• Tidak ada hasil yang ditemukan

JORDAN DWIOKTO SARAGIH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JORDAN DWIOKTO SARAGIH"

Copied!
141
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PENGARUH VOLUME PERDAGANGAN, VOLUME BID DAN HARGA SAHAM MASA LALU TERHADAP HARGA SAHAM

PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI MAKANAN DAN MINUMAN YANG TERDAFTAR

DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2014-2018

OLEH

JORDAN DWIOKTO SARAGIH 170521070

PROGRAM STUDI STRATA-1 MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2021

(2)
(3)
(4)
(5)

ABSTRAK

ANALISIS PENGARUH VOLUME PERDAGANGAN, VOLUME BID DAN HARGA SAHAM MASA LALU TERHADAP HARGA SAHAM

PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI MAKANAN DAN MINUMAN YANG TERDAFTAR

DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2014-2018

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Volume Perdagangan, Volume Bid, dan Harga Saham Masa Lalu terhadap Harga Saham pada perusahaan sektor industri Makanan dan Minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian asosiatif kausal dan jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif. Data yang digunakan diperoleh dari laporan historis perusahaan yang telah diaudit pada Bursa Efek Indonesia selama periode penelitian. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan regresi linier berganda data panel. Populasi dari penelitian ini adalah perusahaan- perusahaan sektor Makanan dan Minuman periode 2014-2018, yang berjumlah 26 perusahaan. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 18 perusahaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Volume Perdagangan secara parsial berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Harga Saham, Volume Bid secara parsial berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Harga Saham, Harga Saham Masa Lalu secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap Harga Saham. Volume Perdagangan, Volume Bid dan Harga Saham Masa Lalu secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham.

Kata Kunci: Volume Perdagangan, Volume Bid, Harga Saham Masa Lalu, dan Harga Saham

(6)

ABSTRACT

ANALYSIS OF THE EFFECT OF TRADE VOLUME, BID VOLUME, AND PAST STOCK PRICES ON STOCK PRICES OF FOOD AND

BEVERAGE INDUSTRY SECTOR LISTED ON THE INDONESIA STOCK EXCHANGE

PERIOD 2014-2018

This study aims to determine the effect of Trade Volume, Bid Volume and Past Stock Prices on Stock Prices in Food and Beverage industry sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange. This research is a causal associative research and the type of data used is quantitative data. The data used are obtained from historical reports of companies that have been audited on the Indonesia Stock Exchange during the study period. The analysis method used is descriptive analysis and multiple linear regression of panel data. The population of this study were companies in the Food and Beverage sector for the 2014-2018 period, totaling 26 companies. The sample in this study amounted to 18 companies. The results of this study indicate that Trading Volume partially has a negative and insignificant effect on Stock Prices, Bid Volume partially has a negative and significant effect on Stock Prices, Past Stock Prices partially have a positive and significant effect on Stock Prices. Trade Volume, Bid Volume and Past Stock Prices simultaneously have a significant effect on Stock Prices.

Keywords: Trade Volume, Bid Volume, Past Stock Prices, Stock Prices.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas berkat dan kasih yang diberikanNya sehingga peneliti mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul

“Analisis Pengaruh Volume Perdagangan, Volume Bid dan Harga Saham Masa Lalu terhadap Harga Saham Perusahaan Sektor Industri Makanan dan Minuman yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2014-2018”

guna memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

Peneliti mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada kedua orang tua, Bapak Robin Saragih dan Ibu Emmy Herlina Siregar yang selalu mendukung dalam doa, telah memberikan semangat dan motivasi sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi dan studi. Peneliti menyadari bahwa penulisan skripsi ini telah banyak mendapat bantuan dan dukungan baik secara moril maupun materil. Maka pada kesempatan ini, peneliti menyampaikan rasa terimakasih yang setulusnya kepada :

1. Bapak Dr. Fadli, SE, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Amlys Syahputra Silalahi, SE, M.Si, dan Bapak Doli Muhammad Ja’far Dalimunthe, SE, M.Si, selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Dr. Syahyunan, M.Si, selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan arahan, bimbingan dan motivasi kepada peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.

(8)

4. Ibu Beby Kendida Hasibuan, SE, M.Si, selaku Dosen Penguji I dan Ibu Dr.

Nisrul Irawati, MBA, selaku Dosen Penguji II yang telah memberikan saran dan masukan untuk kesempurnaan skripsi ini.

5. Bapak dan Ibu Dosen, staf serta pegawai Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

6. Teristimewa peneliti ucapkan terimakasih kepada kakak saya Ruth Saragih dan adik saya Ebenezer Saragih yang senantiasa mendoakan dan mendukung peneliti dalam penyelesaian skripsi.

7. Kepada teman-teman seperjuangan di kampus yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah banyak memberikan saran, motivasi dan dukungan kepada peneliti selama mengerjakan skripsi.

Semoga Tuhan Yesus memberikan balasan atas kebaikan yang telah diberikan kepada peneliti. Peneliti menyadari sepenuhnya skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik yang bersifat membangun sangat diharapkan demi kesempurnaan skripsi ini.

Medan, Februari 2021 Peneliti

Jordan Dwiokto Saragih 170521070

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

BAB I PEDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 14

1.3 Tujuan Penelitian ... 15

1.4 Manfaat Penelitian ... 15

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 17

2.1 Landasan Teori ... 17

2.1.1 Analisis Teknikal ... 17

2.1.2 Volume Perdagangan ... 19

2.1.3 Volume Bid ... 22

2.1.4 Harga Saham Masa Lalu ... 24

2.1.5 Harga Saham ... 25

2.2 Penelitian Terdahulu ... 29

2.3 Kerangka Konseptual ... 34

2.4 Hipotesis ... 37

BAB III METODE PENELITIAN ... 39

3.1 Jenis Penelitian ... 39

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 39

3.3 Batasan Operasional ... 39

3.4 Definisi Operasional Variabel ... 40

3.5 Populasi dan Sampel ... 42

3.5.1 Populasi ... 42

3.5.2 Sampel ... 42

3.6 Jenis dan Sumber Data ... 44

3.7 Metode Pengumpulan Data ... 44

3.8 Teknik Analisis Data ... 45

3.8.1 Statistik Deskriptif ... 45

3.8.2 Regresi Linier Berganda Data Panel ... 45

3.8.3 Pemilihan Model Regresi Linier Data Panel .. 48

3.9 Uji Asumsi Klasik ... 50

3.9.1 Uji Normalitas ... 50

3.9.2 Uji Multikolinieritas ... 51

3.9.3 Uji Heteroskedastisitas ... 51

3.9.4 Uji Autokorelasi ... 52

(10)

3.10 Uji Hipotesis ... 54

3.10.1 Uji Simultan (Uji F) ... 54

3.10.2 Uji Parsial (Uji t) ... 55

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 57

4.1 Gambaran Umum Perusahaan ... 57

4.2 Analisis Statistik Deskriptif ... 63

4.3 Regresi Linier Berganda Data Panel ... 65

4.3.1 Common Effect Model ... 67

4.3.2 Fixed Effect Model ... 68

4.3.3 Random Effect Model ... 70

4.4 Pemilihan Model Regresi Linier Data Panel ... 71

4.4.1 Uji Chow ... 71

4.4.2 Uji Hausman ... 71

4.5 Model Regresi Linier Data Panel Terpilih ... 72

4.6 Uji Hipotesis ... 73

4.6.1 Uji Simultan (Uji F) ... 73

4.6.2 Uji Parsial (Uji t) ... 74

4.7 Pembahasan ... 76

4.7.1 Analisis Pengaruh Volume Perdagangan terhadap Harga Saham ... 76

4.7.2 Analisis Pengaruh Volume Bid terhadap Harga Saham ... 81

4.7.3 Analisis Pengaruh Harga Saham Masa Lalu terhadap Harga Saham ... 85

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 87

5.1 Kesimpulan ... 87

5.2 Saran ... 87

DAFTAR PUSTAKA ... 89

DAFTAR LAMPIRAN ... 93

(11)

DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Halaman

2.1 Hubungan Analisis Teknikal dengan Volume ... 21

2.2 Penelitian Terdahulu ... 29

3.1 Definisi Operasional Variabel ... 41

3.2 Kriteria Pengambilan Sampel ... 43

3.3 Sampel Perusahaan Sub Sektor Makanan dan Minuman Tahun 2014-2018 ... 43

3.4 Durbin-Watson Test ... 53

4.1 Statistik Deskriptif Variabel Penelitian ... 64

4.2 Hasil Uji Regresi Linier Berganda Data Panel ... 66

4.3 Common Effect Model ... 68

4.4 Fixed Effect Model ... 69

4.5 Random Effect Model ... 70

4.6 Uji Chow ... 71

4.7 Uji Hausman ... 72

4.8 Fixed Effect Model GLS ... 73

4.9 Uji t ... 74

(12)

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Judul Halaman

1.1 Harga Saham Sektor Industri Makanan dan Minuman di Bursa

Efek Indonesia tahun 2014-2018 ... 6 1.2 Volume Perdagangan Sektor Industri Makanan dan Minuman

di Bursa Efek Indonesia tahun 2014-2018 ... 7 1.3 Volume Bid Sektor Industri Makanan dan Minuman

di Bursa Efek Indonesia tahun 2014-2018 ... 9 1.4 Harga Saham Masa Lalu Sektor Industri Makanan

dan Minuman di Bursa Efek Indonesia tahun 2014-2018 ... 12 9

2.1 Kerangka Konseptual ... 37

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran Judul Halaman

1 Data Harga Saham, Volume Perdagangan, Volume Bid

dan Harga Saham Masa Lalu ... 93

2 Daftar Populasi Sub Sektor Makanan dan Minuman di Bursa Efek Indonesia ... 121

3 Statistik Deskriptif Variabel Penelitian ... 123

4 Hasil Uji Regresi Linier Berganda Data Panel ... 124

5 Common Effect Model ... 125

6 Fixed Effect Model ... 126

7 Random Effect Model ... 127

8 Uji Chow ... 128

9 Uji Hausman ... 128

10 Fixed Effect Model GLS ... 129

(14)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dunia bisnis merupakan dunia yang paling ramai dibicarakan di berbagai forum, baik yang bersifat nasional maupun internasional. Salah satu tolok ukur kemajuan suatu negara adalah dari kemajuan ekonominya dan tulang punggung dari kemajuan ekonomi adalah dunia bisnis. Di Indonesia perusahaan yang bergerak dalam dunia bisnis terdiri dari beragam perusahaan dan bergerak dalam berbagai bidang usaha, mulai dari usaha perdagangan, industri, pertanian, manufaktur, peternakan, perumahan, keuangan, dan usaha lainnya.

Industri manufaktur Indonesia sudah mengalami perkembangan yang cepat dan memberikan kontribusi yang tinggi jika dibandingkan dengan industri pada sektor lain. Pada tahun 2019 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri manufaktur merupakan sumber pertumbuhan tertinggi pada perekonomian nasional yaitu sebesar 0,74 persen. Kontribusi ini mengungguli sektor lainnya seperti, pertanian (0,71 persen), perdagangan (0,61 persen) dan konstruksi (0,55 persen) (Kemenperin.go.id, 2019).

Berbagai sektor manufaktur Indonesia juga dikembangkan di negara lain, seperti Filipina dan Vietnam. Hal ini tentunya akan mendorong pertumbuhan ekonomi secara nasional dan meningkatkan daya saing secara domestik, regional dan global. Perbedaan lain yang dimiliki oleh perekonomian Indonesia adalah kekuatannya pada pasar dalam negeri dengan persentase sebesar 80 persen dan sisanya merupakan pasar ekspor. Lain halnya dengan Singapura dan Vietnam yang

(15)

sistem perekonomiannya sebagian besar berorientasi pada kegiatan ekspor. Perlu diketahui bahwa nilai MVA (Manufacturing Value Added) untuk industri manufaktur Indonesia berada di posisi paling atas di antara negara ASEAN dengan pencapaian sebesar 4,5 persen. Sedangkan secara global, manufaktur Indonesia berada di peringkat ke sembilan dari seluruh negara di dunia (Republika.co.id, 2018).

Industri manufaktur sendiri terbagi dalam tiga sektor, diantaranya: sektor aneka industri, industri barang konsumsi dan industri dasar dan kimia. Pada penelitian ini, peneliti memilih perusahaan sektor industri barang konsumsi sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2014- 2018. Alasan peneliti memilih sub sektor makanan dan minuman, yaitu: karena makanan dan minuman merupakan kebutuhan primer manusia, jumlah penduduk Indonesia yang besar sehingga daya beli masyarakat akan bahan makanan dan minuman juga besar dan sektor makanan dan minuman berkontribusi sangat tinggi bagi perkembangan industri di Indonesia, sehingga industri makanan dan minuman ini akan tetap tumbuh.

Besarnya jumlah penduduk dan tingkat konsumsi masyarakat menjadikan Indonesia di kenal dunia sebagai target pasar potensial. Berbagai macam produk laku laris manis dijual di Indonesia. Mulai dari otomotif, elektronik, gaya hidup dan juga barang konsumtif lainnya. Ini menunjukkan bahwa perusahaan manufaktur di Indonesia merupakan pasar yang menarik untuk berinvestasi dan salah satu sektor manufaktur terbesar di Indonesia adalah industri makanan dan minuman (Arifannisa & Nugraha, 2017).

Perusahaan makanan dan minuman menjadi salah satu industri yang

(16)

memiliki prospek menjanjikan. Makanan dan minuman menjadi kebutuhan pokok dan konsumsi sehari-hari bagi masyarakat Indonesia, sehingga perusahaan ini akan tetap berkembang. Industri makanan dan minuman memiliki variasi produk yang beragam. Meningkatnya populasi masyarakat juga akan menyumbang kontribusi bagi perkembangan industri makanan dan minuman. Industri makanan dan minuman akan tetap tumbuh dan menjadi andalan di Indonesia. Trend nilai penjualan makanan dan minuman cukup menyita perhatian, hal ini dikarenakan jumlah penduduk yang besar serta meningkatnya daya beli masyarakat yang menjadi penggerak utama tumbuhnya industri ini (Mahalanie, 2011).

Pada tahun 2013, daya tahan sektor manufaktur terutama ditopang sektor industri barang konsumsi yang tumbuh sebesar 28 persen. Sepanjang tahun 2014, kinerja saham industri barang konsumsi masih ditopang oleh pendapatan domestik. Terlebih emiten industri barang konsumsi menawarkan produk-produk yang menjadi kebutuhan pokok sehari-hari masyarakat Indonesia. Menurut analisis Vibiz Research prospek saham-saham kinerja sektor industri barang konsumsi tahun 2015 diprediksi masih akan tumbuh moderat. Tetapi pada tahun 2015, harga saham sektor industri barang konsumsi turun menjadi -5,19 persen, melenceng dari analisis yang dilakukan oleh Vibiz Research di tahun 2014 (Arifannisa & Nugraha, 2017).

