BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.7 Pembahasan
4.7.1 Analisis Pengaruh Volume Perdagangan
berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap Harga Saham. Berdasarkan Tabel 4.7 variabel X1 (Volume Perdagangan) mempunyai koefisien bertanda negatif sebesar 0,00000254 dan tingkat probabilitas 0,8059 > 0,05 artinya Volume Perdagangan berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Harga Saham.
Berdasarkan teoritis menunjukkan adanya persamaan bahwa volume perdagangan berpengaruh terhadap volatilitas harga saham karena volume mencerminkan informasi yang diterima oleh pelaku pasar (Sandrasari, 2010).
Perusahaan sektor industri makanan dan minuman merupakan perusahaan-perusahaan yang memiliki intensitas perdagangan yang tinggi di bursa, sehingga saham perusahaan tersebut aktif diperdagangkan. Saham yang aktif dapat memberikan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya yang akan meningkatkan harga saham. Tetapi volume perdagangan terbentuk dari gabungan supply dan demand atas saham tersebut, sehingga investor tidak bisa melihat apakah supply atau demand yang dominan dalam membentuk jumlah volume
perdagangan. Keterbatasan informasi investor tentang faktor dominan yang membentuk volume perdagangan ini yang membuat volume perdagangan negatif tidak signifikan mempengaruhi harga saham.
Volume perdagangan yang negatif tidak signifikan mempengaruhi harga saham menunjukkan bahwa volume perdagangan tidak menyebabkan peningkatan maupun penurunan yang signifikan terhadap harga saham. Menurut Vibby (2010), volume perdagangan merupakan cerminan intensitas minat beli dan tekanan dibalik pergerakan nilai harga yang terjadi.
Hal ini mencerminkan bahwa volume perdagangan tidak searah dengan pergerakan harga saham karena kondisi pasar yang sedang uptrend dengan volume perdagangan yang rendah, karena jumlah penjual yang lebih sedikit dibandingkan dengan pembeli.
Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Pring (2002), yang menyatakan bahwa terdapat beberapa prinsip dalam penafsiran volume perdagangan, salah satunya adalah harga yang meningkat dan volume perdagangan yang menurun adalah kondisi yang tidak normal dan mengindikasikan bahwa trend yang terjadi tidak kuat dan akan mengalami perubahan. Aktifitas seperti ini biasanya merupakan trend menurun (bearish) dan merupakan salah satu hal yang harus diperhitungkan.
Hal yang harus diperhitungkan adalah volume perdagangan mengukur antusiasme pembeli dan penjual. Pasar yang sedang uptrend dengan volume perdagangan yang rendah dapat disebabkan oleh kurangnya para penjual dibandingkan dengan antusiasme pembeli. Cepat atau lambat hal ini akan
mendorong pasar mencapai harga yang membuat penjual bersedia menjual saham.
Saat harga saham meningkat dan volume perdagangan menurun menunjukkan bahwa kondisi pasar mulai lemah. Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa volume perdagangan secara umum berada pada saat kondisi pasar mulai melemah.
Sama halnya dengan PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk (CEKA) pada bulan Mei 2015 yang memiliki volume perdagangan terendah yaitu hanya sebesar 12 lembar, tetapi memiliki harga saham cukup tinggi yakni sebesar Rp 712.
Hal ini sesuai dengan berita pasar modal yang dilansir dari media CNBCindonesia.com pada 18 September 2018 yang mengemukakan bahwa volume transaksi kecil tapi harga saham tinggi. Volume transaksi tercatat kecil, yakni sebanyak 5,96 miliar unit saham. Padahal rata-rata volume transaksi harian sepanjang tahun 2018 adalah sebanyak 7,24 miliar unit.
Hal ini bukan kali pertama terjadi pada tahun 2018. Terhitung pada periode 30 Agustus-5 September 2018, rata-rata volume transaksi justru ambruk menjadi hanya 5,77 miliar unit. Hal ini terjadi disebabkan oleh kinerja berbagai sektor industri yang tertekan serta ketidakpastian ekonomi akibat krisis ekonomi global sepuluh tahunan membuat investor lebih berhati-hati dalam bertransaksi saham.
Pada tahun 2017 menurut berita pasar modal yang dilansir oleh detikfinance.com pada tanggal 12 Juni 2017 mengemukakan bahwa mendekati libur Lebaran, transaksi perdagangan saham di pasar modal Indonesia kian sepi.
