• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI. Penutup, yang akan berisikan kesimpulan dan implikasi

ANALISIS INDIKATOR EKONOMI

5.1. Analisis Sektoral dan Regional

5.1.7. Shift Share

Analisis shift share adalah salah satu teknik kuantitatif yang biasa digunakan untuk menganalisis perubahan struktur ekonomi daerah relatif terhadap struktur ekonomi wilayah administratif yang lebih tinggi sebagai pembanding atau referensi. Untuk tujuan tersebut, analisis ini menggunakan 3 informasi dasar yang berhubungan satu sama lain yaitu pertama, pertumbuhan ekonomi referensi propinsi atau nasional (national growth effect -Nij), yang menunjukkan bagaimana pengaruh pertumbuhan ekonomi propinsi/nasional terhadap perekonomian daerah. Kedua, pergeseran proporsional (proporsional shift -Pij) yang menunjukkan perubahan relatif kinerja suatu sektor di daerah tertentu terhadap sektor yang sama di referensi propinsi atau nasional. Pergeseran proporsional (proportional shift) disebut juga pengaruh bauran industri (industry mix). Pengukuran ini memungkinkan kita untuk mengetahui apakah perekonomian daerah terkonsentrasi pada indutri-industri yang tumbuh lebih cepat ketimbang perekonomian yang dijadikan referensi. Ketiga, pergeseran diferensial (differential shift - Dij) yang memberikan informasi dalam menentukan seberapa jauh daya saing industri daerah (lokal) dengan perekonomian yang dijadikan referensi. Jika pergeseran diferensial dari suatu industri adalah posisitf, maka industri tersebut relatif lebih tinggi daya saingnya dibandingkan industri yang sama pada perekonomian yang dijadikan referensi. Pergeseran diferensial disebut juga pengaruh keunggulan kompetitif.

Tabel 5.9 Nilai Shift Share Kabupaten Blora Dirinci Menurut Lapangan Usaha Tahun 2010-2014 (Juta Rp)

Keterangan:

G = Pertambahan PDRB

N = Efek pertumbuhan ekonomi regional P = Struktur pertumbuhan sektor dan subsektor D = Pengaruh keuntungan kompetitif wilayah PB= Pergeseran bersih

Secara agregat, dari tahun 2010 hingga tahun 2014 terjadi pertambahan PDRB (output ekonomi) sebesar 2.078,12 milyar rupiah. Dari jumlah tersebut, sebagian besar (2.3929,49 milyar rupiah) pertambahan output terdorong oleh adanya pertumbuhan ekonomi ditingkat provinsi/nasional. Adanya kebijakan nasional/provinsi, arus perdagangan LAPANGAN USAHA Nij = Yij. Rn Pij = Yij (rin - rn) Dij = Yij (rij - rin) PBij = Pij + Dij Gij = Nij + Pij + Dij

1 2 3 4 5 6

01. Pertanian 719.290,66 (516.074,90) (221.058,81) (737.133,70) (17.843,04)

02. Pertambangan dan Penggalian 323.823,25 (91.660,51) 136.371,04 44.710,53 368.533,78

03. Industri Pengolahan 224.816,56 47.484,52 89.706,31 137.190,83 362.007,39

04. Pengadaan Listrik, Gas 1.721,55 639,87 389,41 1.029,28 2.750,82

05. Pengadaan Air 1.279,59 (1.025,66) 415,80 (609,86) 669,73

06. Konstruksi 95.866,37 (16.391,30) 21.576,47 5.185,18 101.051,54

07. Perdagangan 412.277,48 (46.321,15) 71.541,19 25.220,04 437.497,52

08. Transportasi dan Pergudangan 65.525,30 28.763,94 1.597,20 30.361,15 95.886,44

09. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 83.806,65 7.475,40 (2.485,15) 4.990,24 88.796,90

10. Informasi dan Komunikasi 27.623,66 26.135,79 8.587,23 34.723,02 62.346,68

11. Jasa Keuangan 72.000,61 (17.878,68) 15.202,81 (2.675,87) 69.324,74

12. Real Estate 33.093,84 8.886,40 5.187,40 14.073,81 47.167,65

13. Jasa Perusahaan 5.833,00 4.883,82 1.557,85 6.441,68 12.274,68

14. Adm Pemerintahan, Pertahanan dan Jam Sos Wjb 97.907,88 (69.619,15) 1.864,46 (67.754,69) 30.153,19

15. Jasa Pendidikan 93.004,94 182.401,91 48.641,97 231.043,88 324.048,82

16. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 18.201,41 16.866,89 722,55 17.589,45 35.790,85

