BAB I PEDAHULUAN
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi banyak pihak, diantaranya yaitu:
1. Bagi Investor
Sebagai masukan bagi investor untuk menggunakan faktor teknikal saham sebagai pertimbangan dalam melakukan investasi saham.
2. Bagi Peneliti Selanjutnya
Sebagai bahan refrensi bagi yang ingin melakukan penelitian lebih lanjut berkenaan dengan masalah ini.
3. Bagi Peneliti
Sebagai pengembangan dalam menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama masa studi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori 2.1.1 Analisis Teknikal
Menurut McDowell (2008), analisis teknikal merupakan suatu metode peramalan pergerakan harga saham berdasarkan pada studi terhadap harga saham historis, indeks saham individu dan volume. Perubahan harga saham cenderung bergerak pada satu arah tertentu (trend). Pola tertentu pada masa lampau akan terulang kembali pada masa yang akan datang. Analisis teknikal lebih memperhatikan pada apa yang terjadi di pasar, daripada apa yang seharusnya terjadi. Komarudin (1996), mengemukakan bahwa analisis teknikal adalah analisis sekuritas yang memusatkan perhatian pada harga saham, harga atau statistik pasar lainnya dalam menentukan pola yang mungkin dapat memprediksi dari gambaran yang telah di buat. Analisis teknikal menganggap bahwa saham adalah komoditas perdagangan yang pada gilirannya, permintaan dan penawarannya merupakan manifestasi kondisi psikologis dari pemodal.
Analisis teknikal mempunyai beberapa kekuatan dan kelemahan. Beberapa kekuatan yang dapat diidentifikasikan adalah (Susanto & Sabardi, 2010):
1. Analisis teknikal dapat digunakan secara luas hampir di semua pasar modal di seluruh dunia.
2. Grafik dapat digunakan untuk menganalisis dalam satuan waktu jam, hari, minggu, bulan bahkan tahun.
3. Banyak terdapat alat-alat analisis teknikal dan teknik-teknik yang tersedia
untuk digunakan sesuai kebutuhan di berbagai sektor pasar yang berbeda.
4. Prinsip dasar analisis teknikal mudah dipahami dan analisis teknikal lebih memperhatikan pada kejadian senyatanya di pasar.
5. Analisis teknikal dapat menggunakan data secara akurat dan setiap saat tersedia di RTI (Real Time Information) dan IMQ (Information Market Quote).
Menurut Kodrat & Indonanjaya (2010), secara aplikatif kelebihan analisis teknikal membantu untuk mengetahui seberapa besar kekuatan permintaan dan penawaran suatu saham melalui data harga pembukaan, tertinggi, terendah dan penutupan secara mudah. Para analis teknikal juga bisa menentukan saat yang tepat untuk masuk dan keluar dari pasar. Analisis teknikal membantu untuk memutuskan kapan saat yang tepat untuk membeli.
Beberapa kelemahan analisis teknikal adalah (Susanto & Sabardi, 2010):
1. Analisis teknikal menganggap bahwa sikap manusia adalah konstan sehingga pola kecenderungan akan selalu berulang. Bagaimanapun juga terdapat batasan bahwa masa yang akan datang merupakan cerminan masa lalu.
2. Analisis teknikal memperhatikan tingkat kemungkinan suatu kejadian akan terjadi, bukan kepastian dari kejadian tersebut.
3. Beberapa analisis terknikal modern berdasarkan pada konsep matematik dan statistik yang cukup kompleks sehingga menganalisis dengan perangkat lunak komputer sulit dihitung dan tidak mudah untuk memahami hasil keluarannya (output).
4. Untuk keberhasilan analisis teknikal, maka informasi yang dipakai harus akurat dan tepat waktu.
Sebelum belajar tentang teknik dan alat-alat spesifik, para analis teknikal harus menganalisis berbagai peluang investasi. Hal ini sangat penting untuk memahami beberapa prinsip yang mendasari analisis teknikal. Ada tiga prinsip kunci (Susanto & Sabardi, 2010) :
1. Segalanya didiskontokan dan digambarkan dalam harga-harga pasar.
2. Harga-harga bergerak dalam suatu kecenderungan yang terus berlangsung.
3. Kejadian pasar selalu berulang kembali.
Menurut McDowell (2008), analisis teknikal merupakan suatu metode peramalan pergerakan harga saham berdasarkan pada studi terhadap harga saham historis, indeks saham individu dan volume.
