• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Shot keenam video musik For the Love of God Gambar 4.26

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.2 Penyajian Data dan Analisis Data

4.2.6 Analisis Shot keenam video musik For the Love of God Gambar 4.26

Scene keenam

Gambar 1 Gambar 2

Gambar 3 Gambar 4

Gambar 5 Gambar 6

Gambar 7 Gambar 8

Ilustrasi Scene Keenam

Pada scene terakhir ini menampilkan dua agama besar yaitu Kristen dan Buddha. yang sebagian Agama Buddha ditampilkan dengan patung-patung dan Agama Kristen dengan sebuah lukisan abad pertengahan. Gambar pertama menampilkan seorang Biksu Buddha dengan posisi meditasi yang mana merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan Biksu Buddha maupun penganut Agama Buddha sendiri dan salah satu tujuan meditasi sendiri adalah untuk mendapatkan kebijaksanaan. Lalu gambar selanjutnya ditampilkan Patung Manjushri yang merupakan bodhisatwa yang dikaitkan dengan kebijaksanaan dan dalam tradisi Vajrayana merupakan dewa meditasi yang menggambarkan kebijaksanaan yang tercerahkan. Lalu diselanjutnya ditampilkan patung Padmasambhava seorang master Tantric India yang dihargai karena membawa ajaran Buddha ke Tibet pada akhir abad ke delapan. Gambar Patung Dewi Tara dan Buddha Historis (Shakyamuni Buddha) yang merupakan sosok terpenting bagi umat Buddha juga ditampilkan. Sebuah karya seni dari abad pertengahan juga ditampilkan seperti Jeremiah oleh Michelangelo yang berada di Sistine Chapel, Vatican yang dibuat tahun 1508. Lalu gambar Paus Pius V yang dibuat tahun 1605 oleh El Greco dan terakhir adalah gambar wajah Yesus yang

merupakan bagian dari Lukisan Christ and the Rich Young Ruler yang dibuat tahun 1889 oleh Heinrich Hofmann.

Teknik Pengambilan gambar pada gambar pertama adalah Long Shot yang mengambil seluruh bagian tubuh. Pada gambar kedua digunakan teknik pengambilan gambar medium close-up. Pada gambar ketiga digunakan teknik pengambilan gambar close-up. Pada gambar keempat digunakan teknik pengambilan gambar close-up. Pada gambar kelima digunakan teknik pengambilan gambar medium close-up. Pada gambar keenam digunakan teknik pengambilan gambar long shot. Pada gambar ketujuh digunakan teknik pengambilan gambar medium close-up. Pada gambar kedelapan digunakan teknik pengambilan gambar close-up.

Ikon Scene Keenam 1. Visual (Tanda)

Gambar 4.27 Gambar 1 Scene keenam

Suara/Tempo Musik

Suara instrument musik dengan tempo permainannya sedang (moderato) dengan ritme/irama musik yang teratur dan keselarasan paduan bunyi (harmoni) yang baik antara alat musik satu dengan lainnya. Volume gitar terdengar lebih besar dari alat musik lainnya dan permainan melodi gitar dengan kecepatan lambat.

Penanda

Seorang pria yang tidak memiliki rambut (botak) dan berkulit kuning langsat. Pria tersebut memakai pakaian warna biru dari badan hingga kakinya. Pria tersebut

posisinya sedang bersila di lantai dan tangan kiri dan kanannya saling memegang satu sama lain..

Petanda

Seorang pria berkepala plontos memakai pakaian berwarna biru sedang duduk dilantai untuk melakukan posisi meditasi dengan mata yang ditutup dengan berlatar belakang sebuah ruangan yang dihiasi warna kuning dan coklat.

2. Visual (Tanda)

Gambar 4.28 Gambar 2 Scene keenam

Suara/Tempo Musik

Suara instrument musik dengan tempo permainannya sedang (moderato) dengan ritme/irama musik yang teratur dan keselarasan paduan bunyi (harmoni) yang baik antara alat musik satu dengan lainnya. Volume gitar terdengar lebih besar dari alat musik lainnya dan permainan melodi gitar dengan kecepatan lambat.

