BAB II TINJAUAN TEORITIS
METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data
3.2. Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisi kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif digunakan untuk mengidentifikasi tingkat disparitas dan sektor unggulan. Sedangkan analisis kualitatif digunakan untuk memperkuat dan melengkapi analisis kuantitatif.
Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Indeks Williamson
Indeks Williamson digunakan untuk mengetahui tingkat disparitas pendapatan antar wilayah. Indeks Williamson memiliki range antara 0 dan 1. Semakin besar nilai Indeks Williamson (semakin mendekati 1) berarti semakin besar disparitas antar sektor
dan antar wilayah. Sebaliknya semakin kecil nilai Indeks Williamson (semakin mendekati 0) maka semakin merata pendapatannya.
Indeks Wlliamson dihitung dengan rumusan sebagai berikut:
πΌπ€ =ββ(ππ β π)
2. ππ/π
π
Keterangan:
Iw = Indeks Williamson
Yi = PDRB perkapita menurut kecamatan Y = PDRB perkapita kabupaten
fi = Jumlah penduduk menurut kecamatan n = Jumlah penduduk kabupaten
b. Indeks Gini
Indeks Gini adalah suatu koefisien yang menunjukkan tingkat ketimpangan atau ketidakmerataan pendapatan penduduk. Rumus Indeks Gini adalah sebagai berikut :
πΊ = 1 β βπ
π(π
π+ π
πβ1)
10.000
π π=1 Dimana: G = Indeks Giniππ = Persentase rumah tangga pada kelas pendapatan ke-i ππ = Persentase kumulatif pendapatan sampai dengan kelas ke-i ππβ1 = Persentase kumulatif pendapatan sebelum kelas ke-i π = Banyaknya kelas pendapatan
Nilai Indeks Gini ada diantara 0 dan 1. Jika nilai Indeks Gini adalah nol artinya terjadi kemerataan sempurna pada distribusi pendapatan atau penduduk mempunyai pengeluaran yang sama, sedangkan jika bernilai satu berarti terjadi ketidakmerataan pendapatan yang sempurna. Semakin tinggi nilai Indeks Gini (semakin mendekati nilai 1) menunjukkan ketidakmerataan pendapatan yang semakin tinggi. Sebaliknya, semakin rendah nilai Indeks Gini (semakin mendekati nilai 0) menunjukkan ketidakmerataan pendapatan yang semakin rendah.
Oshima menetapkan sebuah kriteria yang digunakan untuk menentukan tingkat ketimpangan pendapatan tergolong rendah, sedang atau tinggi. Dengan kriteria sebagai berikut:
a. Ketimpangan taraf rendah, bila G < 0,35
b. Ketimpangan taraf sedang, bila G antara 0,35 - 0,5 c. Ketimpangan taraf tinggi, bila G > 0,5
c. Inflasi
Laju Inflasi merupakan persentase perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK). Sedangkan Indeks Harga Konsumen (IHK) adalah angka yang menggambarkan perbandingan harga konsumen yang terjadi pada dua periode waktu yang berbeda. Harga konsumen yang dimaksud adalah mencakup harga semua jenis barang/jasa yang dikonsumsi masyarakat secara umum, yang meliputi kelompok: bahan makanan; makanan jadi, minuman dan tembakau; kelompok perumahan; kelompok sandang; kelompok kesehatan; kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga; dan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan.
