BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.8 Spektrofotometer UV-Vis
Spektrofotometri sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri dari spektrometer dan fotometer. Spektrofotometer menghasilkan sinar dari spectrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorbsi. Jadi spektrofotometer digunakan untuk mengukur energy relatif jika energy tersebut ditransmisikan, direfleksikan atau diemisikan sebagai fungsi panjang gelombang. Kelebihan spektrofotometer
dengan fotometer adalah panjang gelombang dari sinar putih dapat lebih di deteksi dan cara ini diperoleh dengan alat pengurai seperti prisma, grating atau celah optis. Pada fotometer filter dari berbagai warna yang mempunyai spesifikasi melewatkan trayek pada panjang gelombang tertentu (Mustikaningrum, 2015).
Spektrum elektromagnetik dibagi dalam beberapa daerah cahaya. Suatu daerah akan diabsorbsi oleh atom atau molekul dan panjang gelombang cahaya yang diabsorbsi dapat menunjukan struktur senyawa yang diteliti. Spektrum elektromagnetik meliputi suatu daerah panjang gelombang yang luas dari sinar gamma gelombang pendek berenergi tinggi sampai pada panjang gelombang mikro. Spektrum absorbsi dalam daerah-daerah ultra ungu dan sinar tampak umumnya terdiri dari satu atau beberapa pita absorbsi yang lebar, semua molekul dapat menyerap radiasi dalam daerah UV-tampak. Oleh karena itu mereka mengandung electron, baik yang dipakai bersama atau tidak, yang dapat dieksitasi ke tingkat yang lebih tinggi. Panjang gelombang pada waktu absorbsi terjadi tergantung pada bagaimana erat elektron terikat di dalam molekul. Elektron dalam satu ikatan kovalen tunggal erat ikatannya dan radiasi dengan energy tinggi, atau panjang gelombang pendek, diperlukan eksitasinya (Mustikaningrum, 2015).
Keuntungan utama metode spektrofotometri adalah bahwa metode ini memberikan cara sederhana untuk menetapkan kuantitas zat yang sangat kecil.
Selain itu, hasil yang diperoleh cukup akurat, dimana angka yang terbaca langsung dicatat oleh detector dan tercetak dalam bentuk angka digital ataupun grafik yang sudah diregresikan. Sedangkan untuk kekurangannya adalah absorbsi dipengaruhi oleh pH larutan, suhu dan adanya zat pengganggu dan kebersihan dari
kuvet.; hanya dapat dipakai pada daerah ultra violet yang panjang gelombang
>185nm dan sinar yang dipakai harus monokromatis (Mustikaningrum, 2015).
Komponen utama spektrofotometer menurut Mustikaningrum (2015).
yaitu:
a. Sumber sinar
Sumber sinar yang biasa digunakan pada spektroskopi absorbs adalah lampu wolfarm, deuterium lampu hidrogen. Lampu wolfarm digunakan untuk daerah visible (tampak) sedangkan untuk lampi hidrogen atau deuterium digunakan untuk sumber daerah UV.
b. Monokromator
Monokromator merupakan serangkaian alat optik yang menguraikan radiasi polikromatik dan berfungsi untuk memunculkan garis resonansi dari semua garis yang tidak diserap yang dipancarkan oleh sumber radiasi.
c. Sel sampel
Berfungsi sebagai tempat untuk meletakkan sampel menggunakan kuvet sebagai tempat untuk memasukkan sampel. Kuvet biasanya terbuat dari kuarsa atau gelas, namun kuvet dari kuarsa memiliki kualitas yang lebih baik.
d. Detektor
Peranan detector penerima adalah memberikan respon terhadap cahaya pada berbagai panjang gelombang. Detektor yang digunakan dalam UV–Vis disebut “detector fotolistrik”. Persyaratan–persyaratan penting untuk detektor meliputi:
a. Sensitivitas tinggi hingga dapat mendeteksi tenaga cahaya mempunyai tingkatan rendah sekalipun
b. Waktu respon pendek c. Stabilitas yang panjang
d. Sinar elektronik yang mudah diperjelas dan system pembacaan e. Penguat (Amplifier)
Berfungsi untuk memperbesar arus yang dihasilkan oleh detektor agar dapat dibaca oleh indikator.
f. Indikator dapat berupa: rekorder dan computer.
