• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.7 Pengujian Aktivitas Antioksidan Menggunakan Metode Penangkapan Radikal

3.7.9 Analisis Persen Pemerangkapan Radikal Bebas DPPH

Menurut Molyneux (2004), penentuan persen pemerangkapan radikal bebas oleh ekstrak buah jambu dengan vitamin C sebagai kontrol positif, menggunakan metode pemerangkapan radikal bebas 1,1- diphenyl-2-picryhydrazil (DPPH), yaitu dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Aktivitas pemerangkapan radikal bebas (%) = 𝐴 𝑘𝑜𝑛𝑡𝑟𝑜𝑙−𝐴 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

𝐴 𝑘𝑜𝑛𝑡𝑟𝑜𝑙 𝑥 100 % Keterangan: A kontrol = Absorbansi tidak mengandung sampel

A sampel = Absorbansi sampel 3.7.10 Analisis nilai IC50

Data antioksidan pada radikal DPPH (% penghambatan) sampel esktrak buah jambu dianalisis dan dihitung nilai IC50. Semakin kecil nilai IC50 berarti aktivitas antioksidan semakin kuat. Pada penelitian ini nilai IC50 dianalisis dan dihitung menggunakan persamaan regresi linear.

Data % hambatan dan konsentrasi larutan digunakan untuk mencari nilai IC50 dengan persamaan regresi linear y = ax + b, dimana y adalah % hambat 50 (senilai 50) dan x adalah nilai IC50.

Nilai IC50 merupakan konsentrasi efektif ekstrak yang dibutuhkan untuk meredam 50% dari total DPPH, sehingga nilai 50 disubstitusikan untuk nilai y.

Setelah mensubstitusikan nilai 50 pada nilai y, akan didapat nilai x sebagai nilai IC50 (Tristantini dkk., 2016).

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Identitas Tanaman

Hasil identifikasi tumbuhan yang dilakukan di Herbarium Medanense Universitas Sumatera Utara menyebutkan bahwa tumbuhan yang digunakan merupakan tumbuhan jambu biji (Psidium guajava.), famili M yrtaceae. Hasil identifikasi tumbuhan dapat dilihat pada Lampiran 1.

4.2 Karakterisasi Simplisia

Hasil karakterisasi simplisia tumbuhan dapat dilihat pada Tabel 4.1 – 4.3.

Tabel 4.1 Hasil Pemeriksaan karakteristik Serbuk Simplisia Jambu Biji

No. Parameter (%)

1. Kadar air 8,67

2. Kadar sari larut air 55,31

3. Kadar sari larut etanol 29,48

4. Kadar abu 7,46

5. Kadar abu tidak larut asam 2,37

Tabel 4.2 Hasil Pemeriksaan karakteristik Serbuk Simplisia Jambu Biji Kristal

No. Parameter (%)

1. Kadar air 7,99

2. Kadar sari larut air 57,03

3. Kadar sari larut etanol 29,61

4. Kadar abu 7,12

5. Kadar abu tidak larut asam 2,27

Tabel 4.3 Hasil Pemeriksaan karakteristik Serbuk Simplisia Jambu Biji Merah

No. Parameter (%)

1. Kadar Air 9,33

2. Kadar sari larut air 57,26

3. Kadar sari larut etanol 30,38

4. Kadar abu 7,45

5. Kadar abu tidak larut asam 2,01

Berdasarkan Tabel 4.1 sampai Tabel 4.3, didapatkankadar air simplisia Jambu Biji, Jambu Biji Kristal dan Jambu Biji Merah yang diperoleh pada penelitian ini yaitu 8,67%; 7,99% dan 9,33% lebih kecil dari 10% yang sudah memenuhi syarat. Kadar air yang melebihi 10% dapat menyebabkan ketidakstabilan sediaan obat serta menjadi media pertumbuhan yang baik untuk jamur atau serangga dan mikroba lainnya (WHO, 1992).

