• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN TEORITIK A. Integrasi-Interkoneksi

B. Ilmu Pendidikan Islam

         

Artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang

Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.(Q. S. Al-Alaq:1-5).

Selama ini proses pembelajaran di madrasah dan disekolah belum mampu mengintegrasikan antara berbagai konsep atau teori keilmuan sains dan demensi nilai agama seperti etika, nilai teologis, dan lain-lain. Sedangkan dalam ajaran islam sebenarnya tidak dikenal dikotomi ilmu pengetahuan.

Ismail Raji Al-Faruqi, mengemukakan kemunduran umat islam yang terjadi sampai sekarang disebabkan kemalasan, yang terletak pada masalah pendidikan.18 Yang memunculkan dualisme dalam pendidikan. Terjadinya dualisme dalam pendidikan ini menyebabkan ketertinggalan umat islam yang sangat jauh dalam bidang sains, ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk mengatasi keterpurukan ini diperlukan upaya untuk mengintegrasikan ilmu dalam pendidikan. Dan inilah yang dilakukan salah satu intelektual muslim Indonesia Amin Abdullah dalam menghadapi dikotomi ilmu pengetahuan yang sangat rigit dan tidak kondusif dengan paradigma integrasi-interkoneksi keilmuan.

B. Ilmu Pendidikan Islam

Secara Etimologi kata‖ilmu‖ diserap dari bahasa arab merupakan akar kata dari ﻢﻋﻠ (‟alima), ﻠﻢﻌﯾ (ya‟lamu), ﻢﻋﻠ („ilman), yang berarti (tahu,

18

Mulyadi Kartanegara, Menembus Batas Waktu, Panorama Filsafat Islam, (Bandung: Mizan, 2002), hal. 85-89

mengetahui, ilmu).19 Dengan tulisan ﻢﻋﻠ (‗ain,lam,mim), yang berarti pengetahuan yang intensif atau mendalam. Kemudian dalam pengertian yang luas ilmu pendidikan islam meliputi semua ilmu pengetahuan, baik ilmu Al- Qur‘an, Ilmu Hadist, Ilmu Tauhid, Ilmu Fiqh maupun Ilmu Kedokteran, Ilmu biologi, Ilmu Astronomi, Ilmu Alam, Ilmu Tehnik, Ilmu Politik, Ilmi sosial dan sebagainya.20

Secara terminologi Merunut para ahli Archie J. Bahm dalam ―What is

Science‖ ilmu pengetahuan itu setidaknya melibatkan enam jenis komponen

utama. Masalah (problem), sikap (ettitude), metode (method), aktivitas (aktivity), kesimpulan (conclucion), dan akibat (effect). Komponen-komponen ini penting bagi pemahaman utuh tentang hakikat ilmu.

Ralph Ross dan Ernes van Den Haag menulis, science is empherical,

rational, general and cumulative; and it is all four at once. (ilmu itu yang

empirik, rasional, umum, bersusun dan keempatnya serentak). Karl Pearson pengarang karya terkenal ―Grammar of science‖. Merumuskan, science is the complete and consistent description of the facts of exferience in the simlest possible trems. (ilmu itu diskripsi yang lengkap dan konsisten tentang fakta pengalaman dengan istilah yang sesederhana mungkin). Prof. Dr. Baiquni pernah mengatakan bahwa ilmu atau sains merupakan konsensus umum masyarakat yang terdiri dari para sainstis.21

19

Muhammad Baharun, Islam Idealitas Islam Realitas, (Jakarta: Gema Insani, 2013), hal. 66

20

H. Muhammad. Th. Kedudukan Ilmu Dalam Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1983), hal. 33

21

32 32

Dari keterangan para ahli diatas dapat kita pahami bahwa ilmu itu adalah empiris, rasional, sistematis berdasarkan pakta dan diskripsi yang lengkap serta konsisten yang disusun dengan metode ilmiah.