Sepanjang tahun 2018, industri makanan dan minuman mampu tumbuh sebesar 7,91 persen atau melampaui pertumbuhan ekonomi nasional di angka 5,17 persen. Bahkan, pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang di triwulan IV tahun 2018 naik sebesar 3,9 persen terhadap triwulan IV tahun 2017,

(17)

salah satunya disebabkan oleh meningkatnya produksi industri makanan dan minuman yang mencapai 23,44 persen. Produk makanan dan minuman Indonesia telah dikenal memiliki daya saing di kancah global melalui keragaman jenisnya.

Ini ditandai dengan capaian nilai ekspornya sebesar 29,91 dolar Amerika pada tahun 2018 (Kemenperin.go.id, 2019).

Di tahun 2019 industri makanan dan minuman menunjukkan daya saingnya dengan pembuktian pencapaian sektor ekspor yang menjadi prioritas, dengan menyentuh angka 20 miliar dolar Amerika hingga september 2019 (Liputan6.com, 2019).

Dalam penelitian ini, peneliti memfokuskan untuk meneliti harga saham industri makanan dan minuman. Untuk menganalisis harga saham, para investor umumnya menggunakan analisis fundamental dan analisis teknikal. Analisis fundamental adalah analisis yang berdasarkan pada kinerja keuangan suatu perusahaan. Para investor yang menggunakan metode analisis fundamental ini akan membandingkan rasio-rasio keuangan dari beberapa perusahaan dalam sektor bisnis yang sama.

Sementara analisis teknikal adalah metode yang melihat pergerakan harga saham pada waktu yang lalu, melalui permintaan dan penawaran saham tertentu atau pasar secara keseluruhan. Analisis teknikal kontras dengan analisis fundamental yang diyakini oleh beberapa analis mampu mempengaruhi harga dalam pasar keuangan. Para analis teknikal meyakini bahwa harga saham tersebut sudah mencerminkan pengaruh ekonomi sebelum para investor menyadarinya.

Beberapa investor menggunakan salah satu dari metode teknikal atau

(18)

metode fundamental secara eksklusif, namun ada juga yang menggabungkan kedua metode ini dalam melakukan analisis harga saham.

Saat ini banyak para analis yang menggunakan metode teknikal untuk mengetahui pergerakan harga saham, karena analisis teknikal memberikan beberapa kemudahan dibandingkan dengan menggunakan analisis fundamental, yaitu tidak tergantung pada data-data laporan keuangan yang sangat memerlukan ketepatan dan waktu analisis yang lebih lama dalam hal ini untuk membuat keputusan investasi.

Kelebihan lain dari analisis teknikal ini adalah analisa yang relatif cepat dan mudah, tidak melibatkan angka keuangan yang rumit dan memberikan sinyal pada saat yang tepat untuk melakukan investasi. Indikasi secara teknikal yang menunjukkan sinyal beli yang kuat, akan memungkinkan investor untuk memperoleh keuntungan (gain). Melalui analisis teknikal, investor dapat menentukan gerakan pola kecenderungan naik (uptred) atau pola kecenderungan menurun (downtrend) (Mahalanie, 2011).

Analisis teknikal merupakan teknik untuk memprediksi pergerakan harga saham berdasarkan data pasar historis seperti informasi harga saham, volume penjualan saham, dan harga saham masa lalu. Analisis teknikal umumnya menggunakan dasar-dasar kombinasi harga saham, baik harga pembukaan, harga tertinggi dan harga terendah.

(19)

Sumber : www.idx.co.id (data diolah)

Gambar 1.1

Harga Saham Sektor Industri Makanan

dan Minuman di Bursa Efek Indonesia Tahun 2014 – 2018

Dapat dilihat dari Gambar 1.1 harga saham pada lima emiten sektor industri makanan dan minuman lima tahun terakhir mengalami fluktuasi. Harga saham tertinggi ditunjukkan oleh MLBI (Multi Bintang Indonesia Tbk) tahun 2018, sementara harga saham terendah yang ditunjukkan oleh BUDI (Budi Strach

& Sweetener Tbk) tahun 2015.

Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi harga saham menurut Abidin, Suhadak & Hidayat (2016) dan Kodrat & Indonanjaya (2010) adalah volume perdagangan, volume bid dan harga saham masa lalu. Berdasarkan penelitian terdahulu tersebut, peneliti memilih ketiga faktor tersebut dan akan membuktikan bagaimana pengaruh ketiga faktor tersebut terhadap harga saham.

MLBI BUDI ALTO ROTI CEKA

2014 12.000 107 352 1375 1.500

2015 8.200 63 325 1.265 675

2016 11.750 87 330 1.600 1.350

2017 13.675 94 388 1.275 1.290

2018 16.000 96 400 1.200 1.375

0 2.000 4.000 6.000 8.000 10.000 12.000 14.000 16.000 18.000

2014 2015 2016 2017 2018

(20)

Sumber : www.idx.co.id (data diolah)

Gambar 1.2

Volume Perdagangan Sektor Industri Makanan dan Minuman di Bursa Efek Indonesia Tahun 2014 – 2018

Untuk memperjelas dan menganalisis adanya pengaruh faktor-faktor yang telah diuraikan, maka berikut ini adalah data empiris yang dapat disajikan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham.

Faktor pertama yang mempengaruhi harga saham adalah volume perdagangan. Menurut Tandelilin (2001), salah satu aspek yang digunakan dalam analisis teknikal saham untuk mengestimasi harga saham di masa yang akan datang adalah volume perdagangan saham. Volume perdagangan saham adalah jumlah saham yang diperdagangkan untuk satu periode (Kodrat & Indonanjaya, 2010). Pada Gambar 1.2 menunjukkan adanya perbedaan volume perdagangan dari lima emiten sektor industri makanan dan minuman dari tahun 2014-2018.

Volume perdagangan saham Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI)

MLBI BUDI ALTO ROTI CEKA

2014 1.100 124.700 514.100 228.500 1.300

2015 902 128.675 22.581 11.769 105

2016 7.000 466.344 3.153 35.318 5.856

2017 5.151 16.695 631.505 39.562 1.976

2018 2.451 239.568 16.887 180.832 473

0 100.000 200.000 300.000 400.000 500.000 600.000 700.000

2014 2015 2016 2017 2018

(21)

mengalami fluktusi dari tahun 2014–2018. Pada tahun 2014 volume perdagangan menurun sebanyak 200 lembar kemudian di tahun 2015 meningkat drastis sebanyak 72.100 lembar, selanjutnya berturut-turut menurun dari tahun 2017- 2018 masing-masing 4.500 dan 100 lembar. Volume perdagangan saham Budi Strach & Sweetener Tbk (BUDI) juga berfluktuasi dari tahun 2014-2018, di tahun 2014-2016 konsisten mengalami peningkatan yaitu bertambah sebanyak 16.900 lembar di tahun 2015 dan bertambah lagi sebanyak 178.100 lembar di tahun 2016.

Tetapi di tahun 2017 turun sebanyak 139.000 lembar dan kembali naik 415.000 lembar di tahun 2018.

Volume perdagangan Tri Banyan Tirta Tbk (ALTO) juga berfluktuasi, tahun 2014-2016 mengalami penurunan yang konsisten, yaitu masing-masing 491.519 lembar dan 19.428 lembar, sedangkan tahun 2016-2017 terjadi peningkatan yang signifikan sebanyak 628.352 lembar dan turun signifikan di tahun 2018 sebanyak 614.618 lembar. Pada emiten ROTI (Nippon Indosari Corpindo Tbk) volume perdagangan mengalami penurunan dan peningkatan dari tahun 2014-2018. Pada tahun 2014-2015 menurun sebanyak 216.731 lembar dan tahun 2015-2018 konsisten meningkat, tahun 2015-2016 sebanyak 23.549 lembar, 2016-2017 sebanyak 4.244 lembar, 2017-2018 sebanyak 141.270 lembar.