Penanda

Sebuah patung berwarna keemasan dengan tangan kanannya terangkat keatas memegang pedang dan tangan kirinya memegang bunga. Patung tersebut kepalanya dihiasi dengan mahkota dan mempunyai kalung dilehernya. Kuping patung tersebut terdapat anting besar berbentuk lingkaran.

Petanda

Sebuah patung yang berlatar belakang gradasi hitam putih yang tangan kanannya yang mengangkat keatas membentuk huruf L sedang memegang pedang bermata dua dalam posisi horizontal dan bunga lotus pada tangan kirinya yang terlihat tapak tangannya.

3. Visual (Tanda)

Gambar 4.29 Gambar 3 Scene keenam

Suara/Tempo Musik

Suara instrument musik dengan tempo permainannya sedang (moderato) dengan ritme/irama musik yang teratur dan keselarasan paduan bunyi (harmoni) yang baik antara alat musik satu dengan lainnya. Volume gitar terdengar lebih besar dari alat musik lainnya dan permainan melodi gitar dengan kecepatan lambat.

Penanda

Sebuah Patung yang memilki mata berwarna putih dan bola mata berwarna hitam.

Terdapat penutup kepala berwarna merah dikepalannya yang hampir menutupi seluruh rambutnya. Patung tersebut memiliki kulit yang berwarna keemasan. Baju yang dikenakan berwarna merah, biru, putih dan hijau. Patung tersebut juga memakai anting ditelingannya.

Petanda

Sebuah patung yang berwarna kuning keemasan yang memakai topi berwarna merah sedang menatap kebawah dengan latar belakang dari patung tersebut biru,hijau, dan merah.

4. Visual (Tanda)

Gambar 4.30 Gambar 4 Scene keenam

Suara/Tempo Musik

Suara instrument musik dengan tempo permainannya sedang (moderato) dengan ritme/irama musik yang teratur dan keselarasan paduan bunyi (harmoni) yang baik antara alat musik satu dengan lainnya. Volume gitar terdengar lebih besar dari alat musik lainnya dan permainan melodi gitar dengan kecepatan lambat.

Penanda

Sebuah patung wanita bewarna hijau yang memiliki mata sipit dan berwarna putih, serta bola matanya berwarna hitam. Alis patung tersebut terlihat tipis. Bibir patung tersebut berwarna merah dan kedua ujung bibirnya terlihat sedikit keatas.

Patung tersebut memakai hiasan dikepala yang bewarna merah dan coklat. Patung tersebut juga memiliki kuping yang memanjang kebawah dan lobang dikupingnya terlihat besar dan memakai anting.

Petanda

Sebuah patung wanita berwarna hijau sedang tersenyum dan menatap kedepan dengan latar belakang sebagian besar berwarna putih, sedikit coklat dan biru.

5. Visual (Tanda)

Gambar 4.31 Gambar 5 Scene keenam

Suara/Tempo Musik

Suara instrument musik dengan tempo permainannya sedang (moderato) dengan ritme/irama musik yang teratur dan keselarasan paduan bunyi (harmoni) yang baik antara alat musik satu dengan lainnya. Volume gitar terdengar lebih besar dari alat musik lainnya dan permainan melodi gitar dengan kecepatan lambat.

Penanda

Sebuah patung berwarna kuning keemasan yang terlihat bagian dadanya tidak tertutupi ini memiliki kuping yang memanjang kebawah. Patung tersebut memiliki rambut bewarna hitam dan ditengah kepalanyarambut tersebut membuat posisi keatas. Pakaian patung tersebut adalah warna kuning keemasan, merah, dan hijau.

Petanda

Sebuah patung berwarna kuning keemasan sedang melihat kedepan yang berlatar belakang susunan empat lingkaran dengan warna kuning keemasan, hijau, dan biru.