Analisis teknikal merupakan teknik untuk memprediksi pergerakan harga saham berdasarkan data pasar historis seperti informasi harga saham, volume penjualan saham, dan harga saham masa lalu. Analisis teknikal umumnya menggunakan dasar-dasar kombinasi harga saham, baik harga pembukaan, harga tertinggi dan harga terendah
2.1.2 Volume Perdagangan
Abbodante (2010) menyatakan bahwa volume perdagangan didefinisikan sebagai jumlah saham yang dibeli dan dijual setiap hari. Volume perdagangan merupakan indikator penting dalam analisis teknikal dan digunakan untuk mengukur kekuatan pergerakan harga saham baik naik maupun turun.
Menurut Susanto & Sabardi (2010), volume perdagangan saham merupakan rasio antara jumlah lembar saham yang diperdagangkan pada waktu tertentu terhadap jumlah saham yang beredar pada waktu tertentu. Secara historis
volume perdagangan saham mempunyai kaitan dengan harga pasar di bursa, dikarenakan volume perdagangan saham dianggap sebagai ukuran dari kekuatan atau kelemahan pasar sesuai dengan hukum penawaran dan permintaan.
McDowell (2008) mengemukakan bahwa menggunakan volume perdagangan bersama dengan harga memungkinkan investor mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di pasar modal. Kinerja suatu saham juga dapat dinilai dari volume perdagangannya, semakin sering suatu saham diperdagangkan menandakan saham tersebut aktif dan diminati investor (Koesoemasari, Setiawan, & Masita, 2014).
Menurut Pring (2002) terdapat beberapa prinsip dalam penafsiran volume perdagangan, yaitu:
1. Prinsip yang paling utama adalah bahwa volume perdagangan sejalan dengan trend. Aktifitas perdagangan akan meningkat pada saat pasar sedang uptrend dan aktifitas perdagangan akan menurun pada saat pasar sedang downtrend.
Hal ini berarti bahwa volume perdagangan dapat digunakan untuk memprediksi trend pasar saat ini.
2. Aktifitas pembeli dan penjual di pasar modal sangat mempengaruhi harga saham.
Misalnya jika seorang penjual bereaksi terhadap suatu berita buruk kemudian menjual sahamnya, maka hal ini akan mendorong harga saham turun.
3. Harga yang meningkat dan volume perdagangan yang menurun adalah kondisi tidak normal dan mengindikasikan bahwa trend yang terjadi tidak kuat dan akan mengalami perubahan. Aktifitas seperti ini biasanya merupakan trend menurun (bearish) dan merupakan salah satu hal yang harus diperhitungkan. Hal yang harus diperhitungkan adalah bahwa volume
perdagangan mengukur antusiasme pembeli dan penjual. Pasar yang sedang uptrend dengan volume perdagangan yang rendah dapat disebabkan oleh kurangnya para penjual dibandingkan dengan antusiasme pembeli. Cepat atau lambat hal ini akan mendorong pasar mencapai harga yang membuat penjual bersedia menjual saham.
4. Volume perdagangan merupakan cerminan intensitas minat beli dan tekanan dibalik pergerakan nilai harga yang terjadi. Volume saham juga dapat memprediksi keadaan pasar yang terjadi.
Berikut ini ditampilkan hubungan volume dalam analisis teknikal terhadap harga saham dan interpretasi pasar saham.
Tabel 2.1
Hubungan Analisis Teknikal dengan Volume
Harga Volume Interpretasi
Naik Naik Pasar sangat kuat
Naik Jatuh Pasar mulai lemah
Jatuh Naik Pasar sangat lemah
Jatuh Jatuh Pasar mulai menguat
Sumber : Pring (2002)
Menurut Suyawijaya (1998), perhitungan volume perdagangan dilakukan dengan membandingkan jumlah saham perusahaan yang diperdagangkan dalam suatu periode tertentu dengan keseluruhan jumlah saham beredar perusahaan tersebut pada kurun waktu yang sama. Rumus yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:
Keterangan:
VPit = Volume Perdagangan perusahaan i pada waktu t
2.1.3 Volume Bid
Interaksi antara permintaan dan penawaran akan menentukan keadaan keseimbangan pasar. Keseimbangan pasar akan menentukan tingkat harga yang berlaku di pasar dan kuantitas barang yang akan diperjualbelikan dan perlu di produksi. Keseimbangan pasar pada pasar modal ditentukan oleh banyaknya permintaan yang dapat dilihat dari jumlah permintaan lot saham (volume bid) dan banyaknya penawaran yang dapat diketahui dari jumlah lot yang ingin ditawarkan (volume ask) (Abidin, Suhadak, & Hidayat, 2016).