BAB III
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif di Laboratorium Fitokimia dan Laboratorium Penelitian Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara meliputi pengumpulan dan preparasi sampel bahan tanaman, skrining fitokimia, dan pengujian aktivitas antioksidan dengan metode DPPH.
3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: alat-alat gelas yang diperlukan dalam penelitian, batang pengaduk, blender, cawan penguap, flakon tertutup, hot plate, kertas aluminium foil, kertas saring, kertas kuvet, neraca analitik (Mettler Toledo), penyaring vakum, oven (Memmert), spatula, spektrofotometer UV-Vis (Shimadzu), dan tabung reaksi.
3.1.2 Bahan
Bahan tumbuhan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Jambu Biji, Jambu Biji Merah dan Jambu Biji Kristal, 2,2-diphenyl-1-picryl-hydrazil (DPPH), air suling, alfa naftol, amil alkohol, asam asetat anhidrat, asam klorida pekat, asam nitrat pekat, asam sulfat pekat, besi (III) klorida, bismuth nitrat, etanol 96%, etilasetat, iodium, isopropanol, kaliums iodida, kloralhidrat, kloroform, methanol pro analisis, natrium hidroksida, natrium klorida, raksa (II) klorida, serbuk magnesium, timbal (II) asetat.
3.2 Penyiapan Sampel
3.2.1 Pengumpulan Bahan Tumbuhan
Bahan tumbuhan yang digunakan adalah buah jambu yang masih segar.
Pengambilan sampel dilakukan secara sampling purposif, artinya sampel dipilih hanya atas dasar pertimbangan peneliti yang menganggap unsur-unsur yang dikehendaki telah ada dalam anggota sampel yang diambil. Sampel diambil dari daerah Talun Kenas, Deli Serdang, Sumatera Utara.
3.2.2 Identifikasi Tumbuhan
Identifikasi buah jambu dilakukan di Herbarium Medanense, Departemen Biologi FMIPA USU.
3.2.3 Pembuatan Simplisia
Buah jambu yang segar dikumpulkan dan dicuci dengan air, dipisahkan daging buah dari bijinya.Ditiriskan kemudian ditimbang sebagai berat basah.
Dikeringkan di lemari pengering hingga kering, kemudian ditimbang sebagai berat kering. Dihaluskan bahan dengan menggunakan blender. Dimasukkan simplisia dalam wadah plastik dan diikat, diberi etiket lalu disimpan di tempat kering terlindung dari sinar matahari.
3.3 Pembuatan Ekstrak
Pembuatan ekstrak dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Masukkan 10 bagian serbuk simplisia ke dalam wadah berwarna gelap, dituang 75 bagian etanol 96%, tutup dan dibiarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya sambil sering diaduk, serkai, peras, cuci ampas dengan etanol 96%
secukupnya hingga diperoleh 100 bagian. Pindahkan kedalam bejana tertutup,
biarkan ditempat sejukterlindung dari cahaya selama 2 hari, saring. Kemudian dipekatkan dengan alat rotary evaporator pada suhu ±40°C sampai diperoleh ekstrak kental (Ditjen POM, 1995).
3.4 Pembuatan larutan pereaksi 3.4.1 Pereaksi besi (III) klorida 1%
Sebanyak 1 g besi (III) klorida ditimbang, kemudian dilarutkan dalam air secukupnya hingga diperoleh larutan 100 ml (Ditjen POM, 1995).
3.4.2 Pereaksi timbal (II) asetat 0,4 M
Sebanyak 15,17 g timbal (II) asetat ditimbang, kemudian dilarutkan dalam air suling bebas karbon dioksida sebanyak 100 ml (Ditjen POM, 1995).
3.4.3 Pereaksi natrium hidroksida 2 N
Sebanyak 8 g kristal natrium hidroksida dilarutkan dengan air suling sebanyak 100 ml (Ditjen POM, 1995).
3.4.4 Pereaksi asam klorida 2 N
Sebanyak 17 ml larutan asam klorida pekat ditambahkan air suling hingga diperoleh larutan 100 ml (Ditjen POM, 1995).
3.4.5 Pembuatan Pereaksi DPPH 0,5 M
Sebanyak 20 mg DPPH ditimbang kemudian dilarutkan dalam metanol hingga diperoleh volume larutan 100 ml (konsentrasi 200 ppm (Molyneux, 2004).
3.4.6 Pereaksi asam sulfat 2 N
Sebanyak 5,5 ml larutan asam sulfat pekat ditambahkan air suling sampai 100 ml ((Ditjen POM, 1995).
3.4.7 Pereaksi Mayer
Sebanyak 1,4 g raksa (II) klorida dilarutkan dalam air suling hingga 60 ml pada wadah lain ditimbang sebanyak 5 g kalium iodida lalu dilarutkan dalam 10 ml air suling, kedua larutan dicampurkan dan ditambahkan air suling hingga diperoleh larutan 100 ml (Ditjen POM, 1995).
3.4.8 Pereaksi Mollish
Sebanyak 3 g α-naftol ditimbang, dilarutkan dalam asam nitrat 0,5 N hingga diperoleh larutan 100 ml (Ditjen POM, 1995).
3.4.9 Pereaksi Dragendorff
Sebanyak 0,8 g bismut (III) nitrat ditimbang, dilarutkan dalam 20 ml asam nitrat pekat, pada wadah lain ditimbang sebanyak 27,2 g kalium iodida, dilarutkan dalam 50 ml air suling, kemudian kedua larutan dicampurkan dan didiamkan sampai memisah sempurna. Larutan yang jernih diambil dan diencerkan dengan air suling hingga volume larutan 100 ml (Ditjen POM, 1995).
3.4.10 Pereaksi Bouchardat
Sebanyak 4 g kalium iodida ditimbang, dilarutkan dalam air suling secukupnya, lalu ditambahkan 2 g iodium kemudian ditambahkan air suling hingga diperoleh larutan 100 ml (Ditjen POM, 1995).
3.4.11 Pereaksi Liebermann-Burchard
Sebanyak 5 bagian volume asam sulfat pekat dicampurkan dengan 50 bagian volume etanol 95%, lalu ditambahkan dengan hati-hati 5 bagian volume asam asetat anhidrida ke dalam campuran tersebut dan didinginkan (Ditjen POM, 1995).
3.5 Pemeriksaan Karakterisisasi Simplisia 3.5.1 Penetapan Kadar Air
Penetapan kadar air dilakukan dengan metode Azeotropi. Alat terdiri dari labu alas bulat 500 ml, alat penampung dan pendingin, tabung penyambung dan penerima 10 ml, dan pemanas listrik.
a. Penjenuhan Toluen
Sebanyak 200 ml toluen dan 2 ml air suling dimasukkan kedalam labu alas bulat lalu dipasang alat penampung dan pendingin kemudian didestilasi selama 2 jam. Destilasi dihentikan dan dibiarkan dingin selama 30 menit, volume air dalam tabung penerima dibaca dengan ketelitian 0,05 ml.
b. Penetapan Kadar Air Simplisia
Sebanyak 5 g serbuk simplisia yang telah ditimbang seksama dimasukkan kedalam labu yang berisi toluen yang telah dijenuhkan lalu dipanaskan hati-hati selama 15 menit. Setelah toluen mendidih, kecepatan tetesan diatur 2 tetes untuk tiap detik sampai sebagian besar air terdestilai, kemudian kecepatan destilasi dinaikkan sampai 4 tetes tiap detik. Setelah semua air terdestilasi, bagian dalam pendingin dibilas dengan toluen. Destilasi dilanjutkan selama 5 menit kemudian tabung penerima dibiarkan mendingin pada suhu kamar. Setelah air dan toluena memisah sempurna, volume air dibaca dengan ketelitian 0,05 ml. Selisih kedua volume air yang dibaca sesuai dengan kandungan air yang terdapat dalam bahan yang diperiksa. Kadar air dihitung dalam persenv/b (WHO, 1992).