Sedangkan yang dikutip Hery Nuer Aly Makna pendidikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalaui upaya pengajaran dan pelatihan. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 1989 Tentang Sistem Pendidikan Nasional BAB I-Pasal I-Ayat I Diputuskan. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang. Di dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional BAB I-Pasal I-Ayat I Diputuskan. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sebagian para ahli juga mendefinisikan sebagai berikut:

Ahmad D. Rimba mengatakan pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh sipendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Jamil Salaba dari Lembaga Bahasa Arab Damaskus mengemukakan bahwa pendidikan, (Arab; al-tarbiyah; Prancis; education, Inggris; education, culture,

Latin, educatio) ialah pengembangan psikis melalaui latihan, sehingga mencapai kesempurnaannya sedikit demi sedikit. Dalam masyarakat islam sekurang-kurangnya terdapat tiga istilah yang menandai konsep pendidikan, yaitu‘ ﺔﯿﺑﺗﺮ (Tarbiyah), مﻠﻲﻌﺗ (Ta‟lim), ﺐﯾﺪﻌﺗ (Ta‟dib). Istilah yang berkembang

sekarang secara umum adalah ﺔﺑﯿﺗﺮ (Tarbiyah)‘.22

Usaha untuk melahirkan ilmu pendidikan islam merupakan pekerjaan raksasa yang memerlukan penanganan bersama oleh segenap anggota masyarakat. Pendidikan yang mengiginkan adanya ilmu pendidikan islam yang relevan dan mampu menampakkan diri sebagai suatu kekuatan kultural islam yang berarti.

Ilmu pendidikan Islam adalah ilmu tentang mendidik agar manusia beragama islam. Ilmu adalah alat usaha yang disebut pendidikan, dan pendidikan adalah alat untuk mencapai tujuan yaitu beragaa islam. Dengan kata lain ilmu pendidikan islam adalah ilmu pendidikan yang berdasarkan islam.23. isi ilmu adalah teori, isi ilmu bumi adalah teori tentang bumu, ilmu sejarah teori tentang sejarah, ilmu alam, (fisika) berisi ilmu tentang alam fisik, isi ilmu pendidikan adalah teori tentang pendidikan, ilmu pendidikan islam berisi kumpulan teori tentang pendidikan berdasarkan islam.

22

Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, (Ciputat: PT Logos Wacana Ilmu, 1999), hal. 2-3

23

Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam,,, hal. 25-27. Ada dua jalur ilmu ―Ilahiyah dan

Insaniah‖ jalur pertama (Ilahiyah) hanya dimiliki oleh para Nabi dan Rasul sebagai bentuk

kemurahan dan kasing sayang Allah swt. yang didapatkan tanpa harus melalui prosedur epistemologis dan metode ilmuah. Yang kedua (Insaniah) merupakan hasil olah jiwa dan olah pikir serta indra dan pengalaman manusia, sedangkan landasan epistemologisnya harus lewat metode-metode ilmiah. Bandingkan. Muhammad. Th, Kedudukan Ilmu Dalam Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1983), hal. 34-37

34 34

Akan tetapi apakah isi ilmu hanya kumpulan teori, secara esensial memang ya, tetapi sebenarnya isi ilmu bukan hanya teori akan tetapi penjelasasn tentang teori itu. Jadi isi ilmu bisa dikatakan teori, penjelasan tentang teori, kemudian data yang mendukung penjelasan itu.24 Kalau penulis gambarkan mungkin Bisa seperti ini.

Gambar. 1.1 Teori Penjelasan Teori Data Tentang Teori

Dari ―Teori+Penjelasan Teori+Data Tentang Teori=Teori, Penjelasan, Data (T;PT;DTT;). Ilmu pendidikan islam memiliki dasar yang jelas. Islam adalah Nama Agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, Islam berisi seperangkat ajaran tentang Manusia ajaran itu dirumuskan berdasarkan Al- Qur‘an, Hadits, serta Akal. Maka ilmu pendidikan islam adalah ilmu pendidikan yang berdasarkan Al-Qur‘an, Hadits, dan Akal.

Tiga sumber ajaran ini dihirarki penggunaannya yang ditetapkan dalam Hadits.