6. Visual (Tanda)

Gambar 4.32 Gambar 6 Scene keenam

Suara/Tempo Musik

Suara instrument musik dengan tempo permainannya sedang (moderato) dengan ritme/irama musik yang teratur dan keselarasan paduan bunyi (harmoni) yang baik antara alat musik satu dengan lainnya. Volume gitar terdengar lebih besar dari alat musik lainnya dan permainan melodi gitar dengan kecepatan lambat.

Penanda

Seorang pria memiliki jenggot panjang berwarna putih dan memakai baju berwarna merah. Posisi pria tersebut sedang duduk dengan tangannya menutupi sebagian wajahnya. Kepala pria tersebut sedikit menunduk kebawah. Terdapat dua orang dibelakangnya yang disebelah kanannya memakai pakaian berwarna biru dan putih, sedangkan yang disebelah kirinya memakai pakaian berwarna merah.

Petanda

Seorang pria tua yang tangannya menutupi bagian mulut dan dagu sedang termenung dengan seseorang disamping kirinya sedang memperhatikannya yang berlatar belakang tembok berwarna putih dan terdapat ukiran manusia.

7. Tanda (Visual)

Gambar 4.33 Gambar 7 Scene keenam

Suara/Tempo Musik

Suara instrument musik dengan tempo permainannya sedang (moderato) dengan ritme/irama musik yang teratur dan keselarasan paduan bunyi (harmoni) yang baik antara alat musik satu dengan lainnya. Volume gitar terdengar lebih besar dari alat musik lainnya dan permainan melodi gitar dengan kecepatan lambat.

Penanda

Seorang pria yang berperawakan paruh baya memiliki kulit putih dan jenggot yang panjang bewarna putih. Pria tersebut memiliki hidung yang mancung dan memakai topi bewarna merah yang dipinggirannya bergaris putih. Pria tersebut memakai pakaian warna merah dan serta bergaris putih ditengahnya. Tangan pria tersebut mengangkat keatas.

Penanda

Seorang pria tua yang memakai topi dan pakaian berwarna merah sedang melihat kesamping kirinya dan mengangkat tangan kanannya sejajar dengan hidungnya dengan berlatar belakang tirai bewarna hijau dan disamping kiri pria tersebut berwarna coklat.

8. Visual (Tanda)

Gambar 4.34 Gambar 8 Scene keenam

Suara/Tempo Musik

Suara instrument musik dengan tempo permainannya sedang (moderato) dengan ritme/irama musik yang teratur dan keselarasan paduan bunyi (harmoni) yang baik antara alat musik satu dengan lainnya. Volume gitar terdengar lebih besar dari alat musik lainnya dan permainan melodi gitar dengan kecepatan lambat.

Penanda

Seorang pria memiliki rambut terurai panjang yang berwarna hitam hampir menutupi seluruh kupingnya dan hanya terlihat daun kupingnya. Jambang, jenggot, dan kumis pria tersebut menyatu dan berwarna hitam. Kepala pria tersebut sedikit mengarah kekirinya.

Petanda

Seorang pria berambut hitam panjang belah tengah sedang menatap kesamping kiri dengan berlatar belakang gradasi hitam dan putih.

Tataran Tingkat Pertama (Denotasi)

Pada gambar pertama terlihat seorang pria memakai pakaian berwarna biru sedang duduk dilantai dengan posisi bersila. Pria tersebut sedang melakukan meditasi dan kedua matanya tertutup. Pria yang tampak tangan kiri dan kanannya saling memegang satu sama lain ini tidak memiliki rambut sama sekali atau botak dan memiliki kulit putih. Pria tersebut memakai pakaian berwarna biru dari badan

hingga kakinya dan pakaiannya menggunakan v-neck yang tampak pada bagian lehernya. Terlihat ruangannya dihiasi warna coklat dan kuning. Teknik Pengambilan gambar pada gambar pertama adalah full shot yang menujukkan seluruh bagian tubuh.