Menurut Kodrat & Indonanjaya (2010), bid adalah harga dimana pembeli bersedia membayar untuk suatu saham. Sedangkan volume bid adalah banyaknya jumlah lembar saham atas saham emiten tertentu yang investor bersedia untuk membelinya di pasar modal pada hari tertentu. Semakin besar volume bid maka saham cenderung akan mengalami kenaikan harga.
Menurut Syamsir (2008), penawaran untuk membeli suatu saham atau surat berharga lainnya disebut bid, sedangkan harga penawaran untuk membeli saham yang terbaik disebut best bid. Kemudian harga penawaran untuk melakukan penjualan disebut ask, sedangkan harga penawaran terbaik untuk melakukan penjualan disebut best ask.
Harga saham sangat ditentukan oleh keseimbangan antara supply dan demand, perubahan demand akan mempengaruhi keseimbangan pasar yang akan berdampak pada perubahan harga saham. Keseimbangan pasar dalam bursa ditentukan oleh pergerakan volume bid dan volume ask yang berubah secara cepat karena banyaknya investor (pembeli dan penjual) di bursa dan tingginya variasi
ekspektasi antara investor satu dengan yang lainnya.
Apabila suatu saham tengah dilingkupi oleh ekspektasi yang positif, maka harga keseimbangan yang baru akan lebih tinggi dibandingkan harga sebelumnya.
Sebaliknya, jika saham itu tengah dilingkupi oleh sentimen negatif, maka harga yang baru terbentuk akan berada dalam posisi yang lebih rendah dari harga sebelumnya.
Namun tentu terdapat pula faktor-faktor lain yang menentukan arah pergerakan harga, misalnya target keuntungan seorang investor, kebutuhan akan dana segar dalam waktu segera dan lainnya. Keragaman faktor inilah yang kemudian akan menentukan apakah kurva supply akan bergeser ke kanan, kiri, atau tetap sementara kurva demand tidak berubah atau sebaliknya, kurva demand bergeser ke kiri atau ke kanan sementara kurva supply tetap, atau kurva demand dan supply bergerak bersamaan dengan arah yang sama atau berbeda. Pergerakan-pergerakan menuju keseimbangan tersebut akan sangat dipengaruhi oleh sentimen pasar.
Apabila panic selling melanda para investor misalnya, maka demand terhadap sebuah saham akan bergeser ke kiri atas. Dengan kata lain, akan semakin sedikit jumlah uang yang tersedia untuk dibayarkan oleh pembeli atas suatu saham.
Sentimen panik itu juga akan melanda para penjual sehingga secara otomatis mereka akann berlomba-lomba melakukan cut loss yang kemudian menyebabkan kurva supply terdorong ke arah berlawanan atau arah kanan atas.
Akibat pergerakan demand dan supply dengan arah yang sangat berlawanan ini, maka tidak heran jika panic selling dapat ditandai oleh kehadiran volume transaksi yang meningkat di saat harga saham menurun sedemikian jauh.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan indikator dari Volume Bid
adalah dengan mengurangkan total volume perdagangan saham perusahaan dengan volume ask saham perusahaan. Dengan rumus:
Keterangan:
Vol Bid = jumlah permintaan lot saham
Vol Perdagangan = jumlah saham yang dibeli dan dijual Vol Ask = jumlah penawaran lot saham
2.1.4 Harga Saham Masa Lalu
Harga saham masa lalu digunakan untuk memperkirakan harga saham dengan mengamati perubahan harga di waktu yang lalu, yang dalam hal ini satu tahun sebelumnya. Perilaku harga saham masa lalu bisa direfleksikan dalam harga saham di masa yang akan datang (Syamsir, 2008). Data harga saham masa lalu menggunakan data closing price tahun sebelumnya pada periode tahun yang akan diestimasikan. Harga saham yang terjadi ditentukan oleh pola permintaan dan penawaran saham, perubahan pola permintaan dan penawaran saham akan mempengaruhi arah pembentukan harga. Pola pergerakan permintaan dan penawaran yang terjadi di waktu yang lampau akan terulang lagi di masa yang akan datang.
