HASIL PENELITIAN
A. Pemikiran Amin Abdullah Tentang Teori Integrasi-Interkoneksi Ilmu Pendidikan Islam Pendidikan Islam
Pembahasan tetang keilmuan islam dan sains telah menyisakan jejak yang cukup panjang dikalangan cendekia muslim. Persoalan dikotomi keilmuan ini sangat berdampak bagi kaum Muslim, sehingga umat islam jauh ketinggalan dengan kemajuan barat beberapa dekade belakangan.
Terbukti sebagian besar orang sekarang masih terkesan bahwa ilmu keislaman adalah satu hal dan ilmu non-keislaman adalah hal lain. Dikotomi keilmuan seperti ini jelas akan merugikan dunia Islam itu sendiri. Sebab ilmu- ilmu non-keagamaan dianggap tidak penting, sehingga tidak perlu dipelajari. Inilah salah satu faktor terbesar mundurnya keilmuan Islam. Bandingkan dengan abad pertengahan ketika muncul tokoh-tokoh yang tidak melihat
56 56
dikotomi itu semisal al-Kindi (801-873 M), al-Farabi (257-339H/ 870-950M) dan Ibnu Sina (370-428H/ 980-1037M)1. Ilmuan ini disamping mereka menguasai keilmuan Islam tradisional juga disegani sebagai pakar ilmu non- keagamaan. Pada saat itu Islam mampu menunjukkan perannya sebagai kontributor ilmu ketika Barat sendiri mengalami kemunduran ilmiah. Tapi hari ini, akibat dikotomi yang telah diciptakan atau diwariskan sejak ratusan tahun itu, dunia Islam terpuruk dalam ketertinggalan. Barat sekarang tampil di puncak kemajuan peradaban ilmu.
Fenomena tersebut jelas membawa kegelisahan bagi pemikir-pemikir Muslim modern. Integrasi-interkoneksi keilmuan dapat menjadi paradigma pilihan. Paradigma integrasi-interkoneksi yang kini menjadi paradigma Univesitas Islam Negeri Sunan Kalijaga tidak lahir begitu saja, melainkan menapaki proses panjang yang melibatkan banyak diskusi dengan para ahli baik dari dalam negeri maupun luar negeri.2
Jika dilihat dari karya-karyanya, setidak-tidaknya ada dua pemikiran besar Amin Abdullah yang pada dasarnya merupakan respons dari konteks dan persoalan yang sedang dihadapi oleh kaum Muslimin.
Pertama, adalah persoalan pemahaman terhadap keislaman yang selama
ini dipahami sebagai dogma yang baku. Hal ini karena pada umumnya
normativitas ajaran wahyu ditelaah lewat pendekatan doktrinal teologis.
1
Fazlur Rahman, Islam, terj. Ahsin Mohammad (Bandung: Pustaka, 2000), hal.167. Lihat juga Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban (Jakarta: Paramadina, 2000), hal. 228.
2
Pendekatan ini berangkat dari teks kitab suci yang pada akhirnya membuat corak pemahaman yang tekstualis dan skripturalis.3
Sedangkan di sisi lain untuk melihat historisitas keberagamaan manusia, pendekatan sosial keagamaan digunakan melalui pendekatan historis, sosiologis, antropologis, dan lain sebagainya, yang bagi kelompok pertama dianggap reduksionis. Kedua pendekatan ini bagi Amin Abdullah merupakan hubungan yang seharusnya tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya.
Jenis pendekatan ini yang bersifat teologis-normatif dan pendekatan yang bersifat historis-empiris-sangat diperlukan dalam melihat keberagamaan masyarakat pluralistik. Kedua pendekatan ini akan saling mengoreksi, menegur, dan memperbaiki kekurangan yang ada pada kedua pendekatan tersebut. Karena pada dasarnya pendekatan apapun yang digunakan dalam studi agama tidak akan mampu menyelesaikan persoalan kemanusiaan secara sempurna. Pendekatan teologis-normatif saja akan menghantarkan masyarakat pada keterkungkungan berpikir sehingga akan muncul truth claim sehingga melalui pendekatan historis-empiris akan terlihat seberapa jauh aspek-aspek eksternal seperti aspek sosial, politik, dan ekonomi yang ikut bercampur dalam praktik-praktik ajaran teologis. Hubungan keduanya normativitas dan historisitas ibarat sebuah koin (mata uang) dengan dua permukaan. Hubungan
3
M. Amin Abdullah, ―Muhammadiyah di Tengah Pluralitas Keberagamaan‖ dalam Edy Suandi Hamid, dkk. (ed.), Rekonstruksi Gerakan Muhammadiyah Pada Era Multiperadaban (Yogyakarta: UII Press, 2000), hal. 59-64
58 58
antara kedua permukaan tidak dapat dipisahkan, tetapi secara tegas dan jelas dapat dibedakan.4
Menurut Amin Abdullah, awalnya, hububgan antara demensi normativitas dan historisitas seperti manusia itu sendiri. Keberadaan manusia itu terdiri dari dua sisi, yaitu sisi normativitas dan sisi historisitas. Ini bisa diibaratkan seperti sebuah coin yang telah disebutkan diatas.5
Kedua, Dengan bergulirnya kelembagaan perguruan tinggi islam dari
IAIN menuju UIN mulai tahun dua ribuan, muncullah paradigma keilmuan yang di desains sebagai wujud visi dan misi yang sesuai layaknya universitas yang integral pada fakultas-fakultas yang ada, agar sekat-sekat keilmuan agama dan umum terjembatani. Sehingga hubungan ilmu agama dan non keagamaan bisa dipertemukan dengan sehat, santun, dan bisa diterima dengan lapang dada.