Kadar sari larut air yang diperoleh Jambu Biji, Jambu Biji Kristal dan Jambu Biji Merah sebesar 55,31%; 57,03%dan7,26% dan kadar sari larut etanol sebesar 29,48%; 29,61%; 30,38%. Penetapan kadar sari larut air untuk mengetahui kadar senyawa yang bersifat polar dalam simplisia dan kadar sari larut etanol untuk mengetahui kadar senyawa yang bersifat polar dan nonpolar (Ditjen POM, 1995).

Kadar abu total yang dioperoleh Jambu Biji, Jambu Biji Kristal dan Jambu Biji Merah sebesar 7,46%; 7,12%dan7,45%dan kabar tidak larut dalam asam sebesar 2,37%; 2,27% dan 2,01%. Penetapan kadar abu untuk mengetahui kandungan mineral yang terdapat di dalam simplisia, serta senyawa anorganik yang tersisa selama pembakaran. Kadar abu tidak larut asam untuk menunjukkan jumlah silikat, khususnya pasir yang terdapat pada simplisia. Perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 7 (WHO, 1992).

4.2.1 Skrining Fitokimia

Hasil skrining fitokimia simplisia buah jambu diketahui bahwa mengandung golongan senyawa kimia yang dapat dilihat pada Tabel 4.4.

Tabel 4.4 Hasil skrining fitokimia

No. Metabolit Sekunder Simplisia

1. Alkaloid -

2. Flavonoid +

3. Saponin -

4. Tanin +

5. Steroid/Triterpenoid +

Keterangan: (+) positif = mengandung golongan senyawa (-) negatif = tidak mengandung golongan senyawa Hasil yang diperoleh dari skrining fitokimia menunjukkan bahwa simplisia jambu biji mengandung golongan senyawa flavonoid, terpenoid dan tannin. Tanin berperan sebagai antioksidan karena kemampuannya dalam menstabilisasi fraksi lemak dan aktivitasnya dalam menghambat lipoksigenase (Tristantini dkk., 2016).

4.3 Aktivitas Antioksidan

4.3.1 Penentuan Panjang Gelombang Serapan Maksimum

Hasil pengukuran panjang gelombang serapan maksimum larutan DPPH 40 µg/ml dalam pelarut methanol menghasilkan serapan maksimum pada panjang gelombang 516 nm. Panjang gelombang 516 nm yang diperoleh, termasuk salah satu dalam kisaran panjang gelombang sinar tampak yaitu 400–800 nm. Hasil pengukuran panjang gelombang maksimum dapat dilihat pada Gambar 4.1.

Gambar 4.1 Kurva Absorbansi Larutan DPPH Menggunakan Spektrofotometer

4.3.2 Penentuan Operating Time

Penentuan operating time bertujuan untuk mengetahui waktu pengukuran yang stabil. Hasil penentuan operating time diperoleh waktu kerja terbaik adalah pada menit ke 30 setelah penambahan pelarut metanol. Data spektro hasil penentuan operating time dapat dilihat pada Lampiran 11.

4.3.3 Persamaan Regresi

Persamaan regresi didapatkan dari data pengukuran kurva kalibrasi larutan uji sampel dan vitamin C pada masing-masing konsentrasi sehingga diperoleh nilai absorbansi setiap sampel. Perhitungan data hasil persamaan regresi setiap sediaan yang menunjukkan aktivitas antioksidan dapat dilihat pada Lampiran 9 dan perhitungan data hasil persamaan regresi vitamin C yang menunjukkan aktivitas antioksidan dapat dilihat pada Lampiran 10.

4.3.4 Aktivitas Antioksidan Sampel Uji

Hasil analisis aktivitas antioksidan ekstrak buah jambu biji, jambu biji merah dan jambu biji kristal menunjukkan bahwa kenaikan konsentrasi sampel uji menyebabkan terjadinya penurunan nilai absorbansi. Data dapat dilihat pada Lampiran 8. DPPH menerima elektron atau radikal hidrogen akan membentuk molekul diamagnetik yang stabil. Interaksi antioksidan dengan DPPH baik secara transfer elektron atau radikal hidrogen pada DPPH, akan menetralkan radikal bebas dari DPPH. Adanya aktivitas antioksidan dari sampel mengakibatkan perubahan warna pada larutan DPPH dalam metanol yang semula berwarna violet pekat menjadi kuning pucat. Warna larutan berubah dari ungu tua menjadi kuning terang dan absorbansi pada panjang gelombang 516 nm akan hilang jika semua

elektron pada radikal bebas DPPH menjadi berpasangan (Molyneux, 2004). Data spektro hasil analisis sampel uji dapat dilihat pada Lampiran 12.