3.5.2 Penetapan Kadar Sari Larut Dalam Air
Sebanyak 5 g serbuk simplisia dimaserasi selama 24 jam dengan 100 ml air-kloroform (2,5 ml air-kloroform dalam air suling sampai 1 liter) dalam labu
bersumbat, dikocok sesekali selama 6 jam pertama, kemudian dibiarkan selama 18 jam, kemudian disaring. Sejumlah 20 ml filtrat diuapkan sampai kering dalam cawan penguap yang berdasar rata yang telah dipanaskan dan ditara. Sisa dipanaskan pada suhu 105oC sampai bobot tetap. Kadar dalam persen sari yang larut dalam air dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan (Ditjen POM, 1995).
3.5.3 Penetapan Kadar Sari Larut Dalam Etanol
Sebanyak 5 g serbuk simplisia dimaserasi selama 24 jam dalam 100 ml etanol 96% dalam labu bersumbat sambil dikocok sesekali selama 6 jam pertama, kemudian dibiarkan selama 18 jam. Kemudian disaring cepat untuk menghindari penguapan etanol. Sejumlah 20 ml filtrat diuapkann sampai kering dalam cawan penguap yang berdasar rata yang telat dipanaskan dan ditara. Sisa dipanaskan pada suhu 105oC sampai bobot tetap. Kadar dalam persen sari yang larut dalam etanol 96% dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan (Ditjen POM, 1995).
3.5.4 Penetapan Kadar Abu Total
Sebanyak 2 g serbuk simplisia dimasukkan dalam kurs porselin yang telah dipijar dan ditara, kemudian diratakan. Kurs dipijar perlahan-lahan sampai arang habis, pijaran dilakukan pada suhu 600oC selama 3 jam kemudian didinginkan dan ditimbang sampai diperoleh bobot tetap. Kadar abu dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan (Ditjen POM, 1995).
3.5.5 Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Dalam Asam
Abu yang diperoleh dalam penetapan kadar abu total dididihkan dalam 25 ml asam klorida encer selama 5 menit, bagian yang tidak larut dalam asam dikumpulkan, disaring melalui kertas saring bebas abu, dicuci dengan air panas.
Residu dan kertas saring dipijar sampai bobot tetap, kemudian didinginkan dan ditimbang. Kadar abu yang tidak larut dalam asam dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan (Ditjen POM, 1995).
3.6 Skrining Fitokimia
Skrining fitokimia meliputi pemeriksaan golongan senyawa alkaloid, flavonoid, glikosida, saponin, tanin dan steroid/triterpenoid.
3.6.1 Pemeriksaan Alkaloid
Sampel uji ditimbang sebanyak 0,5 g, kemudian ditambahkan 1 ml asam klorida 2 N dan 9 ml air suling, dipanaskan di atas penangas air selama 2 menit, didinginkan dan disaring. Filtrat yang diperoleh dipakai untuk uji alkaloid. Ke dalam 3 tabung reaksi dimasukkan 0,5 ml filtrat. Pada masing-masing tabung reaksi : 1. ditambahkan 2 tetes pereaksi Mayer, akan terbentuk endapan berwarna putih atau kuning. 2. ditambahkan 2 tetes pereaksi Dragendorff, akan terbentuk endapan berwarna coklat atau jingga kecoklatan. 3. ditambahkan 2 tetes pereaksi Bouchardat, akan terbentuk endapan berwarna coklat sampai kehitaman. Alkaloid positif jika terjadi endapan atau kekeruhan pada dua dari tiga pereaksi di atas (Ditjen POM, 1995).