Sedangkan pada emiten Wilmar Cahaya Indonesia Tbk (CEKA) pada tahun 2014-2015 mengalami penurunan volume sebanyak 1.195 lembar, kemudian tahun 2015-2016 meningkat 3.880 lembar, tahun 2016-2018 berturut- turut menurun sebanyak 3.880 dan 1.503 lembar. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan adanya perbedaan penelitian. Berdasarkan penelitian yang

(22)

dilakukan oleh Mahalanie (2011), menyatakan bahwa volume perdagangan saham berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap harga saham. Selain itu ada juga penelitian yang dilakukan oleh Santoso & Muazaroh (2018), yang menyatakan bahwa volume perdagangan saham berpengaruh positif tidak signifikan terhadap harga saham.

Sumber : www.idx.co.id (data diolah)

Gambar 1.3

Volume Bid Sektor Industri Makanan

dan Minuman di Bursa Efek Indonesia Tahun 2014 – 2018

Faktor selanjutnya yang mempengaruhi harga saham adalah volume bid.

Volume bid merupakan banyaknya jumlah lembar saham atas saham emiten tertentu yang investor bersedia untuk membelinya di pasar modal pada hari tertentu. Volume bid digunakan untuk melihat berapa banyak jumlah lembar saham yang ditawarkan untuk dibeli dalam bursa saham (Kodrat & Indonanjaya,

MLBI BUDI ALTO ROTI CEKA

2014 300 16.200 25.000 70.000 300

2015 100 33.100 200 48.100 1.000

2016 72.200 211.200 700 300 12.100

2017 4.500 72.200 1.000 100.000 4.800

2018 100 487.200 10.000 10.100 900

0 100000 200000 300000 400000 500000 600000

2014 2015 2016 2017 2018

(23)

2010). Pada Gambar 1.3 menunjukkan adanya perbedaan volume bid dari lima emiten sektor industri makanan dan minuman dari tahun 2014-2018.

Volume bid saham emiten Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI) mengalami fluktuasi dari tahun 2014–2018. Pada tahun 2014-2015 mengalami penurunan sebanyak 200 lembar, di tahun 2015-2016 meningkat signifikan sebanyak 72.100 lembar. Pada tahun 2016-2018 mengalami penurunan berturut-turut, masing-masing di tahun 2016-2017 turun sebanyak 67.700 lembar dan tahun 2017-2018 turun sebanyak 4.400 lembar. Sedangakan volume bid saham Budi Strach & Sweetener Tbk (BUDI) juga mengalami fluktuasi dari tahun 2014-2018. Pada tahun 2014-2015 volume bid mengalami peningkatan sebanyak 16.900 lembar. Pada tahun 2015-2016 mengalami peningkatan yang cukup signifikan yaitu sebanyak 178.100 lembar, sedangkan pada tahun 2016-2017 justru mengalami penurunan volume bid sebanyak 139.000 lembar. Pada tahun 2017-2018 kembali mengalami peningkatan signifikan sebanyak 415.000 lembar.

Volume bid saham Tri Banyan Tirta Tbk (ALTO) dari tahun 2014-2018 juga mengalami fluktuasi. Pada tahun 2014-2015 volume bid mengalami penurunan yang cukup drastis yaitu sebanyak 24.800 lembar. Pada tahun 2015- 2016 mengalam peningkatan yang tidak besar, hanya sebanyak 500 lembar saja.

Pada tahun 2016-2017 meningkat lagi sebanyak 300 lembar. Pada tahun 2017- 2018 mengalami peningkatan sebanyak 9.000 lembar. Sedangkan volume bid saham Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) tahun 2014-2018 juga mengalami fluktuasi. Pada tahun 2014-2015 volume bid mengalami penurunan sebanyak

(24)

21.900 lembar. Pada tahun 2015-2016 kembali turun sebanyak 47.800 lembar, sedangkan pada tahun 2016-2017 volume bid saham ROTI mengalami peningkatan cukup tajam, yaitu sebanyak 99.700 lembar. Pada tahun 2017-2018 mengalami penurunan sebanyak 89.900 lembar.

Pada emiten Wilmar Cahaya Indonesia Tbk (CEKA) volume bid saham mengalami fluktuasi dari tahun 2014-2018. Pada tahun 2014-2015 volume bid mengalami peningkatan sebanyak 700 lembar, sedangkan pada tahun 2015-2016 mengalami peningkatan kembali, yaitu sebanyak 11.100 lembar. Pada tahun 2016- 2017 mengalami penurunan sebanyak 7.300 lembar. Kembali turun pada tahun 2017-2018 sebanyak 3.900 lembar.

Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan adanya perbedaan penelitian.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Abidin, Suhadak & Hidayat (2016), menyatakan bahwa volume bid berpengaruh positif tidak signifikan terhadap harga saham. Namun hasil penelitian tersebut berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Dewi & Kartika (2015), menyatakan bahwa volume bid berpengaruh negatif signifikan terhadap harga saham.

Faktor selanjutnya yang mempengaruhi harga saham adalah harga saham masa lalu. Menurut Tandelilin (2001), harga saham masa lalu merupakan informasi yang digunakan oleh para investor teknikal untuk mengetimasi harga saham di masa datang. Harga saham masa lalu juga merupakan upaya untuk memperkirakan harga saham dengan mengamati perubahan harga saham di waktu yang lalu, yang dalam hal ini satu tahun sebelumnya (Wulandari, 2009).

(25)

Sumber : www.idx.co.id (data diolah)

Gambar 1.4

Harga Saham Masa Lalu Sektor Industri Makanan dan Minuman di Bursa Efek Indonesia Tahun 2013 – 2017

Pada Gambar 1.4 menunjukkan adanya perbedaan harga saham masa lalu dari lima emiten sektor industri makanan dan minuman dari tahun 2013-2017. Harga saham masa lalu emiten Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI) mengalami fluktuasi dari tahun 2013-2017. Pada tahun 2013-2014 harga saham masa lalu MLBI tidak mengalami perubahan. Sedangan pada tahun 2014-2015 mengalami penurunan sebesar Rp 3.800, sedangkan di tahun 2015-2016 mengalami peningkatan sebesar Rp 3.550. Pada tahun 2016-2017 meningkat kembali sebesar Rp 1.925.

Harga saham masa lalu emiten Budi Strach & Sweetener Tbk (BUDI) mengalami fluktuasi dari tahun 2013-2017. Pada tahun 2013-2014 mengalami penurunan tipis, hanya sebesar Rp 2. Pada tahun 2014-2015 mengalami penurunan kembali sebesar Rp 44. Pada tahun 2015-2016 mengalami peningkatan

MLBI BUDI ALTO ROTI CEKA

2013 12.000 109 570 1.020 580

2014 12.000 107 352 1.375 1.500

2015 8.200 63 325 1.265 675

2016 11.750 87 330 1.600 1.350

2017 13.675 94 388 1.275 1.290

0 2.000 4.000 6.000 8.000 10.000 12.000 14.000 16.000

2013 2014 2015 2016 2017

(26)

sebesar Rp 24 dan pada tahun 2016-2017 mengalami peningkatan sebesar Rp 7.

Harga saham masa lalu emiten Tri Banyan Tirta Tbk (ALTO) pada tahun 2013- 2017 juga mengalami fluktuasi. Pada tahun 2013-2015 berturut-turut mengalami penurunan masing-masing sebesar Rp 218 dan Rp 27. Sedangkan pada tahun 2015-2016 meningkat tipis, yaitu hanya sebesar Rp 5. Pada tahun 2016-2017 kembali meningkat sebesar Rp 58.

