BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.5 Hasil Penelitian
4.5.2 Pembahasan
Pertumbuhan ekonomi hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat maka diperlukan pertumbuhan ekonomi yang meningkat dan distribusi pendapatan yang lebih merata. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif terhadap kesenjangan pendapatan yaitu 0.058705.
Berdasarkan riset terdahulu oleh Arif dan Wicaksani yang menyatakan bahwa nilai output pertumbuhan ekonomi positif dan tidak berpengaruh signifikan terhadap ketimpangan pendapatan di provinsi Jawa Timur tahun 2011 -2015.
Artinya besar kecil pertumbuhan ekonomi tidak mempengaruhi ketimpangan pendapatan di provinsi Jawa Timur tahun 2011 -2015.
Berdasarkan hasil analisis dari tahun 2010 hingga 2016, pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sumatera Utara tergolong anti pro poor growth dan
berdasarkan hasil uji pengaruh pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan pendapatan terhadap kemiskinan yang dikembangkan oleh Wodon (1999), diperoleh variabel pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif terhadap kemiskinan yaitu 0.225881 dan variabel distribusi pendapatan berpengaruh negatif terhadap kemiskinan Sumatera Utara yaitu -0.053117. Hubungan pertumbuhan ekonomi yang positif terhadap tingkat kemiskinan sesuai dengan penelitian Ade Bayu Erlangga (2014) yang menyimpulkan bahwa peningkatan pertumbuhan ekonomi akan menurunkan kemiskinan dan ketimpangan distribusi pendapatan menyebabkan kemiskinan meningkat. Riset yang dilakukan oleh Hermanto Siregar dan Dwi Wahyuniarti menyatakan pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif terhadap tingkat kemiskinan, sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dina Zulida tentang Analisis Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi dalam Mengurangi Tingkat Kemiskinan di Sumatera Utara yang menyatakan pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif terhadap tingkat kemiskinan.
Perbedaan derajat pro poor growth yang berbeda di tiap kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Atik Mar‟atis Suhartini yang menganalisis pro poor growth di Indonesia dan menjelaskan perbedaan karakteristik antar kabupaten/kota diduga turut berperan dalam pencapaian pertumbuhan yang berbeda-beda antar kabupaten/kota pada periode ini. Dan hal ini mengindikasikan bahwa kemiskinan merupakan permasalahan yang kompleks dan tidak semua kabupaten/kota mampu mengatasinya. Strategi pro poor growth di kabupaten/kota Provinsi Sumatera Utara tidak mempengaruhi semua kabupaten/kota secara merata. Namun secara
umum, kondisi per kabupaten/kota pada periode ini sudah termasuk baik karena rata-rata tergolong pro poor growth. Dari 33 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara hanya terdapat lima Kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara yang tergolong anti pro poor growth, yang artinya pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati oleh penduduk tidak miskin saja dan penduduk miskin tidak memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesejahteraannya supaya keluar dari kondisi miskin.
Berdasarkan hal ini, maka masih rendahnya elastisitas kemiskinan terhadap pertumbuhan ekonomi dan belum maksimalnya efek ketimpangan pendapatan dalam mendorong pengurangan kemiskinan dapat menjadi catatan penting bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan penanggulangan kemiskinan.
Pemerintah harus mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang telah pro-poor, tetapi di lain pihak pemerintah juga harus mulai berpikir bagaimana caranya agar elastisitas kemiskinan terhadap pertumbuhan ekonomi semakin besar. Pemerintah juga harus mampu membuat kebijakan yang ditujukan agar redistribusi pendapatan yang terjadi akibat pertumbuhan ekonomi berpihak pada penduduk miskin. Nilai PPGI periode 2010-2016 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara dapat dilihat pada Lampiran 6.
Berdasarkan pernyataan-pernyataan yang telah dibahas, maka kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini ialah sebagai berikut:
7. Menggunakan analisis model double log di kabupaten/kota Provinsi Sumatera Utara periode tahun 2010-2016 didapatkan hasil bahwa hampir semua pertumbuhan ekonomi memiliki pengaruh positif terhadap distribusi pendapatan
8. Berdasarkan hasil estimasi model yang dikembangkan Wodon (1999), variabel pertumbuhan ekonomi memiliki pengaruh positif dan distribusi pendapatan berpengaruh negatif terhadap kemiskinan di Provinsi Sumatera Utara.
9. Identifikasi pro poor growth di Provinsi Sumatera Utara melalui metode pro poor growth index menunjukkan hampir keseluruhan kabupaten/kota
di Sumatera Utara mengalami pro poor growth. Hal ini berarti bahwa rata-rata pertumbuhan ekonomi sudah dinikmati oleh penduduk dengan kelas pengeluaran yang rendah.
