4 METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian
5 GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN DAN KERAGAAN USAHATANI JAMBU METE GELONDONGAN
Jambu mete gelondongan sebagai salah satu jenis tanaman perkebunan untuk lahan kritis di Kabupaten Muna telah lama dikembangkan (sejak tahun 1985). Berawal dari pemanfaatan tanaman jambu mete sebagai tanaman konservasi hutan kemudian beralih menjadi tanaman ekonomi yang layak dikembangkan. Potensi pengembangan agribisnis jambu mete gelondongan di Kabupaten Muna sangat menjanjikan dikarenakan daerah ini merupakan salah satu produsen terbesar jambu mete di Sulawesi Tenggara dan terbesar kedua di Indonesia setelah Nusa Tenggara Timur.
Jambu mete merupakan tanaman ekonomi yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat Kabupaten Muna. Luas areal tanaman jambu mete adalah 17 884 ribu hektar yang produktif dari luas wilayah 289 041 ribu hektar (Disbun Kabupaten Muna 2013). Jambu mete telah menjadi komoditi strategis yang dibudidayakan turun temurun bagi masyarakat Muna. Bahkan menjadi salah satu aset yang akan diwariskan kepada anak-anak petani di Kabupaten Muna. Hal ini disebabkan komoditi jambu mete cocok dengan kondisi geografis Kabupaten Muna. Topografi beriklim kering dengan tingkat curah hujan yang sedang. Gambaran daerah penelitian akan diuraikan meliputi letak geografis dan luas wilayah, keadaan iklim, tataguna lahan, kondisi usahatani rakyat serta keadaan penduduk.
Letak Geografis Daerah Penelitian
Kabupaten Muna merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Tenggara yang terletak di Pulau Muna bagian utara dan sebahagian Pulau Buton bagian utara. Berdasarkan luas wilayah Kabupaten Muna berada pada urutan ketujuh. Tabel 4 menunjukkan luas daratan Sulawesi Tenggara (3 814 000 hektar) yang mempunyai potensi besar untuk pengembangan pertanian sebagai sektor utama dalam meningkatkan ekonomi masyarakat Sulawesi Tenggara. Luas lahan perkebunan di Kabupaten Muna adalah (332 474 hektar) menunjukan bahwa peluang peningkatan luas areal perkebunan jambu mete di Sulawesi Tenggara masih terbuka. Jambu mete gelondongan merupakan komoditi lokal unggulan Sulawesi Tenggara di sektor pertanian yang menempati urutan kedua dari kakao atau coklat. Luas areal (117 599 hektar) terdiri dari tanaman belum menghasilkan
34
(10 878 hektar), tanaman tidak menghasilkan (18 849 hektar) dan tanaman menghasilkan (87 871 hektar) dengan tingkat produksi 14 966 ton per tahun (Disbunhorti Sulawesi Tenggara 2013).
Tabel 4 Luas wilayah berdasarkan kabupaten di Sulawesi Tenggara Tahun 2012 Nama kabupaten/kota Luas wilayah (ha) Persentase (%)
Muna 691 838 18.14 Konawe 679 245 17.81 Konawe Utara 487 746 12.79 Konawe Selatan 452 420 11.84 Kolaka Utara 339 162 8.89 Bombana 305 608 8.01 Kolaka 296 397 7.58 Buton 267 525 7.01 Buton Utara 199 659 5.23 Wakatobi 42 597 1.12 Bau-bau 30 570 0.80 Kendari 25 589 0.78 Jumlah 3 814 000 100.00
Sumber : BPS Sulawesi Tenggara (2013)
Berdasarkan luas areal pertanaman Kabupaten Muna adalah daerah yang memiliki luas lahan jambu mete (31 566 hektar). Tanaman menghasilkan (17 884 hektar), tanaman belum menghasilkan (904 hektar), tanaman tidak menghasilkan (12 778 hektar). Kondisi iklim Kabupaten Muna sama dengan iklim di seluruh daratan Sulawesi Tenggara. Terdapat dua musim yakni musim kemarau dan musim penghujan. Musim kemarau terjadi antara bulan Juni sampai bulan September. Angin Timur yang bertiup dari Australia tidak banyak mengandung uap air sehingga menyebabkan terjadinya musim kemarau. Musim hujan terjadi antara bulan Desember sampai bulan Maret. Angin Barat yang bertiup dari Benua Asia dan Samudera Pasifik banyak mengandung uap air sehingga terjadi musim hujan. Keadaan tersebut berganti setiap setengah tahun setelah melewati masa peralihan pada bulan April sampai bulan Mei dan bulan Oktober sampai bulan November (BPS Sulawesi Tenggara 2013).