Harga saham masa lalu emiten Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) mengalami fluktuasi dari tahun 2013-2017. Pada tahun 2013-2014 mengalami peningkatan sebesar Rp 355. Sedangkan pada tahun 2014-2015 harga saham masa lalu justru mengalami penurunan sebesar Rp 110. Pada tahun 2015-2016 mengalami peningkatan sebesar Rp 335. Pada tahun 2016-2017 harga saham masa lalu ROTI mengalami penurunan sebesar Rp 325. Untuk harga saham masa lalu emiten Wilmar Cahaya Indonesia Tbk (CEKA) juga berfluktuasi dari tahun 2013-2017. Pada tahun 2013-2014 mengalami peningkatan sebesar Rp 920, sedangkan pada tahun 2014- 2015 mengalami penurunan harga saham masa lalu sebesar Rp 825. Pada tahun 2015- 2016 mengalami peningkatan sebesar Rp 675 dan pada tahun 2016-2017 harga saham masa lalu CEKA mengalami penurunan sebesar Rp 60.

Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan adanya ketidakkonsistenan penelitian. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hidayat (2003), menyatakan bahwa harga saham masa lalu berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap harga saham. Namun hasil penelitian tersebut tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Wulandari (2009) dan Santoso & Muazaroh (2018), yang menyatakan bahwa harga saham masa lalu berpengaruh positif dan

(27)

signifikan terhadap harga saham.

Melihat adanya fenomena terhadap harga saham dan belum adanya konsistensi hasil pada penelitian-penelitian sebelumnya mengenai faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi harga saham. Maka penelitian ini ingin meneliti kembali dan mengkaji lebih lanjut tentang faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi harga saham. Berdasarkan latar belakang tersebut maka akan dilakukan penelitian ini dengan judul “Analisis Pengaruh Volume Perdagangan, Volume Bid dan Harga Saham Masa Lalu terhadap Harga Saham Perusahaan Sektor Industri Makanan dan Minuman yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2014-2018”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah volume perdagangan, volume bid dan harga saham masa lalu secara simultan berpengaruh terhadap harga saham perusahaan sektor industri makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2014-2018?

2. Apakah volume perdagangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham perusahaan sektor industri makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2014-2018?

3. Apakah volume bid berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham perusahaan sektor industri sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2014-2018?

4. Apakah harga saham masa lalu berpengaruh positif dan signifikan terhadap

(28)

harga saham perusahaan sektor industri makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2014-2018?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian yang ada pada latar belakang dan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh volume perdagangan, volume bid dan harga saham masa lalu secara simultan terhadap harga saham perusahaan sektor industri makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2014-2018.

2. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh volume perdagangan terhadap harga saham perusahaan sektor industri makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2014-2018.

3. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh volume bid terhadap harga saham perusahaan sektor industri makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2014-2018.

4. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh harga saham masa lalu terhadap harga saham perusahaan sektor industri makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2014-2018.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi banyak pihak, diantaranya yaitu:

1. Bagi Investor

(29)

Sebagai masukan bagi investor untuk menggunakan faktor teknikal saham sebagai pertimbangan dalam melakukan investasi saham.

2. Bagi Peneliti Selanjutnya

Sebagai bahan refrensi bagi yang ingin melakukan penelitian lebih lanjut berkenaan dengan masalah ini.

3. Bagi Peneliti

Sebagai pengembangan dalam menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama masa studi.

(30)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori 2.1.1 Analisis Teknikal

Menurut McDowell (2008), analisis teknikal merupakan suatu metode peramalan pergerakan harga saham berdasarkan pada studi terhadap harga saham historis, indeks saham individu dan volume. Perubahan harga saham cenderung bergerak pada satu arah tertentu (trend). Pola tertentu pada masa lampau akan terulang kembali pada masa yang akan datang. Analisis teknikal lebih memperhatikan pada apa yang terjadi di pasar, daripada apa yang seharusnya terjadi. Komarudin (1996), mengemukakan bahwa analisis teknikal adalah analisis sekuritas yang memusatkan perhatian pada harga saham, harga atau statistik pasar lainnya dalam menentukan pola yang mungkin dapat memprediksi dari gambaran yang telah di buat. Analisis teknikal menganggap bahwa saham adalah komoditas perdagangan yang pada gilirannya, permintaan dan penawarannya merupakan manifestasi kondisi psikologis dari pemodal.

Analisis teknikal mempunyai beberapa kekuatan dan kelemahan. Beberapa kekuatan yang dapat diidentifikasikan adalah (Susanto & Sabardi, 2010):

1. Analisis teknikal dapat digunakan secara luas hampir di semua pasar modal di seluruh dunia.

2. Grafik dapat digunakan untuk menganalisis dalam satuan waktu jam, hari, minggu, bulan bahkan tahun.

3. Banyak terdapat alat-alat analisis teknikal dan teknik-teknik yang tersedia

(31)

untuk digunakan sesuai kebutuhan di berbagai sektor pasar yang berbeda.

4. Prinsip dasar analisis teknikal mudah dipahami dan analisis teknikal lebih memperhatikan pada kejadian senyatanya di pasar.

5. Analisis teknikal dapat menggunakan data secara akurat dan setiap saat tersedia di RTI (Real Time Information) dan IMQ (Information Market Quote).

Menurut Kodrat & Indonanjaya (2010), secara aplikatif kelebihan analisis teknikal membantu untuk mengetahui seberapa besar kekuatan permintaan dan penawaran suatu saham melalui data harga pembukaan, tertinggi, terendah dan penutupan secara mudah. Para analis teknikal juga bisa menentukan saat yang tepat untuk masuk dan keluar dari pasar. Analisis teknikal membantu untuk memutuskan kapan saat yang tepat untuk membeli.

Beberapa kelemahan analisis teknikal adalah (Susanto & Sabardi, 2010):

1. Analisis teknikal menganggap bahwa sikap manusia adalah konstan sehingga pola kecenderungan akan selalu berulang. Bagaimanapun juga terdapat batasan bahwa masa yang akan datang merupakan cerminan masa lalu.

2. Analisis teknikal memperhatikan tingkat kemungkinan suatu kejadian akan terjadi, bukan kepastian dari kejadian tersebut.

3. Beberapa analisis terknikal modern berdasarkan pada konsep matematik dan statistik yang cukup kompleks sehingga menganalisis dengan perangkat lunak komputer sulit dihitung dan tidak mudah untuk memahami hasil keluarannya (output).

4. Untuk keberhasilan analisis teknikal, maka informasi yang dipakai harus akurat dan tepat waktu.

(32)

Sebelum belajar tentang teknik dan alat-alat spesifik, para analis teknikal harus menganalisis berbagai peluang investasi. Hal ini sangat penting untuk memahami beberapa prinsip yang mendasari analisis teknikal. Ada tiga prinsip kunci (Susanto & Sabardi, 2010) :

1. Segalanya didiskontokan dan digambarkan dalam harga-harga pasar.

2. Harga-harga bergerak dalam suatu kecenderungan yang terus berlangsung.

3. Kejadian pasar selalu berulang kembali.

Menurut McDowell (2008), analisis teknikal merupakan suatu metode peramalan pergerakan harga saham berdasarkan pada studi terhadap harga saham historis, indeks saham individu dan volume.

Analisis teknikal merupakan teknik untuk memprediksi pergerakan harga saham berdasarkan data pasar historis seperti informasi harga saham, volume penjualan saham, dan harga saham masa lalu. Analisis teknikal umumnya menggunakan dasar-dasar kombinasi harga saham, baik harga pembukaan, harga tertinggi dan harga terendah

2.1.2 Volume Perdagangan

Abbodante (2010) menyatakan bahwa volume perdagangan didefinisikan sebagai jumlah saham yang dibeli dan dijual setiap hari. Volume perdagangan merupakan indikator penting dalam analisis teknikal dan digunakan untuk mengukur kekuatan pergerakan harga saham baik naik maupun turun.

Menurut Susanto & Sabardi (2010), volume perdagangan saham merupakan rasio antara jumlah lembar saham yang diperdagangkan pada waktu tertentu terhadap jumlah saham yang beredar pada waktu tertentu. Secara historis

(33)

volume perdagangan saham mempunyai kaitan dengan harga pasar di bursa, dikarenakan volume perdagangan saham dianggap sebagai ukuran dari kekuatan atau kelemahan pasar sesuai dengan hukum penawaran dan permintaan.

McDowell (2008) mengemukakan bahwa menggunakan volume perdagangan bersama dengan harga memungkinkan investor mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di pasar modal. Kinerja suatu saham juga dapat dinilai dari volume perdagangannya, semakin sering suatu saham diperdagangkan menandakan saham tersebut aktif dan diminati investor (Koesoemasari, Setiawan, & Masita, 2014).

Menurut Pring (2002) terdapat beberapa prinsip dalam penafsiran volume perdagangan, yaitu:

1. Prinsip yang paling utama adalah bahwa volume perdagangan sejalan dengan trend. Aktifitas perdagangan akan meningkat pada saat pasar sedang uptrend dan aktifitas perdagangan akan menurun pada saat pasar sedang downtrend.

Hal ini berarti bahwa volume perdagangan dapat digunakan untuk memprediksi trend pasar saat ini.

2. Aktifitas pembeli dan penjual di pasar modal sangat mempengaruhi harga saham.

Misalnya jika seorang penjual bereaksi terhadap suatu berita buruk kemudian menjual sahamnya, maka hal ini akan mendorong harga saham turun.

3. Harga yang meningkat dan volume perdagangan yang menurun adalah kondisi tidak normal dan mengindikasikan bahwa trend yang terjadi tidak kuat dan akan mengalami perubahan. Aktifitas seperti ini biasanya merupakan trend menurun (bearish) dan merupakan salah satu hal yang harus diperhitungkan. Hal yang harus diperhitungkan adalah bahwa volume

(34)

perdagangan mengukur antusiasme pembeli dan penjual. Pasar yang sedang uptrend dengan volume perdagangan yang rendah dapat disebabkan oleh kurangnya para penjual dibandingkan dengan antusiasme pembeli. Cepat atau lambat hal ini akan mendorong pasar mencapai harga yang membuat penjual bersedia menjual saham.

4. Volume perdagangan merupakan cerminan intensitas minat beli dan tekanan dibalik pergerakan nilai harga yang terjadi. Volume saham juga dapat memprediksi keadaan pasar yang terjadi.

Berikut ini ditampilkan hubungan volume dalam analisis teknikal terhadap harga saham dan interpretasi pasar saham.

Tabel 2.1

Hubungan Analisis Teknikal dengan Volume

Harga Volume Interpretasi

Naik Naik Pasar sangat kuat

Naik Jatuh Pasar mulai lemah

Jatuh Naik Pasar sangat lemah

Jatuh Jatuh Pasar mulai menguat

Sumber : Pring (2002)

Menurut Suyawijaya (1998), perhitungan volume perdagangan dilakukan dengan membandingkan jumlah saham perusahaan yang diperdagangkan dalam suatu periode tertentu dengan keseluruhan jumlah saham beredar perusahaan tersebut pada kurun waktu yang sama. Rumus yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:

Keterangan:

VPit = Volume Perdagangan perusahaan i pada waktu t

(35)

2.1.3 Volume Bid

Interaksi antara permintaan dan penawaran akan menentukan keadaan keseimbangan pasar. Keseimbangan pasar akan menentukan tingkat harga yang berlaku di pasar dan kuantitas barang yang akan diperjualbelikan dan perlu di produksi. Keseimbangan pasar pada pasar modal ditentukan oleh banyaknya permintaan yang dapat dilihat dari jumlah permintaan lot saham (volume bid) dan banyaknya penawaran yang dapat diketahui dari jumlah lot yang ingin ditawarkan (volume ask) (Abidin, Suhadak, & Hidayat, 2016).

Menurut Kodrat & Indonanjaya (2010), bid adalah harga dimana pembeli bersedia membayar untuk suatu saham. Sedangkan volume bid adalah banyaknya jumlah lembar saham atas saham emiten tertentu yang investor bersedia untuk membelinya di pasar modal pada hari tertentu. Semakin besar volume bid maka saham cenderung akan mengalami kenaikan harga.

Menurut Syamsir (2008), penawaran untuk membeli suatu saham atau surat berharga lainnya disebut bid, sedangkan harga penawaran untuk membeli saham yang terbaik disebut best bid. Kemudian harga penawaran untuk melakukan penjualan disebut ask, sedangkan harga penawaran terbaik untuk melakukan penjualan disebut best ask.

Harga saham sangat ditentukan oleh keseimbangan antara supply dan demand, perubahan demand akan mempengaruhi keseimbangan pasar yang akan berdampak pada perubahan harga saham. Keseimbangan pasar dalam bursa ditentukan oleh pergerakan volume bid dan volume ask yang berubah secara cepat karena banyaknya investor (pembeli dan penjual) di bursa dan tingginya variasi

(36)

ekspektasi antara investor satu dengan yang lainnya.

Apabila suatu saham tengah dilingkupi oleh ekspektasi yang positif, maka harga keseimbangan yang baru akan lebih tinggi dibandingkan harga sebelumnya.

Sebaliknya, jika saham itu tengah dilingkupi oleh sentimen negatif, maka harga yang baru terbentuk akan berada dalam posisi yang lebih rendah dari harga sebelumnya.

Namun tentu terdapat pula faktor-faktor lain yang menentukan arah pergerakan harga, misalnya target keuntungan seorang investor, kebutuhan akan dana segar dalam waktu segera dan lainnya. Keragaman faktor inilah yang kemudian akan menentukan apakah kurva supply akan bergeser ke kanan, kiri, atau tetap sementara kurva demand tidak berubah atau sebaliknya, kurva demand bergeser ke kiri atau ke kanan sementara kurva supply tetap, atau kurva demand dan supply bergerak bersamaan dengan arah yang sama atau berbeda. Pergerakan-pergerakan menuju keseimbangan tersebut akan sangat dipengaruhi oleh sentimen pasar.

Apabila panic selling melanda para investor misalnya, maka demand terhadap sebuah saham akan bergeser ke kiri atas. Dengan kata lain, akan semakin sedikit jumlah uang yang tersedia untuk dibayarkan oleh pembeli atas suatu saham.

Sentimen panik itu juga akan melanda para penjual sehingga secara otomatis mereka akann berlomba-lomba melakukan cut loss yang kemudian menyebabkan kurva supply terdorong ke arah berlawanan atau arah kanan atas.