5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian, beberapa saran dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Pemerintah khususnya di daerah hendaknya tidak hanya mengejar pertumbuhan yang tinggi saja, akan tetapi juga memperhatikan distribusi pendapatan untuk mengurangi kemiskinan. Pertumbuhan yang tinggi
dengan perbaikan distribusi pendapatan, akan lebih besar dalam mengurangi kemiskinan.
2. Program pembangunan dalam rangka pengentasan kemiskinan hendaknya tidak hanya integrasi antar sektor dan lintas kementrian/lembaga saja, akan tetapi juga memperhatikan karakteristik antar daerah yang berbeda satu sama lain dalam pembangunan.
3. Diharapkan kepada pemerintah dalam rangka kebijakan pengentasan kemiskinan dapat mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah penduduk miskin terutama menggunakan strategi pertumbuhan ekonomi dan permasalahan pendidikan dan kesehatan.
4. Bagi peneliti berikutnya dimasa mendatang agar dapat memperluas atau membuat strategi ini dapat berlaku di semua daerah dengan menganalisis dan menambah sampel penelitian.
Bank Indonesia. Laporan Neraca Pembayaran Indonesia Tahunan edisi 2005 Triwulan IV-2018 Triwulan IV, BI, Jakarta.
Bank Dunia. 1990. Indonesia: Poverty Assessment and Strategy Report. Report, No. 8034-IND, Country Department III East Asia and Pacific Region.Washington.
Bigsten, Arne dan Levin, Jorgen. (2000). Growth, Income Distribution, and Poverty: A Review.
Bourguignon, F. 2004. The Poverty-Growth-Inequality Triangle. World Bank.
Washington, DC.
[BPS] Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara. 2010. Data dan Informasi Kemiskinan Kabupaten/Kota. Medan: BPS Provinsi Sumatera Utara.
_______, 2010. Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Sumatera Utara 2010- 2016. Medan: BPS Provinsi Sumatera Utara.
Dewanto, P; Rujiman; dan Agu s S, (2014). Analisis Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi dan Ketimpangan Pendapatan terhadap Pengentasan Kemiskinan di Kawasan Mebidangro, Jurnal Ekonomi. Vol 17, No 3, Juli 2014, Medan.
Dollar D., Kraay A, (2002), Growth is Good for the Poor, Journal of Economic Growth, 7, 195-225
El Ouardighi, J. and R. Somun-Kapetanovic. (2010). Is Growth Pro-Poor in the Balkan Region, Eastern European Economics 48(3): 9-21.
Emil, Salim. Perencanaan Pembangunan dan Pemerataan Pendapatan, tp.
Jakarta, 1984, Hal. 63
Farwati, Riya. 2012. Pro-poor Growth: Does It Work In Indonesia?, thesis S2 tidak dipublikasikan, Hague: Institute of Social Studies.
Geda, Alemayehu; de Jong, Niek; Kimenyi, Mwangi S.; and Mwabu, Germano, (2005). Determinants of Poverty in Kenya: A Household Level Analysis, Economics Working Papers. 200544.
Grimm, M. (2007). Determinants of Pro-Poor Growth: Ed. by Michael Grimm, Stephan Klasen and Andrew McKay. Basingstoke [etc.]: Palgrave Macmillan.
Hull, K. (2009). Understanding the Relationship between Economic Growth, Employment, and Poverty Reduction, Organization for Economic Cooperation and Development.
Kakwani, Nanak and Ernesto M. Pernia (2000) What is Pro-poor Growth?, Asian Development Bank Review, 18(1): 1-16.
Kakwani, N and Son, H.H. 2006. Pro-poor Growth: The Asian Experience, UNUWIDER. Research Paper, No. 2006/56. Brasilia.
Kakwani N, Prakash B, Son HH. 2000. Growth, inequality and poverty: an introduction. Asian Development Review 18:2, 1-21.
Laksani, Chici Shintia. 2010. Analisis Pro-Poor Growth di Indonesia melalui Identifikasi Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi terhadap Ketimpangan Pendapatan dan Kemiskinan (tesis). Jakarta (ID): Universitas Indonesia Lin, Bo Q., 2003. Economics Growth, Income Inequality, and Poverty Reduction
in People's Republic of China, Asian Development Review, Vol 20 (2), hal. 1 05-124
Lopez J. H. (2004), Pro-Poor Growth: A review of What We Know (and of What We Don’t).
Montek S. Ahluwalia, Nicholas G. Carter, Hollis B. Chenery, (1979). Growth and Poverty in Developing Country, Journal of Development Economics Vol 6 Issue 3: 299-341.