Gambar 4.2 Kurva Kalibrasi Peredaman DPPHoleh Ekstrak jambu Biji Kristal

Gambar 4.3 Kurva Kalibrasi Peredaman DPPHoleh Ekstrak jambu Biji Merah

4.3.5 Nilai IC50 (Inhibitory Concentration)

Nilai IC50diperoleh berdasarkan perhitungan persamaan regresi dengan cara memplot konsentrasi larutan uji dengan persen peredaman DPPH sebagai parameter aktivitas antioksidan, konsentrasi sampel (µg/ml) sebagai absis (sumbu X) dan nilai absorbansi sebagai ordinat (sumbu Y). Persentase inhibisi ini didapatkan dari perbedaan serapan antara absorban DPPH dengan absorban sampel yang diukur dengan spektrofotometer UV-Vis. Besarnya aktivitas antioksidan ditandai dengan nilai IC50, yaitu konsentrasi larutan sampel yang dibutuhkan untuk menghambat 50 % radikal bebas DPPH (Wahdaningsih, dkk, 2011). Perhitungan analisis nilai IC50dan regresi pada uji aktivitas antioksidan ekstrak etanol ketiga jenis jambu dapat dilihat pada Lampiran 9.

Tabel 4.5Hasil persamaan regresi dan nilai IC50sampel uji dan pembanding Larutan Uji Persamaan regresi Nilai IC50 Ekstrak Etanol Jambu Biji Y = 0,1360X + 3,066 59,63µg/ml Ekstrak Etanol Jambu Biji Merah Y = 0,795618X + 4,70698 56,92 µg/ml Ekstrak Etanol Jambu Biji Kristal Y = 0,805212X + 0,0504 62,03 µg/ml

Vitamin C Y = 11,251X + 0,04 4,44 µg/ml

Dari Tabel 4.5, diperoleh bahwa ekstrak etanol jambu biji, jambu biji merah dan jambu biji kristal dengan nilai IC50 sebesar 59,63; 56,92 dan 62,03 µg/ml yang termasuk dalam kategori kuat. Dimana kategori nilai IC50 sangat kuat (<50), kuat (50-100), sedang (100-250), lemah (250-500) dan tidak aktif (>500) (Tristantini dkk., 2016).

Sedangkan vitamin C dengan nilai IC50 sebesar 4µg/ml memiliki aktivitas antioksidan dalam kategori sangat kuat, perhitungan dapat dilihat pada Lampiran

10. Hal ini dikarenakan vitamin C merupakan senyawa murni sedangkan ekstrak sampel uji masih berupa campuran beberapa senyawa. Nilai IC50 berbanding terbalik dengan kemampuan senyawa menangkap radikal DPPH, semakin kecil IC50 maka semakin besar kemampuan senyawa untuk menangkap radikal bebas.

Kemampuan larutan ekstrak dalam menangkap radikal bebas DPPH dilihat dari berkurangnya intensitas warna ungu dari larutan DPPH setelah ditambahkan sampel. Pengurangan intensitas warna tersebut disebabkan oleh bereaksinya molekul radikal DPPH (1,1 difenil-2-pikrilhidrazil) dengan satu atom hidrogen yang dilepaskan oleh sampel, sehingga terbentuk senyawa DPPH tereduksi yaitu 1,1 difenil-2-pikrilhidrazil yang berwarna kuning stabil (Mailandari, 2012).