Pada gambar kedua terlihat sebuah patung berwarna kuning keemasan dengan latar belakang gradiasi hitam dan putih yang tangan kanannya mengangkat ke atas membentuk huruf L sedang memegang pedang bermata dua yang dalam posisi horizontal dengan sedikit miring dan bunga lotus pada tangan kirinya yang terlihat tapak tangannya. Tangan kanannya tampak memegang pedang dan tangan kirinya memegang bunga lotus. Patung tersebut kepalanya dihiasi dengan mahkota dan mempunyai kalung dilehernya. Kuping patung tersebut terdapat anting besar berbentuk lingkaran. Patung tersebut terlihat menggunakan gelang pada tangan kanannya. Pada gambar kedua digunakan teknik pengambilan gambar medium shot yang menunjukkan bagian perut hingga kepalanya sehingga tampak bagian tanganya sedang memegan sesuatu.

Pada gambar ketiga terlihat sebuah patung yang dimana kulitnya berwarna kuning keemasan yang sedang menatap kebawah dengan latar belakang dari patung tersebut berwarna biru,hijau, dan merah. Tampak bayangan patung tersebut dibelakangnya. Patung tersebut memilki mata berwarna putih dan bola mata berwarna hitam. Terdapat topi berwarna merah dikepalannya yang hampir menutupi seluruh rambutnya. Baju yang dikenakan berwarna merah, biru, putih dan hijau. Patung tersebut juga memakai anting ditelingannya. Pada gambar ketiga digunakan teknik pengambilan gambar medium close-up yang menunjukkan bagian dada hingga kepala.

Pada gambar keempat terlihat sebuah patung wanita berwarna hijau sedang tersenyum dan menatap kedepan dengan latar belakang sebagian besar berwarna putih, sedikit coklat dan biru. Patung wanita tersebut memakai hiasan yang terlihat seperti mahkota dikepala yang bewarna merah dan coklat. Wajah dan lehernya berwarna hijau dan memiliki mata sipit yang berwarna putih, serta bola matanya berwarna hitam. Patung wanita tersebut terlihat memiliki alis yang tipis dan bibirnya berwarna merah dengan kedua ujung bibirnya terlihat sedikit keatas.

Patung tersebut juga memiliki kuping yang memanjang kebawah dengan lobang

dikupingnya terlihat besar dan memakai anting. Pada gambar keempat digunakan teknik pengambilan gambar close-up yang ingin menunjukkan ekspresi wajahnya.

Pada gambar kelima terlihat sebuah patung berwarna kuning keemasan sedang melihat kedepan yang berlatar belakang empat lingkaran yang berpadu menyatu dengan warna kuning keemasan, hijau, dan biru. Patung tersebut memakai pakaian berwarna kuning keemasan, merah, dan hijau. Ia memiliki kuping yang memanjang kebawah dan juga memiliki rambut berwarna hitam dan ditengah kepalanya rambut tersebut membuat posisi keatas. Pada gambar kelima digunakan teknik pengambilan gambar medium close-up yang menunjukkan dari bagian perut hingga kepala.

Pada gambar keenam tampak seorang pria yang terlihat sudah tua yang terlihat dari memiliki jenggot yang panjang berwarna putih. Pria tersebut tangannya menutupi bagian mulut dan dagu ini sedang termenung dengan seseorang disamping kirinya sedang memperhatikannya yang berlatar belakang tembok berwarna putih dan terdapat ukiran manusia. Pria itu menggenakan pakaian berwarna merah dan sampai lengannya ditutupi. Kepala pria tersebut sedikit menunduk kebawah. Terdapat dua orang dibelakangnya yang disebelah kanannya memakai pakaian berwarna biru dan putih, sedangkan yang disebelah krinya memakai pakaian berwarna merah. Pada gambar keenam digunakan teknik pengambilan gambar knee shot yang menunjukkan bagian lutut hingga kepalanya.

Pada gambar ketujuh terlihat seorang pria yang berperawakan sudah tua yang memiliki kulit putih dan jenggot yang panjang berwarna putih ini sedang melihat kesamping kirinya dan mengangkat tangan kanannya sejajar dengan hidungnya dengan berlatar belakang tirai bewarna hijau dan disamping kiri pria tersebut berwarna coklat. Pria itu memiliki hidung yang mancung dan memakai topi bewarna merah yang dipinggirannya bergaris putih. Pakaiannya berwarna merah dan serta bergaris putih ditengahnya. Pada gambar ketujuh digunakan teknik pengambilan gambar medium shot yang ingin menunjukkan ekspresi wajah dan gerakan tangannya.

Pada gambar terakhir yaitu gambar keenam terlihat seorang pria memiliki rambut terurai panjang yang belah tengah dan berwarna hitam ini sedang menatap kesamping kiri dengan berlatar belakang gradasi hitam dan putih. Jambang,

jenggot, dan kumis pria tersebut menyatu dan berwarna hitam. Kepala pria tersebut sedikit mengarah kekirinya. Pada gambar kedelapan digunakan teknik pengambilan gambar close-up yang menunjukkan ekspresi wajahnya.

Tataran Tingkat Kedua (Konotasi)

Pada scene terakhir ini menampilkan keberagaman agama (pluralisme agama) yang menunjukkan dua agama yang berbeda yaitu Buddha dan Kristen.

Representasi kedua agama tersebut terlihat dari gambar seorang biksu dan bentuk karya seni yaitu patung-patung yang terkait agama Buddha dan lukisan-lukisan mengenai agama Kristen.

Pada gambar pertama ditampilkan seorang Biksu Buddha dengan posisi meditasi yang menggambarkan ketenangan jiwa ini menujukkan bahwa kesempurnaan ketenangan dari sebuah konsentrasi pikiran membawa pada tingkatkan pengetahuan (knowing) yang luar biasa, khususnya pengertian (insight) kedalam realitas yang membebaskan dari keterikatan penderitaan (Duhkha). Baju biru yang dikenakan biksu ini menunjukkan kedamaian atau ketenangan, kemurniaan hati, dan kebijaksanaan. Gambar Biksu bermeditasi menggambarkan juga penekanan bahwa meditasi akan memberikan pengikisan kesombongan dan pandangan yang salah, lebih mudah mengendalikan emosi dan kemarahan, serta memberikan ketenangan jiwa. Gambar Biksu Buddha bermeditasi juga ingin memberitahu bahwa meditasi seharusnya dilakukan setiap hari oleh umat Buddha, karena persoalan batin lebih pelik dari persoalan jasmani. Manusia sering kali melihat kehidupan tanpa arah, tanpa pedoman, manusia datang mencari pegangan hidup yang benar, untuk menuju kehidupan yang sejahtera dan kebahagiaan yang tertinggi. Dari kehidupan tanpa mengetahui hukum kebenaran mutlak, dari kegelapan batin, manusia berusaha menemukan sampai mendapat atau sampai mengetahui dan mengerti suatu hukum kebenaran yang belum kita ketahui.

Dengan meditasi inilah Buddha mengajarkan bahwa seseorang akan dapat dicerahkan dan mendapatkan kebijaksanaan dimana merupakan suatu kebaikan tertinggi.

Pluralisme agama yang merupakan pada kenyataannya terdapat tradisi pluralitas agama yang setiapnya memiliki bentuk kesenian yang berbeda. Hal

inilah yang ditunjukkan melalui karya seni sebuah patung dan lukisan. Pada scene ini menampilkan patung-patung agama Buddha seperti Bodhisatwa Manjushri, Padmasambhava, Dewi Tara Hijau, dan Buddha Historis (Siddharta Gautama).

Karya seni yang merepresentasikan Agama Kristen juga terdapat pada lukisan-lukisan seperti lukisan-lukisan The Prophet of Jeremiah karya Michelangelo tahun 1508 yang terdapat pada langit-langit di Sistine Chapel, Vatican dan lalu lukisan Paus Pius ke V dan yang terakhir adalah Lukisan Christ and the Rich Young Ruler karya Heinrich Hofmann.