Ketinggian daratan Kabupaten Muna bervariasi antara 0 > 1000 m dpl (33.13%) dari luas daratan Kabupaten Muna. Luas daratan yang mempunyai ketinggian >1000m dpl(0.02%) dari keseluruhan daratan Kabupaten Muna. Kabupaten Muna terdiri dari beberapa batuan sehingga tanahnya cenderung berbatu. Kabupaten Muna beriklim tropis dengan suhu rata-rata 25ºcelcius sampai 27ºcelcius. Tanaman jambu mete dapat tumbuh dengan baik pada tempat dengan suhu udara 17ºcelcius sampai 33ºcelcius dan kelembaban udara 60 persen sampai 80 persen. Curah hujan yang optimal berkisar antara 1 000 sampai 2 000 mm per tahun (Disbun Kabupaten Muna 2013).
Kabupaten Muna dengan ibukota Raha memiliki 32 kecamatan yang terbagi menjadi 205 desa, 31 kelurahan, dan 3 unit pemukiman transmigrasi (UPT). Masing-masing kecamatan mempunyai ibukota kecamatan yang menjadi pusat
35 pemerintahan dari kecamatan tersebut. Kecamatan terluas di Kabupaten Muna adalah Kecamatan Tongkuno ibukota Wakuru (450 Km2) terdiri atas 14 desa. Kecamatan terluas kedua adalah Kecamatan Kabawo ibukota Lasehao (200 Km2) terdiri atas 10 desa. Kedua kecamatan ini didominasi oleh kondisi topografi wilayah dataran tropis yang kering (54.65 %). Kemiringan lereng yang ada beranekaragam mulai dari 0 sampai 40 persen (BPS Kabupaten Muna 2013).
Kecamatan Tongkuno dan Kabawo merupakan kecamatan yang 100 persen berada di dataran Kabupaten Muna. Seluruh desa di dua kecamatan tersebut berada didaratan tanpa harus dipisahkan oleh laut atau pulau-pulau kecil yang berada disebagian wilayah Kabupaten Muna. Kecamatan Tongkuno memiliki luas produksi 7 106 hektar dan memiliki unit pengolahan jambu mete gelondongan menjadi kacang mete (Disbun Kabupaten Muna 2013). Industri tersebut adalah industri rumah tangga yang digerakkan oleh ibu-ibu setempat dalam naungan industri pengolahan wanita Fongkaniwa. Lokasi industri berada di Desa Fongkaniwa. Produksi yang dilakukan tidak berlangsung secara terus-menerus atau berkelanjutan melainkan didasarkan pada ada tidaknya pesanan yang datang dari ibukota kecamatan atau ibukota kabupaten.
Penduduk setempat sering menyebut industri pengolahan tersebut sebagai koperasi karena asas dan mekanisme yang terjadi didalamnya dilaksanakan seperti proses yang terjadi dalam sebuah koperasi. Terdapat modal dari para anggota yang keuntungannya diperuntukkan bagi anggotanya. Namun secara hukum organisasi tersebut belum berbadan hukum sehingga peneliti tidak mengkategorikannya sebagai koperasi yang semestinya.
