BAB IV STUDI KASUS 35
D. Analisis Perbandingan
Pada bagian ini, penulis akan membandingkan hasil analisis yang didapat melalui poin perbandingan yang ada pada setiap aspek.
a. Territoriality Penerapan territoriality yang
dilakukan pada perumahan hampir sesuai dengan teori yang digunakan.
Pagar pembatas pada perumahan ini didesain dengan baik yang memberikan kesan rapi dan terawat.
Kedua portal berfungsi sebagai pengatur akses masuk dan
Penerapan territoriality yang dilakukan pada perumahan hampir sesuai dengan teori yang digunakan.
Pagar pembatas pada perumahan ini memberikan kesan kurang terawat
Dari 2 portal yang ada hanya 1 yang berfungsi. Hal ini bisa menghambat sirkulasi akses
keluar yang beroperasi dengan dengan baik.
masuk dan keluar.
Kedua studi kasus menunjukan kesamaan dalam penerapan indikator territoriality. Kedua studi kasus menunjukan penerapan yang hampir sesuai dengan konteks teori yang digunakan. Jika dilihat dari pemeliharaannya, Perumahan Villa Resort Masdulhak Garden lebih baik daripada Perumahan Taman Angrek Setiabudi.
b. Natural Surveillance
Tabel 4.2
Perbandingan pada aspek natural surveillance Perumahan Villa Resort
Masdulhak Garden
Perumahan Taman Anggrek Setiabudi Pencahayaan diaplikasikan
disepanjang jalan, meskipun masih terdapat lokasi yang memiliki belum pencahayaan yang dikhawatirkan menjadi wilayah yang kurang terawasi
Setiap fasad hunian menghadap kearah jalan tanpa ada satupun
Pencahayaan diaplikasikan disepanjang jalan, meskipun masih terdapat lokasi yang belum memiliki pencahayaan yang dikhawatirkan menjadi wilayah yang kurang terawasi
Setiap fasad hunian menghadap kearah jalan tanpa
oleh hunian lain
Mechanical surveillance digunakan sebagai tambahan item untuk meningkatkan pengawasan
yang tertutupi oleh hunian lain
Mechanical surveillance tidak digunakan sebagai tambahan item untuk meningkatkan pengawasan
Berdasarkan tabel diatas, terdapat perbedaan penerapan teori pada kedua studi kasus. Perumahan Villa Resort Masdulhak Garden cenderung mengikuti indikator daripada Perumahan Taman Anggrek Setiabudi. Persamaan dari kedua studi kasus adalah masih terdapat area yang dikhawatirkan menjadi area yang belum bisa diawasai secara maksimal.
c. Image and Milieu
Tabel 4.3
Perbandingan pada aspek image and milieu Perumahan Vlla Resort
Masdulhak Garden
Perumahan Taman Anggrek Setiabudi Berdasarkan target hardening,
hampir semua yang diterapkan.
Namun tidak menerapkan polisi tidur
Perumahan ini menerapkan pembentukan lingkungan yang
Semua aspek pada target hardening diterapkan pada perumahan ini
Perumahan ini kurang memperlihatkan lingkungan yag rapi dan bersih,
rapi dan bersih, dibuktikan dengan bentuk pagar pembatas dan taman yang terawat.
dibuktikan dengan bentuk pagar dan taman yang kurang terawat.
Berdasarkan tabel 4.3, Perumahan Taman Anggrek Setiabudi cenderung menerapkan aspek target hardening namun meniadakan aspek membangun lingkungan yang rapi dan bersih. Sedangkan Perumahan Villa Resort Masdulhak Garden cenderung memaksimalkan aspek membangun lingkungan yang rapi dan bersih dan hampir mengikuti semua semua aspek target hardening.