Rumus:
1. Diagram timbang:
NKβoi = (Pβoi / Poi) x Nkoi
NKβoi : nilai konsumsi dasar Kota Blora, komoditi i Nkoi : nilai konsumsi dasar Kota Semarang, komoditi i Pβoi : harga dasar Kota Blora, komoditi i
Poi : harga dasar Kota Semarang, komoditi i
2. IHK
Setelah diperoleh diagram timbang Kota Blora, kemudian dihitung IHK berdasarkan data harga konsumen yang dikumpulkan dengan menggunakan modifikasi formula Laspeyres sebagai berikut:
dimana :
IHKt : indeks bulan t
RHβti : relatif harga bulan t, komoditi i NKβ(t-1)i : nilai konsumsi bulan (t-1), kom. i NKβ0i : nilai konsumsi dasar, komoditi i t : bulan, dimana t = 1,2,3,β¦,12 k
οο ο ο RHβti x NKβ(t-1)i
i = 1IHKt = --- x 100
k
οο οοβ0i
i =1
i : komoditi, dimana i = 1,2,3,β¦,333 Sedangkan inflasi adalah:
IHKt - IHKt-1
It = --- x 100
IHKt-1
dimana:
It : Inflasi pada bulan ke-t IHKt : IHK pada bulan ke-t IHKt-1 : IHK pada bulan ke- (t-1)
d. Incremental Labour Output Ratio (ILOR)
ILOR merupakan merupakan koefisien yang menghubungkan peningkatan jumlah tenaga kerja dan output atau produk yang dihasilkan suatu daerah. Dalam hal ini nilai output didekati dengan besarnya nilai PDRB yang dihasilkan. Nilai ILOR menunjukkan besarnya tambahan tenaga kerja yang dipergunakan untuk menaikkan satu unit output baik secara fisik maupun nilai yang dihasilkan. Rumus ILOR adalah:
πΌπΏππ = βπΏπ
βππ
Dimana:
ILOR = Nilai Incremental Labour Output Ratio (ILOR) βLi = Perubahan tenaga kerja sektor i Kabupaten Blora βYi = Perubahan PDRB sektor i Kabupaten Blora
Semakin besar nilai ILOR menunjukkan semakin besar tenaga kerja yang dibutuhkan (diserap) untuk meningkatkan output yang dihasilkan suatu sektor. ILOR bernilai positif (+) dapat berarti penambahan/ pertumbuhan PDRB mampu memberikan tambahan tenaga kerja baru. Bila ILOR bernilai negatif (-) dapat berarti (a). peningkatan produktivitas tenaga kerja, karena jumlah tenaga kerja yang diserap semakin turun, sementara outputnya semakin meningkat, (b). penurunan produktivitas tenaga kerja, karena nilai tambah menurun sementara jumlah tenaga kerja terus meningkat.
Untuk melihat gambaran kedepan, ILOR dapat diinterpretasikan sebagai nilai yang menggambarkan banyaknya lapangan kerja baru yang bisa diciptakan untuk penambahan besaran PDRB, atau banyaknya nilai tambah baru yang bisa diciptakan oleh karena tambahan satu orang tenaga kerja baru.
e. Incremental Capital Output Ratio (ICOR)
Konsep ICOR pada awalnya dikembangkan oleh Harrod dan Domar yang kemudian dikenal sebagai model Harrod-Domar. Model ini pada dasarnya menunjukkan keterkaitan antara output (pendapatan wilayah) suatu perekonomian dengan besarnya stok kapital yang dibutuhkan. Stok kapital adalah kondisi stok dari kapital (barang-barang modal) yang tersedia pada suatu waktu tertentu. Hubungan tersebut digambarkan oleh Harrod-Domar oleh persamaan (1) berikut:
Dimana:
βK = tambahan stok kapital (capital stock)
βY = tambahan output atau pendapatan wilayah (PDRB) Persamaan (1) dapat diubah menjadi persamaan (2):
βK = (ICOR) βY β¦β¦β¦ (2)
Persamaan (2) menyatakan bahwa bila ingin meningkatkan pendapatan wilayah sebesar 1 unit, maka dibutuhkan tambahan stok kapital sebesar besaran ICOR. Stok kapital pada tahun ke-t pada dasarnya adalah akumulasi investasi (barang-barang modal) dari suatu tahun tertentu (tahun ke-(t-s)) dimana s = 1,2,3, β¦β¦ sampai dengan tahun ke-t. Atau dengan perkataan lain:
Kt = βIt-s β¦β¦β¦β¦.. (3)
Misalkan investasi dimulai pada tahun ke-t dan berlanjut sampai dengan tahun ke-(t+1), yaitu keadaan diasumsikan hanya terdiri dari dua tahun, maka stok kapital pada tahun ke-t dan tahun ke-(t+1) masing-masing ditunjukkan oleh persamaan (4) dan (5):
Kt = It β¦β¦β¦ (4)
dan
Kt+1 = It + It+1 β¦β¦β¦ (5)
Tambahan kapital stok pada tahun ke-(t+1) atau βKt+1 adalah:
Yang sama dengan:
βKt+1 = It+1 β¦β¦β¦. (7)
Dengan perkataan lain, tambahan stok kapital pada suatu tahun adalah sama dengan investasi yang dilakukan pada tahun tersebut. Dengan
demikian, persamaan (1) dapat diubah menjadi:
ICOR = I/βY β¦β¦β¦ (8)
dimana
I = besarnya investasi yang sama dengan βK
Atau,
I = (ICOR) βY β¦β¦β¦ (9)
Persamaan (9) menyatakan bahwa bila ingin meningkatkan pendapatan wilayah sebesar 1 unit, maka dibutuhkan investasi sebesar besaran ICOR.
