BAB IV. METODE PENELITIAN
4.4. Metoda Analisis dan Pengolahan Data
4.4.3. Analisis Struktur dan Perilaku Pasar
Analisis ini diperlukan untuk mengetahui kecendrungan struktur suatu pasar, apakah mendekati persaingan sempurna atau persaingan tidak sempurna dengan melihat komponen-komponen yang mengarahkan pasar ke arah struktur tertentu. Beberapa indikator untuk menganalisa struktur pasar yaitu jumlah
pedagang pengumpul di tiap tingkat pemasaran, hambatan masuk dan keluar usaha pemasaran, metoda transaksi, frekuensi transaksi, sifat dan karakter dari telur ayam kampung, sistem kelembagaan pemasaran, hak dan kontrol pelaku pemasaran. Sedangkan perilaku pasar dapat diketahui melalui tata cara penjualan dan pembelian serta keterkaitan antara berbagai lembaga pemasaran yang terlibat dan sistem penentuan harga dan sistem pembayarannya.
Tabel 5 .Karakteristik Struktur Pasar Berdasarkan Sudut Penjual dan Pembeli
No
Karakteristik Struktur Pasar
Jumlah
penjual/pembeli Sifat produk Sudut penjual Sudut pembeli
1 Banyak Homogen Persaingan murni Persaingan murni
2 Banyak Diferensiasi Persaingan
monopolistik
Persaingan monopolistik
3 Sedikit Homogen Oligopoli murni Oligopsoni murni
4 Sedikit Diferensiasi Oligopoli
diferensiasi
Oligopsoni diferensiasi
5 Satu Unik Monopoli Monopsoni
Sumber: Dahl and Hammond (1977)
4.4.4. Keragaan Pasar
Keragaan pasar merupakan akibat dari keadaan struktur dan perilaku pasar dalam kenyataan sehari-hari yang ditunjukkan dengan variabel harga, biaya, dan volume produksi dari output yang pada akhirnya akan memberikan penilaian baik atau tidaknya suatu sistem pemasaran. Analisis keragaan pasar dilakukan dengan menggunakan indikator marjin pemasaran, farmer’s share dan rasio keuntungan biaya.
a. Marjin Pemasaran
Marjin pemasaran atau marjin kotor dikenal sebagai selisih harga antara produsen dan konsumen tingkat akhir yang didalamnya terdapat harga penambahan nilai kegunaan dan keuntungan bagi lembaga pemasaran. Besarnya marjin pemasaran pada dasarnya merupakan penjumlahan dari biaya-biaya pemasaran dan keuntungan yang diterima lembaga pemasaran. Dalam melakukan
41
analisis marjin pemasaran ini menggunakan data harga ditingkat peternak dan harga ditingkat lembaga pemasaran. Sedangkan marjin keuntungan dan marjin bersih adalah marjin kotor dikurangi biaya-biaya pemasaran. Menurut Limbong dan Sitorus, secara matematik akan diperoleh perhitungan sebagai berikut:
Mj = Psi - Pbi...(1) Mj = bti + πi ...(2)
Dengan menggabungkan persamaan (1) dan (2) maka: Psi – Pbi = bti + πi
Maka besarnya marjin pemasaran adalah: Mj = ∑ Mji
Keterangan:
Mji = Marjin pada lembaga pemasaran ke-i (%) Psi = Harga penjualan lembaga pemasaran ke-i (Rp) Psi = Harga pembelian lembaga pemasaran ke-i (Rp) bti = Biaya pemasaran lembaga lembaga ke-i (Rp/Kg)
πi = Keuntungan lembaga pemasaran ke-i (Rp/Kg) Mj = Marjin pemasaran (%)
i = 1,2,3...n
Menurut Raju dalam Eryani (2009), terdapat dua metoda dalam perhitungan marjin pemasaran yaitu metoda tenggat waktu (time lag method) dan metoda berbarengan. Metoda tenggat waktu dilakukan dengan cara mengikuti aliran barang sepanjang rantai pemasaran dengan memperhitungkan berbagai biaya pemasaran di berbagai tingkat lembaga pemasaran yang dilalui. Dengan demikian unsur waktu dapat diperhitungkan dengan lebih seksama dalam perhitungan marjin pemasaran. Kendala yang dihadapi dalam perhitungan ini adalah sukarnya pelaksanaan dan memerlukan banyak waktu. Salah satu kesukarannya adalah harga dan mutu mengalami perubahan pada tiap tingkat pasar atau lembaga pemasaran.