ب

ﺎ ﺘ ﻛ ﰱ ﺎ ﲟ ﻰﻀ ﻗ ا :ل ﺎﻘ ـ ﻓ

؟ﻰﻀ ﻘ ـ ﺗ

ﻴ ﻛ :ل ﺎﻘ ـ ﻓ ﻦ ﻤ ﻴﻟ ا ﱃ ا ذاﺎﻌ ﻣ ﺚ ﻌ ﺑـ ص ﷲا ل ﻮ ﺳ ر نﱠ ا

ﺔ ﱠﻨﺳ ﰱ ﻦ ﻜ

ﻳ ﱂ ن ﺎ ﻓ :ل ﺎ ﻗ . ﷲا ل ﻮ ﺳ ر ﺔ ﱠﻨﺴ ﺒ ﻓ :ل ﺎ ﻗ ؟ ا ب ﺎ ﺘ ﻛ

ﰱ ﻦ ﻜ

ﻳ ﱂ ن ﺎ ﻓ .ل ﺎ ﻗ . ﷲا

ﺬىﻣاﻟﱰ . ﷲا ل ﻮ

ﺳ ر ل ﻮ ﺳ ر ﻖ ﱠﻓو ي ﺬ ﱠاﻟ ﷲ ﺪ ﻤ ﳊ ا

:ل ﺎ ﻗ .ﱙ أر ﺪ ﻬ ﺘﺟ ا :ل ﺎ ﻗ ص؟ ﷲا ل ﻮ ﺳ ر

24

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Bandung: PT Rosdakarya, 1992), hal. 12

Artinya: “Rasullullah saw, mengutus Mu‟adz ke Yaman, kemudian beliau

bertanya, bagaimana kamu mumutuskan satu masalah?‟ ia menjawab” saya akan memutuskannya dengan apa yang terdapat di dalam kitab Allah,” beliau bertanya” apabila keputusan itu tidak terdapat didalam kitab Allah?” ia menjawab” saya akan memutuskannya dengan sunnah Rasulullah,” beliau bertanya lagi, “apabila keputusan itu tidak juga terdapat di dalam sunnah Rasullullah?”ia menjawab” saya berijtihad dengan rakyu,” kemudian beliau bersabda,” segala puji bagi Allah yang telah memberi taufik kepada utusan Rasulmya.‖(HR. Tirmidzi).

Atas dasar inilah yang membuat ilmu pendidikan disebut ilmu pendidikan islam. Tanpa dasar ini tidak akan ada ilmu pendidikan Islam.25 berbeda dengan epistemologi dalam kajian filsafat ilmu bahwa dasar, sumber dan validitas pengetahuan seperti, dari mana manusia memperoleh pengetahuan atau apa sumber pengetahuan itu? Bagaimana hubungan subjek yang mengetahui dengan objek yang diketahui( struktur atau situasi pengetahuan? Apa kretiria pengetahuan yang disebut benar?.Apakah yang menjadi batas wilayah ilmu pengetahuan? Dan pertanyaan lainya.26

Disini perlu digarisbawahi bahwa bukan berarti penulis meletakkan filsafat pada tempat yang bermakna negatif, akan tetapi selagi bisa diterima dan tidak bertentangan dengan ajaran agama khususnya islam sah-sah saja, selagi memenuhi prosedur dan metode ilmiah yang tidak bertentangan. Bisa jadi ilmu pendidikan islam memiliki landasan epistemologis yang bisa diterima, jika ada epistemoligi islam, maka akan lahir metodologi islam.

25

Hery Nuer Aly, Ilmu Pendidikan Islam,,, hal. 31

26

Akhyar yusuf lubis, Filsafat Ilmu; Klasik Hingga Kontemporer, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2015), cet ke-2, hal 31. Lebih jelas dalam cabang filsafat sumber ilmu pengetahuan dikenal dengan istilah epistemologi (teori ilmu pengetahuan). Lebih lengkap lihat Mujamil Qomar, Epistemologi Pendidikan Islam; Dari Metode Rasional Hingga Metode Klasik,,, hal. 163-194

36 36

Hal yang paling mendasar dan pijakan untuk menjelaskan dan membahas ilmu pendidikan Islam sepatutnya juga mendapat perhatian khusus berdasarkan Hadits di atas yaitu:

1. Al-Qur’an

Secara etimologi Al-Qur‘an berasal dari kata أﻗر (qara‟a), أﯾﻘر (yaqra‟u), ةءرا ﻗ (qira‟atan), atau نرأ ﻗ (qur‟anan) yang berarti mengumpulkan (al-jam‟u) dan menghimpun (al- dhammu) huruf-huruf serta kata-kata dari satu bagian kebagian lain secara teratur. Dikatakan Al-Qur‘an karna ia berisikan inti sari semua kitabullah dan inti sari dari ilmu pengetahuan.27

