• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS STRUCTURE, CONDUCT, PERFORMANCE (SCP) PASAR JAMBU METE GELONDONGAN KABUPATEN MUNA

4 METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian

6 ANALISIS STRUCTURE, CONDUCT, PERFORMANCE (SCP) PASAR JAMBU METE GELONDONGAN KABUPATEN MUNA

Bagian 6 membahas tentang sistem pemasaran jambu mete gelondongan di Kabupaten Muna yang dianalisis dengan pendekatan structure, conduct, dan performance. Analisis struktur pasar (market structure) meliputi analisis pangsa pasar pedagang pengumpul jambu mete gelondongan yang ada di Kabupaten Muna, konsentrasi pasar, dan hambatan keluar masuk pasar. Analisis perilaku pasar (market conduct) dianalisis secara deskriptif. Sedangkan analisis kinerja pasar (market performance) meliputi analisis margin pemasaran, farmer share, dan integrasi pasar vertikal. Masing-masing hasil analisis diuraikan secara sistematis sesuai dengan tujuan penelitian yang dilakukan.

Analisis Struktur Pasar (Market Structure)

Analisis struktur pasar jambu mete gelondongan dilakukan guna mengidentifikasi tingkat persaingan yang terjadi dalam pasar jambu mete gelondongan di Kecamatan Tongkuno dan Kabawo. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan analisis pangsa pasar. Konsentrasi pasar dianalisis dengan menggunakan analisis Herfindahl Hirchman Index (HHI). HHI mengukur jumlah pangkat dari ukuran pedagang antar pulau di pasar. Pengukuran dilakukan dari persentase total penjualan di pasar (Baye 2010).

Pangsa Pasar dan Konsentrasi Pasar

Pangsa pasar jambu mete gelondongan di Kabupaten Muna dihitung dengan menggunakan rasio antara penjualan jambu mete gelondongan di Kecamatan Tongkuno dan Kabawo terhadap total penjualan jambu mete gelondongan yang ada di Kabupaten Muna. Hasil analisis yang diperoleh akan dapat mengidentifikasi siapa yang memiliki kekuatan pasar (market power) yang tinggi sehingga mampu bersaing dengan pedagang lainnya. Jumlah jambu mete gelondongan yang

55 dipasarkan cukup beragam bergantung pada luas lahan yang dimiliki petani serta jumlah pohon jambu mete yang berproduksi setiap tahun.

Sistem pemasaran jambu mete gelondongan yang terdapat di Kecamatan Tongkuno dan Kabawo dari keseluruhan produksi yang dihasilkan (100%) dipasarkan ke pedagang antar pulau. Kemudian dari pedagang antar pulau dipasarkan ke industri pengolahan yang selanjutnya diteruskan ke konsumen. Volume jambu mete gelondongan yang banyak dipasarkan ke tingkat pedagang antar pulau menunjukkan bahwa pedagang pengumpul yang ada di Kecamatan Tongkuno dan Kabawo memiliki peran strategis dalam pasar jambu mete gelondongan. Jumlah pedagang pengumpul kecamatan yang aktif hanya berjumlah 6 orang dan 4 orang untuk pedagang pengumpul desa. Namun proses distribusi jambu mete gelondongan yang dilakukan oleh pedagang pengumpul tersebut untuk menyampaikan produk dari tangan produsen hingga ke tangan pedagang antar pulau memiliki peran yang cukup besar.

Selama lima tahun terakhir pedagang antar pulau yang masih aktif dalam melakukan pemasaran jambu mete gelondongan dari Kabupaten Muna hingga ke tingkat konsumen hanya berjumlah 3 orang, 6 orang pedagang pengumpul kecamatan yang terdiri dari 2 orang pedagang pengumpul kecamatan yang berasal dari Kecamatan Tongkuno dan 4 orang dari Kecamatan Kabawo. Pedagang pengumpul desa hanya ada 4 orang. Pangsa pasar yang dimiliki oleh para pedagang berdasarkan klasifikasi pedagang di Kabupaten Muna dapat terlihat pada Tabel 13.

Tabel 13 Pangsa pasar (MSi) jambu mete gelondongan di Kabupaten Muna tahun 2013

Jenis Pedagang

Rata-rata pembelian jambu mete

gelondongan (ton/tahun) MSi (%)

PAP 1 PAP 2 PAP 3 538.06 265.77 216.39 52.75 26.05 21.21 Jumlah 1 022.22 100.00

Pedagang yang memiliki pangsa pasar terbesar adalah pedagang antar pulau (PAP) 1 (52.75%), PAP 2 (26.05%), dan PAP 3 (21.21%). Setelah mengetahui pangsa pasar dari pedagang antar pulau di Kabupaten Muna. Maka akan dapat pula diketahui rasio konsentrasi pasar. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan pengukuran Herfindahl Hirchman Index (HHI).

Nilai HHI berada diantara 0 sampai 10 000. Nilai HHI sama dengan 0 mengandung makna bahwa terdapat pedagang-pedagang dalam pemasaran jambu mete gelondongan yang sangat kecil. Namun jika nilai HHI diatas 0 sampai 10 000 mengindikasikan bahwa pangsa pasarnya bernilai 1 yang berarti bahwa HHI berada pada sedikit persaingan antara produsen dan konsumen (pasar terkonsentrasi). Sehingga dapat dikategorikan pasar jambu mete gelondongan di Kabupaten Muna

56

menghadapi pasar dengan tingkat persaingan yang kecil dengan konsentrasi tinggi. Kondisi tersebut akan tampak pada hasil perhitungan yang dilakukan pada total penjualan di tiap-tiap lembaga pemasaran di masing-masing tingkatan yang terdapat di Kabupaten Muna. Tabel 14 menjelaskan nilai HHI pedagang di Kabupaten Muna.

Pangsa pasar terkonsentrasi pada pedagang antar pulau disebabkan oleh banyaknya jumlah modal yang dimiliki. Sehingga dapat melakukan pembelian jambu mete gelondongan dalam jumlah besar. Hal ini dipengaruhi pula oleh ikatan kerjasama yang telah terjalin antara pedagang pengumpul dengan petani karena semakin banyak petani yang bekerjasama dengan pedagang pengumpul maka jumlah jambu mete gelondongan yang diperoleh pun tinggi. Selain itu dipengaruhi pula oleh tingkatan strata sosial yang dimiliki oleh pedagang pengumpul. Semakin tinggi strata sosial (gelar kebangsawanan yang dimilki), maka akan semakin banyak petani yang menjual jambu mete gelondongannya ke pedagang tersebut. Hal ini disebabkan pedagang tersebut adalah dianggap tokoh yang harus dipatuhi dan disegani di daerah tersebut.

Tabel 14 Herfindahl Hirschman Index (HHI) jambu mete gelondongan di Kabupaten Muna tahun 2013

Jenis Pedagang Rata-rata pembelian jambu mete gelondongan (ton/tahun) Pangsa pasar (w) Pangsa pasar Setelah dikuadratkan (w2) PAP 1 538.06 0.53 0.28 PAP 2 265.77 0.26 0.07 PAP 3 216.39 0.21 0.04 Jumlah 1 020.22 1.00 0.39 HHI = 10000∑ wi 2 1 521.00

Petani yang telah mempunyai ikatan atau kontrak dengan pedagang tertentu biasanya tidak akan berpaling ke pedagang pengumpul lain. Banyak pedagang pengumpul yang mendapat keuntungan lebih besar dibandingkan petani disebabkan petani sama sekali tidak mengetahui perkembangan harga jambu mete gelondongan yang diproduksi. Petani hanya menjual tetapi harganya ditentukan oleh pedagang pengumpul. Sehingga petani tidak memiliki posisi tawar dalam hal penentuan harga.