3.6.2 Pemeriksaan Flavonoid
Sebanyak 10 g sampel uji ditambahkan 100 ml air panas, dididihkan selama 5 menit dan disaring dalam keadaan panas, ke dalam 5 ml filtrat ditambahkan 0,1 g serbuk magnesium dan 1 ml asam klorida pekat dan 2 ml amil alkohol, dikocok dan dibiarkan memisah. Flavonoid positif jika terjadi warna merah atau kuning atau jingga pada lapisan amil alkohol (Ditjen POM, 1995).
3.6.3 Pemeriksaan Glikosida
Sampel uji ditimbang sebanyak 3 g, lalu disari dengan 30 ml campuran etanol 95% dengan air (7:3) dan 10 ml asam klorida 2 N, direfluks selama 2 jam, didinginkan dan disaring. Diambil 20 ml filrat ditambahkan 25 ml air suling dan 25 ml timbal (II) asetat 0,4 M, dikocok, didiamkan 5 menit lalu disaring. Filtrat disari dengan 20 ml campuran isopropanol dan kloroform (2:3), dilakukan berulang sebanyak 3 kali. Sari air dikumpulkan dan diuapkan pada temperatur tidak lebih dari 50°C. Sisanya dilarutkan dalam 2 ml metanol. Larutan metanol digunakan untuk percobaan berikut: 0,1 ml larutan percobaan dimasukan dalam tabung reaksi dan diuapkan diatas penangas air. Pada sisa ditambahkan 2 ml air dan 5 tetes pereaksi Molish, kemudian secara perlahan-lahan ditambahkan 2 ml asam sulfat pekat melalui dinding tabung, terbentuknya cincin berwarna ungu pada batas kedua cairan menunjukkan ikatan gula (Ditjen POM, 1995).
3.6.4 Pemeriksaan Saponin
Sampel uji ditimbang sebanyak 0,5 g dan dimasukan ke dalam tabung reaksi, lalu ditambahkan 10 ml air panas, dinginkan kemudian dikocok kuat-kuat selama 10 detik. Terbentuk busa setinggi 1-10 cm yang stabil tidak kurang dari 10 menit dan tidak hilang dengan penambahan 1 tetes asam klorida 2 N menunjukkan adanya saponin (Ditjen POM, 1995).
3.6.5 Pemeriksaan Tanin
Sampel uji ditimbang sebanyak 1 g, dididihkan selama 3 menit dalam 100 ml air suling lalu didinginkan dan disaring. Pada filtrat ditambahkan 1-2 tetes pereaksi besi (III) klorida 1%, jika terjadi warna biru kehitaman atau hijau kehitaman menunjukan adanya tannin (Ditjen POM, 1995).
3.6.6 Pemeriksaan Steroid/triterpenoid
Sampel uji ditimbang sebanyak 1 g, dimaserasi dengan 20 ml n-heksan selama 2 jam, lalu disaring. Filtrat diuapkan dalam cawan penguap. Pada sisa ditambahkan beberapa tetes pereaksi Liebermann-Burchard. Timbulnya warna biru hijau atau warna merah ungu menunjukkan adanya steroid/triterpenoid (Ditjen POM, 1995).
3.7 Pengujian Aktivitas Antioksidan Menggunakan Metode Pemerangkapan Radikal Bebas DPPH
3.7.1 Pembuatan Larutan Blanko
Larutan DPPH 0,5 mM (konsentrasi 200 ppm) dipipet sebanyak 5 ml, kemudian dimasukkan ke dalam labu tentukur 25 ml, lalu dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda (konsentrasi 40 μg/ml) (Molyneux, 2004).
3.7.2 Pengukuran Panjang Gelombang Serapan Maksimum DPPH
Larutan DPPH konsentrasi 40 µg/ml dihomogenkan dan diukur serapannya pada panjang gelombang 400-800 nm yang merupakan panjang gelombang sinar tampak (Molyneux, 2004).
3.7.3 Penentuan Waktu Kerja (Operating Time)
Larutan DPPH konsentrasi 40 ppm dihomogenkan dan diukur absorbansi larutan pada panjang gelombang 516 nm setiap 1 menit selama 80 menit dan diamati waktu larutan tersebut mulai menghasilkan absorbansi yang stabil, yang akan digunakan sebagai operating time.