Pada gambar kedua ditampikan patung Bodhisatwa yang terkenal dengan kebijaksanaannya yaitu Manjushri yang merupakan perwujudan semua kebijaksanaan Buddha atau dikenal juga dengan Bodhisatwa kebijaksanaan transenden. Bodhisatwa berasal dari kata sattva (orang) pada Buddhist marga (jalan) dalam mengejar Bodhi (kesadaran) atau seseorang yang mempunyai kesadaran yang alami. Dalam tradisi Mahayana, bodhisatwa merupakan seorang praktisi yang membiasakan diri dalam mempraktekkan Paramita (kesempurnaan), berkeinginan untuk menjadi soerang buddha dimasa depan melalui pencarian Anuttarasamyaksam Bodhi (kesadaran yang lengkap dan sempurna) melalui Prajna (kebijaksaan). Manjushri yang digambarkan dengan tangan kanannya memegang sebuah pedang bermata dua menggambarkan ketajaman kebijaksanaan yang untuk memotong melalui ilusi dan tangan kirinya memegang sebuah bunga lotus yang menggambarkan kebijaksanaan semurni bunga lotus. Ditampilkannya Bodhisatwa Manjushri ini ingin menunjukkan bahwa Kebijaksanaan merupakan kebaikan yang paling dihormati dalam ajaran Buddha. Bahkan disebut sebagai Ibu dari semua Buddha. Kebijaksanaan merupakan satu-satunya cara untuk membuat kemungkinan kebahagiaan tertinggi keseluruhan kebebasan yang berasal dari penderitaan semua makhluk hidup.

Penderitaan merupakan hal yang sangat krusial bagi umat Buddha. Dimana penderitaan menyebabkan kesengsaraan yang merupakan salah satu rintangan untuk menyecerahkan manusia. Terdapat banyak rintangan dalam (inner) pada pengembangan mental manusia, dan rintangan dalam ini dapat membuat rintangan eksternal. Untuk mencapai keberhasilan dalam praktek Dharma, jalan menuju pencerahan, umat Buddha harus bersandar pada kedewaan yang khusus seperti,

Dewi Tara. Semua semangat Buddha termanifestasi dalam bentuk seorang perempuan, yaitu Tara yang menolong makhluk hidup yang sadar agar berhasil menyelesaikan kebahagiaan baik yang temporal maupun tertinggi. Untuk itulah Guru Padmasambhava datang ke Tibet untuk menyebarkan Dharma yang ditampilkan melalui gambar patung Padmasambhava. Guru Padmasambhava yang dimengerti sebagai esensi Buddha Amitabha mempunyai tugas untuk menyebarluaskan ajaran Dharma secara umum dan khusus rahasia mantra dan ajaran Dzogchen. Kelahirannya dipercaya secara spotan dari lotus. Kelahirannya pada bunga lotus menjadi sebuah simbol kesuciaan dan penuh kesadaran yang muncul pada moment kelahirannya. Warna topi merahnya menunjukkan sesuatu yang suci dan warna yang melindungi seperti tempat cenayang. Warna merah, biru, putih dan hijau pada baju yang dikenakan dan pada atribut lainnya menujukkan perpaduan antara kehidupan, kesuciaan dan juga keseimbangan dalam kehidupan, serta kesembuhan bagi umat manusia yang mendengar Dharma agar terhindar dari penderitaan.