Karna itu para ulama berkata tentang Al-Qur‘an ini: Didalam Tafsir Al-

Munir, Wahbah az-Zuhaili menyebutkan: Al-Qur‘an adalah firman Allah yang

mukjizat, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Dalam bahasa arab, yang tertulis dalam Mushaf, yang bacaannya terhitung sebagai ibadah, yang diriwayatkan secara mutawatir, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah, dan diakhiri dengan surat An-Nass.28

Secara terminologi pengertian Al-Qur‘an dapat juga difahami dari pendapat beberapa ulama sebagaimana dikutip Muhaimin dkk yaituy Muhammad Salim Muhsin mengatakan Al-Qur‘an adalah firman Alllah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Yang ditulis dalam mushaf-mushaf dan dinukil/diriwayatkan kepada kita dengan jalan yang mutawatir dan membaca dipandang ibadah serta sebagai penentang bagi orang yang tidak

27

Muhaimin. dkk, Studi Islam; Dalam Ragam Dimensi dan Pendekatan, (Jakarta: Kencana, 2014), cet-iv, hal. 81

28

percaya walaupun surat pendek. Andul Wahab Khalaf mendefenisikan Al- Qur‘an sebagai firman Allah Swt. Yang diturunkan melalui Ruh Al-amin (jibril) kepada Nabi Muhammad Saw. Dengan bahasa arab, isinya dijamin kebenarannya, dan sebagai hujjah kerasulannya, undang-undang bagi seluruh manusia dan petunjuk dalam beribadah serta dipandang ibadah dalam membacanya, yang terhimpun dalam mushaf yang dumulai dari surat Al- Fatihah dan di akhiri dengan surat An-nas, yang diriwayatkan kepada kita dengan jalan mutawatir. Muhammad Abduh mendefinisikan Al-qur‘an sebagai kalam mulia yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi yang paling sempurna (Muhammad Saw), ajaranya mencakup keseluruhan ilmu pengetahuan. ia merupakan sumber yang mulia yang esensinya tidak dimengerti kecuali bagi orang yang berjiwa suci dan berakal cerdas.29

Al-Qur‘an sebagai kitab petunjuk dijelaskan dalam firman Allah Swt sebagai berikut:

         

      

Artinya: ―Sesungguhnya Al-Qur‟an ini memberikan petunjuk kejalan yang

lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shaleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar‖. (Q. S. Al-Isra‟. ayat 9).

Ayat Ini menunjukkan bahwa al-qur‘an adalah bertujuan memberikan petunjuk kepada umat manusia, agar memiliki akidah dan akhlak yang mulia serta mengarahkan tingkah laku mereka pada perbuatan yang baik dan amal

29

38 38

shaleh. Al-Qur‘an sebagai petunjuk sebagaimana dikemukakan Mahmud Syaltut yang dikutip Hery Noer Aly, dapat dikelompokkan menjadi tiga pokok, yaitu:

a. Petunjuk tentang akidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia dan tersimpul dalam keimanan akan keesaan tuhan serta kepercayaan akan kepastian adanya hari pembalasan.

b. Petunjuk mengenai akhlak yang murni dengan jalan menerangkan norma- norma keagamaan dan susila yang harus diikuti oleh manusia dalam kehidupan, baik individual maupun kolektif.

c. Petunjuk mengenai syariat dan hukum dengan jalan menerangkan dasar- dasar hukum yang harus diikuti oleh manusia dalam hubungannya dengan tuhan dan sesama.

Pengelompokan itu dapat disederhanakan menjadi akidah dan syariah penyederhanaan ini digunakan lansung oleh Mahmud Syaltut dalam bukunya ―al-islam „aqidah wa syariah‖ sebagaimana yang dikutif Hery Nuer Aly. 30

Al- Qur‘an bukan kitab teori ilmu. Walaupun demikian antara keduanya terdapat hubungan yang erat. Sebagaimana dikemukakan M. Quraisy Shihab, hubungan antara Al-Qur‘an dan ilmu tidak dilihat dari adakah satu teori tercantum didalam Al-Qur‘an, tetapi adakah jiwa ayat-ayatnya menghalangi kemajuan ilmu atau sebaliknya, serta adakah satu ayat Al-Qur‘an yang bertentangan dengan hasil pertemuan ilmiah yang telah mapan, kemajuan ilmu tidak hanya dinilai dengan apa yang dipersembahkannya kepada masyarakat, tetapi juga

