KAJIAN PUSTAKA
2.3 Kerangka Teori
2.3.2 Komunikas Massa
Komunikasi massa adalah bentuk komunikasi yang menggunakan saluran (media) untuk menghubungkan komunikator dengan komunikan secara massal, khalayak berjumlah banyak dan heterogen, memungkinkan khalayak menggunakan satu atau dua saluran indrawi (pengelihatan, pendengaran), dan
biasanya tidak memungkinkan umpan balik segera. Komunikasi Massa juga merupakan proses penciptaan makna bersama antara media massa dan khalayaknya (Liliweri, 2011; Dedy, 2007; Baran, 2012). Dalam Kamus Media dan Komunikasi. Komunikas Massa merupakan sebuah sistem komunikasi yang menjangkau banyak orang atau proses aktual dalam mendesain dan mengirim teks media ke penonton banyak. (Marcel, 2009:187).
Komunikasi massa juga sekaligus merupakan sebuah fenomena sosial dan dikursif. Media Massa yang mewakili bagaimana cara instutisi berpikir. Dalam proses penyebaran pesan yang mengandung tanda-tanda dalam teks media akan membuat manusia memberikan makna pada tanda tersebut. Tanda-tanda , sesuai dengan humaniora, merupakan cara utama manusia untuk berinteraksi dengan realitas, memasuki ke dalam proses yang berkesinambungan dalam produksi makna yang berfungsi untuk mengkonstruksi realitas sosial sebagai aktivias utama dari politik, ekonomi dan budaya. Pada prinsipnya, komunikasi massa berfungsi untuk membentuk forum budaya yang mencakup semua orang dan dapat mengatasi masalah apapun tentang kekuasaan atau struktur sosial( Jensen &
Jankowski, 2002 )
Bagaimana komunikasi massa bekerja dapat dijelaskan dalam model linear komunikasi massa. sesuai dengan konsep tradisional, komunikasi massa merupakan sebuah komponen sistem yang dibuat oleh komunikator ( penulis, reporter, produser atau agensi) yang mengirimkan pesan ( konten buku, laporan surat kabar, teks, visual, gambar, suara atau iklan) melalui saluran media massa (buku, surat kabar, film, majalah, radio, televisi atau internet) kepada komunikan secara luas (pembaca, penonton, warga kota atau konsumer) setelah melalui proses penyaringan oleh penjaga (editor, produser atau manajer media) dengan beberapa harapan untuk timbal balik (seperti surat untuk editor, telepon untuk pembawa berita, penonton anggota talk show atau diskusi televisi) efek dari proses ini memungkinkan terjadinya pembentukan opini publik, penerimaan nilai budaya khusus, dan agenda setting untuk masyarakat. (Muhammadali, 2011:18).
2.3.2.1 Fungsi Komunikasi Massa
Pembahasan fungsi komunikasi telah menjadi diskusi yang cukup penting, terutama konsekuensi komunikasi melalui media massa. Fungsi komunikasi massa bagi masyarakat menurut Dominick, terdiri surveillance (pengawasan), penafsiran (interpretation), keterkaitan (linkage), penyebaran nilai (transmission of values), dan hiburan (entertainment).
• Pengawasan (Surveillance)
Fungsi pengawasan komunikasi massa dibagi dalam bentuk utama : (1) warning or beware surveillance (pengawasan peringatan); (2) instrumental surveillance (pengawasan instrumental). Fungsi pengawasan peringatan terjadi ketika media massa menginformasikan tentang ancaman dari bencana alam, kondisi efek yang memprihatinkan, tayangan inflasi, atau adanya serangan militer.
Sedangkan fungsi pengawasan instrumental adalah penyampaian atau penyebaran informasi yang memiliki kegunaan atau dapat membantu khalayak dalam kehidupan sehari-hari.
• Penafsiran (Interpretation)
Fungsi penafsiran hampir mirip dengan fungsi pengawasan. Media massa tidak hanya memasok fakta dan data, tetapi juga memberikan penafsiran terhadapt kejadian-kejadian penting. Organisasi atau industri media memilih dan memutuskan peristiwa-peristiwa yang dimuat atau ditayangkan.
• Pertalian (Linkage)
Media massa dapat menyatukan anggota masyarakat yang beragam, sehingga membentuk lingkage (pertalian) berdasarkan kepentingan dan minat yang sama tentang sesuatu.
• Penyebaran Nilai-Nilai (Transmission of values)
Fungsi ini disebut juga sosialisasi. Sosialisasi mengacu kepada cara, dimana individu mengadopsi perilaku dan nilai kelompok. Media massa yang berperan dalam menyebarkan nilai-nilai memperlihatkan kepada kita bagaimana mereka bertindak dan apa yang diharapkan mereka.
• Hiburan (Entertainment)
Hampir semua media menjalankan fungsi hiburan. Hiburan merupakan komoditas yang bernilai tinggi dan kebanyakan masyarakat menikmati media
karena hiburan. Fungsi hiburan bertujuan untuk mengurangi ketegangan pikiran khalayak, karena dengan membaca berita-berita ringa atau melihat tayangan hiburan di televise dapat membuat pikiran khalayak segar kembali. (Ardianto &
Erdinaya, 2004:15-18).
2.3.2.2 Konstruksi Sosial oleh Media
Realitas sosial merupakan konstruksi sosial yang diciptakan oleh individu.
Individu adalah manusia yang bebas melakukan hubungan antara manusia yang satu dengan yang lain. Individu menjadi penentu dalam dunia sosial yang dikonstruksi berdasarkan kehendaknya. Individu bukanlah korban fakta sosial, namun sebagai media produksi sekaligus reproduksi yang kreatif dalam mengkonstruksi dunia sosialnya (Basrowi & Sukidin, 2002:194). Konstruksi media massa memainkan peranan penting dalam opini publik dan konstruksi realitas sosial. Komunikasi sebagai bentuk interaksi tidak bisa lepas dari konstruksi realitas sosial. Realitas sosial adalah pengetahuan yang bersifat keseharian yang hidup dan berkembang di masyarakat seperti konsep, kesadaran umum, wacana publik, sebagai hasil dari konstruksi sosial.
Dalam pandangan paradigma defensi sosial, realitas adalah hasil ciptaan manusia kreatif melalui kekuatan konstruksi sosial terhadap dunia sosial di sekelilingnya. Awalnya konstruksi ini berasal dari filsafat konstruktivisme yang semuanya dimulai dari gagasan-gagasan konstruktif kognitif. Realitas menurut paradigma konstruktivis adalah konstruksi sosial yang diciptakan oleh individu, walau demikian, kebenaran suatu realitas sosial mempunyai sifat nisbi yang berlaku secara spesifik dan haruslah relevan oleh pelaku sosial. Pada dasarnya, Isi media merupakan hasil para pekerja media mengkonstruksikan berbagai realitas yang dipilihnya. Isi media pada hakikatnya adalah hasil dari konstruksi realitas dengan bahasa sebagai perangkat dasar. Bahasa tidak hanya saja sebagai alat merepresentasikan sebuah realitas namun juga bahasa dapat menentukan relif seperti apa yang akan diciptakan oleh bahasa tentang realitas. Oleh karena itu, media massa mempunyai sebuah peluang yang sangat besar dalam mempengaruhi makna dan gambaran yang dihasilkan dari realitas yang dikonstruksikannya (Andriana, 2016:30-32).
Media massa sebagai saluran komunikasi masif dan kekuatan serta pengaruhnya yang besar di tengah masyarakat, telah menjadi entitas yang dipercaya mengisi gatra antara publik dan kenyataan yang terjadi. Akibatnya, tak jarang apa yang diberitakan oleh media massa menjadi suatu kebenaran di mata publik, menjadi suatu realitas yang pada awalnya hanya eksis pada rangkaian kata suatu media massa.
Realitas berita hadir dalam keadaan subjektif. Walter Lippmann pernah menyatakan, “The world outside and the pictures in our head,” (dunia di luar dengan gambarannya di pemikiran kita). Secara singkat, manusialah yang membentuk imaji dunia. Teks dalam sebuah berita dipandang sebagai konstruksi atas realitas. Karena pada hakikatnya, isi media adalah hasil konstruksi realitas dengan bahasa sebagai perangkat dasarnya. Realitas yang ditampilkan media adalah realitas yang sudah diseleksi, realitas tangan kedua (second hand reality).
Menurut Gerbner dan kawan-kawan, dunia simbol media membentuk konsepsi khalayak tentang dunia nyata atau dengan kata lain media merupakan alat konstruksi realitas. Khalayak membentuk citra tentang lingkungan sosial berdasarkan realitas kedua yang ditampilkan media massa (Zahrawi, 2015:28-29).