17. Jasa Lainnya 53.419,49 (904,30) 5.148,77 4.244,47 57.663,96

antar daerah dan arus informasi/komunikasi menyebabkan perekonomian Kabupaten Blora ikut terpengaruh oleh perkembangan perekonomian provinsi/nasional. Kabupaten Blora yang merupakan small open economy dalam perekonomian Jawa Tengah dan Indonesia sangat mudah terpengaruh oleh perkembangan ekonomi provinsi/nasional. Hampir semua lapangan usaha bernilai positif, hal ini menunjukkan bahwa perkembangan PDRB wilayah referensi mempengaruhi perkembangan semua lapangan usaha di Kabupaten Blora.

Sementara pengaruh daya saing atau keuntungan kompetitif wilayah Kabupaten Blora terhadap perekonomian Provinsi Jawa Tengah tercatat positif 184,97 milyar rupiah. Nilai ini menunjukkan bahwa Kabupaten Blora sedikit banyak punya daya saing terutama terhadap wilayah referensi atau mempunyai kemandirian. Sebagian besar lapangan usaha mempunyai nilai positif, kecuali lapangan usaha pertanian dan penyediaan akomodasi makan minum. Kondisi ini secara umum menggambarkan untuk lapangan usaha pertanian dan penyediaan akomodasi makan minum kurang bisa bersaing dibandingkan dengan wilayah referensi yaitu jawa tengah atau mengalami penurunan kompetitif.

Sementara itu pengaruh dari efek bauran industri/sektoral (industrial mix growth) menunjukkan nilai negatif, yakni sebesar minus 436,34 milyar rupiah. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan PDRB Kabupaten Blora relatif lebih rendah dari laju pertumbuhan wilayah referensi yaitu Propinsi Jawa Tengah. Sementara untuk lapangan usaha, ada beberapa lapangan usaha yang memiliki dampak bauran industri yang positif dalam perekonomian Kabupaten Blora yaitu: industri pengolahan, pengadaan listrik gas, transportasi dan pergudangan, penyediaan akomodasi makan minum, informasi dan komunikasi, real estate, jasa perusahaan, jasa

pendidikan dan jasa kesehatan dan kegiatan sosial dan selebihnya bernilai negatif.

Dalam analisis shift share ini, kita harus hati-hati dan cermat untuk melakukan analisis terhadap setiap komponen variabel yang ada (baik varibel pertumbuhan ekonomi, kompetitif, maupun bauran industri (proportional shift) untuk setiap lapangan usaha dalam kegiatan ekonomi. Hal ini dikarenakan, dari hasil pengamatan dan pengaplikasian alat analisis ini, menunjukkan bahwa apabila analisis pada level lapangan usaha (sektor ekonomi) hasil yang diperoleh tidak seratus persen menggambarkan kinerja sub lapangan usaha yang ada dalam kegiatan ekonomi tersebut. Misalnya, untuk analisis sektor ekonomi tertentu yang kompetitif ataupun mengalami penurunan competitiveness tidak secara otomatis semua sub lapangan usaha yang ada dalam lapangan usaha ekonomi tersebut mengalami hal yang serupa. Selanjutnya juga harus dilihat komoditi apa yang akan dikembangkan.

Pergeseran bersih (PB) diperoleh dari hasil penjumlahan antara proporsional shift dan different shift di setiap sektor perekonomian. Apabila PB>0, maka pertumbuhan sektor termasuk dalam kelompok yang progresif (maju). Sedangkan PB<0 artinya sektor perekonomian termasuk kelompok yang lamban.

Berdasarkan Tabel 5.9 di atas, secara agregat pergeseran bersih (PB) di Kabupaten Blora menghasilkan nilai negatif, yang berarti komponen struktur ekonomi provinsi/nasional dan komponen daya saing justru berdampak negatif terhadap pertambahan PDRB periode 2010-2014 di Kabupaten Blora sebesar minus 251,37 milyar rupiah. Hal ini juga menunjukkan bahwa secara umum, Kabupaten Blora termasuk ke dalam kelompok kabupaten yang perkembangan ekonominya lamban.

Ditingkat sektoral, hampir semua lapangan usaha memiliki nilai PB>0 kecuali empat lapangan usaha yang memiliki PB<0 yaitu lapangan usaha pertanian, pengadaan air, jasa keuangan dan administrasi pemerintahan. Pada lapangan usaha pertanian pergeseran bersihnya 737,12 milyar rupiah, kondisi inilah yang menyebabkan total pergeseran bersih bernilai negatif walaupun hampir semua lapangan usaha memberikan nilai positif.