3.7.4 Pembuatan Larutan Induk
Sebanyak 25 mg ekstrak buah jambu ditimbang kemudian dilarutkan dalam labu tentukur 25 ml dengan metanol lalu volumenya dicukupkan dengan metanol sampaigaris tanda (konsentrasi 1000 ppm).
3.7.5 Analisis Aktivitas AntioksidanEkstrak Buah Jambu
Larutan induk dipipet sebanyak 0,625 ml; 1,25 ml; 1,875 ml; 2,5 ml kemudian masing-masing dimasukkan ke dalam labu tentukur 25 ml (untuk mendapatkan konsentrasi 25 ppm, 50 ppm, 75 ppm, 100 ppm), kemudian dalam masing-masing labu tentukur ditambahkan 5 ml larutan DPPH 0,5 mM (konsentrasi 40 ppm) lalu volume dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda, didiamkan di tempat gelap, lalu diukur serapannya dengan spektrofotometer sinar tampak pada panjang gelombang 515 nm.
3.7.6 Pembuatan Kurva Kalibrasi Larutan Uji Sampel
Pembuatan kurva kalibrasi larutan uji sampel didapatkan dari pengukuran absorbsi pada berbagai konsentrasi yaitu konsentrasi 25 μg/ml, 50 μg/ml, 75 μg/ml dan 100 μg/ml dari sampel ekstrak etanol Buah Jambu Biji, Jambu Biji Merah dan Jambu Biji Kristal.
3.7.7 Pembuatan Larutan Induk Vitamin C
Serbuk vitamin C ditimbang 25 mg, dimasukkan ke dalam labu tentukur 25 ml dilarutkan dengan metanol lalu volumenya dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda (konsentrasi 1000 μg/ml).
3.7.8 Pembuatan Kurva Kalibrasi Larutan Uji Vitamin C
Pembuatan kurva kalibrasi larutan uji vitamin c didapatkan dari pengukuran absorbsi pada berbagai konsentrasi yaitu konsentrasi 2 μg/ml, 4 μg/ml, 6 μg/ml dan 8 μg/ml dari sampel vitamin C.
3.7.9 Analisis Persen Pemerangkapan Radikal Bebas DPPH
Menurut Molyneux (2004), penentuan persen pemerangkapan radikal bebas oleh ekstrak buah jambu dengan vitamin C sebagai kontrol positif, menggunakan metode pemerangkapan radikal bebas 1,1- diphenyl-2-picryhydrazil (DPPH), yaitu dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Aktivitas pemerangkapan radikal bebas (%) = 𝐴 𝑘𝑜𝑛𝑡𝑟𝑜𝑙−𝐴 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
𝐴 𝑘𝑜𝑛𝑡𝑟𝑜𝑙 𝑥 100 % Keterangan: A kontrol = Absorbansi tidak mengandung sampel
A sampel = Absorbansi sampel 3.7.10 Analisis nilai IC50
Data antioksidan pada radikal DPPH (% penghambatan) sampel esktrak buah jambu dianalisis dan dihitung nilai IC50. Semakin kecil nilai IC50 berarti aktivitas antioksidan semakin kuat. Pada penelitian ini nilai IC50 dianalisis dan dihitung menggunakan persamaan regresi linear.
Data % hambatan dan konsentrasi larutan digunakan untuk mencari nilai IC50 dengan persamaan regresi linear y = ax + b, dimana y adalah % hambat 50 (senilai 50) dan x adalah nilai IC50.
Nilai IC50 merupakan konsentrasi efektif ekstrak yang dibutuhkan untuk meredam 50% dari total DPPH, sehingga nilai 50 disubstitusikan untuk nilai y.
Setelah mensubstitusikan nilai 50 pada nilai y, akan didapat nilai x sebagai nilai IC50 (Tristantini dkk., 2016).