30

diukur dengan terciptanya satu iklim yang dapat mendorong kemajuan ilmu itu.31

Oleh karna demikian penulis mengatakan Al-Qur‘an tidaklah menolak mentah-mentah kemajuan peradaban ilmu pengetahuan dan tidak mengikat dengan sekat-sekat yang tidak mungkin bisa diterima apalagi ilmu pendidikan islam. Jelas-jelas disini kenyataannya dasar yang autentik ilmu pendidikan islam adalah Al-Qur‘an itu sendiri. Atau gengan kata lain Al-Qur‘an adalah petunjuk bagi seluruh manusia kejalan yang harus ditempuh demi kebahagiaan hidup didunia maupun diakhirat.32

2. As-Sunnah

Ada istilah-istilah yang sering digunakan dalam as-sunnah, yaitu ﻦاﻟﺴ (as-sunnah) itu sendiri, ﯾﺚاﻟﺤﺪ (al-hadits), ﺮﺒاﻟﺨ (al-khabar), dan رﺎﻷﺛا (al-

atshar). Sebaiknyalah dipahami terlebih dahulu istilah-istilah itu. Secara

etimologi as-sunnah berarti tradisi yang bisa dilakukan, atau jalan yang dilalui, ﺔﻛﺴﻠﻮﻤاﻟ ﺔﻘﯾاﻟﻄﺮ (al-thariqah al-maslukah) baik yang terpuji maupun yang tercela.

As-sunnah lawan dari bid‟ah. Barang siapa mengerjakan amalan agama tanpa

didasari tradisi atau tata cara agama, maka ia mengada-ngada (membuat

bid‟ah). Dan bisa juga berarti jalan hidup (sirah), oleh karna itu sunnah Nabi

berarti jalan hidupnya, dan sunnah Allah adalah jalan/hukum Allah yang telah ditetapkan-nya. Sedangkan al-hadits berarti al-jadid (yang baru), lawan dari al-

31

M. Quraisyh Shihab, ―Membumikan” Al-Quran: Fungsi Dan Peran Wahyu Dalam

kehidupan Masyarakat, (Bandung: Mizan, 1995), hal. 42

32

40 40

qadim (yang dahulu). Atau berarti al-qarib (yang dekat) dan al-khabar (berita)

sedangkan al-atsar berarti bekas atau sisa sesuatu.33

Secara terminologi as-sunnah dan al-hadits ini ada ulama yang membedakannya dan ada pula yang menyamakan. Ulama yang membedakan keduanya adalah Ibnu Taimiyah, menurutnya al-hadits merupakan ucapan, perbuatan maupun taqrir Nabi Muhammad Saw sebatas beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul, sedangkan sunnah lebih dari itu. Yakni sebelum dan sesudah diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Sedangkan jumhur ulama menyamakan as-sunnah dan al-hadits, hanya saja ulama-ulama hadits banyak memakai istilah hadits, sedangkan ulama ushul memakai istilah sunnah.34

Penulis dalam hal ini cenderung mengikuti pendapat yang menyamakan istilah as-sunnah dan hadits dan ini adalah pendapat jumhur ulama sebagaimana dijelaskan di atas. Al-qur‘an diwahyukan oleh Allah swt, kepada Rasulullah saw . kemudian disampaikan kepada umat manusia dengan penuh amanat, tidak sedikitpun ditambah dan dikurangi. Selanjutnya manusialah yang berusaha memahaminya, menerimanya, kemudian mengamalkan-nya. Namun demikian manusia memiliki kesulitan dalam memahaminya, dan ini telah dialami oleh para sahabat sebagai generasi pertama penerima Al-Qur‘an, oleh karna itu mereka meminta penjelasan kepada Rasullullah Saw. Yang memang memberi otoritas untuk itu.

33

Muhaimin dkk, Studi Islam; Dalam Ragam Dimensi dan Pendekatan,,,hal. 124-25.