Desa Tombula sebagai salah satu desa yang berada di Kecamatan Tongkuno dan menjadi penghasil jambu mete gelondongan terbesar kedua di wilayah tersebut. Daerah ini tidak memiliki industri pengolahan. Produk jambu mete gelondongan yang dihasilkan oleh petani setempat 100 persen dipasarkan dalam bentuk jambu mete gelondongan. Jambu mete gelondongan merupakan komoditas terbanyak yang diusahakan oleh petani di Kecamatan Tongkuno dengan (73.26%) dari total produksi tanaman perkebunan yang ada. Selain itu petani mengusahakan kelapa (24.36%) dan coklat (2.41%) (Disbun Kabupaten Muna 2013).
Jarak Kecamatan Tongkuno dengan ibukota Kabupaten Muna yaitu Raha cukup jauh. Kecamatan Tongkuno merupakan salah satu kecamatan terjauh di wilayah Kabupaten Muna (175 km) atau sekitar 7 jam perjalanan darat. Sedangkan waktu tempuh dari ibukota Propinsi Sulawesi Tenggara yaitu Kendari menuju Kabupaten Muna dapat ditempuh dengan waktu 5 jam perjalanan laut. Perjalanan ditempuh menggunakan kapal cepat (speed boat) dengan kapasitas penumpang 200 orang atau beban seberat 10 ton.
Salah satu kecamatan di Kabupaten Muna yang memiliki produksi terbesar jambu mete gelondongan adalah Kecamatan Kabawo dengan luas produksi(1 988 hektar) yang berada dalam luas wilayah (11 079 hektar). Kecamatan Kabawo berjarak 132 km dari ibukota kabupaten. Petani di Kecamatan Kabawo lebih banyak mengusahakan jambu mete (61.30%) dibandingkan dengan komoditi perkebunan lain seperti kelapa (18.73%) dan coklat (19.96%). Namun tidak memiliki industri pengolahan. Petani di daerah setempat menjual produk jambu mete dalam bentuk jambu mete gelondongan. Terdapat dua desa di Kecamatan
36
Kabawo yang menjadi penghasil jambu mete gelondongan terbesar yaitu Desa Kontumere dan Wantiworo.
Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi dan mutu jambu mete gelondongan adalah pertama bibit (varietas) yang digunakan, kedua kondisi alam seperti cuaca, iklim, dan curah hujan. Ketiga pengelolaan kebun, keempat cara melakukan panen, dan kelima penanganan pascapanen (Disbun Kabupaten Muna 2013). Gambar 7 menunjukkan bahwa jambu mete gelondongan sangat sesuai dengan lahan kritis yang kering dengan curah hujan yang rendah.
Bibit Tanaman Jambu Mete Lahan Perkebunan Jambu Mete Tanaman Jambu Mete
Pemetikan Pemisahan Biji dari Buah Gambar 7 Tanaman jambu mete gelondongan
Penyebaran jambu mete gelondongan menyebar hingga hampir ke seluruh kecamatan di Kabupaten Muna. Kecamatan Kontunaga dan Batu Laiworo merupakan kecamatan yang juga memiliki lahan jambu mete. Namun tanaman tersebut hanya ditanam di pekarangan rumah warga atau petani setempat. Tanaman diusahakan secara komersial di lahan perkebunan yang terpisah dari rumah yang dimiliki petani. Luas produksi tanam terpencar dan jumlah pohon relatif sedikit.
Penduduk dan Tenaga Kerja
Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2010 jumlah penduduk Kabupaten Muna tahun 2011 diproyeksikan sebanyak 273 616 jiwa. Terdiri dari 132 113 jiwa penduduk laki-laki dan 141 503 jiwa penduduk perempuan. Menurut BPS Kabupaten Muna (2012), pertumbuhan Kabupaten Muna selama sepuluh tahun terakhir (dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2010) rata-rata sebesar 1.36 persen per tahun. Pertumbuhan ini lebih kecil dibandingkan laju pertumbuhan penduduk Sulawesi Tenggara (2.07%) per tahun dan lebih kecil dibanding pertumbuhan penduduk Indonesia (1.47%) per tahun pada periode yang sama.
Laju pertumbuhan penduduk Kecamatan Napabalano lebih tinggi dibanding pertumbuhan penduduk kecamatan lain di Kabupaten Muna (1.78%) per tahun. Sedangkan kecamatan yang paling lambat pertumbuhan penduduknya adalah Kecamatan Lawa (0.07%) per tahun dari tahun 2000 sampai dengan 2010. Lebih
37 jelas tentang persebaran penduduk dapat dilihat pada Lampiran 2. Penduduk Kabupaten Muna sebagian besar bekerja pada sektor pertanian (53%) dari total keseluruhan yang bekerja. Persentase penduduk Kabupaten Muna yang berumur 15 tahun ke atas pada tahun 2011 diklasifikasikan menurut lapangan kerja utama disajikan pada Gambar 8.
Sumber: BPS Kabupaten Muna (2013)
Gambar 8 Persentase penduduk menurut lapangan kerja di Kabupaten Muna tahun 2013
Gambar 8 menunjukkan sebagian besar penduduk Kabupaten Muna menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Sektor pertanian yang banyak diusahakan oleh penduduk di Kabupaten Muna adalah sektor perkebunan. Jenis tanaman yang diusahakan terdiri dari 13 jenis, yaitu kakao, jambu mete, kelapa dalam, cengkeh, lada, kopi, vanili, pala, kemiri, enau, asam jawa, pinang, dan kapuk. Namun jambu mete merupakan tanaman perkebunan yang paling banyak diusahakan oleh penduduk setempat.
Tabel 5 menjelaskan jenis dan luas areal tanaman perkebunan produktif di Kabupaten Muna serta jumlah petani yang mengusahakan komoditi tersebut. Komoditi jambu mete gelondongan merupakan komoditi yang memiliki luas areal tertinggi dan jumlah petani terbanyak dari tanaman perkebunan lainnya. Data membuktikan peran jambu mete gelondongan sebagai jenis tanaman perkebunan memiliki nilai strategis secara ekonomi di Kabupaten Muna. Luas areal produktif (17 884 hektar) dengan jumlah tenaga kerja (25 902 kk) dari jumlah penduduk Kabupaten (273 616 jiwa) pada tahun 2011 (Disbunhorti Sulawesi Tenggara 2013).
Tabel 5 Luas areal dan jumlah petani perkebunan rakyat di Kabupaten Muna tahun 2012
Komoditi Luas Areal (Ha) Petani (KK)
Kakao 5 200 20 681 Jambu Mete 17 884 25 920 Kelapa Dalam 3 038 11 977 Cengkeh 3 18 p er sen 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50
pertanian Industri Konstruksi
pertanian Tambang Industri Listrik Konstruksi Berdagang
38 Lada 104 508 Kopi 411 2 969 Panili 0 6 Pala 2 6 Kemiri 188 1 595 Enau 62 1 369 Asam Jawa 7 56 Pinang 6 16 Kapuk 190 3 302
Sumber: Disbunhorti Sulawesi Tenggara (2013)
Kabupaten Muna merupakan penghasil jambu mete gelondongan terbesar di Sulawesi Tenggara yang ditunjukkan pada Gambar 9. Sebesar 42.76 persen dari keseluruhan produksi jambu mete yang ada di Sulawesi Tenggara dihasilkan oleh petani Kabupaten Muna (Disbunhorti Sulawesi Tenggara 2013). Jambu mete gelondongan memiliki nilai strategis bagi masyarakat Kabupaten Muna. Pertama karena jambu mete merupakan tanaman perkebunan pertama dan terluas yang dikelola oleh masyarakat Kabupaten Muna secara turun temurun (± sejak tahun 1985). Kedua pola penyebaran budidaya jambu mete hampir di setiap kecamatan yang ada di Kabupaten Muna. Bahkan hampir di tiap halaman rumah penduduk ditanami jambu mete yang difungsikan sebagai tanaman pelindung sekaligus sebagai bernilai ekonomi.