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Identitas Tanaman
Hasil identifikasi tumbuhan yang dilakukan di Herbarium Medanense Universitas Sumatera Utara menyebutkan bahwa tumbuhan yang digunakan merupakan tumbuhan jambu biji (Psidium guajava.), famili M yrtaceae. Hasil identifikasi tumbuhan dapat dilihat pada Lampiran 1.
4.2 Karakterisasi Simplisia
Hasil karakterisasi simplisia tumbuhan dapat dilihat pada Tabel 4.1 – 4.3.
Tabel 4.1 Hasil Pemeriksaan karakteristik Serbuk Simplisia Jambu Biji
No. Parameter (%)
1. Kadar air 8,67
2. Kadar sari larut air 55,31
3. Kadar sari larut etanol 29,48
4. Kadar abu 7,46
5. Kadar abu tidak larut asam 2,37
Tabel 4.2 Hasil Pemeriksaan karakteristik Serbuk Simplisia Jambu Biji Kristal
No. Parameter (%)
1. Kadar air 7,99
2. Kadar sari larut air 57,03
3. Kadar sari larut etanol 29,61
4. Kadar abu 7,12
5. Kadar abu tidak larut asam 2,27
Tabel 4.3 Hasil Pemeriksaan karakteristik Serbuk Simplisia Jambu Biji Merah
No. Parameter (%)
1. Kadar Air 9,33
2. Kadar sari larut air 57,26
3. Kadar sari larut etanol 30,38
4. Kadar abu 7,45
5. Kadar abu tidak larut asam 2,01
Berdasarkan Tabel 4.1 sampai Tabel 4.3, didapatkankadar air simplisia Jambu Biji, Jambu Biji Kristal dan Jambu Biji Merah yang diperoleh pada penelitian ini yaitu 8,67%; 7,99% dan 9,33% lebih kecil dari 10% yang sudah memenuhi syarat. Kadar air yang melebihi 10% dapat menyebabkan ketidakstabilan sediaan obat serta menjadi media pertumbuhan yang baik untuk jamur atau serangga dan mikroba lainnya (WHO, 1992).
Kadar sari larut air yang diperoleh Jambu Biji, Jambu Biji Kristal dan Jambu Biji Merah sebesar 55,31%; 57,03%dan7,26% dan kadar sari larut etanol sebesar 29,48%; 29,61%; 30,38%. Penetapan kadar sari larut air untuk mengetahui kadar senyawa yang bersifat polar dalam simplisia dan kadar sari larut etanol untuk mengetahui kadar senyawa yang bersifat polar dan nonpolar (Ditjen POM, 1995).
Kadar abu total yang dioperoleh Jambu Biji, Jambu Biji Kristal dan Jambu Biji Merah sebesar 7,46%; 7,12%dan7,45%dan kabar tidak larut dalam asam sebesar 2,37%; 2,27% dan 2,01%. Penetapan kadar abu untuk mengetahui kandungan mineral yang terdapat di dalam simplisia, serta senyawa anorganik yang tersisa selama pembakaran. Kadar abu tidak larut asam untuk menunjukkan jumlah silikat, khususnya pasir yang terdapat pada simplisia. Perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 7 (WHO, 1992).
4.2.1 Skrining Fitokimia
Hasil skrining fitokimia simplisia buah jambu diketahui bahwa mengandung golongan senyawa kimia yang dapat dilihat pada Tabel 4.4.
Tabel 4.4 Hasil skrining fitokimia
No. Metabolit Sekunder Simplisia
1. Alkaloid -
2. Flavonoid +
3. Saponin -
4. Tanin +
5. Steroid/Triterpenoid +
Keterangan: (+) positif = mengandung golongan senyawa (-) negatif = tidak mengandung golongan senyawa Hasil yang diperoleh dari skrining fitokimia menunjukkan bahwa simplisia jambu biji mengandung golongan senyawa flavonoid, terpenoid dan tannin. Tanin berperan sebagai antioksidan karena kemampuannya dalam menstabilisasi fraksi lemak dan aktivitasnya dalam menghambat lipoksigenase (Tristantini dkk., 2016).