Hal inilah yang menampilkan gambar patung Dewi Tara Hijau (Green Tara) yang merupakan seorang Buddha perempuan dan dewi yang paling populer dikuil Buddha. Dia merupakan dewi perasaan universal (compassion universal) yang merepresentasikan aktivitas kebaikan dan pencerahan. Kata Tara sendiri diambil dari kata 'tri' (melewati), yang mengartikan seseirang yang dapat hidup untuk melawati lautan eksistensi dan penderitaan. Kebaikannya untuk makhluk hidup dan keinginannya untuk menyelamatkan mereka dari penderitaan, sering kali dikatakan bahwa dia lebih kuat dibandingkan cinta seorang ibu terhadap anak-anaknya. Ditampilkan gambar Dewi Tara Hijau juga menujukkan bahwa gerakan feminisme sudah ada dari dahulu oleh umat Buddha. Dewi Tara mengatakan bahwa tidak ada laki-laki dan perempuan yang tidak ada hidup dalam realitas. Dalam rupanya seorang wanita, Dewi Tara ingin melayani makhluk hidup sampai mereka mencapai pencerahan, hal ini mengimplikasan kekurangan pada pengetahuan biksu dalam mengasumsikan bahwa hanya pria yang dapat menyebarkan agama Buddha. Hal inilah yang membuat Dewi Tara dipertimbangkan menjadi salah satu feminis awal. Warna merah pada hiasan kepalanya menunjukkan bahwa Tara memberikan kekuatan kehidupan sedangkan

Warna hijaunya menggambarkan kekuatan dan aktivitas yang masih baru yang dapat menolong seseorang mengatasi bahaya, ketakutan, kecemasan dan akan memberikan pengharapan, serta menolong seseorang melewati marabahaya menuju keselamatan atau dari penderitaan menuju kebahagiaan.

Tujuan hidup umat Buddha adalah tercapainya suatu kebahagiaan, baik kebahagiaan yang masih bersifat keduniawian (yang masih berkondisi) yang hanya bisa menjadi tujuan sementara saja maupun kebahagiaan yang sudah bersifat mengatasi keduniaan (yang sudah tidak berkondisi) yang memang merupakan tujuan akhir, dan merupakan sasaran utama dalam belajar Buddha Dharma. Hal inilah yang ditampilkan gambar patung Buddha Historis yaitu Sakyumuni Buddha (Siddharta Gautama) yang merupakan penyebar ajaran Buddha pertama. Warna merah, hijau, dan kuning yang terdapat pada gambar tersebut ini menujukkan warna ini berpadu untuk menggambarkan kekuatan kehidupan yang diberikan oleh sang Buddha, keharmonisan didalam kehidupan, dan pencerahan yang merupakan puncak dari ajaran Buddha. Gambar Sakyumuni Buddha ini ingin menunjukkan bahwa Buddha mengajarkan Dharma tentang bagaimana cara-cara untu mendapatkan kesejahteraan/kebahagiaan, baik kebahagiaan di dunia ini, kebahagiaan di alam surga atau kebahagiaan yang tertinggi, Nibbana. Buddha menyatakan sebagai isu utama bagaimana menghindarkan penderitaan dan ketidakpuasaan adalah melalui jalan perputaran kelahiran kembali (cycle of rebirth).

Lalu selanjutnya ditampilkan karya seni Michelangelo yaitu the Prophet Jeremiah yang dilukiskan sedang merenung atau meratap. Jeremiah atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama Yeremia kerap kali mendapatkan penderitaan bahkan ia pernah dilemparkan ke penjara bawah tanah dan ditempatkan dalam sebuah perigi yang dipenuhi lumpur dan ditinggalkan di sana agar ia kelaparan dan hidup dengan tikus-tikus. Karya seni Michelangelo ini menunjukkan betapa sedihnya Yeremia dengan tangannya yang menutupi

Lalu selanjutnya ditampilkan karya seni Michelangelo yaitu the Prophet Jeremiah yang dilukiskan sedang merenung atau meratap. Jeremiah atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama Yeremia kerap kali mendapatkan penderitaan bahkan ia pernah dilemparkan ke penjara bawah tanah dan ditempatkan dalam sebuah perigi yang dipenuhi lumpur dan ditinggalkan di sana agar ia kelaparan dan hidup dengan tikus-tikus. Karya seni Michelangelo ini menunjukkan betapa sedihnya Yeremia dengan tangannya yang menutupi