• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis SWOT Pengembangan Wilayah Kecamatan

BAB VI. Penutup, yang akan berisikan kesimpulan dan implikasi

PDRB perkapita

5.2. Analisis SWOT (Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman)

5.2.4 Analisis SWOT Pengembangan Wilayah Kecamatan

Pengelompokan faktor-faktor untuk pengembangan wilayah kecamatan yang tergolong kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman beserta besarnya skor yang diperoleh dapat dilihat dalam tabel 5.16 di bawah ini:

Tabel : 5.17 Matriks Analisis SWOT Wilayah Kecamatan Kabupaten Blora

Kekuatan Kelemahan Peluang Ancaman

1 2 3 4 Kerjasama yang baik aparatur dengan masyarakat dalam pembangunan (0,36) Adanya provokasi yang memicu konflik vertikal atau horizontal (0,41). Tekad pemerintah untuk memajukan pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan cukup tinggi (0,48). Pengaruh iklim/musim yang kurang baik (0,43).

Pengutamaan kepentingan masyarakat dan pemberdayaan ekonomi UMKM (0,29). Kurang tanggapnya instansi terkait dalam menghadapi kendala usaha termasuk wabah dan hama (0,28). Peraturan pemerintah daerah dan pusat yang menguntungkan (0,41). Pembangunan infrastruktur jalan dan transportasi memerlukan biaya yang besar (0,39).

Jumlah penduduk yang relatif besar (0,28).

Kelangkaan bahan baku atau bahan penunjang kegiatan produksi (0,28). Kemudahan pemasaran hasil produk komoditi (0,37). Mengubah pola pikir dan budaya kerja masyarakat agar lebih maju dan terbuka (0,37). Adanya pembinaan dan pelatihan ketrampilan pelaku usaha UMKM (0,28) Tingkat pendidikan penduduk yang relatif masih rendah (0,22). Kemudahan akses permodalan (0,37). Penggalian potensi SDA memerlukan biaya yang besar (0,35). Kuantitas dan kualitas aparatur kecamatan dan desa yang memadai (0,26). Kualitas kesehatan masyarakat yang belum optimal (0,22). Perkembangan harga komoditi (0,32). Kelemahan sistem informasi pasar (0,28). Keberadaan wilayah kecamatan di jalur strategis (0,26). Anggaran pendapatan kecamatan yang relatif rendah (0,22). Keuletan masyarakat yang cukup tinggi (0,32). Komoditas unggulan memerlukan SDM yang terampil (0,25). Partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan wilayah (0,23). Sumber PAD yang belum tergali optimal (0,22). Upaya peningkatan ketrampilan cukup intensif (0,26). Kurang terimplementasin ya program pengembangan ekonomi pemerintah (0,23).

Pengembangan hasil komoditi sumber daya lokal (0,23). Peran aparatur pemerintah yang belum optimal (0,17). Adanya kerjasama antar kecamatan dan antar pelaku usaha dalam pengembangan komoditi unggulan (0,21). Persaingan usaha komoditi unggulan yang ketat (0,19). Terdapatnya sumber daya alam yang menonjol seperti lahan subur atau air yang cukup atau bahan mineral/tambang (0,20). Belum optimalnya pengelolaan sumberdaya alam (0,17). Kesalahan/penyi mpangan penyaluran bantuan pemerintah (0,14). Upaya promosi komoditi unggulan yang intensif (0,20). Kondisi infrastruktur jalan dan transportasi yang kurang memadai (0,17).

Berdasarkan tabel SWOT tersebut dapat disusun alternatif strategi pengembangan wilayah kecamatan sebagai berikut:

1. Strategi SO

Peningkatan kerjasama aparatur pemerintah daerah dengan masyarakat dalam memajukan derajat kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan penduduk.

Pemberdayaan ekonomi UMKM melalui peningkatan ketrampilan.

Melakukan tata niaga komoditas ungulan untuk menjamin kepastian harga dan pemasaran hasil produksi.

Peningkatan disiplin aparatur kecamatan dan desa agar tercipta sistem pemerintahan yang baik dan efisien.

Pengembangan hasil komoditi sumber daya lokal melalui peningkatan ketrampilan masyarakat.

2. Strategi ST

Peningkatan peran aktif masyarakat agar implementasi program pembangunan ekonomi lebih maksimal dan penggalian potensi daerah lebih berdaya guna.

Meningkatkan sistem informasi pasar untuk pengembangan komoditas sumber daya lokal.

Peningkatan prioritas pada kepentingan masyarakat dan pemberdayaan UMKM melalui penyuluhan/pembinaan masyarakat agar tercipta pola pikir dan budaya kerja masyarakat yang lebih maju dan terbuka.

