BAB VI. Penutup, yang akan berisikan kesimpulan dan implikasi
ANALISIS INDIKATOR EKONOMI
5.1. Analisis Sektoral dan Regional
5.1.6. Location Quotient (LQ)
Analisis Location Quotient (LQ) digunakan untuk mengidentifikasi keunggulan komparatif kegiatan ekonomi di Kabupaten Blora dengan membandingkannya pada tingkat provinsi dan di tiap kecamatan dengan membandingkannya dengan tingkat Kabupaten Blora. Teori Location Quotion digunakan untuk menganalisis keragaman basis ekonomi. Dari analisis tersebut dapat diidentifikasi sektor-sektor apa saja yang dapat dikembangkan untuk tujuan sektor dan tujuan memenuhi kebutuhan lokal, sehingga sektor yang dikatakan potensial dapat dijadikan sektor prioritas utama dalam perencanaan pembangunan ekonomi.
Berdasarkan analisis LQ pada Tabel 5.7, di Kabupaten Blora terdapat dua lapangan usaha yang memiliki keunggulan komparatif (nilai LQ lebih dari satu), yaitu: lapangan usaha pertanian dan lapangan usaha pertambangan penggalian. Ini menunjukkan untuk lapangan usaha tersebut Kabupaten Blora telah mampu memenuhi sendiri kebutuhannya
dan dimungkinkan untuk mengekspor keluar daerah output dari lapangan usaha tersebut.
Tabel 5.7 Nilai LQ Kabupaten Blora Dirinci Menurut Lapangan Usaha Tahun 2010-2014
Sektor 2010 2011 2012 2013 2014
01. Pertanian 1,93 1,90 1,88 1,88 1,84
02. Pertamb dan Pengga 6,49 7,06 7,13 7,20 7,17
03. Industri Pengolahan 0,28 0,28 0,28 0,29 0,31
04. Pengadn Listrik, Gas 0,72 0,76 0,76 0,76 0,77
05. Pengadaan Air 0,63 0,66 0,66 0,67 0,69
06. Konstruksi 0,40 0,40 0,41 0,41 0,42
07. Perdagangan 1,20 1,20 1,22 1,23 1,27
08. Transp dan Pergud 0,94 0,92 0,93 0,94 0,96
09. Penye Akom Mak Min 1,19 1,19 1,20 1,19 1,21
10. Informasi dan Kom 0,35 0,36 0,37 0,38 0,38
11. Jasa Keuangan 1,12 1,14 1,15 1,15 1,19
12. Real Estate 0,83 0,84 0,85 0,85 0,87
13. Jasa Perusahaan 0,88 0,89 0,89 0,90 0,93
14. Adm Pemerintahan, 1,33 1,33 1,33 1,33 1,36
15. Jasa Pendidikan 1,52 1,57 1,61 1,61 1,66
16. Jasa Kes Keg Sosial 1,19 1,20 1,20 1,20 1,22
17. Jasa Lainnya 1,47 1,49 1,48 1,49 1,53
Sumber: BPS Kabupaten Blora
Lapangan usaha pertambangan penggalian merupakan lapangan usaha dengan nilai LQ tertinggi dengan nilai yang berfluktuasi dari tahun ke tahun.Pada tahun 2010 nilai LQ lapangan usaha pertambangan pengglian mencapai 6,49 dan nilainya naik menjadi 7,06 pada tahun 2011
dan naik lagi menjadi 7,17 di tahun 2014. Hal ini menunjukkan bahwa lapangan usaha pertambangan penggalian masih merupakan sektor yang unggul/dominan di Kabupaten Blora. Selain itu, sektor ini diindikasikan telah mampu mencukupi kebutuhan dalam wilayah ini dan mempunyai kelebihan untuk dijadikan komoditi ekspor.
