Halaman DAFTAR TABEL
JAGUNG MANIS 111 7.1 Penerimaan Usahatani Jagung Manis
2.3 Analisis Risiko Produksi Komoditas Pertanian
Budidaya pertanian tidak dapat lepas dari pengaruh risiko. Risiko yang sering terjadi pada komoditas pertanian adalah risiko produksi. Indikasi adanya risiko produksi dapat dilihat dengan adanya variasi hasil output produksi. Variasi
output produksi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor baik faktor internal seperti tingkat penggunaan input maupun faktor eksternal seperti pengaruh iklim atau cuaca.
Dampak risiko produksi sangat besar pada pertanian secara umum dan berdampak besar secara khusus pada pola produksi serta perilaku penawaran pada petani skala kecil (Fufa dan Hassan 2003). Risiko produksi menjadi kendala dominan terhadap pengambilan keputusan petani dalam mengalokasikan faktor produksi. Akibatnya terjadi kesenjangan produktivitas potensial di tingkat petani dengan produktivitas aktual yang dicapai petani (Purwoto 1993). Menurut Fufa dan Hassan (2003) pengaruh gangguan stokastik alam dari kegiatan produksi pertanian menjadi sumber utama risiko produksi. Akan tetapi variasi pada hasil panen suatu produksi pertanian tidak hanya dijelaskan oleh faktor di luar kendali petani seperti harga input dan output, tetapi juga faktor yang dapat dikendalikan oleh petani seperti alokasi pada penggunaan input produksi (Just dan Pope 1979; Antle 1983 yang diacu dalam Fufa dan Hassan 2003). Hal tersebut menunjukkan bahwa sumber-sumber risiko tidak hanya berasal dari faktor eksternal seperti cuaca. Sumber risiko produksi juga dapat berasal dari faktor internal yaitu penggunaan input produksi seperti penggunaan benih, lahan, atau pupuk. Penggunaan faktor produksi yang tidak sesuai dengan anjuran budidaya dapat mengakibatkan variasi pada hasil produksi.
Beberapa metodologi telah banyak dikembangkan untuk menganalisis risiko yang berhubungan dengan produksi. Salah satu konsep risiko yang digunakan dalam penelitian risiko produksi adalah konsep risiko yang dirumuskan oleh Just dan Pope dengan metode yang lebih dikenal dengan model risiko
19 produksi Just dan Pope (J-P) (Ligeon et al. 2008). Model ini banyak digunakan karena model ini dapat mengakomodasikan fungsi produksi dan fungsi risiko dalam satu persamaan matematis. Dengan menggunakan fungsi risiko produksi J- P ini dapat diketahui pengaruh alokasi penggunaan input terhadap hasil produksi rata-rata dan variasi hasil produksi. Dengan kata lain, melalui model ini dapat dilihat faktor produksi mana saja yang dapat bertindak sebagai pengurang risiko produksi (Risk Reducing Factor) atau sebagai penyebab meningkatnya risiko produksi (Risk Inducing Factor). Beberapa penelitian yang menggunakan model ini diantaranya dilakukan oleh Ligeon et al. (2008), Fufa dan Hassan (2003), Fariyanti et al. (2007), Pratiwi (2011) dan Puspitasari (2011).
Model risiko produksi J-P menggunakan pendekatan fungsi produksi dan fungsi varian (fungsi risiko). Penelitian Ligeon et al. (2008) dan Fufa dan Hassan (2003) menggunakan data cross section sehingga dalam melakukan estimasi fungsi produksi dan fungsi risiko dilakukan secara terpisah. Ligeon et al. (2008) menggunakan model fungsi produksi kuadratik untuk mengestimasi fungsi produksi dan fungsi risiko pada komoditas kacang tanah sedangkan Fufa dan Hassan (2003) menggunakan model fungsi produksi Cobb-Douglas pada komoditas jagung. Pendekatan dengan menggunakan model fungsi Cobb-Douglas ini juga digunakan oleh Fariyanti et al. (2007) untuk analisis risiko produksi kentang dan kubis, Pratiwi (2011) untuk analisis risiko produksi caisin dan Puspitasari (2011) untuk analisis risiko produksi mentimun. Akan tetapi penelitian yang dilakukan Fariyanti et al. (2007), Pratiwi (2011) dan Puspitasari (2011) memiliki perbedaan dengan penelitian Ligeon et al. (2008), Fufa dan Hassan (2003). Fariyanti et al. (2007), Pratiwi (2011) dan Puspitasari (2011) menggunakan data berupa data panel. Selain itu, estimasi fungsi produksi dan fungsi risiko dilakukan secara bersamaan dengan metode GARCH (1,1).
Penelitian Ligeon et al. (2008), Fufa dan Hassan (2003), Fariyanti et al.
(2007), Pratiwi (2011) dan Puspitasari (2011) menunjukkan bahwa interaksi input
terhadap risiko produksi bisa berbeda. Menurut Ligeon et al. (2008), Fufa dan Hassan (2003) dan Pratiwi (2011), peningkatan penggunaan input benih dapat meningkatkan risiko produksi yang dilihat dari peningkatan variance produksi ketika jumlah penggunaan input ditingkatkan. Akan tetapi menurut penelitian
20 Fariyanti et al. (2007) dan Puspitasari (2011), peningkatan jumlah penggunaan benih dapat menurunkan risiko produksi.
Selain penggunaan input benih dapat meningkatkan dan menurunkan risiko produksi, penggunaan lahan juga memiliki dampak yang berbeda terhadap risiko produksi. Penelitian Fufa dan Hassan (2003) membagi responden menjadi dua kelompok yaitu kelompok yang mengadopsi teknologi dan yang tidak mengadopsi teknologi. Hasil estimasi fungsi risiko menunjukkan bahwa lahan sebagai faktor yang meningkatkan risiko pada petani yang mengadopsi teknologi sedangkan pada kelompok petani yang tidak mengadopsi teknologi sebagai faktor pengurang risiko. Penelitian Fariyanti et al. (2007) juga menunjukkan hasil yang berbeda pada komoditas kentang dan kubis. Pada petani yang melakukan usahatani kentang, lahan bertindak sebagai faktor pengurang risiko sedangkan pada usahatani kubis sebagai faktor peningkat risiko.
Hal yang sama juga terjadi pada input pupuk kimia dan tenaga kerja. Peningkatan jumlah penggunaan pupuk kimia dapat meningkatkan risiko produksi seperti yang ditunjukkan pada penelitian Fufa dan Hassan (2003). Akan tetapi pada penelitian Puspitasari (2011), peningkatan penggunaan pupuk kimia dapat mengurangi risiko produksi. Sementara itu, tenaga kerja merupakan faktor yang dapat mengurangi risiko seperti yang ditunjukkan pada penelitian Pratiwi (2011) dan Puspitasari (2011). Sedangkan pada penelitian Fariyanti et al. (2007) menunjukkan bahwa, tenaga kerja sebagai faktor peningkat risiko pada usahatani kentang dan sebagai faktor pengurang risiko pada usahatani kubis.
Pada penelitian ini akan diidentifikasi bagaimana pengaruh alokasi input
produksi terhadap produksi rata-rata dan risiko produksi jagung manis. Penelitian ini menggunakan pendekatan model risiko produksi Just dan Pope seperti yang dilakukan oleh Ligeon et al. (2008), Fufa dan Hassan (2003), dan Koundouri dan Nauges (2005). Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah komoditas yang diteliti, lokasi penelitian dan faktor input. Komoditas yang diteliti adalah jagung manis. Lokasi penelitian berada di Desa Gunung Malang, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor. Faktor input produksi yang digunakan adalah benih, pupuk kandang, pupuk urea, pupuk phonska, pupuk TSP, pestisida cair, furadan, dan tenaga kerja. Input yang dimasukkan dalam model ini
21 merupakan input produksi yang digunakan oleh petani. Dalam model yang diestimasikan juga memasukkan variabel dummy musim dan varietas untuk melihat pengaruh kedua variabel tersebut terhadap risiko produksi. Penelitian ini menggunakan pendekatan fungsi produksi Cobb-Douglas untuk fungsi produksi maupun fungsi variance (fungsi risiko). Fungsi produksi Cobb-Douglas dipilih karena dapat melihat pengaruh penambahan input terhadap perubahan marjinal output. Selain itu dalam penelitian ini akan dikaji pula bagaimana pengaruh risiko produksi terhadap pendapatan usahatani.
2.4 Analisis Pendapatan Usahatani Jagung
Pendapatan usahatani merupakan salah satu ukuran keberhasilan dalam melakukan kegiatan usahatani. Tingkat pendapatan usahatani yang diperoleh petani berbeda-beda tergantung dengan jenis dan hasil produksi komoditas yang dihasilkan, penggunaan input produksi, harga input dan harga output. Kegiatan usahatani yang dilakukan oleh petani diharapkan mampu menghasilkan pendapatan bagi petani sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petani.
Beberapa penelitian terdahulu yang melakukan analisis pendapatan usahatani jagung diantaranya dilakukan oleh Putra (2011), Setiyanto (2008), Suroso (2006) dan Ali (2005). Putra (2011) dan Ali (2005) meneliti mengenai pendapatan pada komoditas jagung manis sedangkan Setiyanto (2008) dan Suroso (2006) meneliti pendapatan usahatani pada komoditas jagung. Penelitian Putra (2011) dan Ali (2005) menghitung pendapatan berdasarkan kepemilikan lahan yaitu pendapatan petani pemilik dan pendapatan petani penyewa. Akan tetapi Ali (2005) mengelompokkan lagi pendapatan usahatani berdasarkan petani mitra dan non mitra. Sementara itu, Setiyanto (2008) menghitung pendapatan usahatani untuk lahan sawah dan lahan tegal sedangkan, Suroso (2006) menghitung pendapatan usahatani untuk lahan sempit dan lahan luas.
Sebelum melakukan penghitungan pendapatan usahatani maka terlebih dahulu dilakukan penghitungan penerimaan usahatani. Penerimaan usahatani merupakan nilai produk usahatani dikali dengan harga jualnya. Penerimaan usahatani terdiri dari penerimaan tunai dan penerimaan yang diperhitungkan. Penerimaan tunai merupakan penerimaan dari hasil penjualan produk usahatani yang diterima secara langsung oleh petani. Penerimaan tidak tunai merupakan
22 nilai produk yang tidak dijual oleh petani seperti nilai produk yang disimpan atau dikonsumsi sendiri. Penelitian Putra (2011), Setiyanto (2008), Suroso (2006) dan Ali (2005) menghitung penerimaan tunai usahatani saja tanpa memperhitungkan penerimaan yang diperhitungkan. Hal ini dikarenakan semua hasil produksi petani dijual seluruhnya. Pendapatan tunai jagung manis diperoleh dari jumlah produksi jagung manis segar dikali dengan harga jualnya (Putra 2011, Ali 2005). Berbeda dengan jagung manis, pendapatan tunai jagung diperoleh dari harga jual jagung pipil kering dikali dengan harga jualnya (Setiyanto 2008, Suroso 2006). Penerimaan usahatani jagung manis bervariasi dari Rp 4.000.000 – 7.000.000 per hektar (Putra 2011, Ali 2005). Sedangkan untuk penerimaan usahatani jagung pipilan berkisar Rp 8.000.000 per hektar (Suroso 2006) bahkan menurut Setiyanto (2008) penerimaan jagung pipil bisa mencapai Rp 18.000.000. Perbedaan penerimaan usahatani ini dikarenakan perbedaan jumlah produksi dan harga jual yang diterima petani.
Setelah dilakukan perhitungan penerimaan usahatani maka dilakukan perhitungan untuk pengeluaran ushatani. Pengeluaran usahatani merupakan biaya yang dikeluarkan petani untuk kegiatan usahatani yang terdiri dari pengeluaran tunai dan pengeluaran yang diperhitungkan. Pengeluaran tunai terdiri dari biaya pengeluaran input produksi termasuk biaya sewa lahan, pajak lahan, sewa alat, biaya pengangkutan dan biaya lainnya (biaya pemipilan dan biaya pengairan). Sedangkan biaya diperhitungkan meliputi biaya tenaga kerja dalam keluarga, penyusutan, dan sewa lahan yang diperhitungkan (Putra 2011, Setiyanto 2008, Suroso 2006 dan Ali 2005).