Nasir, M. Muh, Saichudin dan Maulizar, (2008). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemiskinan Rumah Tangga Di Kabupaten Purworejo, Jurnal Eksekutif, Vol 5, Nomor 4, Agustus 2008, Jakarta.
Nurkse, Ragnar. 1953. Problems of Capital Formation in Underdeveloped Countries. New York: Oxford University Press.
Nurlina. 2004. Ekonomi Pembangunan (Dana Perimbangan dan Keuangan Daerah), Bentang Pustaka, Jakarta.
Ravallion M., Chen S. (2003), Measuring pro-poor growth, Economics Letters, 78, 93–99
Siregar, Hermanto dan Dwi Wahyuniarti, 2007. Dampak Pertumbuhan Ekonomi terhadap Penurunan Jumlah Penduduk Miskin. Institut Pertanian Bogor.
Siregar, H. 2006. Perbaikan Struktur dan Pertumbuhan Ekonomi: Mendorong Investasi dan Menciptakan Lapangan Kerja, Jurnal Ekonomi Politik dan Keuangan. INDEF. Jakarta.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, CV Alfabeta, Bandung.
Suparno. 2010. Analisis Pertumbuhan Ekonomi dan Pengurangan Kemiskinan:
Studi Pro Poor Growth Policy di Indonesia. [Tesis]. IE-IPB. Bogor
Tambunan, Tulus. 2001. Perekonomian Indonesia: Teori, Temuan dan Empiris.
Ghalia. Jakarta
Todaro, Michael P. dan Stephen C. Smith. 2006. Pembangunan Ekonomi (edisi kesembilan, jilid I). Jakarta : Erlangga
Todaro, Michael P. 2000. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Erlangga.
Jakarta.
Warr, Peter G. 2000. Is Growth Good for The Poor? Thailand’s Boom and Bust.
International Journal of Social Economics; 27:862-877.
Wodon, Quentin, 1999. Growth, Poverty, and Inequality: A Regional Panel for Bangladesh. Policy Research Working Paper No. 2072, World Bank South Asia Region.
World Bank. 1990.World Development Report 1990.
LAMPIRAN
Lampiran 1
Pertumbuhan Ekonomi Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2010-2016 (Persen)
N O
Kabupaten/
Kota
Pertumbuhan Ekonomi Atas Dasar Harga Konstan 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
Lampiran 2
Selisih Pertumbuhan Ekonomi Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2010-2016 (persen)
N
O Kabupaten Kota
Pertumbuhan Ekonomi Atas Dasar Harga Konstan 2010
Nilai Indeks Gini Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2010-2016 (persen)
NO Kabupaten Kota
Gini Rasio
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
1 Nias 0,3164 0,2352 0,2276 0,2776 0,2623 0,2490 0,2735
Selisih Nilai Indeks Gini Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2010-2016 (Persen)
NO Selisih Nilai Indeks Gini Menurut Provinsi di Indonesia Tahun 2010- 2018
Kabupaten Kota
Persentase Penduduk Miskin (P0) Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2010-2016 (Persen)
N
O Kabupaten Kota Persentase Penduduk Miskin (Persen)
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
1 Sumatera Utara 11,36 10,83 10,41 10,39 9,85 10,53 10,35
Tingkat Pro Poor Growth Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatra Utara Tahun 2010-2016
No Kategori Kabupaten/Kota Derajat pro poor growth 1
Sangat Pro-poor
Nias 14,412455
2 Tapanuli Utara 13,292796
3 Serdang Bedagai 7,388409
4 Nias Barat 3,131761
5 Nias Selatan 1,749405
6 Humbang
Hasundutan 1,518506
7 Langkat 1,090934
8 Tanjungbalai 1,160262
9 Pematangsiantar 1,126701
10
Pro Poor Growth
Gunungsitoli 0,953741
11 Karo 0,949415
12 Mandailing Natal 0,940649
13 Sibolga 0,915884
14 Binjai 0,909788
15 Padang Lawas
Utara 0,899580
16 Tapanuli Tengah 0,855242
17 Simalungun 0,831857
18 Medan 0,755486
19 Labuanbatu Utara 0,700221
20 Toba Samosir 0,686355
23 Padangsidimpuan 0,491770
24 Labuhanbatu
Selatan 0,488549
25 Asahan 0,480834
26 Samosir 0,420961
27 Pro-poor Lemah Tebing Tinggi 0,283150
28 Labuhan Batu 0,103634
29
Anti Poor
Padang Lawas -8,731505
30 Batu Bara -12,568961
31 Deli Serdang -53,107665
32 Tapanuli Selatan -54,083763
33 Nias Utara -83,084307
Sumatera Utara -12.804760