Mahalanie (2011) menyatakan bahwa berdasarkan pada mekanisme pembentukan harga, bila penawaran lebih besar daripada permintaan, maka umumnya harga saham akan turun. Sebaliknya, bila permintaan lebih besar dari penawaran, maka harga saham akan meningkat. Disisi lain analis teknikal percaya bahwa gerakan saham akan mengikuti trend, baik menurun,
meningkat, maupun mendatar.
Pada saat pergerakan saham mencapai titik terendah dan mulai meningkat, bagi para analis teknikal merupakan indikator untuk melakukan tindakan membeli saham. Trend berikutnya pada saat pergerakan harga saham mendatar, para analis teknikal bisa saja menjual sahamnya, tetapi di satu sisi mereka berharap akan terjadi trend peningkatan sehingga mereka memilih untuk menahan sahamnya dan tidak segera menjual.
Tetapi jika trend yang mendatar diikuti dengan trend penurunan harga saham, maka situasi ini bagi para analis teknikal merupakan sinyal yang tepat untuk menjual sahamnya untuk menghindari kerugian yang lebih besar akibat harga saham yang terus mengalami penurunan. Para analis teknikal juga percaya bahwa data harga saham masa lalu sebagai indikator pergerakan harga saham di masa yang akan datang. Hal ini sesuai dengan pernyataan White (1992), yang mengemukakan bahwa perilaku harga saham masa lalu dapat digunakan untuk menentukan keputusan investasi perdagangan di pasar saham.
2.1.5 Harga Saham
Menurut Syahyunan (2015), saham (stock) adalah surat berharga yang menunjukkan kepemilikan seseorang atau badan terhadap suatu perusahaan. Jika seseorang membeli saham suatu perusahaan, berarti dia telah menyertakan modal ke dalam suatu perusahaan tersebut sebanyak jumlah saham yang dibeli.
Jogiyanto (2014) menyatakan bahwa harga saham adalah harga yang ditetapkan dari suatu saham pada saat pasar saham sedang berlangsung dengan mempertimbangkan permintaan dan penawaran dari saham yang dimaksud.
Saham sendiri diartikan bentuk kepemilikan suatu aset atau instrumen dari perusahaan yang biasanya sering disebut efek (Paramita & Yulianto, 2014).
Investor memerlukan informasi yang berkaitan dengan pembentukan harga saham dalam mengambil keputusan untuk menjual atau membeli. Informasi yang diharapkan mampu mengurangi ketidakpastian yang terjadi sehingga keputusan yang diambil diharapkan dapat sesuai dengan tujuan yang dicapai, yaitu keuntungan maksimal dengan tingkat risiko tertentu. Bila harga saham tersebut dinilai terlalu tinggi oleh pasar, maka jumlah permintaannya akan berkurang.
Sebaliknya bila pasar menilai bahwa harga saham tersebut terlalu rendah, jumlah permintaannya akan meningkat. Tingginya harga saham akan mempengaruhi kemampuan investor untuk membeli saham tersebut. Hukum permintaan dan penawaran kembali berlaku dan sebagai konsekuensinya harga saham yang tinggi tersebut akan menurun sampai tercipta posisi keseimbangan yang baru.
Pergerakan harga suatu saham dalam jangka pendek tidak dapat diprediksi secara pasti. Semakin banyak orang yang ingin membeli saham, maka harga saham tersebut cenderung mengalami kenaikan. Sebaliknya semakin banyak orang yang ingin menjual, maka harga saham tersebut akan cenderung mengalami penurunan. Menurut Jogiyanto (2003), di dalam harga saham terdapat nilai masing-masing, yaitu:
1. Nilai Nominal
Nilai kewajiban yang ditetapkan untuk tiap-tiap lembar saham. Kepentingan dari nilai nominal adalah untuk kaitannya dengan hukum. Nilai nominal ini merupakan modal per lembar yang secara hukum harus ditahan di perusahaan
untuk proteksi kepada kreditor yang tidak dapat diambil oleh pemegang saham. Kadangkala suatu saham tidak memiliki nilai nominal (no-par value stock). Untuk saham yang tidak mempunyyai nilai nominal, dewan direksi umumnya menetapkan nilai sendiri (stated value) perlembarnya. Jika tidak ada nilai yang ditetapkan, maka yang dianggap sebagai modal secara hukum adalah semua penerimaan bersih (proceed) yang diterima oleh emiten pada waktu mengeluarkan saham bersangkutan.