f. Location Quotient (LQ)
Location quotient (LQ) digunakan untuk menentukan sektor basis dan non basis, dengan tujuan untuk melihat keunggulan komparatif suatu daerah dalam menentukan sektor andalannya. Sektor basis adalah sektor ekonomi yang mampu untuk memenuhi kebutuhan baik pasar domestik daerah itu sendiri maupun pasar luar. Artinya sektor ini dalam aktivitasnya mampu memenuhi kebutuhan daerah sendiri maupun daerah lain dan dapat dijadikan sektor unggulan. Sedangkan sektor non
basis merupakan sektor ekonomi yang hanya mampu memenuhi kebutuhan daerahnya sendiri.
Sektor basis menghasilkan barang dan jasa yang dapat dijual keluar daerah sehingga mampu meningkatkan pendapatan daerah tersebut dan secara berantai akan meningkatkan investasi baru dan menciptakan lapangan kerja. Selain itu, peningkatan pendapatan tersebut juga akan meningkatkan permintaan produk barang/jasa baik dari sektor basis maupun sektor non basis. Dengan dasar ini maka sektor basis perlu diprioritaskan untuk dikembangkan dalam rangka memacu pertumbuhan ekonomi daerah.
Jika koefisien LQ suatu sektor β₯ 1 berarti sektor tersebut mempunyai potensi atau termasuk sektor basis. Sektor tersebut memiliki spesialisasi dan terkonsentrasi di daerah tersebut. Jika koefisien LQ suatu sektor < 1 berarti sektor tersebut kurang mempunyai potensi atau bukan termasuk sektor basis. Sektor tersebut tidak berspesialisasi dan tidak terkonsentrasi di daerah tersebut. Jika koefisien LQ = 1 berarti tingkat spesialisasi sektor tersebut sama dengan daerah tingkat atasnya. Rumus LQ adalah:
πΏπ = ππ/ππ
ππ/ππ
Dimana:LQ = Indeks Location Quotient Yi = PDRB Sektor i Kabupaten Blora Si = Total PDRB Kabupaten Blora
Yn = PDRB Sektor i Provinsi Jawa Tengah Sn = Total PDRB Provinsi Jawa Tengah
Untuk menghitung LQ sektoral kecamatan dapat dilakukan dengan mensubtitusi angka PDRB Kabupaten Blora dengan angka PDRB kecamatan dan angka PDRB Provinsi Jawa Tengah dengan angka PDRB Kabupaten Blora.
g. Shift Share
Analisis Shift Share digunakan untuk mengetahui sektor-sektor yang memiliki keunggulan kompetitif dan spesialisasi di suatu daerah. Shift Share dirumuskan sebagai:
Gij = Nij + Pij + Dij Nij = Yij. rn Pij = Yij (rin - rn) Dij = Yij (rij - rin) rij = (Yijt - Yij)/Yij rin = (Yint - Yin)/Yin rn = (Ynt - Yn)/Yn PBij = Pij + Dij Dimana:
Gij : Perubahan PDRB sektor i di Kecamatan j Nij : Komponen Regional sektor i di Kecamatan j
Pij : Komponen Proportional Shift sektor i di Kecamatan j Dij : Komponen Differential Shift sektor i di Kecamatan j PBij : Komponen Net Shift sektor i di Kecamatan j Yij : PDRB sektor i tahun awal di Kecamatan j Yin : PDRB sektor i tahun awal di Kabupaten Blora Yn : PDRB total tahun awal di Kabupaten Blora
Yijt : PDRB sektor i tahun akhir di Kecamatan j Yint : PDRB sektor i tahun akhir di Kabupaten Blora Ynt : PDRB total tahun akhir di Kabupaten Blora
Untuk menghitung Shift Share Kabupaten Blora dapat dilakukan dengan mensubtitusi angka PDRB kecamatan dengan angka PDRB Kabupaten Blora dan angka PDRB Kabupaten Blora dengan angka PDRB Provinsi Jawa Tengah.