Sumber : Disbunhorti Sulawesi Tenggara (2013)
Gambar 9 Proporsi produksi jambu mete gelondongan berdasarkan daerah produksi di Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2012
Kecamatan Tongkuno dan Kabawo pada Tabel 6 adalah dua kecamatan dari 32 kecamatan yang ada di Kabupaten Muna. Luas Kecamatan Tongkuno sebesar 498.24 km2 (16.81% persen dari luas keseluruhan wilayah Kabupaten Muna. Sedangkan luas Kecamatan Kabawo adalah 204.94 km2 (6.91%) dari luas Kabupaten Muna. Kecamatan Tongkuno dan Kabawo merupakan sentra
0 10 20 30 40 50
Produksi jambu mete gelondongan 3,66 15,06 42,76 1,65 0,6 3,440,385,45 16,29 0,53 6,38 3,75
Kendari Konawe Muna kolaka
Kolut Buton Bau-bau Bombana
Konsel Wakatobi Butur Konut
p
er
39 perkebunan jambu mete di Kabupaten Muna berdasarkan luas areal dan jumlah produksi.
Tabel 6 Kondisi lahan jambu mete gelondongan berdasarkan luas wilayah, luas areal, dan luas produksi di Kabupaten Muna tahun 2012
Kecamatan Luas wilayah (ha) Luas areal (ha) Luas produksi (ton)
Tongkuno 14 515 7 066 893 Parigi 2 611 1 917 144 Bone 2 379 1 470 152 Marobo 1 000 1 290 130 Kabawo 11 079 1 988 144 Kabangka 2 423 578 8 Kontu Kowuna 1 350 1 335 55 Tiworo Kepulauan 400 451 3 Maginti 1 050 450 9 Tiworo Tengah 1 700 150 1 Tiworo Selatan 1 300 328 14 Tiworo Utara 1 500 425 3 Lawa 1 400 1 370 6 Sawerigadi 1 600 1120 55 Barangka 1 144 985 5 Wadaga 2 600 1 461 81 Kusambi 3 150 1 023 174 Kontunaga 0 758 3 Watopute 1 145 625 9 Katobu 5 5 0 Lohia 939 821 73 Duruka 125 292 107 Batalaiworu 225 88 0 Napabalano 1 700 1 165 55 Lasalepa 1 410 1 168 68 Napano Kusambi 1 355 301 9 Towea 302 617 64 WakromSel 1 761 811 42 Pasir Putih 200 320 3 Pasi Kolaga 1 300 375 3 Maligano 897 465 51 Batukara 1 100 316 66
Sumber: Disbun Kabupaten Muna (2013)
Peningkatan luas areal jambu mete gelondongan akan selalu memberikan peningkatan produksi. Tabel 6 menunjukan bahwa Kecamatan Tongkuno memiliki luas lahan sebesar 7 066 hektar dengan kapasitas produksi sebesar 893 ton. Kecamatan Kabawo memiliki luas lahan 1 988 hektar dengan kapasitas produksi
40
244 ton. Indikator ini menunjukan bahwa proses penambahan luas areal jambu mete gelondongan masih berpeluang untuk meningkatkan produksi jambu mete gelondongan. Hal tersebut dikarenakan potensi luas wilayah Kabupaten Muna masih besar (296 397 hektar). Lahan tersebut belum dimanfaatkan secara optimal oleh penduduk setempat (74.97%). Lahan yang tersisa masih luas yakni 74 000 hektar (25.03%) belum dimanfaatkan (Disbun Kabupaten Muna 2013).
Tabel 7 menjelaskan bahwa lahan yang paling banyak digunakan adalah lahan perkebunan yakni (22.47%). Kondisi lahan sangat sesuai dengan berbagai jenis komoditas perkebunan. Kondisi tanah yang tropis menjadikan tanaman perkebunan seperti jambu mete tumbuh subur. Ketergantungan masyarakat Kabupaten Muna terhadap sektor pertanian besar khususnya untuk sektor perkebunan. Terdapat 68 423 kepala keluarga berusahatani di perkebunan dan 25 902 kepala keluarga adalah petani jambu mete gelondongan (BPS Kabupaten Muna 2013).