Akibat pergerakan demand dan supply dengan arah yang sangat berlawanan ini, maka tidak heran jika panic selling dapat ditandai oleh kehadiran volume transaksi yang meningkat di saat harga saham menurun sedemikian jauh.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan indikator dari Volume Bid

(37)

adalah dengan mengurangkan total volume perdagangan saham perusahaan dengan volume ask saham perusahaan. Dengan rumus:

Keterangan:

Vol Bid = jumlah permintaan lot saham

Vol Perdagangan = jumlah saham yang dibeli dan dijual Vol Ask = jumlah penawaran lot saham

2.1.4 Harga Saham Masa Lalu

Harga saham masa lalu digunakan untuk memperkirakan harga saham dengan mengamati perubahan harga di waktu yang lalu, yang dalam hal ini satu tahun sebelumnya. Perilaku harga saham masa lalu bisa direfleksikan dalam harga saham di masa yang akan datang (Syamsir, 2008). Data harga saham masa lalu menggunakan data closing price tahun sebelumnya pada periode tahun yang akan diestimasikan. Harga saham yang terjadi ditentukan oleh pola permintaan dan penawaran saham, perubahan pola permintaan dan penawaran saham akan mempengaruhi arah pembentukan harga. Pola pergerakan permintaan dan penawaran yang terjadi di waktu yang lampau akan terulang lagi di masa yang akan datang.

Mahalanie (2011) menyatakan bahwa berdasarkan pada mekanisme pembentukan harga, bila penawaran lebih besar daripada permintaan, maka umumnya harga saham akan turun. Sebaliknya, bila permintaan lebih besar dari penawaran, maka harga saham akan meningkat. Disisi lain analis teknikal percaya bahwa gerakan saham akan mengikuti trend, baik menurun,

(38)

meningkat, maupun mendatar.

Pada saat pergerakan saham mencapai titik terendah dan mulai meningkat, bagi para analis teknikal merupakan indikator untuk melakukan tindakan membeli saham. Trend berikutnya pada saat pergerakan harga saham mendatar, para analis teknikal bisa saja menjual sahamnya, tetapi di satu sisi mereka berharap akan terjadi trend peningkatan sehingga mereka memilih untuk menahan sahamnya dan tidak segera menjual.

Tetapi jika trend yang mendatar diikuti dengan trend penurunan harga saham, maka situasi ini bagi para analis teknikal merupakan sinyal yang tepat untuk menjual sahamnya untuk menghindari kerugian yang lebih besar akibat harga saham yang terus mengalami penurunan. Para analis teknikal juga percaya bahwa data harga saham masa lalu sebagai indikator pergerakan harga saham di masa yang akan datang. Hal ini sesuai dengan pernyataan White (1992), yang mengemukakan bahwa perilaku harga saham masa lalu dapat digunakan untuk menentukan keputusan investasi perdagangan di pasar saham.

2.1.5 Harga Saham

Menurut Syahyunan (2015), saham (stock) adalah surat berharga yang menunjukkan kepemilikan seseorang atau badan terhadap suatu perusahaan. Jika seseorang membeli saham suatu perusahaan, berarti dia telah menyertakan modal ke dalam suatu perusahaan tersebut sebanyak jumlah saham yang dibeli.

Jogiyanto (2014) menyatakan bahwa harga saham adalah harga yang ditetapkan dari suatu saham pada saat pasar saham sedang berlangsung dengan mempertimbangkan permintaan dan penawaran dari saham yang dimaksud.

(39)

Saham sendiri diartikan bentuk kepemilikan suatu aset atau instrumen dari perusahaan yang biasanya sering disebut efek (Paramita & Yulianto, 2014).

Investor memerlukan informasi yang berkaitan dengan pembentukan harga saham dalam mengambil keputusan untuk menjual atau membeli. Informasi yang diharapkan mampu mengurangi ketidakpastian yang terjadi sehingga keputusan yang diambil diharapkan dapat sesuai dengan tujuan yang dicapai, yaitu keuntungan maksimal dengan tingkat risiko tertentu. Bila harga saham tersebut dinilai terlalu tinggi oleh pasar, maka jumlah permintaannya akan berkurang.

Sebaliknya bila pasar menilai bahwa harga saham tersebut terlalu rendah, jumlah permintaannya akan meningkat. Tingginya harga saham akan mempengaruhi kemampuan investor untuk membeli saham tersebut. Hukum permintaan dan penawaran kembali berlaku dan sebagai konsekuensinya harga saham yang tinggi tersebut akan menurun sampai tercipta posisi keseimbangan yang baru.

Pergerakan harga suatu saham dalam jangka pendek tidak dapat diprediksi secara pasti. Semakin banyak orang yang ingin membeli saham, maka harga saham tersebut cenderung mengalami kenaikan. Sebaliknya semakin banyak orang yang ingin menjual, maka harga saham tersebut akan cenderung mengalami penurunan. Menurut Jogiyanto (2003), di dalam harga saham terdapat nilai masing-masing, yaitu:

1. Nilai Nominal

Nilai kewajiban yang ditetapkan untuk tiap-tiap lembar saham. Kepentingan dari nilai nominal adalah untuk kaitannya dengan hukum. Nilai nominal ini merupakan modal per lembar yang secara hukum harus ditahan di perusahaan

(40)

untuk proteksi kepada kreditor yang tidak dapat diambil oleh pemegang saham. Kadangkala suatu saham tidak memiliki nilai nominal (no-par value stock). Untuk saham yang tidak mempunyyai nilai nominal, dewan direksi umumnya menetapkan nilai sendiri (stated value) perlembarnya. Jika tidak ada nilai yang ditetapkan, maka yang dianggap sebagai modal secara hukum adalah semua penerimaan bersih (proceed) yang diterima oleh emiten pada waktu mengeluarkan saham bersangkutan.

2. Nilai Buku

Menunjukkan aktiva bersih (net assets) yang dimiliki oleh pemegang saham dengan memiliki satu lembar saham. Karena aktiva bersih adalah sama dengan total ekuitas pemegang saham, maka nilai buku per lembar saham adalah total ekuitas dibagi dengan jumlah saham yang beredar. Jika perusahaan mempunyai dua macam kelas saham, yaitu saham preferen dan saham biasa, maka perhitungan nilai buku per lembar untuk masing-masing kelas ini lebih rumit dibandingkan jika hanya mempunyai saham biasa saja.

3. Nilai Pasar

Harga saham yang terjadi di pasar bursa pada saat tertentu yang ditentukan oleh pelaku pasar. Nilai pasar ini ditentukan oleh permintaan dan penawaran saham bersangkutan di pasar bursa.

4. Nilai Intrinsik

Nilai seharusnya dari suatu saham disebut dengan nilai fundamental (fundamental value) atau nilai intrinsik (intrinsic value). Terdapat dua macam analisis yang banyak digunakan untuk menentukan nilai sebenarnya dari

(41)

saham adalah analisis sekuritas fundamental (fundamental security analysis) atau analisis perusahaan (company analysis) dan analisis teknis (technical analysis). Analisis fundamental menggunakan data fundamental, yaitu data yang berasal dari keuangan perusahaan (misalnya laba, dividen yang dibayar, penjualan dan lain sebagainya), sedangkan analisis teknis menggunakan data pasar dari saham (misalnya harga dan volume transaksi saham) untuk menentukan nilai dari saham. Untuk analisis fundamental, ada dua pendekatan untuk menghitung nilai intrinsik saham, yaitu dengan pendekatan nilai sekarang (present value approach) dan pendekatan PER (P/E ratio approach). Pendekatan nilai sekarang juga disebut metode kapitalisasi laba karena melibatkan proses kapitalisasi nilai-nilai masa depan yang didiskontokan menjadi nilai sekarang. Sedangkan pendekatan PER merupakan rasio yang menunjukkan berapa besar investor menilai harga dari saham terhadap kelipatan dari earnings.

Dalam perdagangan saham, dikenal beberapa istilah yang berkaitan dengan harga saham. Menurut Darmadji & Fakhruddin (2006), istilah tersebut:

1. Previous Price

Menunjukkan harga pada saat penutupan pada hari sebelumnya.