Peningkatan nilai tambah bruto (PDRB) suatu sektor di suatu wilayah (Gij) melalui analisis Shift Share dapat didekomposisi menjadi 3 komponen yaitu:
1. Regional Share (Nij) merupakan komponen pertumbuhan ekonomi daerah yang disebabkan oleh faktor luar. Peningkatan kegiatan ekonomi daerah akibat kebijaksanaan yang diambil pemerintah Provinsi yang berlaku pada seluruh daerah di provinsi tersebut. 2. Proportional Shift (Pij) merupakan komponen pertumbuhan ekonomi
daerah yang disebabkan oleh struktur ekonomi daerah yang baik, yaitu berspesialisasi pada sektor yang pertumbuhannya cepat. Selain itu komponen pertumbuhan proporsional tumbuh karena perbedaan sektor dalam permintaan produk akhir, perbedaan dalam ketersediaan bahan mentah, perbedaan dalam kebijakan ekonomi serta perbedaan dalam struktur dan keragaman pasar.
3. Differential Shift (Dij) merupakan komponen pertumbuhan ekonomi daerah karena kondisi spesifik daerah yang bersifat kompetitif. Unsur pertumbuhan ini merupakan keuntungan kompetitif daerah yang dapat mendorong pertumbuhan ekspor daerah.
Disamping itu, komponen Pergeseran bersih (PBij) yang merupakan penjumlahan Proportional Shift (Pij) dan Different Shift (Dij), dapat digunakan untuk mengindentifikasi pertumbuhan sektor ekonomi.
Dalam analisis pertumbuhan ekonomi regional komponen proportional shift (Pij) dan differential shift (Dij) lebih penting dibanding komponen regional share (Nij). Hal ini disebabkan karena komponen Dij
digunakan untuk melihat perubahan pertumbuhan dari suatu kegiatan di wilayah studi terhadap kegiatan tersebut di wilayah referensi. Dari perubahan tersebut akan dapat dilihat berapa besar pertambahan atau pengurangan pendapatan dari kegiatan tersebut. Sedangkan komponen Pij untuk melihat perubahan pertumbuhan suatu kegiatan di wilayah referensi terhadap kegiatan total (PDRB) di wilayah referensi. Klasifikasi wilayah/sektor berdasarkan Proportional Shift (Pij) dan Different Shift (Dij) dapat dikategorikan dalam 4 kategori yaitu:
1. Kategori I : Pij positif dan Dij positif merupakan sektor/wilayah dengan pertumbuhan sangat pesat.
2. Kategori II : Pij negatif dan Dij positif merupakan sektor/wilayah dengan kecepatan pertumbuhan terhambat namun berkembang. 3. Kategori III : Pij negatif dan Dij negatif merupakan sektor/wilayah
dengan daya saing lemah dan kontribusi rendah.
4. Kategori IV : Pij positif dan Dij negatif merupakan sektor/wilayah dengan kecepatan pertumbuhan terhambat namun cenderung berpotensi.
Selanjutnya untuk mengetahui tingkat spesialisasi perekonomian di suatu daerah juga dapat dilakukan dengan modifikasi analisis Shift Share Estaban Marguillas. Persamaan Shift Share menurut Estaban
Marguillas mengandung unsur baru yang diberi notasi Y*ij didefinisikan sebagai suatu variabel wilayah (Yij), bila struktur wilayah sama dengan struktur wilayah atasnya atau Yij = Y*ij maka Y*ij dirumuskan menjadi:
Y*ij = Yj (Yin/Yn)
Apabila Yij diganti dengan Y*ij maka persamaan Cij = Yij (rij β rin) dapat pula diganti menjadi :
C*ij = Y*ij (rij β rin)
Cij adalah untuk mengukur keunggulan atau ketidakunggulan kompetitif di sektor i pada perekonomian di suatu wilayah menurut analisis Shift Share klasik. Pengaruh efek alokasi (allocation effect) belum dijelaskan dari suatu variabel wilayah untuk sektor i di wilayah j (Aij), untuk mengetahui efek alokasi tersebut didekati dengan menggunakan rumus:
Aij = (Yij β Y*ij) (rij β rin)
dimana:
(YijβY*ij) : menggambarkan tingkat spesialisasi sektor i di suatu wilayah, jika rij > rin .