2. Nilai Buku
Menunjukkan aktiva bersih (net assets) yang dimiliki oleh pemegang saham dengan memiliki satu lembar saham. Karena aktiva bersih adalah sama dengan total ekuitas pemegang saham, maka nilai buku per lembar saham adalah total ekuitas dibagi dengan jumlah saham yang beredar. Jika perusahaan mempunyai dua macam kelas saham, yaitu saham preferen dan saham biasa, maka perhitungan nilai buku per lembar untuk masing-masing kelas ini lebih rumit dibandingkan jika hanya mempunyai saham biasa saja.
3. Nilai Pasar
Harga saham yang terjadi di pasar bursa pada saat tertentu yang ditentukan oleh pelaku pasar. Nilai pasar ini ditentukan oleh permintaan dan penawaran saham bersangkutan di pasar bursa.
4. Nilai Intrinsik
Nilai seharusnya dari suatu saham disebut dengan nilai fundamental (fundamental value) atau nilai intrinsik (intrinsic value). Terdapat dua macam analisis yang banyak digunakan untuk menentukan nilai sebenarnya dari
saham adalah analisis sekuritas fundamental (fundamental security analysis) atau analisis perusahaan (company analysis) dan analisis teknis (technical analysis). Analisis fundamental menggunakan data fundamental, yaitu data yang berasal dari keuangan perusahaan (misalnya laba, dividen yang dibayar, penjualan dan lain sebagainya), sedangkan analisis teknis menggunakan data pasar dari saham (misalnya harga dan volume transaksi saham) untuk menentukan nilai dari saham. Untuk analisis fundamental, ada dua pendekatan untuk menghitung nilai intrinsik saham, yaitu dengan pendekatan nilai sekarang (present value approach) dan pendekatan PER (P/E ratio approach). Pendekatan nilai sekarang juga disebut metode kapitalisasi laba karena melibatkan proses kapitalisasi nilai-nilai masa depan yang didiskontokan menjadi nilai sekarang. Sedangkan pendekatan PER merupakan rasio yang menunjukkan berapa besar investor menilai harga dari saham terhadap kelipatan dari earnings.
Dalam perdagangan saham, dikenal beberapa istilah yang berkaitan dengan harga saham. Menurut Darmadji & Fakhruddin (2006), istilah tersebut:
1. Previous Price
Menunjukkan harga pada saat penutupan pada hari sebelumnya.
2. Opening Price (pembukaan)
Menunjukkan harga saham saat pembukaan sesi I perdagangan pada jam 09.30 WIB.
3. Highest Price (tertinggi)
Menunjukkan harga tertinggi atas suatu saham yang terjadi sepanjang
perdagangan pada hari tersebut.
4. Lowest Price (terendah)
Menunjukkan harga terendah atas suatu saham yang terjadi sepanjang perdagangan pada hari tersebut.
5. Last Price
Menunjukkan harga terakhir yang terjadi atas suatu saham.
6. Change
Menunjukkan selisih antar harga saham pembukaan dengan harga saham terakhir yang terjadi.
7. Closing Price (penutupan)
Menunjukkan harga saham pada saat penutupan sesi II perdagangan jam 16.00 WIB.
2.2 Penelitian Terdahulu
Penelitian yang digunakan sebagai referensi dalam penelitian ini, yaitu:
Tabel 2.2
Lanjutan Tabel 2.1
Lanjutan Tabel 2.1
Lanjutan Tabel 2.1
Lanjutan Tabel 2.1
Lanjutan Tabel 2.1
2.3 Kerangka Konseptual
Menurut Kuncoro (2013), kerangka konseptual adalah variabel-variabel penelitian tentang bagaimana pertautan teori-teori yang berhubungan dengan variabel-variabel yang ingin diteliti, yaitu variabel bebas dan variabel terikat.
