan, sehingga upaya-upaya yang dilakukan untuk merespons dikotomi keilmuan yang selama ini berjalan mudah diterima dengan lapang dada.
84 84
Amin Abdullah telah mengupayakan hal itu, misalnya hubungan normativitas dan historisitas dalam studi agama, bisa dilakukan dengan pendekatan fenomenalogi agama, doktrinal-teologis, filosofis, sosiologis, antropogis dll. Kemudian paradigma integrasi-interkoneksi dengan trilogi hadharahnya, hadharah an-nash, hadharah „ilm, hadharah al-falsaafah. Sehingga ilmu pengetahuan berkembang dengan subur dan sehat karna tidak ada lagi ego sektoral yang mengitarinya. Sudah tampail sikap kedewasaan dalam memandang ilmu pengetahuan yang semakin hari semakin berkembang.
Paradigma interkoneksitas menegaskan bahwa bangunan keilmuan apapun, baik keilmuan agama, sosial, humaniora, maupun kealaman, tidak dapat berdiri sendiri. Akan tetapi kerja sama, saling tegur sapa, saling membutuhkan, saling koreksi, dan saling keterhubungan antar disiplin keilmuan akan lebih dapat membantu manusia dalam memahami kompleksitas persoalan kehidupan dan sekaligus upaya pemecahannya.
Pendekatan integrasi-interkoneksi Amin Abdullah adalah memahami
hadlarah al-nash (budaya teks), hadlarah al-„ilm (sosial-humaniora, sain dan
teknologi), hadlarah al-falsafah (etik-emansipatoris) dalam saling keterkaitan. Sehingga cendikawan, muslim dapat menghindari jebakan-jebakan keangkuhan disiplin ilmu yang merasa pasti dalam wilayahnya sendiri-sendiri tanpa mengenal masukan dari disiplin di luar dirinya.
Tiga demensi pengembangan keilmuan ini bertujuan untuk mempertemukan kembali ilmu-ilmu modern dengan ilmu-ilmu keislaman. Dalam Dirâsat Islamîyah atau Islamic Studies sebagai kluster keilmuan baru
yang berbasis pada paradigma keilmuan sosial kritis-komparatif lantaran melibatkan seluruh pengalaman (experiences) umat manusia di alam historis- empiris yang amat sangat beranekaragam.45
Menurut Amin Abdullah hubungan antara normativitas dan historisitas itu seperti manusia itu sendiri. Keberadaannya terdiri dari dua sisi, yaitu sisi normativitas dan historisitas. Ini bisa diibarat dengan sebuah coin yang memiliki dua permukaan, hubungan antara dua permukaan tidak dapat dipisahkan, tetapi secara jelas dan tegas dapat dibedakan. Menurut penulis kalimat tidak dapat dipisahkan inilah integrasi, dan kalimat dapat dibedakan inilah interkoneksi. Tidak dapat dipisahkan tapi dapat dibedakan.
Paradigma integrasi-interkoneksi yang digagas oleh Amin Abdullah dalam menghadapi maasalah dikotomi keilmuan, akan memberikan ruang bagi para pengamat pendidikan, guru, dosen, atau pendidik dan peserta didik dalam menyikapi dikotomi antara ilmu agama dan umum.
45
Pembatasan istilah „ulûm al-dîn, al-fikr al-Islâmî, dan dirâsat Islâmîyah ini hanya akan mempermudah dalam pembahasan. Dalam pembagian ini Amin Abdullah merujuk pada perspektif sejarah perkembangan studi agama-agama yang telah melewati empat fase, yaitu lokal, kanonikal, kritikal, dan global. Pertama, adalah tahapan Local. Semua agama pada era prasejarah (prehistorical period) dapat dikategorikan sebagai lokal. Semua praktik tradisi, kultur, adat istiadat, norma, bahkan agama adalah fenomena lokal. Fase kedua adalah fase Canonical atau
Propositional. Era agama-agama besar dunia (world religions) masuk dalam kategori tradisi Canonical ini. Kehadiran agama-agama Ibrâhîmî (Abrahamic religions), dan juga agama-agama di
Timur, yang pada umumnya menggunakan panduan Kitab Suci (the Sacred Text) merupakan babak baru tahapan sejarah perkembangan agama-agama dunia. Dalam Islam, fase ini corak keberagamaan yang skripturalis-tekstualis. Fase ketiga adalah fase Critical. Pada abad ke-16 dan 17, kesadaran beragama di Eropa mengalami perubahan yang radikal, yang terwadahi dalam gerakan Enlightenment. Tradisi baru ini berkembang terus, yang kemudian membudaya dalam dunia akademis, penelitian (research), scholarly work dan wilayah intelektual pada umumnya. Dalam fase ini muncul keilmuan baru dalam Islam sebagaimana dalam lingkar ketiga jaring laba- laba. Fase keempat adalah fase Global, sebagaimana yang terjadi saat ini dan memunculkan keilmuan baru berikut juga metodenya yang lebih kritis dan tidak hanya terpaku pada rasio. Disini bisa terlihat pada lingkar keempat jaring laba-laba. Lebih lanjut lihat M. Amin Abdullah, ―Mempertautkan „Ulûm al-Dîn, al-Fikr al-Islâmî, dan Dirâsat Islâmîyah: Sumbangan Keilmuan Islam untuk Peradaban Global‖, disampaikan dalam Workshop Pembelajaran Inovatif Berbasis Integrasi-Interkoneksi, Yogyakarta, 19 Desember 2008.
86 86
Menurut penulis Integrasi-interkoneksi keilmuan dengan berbagai pendekatan yang ditawarkan oleh Amin Abdullah adalah suatu sikap kedewasaan dalam memandang setiap bagunan keilmuan, baik ilmu agama maupun umum. Ilmu pendidikan islam sebagai konsep, teori yang melahirkan pendidikan islam juga tidak menutup diri untuk menerima masukan dari disiplin ilmu yang lain.
Dengan demikian paradigma integrasi-interkoneksi bisa dijadikan konsep ilmu pendidikan islam dalam mengembangkan pendidikan islam baik secara teori maupun praktis.
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Maka, kesimpulan akhir dari analilis yang telah dilakukan pada bagian-bagian sebelumnya, penulis merujuk kembali pada satu pokok permasalahan sebagaimana yang telah diajukan pada bagian pendahuluan. Adapun kesimpulannya sebagai berikut:
1. Integrasi-interkoneksi dalam pemikiran Amin Abdullah merupakan upaya mempertemukan kembali antara ilmu-ilmu keislaman (Islamic sciences) dangan ilmu-ilmu umum (modern sciences), dengan tercapainya integrasi keilmuan. ilmu pendidikan islam tidak hanya menggali dalil-dalil yang termuat dalam Al-Qur‘an dan Hadits secara normatif, melainkan suatu paradigma keilmuan yang juga memuat tentang disiplin keilmuan lainya. 2. Dalam kondisi kekinian, disiplin ilmu apapun yang bercorak integrasi-
interkoneksi menerut kesimpulan penulis adalah suatu sikap kedewasaan yang perlu mendapat tempat yang berkesesuaian. Dengan demikian, Ilmu pendidikan islam memiliki landasan pilosofis yang kokoh dan paradigma integarasi-interkoneksi bersipat holistik.
Pemikiran Amin abdullah tantang integrasi-interkoneksi merupakan satu diantara paradigma dalam kajian islamic studies. Proses ini diharapkan menjadi solusi dari berbagai krisis yang melanda manusia dan alam belakangan ini sebagai akibat ketidakpedulian suatu ilmu terhadap ilmu yang lain selama ini dikotomis.
88 88
B. Saran
Dari kajian ini, setidaknya perlu dilakukan pendekatan normatif dari teori integrasi-interkoneksi ilmu pendidikan islam perspektif M. Amin Abdullah. Hal ini diperlukan guna mengetahui secara utuh pemikirannya dalam mengatasi solusi keilmuan modern untuk memperkecil dikotomi keilmuan yang terjadi.