2. Opening Price (pembukaan)

Menunjukkan harga saham saat pembukaan sesi I perdagangan pada jam 09.30 WIB.

3. Highest Price (tertinggi)

Menunjukkan harga tertinggi atas suatu saham yang terjadi sepanjang

(42)

perdagangan pada hari tersebut.

4. Lowest Price (terendah)

Menunjukkan harga terendah atas suatu saham yang terjadi sepanjang perdagangan pada hari tersebut.

5. Last Price

Menunjukkan harga terakhir yang terjadi atas suatu saham.

6. Change

Menunjukkan selisih antar harga saham pembukaan dengan harga saham terakhir yang terjadi.

7. Closing Price (penutupan)

Menunjukkan harga saham pada saat penutupan sesi II perdagangan jam 16.00 WIB.

2.2 Penelitian Terdahulu

Penelitian yang digunakan sebagai referensi dalam penelitian ini, yaitu:

Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu

No Peneliti (Tahun)

Judul

Penelitian Variabel

Teknik Analisis

Data

Hasil Penelitian

1 Santoso (2018)

Pengaruh Frekuensi Perdagangan, Harga Saham Masa Lalu, dan Volume Perdagangan Saham Terhadap Harga Saham IDX30

Dependen:

Harga Saham

Independen:

1. Frekuensi Perdagangan 2. Harga

Saham Masa Lalu 3. Volume

perdagangan Saham

Uji Asumsi Klasik dan Regresi Linear Berganda

1. Frekuensi Perdagangan berpengaruh positif tidak signifikan terhadap Harga Saham

2. Harga Saham Masa Lalu berpengaruh positif signifikan terhadap Harga Saham 3. Volume

Perdagangan Saham berpengaruh positif

(43)

Lanjutan Tabel 2.1

No Peneliti (Tahun)

Judul

Penelitian Variabel

Teknik Analisis

Data

Hasil Penelitian

tidak signifikan terhadap Harga Saham

2 Arifannisa

& Nugraha (2017)

Pengaruh Faktor-Faktor Fundamental dan Faktor- Faktor Teknikal Terhadap Harga Saham (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur Sektor Industri Barang Konsumsi yang Terdaftar) di Bursa Efek Indonesia Periode 2013- 2015

Dependen:

Harga Saham

Independen:

1. CR 2. NPM 3. ROE 4. ROA 5. DER 6. Volume

Perdagangan Saham 7. IHSI

Data Panel dan Regresi Linier Berganda

1. CR berpengaruh negatif terhadap Harga Saham 2. NPM berpengaruh

positif terhadap Harga Saham 3. ROE berpengaruh

positif terhadap Harga Saham 4. ROA berpengaruh

positif terhadap Harga Saham 5. DER dan

berpengaruh negatif terhadap Harga Saham

6. Volume

Perdagangan Saham tidak berpengaruh terhadap Harga Saham

7. IHSI berpengaruh positif terhadap Harga Saham 3 Samsuar &

Akramunnas (2017)

Pengaruh Faktor Fundamental dan Teknikal Terhadap Harga Saham Industri Perhotelan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

Dependen:

Harga Saham

Independen:

1. ROA 2. CR 3. DER 4. Volume

Perdagangan 5. IHSG

Uji Asumsi Klasik dan Regresi Linear Berganda

1. ROA berpengaruh positif signifikan terhadap Harga Saham

2. CR berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap Harga Saham 3. DER berpengaruh

positif signifikan terhadap Harga Saham 4. Volume

Perdagangan berpengaruh positif signifikan terhadap Harga Saham 5. IHSG berpengaruh

positif tidak signifikan terhadap Harga Saham

(44)

Lanjutan Tabel 2.1

No Peneliti (Tahun)

Judul

Penelitian Variabel

Teknik Analisis

Data

Hasil Penelitian

4 Abidin, Suhadak, &

Hidayat (2016)

Pengaruh Faktor-Faktor Teknikal Terhadap Harga Saham (Studi pada Harga Saham IDX30 di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2012- 2015)

Dependen:

Harga Saham

Independen:

1. Volume Bid 2. Harga

Saham Masa Lalu 3. Volume

Perdagangan

Regresi Linear Berganda dan Statistik Inferensial

1. Volume Bid berpengaruh positif tidak signifikan terhadap Harga Saham

2. Harga Saham Masa Lalu berpengaruh positif signifikan terhadap Harga Saham 3. Volume

Perdagangan berpengaruh negatif signifikan terhadap Harga Saham

5 Simbolon (2016)

Pengaruh Faktor Teknikal Terhadap Harga Saham Perusahaan Makanan dan Minuman yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

Dependen:

Harga Saham

Indpenden:

1. Harga Saham Masa Lalu 2. Volume

Perdagangan Masa Lalu 3. Kapitalisasi

Pasar

Regresi Berganda dan Data Panel

1. Harga Saham Masa Lalu berpengaruh positif signifikan terhadap Harga Saham

2. Volume

Perdagangan Masa Lalu berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap Harga Saham 3. Kapitalisasi Pasar

berpengaruh positif tidak signifikan terhadap Harga Saham

6 Safitri (2013)

Pengaruh Variabel- Variabel Fundamental dan Teknikal Terhadap Harga Saham pada

Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

Dependen:

Harga Saham

Independen:

1. CR 2. NPM 3. ROE 4. ROA 5. DER 6. Volume

Perdagangan 7. IHSI

Regresi Linear Berganda

1. CR berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham 2. NPM tidak

berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham 3. ROE tidak

berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham 4. ROA tidak

berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham

Gambar

Tabel 2.2  Penelitian Terdahulu  No  Peneliti  (Tahun)  Judul  Penelitian  Variabel  Teknik  Analisis  Data  Hasil Penelitian  1  Santoso  (2018)  Pengaruh  Frekuensi  Perdagangan,  Harga Saham  Masa Lalu,  dan Volume  Perdagangan  Saham  Terhadap  Harga S
Gambar 2.1  Kerangka Konseptual

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menyimpulkan : (1) terdapat pengaruh positif dan signifikan antara harga saham, volume perdagangan dan return terhadap bid ask spread baik pada masa sebelum

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh harga saham, volume perdagangan, dan varian return terhadap bid-ask spread pada masa sebelum dan sesudah

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel analisis teknikal yang terdiri atas harga saham masa lalu dan volume perdagangan masa lalu terhadap harga saham

PENGARUH HARGA SAHAM, VOLUME PERDAGANGAN SAHAM, VARIAN RETURN DAN ABNORMAL RETURN TERHADAP BID-ASK SPREAD PADA MASA SETELAH RIGHT ISSUE DI BURSA EFEK.. INDONESIA PERIODE

Menyatakan bahwa skripsi ini dengan judul: “PENGARUH HARGA SAHAM, VOLUME PERDAGANGAN, MARKET VALUE DAN VARIAN RETURN TERHADAP BID ASK SPREAD (Studi Empiris Perusahaan

Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka peneliti mengambil judul “ Pengaruh Pengumuman Right Issue pada Abnormal Return dan Volume perdagangan Saham, “

Berdasarkan uraian di atas, maka dilakukan suatu penelitian dengan judul : “Analisis Pengaruh Return Saham, Volume Perdagangan Saham, dan Varian Return Saham terhadap Bid-ask spread

Berdasarkan uraian di atas, maka dilakukan suatu penelitian dengan judul : “Analisis Pengaruh Return Saham, Volume Perdagangan Saham, dan Varian Return Saham terhadap Bid-ask spread