Pengeluaran untuk biaya tunai memiliki presentase terbesar terhadap total pengeluaran usahatani antara 61,42 persen sampai 72,87 persen (Setiyanto 2008, Suroso 2006 dan Ali 2005). Akan tetapi penelitian Putra (2011) menunjukkan hasil yang berbeda. Penelitian Putra (2011) menunjukkan bahwa biaya yang tidak diperhitungkan memiliki presentase terbesar terhadap biaya total. Hal ini dikarenakan penggunaan tenaga kerja dalam keluarga sangat besar. Diantara komponen biaya tunai, biaya tenaga kerja di luar keluarga memiliki presentase terbesar terhadap pengeluaran total (Setiyanto 2008, Suroso 2006, dan Putra 2011). Akan tetapi pada penelitian Ali (2005), petani mitra lahan sewa
23 mengeluarkan biaya tunai terbesar untuk pupuk kandang dan petani non mitra lahan sewa mengeluarkan biaya tunai terbesar untuk benih.
Pengeluaran untuk biaya tenaga kerja dalam keluarga memiliki presentase terbesar terhadap total pengeluaran usahatani yang tidak diperhitungkan (Putra 2011, Setiyanto 2008, Suroso 2006 dan Ali 2005). Bahkan pada penelitian Putra (2011) dan Ali (2005) pengeluaran untuk biaya tenaga kerja dalam keluarga ini memiliki presentase terbesar terhadap total pengeluaran usahatani. Besarnya pengeluaran tenaga kerja dalam keluarga ini menunjukkan bahwa partisipasi petani dan anggota keluarga petani dalam melakukan kegiatan usahatani masih sangat besar.
Setelah mengetahui penerimaan dan pengeluaran usahatani, maka dapat ditentukan berapa pendapatan usahatani yang diperoleh oleh petani. Pendapatan usahatani diperoleh dengan mengurangi total penerimaan usahatani dengan total biaya usahatani. Pendapatan usahatani dibagi menjadi dua yaitu pendapatan atas biaya tunai dan pendapatan atas biaya total. Hasil penelitian Putra (2011), Setiyanto (2008), Suroso (2006) dan Ali (2005) menunjukkan bahwa pendapatan atas biaya tunai rata-rata petani memiliki angka yang positif dan lebih dari nol. Hal ini menunjukkan bahwa usahatani jagung dan jagung manis yang dilakukan petani secara tunai menguntungkan. Jika dilihat pendapatan atas biaya total, pendapatan usahatani ada yang menunjukkan angka positif dan juga angka negatif. Pada penelitian Ali (2005) terhadap petani non mitra lahan sewa dan Putra (2011) terhadap petani penyewa menunjukkan angka yang negatif. Hal ini berarti petani mengalami kerugian. Meskipun mengalami kerugian, usahatani jagung manis masih bisa dilaksanakan untuk periode musim selanjutnya karena biaya tunai masih bisa tertutupi oleh pendapatan tunai usahatani (Putra 2011).
Untuk mengetahui efisiensi pendapatan usahatani dilakukan penghitungan R/C ratio. Nilai R/C ratio merupakan perbandingan antara nilai pendapatan yang diperoleh petani dengan biaya yang dikeluarkan, sehingga dapat dilihat berapa pendapatan yang bisa diterima petani dari setiap biaya yang dikeluarkan. R/C
ratio harus lebih besar daripada satu. Artinya, setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan petani diharapkan pendapatan yang diterima lebih dari satu rupiah. Nilai R/C ratio ini juga dilihat atas biaya tunai dan atas biaya total. Penelitian
24 Putra (2011) menunjukkan nilai R/C ratio atas biaya tunai dan atas biaya total petani lahan pemilik secara berturut-turut 2,48 dan 1,08. Sedangkan, pada petani lahan sewa secara berturut-turut 1,8 dan 0,8. Nilia R/C ratio petani penyewa atas biaya total menunjukkan nilai kurang dari satu sedangkan pada petani pemilik memiliki nilai lebih dari satu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa usahatani jagung manis lahan pemilik lebih efisien dari sisi pendapatan.