Untuk menggambarkan pemikiran Amin Abdullah tentang paradigma integrasi-interkoneksi penulis menganalisis horizon jaring laba-laba (spider
web) yang memang orisinil dari pokok pemikirannya dalam buku islamic studies diperguruan tinggi pendekatan integrasi-interkoneksi.
Disinilah tampak peran Amin Abdullah salah satu dari sekian pemikir indonesia, yang turut andil dalam menghadapi persoalan keilmuan yang dikotomi. Adanya anggapan antara ilmu agama dan non keagamaan tidak bisa dipertemukan. Sehingga perlunya paradigma integrasi-interkoneksi keilmuan
4
M. Amin Abdullah, Studi Agama: Normativitas atau Historisitas? (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hal vii-18.
5
Waryani fajar riyanto. Integrasi-Interkoneksi Keilmuan Biografi Intelektual M. Amin
yang ia ilustrasikan dengan jaring laba-laba (spider web) keilmuan yang integralistik. Seperti gambar dibawah ini.
Gambar II Horizon
Jaring Laba-Laba Keilmuan Teoantroposentrik-Intekgralistik Dalam Universitas Islam Negeri6
Paradigma Integratif-interkonektif ini dibangun sebagai respons atas persoalan masyarakat saat ini di mana era globalilasi banyak memunculkan kompleksitas persoalan kemanusiaan. Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya, paradigma keilmuan integratif-interkonektif ini merupakan tawaran yang digagas oleh Amin Abdullah dalam menyikapi dikotomi yang cukup tajam antara ilmu umum dan ilmu agama. Asumsi dasar yang dibangun pada paradigma ini adalah bahwa dalam memahami kompleksitas fenomena
6
https://www.google.com/search?q=3+model+paradigma+keilmuan+integrasi+interkoneksi &source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwjkkrSRxpH, diakses 18-Juli-2017. Lihat. M. Amin Abdullah, Islamic studies,,,hal. 107
60 60
kehidupan yang dihadapi dan dijalani manusia, setiap bangunan keilmuan apapun baik ilmu agama, keilmuan sosial, humaniora, maupun kealaman tidak dapat berdiri sendiri. Kerjasama, saling membutuhkan, dan bertegur sapa antar- disiplin ilmu justru akan dapat memecahkan persoalan yang dihadapi oleh manusia, karena tanpa saling bekerja sama antar-disiplin ilmu akan menjadikan
narrowmindedness.7
Sebuah kenyataan bahwa ada sebagian masyarakat, atau mungkin tokoh pendidikan, pendidik, pemerhati pendidikan, yang memahami secara kurang tepat hubungan antara ilmu agama dengan ilmu umum. Seakan ada distansi di antara keduanya yang tidak bisa disatukan dalam metode tertentu. Selanjutnya dipahami bahwa agama hanya mengurusi wilayah-wilayah ketuhanan, kenabian, aqidah, fiqh, tafsir, hadits, dan semisalnya, yang pada gilirannya ilmu umum diletakkan dalam bangunan lain di luar bangunan ilmu agama. Kemudian dimasukkan ke dalamnya misalnya ilmu biologi, fisika, matematika, kedokteran, dan sejenisnya.
Hal inipun berlanjut dengan didukung pula kebijakan pendidikan pemerintah yang dikotomik. Kenyataan di atas mengusik Amin Abdullah, untuk meluruskan, membenahi, mendobrak pemahaman di atas melalui buku
Islamic Studies: Pendekatan Integratif-Interkonektif sebagai upaya
perombakan untuk dikonstruksi kembali frame berpikir diatas dalam melihat agama dalam relasinya dengan ilmu pengetahuan. Ide dasarnya adalah, untuk
7
M. Amin Abdullah, ―Membangun Kembali Filsafat Ilmu-ilmu Keislaman: Tajdid dalam Perspektif Filsafat Ilmu‖ dalam A. Syafi‟i Ma‟arif, dkk., Tajdid Muhammadiyah untuk
Pencerahan Peradaban, (ed.) Mifedwil Jandra dan M. Safar Nasir (Yogyakarta: MT-PPI & UAD
memahami kompleksitas fenomena kehidupan yang dihadapi dan dijalani manusia, setiap bangunan keilmuan apapun, baik agama, sosial, humaniora, dan kealaman, tidaklah dibenarkan bersikap single entity. Masing-masing harus saling bertegur sapa dengan yang lain. Kerjasama, saling membutuhkan, saling koreksi, dan keterhubungan antar-disiplin keilmuan akan lebih dapat membantu manusia memahami problem kehidupan sekaligus memecahkan persoalan yang dihadapinya. Sebab, ketika bangunan-bangunan keilmuan itu saling membelakangi, maka hasilnya adalah sebuah kemunduran.
Jargon integratif-interkonektif memang cukup populer didengar terutama bagi kalangan civitas akademika Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ini tidak hanya sekadar jargon pasca-peralihan IAIN menjadi UIN, tetapi lebih dari itu, ia menjadi core values dan paradigma yang akan dikembangkan UIN Sunan Kalijaga yang mengisyaratkan tidak ada lagi dikotomi antara ilmu agama dan umum. Gagasan integrasi-interkoneksi ini muncul dari rektor kesembilan UIN Sunan Kalijaga Amin Abdullah yang kemudian mengaplikasikannya dalam pengembangan IAIN menjadi UIN.8
Apa yang terjadi selama ini adalah dikotomi yang cukup tajam antara keilmuan umum dan keilmuan agama (ilmu keislaman). Keduanya seolah mempunyai wilayah yang terpisah antara satu dengan yang lain. Hal ini juga berimplikasi pada model pendidikan di Indonesia yang memisahkan antara kedua jenis keilmuan ini. Ilmu sains dikembangkan di perguruan tinggi umum sementara ilmu-ilmu agama dikembangkan di perguruan tingga agama.
8
Siswanto, Perspektif Amin Abdullah Tentang Integrasi Interkoneksi Dalam Kajian Islam, Gresik: INFAKA, Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam Volume 3 Nomor 2 Desember 2013.
62 62
Perkembangan ilmu sains yang dikembangkan oleh perguruan tinggi umum berjalan seolah tercerabut dari nilai-nilai moral dan etis kehidupan manusia, sementara itu perkembangan ilmu agama yang dikembangkan oleh perguruan tinggi agama hanya menekankan pada teks-teks Islam normatif, sehingga dirasa kurang menjawab tantangan zaman. Jarak yang cukup jauh ini kemudian menjadikan kedua bidang keilmuan ini mengalami proses pertumbuhan yang tidak sehat serta membawa dampak negatif bagi pertumbuhan dan perkembangan kehidupan sosial, budaya, ekonomi, politik, dan keagamaan di Indonesia.9
Upaya untuk mengurangi kesenjangan yang berjalan selama ini, antara pendidikan keagamaan dan pendidikan umum. Paradigma Integrasi- interkoneksi bisa disebut jalan pembuka untuk berdialog, diskusi, koreksi, tegur sapa antar sekat-sekat yang ada, baik pada pendidikan keagamaan maupun pendidikan umum yang selama ini agak kaku. Melihat penomena atau pemahaman seperti ini yang perlu diingat adalah upaya integrasi bukanlah untuk menghancurkan agama, tetapi memperkokoh penemuan hal esensial dari nilai agama disatu sisi, dan menempatkan mencari nilai dalam riset keilmuan sebagai upaya nyata mewujudkan idealisme keagamaan dalam rialitas kemanusian secara konkret.
Konsep integrasi sains dan islam bukanlah hal yang baru. Sudah bermunculan sejak tahun 1970-an, seperti yang dimunculkan M. Naquib al- Attas dengan fokus kajiannya dewesternisasi ilmu, Isma‘il Al-Faruqi dengan
9
fokus kajiannya islamisasi ilmu pengetahuan, Ziauddin Saddar dengan fokus kajiannya islam peradaban ataupun Gholsani dengan fokus kajiannya pada sains islam dan masih banyak lagi pemikir-pemikir muslim yang terus melahirkan karya ilmiah dibawah tema islam dan sains atau islam dan ilmu dan seterusnya.10