HASIL DAN PEMBAHASAN
6.1. Lembaga Pemasaran
6.2.1. Pola Saluran Pemasaran
Saluran pemasaran I digunakan oleh dua orang peternak responden (40 persen dari total peternak responden) merupakan saluran terpanjang pada rantai pemasaran telur ayam kampung. Pada umunya peternak yang melewati pola saluran ini adalah peternak dengan skala kecil karena kurangnya fasilitas,jauhnya lokasi pemasaran, kurangnya informasi pasar serta adanya penambahan biaya apabila peternak tersebut yang langsung memasarkan ke pasar atau ke konsumen akhir. Peternak –peternak dengan skala usaha kecil tersebut menjual langsung ke pedagang pengumpul (tengkulak), kemudian pedagang pengumpul menjual kepada pedagang grosir maupun ke pedagang pengecer yang ada di kawasan Bogor seperti di Pasar Leuwiliang, Pasar Bogor, Pasar Parung, Pasar Anyar, Pasar Cibinong, Depok, Gunung putri, Cikeas, Cileungsi, Meruya (Jakarta Barat), Perumahan –Perumahan disekitar Jabodetabek, minimarket, dan konsumen rumah tangga di daerah Bogor dan Jakarta untuk dijual kembali kepada konsumen akhir. Alasan peternak menggunakan saluran ini karena jauhnya lokasi peternakan dari lokasi pemasaran, memudahkan peternak karena produknya langsung habis terjual serta mengurangi timbulnya resiko seandainya peternak yang menjual langsung kepada konsumen akhir berupa biaya transportasi yang besar, biaya pembelian maupun penyewaan kios dan lainnya.
Pedagang pengumpul pada saluran ini menentukan harga yang berlaku berdasarkan harga yang terjadi di pasar dan informasi harga berasal dari sesama pedagang pengumpul maupun dari pedagang pengecer. Sistem pembelian dilakukan secara tunai dan pembayaran kemudian. Sistem pembayaran kemudian yang paling banyak dilakukan antara peternak dengan pedagang pengumpul dikarenakan adanya rasa saling percaya antara keduanya. Sedangkan pembayaran secara tunai dilakukan karena pedagang pengumpul sangat jarang dilakukan karena pedagang pengumpul biasanya menjual kembali telur ke pedagang pengecer juga dengan sistem pembayaran kemudian. Dalam melakukan pembelian di tingkat peternak,pedagang pengumpul tidak perlu bersusah payah untuk mencari peternak yang akan menjual telurnya karena para peternak umumnya sudah berlangganan tetap dengan para pedagang pengumpul. Kegiatan tersebut dilakukan oleh peternak pada pagi hingga sore hari, keesokan harinya
setelah telur di panen dari kandang. Peternak membawa telur hasil peternakannya dengan menggunakan sepeda motor, mobil pribadi, mobil box ataupun mobil pick up tergantung sebarapa banyak jumlah telur yang akan dipasarkan.
Pedagang pengumpul membeli telur dari beberapa peternak responden yang telah menjadi langgananya karena ada ikatan saling percaya diantara keduanya. Pedagang pengumpul melakukan pengumpulan barang dikios maupun di gudangnya dan keesokan harinya baru dijual ke pedagang grosir yang menjadi langgananya dipasar yang sama ataupun di pasar yang berbeda. Alat transportasi yang digunakan berupa mobil pick up, motor, Selanjutnya pedagang pengecer memasarkan ke konsumen akhir.
Peternak menjual hasil panen telurnya secara borongan kepada pedagang pengumpul desa (tengkulak) dengan harga Rp. 1100,00 per butir, kemudian dari pedagang pengumpul desa (tengkulak) diangkut ke pasar dan dijual kepada pedagang grosir dengan harga Rp. 1200,00 sampai dengan Rp. 1400,00 per butir. Selanjutnya pedagang grosir menjual kembali telur ke pedagang pengecer dengan harga Rp. 1300,00 sampai dengan Rp. 1600,00 dan pada akhirnya pedagang pengecer menjual kembali kepada konsumen akhir sebesar Rp. 1600,00 sampai dengan Rp.2000,00 per butir.
Dengan demikian, pada saluran ini peternak tidak mengeluarkan biaya pemasaran karena hasil produksi telurnya dijual langsung secara borongan kepada pedagang pengumpul desa (tengkulak). Sehingga pihak yang mengeluarkan biaya pemasaran disini yaitu pedagang pengumpul desa (tengkulak), pedagang grosir dan pedagang pengecer. Pedagang pengumpul besar (tengkulak) mengeluarkan biaya pemasaran berupa biaya transportasi, biaya pungutan liar, biaya bongkar muat, akomodasi serta biaya penyimpanan. Pada pedagang grosir, biaya pemasaran yang dikeluarkan yaitu biaya pengangkutan, biaya sortasi, biaya akomodasi, biaya retribusi, biaya sampah serta biaya keamanan. Sedangkan pada pedagang pengecer biaya pemasaran yang dikeluarkan berupa biaya angkut, biaya retribusi, biaya sampah, biaya keamanan serta biaya penyimpanan dan akomodasi.