Jumlah lembaga pemasaran yang terdapat di Kabupaten Muna dapat digunakan sebagai indikator untuk melihat struktur pasar yang ada. Komoditas pertanian memiliki rantai pemasaran yang panjang karena banyaknya lembaga pemasaran yang terlibat didalamnya. Penelitian juga melakukan pengamatan terhadap struktur pasar yang terjadi dengan membandingkan jumlah petani dengan jumlah pembeli dari tingkat petani sampai di tingkat pedagang antar pulau.

Analisis yang dilakukan pada tingkat petani berdasarkan perbandingan jumlah petani jambu mete gelondongan dengan jumlah pedagang pengumpul desa. Sehingga disimpulkan bahwa struktur pasar yang terbentuk adalah struktur pasar

57 oligopsoni dari sudut penjual. Hal ini dikarenakan jumlah petani jambu mete gelondongan di lokasi penelitian lebih besar dibandingkan pedagang pengumpul desa maupun pedagang pengumpul kecamatan. Petani cenderung menjadi pihak penerima harga (price taker) sesuai dengan harga yang ditentukan oleh pedagang. Pedagang pengumpul kecamatan merupakan rantai pemasaran selanjutnya setelah pedagang pengumpul desa.

Pedagang pengumpul kecamatan yang terdapat di daerah penelitian lebih banyak dibandingkan pedagang antar pulau yang merupakan pedagang selanjutnya setelah pedagang pengumpul kecamatan. Sehingga dikategorikan bahwa struktur pasar yang terbentuk diantara kedua lembaga ini adalah struktur pasar monopsoni. Hal ini dikarenakan perbandingan jumlah pedagang pengumpul kecamatan yang lebih besar dibandingkan pedagang antar pulau. Pedagang pengumpul kecamatan merupakan penerima harga disebabkan adanya hambatan masuk pasar yang cukup besar sebagai pelaku pemasaran dan dalam proses penentuan harga lebih didominasi oleh pedagang antar pulau. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa struktur pasar yang terbentuk apabila didasarkan pada perbandingan jumlah antara lembaga pemasaran dengan jumlah petani yang terdapat di Kecamatan Tongkuno dan Kabawo adalah struktur pasar persaingan tidak sempurna (imperfect competitive market).

Hambatan Masuk pasar

Hambatan masuk pasar membahas tentang persaingan yang ditujukan pada pesaing potensial. Pesaing potensial tersebut merupakan perusahaan-perusahaan diluar pasar yang memiliki kemungkinan untuk masuk dan menjadi pesaing sebenarnya (Jaya 2001). Hambatan masuk pasar dianalisis dengan tujuan untuk melihat banyaknya lembaga pemasaran yang masuk ke dalam struktur pasar dan bersaing untuk memperebutkan pangsa pasar.

Pasar sebagai tempat terjadinya transaksi antara pembeli dan penjual serta sebagai tempat terjadinya fungsi pertukaran tentunya akan memiliki peluang bagi siapa saja untuk turut mengambil bagian didalamnya. Hal tersebut berpotensi untuk menciptakan persaingan yang potensial dalam pasar. Adanya hambatan dalam memasuki pasar disebabkan oleh beberapa hal seperti modal atau biaya yang dimiliki oleh pesaing baru yang berkeinginan untuk turut barsaing dalam pasar tersebut. Kondisi infrastruktur seperti jalan sebagai jalur distribusi untuk menyampaikan produk jambu mete gelondongan dari tangan produsen (petani) ke tangan konsumen. dan hubungan yang terjalin antara lembaga pemasaran.