Berikut ini uraian konsep variabel-variabel independen yang mempengaruhi variabel dependen dalam penelitian ini:
1. Pengaruh Volume Perdagangan terhadap Harga Saham
Menurut Abbodante (2010), bahwa volume perdagangan merupakan banyaknya lembar saham yang diperdagangkan. Volume perdagangan saham dapat diartikan sebagai banyaknya lembar saham dari suatu emiten atau perusahaan yang diperjual-belikan di pasar modal setiap harinya dengan tingkat harga yang telah disepakati oleh pihak penjual dan pembeli saham melalui broker (perantara) perdagangan saham. Susanto & Sabardi (2010), menyatakan bahwa secara historis volume perdagangan saham mempunyai
kaitan dengan harga pasar di bursa, dikarenakan volume perdagangan saham dianggap sebagai ukuran dari kekuatan atau kelemahan pasar sesuai dengan hukum penawaran dan permintaan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Abidin, Suhadak & Hidayat (2016), menunjukkan bahwa volume perdagangan berpengaruh signifikan terhadap harga saham, adapun penelitian yang dilakukan oleh Wulandari (2009) menyatakan hal yang sama. Namun penelitian yang diakukan oleh Santoso & Muazaroh (2018), menunjukkan bahwa volume perdagangan saham berpengaruh tidak signifikan terhadap harga saham.
2. Pengaruh Volume Bid terhadap Harga Saham
Menurut Syamsir (2008), penawaran untuk membeli suatu saham atau surat berharga lainnya disebut bid, sedangkan harga penawaran untuk membeli saham yang terbaik disebut best bid. Kemudian harga penawaran untuk melakukan penjualan disebut ask, sedangkan harga penawaran terbaik untuk melakukan penjualan disebut best ask. Volume bid menunjukkan banyaknya jumlah lembar saham yang diminta dan ingin dibeli oleh investor pada periode waktu tertentu. Semakin besar volume bid maka harga saham cenderung mengalami kenaikan. Harga saham sangat ditentukan oleh keseimbangan antara supply dan demand, perubahan demand akan mempengaruhi keseimbangan pasar yang akan berdampak pada perubahan harga saham. Keseimbangan pasar dalam bursa ditentukan oleh pergerakan volume bid dan volume ask yang berubah secara cepat karena banyaknya investor (pembeli dan penjual) di bursa dan tingginya variasi ekspektasi
antara investor satu dengan yang lainnya. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dewi & Kartika (2015), menyatakan bahwa volume bid berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Namun penelitian yang dilakukan oleh Abidin, Suhadak & Hidayat (2016), menunjukkan bahwa volume bid berpengaruh tidak signifikan terhadap harga saham.
3. Pengaruh Harga Saham Masa Lalu terhadap Harga Saham
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Santoso & Muazaroh (2018), mengemukakan bahwa harga saham masa lalu berpengaruh terhadap harga saham perusahaan karena harga saham masa lalu dapat digunakan oleh para spekulator untuk memprediksi harga saham perusahaan kedepan. Hal ini juga disebabkan oleh trend fluktuasi harga saham cenderung berulang setelah mencapai titik keseimbangan tertentu, dan berdasarkan konsep teori momentum ketika pendorong laju trend telah kehilangan pengaruhnya maka harga tidak langsung berbalik, mungkin akan terus berada pada trend naik tapi berada pada momentum yang lemah dan selanjutnya akan turun. Menurut hasil penelitian Mahalanie (2011) dan Simbolon (2016) menunjukkan bahwa harga saham masa lalu berpengaruh signifikan terhadap harga saham, namun hasil penelitian Wulandari (2009), menjukkan bahwa harga saham masa lalu berpengaruh tidak signifikan terhadap harga saham.
Berdasarkan landasan teori dan hasil penelitian sebelumnya serta permasalahan yang dikemukakan, maka sebagai acuan untuk merumuskan hipotesis, berikut disajikan kerangka konseptual pada gambar berikut ini:
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
2.4 Hipotesis
Hipotesis diasumsikan sebagai dugaan sementara atau penjelasan sementara yang belum bisa dibuktikan sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menguji apakah dugaan tersebut benar atau salah. Berdasarkan identifikasi masalah, kajian teori dan hasil penelitian sebelumnya, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian adalah sebagai berikut:
1. Volume perdagangan, volume bid dan harga saham masa lalu secara simultan berpengaruh signifikan terhadap harga saham industri makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2014-2018.
2. Volume perdagangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham industri makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2014-2018.
3. Volume bid berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham industri makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2014-2018.
3. Volume bid berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham industri makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2014-2018.