Tabel 7 Persentase luas lahan menurut penggunaannya di Kabupaten Muna tahun 2012
Lahan berdasarkan penggunaannya Persentase penggunaan lahan (%) Sawah 0.68 Lahan bangunan 9.54 Tegal/kebun 13.53 Ladang 7.73 Tambak 0.43 Tanaman kayu 6.75 Hutan negara 13.84 Perkebunan 22.47
Rawa yang tidak ditanami 6.75 Sementara tidak diusahakan 13.84
Lain-lain 22.47
Jumlah 100.00
Sumber : BPS Kabupaten Muna (2013)
Kondisi Infrastruktur dan Akses Permodalan Sarana Transportasi
Sarana transportasi merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat Muna dalam proses produksi dan pemasaran hasil produksi. Kondisi sarana transportasi jika dikaitkan dengan pemasaran jambu mete gelondongan di Kabupaten Muna yang memiliki keterbatasan transportasi akan dapat menjadi penghambat proses pemasaran produk jambu mete gelondongan. Hal tersebut dikarenakan jalan merupakan infrastruktur penting untuk menyalurkan produk dari tangan produsen ke konsumen.
Kondisi jalan di Kabupaten Muna masih sangat buruk. Jalan antara kota kecamatan masih sebagian kecil yang diaspal terdapat lubang dimana-mana. Jalan
41 yang menghubungkan antara desa satu dengan desa lainnya merupakan jalan yang paling rusak. Jalan merupakan prasarana angkutan darat yang sangat penting dalam memperlancar kegiatan perekonomian antara wilayah.
Kondisi jalan yang baik akan memudahkan mobilitas penduduk dalam melakukan kegiatan perekonomian dan kegiatan sosial lainnya. Panjang jalan di Kabupaten Muna tahun 2011 (1 413.89 km). Terdiri dari 281.06 km jalan provinsi dan 1 132.83 km jalan kabupaten. Jalan berdasarkan jenis permukaannya dapat dibedakan menjadi jalan diaspal dan tidak diaspal. Sedangkan berdasarkan kondisinya jalan dapat dibedakan menjadi jalan yang baik, sedang, dan rusak. Tabel 8 menunjukkan statistik transportasi yang terdapat di Kabupaten Muna.
Tabel 8 Statistik transportasi Kabupaten Muna tahun 2011-2012
Uraian Tahun 2011 Tahun 2012
Panjang jalan menurut jenis permukaan (km) Diaspal Kerikil Tanah 497.49 487.86 142.43 493.79 492.35 146.69 Panjang jalan menurut kondisi jalan (km)
Baik Sedang Rusak ringan Rusak berat 187.65 698.23 16.78 321.34 185.73 623.70 15.90 323.40 Jumlah kendaraan (unit)
Bus Truk Truk tangki Mobil penumpang Mobil barang 373 148 32 16 112 431 164 35 16 140 Sumber: BPS Kabupaten Muna (2013)
Keadaan jalan di Kecamatan Tongkuno dan Kabawo mengalami banyak kerusakan. Hal tersebut menjadi kendala dalam penyaluran atau distribusi jambu mete gelondongan. Gambar 10 menunjukkan jalan yang mengalami rusak berat (50%) sedangkan yang baik (23%). Keadaan tersebut menyebabkan petani enggan memasarkan jambu mete gelondongan ke ibukota kabupaten (Raha).