Metoda berbarengan dilakukan dengan cara membandingkan harga pada berbagai tingkat saluran pemasaran pada tingkat waktu yang sama. Walaupun tidak seakurat metoda tenggang waktu, namun metoda ini lebih mudah pelaksanaanya. Oleh karena itu, metoda ini lebih sering digunakan.
b. Farmer’s Share
Indikator lain untuk membandingkan harga yang dibayarkan oleh konsumen akhir yaitu dengan melihat farmer’s share yang dinyatakan dalam persentase. Tersebarnya lokasi dalam wilayah yang luas dan jauh dari pusat pemasaran menyebabkan banyak lembaga pemasaran yang terlibat atau semakin panjangnya rantai pemasaran sehingga biaya pemasaran semakin tinggi. Hal tersebut yang menyebabkan farmer’s share berhubungan negatif dengan marjin pemasaran, semakin rendah farmer’s share maka bagian yang akan diperoleh peternak semakin rendah. Secara matematik dirumuskan sebagai berikut:
FS = x 100% Keterangan:
FS = Farmer’s Share (100%)
P = Harga ditingkat peternak (Rp/kg)
K = Harga yang dibayarkan oleh konsumen akhir (Rp/kg)
c. Rasio Keuntungan Terhadap Biaya
Efisiensi pemasaran juga dapat dilihat dari rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran. Semakin meratanya penyebaran rasio keuntungan terhadap biaya pada setiap lembaga pemasaran, maka secara teknis sistem pemasaran tersebut semakin efisien. Penyebaran rasio keuntungan dan biaya pada masing- masing lembaga pemasaran dapat dirumuskan sebagai berikut:
Rasio keuntungan biaya (%)= x 100% Dimana:
Li = Keuntungan lembaga pemasaran Ci = Biaya pemasaran
4.4.5. Efisiensi Pemasaran
Efisiensi pemasaran merupakan suatu perubahan yang mengurangi biaya input tanpa mengurangi kepuasan konsumen dengan output barang dan jasa. Biaya pemasaran baik besar atau kecil adalah indikasi efisiensi, bahwa pemasaran sudah dilakukan. Efisiensi merupakan patokan yang paling sering digunakan dalam menilai kinerja pemasaran. Kinerja pemasaran adalah bagaimana suatu
43
sistem pemasaran dijalankan dan apa yang diharapkan oleh lembaga-lembaga atau pihak yang terlibat didalamnya. Peningkatan efisiensi adalah salah satu tujuan umum dari peternak, pedagang perantara dan konsumen. Efisiensi yang tinggi menggambarkan kinerja pemasaran yang baik, sedangkan efisiensi yang rendah berarti sebaliknya.
Pemasaran yang efisien merupakan tujuan akhir yang ingin dicapai dalam suatu sistem pemasaran. Suatu saluran pemasaran dapat dikatakan efisien berdasarkan dari hasil analisis pemasaran yang meliputi: saluran dan lembaga pemasaran, fungsi-fungsi pemasaran, struktur pasar, perilaku pasar serta keragaan pasar yang berdasarkan pada tiga indikator yaitu marjin pemasaran, farmer’s share, serta rasio keuntungan dan biaya. Oleh karena itu, efisiensi pemasaran akan tercapai jika sistem tersebut dapat memberikan kepuasan kepada pihak-pihak yang terlibat yaitu: produsen, pedagang perantara dan konsumen akhir.
Saluran pemasaran dikatakan efisien apabila (1) mampu menyampaikan hasil-hasil dari peternak (produsen) kepada konsumen dengan biaya yang semurah-murahnya, (2) mampu mengadakan pembagian yang adil dari keseluruhan harga yang dibayar oleh konsumen akhir kepada semua pihak yang ikut serta dalam kegiatan produksi dan pemasaran barang tersebut.