• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

6.4. Analisis Struktur Pasar

Analisis struktur pasar dalam penelitian ini dilakukan dengan memperhatikan sifat produk yang dipasarkan, jumlah pembeli dan pembeli yang terlibat, informasi pasar yang berkaitan dengan harga dan kondisi pasar serta hambatan keluar masuk pasar. Secara umum struktur pasar tersebut dapat terlihat pada Tabel 22.

Tabel 22. Analisis Struktur Pasar Komoditas Telur Ayam Kampung di Kabupaten Bogor Sifat Produk yang diperjualbelikan Jumlah Lembaga Pemasaran Informasi Pasar oleh Peternak Hambatan keluar masuk pasar -Homogen (tidak bisa dipisahkan) - Peternak ayam kampung yang menjadi responden berjumlah lima orang -Pedagang pengumpul sebanyak lima orang -Pedagang grosir berjumlah 10 orang -Pedagang grosir berjumlah 10 orang Umumnya peternak mengetahui informasi harga, akan tetapi tergantung bagaimana permintaan di pasar dan tawar menawar dengan lembaga pemasaran Peternak bebas menjual telurnya ke pedagang pengumpul ataupun pedagang grosir. Akan tetapi memiliki kendala di kapasitas produksi dan modal

Berdasarkan Tabel 22, struktur pasar yang dihadapi oleh masing-masing lembaga pemasaran berbeda-beda antara lain:

77

 

Struktur pasar yang dihadapi oleh peternak ayam kampung di Kabupaten Bogor mengarah kepada struktur pasar oligopoli karena peternak berjumlah lima orang, peternak tidak dapat mempengaruhi harga serta peternak bebas untuk keluar masuk pasar. Hal ini dicirikan dengan jumlah peternak sebagai produsen lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah pedagang, yaitu petenak berjumlah lima orang sedangkan jumlah pedagang sebanyak 25 orang. Produk peternak bersifat homogen, hal ini terlihat dari keseragaman produk serta kualitas hasil peternakan. Peternak melakukan kegiatan peternakan secara continue.

Informasi harga yang dimiliki peternak cukup baik, peternak tidak memerlukan biaya untuk mendapatkan informasi tentang harga. Peternak mendapatkan informasi tentang harga dari pedagang pengumpul ataupun dari peternak lainnya. Sistem penentuan harga ditenttukan oleh pedagang berdasarkan harga yang berlaku dipasar sehingga kedudukan peternak dalam system tataniaga sangat lemah. Peternak tidak memiliki posisi tawar menawar yang memadai dan hanya bertindak sebagai penerima harga (price taker).

Struktur pasar yang dihadapi oleh pedagang pengumpul di Kabupaten Bogor adalah mengarah ke pasar oligopoli karena pedagang pengumpul berjumlah lima orang. Hal ini dicirikan dengan jumlah pedagang pengumpul sebagai perantara lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah pedagang lain, yaitu pedagang pengumpul berjumlah lima orang sedangkan jumlah pedagang lainnya sebanyak 20 orang. Produk peternak bersifat homogen, hal ini terlihat dari keseragaman produk serta kualitas hasil peternakan.

Pada umumnya pedagang pengumpul memiliki hubungan yang erat dengan peternak. setiap pedagang pengumpul telah memiliki peternak langganan, meskipun demikian peternak mungkin saja menjual produk yang dihasilkannya ke pedagang pengumpul yang bukan langganannya. Jumlah pedagang pengumpul di Kabupaten Bogor sama dengan jumlah peternak ayam kampung yang ada di kabupaten Bogor. Pedagang pengumpul memiliki kekuatan untuk mempengaruhi harga yang terjadi di kabupaten Bogor terutama untuk peternakan kecil. Informasi harga diperoleh pedagang pengumpul melalui survei pasar dan dari pedagang lainnya.

Pedagang grosir mengahadapi struktur pasar yang cenderung oligopoli murni ketika berhadapan dengan pedagang pengumpul selaku pembeli dan oligopoli murni ketika berhadapan dengan ketika berhadapan dengan pedagang pengecer I dan pedagang pengecer II (selaku penjual). Hal ini ditunjukkan dengan jumlah pembeli yang lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah penjual. Hambatan masuk bagi pedagang grosir cukup tinggi, karena cukup sulitnya memperoleh izin dari pengelola pedagang grosir untuk berjualan disana. Disamping itu, sulitnya mendapatkan kios kosong yang dapat digunakan untuk berjualan. Namun demikian, pendatang baru masih bias masuk ke pasar grosir, terutama apabila mempunyai modal yang cukup dan kemampuan mengakses pasar. Pedagang grosir tidak hanya menjual telur ayam kampung, tetapi juga menjual jenis telur lainnya seperti telur ayam ras, bebek,maupun telur puyuh. Jadi pedagang grosir dalam tataniaga telur ayam kampung dapat dikatakan sebagai pedagang grosir telur ayam kampung.

Struktur pasar yang dihadapi oleh pedagang pengecer adalah pasar persaingan sempurna, karena jumlah pedagang pengecer cukup banyak , produk yang diperjualbelikan bersifat homogen dan pedagang pengecer tidak dapat mempengaruhi pasar sehingga bertindak sebagai price taker.

Sistem pembayaran harga yang berlaku di pasar pengecer adalah tunai. Harga telur ayam kampung ditentukan berdasarkan harga yang berlaku dipasar, tetapi pembeli dapat melakukan kegiatan tawar-menawar dengan pedagang pengecer. Informasi harga yang didapatkan pedagang pengecer melalui survei pasar ataupun pedagang lainnya. Selain itu pedagang pengecer dapat dengan dapat dengan mudah keluar masuk pasar, karena tidak terdapat hambatan bagi pedagang pengecer lain untuk memasuki pasar. Pedagang pengecer tidak hanya menjual telur ayam kampung, tetapi juga menjual telur lainnya seperti telur bebek, telur puyuh, telur ayam ras dan lainnya.