Pada penelitian ini juga akan melakukan analisis pendapatan usahatani jagung manis. Akan tetapi analisis pendapatan pada penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya. Pada penelitian ini analisis pendapatan usahatani akan dikelompokkan berdasarkan musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Hal ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh musim sebagai salah satu sumber risiko produksi terhadap pendapatan usahatani. Selain itu juga akan dilakukan uji beda untuk mengetahui apakah rata-rata pendapatan pada kedua musim tersebut berbeda nyata.
25
III KERANGKA PEMIKIRAN
3.1 Teori Produksi
Penelitian ini akan mengukur bagaimana dampak penggunaan faktor- faktor produksi terhadap risiko produksi yang ditunjukkan dengan adanya variasi hasil produksi. Jumlah output yang dihasilkan dari kegiatan produksi akan dipengaruhi oleh penggunaan input produksi. Selain itu hasil output produksi tidak hanya ditentukan oleh penggunaan input tapi juga dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti kondisi cuaca atau iklim, hama dan penyakit. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penggunaan faktor produksi dan pengaruh eksternal terhadap kegiatan produksi maka diperlukan pemahaman lebih lanjut mengenai teori produksi.
Produksi adalah suatu kegiatan yang mengubah input menjadi output. Hubungan antara input yang digunakan dalam proses produksi dengan kuantitas
output yang dihasilkan disebut sebagai fungsi produksi (Lipsey et al. 1995). Secara lebih jelas, Ellis (1993) menyebutkan bahwa fungsi produksi di dalam ekonomi dijelaskan sebagai hubungan fisik atau teknis antara output dengan satu atau lebih variabel input. Hal ini berarti, proses produksi untuk menghasilkan
output tidak selalu tergantung pada satu input produksi tetapi bisa menggunakan lebih dari satu input produksi. Pengalokasian sumberdaya yang dimiliki petani untuk kegiatan produksi sangat menentukan berapa produksi yang akan dihasilkan (Soekartawi et al. 2011). Penggunaan input yang berbeda-beda akan menghasilkan output yang berbeda pula (Ellis 1993).
Keputusan dalam kegiatan proses produksi terbagi dalam tiga kategori, yaitu jangka pendek, jangka panjang, dan jangka sangat panjang. Keputusan jangka pendek dilakukan dimana satu atau lebih faktor produksi adalah tetap. Keputusan jangka panjang dilakukan dimana seluruh faktor produksi bersifat variabel tetapi dengan kondisi teknologi tertentu. Keputusan jangka sangat panjang dilakukan dimana seluruh faktor bersifat variabel termasuk teknologi.
Input tetap adalah input yang tidak berubah atau tidak dapat ditambah, dinamakan sebagai faktor tetap. Sedangkan input variabel adalah input yang dapat berubah dalam jangka waktu tertentu dinamakan sebagai faktor variabel (Lipsey et al.
26 Dalam fungsi produksi dikenal adanya istilah produk total, produk rata- rata dan produk majinal. Ketiga istilah tersebut menunjukkan hubungan antara
input dengan output. Produk total (TP) adalah jumlah total yang diproduksi selama periode waktu tertentu. Jika semua input kecuali satu faktor produksi dijaga konstan, produk total akan berubah menurut banyak sedikitnya faktor produksi variabel yang digunakan. Produk rata-rata (AP) adalah produk total dibagi dengan jumlah unit faktor variabel yang digunakan untuk memproduksinya. Semakin banyak faktor produksi variabel yang digunakan, produk rata-rata pada awalnya akan meningkat dan kemudian menurun. Produk marjinal (MP) adalah perubahan dalam produk total sebagai akibat adanya satu unit tambahan penggunaan variabel (Lipsey et al. 1995).
Soekartawi et al. (2011) dan Lipsey et al. (1995) menyebutkan bahwa hubungan masukkan dan produksi pertanian mengikuti kaidah kenaikan hasil yang berkurang (law of deminishing return). Hasil produksi dapat ditingkatkan dengan melakukan penambahan faktor produksi akan tetapi dalam kegiatan produksi akan tercipta kondisi dimana setiap tambahan unit masukan akan mengakibatkan proporsi unit tambahan produksi yang semakin kecil dibandingkan dengan unit tambahan masukan tersebut. Kemudian suatu ketika sejumlah unit tambahan masukkan akan menghasilkan produksi yang terus berkurang. Hubungan antara faktor produksi (input) dengan hasil produksi (output) dapat dilihat pada Gambar 1.
Kurva produksi pada Gambar 1 menunjukkan bagaimana pengaruh penggunaan faktor produksi sebagai input terhadap hasil produksi (output). Pada kurva tersebut membentuk tiga daerah produksi yang memberikan gambaran nilai elastisitas produksi dari suatu proses produksi. Daerah produksi I berada di sebelah kiri titik AP maksimum, daerah II berada diantara AP maksimum dan MP sama dengan nol, dan daerah III berada di sebelah kanan MP sama dengan nol. Daerah produksi I disebut daerah tidak rasional karena setiap tambahan satu satuan input variabel pada kondisi dimana input lain tetap, memberikan tambahan hasil (output) yang diperoleh lebih besar dari satu. Daerah I memiliki elastisitas produksi lebih besar dari satu (Ep > 1). Daerah produksi II disebut daerah rasional karena setiap tambahan satu satuan unit input variabel akan memperoleh
27 tambahan output yang lebih kecil dari satu. Daerah II memiliki nilai elastisitas produksi antara satu dan nol ( 0 ≤ Ep ≤ 1). Daerah III disebut daerah tidak rasional karena setiap penambahan satu satuan unit input variabel akan memberikan tambahan output yang negatif. Daerah III memiliki elastisitas produksi yang negatif (Ep < 0) (Suratiyah 2009; Hanafie 2010).
Gambar 2. Kurva Produksi
Sumber: Suratiyah (2009)
Salah satu fungsi produksi yang dapat digunakan untuk mewakili kondisi yang sesungguhnya adalah fungsi produksi Cobb-Douglas. Menurut Soekartawi (2002a) fungsi produksi Cobb-Douglas merupakan salah satu model yang umum
Input Input Output Output TP AP MP I II III Ep > 1 Ep < 0 0 < Ep < 1
28 dibahas dan digunakan oleh para peneliti. Fungsi ini menunjukkan hubungan antara variabel independen (X) dengan variabel dependen (Y). Dalam kasus produksi pertanian, variabel independen mewakili faktor produksi sedangkan variabel dependen mewakili hasil produksi. Soekartawi (2002a) juga menyebutkan bahwa penyelesaian fungsi Cobb-Douglas selalu dilogaritmakan dan diubah bentuk fungsinya menjadi fungsi linier, maka ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sebelum menggunakan fungsi Cobb-Douglas. Persyaratan tersebut antara lain: tidak ada nilai pengamatan yang bernilai nol, tidak ada perbedaan teknologi, tiap variabel independen adalah perfect competition, dan perbedaan lokasi seperti iklim sudah tercakup pada komponen kesalahan. Secara matematik, fungsi Cobb-Douglas dapat dituliskan sebagai berikut:
Y = b0X1b1X2b2X3b3,...,Xnbneu
Dimana:
Y = variabel dependen (variabel yang dijelaskan) X = variabel independen (variabel yang menjelaskan) bn = besaran yang akan diduga
u = kesalahan (distrubance term) e = logaritma natural (e=2,718)
Ada tiga alasan pokok mengapa fungsi Cobb-Douglas lebih banyak dipakai oleh para peneliti yaitu (Soekartawi, 2002a) : (1) Penyelesaian fungsi Cobb-Douglas relatif lebih mudah dibandingkan dengan fungsi yang lain dan dapat dibuat menjadi linier, (2) Hasil pendugaan garis melalui fungsi Cobb- Douglas akan menghasilkan koefisien regresi yang sekaligus juga menunjukkan besaran elastisitas, dan (3) Besaran elastisitas tersebut sekaligus menunjukkan tingkat besaran return to scale.