Hambatan masuk pasar di lokasi penelitian cukup tinggi mengingat para pesaing baru tidak dengan mudah untuk memasuki pasar jambu mete gelondongan. Terdapat syarat tertentu yang harus dipenuhi untuk dapat masuk ke pasar pedagang pengumpul desa dan kecamatan. Pertama modal yang cukup besar untuk dapat membeli jambu mete gelondongan yang dijual oleh pedagang pengumpul desa. Kedua sarana jalan (kondisi infrastruktur) sebagai jalur transportasi yang masih sangat sulit untuk dilalui dalam mendistribusikan produk jambu mete gelondongan. Hal tersebut dikarenakan kondisi jalan mengalami kerusakan. Sehingga terdapat kesulitan dalam mengangkut produk tersebut sampai ke tingkat konsumen akhir.Ketiga strata sosial yang dimiliki pedagang pengumpul. Semakin tinggi strata sosial yang dimiliki maka peluang untuk menjadi pedagang pengumpul di

58

Kabupaten Muna semakin mudah. Hal ini disebabkan oleh budaya setempat yang masih menjunjung tinggi adat istiadat daerah. Keempat kerjasama dengan pedagang pengumpul yang ada diatasnya karena para pedagang yang akan memberikan jaminan untuk membeli jambu mete gelondongan tersebut.

Penelitian bagi pelaku pasar baru dalam memasuki pasar jambu mete gelondongan pada tingkat pedagang pengumpul desa adalah pedagang harus bekerjasama dengan pedagang pengumpul kecamatan. Hal tersebut disebabkan karena pedagang pengumpul kecamatan menjamin akan menjual jambu mete gelondongan yang dijual oleh pedagang pengumpul desa dengan harga yang telah disepakati. Sedangkan untuk memasuki pasar pada tingkat pedagang pengumpul kecamatan pedagang harus memiliki modal yang besar untuk membeli jambu mete gelondongan yang dijual oleh pedagang pengumpul desa maupun petani. Selain itu pedagang pengumpul kecamatan harus memiliki kemampuan menjalin kerjasama dengan pedagang antar pulau karena pedagang antar pulau yang akan membeli seluruh jambu mete gelondongan yang dijualnya. Lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15 Hambatan pesaing untuk masuk dalam setiap lembaga pemasaran jambu mete gelondongan di Kabupaten Muna tahun 2013

Tingkat Lembaga Bentuk hambatan Persentase responden (%)

Petani (n=60) Modal usaha Modal teknologi 80 20 Pedagang pengumpul desa (n=4) Modal usaha

Kerjasama dengan pedagang pengumpul kecamatan Strata sosial 100 100 90 Pedagang pengumpul kecamatan (n=6) Modal usaha

Kerjasama dengan pedagang antar pulau

Strata sosial

100 100 100 Pedagang antar pulau

(n=3)

Modal usaha Lisensi

Jaringan kerjasama dengan stakeholder

100 100 100 100

Kesimpulan yang dapat diperoleh dari hasil penelitian tersebut adalah bahwa untuk dapat memasuki pasar jambu mete gelondongan dengan mudah didasarkan pada besar kecilnya modal yang dimiliki, adanya alat transportasi yang mendukung yang dapat melalui medan jalan yang sulit serta seberapa besar kemampuannya untuk dapat menjalin kerjasama diantara para pelaku lembaga pemasaran yang terlibat didalamnya. Selain itu strata sosial juga turut mempengaruhi untuk dapat menjadi pedagang jambu mete gelondongan di Kabupaten Muna. Analisis yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan melihat persentase hambatan pesaing untuk masuk dalam setiap lembaga pemasaran.

59 Pembahasan dalam penelitian ini secara matematika tidak dapat menggunakan minimum efficiensy scale (MES) seperti yang dikembangkan oleh Jaya (2001) dalam perkembangan pasar industri. Hal tersebut disebabkan tidak diperoleh data detail terkait data pembelian jambu mete gelondongan pada lembaga pemasaran tertinggi di Kabupaten Muna serta total penjualan jambu mete gelondongan di Kecamatan Tongkuno dan Kabawo. Para pedagang pengumpul yang ada tidak seluruhnya melakukan pencatatan terhadap proses transaksi pembelian yang dilakukannya berbeda dengan komoditi karet ataupun kopi yang telah memiliki eksportir yang lebih profesional dalam melaksanakan proses transaksinya dan telah melakukan pencatatan dari tahun ke tahun.