65
6.2.2. Pola Saluran Pemasaran II
Saluran pemasaran kedua ini digunakan oleh dua orang peternak responden (40 persen). Saluran ini terdiri dari peternak, pedagang grosir, dan pedagang pengecer. Pada umunya peternak yang memasarkan produknya melalui pola saluran ini adalah peternak dengan skala usaha menengah dan skala usaha besar. Alasan peternak menjalankan saluran ini karena jumlah telur yang dimiliki peternak cukup banyak dan pedagang grosir mampu membeli dalam jumlah yang banyak dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan pedagang pengumpul untuk kemudian dijual atau dipasarkan ke pedagang pengecer. Selain itu peternak tidak direpotkan dengan penanganan lebih lanjut seperti pengemasan yang lebih baik, penyimpanan maupun kemungkinan produk yang tidak terjual.
Volume penjualan telur ayam kampung yang melewati saluran ini berkisar antara 8.500 butir per hari atau sebesar 37,8 persen dari total volume penjualan telur ayam kampung. Sebanyak satu orang peternak dengan skala usaha menengah dan satu orang peternak dengan skala usaha besar responden telah memiliki jaringan yang kuat hingga bisa menembus pasar modern dan telah menjual telur ayam kampung ke pasar modern untuk kemudian dijual ke swalayan-swalayan.
Telur hasil peternak diangkut menggunakan mobil box, mobil pick up, motor (sesuai jumlah telur yang akan dipasarkan) dengan biaya transportasi yang ditanggung peternak. Setelah sampai dilokasi transaksi antara peternak dengan pedagang grosir tersebut baru dilakukan. Harga jual rata-rata yang diterima peternak pada tipe saluran ini adalah Rp. 1150 per butir. Sistem pembayaran yang dilakukan oleh pedagang grosir terhadap peternak adalah dengan sistem tunai. Sedangkan harga beli untuk pedagang grosir seharga Rp. 1450. Harga jual pedagang pengecer berkisar antara Rp. 1600 sampai dengan Rp. 2000. Harga beli pengecer ini ditentukan melalui proses tawar menawar antara kedua belah pihak yang bertransaksi. Biaya-biaya yang harus ditanggung oleh pedagang pengecer ini adalah biaya sewa tempat, biaya transportasi, retribusi, dan sortasi.
Pedagang grosir menjual kembali produknya kepada pedagang pengecer di Kabupaten Bogor maupun di luar Kabupaten Bogor. Sistem pembayaran yang dilakukan oleh pedagang grosir dengan pedagang pengecer adanya yang bersifat
tunai dan ada juga dengan sistem bayar kemudian, tergantung bagaimana kesepakatan diantara keduanya.
6.2.3. Pola Saluran Pemasaran III
Pola saluran pemasaran III merupakan pola saluran yang terdiri dari peternak - pedagang pengecer - konsumen. Dari penelitian yang dilakukan diperoleh data sebanyak satu orang (20 persen) dari jumlah responden yang menjual produk telur ayam kampung langsung kepada pedagang pengecer. Peternak yang menjual produk yang melewati saluran ini adalah peternak dengan skala usaha besar, karena mereka mampu menjaga kontinuitas persediaan produk. Volume penjualan pada saluran ini adalah sebesar 2.000 butir telur per hari atau sebesar 8,88 persen dari total volume penjualan telur ayam kampung.
Pada pola pemasaran ini, target pasar lebih difokuskan kepada minimarket maupun supermarket, sehingga pada saluran ini membutuhkan biaya yang lebih besar karena peternak menambah nilai produk berupa kemasan dari bambu maupun pemasangan merk telur. Jumlah telur yang dipasarkan pada jalur ini hanya sedikit yaitu sebesar 2000 butir per hari dan dipasarkan ke berbagai minimarket dan supermarket yang ada di Bogor, Jakarta dan sekitarnya. Pada umumnya yang menerapkan pola ini adalah peternakan kecil (skala 5000 ekor) karena adanya tambahan pekerjaan serta adanya penambahan resiko.
Alasan peternak menggunakan pola saluran pemasaran ini dikarenakan dapat mempermudah dalam proses penjualan telur ayam kampung. Peternak biasanya akan membawa langsung produknya kepada pedagang pengecer yang sudah mereka kenal sebelumnya. Hubungan yang terjadi antara peternak dengan pedagang pengecer adalah hubungan beli lepas dengan sistem pembayaran beli putus. Peternak langsung menjual hasil panennya kepada pedagang pengecer dengan harga Rp.1300 sampai dengan Rp.1500 Kemudian pedagang pengecer tersebut menjual kembali ke konsumen akhir sebesar Rp.2000.
Hal ini cukup menguntungkan peternak, karena biasanya jika peternak menjual hasil panennya ke pedagang pengumpul desa (tengkulak) dengan harga Rp. 1100,00 sampai Rp. 1150,00 per butir. Besarnya selisih hasil penjualan antara saluran pemasaran 1 dan 2 adalah Rp. 500 per butir. Oleh karena itu, maka
67
dalam hal penjualan peternak lebih diuntungkan pada saat menjual langsung kepada pedagang pengecer.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat dijelaskan bahwa peternak pada saluran III sama seperti saluran-saluran yang sebelumnya, mengeluarkan biaya pemasaran yang lebih besar dibandingkan pola pemasaran I dan II akan tetapi juga mendapatkan keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan pola pemasaran I dan II. Harga jual untuk peternak tinggi, namun harga beli pada pedagang pengecer rendah jika dibandingkan dengan harga beli pada pedagang pengecer di saluran lain (pola saluran 1 dan 2). Hal tersebut dikarenakan pedagang pengecer melakukan pembelian langsung kepada peternak, tanpa melalui pihak-pihak lain. Sehingga walaupun mengeluarkan biaya pemasaran yang cukup banyak seperti biaya penyewaan tempat dan tenaga kerja yang lebih besar, pedagang pengecer tersebut tetap untung.