6.5. Struktur Pasar

Struktur pasar merupakan suatu dimensi yang menjelaskan pengambilan keputusan oleh perusahaan maupun industri, jumlah perusahaan suatu pasar, distribusi perusahaan menurut berbagai ukuran (pangsa pasar yang terkonsentrasi

79

 

atau menyebar), deskripsi produk dan syarat-syarat keluar masuk pasar. Struktur pasar sangat diperlukan dan paling banyak digunakan dalam menganalisis sisem pemasaran. Hal ini disebabkan karena melalui analisis pemasaran secara otomatis didalamnya akan menjelaskan bagaimana perilaku partisipan yang terlibat dan akhinya akan menunjukkan keragaan yang terjadi akibat dari struktur dan perilaku pasar yang ada dalam sistem pemasaran.

Struktur pasar yang terjadi pada setiap lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat dalam proses pemasaran telur ayam kampung di Kabupaten Bogor ber beda-beda. Struktur pasar yang terjadi pada daerah penelitian dapat digunakan dengan menganalisis struktur pasar, analisis struktur pasar dilakukan berdasarkan jumlah pembeli dan penjual atau jumlah lembaga pemasaran yang terlibat, keadaan produk, dan hambatan keluar masuk pasar serta informasi pasar berupa biaya, harga dan kondisi pasar. Struktur dapat menentukan tingkat efisiensi suatu saluran pemasaran.

6.5.1. Keadaan Produk

Keadaan produk menjelaskan tentang bentuk fisik poduk itu sendiri secara keseluruhan. Telur ayam kampung merupakan produk yang dihasilkan dari daerah penelitian ini di Kabupaten Bogor, telur ayam kampung mengalami proses sortasi dan grading yang dilakukan oleh pedagang grosir dan pedagang pengecer.

Proses penyortiran dan grading dilakukan oleh grosir dan pedagang pengecer untuk mengelompokkan telur ayam kampung sesuai dengan yang diinginkan konsumen dengan cara memisahkan telur yang baik dan yang rusak. Pengelompokkan telur berdasarkan bobot, kualitas, bentuk, kemulusan cangkang, warna cangkang.

Terdapat tiga grade kualitas telur ayam kampung berdasarkan kualitasnya antara lain grade A, grade B dan grade C. Perlakuan sortasi dan grading pada telur ayam kampung dilakukan secara manual. Telur ayam kampung dengan grade A dengan bentuk cangkang bersih, bobotnya sedang atau seukuran 35 gram yang biasanya dijual ke perumahan-perumahan, tempat pusat kebugaran (fitness), minimarket, pasar swalayan dan pasar modern. Grade B dengan bentuk yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan grade A, warna yang kurang seragam,

cangkang yang kurang bersih, pada umumnya dijual ke pasar tradisional, konsumen rumah tangga, perusahaan roti, rumah makan, kios dan warung- warung kelontong. Sedangkan grade C dengan kualitas telur yang sudah retak, pecah biasanya di jual ke konsumen rumah tangga, perusahaan roti dan rumah makan. Pada waktu panen biasanya telur ayam kampung di pungut oleh anak kandang dan langsung dimasukkan ke dalam peti kayu agar tidak mudah pecah.

6.5.2. Hambatan Keluar Masuk Pasar

Setiap lembaga pemasaran di Kabupaten Bogor ini memiliki hambatan yang berbeda-beda, umumnya hambatan keluar masuk pasar dalam proses pemasaran telur ayam kampung sangat dipengaruhi oleh besar kecilnya modal yang dimiliki oleh lembaga pemasaran yang terlibat. Selain karena dipengaruhi adanya modal, hambatan keluar masuk pasar juga dipengaruhi hubungan kepercayaan di antara pelaku pasar, harga serta adanya pengaruh karena kualitas dari telur ayam kampung tersebut.

Pada umumnya lembaga pemasaran yang terlibat pada sistem pemasaran telur ayam kampung di lokasi penelitian memiliki pengalaman yang cukup lama dengan modal yang relatif besar serta memiliki hubungan kepercayaan yang baik denga lembaga pemasaran yang lainnya. Selain itu, hambatan yang lain adalah kualitas telur yang diinginkan konsumen, harga yang kurang konstant karena tergantung pada harga yang berlaku di Jawa Timur dan Jawa Tengah sebagai pusat peternakan di Indonesia. Persaingan pasar juga menjadi hambatan yang terjadi diantara lembaga pemasaran yang lainnya yang semakin ketat walaupun suatu lembaga pemasaran tersebut sudah mempunyai langganan yang tetap.

6.5.3. Informasi Pasar

Informasi pasar dalam kegiatan proses pemasaran berupa tingkat pengetahuan dari pelaku pasar atau partisipan dalam pemasaran yang memberikan informasi pasar berupa biaya, harga, dan kondisi pasar antar partisipan. Informasi pasar pada proses pemasaran dalam hal biaya yang dibutuhkan pada lokasi penelitian diperoleh dari lembaga-lembaga pemasaran, sesama peternak, serta pihak-pihak yang berkaitan dengan kegiatan pemasaran.

81

 

Informasi mengenai harga terjadi secara timbal balik diantara partisipan pemasaran. Kondisi pasar yang terjadi diantara partisipan terbentuk dengan adanya hubungan kepercayaan sehingga informasi mengenai keadaan pasar dapat diperoleh dengan mudah.