Dalam uji diatas dapat dilihat bahwa nilai IC50 paling rendah (kuat) adalah pada ekstrak jambu biji merah. Semakin merah warna yang ditimbulkan maka semakin tinggi kadar flavonoid yang terkandung ddidalamnya. Hal ini terjadi karena semakin tinggi kadar flavonoid maka molekul-molekul yang terdapat pada ekstrak tumbuhan semakin banyak sehingga molekul yang akan menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu juga semakin banyak. Dengan demikian mengakibatkan nilai absorbansi semakin tinggi. Kadar flavonoid dan senyawa fenolik lain di dalam tanaman berbeda-beda di antara setiap bagian, jaringan, dan umur tanaman, serta dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan.

Faktor-faktor ini adalah temperatur, sinar ultraviolet dan tampak, nutrisi, ketersediaan air, dan kadar CO2 pada atmosfer (Mailandari, 2012).

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan:

a. Diperoleh bahwa terdapat senyawa bersifat antioksidan pada ekstrak etanol buah jambu biji, jambu biji Kristal dan jambu biji merah. Dengan nilai IC50 masing-masing adalah 59,63; 62,03 dan 56,92 ppm.

b. Hasil pengujian aktivitas antioksidan ekstrak etanol jambu biji, jambu biji Kristal dan jambu biji merah menunjukkan aktivitas antioksidan kategori kuat dibanding dengan nilai IC50 vitamin C sebesar 4,44 µg/ml yang menunjukkan aktivitas antioksidan kategori sangat kuat.

5.2 Saran

Disarankan untuk peneliti selanjutnya untuk melakukan pengujian aktivitas antioksidan dengan menggunakan metode lain seperti FRAP.

DAFTAR PUSTAKA

Budilaksono, W., Wahdaningsih, S., Fahrurroji, A. 2014. Uji aktivitas antioksidan fraksi N-Heksana kulit buah naga merah (Hylocereus lemairei Britton dan Rose) menggunakan metode DPPH (1,1 – Difenil – 2 - Pikrilhidrazil).

Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN. 1(1): 1-2.

Clarkson, P.M., Thompson, H.S. 2000. Antioxidants: what role do they play in physical activity amd health?. Am J Clin Nutr. 72(2): 637S-639S.

Coky, N.W.C., Diarini, A.S., Adiluhur, M.A., Oka, M., Dewantari., A.A.I.S.H., Laksmiani, N.P., dkk. 2014. Uji aktivitas mengkelat logam dari ekstrak etanol bekatul beras hitam dengan metode Ferrous Ion Chelating (FIC).

Jurnal Farmasi Udayana. 3(1): 26-27.

Ditjen POM., DPOT. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat.

Cetakan Pertama. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 5, 10, 11.

Ditjen POM. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi Keempat. Cetakan Pertama.

Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 1131-1136.

Djanis, R.L., Hanafi. 2009. Aktivitas antioksidan selama pematangan buah jambu

biji (Psidium guajava L). WARTA AKAB.

https://studylibid.com/doc/116940/aktivitas-antioksidan-selama-pematangan-buah-jambu-biji. [diakses tanggal 6 Oktober 2019]. Halaman 12-13.

Hamid, A.A., Aiyelaagbe, O.O., Usman, L.A., Ameen, O.M., Lawal, A. 2010.

Antioxidants: Its medicinal and pharmacological applications. Afr. J. Pure Appl. Chem. Halaman 142-143.

Hanani, E., Mun’im, A., Sekarini, R. 2005. Identifikasi senyawa antioksidan dalam spons Callyspongia Sp dari kepulauan seribu. Majalah Ilmu Kefarmasian. 2(3): 127-128.

Handajani, A., Roosihermiatie, B., Maryani, H. 2010. Faktor-faktor yang berhubungan dengan pola kematian pada penyakit degeneratif di Indonesia. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan. 13(1): 42.

Hapsoh, Hasanah, Y. 2011. Budidaya Tanaman Obat dan Rempah. Medan: USU Press. Halaman 17-19.

Herbarium Medanense. 2019. Hasil Identifikasi Tumbuhan. Nomor 4097/MEDA/2019. Herbarium Medanense (MEDA). Universitas Sumatera Utara.

Herbarium Medanense. 2019. Hasil Identifikasi Tumbuhan. Nomor 4098/MEDA/2019. Herbarium Medanense (MEDA). Universitas Sumatera Utara.

Herbarium Medanense. 2019. Hasil Identifikasi Tumbuhan. Nomor 4099/MEDA/2019. Herbarium Medanense (MEDA). Universitas Sumatera Utara.

Kuncahyo, I., Sunardi. 2007. Uji aktivitas antioksidan ekstrak belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi, L.) terhadap 1,1 – Diphenyl-2 (DPPH).

Seminar Nasional Teknologi 2007 (SNT 2007). Halaman 2-3.

Lampe, J.W. 1999. Health effects of vegetables and fruit: Assessing mechanisms of action in human experimental studies. Am J Clin Nutr. 70(3): 477-478.

Mailandari, M. 2012. Uji aktivitas antioksidan ekstrak daun Garcinia kydia Roxb.

dengan metode DPPH dan identifikasi senyawa kimia fraksi yang aktif.

Skripsi. Fakultas Ilmu Matematika dan Pengetahuan Alam. Program Studi Ekstensi Farmasi. Universitas Indonesia. Depok.

Marliani, L., Kusriani, H., Sari, N.I. 2014. Aktivitas antioksidan daun dan buah jamblang (Syzingium cumini L.) Skeel. Prosiding SNaPP2014. 4(1): 201-203.

Maryam, St., Pratama, R., Effendi, N., Naid, T. 2015. Analisis aktivitas antioksidan ekstrak etanolik daun yodium (Jatropha multifida L.) dengan metode Cupric Ion Reducing Capacity (CUPRAC). Jurnal Fitofarmaka Indonesia. 2(1): 90-91.

Molyneux, P. 2004. The use of the stable free radical diphenylpicryl-hydrazyl (DPPH) for estimating antioxidant activity. Songklanakarin Journal Science Technology. 26(2): 211-219.

Muchtaridi., Subarnas, A., Indrayati, N. 2006. Aktivitas antioksidan proantosianidin dari akar pakis (Polypodium feei METT) secara in vitro.

Jurnal Artocarpus Media Pharm. 5(2): 3.

Mustikaningrum, M. 2015. Aplikasi metode spektrofotometri visibel Genesys-20 untuk mengukur kadar curcuminoid pada temulawak (Curcuma xanthorrhiza). Tugas Akhir. Program Studi Diploma III Teknik Kimia.

Program Diploma Fakultas Teknik. Universitas Diponegoro. Semarang.

Nugraha, A.T., Firmansyah, M.S., Jumaryatno, P. 2017. Profil senyawa dan antioksidan daun yakon (Smallanthus sonchifolius) dengan metode DPPH dan Cuprac. Jurnal Ilmiah Farmasi. 13(2): 14-16.

Pezzuto, J., Park, E.J. 2007. Autoxidation and Antioxidants. Encyclopedia of Pharmaceutical Technology. Halaman 139-140.

Putri, D.A. 2014. Pengaruh metode ekstraksi dan konsentrasi terhadap aktivitas jahe merah (Zingiber officinale var rubrum) sebagai antibakteri Escherichia coli. Skripsi. Program Studi Pendidikan Kimia. Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan. Universitas Bengkulu. Bengkulu.

Putri, N.K.M., Gunawan, I.W.G., Suarsa, I.W. 2015. Aktivitas antioksidan antosianin dalam ekstrak etanol kulit buah naga super merah (Hylocereus costaricensis) dan analisis kadar. Jurnal Kimia. 9(2): 244.

Putro, W. 2013. Daya peredam radikal bebas ekstrak etanol buah pepino putih dan ungu (Solanum muricatum Aiton var putih dan ungu) terhadap DPPH (1,1-Diphenyl-2-Picrylhydrazyl). Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya. 2(2): 1-2.

Ramayulis, R. 2013. Jus Super Ajaib. Jakarta Timur: Penebar Plus. Halaman 30-33.

Tristantini, D., Ismawati, A., Pradana, B.T., Jonathan, J.G. 2016. Pengujian aktivitias antioksidan menggunakan metode DPPH pada daun tanjung (Mimusops elengi L.). Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia

“Kejuangan”. Pengembangan Teknologi Kimia untuk Pengolahan Sumber Daya Alam Indonesia. Yogyakarta, 17 Maret 2016. Prodising. Yogyakarta:

FTI UPN Veteran Yogyakarta. Halaman 1-3.

Vaya, J., Aviram, M., 2001. Nutritional antioxidants: Mechanisms of action, analyses of activities and medical applications. Curr. Med. Chem.-Imm, Endoc. &Metab. Agents. 1(1): 100-102.

Wahdaningsih, S., Setyowati, E.P., Wahyuono, S. 2011. Aktivitas penangkap radikal bebas dari batang pakis (Alsophila glauca J. Sm). Majalah Obat Tradisional. 16(3): 156-160.

WHO. 1992. Our planet, Our Health. Report of the WHO Comission on Health and Environment. World Health Organization. Geneva. Halaman 8-10.

Yefrida, Ashikin, N., Refilda. 2015. Validasi metoda FRAP modifikasi pada penentuan kandungan antioksidan total dalam sampel mangga dan rambutan. J. Ris. Kim. 8(2): 170-171.

Lampiran 1.Surat Hasil Identifikasi Tumbuhan

Lampiran 2.Simplisia Jambu

(a) Jambu Biji Kristal (b) Jambu Biji dan Jambu Biji Merah Gambar 1. Simplisia Jambu Biji, jambu Biji Merah dan Jambu Biji Kristal

Lampiran 3. Larutan Sampel

Gambar 2. Larutan Uji dengan berbagai konsentrasi

Gambar 3. Larutan Induk Baku 1000 ppm

Lampiran 4. Gambar Alat

Gambar 4. Rotary Evaporator

Gambar 5. Spektrofotometer UV-Vis

Lampiran 5. Gambar Buah Jambu

a. Jambu Biji Merah b. Jambu Biji

c. Jambu Biji Kristal

Gambar 6. Buah Jambu Biji, Jambu Biji Merah dan Jambu Biji Kristal.

Lampiran 6. Bagan kerja penelitian

Lampiran 7. Hasil perhitungan karakterisasi simplisia

1. Penetapan Kadar Air Kadar Air Jambu Biji

Kadar Air Jambu Biji Kristal

No. Berat sampel (g) Volume awal (ml) Volume akhir (ml)

Lampiran 7. (lanjutan)

Kadar Air Jambu Biji Merah

No. Berat sampel (g) Volume awal (ml) Volume akhir (ml)

2. Penetapan Kadar Sari Larut Dalam Air

Penetapan Kadar Sari Larut Dalam Air Jambu Biji No. Berat sampel (g) Berat sari (g)

% Kadar sari larut air= berat abu (g)

berat sampel (g)×100%

Penetapan Kadar Sari Larut Dalam Air Jambu Biji Kristal

Penetapan Kadar Sari Larut Dalam Air Jambu Biji Merah No. Berat sampel (g) Berat sari (g)

% Kadar sari larut air= berat abu (g)

berat sampel (g)×100%

% Kadar sari larut air= berat abu (g)

berat sampel (g)×100%

3. Penetapan Kadar Sari Larut Dalam Etanol

Penetapan Kadar Sari Larut Dalam Etanol Jambu Biji No. Berat sampel (g) Berat sari (g)

% rata–rata kadar sari larut etanol = 33,27% + 23,99% + 31,18%

3 = 29,48%

Penetapan Kadar Sari Larut Dalam Etanol Jambu Biji Kristal No. Berat sampel (g) Berat sari (g)

% rata–rata kadar sari larut etanol = 32,27% + 25,58% + 29,98%

3 = 29,61%

Lampiran 7. (lanjutan)

% Kadar sari larut etanol= berat abu (g)

berat sampel (g)×10020 ×100%

% Kadar sari larut etanol= berat abu (g) berat sampel (g)×100

20 ×100%

Penetapan Kadar Sari Larut Dalam Etanol Jambu Biji Merah

% rata–rata kadar sari larut etanol = 32,19% + 27,78% + 31,17%

3 = 30,38%

4. Penetapan Kadar Abu Total

Penetapan Kadar Abu Total Jambu Biji No. Berat sampel (g) Berat abu (g)

% Kadar sari larut etanol= berat abu (g) berat sampel (g)×100

20 ×100%

% Kadar abu total = berat abu (g)

berat simplisia (g)×100%

Penetapan Kadar Abu Total Jambu Biji Kristal

Penetapan Kadar Abu Total Jambu Biji Merah No. Berat sampel (g) Berat abu (g)

5. Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Asam

Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Asam Jambu Biji No. Berat sampel (g) Berat sari (g)

Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Asam Jambu Biji Kristal No. Berat sampel (g) Berat sari (g)

% Kadar abu tidak larut dalam asam= berat abu (g)

berat sampel (g)×100%

% Kadar abu tidak larut dalam asam= berat abu (g)

berat sampel (g)×100%

Lampiran 7. (lanjutan)

Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Asam Jambu Biji Merah No. Berat sampel (g) Berat sari (g)

1. 2,047 0,039

2. 2,033 0,035

3. 2,051 0,049

1. Kadar abu tidak larut asam I = 0,039

2,047×100% = 1,91%

2. Kadar abu tidak larut asam II = 0,035

2,033×100% = 1,72%

3. Kadar abu tidak larut asam III = 0,049

2,051×100% =2,39%

% rata–rata kadar abu tidak larut asam = 1,91% + 1,72% + 2,39%

3 =

2,01%

% Kadar abu tidak larut dalam asam= berat abu (g)

berat sampel (g)×100%

Lampiran 8. Pengujian Aktivitas Antioksidan

Pengujian Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Jambu Biji

Pengujian Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Jambu Biji Kristal Konsentrasi

(ppm)

Absorbansi

Pengukuran Ke - % Perendaman Rata-rata

Pengujian Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Jambu Biji Merah Konsentrasi

(ppm)

Absorbansi

Pengukuran Ke - % Perendaman Rata-rata

Pengukuran Ke - % Perendaman Rata-rata

Aktivitas Peredaman (%) = Akontrol-Asampel

Akontrol ×100%

Lampiran 9. Perhitungan Nilai IC50

Perhitungan nilai IC50 ekstrak etanol jambu biji

X Y XY X2 Y2

√[(12905.79) - (250)2/5][(15522.98) – (212.0835)2/5]

r2 = 0,9908

Jadi, persamaan garis regresi Y = 0,7870X – 3,066 Nilai IC50 = Y = 0,7870X + 3,066

50 = 0,7870X – 3,066 X = 59,64 µg/ml

Lampiran 9. (lanjutan)

Perhitungan nilai IC50 ekstrak etanol jambu biji kristal

X Y XY X2 Y2

Jadi, persamaan garis regresi Y = 0,805212X + 0,0504 Nilai IC50 = Y = 0,805212X + 0,0504

50 = 0,805212X + 0,0504 X = 62,0329 µg/ml

Lampiran 9. (lanjutan)

Perhitungan nilai IC50 ekstrak etanol jambu biji merah

X Y XY X2 Y2

√[(13911.5) - (250)2/5][(16094.59) – (44.48788)2/5]

r2 = 0,9974

Jadi, persamaan garis regresi Y = 0,795618X + 4,70698 Nilai IC50= Y = 0,795618X + 4,70698

50 = 0,795618X + 4,70698 X = 56,928 µg/ml

Lampiran 10. Pengujian Aktivitas Antioksidan Vitamin C Sebagai Pembanding Data nilai rata–rata persen peredaman vitamin C

Konsentrasi larutan

Perhitungan nilai IC50 vitamin C

X Y XY X2 Y2

Jadi, persamaan garis regresi Y = 11,251X + 0,04 Nilai IC50 = Y = 11,251X + 0,04

50 = 11,251X + 0,04 X = 4,44 µg/ml

Lampiran 11. Data Spektro Operating Time

Lampiran 11. (lanjutan)

Lampiran 12. Data Spektro Pengukuran Sampel

Lampiran 12. (lanjutan)

Lampiran 12. (lanjutan)

Lampiran 13. Data Spektro Pengukuran Vitamin C

Dokumen terkait