4.3 Aktivitas Antioksidan
4.3.1 Penentuan Panjang Gelombang Serapan Maksimum
Hasil pengukuran panjang gelombang serapan maksimum larutan DPPH 40 µg/ml dalam pelarut methanol menghasilkan serapan maksimum pada panjang gelombang 516 nm. Panjang gelombang 516 nm yang diperoleh, termasuk salah satu dalam kisaran panjang gelombang sinar tampak yaitu 400–800 nm. Hasil pengukuran panjang gelombang maksimum dapat dilihat pada Gambar 4.1.
Gambar 4.1 Kurva Absorbansi Larutan DPPH Menggunakan Spektrofotometer
4.3.2 Penentuan Operating Time
Penentuan operating time bertujuan untuk mengetahui waktu pengukuran yang stabil. Hasil penentuan operating time diperoleh waktu kerja terbaik adalah pada menit ke 30 setelah penambahan pelarut metanol. Data spektro hasil penentuan operating time dapat dilihat pada Lampiran 11.
4.3.3 Persamaan Regresi
Persamaan regresi didapatkan dari data pengukuran kurva kalibrasi larutan uji sampel dan vitamin C pada masing-masing konsentrasi sehingga diperoleh nilai absorbansi setiap sampel. Perhitungan data hasil persamaan regresi setiap sediaan yang menunjukkan aktivitas antioksidan dapat dilihat pada Lampiran 9 dan perhitungan data hasil persamaan regresi vitamin C yang menunjukkan aktivitas antioksidan dapat dilihat pada Lampiran 10.
4.3.4 Aktivitas Antioksidan Sampel Uji
Hasil analisis aktivitas antioksidan ekstrak buah jambu biji, jambu biji merah dan jambu biji kristal menunjukkan bahwa kenaikan konsentrasi sampel uji menyebabkan terjadinya penurunan nilai absorbansi. Data dapat dilihat pada Lampiran 8. DPPH menerima elektron atau radikal hidrogen akan membentuk molekul diamagnetik yang stabil. Interaksi antioksidan dengan DPPH baik secara transfer elektron atau radikal hidrogen pada DPPH, akan menetralkan radikal bebas dari DPPH. Adanya aktivitas antioksidan dari sampel mengakibatkan perubahan warna pada larutan DPPH dalam metanol yang semula berwarna violet pekat menjadi kuning pucat. Warna larutan berubah dari ungu tua menjadi kuning terang dan absorbansi pada panjang gelombang 516 nm akan hilang jika semua
elektron pada radikal bebas DPPH menjadi berpasangan (Molyneux, 2004). Data spektro hasil analisis sampel uji dapat dilihat pada Lampiran 12.
Gambar 4.2 Kurva Kalibrasi Peredaman DPPHoleh Ekstrak jambu Biji Kristal
Gambar 4.3 Kurva Kalibrasi Peredaman DPPHoleh Ekstrak jambu Biji Merah
4.3.5 Nilai IC50 (Inhibitory Concentration)
Nilai IC50diperoleh berdasarkan perhitungan persamaan regresi dengan cara memplot konsentrasi larutan uji dengan persen peredaman DPPH sebagai parameter aktivitas antioksidan, konsentrasi sampel (µg/ml) sebagai absis (sumbu X) dan nilai absorbansi sebagai ordinat (sumbu Y). Persentase inhibisi ini didapatkan dari perbedaan serapan antara absorban DPPH dengan absorban sampel yang diukur dengan spektrofotometer UV-Vis. Besarnya aktivitas
Nilai IC50diperoleh berdasarkan perhitungan persamaan regresi dengan cara memplot konsentrasi larutan uji dengan persen peredaman DPPH sebagai parameter aktivitas antioksidan, konsentrasi sampel (µg/ml) sebagai absis (sumbu X) dan nilai absorbansi sebagai ordinat (sumbu Y). Persentase inhibisi ini didapatkan dari perbedaan serapan antara absorban DPPH dengan absorban sampel yang diukur dengan spektrofotometer UV-Vis. Besarnya aktivitas