Analisis Perilaku Pasar (Market Conduct)

Tingkah laku pasar atau biasa juga disebut sebagai perilaku pasar jambu mete gelondongan di Kecamatan Tongkuno dan Kabawo dianalisis secara deskriptif. Analisis perilaku pasar akan menggambarkan perilaku setiap lembaga pemasaran dalam menghadapi struktur pasar yang ada. Sistem pembayaran yang terjadi dalam pemasaran jambu mete gelondongan serta mekanisme penentuan harga terhadap produk jambu mete gelondongan di Kabupaten Muna. Perilaku pasar yang ditujukan pada lembaga pemasaran dapat dilihat dari praktek pembelian dan penjualan serta praktek-praktek dalam menjalankan fungsi-fungsi pemasaran. Hal tersebut diatas akan diuraikan sebagai berikut.

Praktek Pembelian dan Penjualan Jambu Mete Gelondongan

Praktek pembelian dan penjualan jambu mete gelondongan di lokasi penelitian dilakukan oleh petani, pedagang pengumpul desa, pedagang pengumpul kecamatan, dan pedagang antar pulau. Produk yang dipasarkan adalah jambu mete yang berbentuk gelondongan mete. Petani jambu mete gelondongan dari Kecamatan Tongkuno akan menjual jambu mete gelondongan kepada pedagang pengumpul desa yang ada di Kecamatan Tongkuno setiap masa panen berlangsung. Petani menjual jambu mete gelondongan langsung ke pedagang pengumpul desa yang bertindak sebagai penampung sementara. Pedagang pengumpul desa kemudian menjual jambu mete gelondongan ke pedagang pengumpul kecamatan.

Pedagang pengumpul kecamatan menjual jambu mete gelondongan tersebut ke pedagang antar pulau. Jenis komoditi yang dijual oleh pedagang pengumpul kecamatan biasanya telah ada variasi. Pedagang pengumpul kecamatan tidak hanya menjual jambu mete dalam bentuk gelondongan mete saja tetapi juga telah menjual kacang mete yang sebelumnya telah dikacip (dipecahkan) menjadi kepingan kacang mete. Praktek penjualan jambu mete dalam bentuk kacang telah dilakukan oleh pedagang pengumpul kecamatan. Meskipun proporsi jambu mete gelondongan lebih besar dibandingkan dengan kacang mete.

Produk tersebut selanjutnya dipasarkan ke pedagang antar pulau. Namun untuk kacang mete tidak terlalu diminati oleh pedagang antar pulau dikarenakan kacang mete membutuhkan pengemasan dan perlakuan khusus untuk dipasarkan lagi oleh pedagang antar pulau. Pedagang antar pulau tidak ingin mengambil

60

resiko dengan membeli kacang mete karena proses pengangkutan yang terbilang sulit. Hal tersebut dikarenakan transportasi yang digunakan adalah lewat laut sehingga kacang mete tersebut rentan untuk rusak dan pecah karena mengalami penumpukan yang tinggi.

Strategi yang dilakukan pedagang antar pulau kepada pedagang pengumpul agar tetap mendapat pasokan jambu mete gelondongan adalah dengan memberi tambahan modal kepada pedagang pengumpul apabila mengalami kekurangan modal. Selain itu pedagang antar pulau juga memberikan jaminan akan membeli jambu mete gelondongan yang dijual pedagang pengumpul kecamatan.

Kemudahan lain yang didapatkan dari pedagang antar pulau adalah pedagang pengumpul kecamatan tidak perlu membawa jambu mete gelondongan tersebut ke tempat pedagang antar pulau. Pedagang antar pulau sendiri yang datang mengambil produk tersebut di gudang pedagang pengumpul kecamatan. Sehingga pedagang pengumpul kecamatan tidak mengeluarkan biaya transportasi dan bongkar muat. Dengan demikian hal ini akan menjadi keterikatan yang tidak tertulis antara pedagang pengumpul kecamatan dengan pedagang antar pulau.

Penerapan Fungsi-Fungsi dalam Pemasaran

Fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan oleh petani dan seluruh lembaga pemasaran yang terlibat dalam penelitian ini antara lain fungsi pertukaran, fungsi fisik, dan fungsi penyimpanan. Fungsi pertukaran terdiri dari fungsi penjualan dan pembelian dilakukan oleh petani dan pelaku pemasaran lainnya. Sementara fungsi pembelian dilakukan oleh pelaku pemasaran yang lain tetapi tidak dilakukan oleh petani.

Transaksi penjualan dan pembelian pada tingkat petani dan pedagang pengumpul desa dilakukan secara langsung. Kegiatan ini berlangsung saat petani melakukan penjualan jambu mete gelondongan ke pedagang pengumpul desa. Pedagang pengumpul desa kemudian melakukan pembayaran langsung secara tunai kepada petani. Jumlah pembayaran disesuaikan dengan jumlah barang yang dimiliki petani dan kesepakatan harga yang telah disepakati diantara kedua belah pihak. Demikian juga yang dilakukan oleh pedagang pengumpul kecamatan terhadap pedagang pengumpul desa sampai pada pedagang antar pulau yang tersaji pada Tabel 16.

Fungsi fisik terdiri dari transportasi yakni pengangkutan, bongkar muat, penimbangan, dan penyimpanan. Fungsi tersebut dilakukan oleh petani dan seluruh lembaga pemasaran yang ada. Sedangkan fungsi fasilitas lebih banyak dilakukan oleh pedagang pengumpul desa. Penanganan resiko lebih banyak dilakukan oleh pedagang pengumpul kecamatan.

Petani sebagai produsen jambu mete gelondongan menanggung resiko yang lebih besar serta pembiayaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pelaku pemasaran lainnya yakni pedagang pengumpul desa, pedagang pengumpul kecamatan, dan pedagang antar pulau. Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hukama (2003) dan Saputra (2012) yang menyatakan bahwa resiko yang dihadapi oleh petani lebih besar dibandingakan tingkat lembaga pemasaran lainnya.

61 Tabel 16 Fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan masing-masing pelaku

pemasaran jambu mete gelondongan di Kecamatan Tongkuno dan Kabawo tahun 2013

Aktivitas pemasaran Petani PP desa PP Kecamatan PAP Fungsi pertukaran Pembelian Penjualan √ √ √√ √√ √√ Fungsi fisik Transportasi Pengemasan - - √ √ √√ √√ Fungsi fasilitas Sortasi Penanganan resiko Pembiayaan Informasi pasar - √ √ - √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √

Keadaan tersebut dikarenakan dari sisi penawaran (supply) petani sebagai pelaku on farm menghadapi kondisi iklim yang tidak menentu dalam menjalankan usahataninya, produktivitas yang tidak stabil, degradasi kesuburan tanah, dan keterbatasan saprodi serta faktor-faktor lainnya yang terkait dengan proses usahatani yang dijalankan. Sementara untuk sisi permintaan (demand) dan harga petani tidak memiliki kepastian harga yang disebabkan oleh ketidakpastian musim panen jambu mete gelondongan. Selain itu petani juga sangat sulit untuk mencari peluang pasar baru. Kondisi ini mempengaruhi pola harga yang terbentuk serta posisi tawar petani dalam sistem pemasaran jambu mete gelondongan.

Dari sisi harga lebih sering petani menjadi pihak yang dirugikan karena apabila harga jambu mete gelondongan turun, maka informasi tersebut sangat cepat sampai ke petani. Sebaliknya apabila harga naik informasinya lambat sampai ke petani. Keadaan tersebut dimanfaatkan pedagang untuk mengambil keuntungan. Petani menjadi rugi karena informasi harga yang diterima tidak sempurna. Hal ini memiliki hubungan dengan keterlibatan lembaga pemasaran yang ada. Sebagaimana diketahui bahwa pemasaran merupakan badan usaha atau individu yang melakukan aktivitas fungsi pemasaran agar produk atau jasa dapat berpindah dari tangan produsen ke tangan konsumen. Lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran jambu mete gelondongan di Kabupaten Muna diantaranya adalah petani, pedagang pengumpul desa, pedagang pengumpul kecamatan, dan pedagang antar pulau.

a. Petani adalah pemilik produk jambu mete gelondongan yang dihasilkan setiap panen yang siap untuk dijual. Petani yang ada di lokasi penelitian merupakan pemilik lahan dikarenakan jambu mete gelondongan adalah semuanya dihasilkan dari perkebunan rakyat yang tersebar sepanjang daratan Kabupaten Muna.