Peningkatan pembangunan infrastruktur jalan dan transportasi serta memperbaiki sistem informasi pasar sehingga biaya produksi lebih rendah dan keuntungan yang diperoleh lebih besar.

3. Strategi WO

Meningkatkan pendidikan, ekonomi dan kualitas kesehatan masyarakat melalui kebijakan pemerintah.

Intensifikasi dan ekstensifikasi sumber PAD sebagai sumber pembiayaan pembangunan.

Peningkatan keuletan masyarakat dalam kegiatan ekonomi melalui peningkatan kualitas kesehatan masyarakat dan peningkatan peran aparatur pemerintah.

Peningkatan ketrampilan masyarakat untuk menutupi tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendah.

4. Strategi WT

Upaya mengubah pola pikir dan budaya kerja masyarakat agar lebih maju dan terbuka sehingga tidak mudah terprovokasi yang memicu konflik.

Meningkatkan peran aparatur pemerintahan untuk mengubah pola pikir dan budaya kerja masyarakat agar lebih maju dan terbuka melalui sosialisasi dan pelatihan.

Peningkatan riset dan pengembangan/penelitian dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat dalam rangka penggalian potensi SDA dan optimalisasi pengembangan komoditi unggulan.

BAB VI PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Dari hasil analisis perkembangan indikator ekonomi Kabupaten Blora pada tahun 2014, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Tingkat disparitas antar kecamatan dan disparitas pendapatan antar

penduduk walaupun masih rendah namun menunjukkan

kecenderungan meningkat sehingga perlu dilakukan perubahan orientasi kebijakan pembangunan. Indek Williamson Kabupaten Blora tahun 2014 tercatat sebesar 0,483, lebih rendah dari Indek Williamson Jawa Tengah yang tercatat sebesar 0,680. Nilai Indeks Gini Kabupaten Blora tahun 2014 tercatat sebesar 0,42, lebih tinggi dari Indeks Gini Jawa Tengah yang tercatat sebesar 0,40.

2. Pada tahun 2014, inflasi Blora tercatat sebesar 7,13 persen, lebih rendah dari tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 7,94 persen. Demikian juga dengan kondisi Kota Semarang maupun Nasional, yang masing-masing mengalami inflasi sebesar 8,53 persen dan 8,36 persen.

3. Nilai ILOR yang bertanda positif pada tahun 2014 menunjukkan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Blora berdampak pada peningkatan penyerapan tenaga kerja, dengan nilai ILOR tercatat sebesar 0,0003, artinya setiap penambahan nilai tambah satu juta rupiah PDRB adh konstan, dapat menyerap sebesar 0,0003 orang. 4. Angka ICOR rata-rata dari tahun 2010-2014 di Kabupaten Blora tercatat

Kabupaten Blora diperlukan investasi dengan nilai sebesar 5,25 persen PDRB Kabupaten Blora.

5. Berdasarkan analisis LQ yang termasuk sektor unggulan di Kabupaten Blora adalah lapangan usaha pertanian dan lapangan usaha pertambangan dan penggalian. Sedangkan sektor unggulan di tiap kecamatan berbeda-beda tergantung potensi kecamatan tersebut. 6. Berdasarkan analisis Shift Share, pertumbuhan output Kabupaten Blora

selama periode 2010-2014 terdorong oleh adanya perkembangan ekonomi di tingkat provinsi/nasional, sedangkan pengaruh struktur ekonomi dan daya saing kegiatan ekonomi Kabupaten Blora bernilai negatif atau memiliki pertumbuhan lebih rendah dari rata-rata pertumbuhan wilayah acuan yaitu jawa tengah.

6. Berdasarkan analisis overlay pada sektor primer, hanya lapangan usaha

pertambangan dan penggalian yang mempunyai keunggulan

komparatif, keunggulan kompetitif, dan keunggulan spesialisasi. Sedangkan kecamatan yang mempunyai pertumbuhan yang cepat dan memiliki daya saing yang tinggi adalah Kecamatan Cepu dan Blora. 7. Potensi lapangan usaha pertanian, pertambangan/penggalian, dan

industri pengolahan di kabupaten Blora sangat besar khususnya ditinjau dari sumber daya alamnya. Namun berbagai faktor pendukung untuk pengelolaan dan pemanfaatan mulai dari sumber daya manusia, penguasaan tehnologi, kemudahan akses sarana prasarana, permodalan, kerjasama dengan mitra usaha dan peranan kelembagaan masih perlu ditingkatkan.