Thariqah, (jalan) dalam hubungannya dengan Rasulullah saw, berarti segala perkataan, perbuatan,

atau ketetapannya. Lihat juga Heri Nuer Aly, Ilmu Pendidikan Islam,,, hal. 40

34

Sunnah sebagai penjelas terhadap Al-Qur‘an mengambil dua bentuk: nilai-nilai dan kaidah-kaidah normatif serta teknik-teknik praktis historis. Bentuk pertama bisa dikembangkan dalam bentuk hirarki nilai, sehingga tidak ada pertentangan antara nilai pokok dan nilai cabang. Bentuk kedua bisa diubah sesuai situasi dan kondisi. Ilmu pendidikan islam bisa berbuat banyak terhadap bentuk kedua. Misalnya dengan menelaah kembali apakah teknik- teknik pendidikan yang digunakan Rasulullah Saw masih relevan atau tidak dan pakah cukup memadai ataukah belum untuk diterapkan dimasa sekarang. Pribadi Rasulullah saw, sendiri. kata, Muhammad Qutbh, merupakan contoh hidup serta bukti kongkret sistem dan hasil pendidikan islam.35

Oleh karna itu as-sunnah atau al-hadits sebagai penjelas kitab suci Al- Qur‘an, yang disandarkan kepada Rasulullah saw, baik perkataan, perbuatan maupun ketetapan-nya. Menjadi sember autentik kedua umat islam setelah Al- Qur‘an dan menjadi dasar pijakan ilmu pendidikan islam.

3. Ra’yu

Ilmu pengetahuan semakin hari semakin berkembang dan mengalami perubahan termasuk masyarakat, baik mengenai nilai-nilai sosial, kaidah- kaidah sosial, pola-pola tingkah laku, organisasi, susunan lembaga-lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, maupun intraksi sosial, dan lain sebagainya.

Menurut hemat penulis Ilmu pendidikan islam dan ilmu pengetahuan lainya. Juga demikian dari masa-kemasa terus mengalami kemajuan yang

35

42 42

sangat signifikan, berbagai disiplin ilmu bermunculan dan itu telah dirasakan ditengah masyarakat dengan ragam dan bentuk jenisnya, metode, pendekatan, teori yang digunakan serta sumber ilmiahnya. Yang kadang-kadang tidak sesuai dengan ajaran islam yang hakiki. Sehingga perlunya pintu دﺎﺘﮭﺟﻹا (al-

Ijtihad) untuk menjawab hal demikian agar umat islam tidak salah dan terjebak

kepada ―sikap‖(attitude) berpura-pura dan menerima begitu saja tanpa ada pertimbagan.

Ijtihad pada dasarnya masdar dari kata ﺪﺘﮭﺟإ, ﺪﺘﮭﯾﺠ ,ﺎداﺘﮭإﺟ merupakan

usaha sungguh-sungguh orang muslim untuk selalu berprilaku berdasarkan ajaran islam. untuk itu, manakala tidak ditemukan dalam Al-Qur‘an dan As- sunnah tentang satu prilaku, orang muslim akan mengerahkan segenap kemampunya untuk menemukannya dengan memperhatikan prinsip-prinsip umum Al-Qur‘an ataupun As-sunnah. Hal ini sebagaimana kasus Mu‘az bin Jabal ketika di utus oleh Rasulullah Saw ke Yaman, sebagai mana dalam hadits yang disebutkan di atas.

Ijtihad dalam lapangan pendidikan islam hampir tidak terdengar,

sebabnya barangkali bisa dirujuk kondisi sosial umat dimasa lalu. Ijtihad dalam lapangan pendidikan perlu mengimbangi ijtihad dalam lapangan fiqh (lahir batinnya), rung lingkupnya bisa dalam filsafat pendidikan islam bida pula dalam lingkup ilmu pendidikan islam. dalam lingkup ilmu pendidikan islam, pernyataan Al-Qur‘an dan As-sunnah hendaknya dipilah, mana yang bernilai

normatif dan mana yang bernilai teknis-pratis. Sehingga tidak terjadi kesalahan perlakuan, tidak membuktikan secara empiris apa yang seharusnya diyakini.36

Dari penjelasan diatas dapatlah kita pahami bahwa dasar atau sumber ilmu pendidikan islam adalah ajaran islam itu sendiri yang terhimpun dalam petunjuk wahyu Allah Swt, (Al-Qur‟an) dan (Sunnah) Rasulullah Saw. kemudian (ijtihad) para ulama dan orang-orang yang diberikan hak atau wewenang untuk itu dengan ilmu yang mumpuni (faqih). Baik diwilayah ilmu pendidikan islam maupun yang lainnya.