Fenomena ini selalu terjadi hampir disetiap bulan Ramadhan setiap tahunnya.
Kepala Analis Universal Broker Satrio Utomo mengatakan, turunnya
transaksi saham baik dari sisi volume, nilai dan frekuensi memang selalu terjadi setiap bulan puasa. Saat bulan puasa banyak analis yang mengurangi spekulasi transaksi saham. Banyak dari pelaku pasar yang lebih memilih untuk menarik dananya atau menahan diri untuk mempersiapkan kebutuhan Lebaran. Rata-rata volume transaksi saham turun hingga 54,86 persen dari 17,79 miliar unit saham menjadi 8,03 miliar unit saham.
Pada tahun 2016 menurut berita pasar modal yang dilansir oleh medcom.id pada tanggal 24 Mei 2016 mengemukakan bahwa PT Bursa Efek Indonesia mengalami rata-rata transaksi saham di pasar modal Indonesia mencapai 5,82 triliun di periode April 2016. Total rata-rata transaksi harian mengalami penurunan bila dibandingkan dengan bulan Maret 2016 sebanyak 6,19 triliun.
Penurunan rata-rata transaksi banyak disebabkan oleh merosotnya transaksi saham investor asing yang hanya tercatat melakukan pembelian bersih sebanyak 291 miliar. Padahal, mengacu Maret 2016 posisi beli bersih asing jauh lebih besar yaitu mencapai 2,31 triliun.
Pada tahun 2015 menurut berita pasar modal yang dilansir oleh Kompas.com pada tanggal 31 Desember 2015 mengemukakan bahwa PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan transaksi harian saham selama periode Januari hingga Desember 2015 mencapai Rp 5,77 triliun. Namun, capaian tersebut turun 3,98 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 6,01 triliun.
Dalam laporan Bursa Efek Indonesia, kinerja perdagangan saham antara Januari hingga Desember 2015 mengalami trend konsolidasi. Penyebabnya dipicu
oleh kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat. Kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat membuat investor asing mengalihkan sebagian dananya keluar dari portofolio di Indonesia yang ditandai dengan nilai jual bersih dana investor asing di pasar domestik sebesar Rp 22,55 triliun.
Pada tahun 2014 menurut berita pasar modal yang dilansir oleh Kontan.co.id pada tanggal 4 Februari 2014 mengemukakan bahwa data Bursa Efek Indonesia (BEI) di Januari 2014, rata-rata volume transaksi bursa sebesar 3,9 miliar saham dengan rata-rata nilai transaksi sebesar Rp 4,84 triliun. Transaksi perdagangan ini lebih kecil dibandingkan biasanya.
Sebagai perbandingan, di Januari 2013 rata-rata volume perdagangan saham mencapai 4,6 miliar saham dengan rata-rata nilai transaksi sebesar Rp 5 triliun. Hal ini membuktikan bahwa efek perubahan peraturan perdagangan sejauh ini belum mampu mendongkrak transaksi perdagangan di bursa.
Pada tanggal 6 Januari 2014 lalu, Bursa Efek Indonesia menerapkan aturan perdagangan baru yakni menurunkan jumlah saham per lot dari 500 saham menjadi 100 saham per lot. Selain itu, Bursa Efek Indonesia juga mengubah fraksi saham dari lima kelompok harga menjadi tiga kelompok harga. Syaiful Adrian, analis Ciptadana mengemukakan transaksi perdagangan saham masih rendah dikarenakan ada beberapa sentimen negatif yang membayangi perdagangan.
Pertama di akhir tahun lalu, tak banyak aksi window dressing yang berdampak pada January effect.Kedua, ada krisis yang dialami negara berkembang seperti Argentina dan Turki, sehingga investor cenderung mencari momen tepat untuk masuk ke pasar. Ketiga, investor juga masih menyesuaikan diri dengan peraturan
baru dari Bursa Efek Indonesia mengenai perubahan lot dan fraksi harga.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Mahalanie (2011), yang menyatakan bahwa Volume Perdagangan berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Harga Saham, namun tidak sejalan dengan penelitian Santoso &
Muazaroh (2018), yang menyatakan bahwa Volume Perdagangan berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap Harga Saham.