6.2 Saran

Berdasarkan uraian di atas beberapa saran yang dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk kebijakan strategis pengembangan adalah sebagai berikut:

1. Melihat perkembangan angka indek Williamson, perlu adanya strategi pembangunan yang lebih merata disemua wilayah agar ketimpangan antar wilayah tidak semakin besar. Juga dilakukan prioritas percepatan pembangunan ekonomi di kecamatan yang relatif tertinggal agar perkembangan ekonomi dapat mengejar kecamatan yang relatif maju. 2. Diperlukan adanya perubahan orientasi pembangunan dengan lebih

memperdayakan penduduk berpendapatan rendah dan usaha mikro, kecil dan menengah agar disparitas pendapatan penduduk tidak semakin besar.

3. Perlunya kebijakan pengendalian inflasi untuk menjaga daya beli masyarakat ataupun penurunan nilai mata uang.

4. Pengembangan usaha-usaha yang padat tenaga kerja, sehingga pertumbuhan ekonomi pada lapangan usaha tersebut akan berdampak pada penyerapan tenaga kerja yang lebih optimal.

5. Perlunya dibangun iklim investasi yang baik, agar bisa menurunkan angka ICOR ketingkat yang lebih wajar, sehingga ke depan kegiatan investasi akan semakin berkembang.

6. Pengembangan sektor basis perlu terus dikembangkan, agar sektor basis tersebut punya daya saing yang lebih baik.

Mendorong pemerintah untuk lebih memperhatikan ketersediaan bibit unggul, pupuk dan obat-obatan pertanian.

Optimalisasi peranan kelompok tani dalam pengelolaan lahan pertanian, distribusi bibit unggul, pupuk dan obat-obatan.

Melakukan kemitraan usaha untuk meningkatkan ketrampilan dan keuntungan yang diperoleh petani.

Optimalisasi harga-harga produk pertanian melalui mata rantai pemasaran yang efektif dan adil.

Optimalisasi pembinaan dinas terkait dalam penggunaan tehnologi pertanian.

Perlu adanya regulasi yang jelas terutama pada harga-harga produk pertanian.

Pemakaian bibit unggul yang lebih tahan terhadap pengaruh iklim dan serangan OPT.

Ketersediaan pupuk dan obat-obatan dengan harga yang terjangkau.

Monitoring kondisi iklim/cuaca dan penyesuaian pola tanam sesuai kondisi iklim/cuaca.

Peningkatan ketrampilan petani dan penerapan teknologi pertanian agar produk pertanian dalam negeri bisa bersaing dengan produk impor.

Pemberian bantuan kredit berbunga rendah terutama dalam pembelian bibit, pupuk dan obat-obatan.

Implementasi kebijakan pemerintah untuk ketersediaan air dan sarana irigasi, waduk, sumur serta embung untuk mengatasi kekurangan air.

Peningkatan pembinaan/penyuluhan dinas terkait dalam pengelolaan lahan dan mengatasi OPT.

Pemenuhan kebutuhan modal usaha tani melalui kerja sama dalam kelompok tani.

Pengembangan kerjasama pemasaran hasil pertanian dengan mitra usaha.

Mengurangi susut hasil pertanian melalui penerapan teknologi pasca panen yang lebih baik

Peningkatan kinerja aparat pertanian untuk kesejahteraan petani berkaitan dengan ketersediaan modal, serangan OPT dan pengembangan tehnologi pasca panen.

Menumbuhkan minat generasi muda untuk terjun di sektor pertanian.

Mengurangi sistem tebasan tengkulak melalui pengembangan managemen usaha pertanian.

8. Alternatif strategi pengembangan lapangan usaha

pertambangan/penggalian adalah:

Mengoptimalkan keuntungan perusahaan dengan memanfaatkan kemudahan pemasaran dan besarnya permintaan konsumen.

Peningkatan produksi barang tambang dan galian melalui penyerapan tenaga kerja.

Peningkatan kerjasama kemitraan dalam kegiatan eksplorasi sumber bahan tambang/galian.

Peningkatan kerjasama kemitraan dalam penyediaan peralatan produksi dan pemasaran hasil.

Peningkatan dukungan pemerintah dalam perijinan pengelolaan sumber bahan tambang/galian dan keselamatan tenaga kerja.

Perbaikan managemen perusahaan untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan.

Perbaikan infrastruktur terutama infrastruktur jalan untuk memperluas area penambangan.

Peningkatan dukungan pemerintah untuk kemudahan akses modal dan perbaikan infrastruktur jalan.

Mengurangi dampak penolakan masyarakat sekitar perusahaan dengan mengoptimalkan tenaga kerja lokal.

Peningkatan monitoring dan evaluasi terkait ketrampilan tenaga kerja dan kualitas hasil produksi.

Optimalisasi kemitraan usaha untuk mengatasi permasalahn modal dan teknologi.

Peningkatan produksi bahan tambang/galian melalui penerapan teknologi modern.

Peningkatan penyerapan tehnologi pertambangan melalui

pembinaan/penyuluhan dari dinas terkait.

Peningkatan atau perbaikan akses ke lokasi

pertambangan/penggalian.

Mengurangi dampak kerusakan lingkungan melalui teknologi yang ramah lingkungan.

Perlunya peraturan dan kebijakan pemerintah mengenai tata kelola penambangan yang berwawasan lingkungan dan jangka panjang.

Peningkatan penyuluhan/bimbingan agar proses pertambangan/ penggalian ramah lingkungan sehingga tidak menganggu masyarakat sekitar.

9. Alternatif strategi pengembangan lapangan usaha industri pengolahan adalah:

Memanfaatkan peluang pasar melalui pengembangan industri berbahan baku lokal.

Optimalisasi penyuluhan/pembinaan dari dinas terkait untuk meningkatkan ketrampilan tenaga kerja.

Peningkatan kemitraan usaha untuk meningkatkan keuntungan perusahaan dan penerapan teknologi baru.

Penggunaan teknologi modern untuk penciptaan produk-produk baru yang inovatif untuk memenuhi tuntutan konsumen.

Pemanfaatan bahan baku lokal untuk bisa bersaing dengan produk dari luar.

Peran dan dukungan masyarakat sekitar industri untuk mengurangi dampak kerusakan dari kerusakan lingkungan.

Pemanfaatan teknologi yang ramah lingkungan.

Meningkatkan ketrampilan tenaga kerja untuk menghadapi pasar bebas/ usaha sejenis dari luar.

Peningkatan riset dan pengembangan produk industri untuk menangkap peluang pasar.

Optimalisasi peran dinas terkait untuk meningkatkan daya kreasi dan inovasi.

Meningkatkan peran dinas/instansi terkait untuk pembinaan tenaga kerja.

Peningkatan kemitraan usaha untuk perbaikan managemen perusahaan.

Peningkatan kreasi dan inovasi produk untuk menangkap peluang pasar.

Meningkatkan riset/penelitian untuk menghadapi persaingan usaha sejenis/pasar bebas.

Meningkatkan kreasi dan inovasi untuk menghadapi produk impor.

Perbaikan managemen perusahaan untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan.

10. Alternatif strategi pengembangan wilayah kecamatan adalah:

Peningkatan kerjasama aparatur pemerintah daerah dengan masyarakat dalam memajukan derajat kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan penduduk.

Pemberdayaan ekonomi UMKM melalui peningkatan ketrampilan.

Melakukan tata niaga komoditas ungulan untuk menjamin kepastian harga dan pemasaran hasil produksi.

Peningkatan disiplin aparatur kecamatan dan desa agar tercipta sistem pemerintahan yang baik dan efisien.

Pengembangan hasil komoditi sumber daya lokal melalui peningkatan ketrampilan masyarakat.

Peningkatan peran aktif masyarakat agar implementasi program pembangunan ekonomi lebih maksimal dan penggalian potensi daerah lebih berdaya guna.

Meningkatkan sistem informasi pasar untuk pengembangan komoditas sumber daya lokal.

Peningkatan prioritas pada kepentingan masyarakat dan pemberdayaan UMKM melalui penyuluhan/pembinaan masyarakat

agar tercipta pola pikir dan budaya kerja masyarakat yang lebih maju dan terbuka.

Peningkatan pembangunan infrastruktur jalan dan transportasi serta memperbaiki sistem informasi pasar sehingga biaya produksi lebih rendah dan keuntungan yang diperoleh lebih besar.

Meningkatkan pendidikan, ekonomi dan kualitas kesehatan masyarakat melalui kebijakan pemerintah.

Intensifikasi dan ekstensifikasi sumber PAD sebagai sumber pembiayaan pembangunan.

Peningkatan keuletan masyarakat dalam kegiatan ekonomi melalui peningkatan kualitas kesehatan masyarakat dan peningkatan peran aparatur pemerintah.

Peningkatan ketrampilan masyarakat untuk menutupi tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendah.

Upaya mengubah pola pikir dan budaya kerja masyarakat agar lebih maju dan terbuka sehingga tidak mudah terprovokasi yang memicu konflik.

Meningkatkan peran aparatur pemerintahan untuk mengubah pola pikir dan budaya kerja masyarakat agar lebih maju dan terbuka melalui sosialisasi dan pelatihan.

Peningkatan riset dan pengembangan/penelitian dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat dalam rangka penggalian potensi SDA dan optimalisasi pengembangan komoditi unggulan.

Dokumen terkait