d. Safe Area
Tabel 4.4
Perbandingan pada aspek safe area Perumahan Vlla Resort
Masdulhak Garden
Perumahan Taman Anggrek Setiabudi Menerapkan visualisasi yang
tidak tertutupi
Menerapkan dead zone
Sirkulasi kurang optimal
Pedestrian belum diterapkan dengan baik sehingga dikhawatirkan keadaan saling
Menerapkan visualisasi yang tidak tertutupi
Tidak menerapkan dead zone
Sirkulasi optimal namun masih terdapat wilayah yang belum dijangkau sirkulasi ini
Pedestrian belum diterapkan
semakin berkurang dikhawatirkan keadaan saling mengawasi lingkungan sekitar semakin berkurang
Berdasarkan tabel 4.4, kedua studi kasus menunjukan penerapan konsep yang hampir mengikuti teori yang digunakan. Perbedaannya terdapat pada penerapan dead zone dan penerapan sirkulasi yang baik. Kekurangan dari kedua studi kasus adalah minimnya penerapan pedestrian yang dikhawatirkan akan mengurangi pengawasan oleh para penghuni.
Perbandingan keseluruhan aspek-aspek territorialtiy natural surveillance, image and milie dan safe area diatas menunjukan bahwa kedua studi kasus telah menerapkan konsep yang sesuai dengan teori yang digunakan, meskipun masih belum mengikuti seluruh konteks teori yang digunakan. Perbedaan dari kedua studi kasus terlihat dari bagaimana perawatan yang dilakukan. Perumahan Villa Resort Masdulhak Garden cenderung memaksimalkan pemeliharaannya, sedangkan Perumahan Taman Anggrek Setiabudi hampir mengabaikan pemeliharaannya.
Dari studi kasus, penulis menyimpulkan bahwa Perumahan Villa Resort Masdulhak Garden lebih menerapkan penerapan unsur-unsur komunitas berpagar tipe tertutup daripada Perumahan Taman Anggrek Setiabudi. Alasan penulis adalah penerapan yang dilakukan pada Perumahan Villa Resort Masdulhak Garden bukan saja dari aspek teori namun juga dari aspek perawatannya. Berbeda
dengan Perumahan Taman Anggrek Setiabudi yang menerapkan aspek teori namun mengabaikan aspek perawatannya.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Defensible space dengan konsep territoriality, natural sruveillance, image and milieu dan safe zone merupakan salah satu metode untuk meningkatkan keamanan pada tempat tinggal. Pada saat ini khususnya di kota Medan, konsep ini diterapkan pada komunits berpagar tipe tertutup atau perumahan dengan konsep pagar pembatas yang mengelilingi wilayah perumahan tersebut.
Sebelumnya penulis telah menyinggung mengenai syarat-syarat yang harus dipenuhi unutk mencapai derajat keberhasilan komunitas berpagar. Oleh karena itu, berdasarkan studi yang telah dilkukan penulis menyimpulkan bahwa konsep defensible space merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi untuk meningkatkan tingkat keberhasilan komunitas berpagar.
Melalui studi kasus penulis mendapati bahwa penerapan unsur-unsur ini pada perumahan masih belum dilakukan secara maksimal karena masih terdapat beberapa kekurangan yang belum sesuai dengan teori yang digunakan. Maka dari itu penulis beranggapan bahwa tidak mengherankan apabila beberapa perumahan yang mengikuti konteks komunitas berpagar belum terisi penuh.
Berdasarkan studi yang dilakukan berdasarkan konsep territoriality, natural surveillance, image and milieu dan safe area, penulis mendapati persamaan dan perbedaan dalam penerapan pada studi kasus. Persamaan dari
kedua studi kasus adalah penerapan yang dilakukan hampir sesuai dengan teori yang digunakan. Perbedaannya adalah Perumahan Villa Resort Masdulhak Garden cenderung memaksimalkan pemeliharannya, sedangkan Perumahan Taman Anggrek Setiabudi cenderung mengabaikan pemeliharaan tersebut. Oleh karena itu, penulis menyimpulkan bahwa Perumahan Villa Resort Masdulhak Garden lebih baik dalam melakukan penerapan unsur-unsur komunitas berpagar tipe tertutup daripada Perumahan Taman Anggrek Setiabudi. Alasan penulis adalah penerapan yang dilakukan pada Perumahan Villa Resort Masdulhak Garden bukan saja dari aspek teori namun juga dari aspek perawatannya.
B. Saran
Konsep defensible space diatas hanyalah salah satu solusi untuk meningkatkan keamanan hunian, karena untuk mencapai derajat keamanan yang sempurna bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Yang bisa dilakukan saat ini hanyalah memaksimalkan penerapan teori yang telah teruji kebenarannya pada desain bangunan yang sebenarnya.
Sebenarnya masih banyak indikator-indikator yang harus dipenuhi untuk menciptakan desain hunian yang aman dari tindak kriminalitas yang tidak penulis sampaikan pada tulisan ini, karena penulis menyadari terdapat keterbatasan pada diri penulis.
Penulis berharap dikemudian hari akan ada penelitian dan pengkajian yang lebih mendalam mengenai syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk menciptakan hunian yang aman dari tindakan kriminalitas yang bisa diterapkan pada desain
adanya panduan pelaksanaan desain perancangan hunian untuk menghalangi tindakan kriminalitas di indonesia khususnya di kota Medan.
DAFTAR PUSTAKA
Aziz, R., F. 2008. Fenomena Gated Community. Skripsi. Departemen Arsitektur Universitas Indonesia. Depok.
Blakely and Snyder In Nan Ellin, “Architecture Of Fear”, 1997, Princeton Architectural Press, New York, p.89.
Brantingham, P. J., and P. L. Brantingham. 1993. ‘Nodes, Paths and Edges:
Considerations on the Complexity of Crime and the Physical Environment.
Journal of Environmental Psychology 13: 3–28.
Brantingham, P. J., and P. L. Brantingham. 2008. Crime Pattern Theory. In Environmental Criminology and Crime Analysis, edited by R. Wortley and L. Mazerolle, 78–93. Cullompton, UK: Willan.
Cozens, P., M, co. 2005. Crime prevention through environmental desaign (CPTED): a riview and modern bibliography. Property Management 23(5): 328-356.
Crowe, T. 2000. Crime Prevention Through Environmental Design: Applications of Architectural Design and Space Management Concepts, 2nd ed.
Butterworth-Heinemann. Oxford.
Fortress America: Gated Communities in the United States (Washington, D.C.:
Brookings Institution, 1997). In Blakely, E.J., and M.G. Snyder. (1998).
"Separate places: Crime and security in gated communities." In: M. Felson and R.B. Peiser (eds.), Reducing crime through real estate development and management, pp. 53-70. Washington, D.C.: Urban Land Institute.
Hendrawan, F. 2012. Analisis SWOT Teknik Situation Crime Prevention Pada Kawasan Perumahan Industri PT Chevron Pacific Indonesia di Duri Residential Industri Area. Skripsi. Departemen Kriminologi Universitas Indonesia. Depok.
Newman, O. 1996. Creating Defensible Space. Washington, DC: US Department of Housing and Urban Development Office of Policy Development and Research.
Jacobs, Jane. “the death and Life of great American cities”. 1993. The modern Library. NewYork.
Jeffery, C. 1971. Crime Prevention through Environmental Design. Beverly Hills, CA: Sage.
Mann, Stephanie, and M.C. Blakeman. 1993. Safe Home Safe Neighbourhoods:
Stopping Crime Where You Live, Berkeley: Noto Press.
O’Block, Robert L. 1981. Security and Crime Prevention. St. Louis: The C.V.
Mosby Company.
Peter Calthorpe, Andres Duany &, Elizabeth Plater-Zyberk. 2000. The rise of sprawl suburban and the decline of nation. North Point Press. New York.
Sudiadi, Dadang. 2003. DEFENSIBLE SPACE : Operasionalisasi Model Pencegahan Kejahatan Secara Kolektif di Perumahan. Jurnal Kriminologi Indonesia 3(1): 63-74.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 tahun 2011 Pasal 1. Rumah Susun.
10 November 2011. Jakarta.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 21 tahun 2011 Pasal 1. Rumah Susun.
10 November 2011. Jakarta.
Welsh, B. and Farrington, D. 2002. Crime Prevention Effects of Closed Circuit Television: A Systematic Review. Home Office Research Study Number 252, Home Office. London.
www.google.com https://id.wikipedia.org/
LAMPIRAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA