• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Sosial, Ekonomi dan Kelembagaan : Studi Kasus di Desa Padasari, Kabupaten Sumedang dan Desa Legok Huni, Kabupaten

MINDI DI HUTAN RAKYAT

5.1.3 Analisis Sosial, Ekonomi dan Kelembagaan : Studi Kasus di Desa Padasari, Kabupaten Sumedang dan Desa Legok Huni, Kabupaten

Purwakarta. Jawa Barat.

Kekuatan

Faktor kepemilikan lahan berpengaruh terhadap pengelolaan lahan, yaitu

lahan yang dikelola oleh petani hutan rakyat adalah milik pribadi (private

property). Akan terjadi efisiensi terhadap alokasi sumber daya apabila suatu kepemilikan memenuhi empat syarat kesempurnaan hak kepemilikan, yaitu dapat diperjual belikan (tradable), dapat dipindah tangankan (transferable), dapat mengeluarkan pihak-pihak yang tidak berhak (excludable) dan dapat ditegakkan hak-haknya (enforceable). Kepemilikan pribadi (private property) memenuhi ke empat syarat tersebut, sehingga pemilik lahan dapat lebih efisien dalam memanfaatkan lahannya karena mempunyai kejelasan dalam hal hak dan kewajiban. Menurut Prabowo dan Prahasto (2002) dikatakan bahwa hutan rakyat yang dibangun di atas tanah milik memiliki potensi yang besar untuk

dikembangkan, sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani dari hasil kayu rakyat. Pendapat tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang telah dilakukan, yaitu kontribusi hasil dari lahan yang digarap oleh petani hutan pada lahan milik pribadinya, memberikan kontribusi lebih tinggi terhadap pendapatan petani. Kondisi ini dapat dilihat pada petani hutan di Desa Padasari, walaupun luas lahan garapan lebih sempit, tetapi petani lebih efisien dalam memanfaatkannya.

Kelemahan

Tingkat pendidikan petani di Desa Padasari maupun Desa Legok Huni masih rendah, yaitu masih didominasi oleh petani dengan tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD). Walaupun tidak menjadi faktor utama, namun tingkat pendidikan dapat berpengaruh terhadap kelestarian pengelolaan hutan. Khususnya di hutan rakyat, dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi diharapkan petani lebih mudah mengadopsi atau menerima pengetahuan dari luar, dalam hal ini yang berkaitan dengan peningkatan produktivitas hutan rakyat dengan menggunakan benih berkualitas. Terdapat lima tahapan orang atau sekelompok masyarakat mau menerima atau mengadopsi hal baru (teknologi, pengetahuan dll.) Adapun tahapan tersebut adalah : (1) aware, (2) interest, (3)

evaluation, (4) trial dan (5) adoption (Rogers and Shoemaker 1971).

Pada umumnya petani dalam mengelola lahan lebih fokus pada tanaman pertanian atau perkebunan, sehingga kegiatan pemeliharaan akan diterapkan pada tanaman pertanian maupun perkebunan, sedangkan tanaman kehutanan hanya menerima imbas dari kegiatan tersebut. Tanaman kehutanan umumnya ditanam sebagai tanaman sela atau pembatas, tidak ditanam secara teratur, sehingga jarak tanam antar pohon tidak teratur. Sempitnya lahan yang digarap oleh para petani hutan khususnya di Jawa Barat, menyebabkan penanaman tanaman hutan belum menjadi prioritas.

Peluang

Untuk pengadaan bibit tanaman kehutanan, sebagian petani sudah membuat persemaian dan melakukan pembibitan, kondisi tersebut sudah nampak pada petani di Desa Padasari. Selain itu petani di Desa Padasari sudah lebih intensif dan efisien dalam mengelola lahan, hal ini terlihat dari kerapatan tanaman per ha.

Kebutuhan benih dan bibit tanaman kehutanan akan meningkat apabila petani melihat ada peluang pasar untuk kayu rakyat. Hal ini sudah terjadi pada jenis sengon, permintaan kayu sengon cukup tinggi, sehingga mendorong masyarakat untuk menanam jenis ini. Kondisi demikian sudah mulai terlihat di Desa Padasari, harga kayu mindi cukup tinggi dan pemasarannya cukup baik, yaitu sebagai kayu substitusi untuk jati di sentra industri meubel di Jepara. Peluang ini dapat menjadi pendorong untuk terbangunnya sumber benih mindi di Desa Padasari. Diharapkan produksi benih yang dihasilkan nanti mempunyai mutu yang lebih baik, karena keragaman genetik tanaman mindi di daerah ini cukup besar.

Embrio untuk mengembangkan sumber benih mindi secara kolektif sudah ada yaitu sudah terbentuknya kelompok tani. Kelompok tani merupakan bentuk dari kelembagaan yang dibangun oleh petani karena didorong oleh rasa kebutuhan. Kebutuhan tersebut terutama menyangkut masalah informasi, yaitu informasi mengenai harga kayu, pemasaran, pendanaan (berupa pinjaman), pemberian bibit dan pengurusan administrasi. Informasi yang lengkap dan diterima oleh seluruh anggota dapat menghilangkan biaya transaksi (transaction cost) yang umumnya timbul apabila ada ketidaksepadanan informasi (asymmetric information). Adanya kelompok tani yang sudah berjalan baik, dapat menjadi

bahan untuk membangun aksi bersama (collective action) dalam membangun

sumber benih mindi. Kelompok tani yang sudah terbentuk di Desa Padasari sudah berjalan efektif, sedangkan kelompok tani yang ada di Desa Legok Huni belum berjalan efektif. Oleh karena itu kelompok tani yang ada di Desa Padasari dapat dijadikan inisiasi untuk terbangunnya sumber benih mindi secara kolektif.

Faktor eksternal yang cukup berperan dalam pengelolaan hutan rakyat adalah peran dari institusi formal seperti Dinas Kehutanan Kabupaten ataupun Perum Perhutani Unit III Jawa Barat serta adanya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang ikut terlibat dalam pengembangan hutan rakyat. Peran instutisi tersebut antara lain melakukan pembimbingan, penyuluhan, pemberian bibit serta membantu dalam permodalan. Faktor tersebut dapat menjadi peluang untuk berkembangnya hutan rakyat, khususnya untuk jenis mindi. Menurut Andayani (2003) bentuk konkrit dari peran pemerintah dalam pengembangan usaha hutan

rakyat adalah dalam bentuk insentif, yaitu (1) regulasi tentang usaha hutan rakyat yang memberikan keadilan bagi semua pelaku ekonomi yang terlibat terutama produsen (petani), (2) penyediaan infrastruktur publik yang diperlukan untuk kelancaran proses produksi dan distribusi, (3) kredit usaha yang skimnya secara wajar bisa dilaksanakan, (4) kemudahan memperoleh sarana produksi, (5) penyuluhan dan pendidikan tentang berbagai aspek, diantaranya teknologi, pemasaran dan kelembagaan serta (6) kemudahan terhadap akses pasar serta kejelasan pemasaran.

Ancaman

Petani hutan belum menggunakan benih yang berkualitas untuk kegiatan penanaman tanaman mindi, hal ini sangat berlainan pada saat petani akan menanam tanaman pertanian ataupun perkebunan. Petani sudah mengenal penggunaan benih ataupun bibit unggul untuk tanaman pertanian maupun perkebunan, sehingga petani akan berusaha untuk dapat memperoleh benih tersebut. Namun kondisi ini belum nampak dalam hal penggunaan benih ataupun bibit unggul untuk tanaman mindi. Hal ini dapat menjadi hambatan apabila akan mengembangkan sumber benih mindi.

Selain jenis mindi, masyarakat menanam pula jenis lain yang kayunya bernilai ekonomis, seperti sengon, mahoni, suren dan jati. Oleh karena itu jumlah tanaman mindi dalam suatu tegakan sangat beragam. Tinggi rendahnya kerapatan suatu jenis dalam satu unit pengelolaan hutan rakyat sangat dipengaruhi oleh luas lahan (yang umumnya sempit), kondisi pasar, serta harga kayu yang kompetitif.