3.2 Risiko Produksi Pertanian
Dunia usaha tidak terlepas dari adanya risiko. Kata risiko telah banyak digunakan dalam berbagai pengertian dan sudah biasa dipakai dalam dunia bisnis maupun usaha. Kegiatan bisnis bidang pertanian pun erat kaitannya dengan istilah
29 risiko ini. Pengusaha maupun petani umumnya menggunakan istilah risiko untuk menggambarkan suatu kejadian yang merugikan. Pemahaman setiap orang terhadap risiko bisa berbeda-beda tergantung pada sejauh mana orang tersebut mengerti konsep dan definisi risiko.
Secara garis besar, situasi keputusan dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu situasi keputusan yang pasti, dan situasi keputusan yang tidak pasti atau dalam kondisi risiko. Risiko secara umum didefinisikan sebagai peluang suatu kehilangan atau kerugian (Harwood, et al 1999). Vose (2008) mendefinisikan risiko sebagai kejadian acak yang mungkin terjadi dan jika terjadi akan berdampak negatif pada tujuan organisasi. Menurut Kountur (2006) terdapat tiga unsur penting dari sesuatu yang dianggap risiko yaitu (1) merupakan suatu kejadian, (2) kejadian tersebut masih merupakan kemungkinan, yang berarti bisa saja terjadi atau bisa saja tidak terjadi, (3) jika sampai terjadi, ada akibat yang ditimbulkan berupa kerugian.
Risiko erat kaitannya dengan ketidakpastian. Bahkan istilah risiko sering disamakan dengan ketidakpastian, walaupun kedua hal tersebut memiliki makna yang berbeda. Robison dan Barry (1987) dan Ellis (1993) memberikan definisi berbeda antara risiko dengan ketidakpastian. Menurut Robison dan Barry (1987) risiko adalah peluang terhadap suatu kejadian yang dapat diketahui oleh pelaku bisnis sebagi pembuat keputusan berdasarkan kejadian serupa yang pernah terjadi pada masa sebelumnya sehingga hasil dari keputusan terhadap kejadian sebelumnya dapat digunakan untuk mengestimasikan peluang kejadian berikutnya. Sedangkan ketidakpastian adalah sesuatu yang tidak bisa diramalkan sebelumnya sehingga peluang terjadinya kerugian belum diketahui sebelumnya. Sementara itu, menurut Ellis (1993) risiko dibatasi pada situasi dimana suatu kejadian dapat dihubungkan dengan kemungkinan munculnya kejadian-kejadian tersebut yang dapat mempengaruhi hasil dalam proses pengambilan keputusan. Sedangkan ketidakpastian mengacu pada situasi dimana peluang terjadinya kejadian tersebut tidak dapat ditentukan. Kemungkinan terjadinya tidak diketahui oleh pembuat keputusan maupun orang lain. Dari kedua pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa risiko merupakan kejadian merugikan yang dapat dihitung
30 peluang terjadinya sedangkan ketidakpastian merupakan peluang kejadian merugikan yang tidak dapat dihitung besarnya peluang kejadian tersebut terjadi.
Terjadinya risiko pada kegiatan usaha dipengaruhi oleh adanya sumber- sumber penyebab terjadinya risiko. Menentukan sumber risiko adalah penting karena mempengaruhi penanganannya (Darmawi 2006). Menurut Harwood, et al
(1999) terdapat beberapa sumber risiko yang dapat dihadapi oleh petani yaitu: 1. Risiko produksi
Risiko produksi yang terjadi dalam bidang pertanian yang dapat menurunkan hasil dipengaruhi oleh banyak kejadian yang tidak dapat dikendalikan seperti cuaca, curah hujan, suhu ekstrem, serangan hama dan penyakit.
2. Risiko harga
Risiko berhubungan dengan perubahan harga output atau input.