62

b. Pedagang pengumpul desa adalah pedagang yang mengumpulkan jambu mete gelondongan dari hasil panen petani dalam satu desa kemudian dipasarkan ke lembaga pemasaran lain.

c. Pedagang pengumpul kecamatan merupakan pedagang yang mengumpulkan jambu mete gelondongan dari petani dan pedagang pengumpul desa yang terdapat di beberapa desa dalam kecamatan yang sama.

d. Pedagang antar pulau adalah pedagang yang mengumpulkan jambu mete gelondongan dari petani dan pedagang pengumpul kecamatan pada pulau yang berbeda.

Penentuan harga jambu mete gelondongan umumnya didasarkan pada tingkat kualitas yang dimiliki. Kualitas tersebut meliputi tingkat kematangan jambu mete dan kadar air yang dikandung pada setiap kilogram biji gelondongan mete yang dihasilkan petani. Sehingga kacang mete yang dihasilkan dari gelondongan mete tersebut tidak mudah retak pada saat proses pengkacipan dilakukan. Penentuan harga jambu mete gelondongan ditingkat petani ditentukan oleh pedagang pengumpul desa dan harga jambu mete gelondongan ditingkat pedagang pengumpul desa ditentukan oleh pedagang pengumpul kecamatan.

Penentuan harga merupakan hal yang sangat penting dalam performa pendapatan (Hidayati 2000). Penentuan harga dipengaruhi oleh tingkat kompetensi, saingan, aturan pemerintah, dan keinginan pembeli. Berdasarkan analisis penentuan harga jambu mete gelondongan akan dianalisis dari tingkat petani sampai pada pedagang antar pulau dan industri pengolahan sebagai konsumen akhir. Jambu mete gelondongan petani di lokasi penelitian dijual kepada pedagang pengumpul desa yang ada didaerah setempat setelah mendengar informasi harga dari pedagang lain atau penduduk yang berasal dari kota.

Pedagang pengumpul desa menetapkan harga untuk menjual jambu mete gelondongan ke pedagang pengumpul kecamatan. Harga ditetapkan berdasarkan informasi yang sampai pada pedagang pengumpul desa. Demikian juga jambu mete gelondongan dari pedagang pengumpul kecamatan yang akan dijual kepada pedagang antar pulau. Informasi harga diperoleh dari lembaga pemasaran yang ada diatasnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa proses penentuan harga dilakukan oleh lembaga pemasaran yang lebih tinggi didasarkan pada kepemilikan informasi pasar. Hal ini juga berlangsung pada penentuan harga untuk komoditi kacang mete. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pedagang antar pulau lebih dominan dalam menentukan harga dibandingkan lembaga pemasaran lainnya. Pedagang pengumpul kecamatan lebih dominan menentukan harga terhadap pedagang pengumpul desa sementara pedagang pengumpul desa lebih dominan dalam menentukan harga terhadap petani. Dominasi pedagang antar pulau yang cukup besar dalam menentukan harga disebabkan karena informasi yang diperolehnya lebih banyak dan lebih akurat dibandingkan dengan pelaku pemasaran lainnya.

Pedagang secara umum merasa lebih berhak menilai barang dibandingkan petani. Senjata pedagang yang paling ampuh adalah jumlah informasi yang dimilikinya atau seolah-olah dimilikinya. Pedagang sering memanipulasi kondisi sehingga petani menjadi menerima kenyataan bahwa hanya pedagang yang

Dokumen terkait