Dengan melihat besaran Pij dan Dij, maka suatu daerah/sektor dapat dikategorikan menjadi empat kelompok/kuadran. Dengan menggunakan alat analisis Shift Share, dapat dilihat dari pendekatan Pij

dan Dij sekaligus, pada periode 2010-2014 secara agregat posisi perekonomian (PDRB) Kabupaten Blora terletak pada Kuadran IV (Pij

negatif dan Dij positif). Ini berarti bahwa ekonomi Kabupaten Blora mengalami pertumbuhan yang lamban (slow growing) tetapi secara umum memiliki daya saing.

Pada tingkat lapangan usaha, yang menempati kuadran I (Pij dan Dij

positif), yaitu lapangan usaha industri pengolahan, pengadaan listrik, transportasi pergudangan, informasi dan komunikasi, real estate, jasa perusahaan, jasa pendidikan dan jasa kesehatan. Lapangan usaha ini memiliki pertumbuhan yang relatif lebih baik daripada pertumbuhan wilayah acuan dan mempunyai kemandirian, walaupun belum bisa dibilang mempunyai daya saing ekonomi.

Pada kuadran II (Pij positif dan Dij negatif) ditempati oleh satu lapangan usaha yaitu lapangan usaha penyediaan akomodasi makan minum. Ini memberikan pengertian bahwa lapangan usaha ini memiliki laju pertumbuhan yang cepat, tetapi lapangan usaha tersebut belum mampu bersaing dengan lapangan usaha dari wilayah lain (daya saingnya rendah).

Sementara itu, di kuadran III (Pij negatif dan Dij negatif) ditempati oleh lapangan usaha pertanian. Lapangan usaha ini mempunyai kecenderungan sebagai lapangan usaha yang tertekan sehingga laju pertumbuhannya lambat dan daya saingnya cenderung rendah dibandingkan dengan wilayah acuan. Dan dikuadran IV (Pij negatif dan Dij Positif) ditempati PDRB Kab Blora, lapangan usaha pertambangan penggalian, pengadaan air, konstruksi, perdagangan besar dan eceran, jasa keuangan, administrasi pemerintah dan jasa lainnya. DI kuadran IV ini pertumbuhan PDRB dan lapangan usaha cenderung rendah tetapi punya daya saing atau kemandirian.

Gambar 5.1 Proportional Shift dan Difference Shift Sektor Ekonomi Kabupaten Blora Tahun 2010-2014 (milyar Rp)

01. Pertanian

02. Pertambangan dan Penggalian 03. Industri Pengolahan 04. Pengadaan Listrik, Gas 05. Pengadaan Air 06. Konstruksi 07. Perdagangan

08. Transportasi dan Pergudangan

09. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum

10. Informasi dan Komunikasi 11. Jasa Keuangan

12. Real Estate 13. Jasa Perusahaan

14. Adm Pemerintahan, Pertahanan dan Jam Sos Wjb 15. Jasa Pendidikan

16. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 17. Jasa Lainnya

Keterangan:

Tabel 5.10 Identifikasi Keunggulan Kompetitif dan Spesialisasi Lapangan Usaha di Kabupaten

Blora Tahun 2010-2014

Sektor

r

ij

– r

in Yij –Y*ij Keunggulan

Kompetitif Spesialisasi

01. Pertanian -0,07 1.424.063 Tidak Ada

02. Pertamb dan Pengg 0,10 1.531.350 Ada Ada

03. Industri Pengolahan 0,09 (3.046.166) Ada Tidak

04. Pengadn Listrik, Gas 0,05 (3.100) Ada Tidak

05. Pengadaan Air 0,07 (2.818) Ada Tidak

06. Konstruksi 0,05 (704.873) Ada Tidak

07. Perdagangan 0,04 472.758 Ada Ada

08. Transp dan Pergud 0,01 (14.396) Ada Tidak

09. Penye Akom Mak Min -0,01 79.489 Tidak Ada

10. Informasi dan Kom 0,07 (298.082) Ada Tidak

11. Jasa Keuangan 0,05 60.564 Ada Ada

12. Real Estate 0,04 (28.484) Ada Tidak

13. Jasa Perusahaan 0,06 (2.756) Ada Tidak

14. Adm Pemerintahan, 0,00 120.417 Ada Ada

15. Jasa Pendidikan 0,12 290.979 Ada Ada

16. Jasa Kes Keg Sosial 0,01 20.826 Ada Ada

17. Jasa Lainnya 0,02 100.231 Ada Ada

Tabel 5.10 di atas memperlihatkan beberapa lapangan usaha di Kabupaten Blora memiliki keunggulan kompetitif dan spesialisasi yakni walaupun dengan nilai yang kecil, lapangan usaha itu antara lain pertambangan penggalian, perdagangan, jasa keuangan, administrasi pemerintahan, jasa pendidikan kesehatan dan jasa lainnya. Ini menjelaskan bahwa lapangan usaha-lapangan usaha tersebut pertumbuhan dan peranannya relatif lebih baik jika dibandingkan dengan pertumbuhan dan peranan lapangan usaha yang sama dalam perekonomian tingkat provinsi Jawa Tengah.

Sedangkan lapangan usaha pertanian dan penyediaan akomodasi makan minum kurang kompetitif artinya pertumbuhannya cenderung lambat dibandingkan wilayah jawa tengah tetapi cukup besar perananya dalam pembentukan fundamental ekonomi Kabupaten Blora. Sedangkan lapangan usaha lainnya tidak memiliki spesialisasi tetapi pertumbuhan selama lima tahun terakhir cenderung lebih tinggi dari wailayah acuan. Spesialisasi juga tercipta akibat potensi sumber daya alam yang besar seperti pertambangan migas di Blora maupun peran permintaan pasar yang besar terhadap output lokal.

Bila dirinci menurut kecamatan, nilai shift share PDRB harga konstan kecamatan periode tahun 2010 sampai 2014 menunjukkan beberapa kecamatan memiliki nilai pergeseran bersih positif yang berarti pertumbuhan kecamatan tersebut termasuk dalam kelompok yang progresif (maju). Kecamatan yang memiliki nilai PB positif ada 5 kecamatan, yaitu Kecamatan Cepu, Jepon, Blora, Tunjungan dan Ngawen. Sedangkan sisanya memiliki nilai PB negatif atau pertumbuhan ekonominya termasuk kelompok yang lamban.

Tabel 5.11 Nilai Shift Share Menurut Kecamatan Tahun 2010-2014 (Juta Rp) Kecamatan G N P D PB Jati 36.323 64.397 (25.090) (2.985) (28.074) Randublatung 111.844 150.862 (50.058) 11.040 (39.018) Kradenan 25.729 63.145 (27.959) (9.457) (37.416) Kedungtuban 59.231 104.390 (48.332) 3.172 (45.160) Cepu 722.244 552.773 168.151 1.320 169.471 Sambong 14.836 39.898 (13.406) (11.656) (25.062) Jiken 24.913 46.018 (11.705) (9.401) (21.106) Bogorejo 22.780 35.842 (7.865) (5.197) (13.062) Jepon 117.733 106.517 (2.732) 13.947 11.216 Blora 466.840 336.805 101.505 28.531 130.036 Banjarejo 38.230 68.514 (16.495) (13.788) (30.284) Tunjungan 109.935 91.743 24.475 (6.283) 18.192 Japah 33.583 51.008 (18.932) 1.507 (17.426) Ngawen 167.862 143.112 (3.271) 28.021 24.750 Kunduran 89.147 141.972 (37.914) (14.912) (52.825) Tondanan 36.892 81.124 (30.374) (13.858) (44.232)

Sumber: BPS Kabupaten Blora

Bila dilihat besaran Pij dan Dij, maka masing-masing kecamatan dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok yaitu:

1. Di kuadran I (Pij positif dan Dij positif), terdapat 2 kecamatan yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang cepat dan memiliki daya saing yaitu Kecamatan Cepu dan Blora.

2. Di kuadran II (Pij positif dan Dij negatif), yaitu kecamatan yang sedang berkembang atau pertumbuhan ekonomi cepat tapi daya saingnya masih rendah, yaitu Kecamatan Tunjungan.

3. Di kuadran III (Pij negatif dan Dij negatif), terdapat 8 kecamatan yang memiliki pertumbuhan lambat dan daya saing rendah yaitu Kecamatan Jati, Kradenan, Sambong, Jiken, Bogorejo, Banjarejo, Kunduran dan Todanan.

4. Di kuadran IV (Pij negatif dan Dij positif), terdapat 5 kecamatan yang merupakan kecamatan potensi tetapi tertekan atau memiliki daya saing tinggi tetapi pertumbuhan ekonominya lamban yaitu Kecamatan Randublatung, Kedungtuban, Jepon, Japah dan Ngawen.

Dokumen terkait