Berikutnya adalah lapangan usaha pertanian memiliki nilai LQ yang tinggi pula dengan pola yang cenderung terus menurun, dari 1,93 pada tahun 2010 menjadi 1,84 pada tahun 2014. Hal ini menunjukkan bahwa sektor pertanian masih merupakan sektor yang unggul/dominan di Kabupaten Blora, yang dapat memenuhi kebutuhan untuk wilayah Kabupaten Blora sendri dan mempunyai kelebihan untuk dijadikan komoditi ekspor.
Sementara itu lapangan usaha perdagangan, penyediaan akomodasi makan minum, jasa keuangan, administrasi pemerintahan, jasa pendidikan, jasa kesehatan dan kegiatan sosial dan jasa lainnya memiliki nilai LQ lebih besar dari 1, artinya lapangan usaha-lapangan usaha tersebut merupakan sektor basis, atau bisa dikatakan output dari lapangan usaha tersebut tercukupi dari daerah blora sendiri tetapi lapanga usaha-lapangan usaha tersebut bukan kegiatan produktif yang menghasilkan barang dan jasa, sehingga output lapangan usaha tersebut tidak bisa digunakan sebagai komoditas ekspor.
Dalam Tabel 5.7 di atas juga terlihat bahwa lapangan usaha industri pengolahan memiliki nilai LQ terendah, hal ini menunjukkan bahwa lapangan usaha ini belum bisa bersaing terutama di wilayah jawa tengah. Selain itu, hal ini menunjukkan bahwa industrialisasi di kawasan Kabupaten Blora belum berkembang. Seperti diketahui, bahwa sebagian besar industri di luar Kabupaten Blora banyak berdomisili di Kabupaten Kudus, Pati, Jepara dan Sragen, sedangkan industri yang terletak di
kawasan Kabupaten Blora sangat sedikit. Nilai LQ sektor industri paling kecil dan tidak mengalami perubahan selama lima tahun terakhir, sehingga perlu upaya kebijakan yang progresif yang mampu mendorong perkembangan sektor industri.
Tabel 5.8 Nilai LQ Menurut Kecamatan Tahun 2014 Kecamatan Sektor 01 02 03 04 05 06 07 08 09 Jati 1,96 0,12 0,53 1,23 0,31 2,11 0,65 0,39 0,66 Randublatung 1,82 0,06 0,70 0,91 1,96 1,26 0,83 1,36 0,84 Kradenan 2,04 0,45 0,55 1,18 2,07 1,51 0,61 0,22 0,58 Kedungtuban 2,17 0,13 0,56 1,71 1,68 1,42 0,56 1,18 0,54 Cepu 0,17 3,27 0,67 0,73 1,13 0,37 1,16 0,89 1,15 Sambong 1,80 0,19 0,84 2,67 0,60 1,47 0,63 0,80 0,63 Jiken 1,60 0,16 0,75 2,38 0,27 1,87 0,70 0,70 0,74 Bogorejo 1,48 0,25 0,85 3,48 0,41 1,79 1,07 0,42 1,14 Jepon 1,23 0,19 1,48 0,59 0,65 1,28 0,97 0,91 0,95 Blora 0,40 0,02 1,03 0,89 1,08 0,76 1,29 1,92 1,29 Banjarejo 1,52 0,15 0,74 1,34 0,15 1,89 0,93 0,65 0,98 Tunjungan 1,09 0,14 2,21 0,82 0,09 0,93 0,61 0,26 0,62 Japah 1,99 0,29 0,87 1,28 0,14 1,56 0,52 0,45 0,54 Ngawen 1,06 0,11 1,65 0,65 0,66 1,04 1,54 0,99 1,49 Kunduran 1,70 0,06 1,88 0,76 1,11 1,21 0,66 0,59 0,67 Tondanan 1,86 0,14 0,79 1,38 0,94 1,79 0,64 0,55 0,68
01. Pertanian
02. Pertambangan dan Penggalian 03. Industri Pengolahan 04. Pengadaan Listrik, Gas 05. Pengadaan Air 06. Konstruksi 07. Perdagangan
08. Transportasi dan Pergudangan
09. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum
10. Informasi dan Komunikasi 11. Jasa Keuangan
12. Real Estate 13. Jasa Perusahaan
14. Adm Pemerintahan, Pertahanan dan Jam Sos Wjb 15. Jasa Pendidikan
16. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 17. Jasa Lainnya Lanjutan (tabel 5.8) Kecamatan Sektor 10 11 12 13 14 15 16 17 Jati 0,90 1,10 1,15 1,33 0,96 0,67 0,73 1,13 Randublatung 1,16 1,17 1,20 1,37 0,81 0,57 0,62 0,95 Kradenan 0,75 0,98 1,10 1,55 0,75 0,53 0,57 0,87 Kedungtuban 0,76 0,98 1,03 1,18 0,73 0,52 0,55 0,87 Cepu 0,82 0,65 0,59 0,35 0,29 0,66 0,90 0,25 Sambong 1,00 0,89 0,98 1,36 1,12 0,79 0,88 1,32 Jiken 1,04 1,31 1,36 1,54 1,25 0,89 0,97 1,50 Bogorejo 0,85 1,00 1,07 1,36 0,85 0,59 0,64 0,99 Jepon 0,88 1,17 1,20 1,39 0,75 1,23 0,58 0,90 Blora 1,81 1,34 1,28 1,13 2,87 2,05 2,47 2,50 Banjarejo 1,12 1,43 1,45 1,43 0,99 0,70 0,76 1,18 Tunjungan 0,59 0,77 0,80 0,90 0,52 3,17 0,40 0,63 Japah 0,76 1,02 1,08 1,24 0,82 0,58 0,63 0,96 Ngawen 0,74 0,84 0,85 0,98 0,60 0,42 0,46 0,70 Kunduran 0,57 1,07 1,10 1,24 0,66 0,46 0,49 0,75 Tondanan 0,85 1,50 1,63 1,84 0,82 0,57 0,62 0,95
Sumber: BPS Kabupaten Blora Keterangan:
Untuk analisis sektor basis di tingkat kecamatan, kita membatasi hanya di sektor-sektor pertanian, pertambangan/penggalian dan industri pengolahan. Karena sektor-sektor tersebut merupakan sektor-sektor yang bisa menghasilkan output berupa barang yang bisa digunakan sendiri oleh wilayah itu ataupun digunakan sebagai barang ekspor ke luar wilayah kecamatan.
Dari tabel 5.8, diketahui bahwa lapangan usaha pertanian menjadi lapangan usaha unggulan di 14 kecamatan, selain Kecamatan Cepu dan Blora, dengan nilai LQ lebih besar dari satu, artinya kecamatan tersebut punya kemampuan untuk mencukupi kebutuhan output pertanian sendiri dan kelebihan output dapat diekspor keluar kecamatan.
Untuk lapangan usaha pertambangan dan penggalian, sektor basis hanya ada di Kecamatan Cepu yang memiliki LQ sebesar 3,27, dengan nilai yang cukup besar tersebut tentunya sektor ini sangat unggul di kecamatan tersebut, sehingga output dari sektor pertambangan dan penggalian bisa diekpor ke luar wilayah cepu.
Industri pengolahan selama ini belum memberikan nilai tambah yang cukup besar dalam pembentukan PDRB baik PDRB Kabupaten maupun PDRB Kecamatan. Industri di Kabupaten Blora didominasi oleh industri kecil dan rumah tangga, dengan industri makanan mempunyai proporsi terbesar diikuti industri pengolahan tembakau dan industri barang dari kayu. Kalau dilihat dari nilai LQ, kecamatan-kecamatan yang mempunyai sektor basis di sektor industri pengolahan ini antara lain kecamatan: Jepon, Blora, Ngawen dan Kunduran. Seperti juga di sektor pertanian, nilai LQ untuk masing-masing kecamatan juga berkisar di angka satu, artinya apabila output sektor tersebut akan dijadikan barang ekspor, tentunya nilainya relatif kecil.