(rij β rin) : menggambarkan tingkat keunggulan kompetitif sektor i di suatu wilayah.
Dari uraian-uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Aij sebagai pengaruh alokasi dapat dilihat dalam dua bagian yaitu tingkat spesialisasi sektor i di wilayah j (Yij β Y*ij) yang dikalikan dengan keunggulan kompetitif (rij β rin). Persamaan tersebut dapat bermakna bahwa bila suatu wilayah mempunyai suatu spesialisasi di sektor-sektor tertentu, maka sektor-sektor tersebut pasti akan menikmati pula keunggulan kompetitif yang lebih baik. Kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dari efek alokasi akan dijelaskan pada tabel 3.3:
Tabel 3.1 Analisis Shift Share Esteban Marquilass No. rij β rin Yij β Y*ij Keunggulan Kompetitif Spesialisasi 1. > 0 > 0 Ya Ya 2. > 0 < 0 Ya Tidak 3. < 0 > 0 Tidak Ya 4. < 0 < 0 Tidak Tidak h. Analisis Overlay
Berdasarkan gabungan analisis LQ dan Shift Share dapat disusun analisis overlay untuk menentukan mendeskripsikan klasifikasi dan tipologi daerah.
1. Klasifikasi daerah berdasarkan sektor basis dan non basis dengan pertumbuhan cepat atau lambat, dengan menggabungkan LQ dengan Differential Shift (Dij) akan diperoleh:
Klasifikasi I : sektor basis (LQ β₯ 1 ) dan tumbuh cepat (Dij > 0) Klasifikasi II : sektor basis (LQ β₯ 1 ) dan tumbuh lambat (Dij < 0) Klasifikasi III : bukan sektor basis (LQ < 1 ) dan tumbuh cepat (Dij > 0) Klasifikasi IV : bukan sektor basis (LQ < 1 ) dan tumbuh lambat (Dij < 0)
2. Tipologi daerah berdasarkan PDRB perkapita dengan Net Shift (PBij) akan diperoleh:
Klas I : PDRB perkapita tinggi dan Net Shift tinggi (PBij) > 0 Klas II : PDRB perkapita rendah dan Net Shift tinggi (PBij) > 0 Klas III : PDRB perkapita tinggi dan Net Shift rendah (PBij) < 0
Klas IV : PDRB perkapita rendah dan Net Shift rendah (PBij) < 0
i. Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities and Threats)
Analisis SWOT digunakan untuk mengidentifikasi faktor pendukung maupun kendala yang dihadapi sektor unggulan di Kabupaten Blora baik yang berasal dari faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal berupa strengths (kekuatan) dan weaknesses (kelemahan) yang terdapat dalam sektor unggulan. Sedangkan faktor eksternal berupa opportunities (peluang) dan threats (ancaman) yang dimiliki sektor unggulan.
Faktor internal dalam pengembangan sektor unggulan yang hendak dianalisis adalah:
1. Sumber daya alam (ketersediaan lahan, ketersediaan air) 2. Sumber daya manusia (pendidikan, ketrampilan)
3. Ketersediaan bahan baku produksi. 4. Pola Manajemen
5. Profitabilitas (input-output rasio)
Faktor eksternal dalam pengembangan sektor unggulan yang hendak dianalisis adalah:
1. Peluang Pasar (domestik dan eksport) 2. Persaingan pasar domestik
3. Akses lembaga keuangan 4. Kerjasama antar daerah
Untuk merumuskan strategi, digunakan alat bantu berupa matriks SWOT yang menggambarkan peluang dan ancaman yang dihadapi suatu sektor, yang selanjutnya disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. Matrik ini menghasilkan empat set kemungkinan strategi sebagai berikut
1. Strategi SO (Strengths-Opportunities), menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk memanfaatkan peluang yang ada.
2. Strategi ST (Strengths-Threats), menggunakan kekuatan untuk menghindari dan mengatasi ancaman.
3. Strategi WO (Weaknesses-Opportunities), memanfaatkan peluang yang ada untuk mengatasi kelemahan internal.
4. Strategi WT (Weaknesses-Threats), berupaya meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman.