• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Pengaruh Volume Bid

Dalam dokumen JORDAN DWIOKTO SARAGIH (Halaman 93-97)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.7 Pembahasan

4.7.2 Analisis Pengaruh Volume Bid

Hipotesis kedua dalam penelitian ini adalah Volume Bid yang berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Harga Saham. Berdasarkan Tabel 4.7 variabel X2 (Volume Bid) mempunyai koefisien bertanda negatif sebesar 0,003 dan tingkat probabilitas 0,0027 < 0,05 artinya Volume Bid berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Harga Saham.

Hasil penelitian menunjukkan hubungan negatif antara Volume Bid dengan Harga Saham tidak sesuai dengan pernyataan teoritis Syamsir (2008), yang menyatakan bahwa jika terjadi ekses demand (kelebihan demand atas supply) maka harga saham akan naik. Namun Volume Bid berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham memiliki persamaan dengan pernyataan Syamsir (2008), bahwa harga saham sangat ditentukan oleh keseimbangan antara supply dan demand, perubahan demand akan mempengaruhi keseimbangan pasar yang akan berdampak pada perubahan harga saham. Keseimbangan pasar dalam bursa ditentukan oleh pergerakan volume bid dan volume ask yang berubah secara cepat karena banyaknya investor (pembeli dan penjual) di bursa dan tingginya variasi ekspektasi antara investor satu dengan lainnya. Perusahaan pada sektor industri

makanan dan minuman merupakan perusahaan-perusahaan yang memiliki intensitas perdagangan yang tinggi di bursa, sehingga banyak investor yang melakukan transaksi pada saham perusahaan dan dampaknya pergerakan Volume Bid terjadi dengan cepat. Volume Bid berubah dengan cepat sehingga berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Harga Saham.

Sama halnya dengan PT Budi Strach & Sweetener Tbk (BUDI) pada bulan Januari 2015 yang memiliki volume bid terendah yaitu hanya sebesar 61 lembar, tetapi memiliki harga saham cukup tinggi yakni sebesar Rp 100.

Hal ini sesuai dengan berita pasar modal yang dilansir dari media CNBCindonesia.com pada 27 April 2020 yang mengemukakan volume transaksi tahun 2017 dan 2018 rendah tapi harga saham tinggi dikarenakan bulan puasa.

Secara historis rata-rata volume pada bulan puasa memiliki kecenderungan lebih rendah dibandingkan bulan lainnya. Rendahnya volume transaksi pada bulan puasa bisa dikaitkan dengan kebutuhan dana investor untuk persiapan Hari Raya Lebaran, karena memang kebutuhan dana pada perayaan tersebut akan melonjak.

Volume mewakili jumlah total transaksi yang terjadi pada suatu pasar dalam hitungan periode waktu tertentu. Indikator volume biasanya digambarkan dalam bentuk histogram, dimana panjang bar menentukan banyaknya jumlah transaksi yang terjadi. Semakin panjang bar berarti transaksi semakin banyak.

Mengacu pada data dari Bursa Efek Indonesia periode puasa di tahun 2018 sekitar bulan Mei, volume transaksi tercatat mencapai 184,97 miliar lembar dengan rata-rata transaksi harian sebanyak 9,25 miliar lembar saham. Terjadi penurunan sebesar 2,04% dari bulan sebelumnya 188,75 miliar lembar saham

dengan rata-rata transaksi harian sebanyak 8,99 miliar lembar saham.

Selain itu, pada periode puasa di tahun 2017 sekitar bulan Juni, volume transaksi tercatat mencapai 141,64 miliar lembar dengan rata-rata transaksi harian sebesar 9,44 miliar. Terjadi penurunan sebesar 69,44 persen dari bulan sebelumnya tercatat 240 miliar lembar dengan rata-rata transaksi harian sebesar 12 miliar.

Pada tahun 2016 menurut berita pasar modal yang dilansir oleh medcom.id pada tanggal 24 Mei 2016 mengemukakan bahwa PT Bursa Efek Indonesia mengalami rata-rata transaksi saham di pasar modal Indonesia mencapai 5,82 triliun di periode April 2016. Total rata-rata transaksi harian mengalami penurunan bila dibandingkan dengan bulan Maret 2016 sebanyak 6,19 triliun.

Penurunan rata-rata transaksi banyak disebabkan oleh merosotnya transaksi saham investor asing yang hanya tercatat melakukan pembelian bersih sebanyak 291 miliar. Padahal, mengacu Maret 2016 posisi beli bersih asing jauh lebih besar yaitu mencapai 2,31 triliun.

Pada tahun 2015 menurut berita pasar modal yang dilansir oleh Kompas.com pada tanggal 31 Desember 2015 mengemukakan bahwa PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan transaksi harian saham selama periode Januari hingga Desember 2015 mencapai Rp 5,77 triliun. Namun, capaian tersebut turun 3,98 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 6,01 triliun.

Dalam laporan Bursa Efek Indonesia, kinerja perdagangan saham antara Januari hingga Desember 2015 mengalami tren konsolidasi. Penyebabnya dipicu

oleh kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat. Kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat membuat investor asing mengalihkan sebagian dananya keluar dari portofolio di Indonesia yang ditandai dengan nilai jual bersih dana investor asing di pasar domestik sebesar Rp 22,55 triliun.

Pada tahun 2014 menurut berita pasar modal yang dilansir oleh Kontan.co.id pada tanggal 4 Februari 2014 mengemukakan bahwa data Bursa Efek Indonesia (BEI) di Januari 2014, rata-rata volume transaksi bursa sebesar 3,9 miliar saham dengan rata-rata nilai transaksi sebesar Rp 4,84 triliun. Transaksi perdagangan ini lebih kecil dibandingkan biasanya.

Sebagai perbandingan, di Januari 2013 rata-rata volume perdagangan saham mencapai 4,6 miliar saham dengan rata-rata nilai transaksi sebesar Rp 5 triliun. Hal ini membuktikan bahwa efek perubahan peraturan perdagangan sejauh ini belum mampu mendongkrak transaksi perdagangan di bursa.

Pada tanggal 6 Januari 2014 lalu, Bursa Efek Indonesia menerapkan aturan perdagangan baru yakni menurunkan jumlah saham per lot dari 500 saham menjadi 100 saham per lot. Selain itu, Bursa Efek Indonesia juga mengubah fraksi saham dari lima kelompok harga menjadi tiga kelompok harga. Syaiful Adrian, analis Ciptadana mengemukakan transaksi perdagangan saham masih rendah dikarenakan ada beberapa sentimen negatif yang membayangi perdagangan.

Pertama di akhir tahun lalu, tak banyak aksi window dressing yang berdampak pada January effect. Kedua, ada krisis yang dialami negara berkembang seperti Argentina dan Turki, sehingga investor cenderung mencari momen tepat untuk masuk ke pasar. Ketiga, investor juga masih menyesuaikan diri dengan peraturan

baru dari Bursa Efek Indonesia mengenai perubahan lot dan fraksi harga.

Hasil penelitian ini sejalan dengan Dewi & Kartika (2015), yang menyatakan bahwa Volume Bid berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Harga Saham, namun tidak sejalan dengan penelitian Abidin, Suhadak & Hidayat (2016), yang menyatakan bahwa Volume Bid berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap Harga Saham.

4.7.3 Analisis Pengaruh Harga Saham Masa Lalu terhadap Harga Saham

Dalam dokumen JORDAN DWIOKTO SARAGIH (Halaman 93-97)