Kondisi jalan yang rusak di Kecamatan Tongkuno dan Kabawo telah ada sejak tahun 2003 sampai 2013. Kecamatan Tongkuno berada di bagian selatan Kabupaten Muna berbatasan dengan wilayah Kabupaten Buton berjarak kurang lebih 175 km dari ibukota kabupaten. Sedangkan Kecamatan Kabawo memiliki jarak kurang lebih 132 km dari ibukota kabupaten dengan jarak tempuh berkisar 1 sampai 2 jam masuk ke wilayah Kabupaten Buton. Kondisi tersebut mengakibatkan produksi jambu mete gelondongan yang berasal dari Kecamatan Tongkuno dan Kabawo lebih banyak diambil oleh Kabupaten Buton karena akses transportasinya lebih mudah, murah, dan cepat dibandingkan jika dibawa ke ibukota Kabupaten Muna yang menempuh waktu berkisar 5 sampai 6 jam perjalanan darat.
42
Sumber: BPS Kabupaten Muna dalam angka 2012 Gambar 10 Persentase kondisi jalan di Kabupaten Muna
Jalur pasar jambu mete gelondongan yang bergeser ke luar dari Kabupaten Muna menjadi faktor kendala dalam proses pemasaran. Hal ini dikarenakan hasil produksi dari segi labelisasi produk, pendapatan asli daerah dan penentuan harga akan merugikan Kabupaten Muna. Sehingga yang diuntungkan adalah Kabupaten Buton. Gambar 11 menunjukan secara nyata bahwa produksi jambu mete gelondongan di Kabupaten Muna jauh lebih besar daripada Kabupaten Buton.
Sumber: Disbunhorti Sulawesi Tenggara 2013
Gambar 11 Persentase jumlah produksi jambu mete gelondongan di Kabupaten Muna dan Buton tahun 2012
Produksi jambu mete gelondongan pada tahun 2012 di Kabupaten Muna cukup besar yaitu 2 439 ton dibandingkan dengan Kabupaten Buton yang hanya memproduksi sebesar 516 ton. Namun apabila mengacu pada rantai pemasaran berdasarkan kondisi daerah Kabupaten Muna maka fungsi lembaga pemasaran hanya sampai pada petani, pedagang pengumpul desa, dan pedagang pengumpul kecamatan tanpa adanya pengolahan. Sehingga tidak diperoleh nilai tambah (value added) yang bernilai tinggi dari komoditi jambu mete gelondongan.
Sementara harga dari hasil pengolahan tersebut sangat tinggi ketika dipasarkan yang dapat memberikan keuntungan ebih besar bagi petani. Hal ini sejalan dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Limbong dan Sitorus (1987) bahwa semakin banyak perlakuan yang diberikan pada suatu barang akan mengakibatkan meningkatnya biaya pemasaran yang diikuti dengan peningkatan pengambilan keuntungan oleh setiap lembaga pemasaran yang terlibat. Artinya, keuntungan yang didapatkan petani Kabupaten Muna sangat kecil. Apalagi belum
23 % 26 % 50 % 1 % 0 20 40 60
baik sedang rusak ringan
Kondisi Jalan
43 ada proses perlakuan yang diberikan terhadap jambu mete gelondongan melainkan masih dalam bentuk bahan mentah belum mengalami proses pengolahan dalam bentuk produk jadi yang siap dikonsumsi.
Akses Permodalan
Kondisi permodalan untuk usahatani jambu mete gelondongan di Kabupaten Muna masih terbatas. Petani umumnya masih sulit untuk memperoleh modal, baik dalam proses on farm maupun pengolahan hasil usahataninya. Hal ini menjadi alasan petani menjadikan peran pedagang pengumpul sebagai alternatif petani meminjam uang dengan ketentuan semua hasil panennya harus dipasarkan kepada pemberi modal. Peminjaman modal dalam bentuk sarana produksi atau uang tunai disesuaikan tingkat kebutuhan petani.
Akses modal yang sulit diperoleh petani dalam kegiatan usahataninya mengakibatkan para petani di Desa Fongkaniwa Kecamatan Tongkuno membentuk forum kerukunan keluarga Fongkaniwa yang bertujuan memberikan modal bagi para petani yang membutuhkan dalam proses usahataninya. Kerukunan Keluarga Fongkaniwa di desa Fongkaniwa Kecamatan Tongkuno mulai berdiri pada tahun 2008 sampai 2012. Dana bergulir yang dikelola secara bersama mencapai 30 juta pada tahun 2012.
Keberadaan lembaga non formal seperti Kerukunan Keluarga Fongkaniwa memiliki peran yang sangat besar dalam menjaga keberlangsungan usahatani di Kecamatan Tongkuno. Meskipun terdapat beberapa lembaga perbankan di Kabupaten Muna, seperti Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Danamon, Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Pembangunan Daerah, dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Hara Lata yang berada di ibukota Kabupaten Muna. Kondisi lembaga keuangan di Kabupaten Muna disajikan pada Tabel 9.
Tabel 9 Jumlah lembaga keuangan di Kabupaten Muna tahun 2012
Lembaga Keuangan (bank) Jumlah
Bank Rakyat Indonesia (BRI) 1 unit
Bank Danamon 1 unit
Bank Pembangunan Daerah (BPD) 1 unit
Bank Negara Indonesia (BNI) Bank Perkreditan Rakyat (BPR)
1 unit 1 unit Sumber : BPS Kabupaten Muna (2013)
Lembaga perbankan dalam memberikan kredit lebih banyak disalurkan ke sektor perdagangan (Rp91 746 juta). Sektor pertanian (Rp11 971 juta), sektor jasa (Rp5 582 juta) dan sektor industri (Rp3 161) (BPS Kabupaten Muna 2013). Lembaga ekonomi mikro yang masih kurang ditingkat petani memperlambat pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Muna. Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2010 ( 6.78%) lebih rendah dibanding pertumbuhan tahun 2009 (7.81%) dan lebih rendah dibanding pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara sebesar (8.19%). Sektor pertanian merupakan sektor dengan pertumbuhan relatif kecil ( 4.47%)
44
dibandingkan sektor pertambangan (10.61%), persewaan dan jasa perusahaan (10.30%) (BPS Kabupaten Muna 2013).
Lokasi yang jauh dan persyaratan yang sulit seperti adanya jaminan atau agunan, harus memiliki skala usaha tertentu, membuat petani sulit untuk mendapatkan akses modal pada lembaga perbankan. Terutama bagi petani yang hanya memiliki luas lahan sebesar 0.5 sampai 2 hektar kebun jambu mete gelondongan. Keadaan tersebut mengakibatkan perputaran modal yang kecil ditingkat desa.
Usahatani Jambu Mete Gelondongan di Kabupaten Muna
Proses budidaya jambu mete dimulai sejak tahun 1985 yang dikembangkan secara bersama dengan jarak tanam 8 x 10 cm. Petani banyak melakukan pemanfaatan tanaman yang masih berusia muda. Pola tumpang sari digunakan petani untuk menanam tanaman sela yang berusia produktif pendek seperti varietas jagung yang toleran terhadap kekeringan, varietas berumur genjah, padi gogo, kedelai, dan kacang tanah serta umbi-umbian yang memiliki nilai ekonomis tinggi.
Usia produksi jambu mete gelondongan mulai berumur 3 tahun sedangkan usia produktif bisa mencapai 20 sampai 30 tahun. Proses pengolahan jambu mete gelondongan di Kabupaten Muna dilakukan dengan cara, pertama pemetikan dilakukan langsung dari pohon dengan menggunakan alat manual atau menunggu buah jambu mete jatuh dari pohon baru kemudian dilakukan pemungutan 2 sampai 3 kali dalam seminggu. Jambu mete yang jatuh dari pohon adalah buah yang matang fisiologis dan memiliki struktur kacang yang berisi ketika dikacip dibandingkan dengan kacang mete yang belum matang secara menyeluruh. Kedua, sortir atau pemisahan daging buah dengan biji jambu mete. Kemudian dilakukan penjemuran untuk menurunkan kadar air sampai 27 persen. Ketiga pengacipan atau pemisahan kulit kacang mete. Selanjutnya dilakukan pemisahan antara kacang mete yang masih utuh dan terbelah (hancur). Gambar 12