• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAN PENYEBABNYA

4.2 Analisis Paradigmatik

4.2.3 Analisis Tokoh

Melalui analisis tokoh dapat diketahui berbagai karakter yang menjadi ciri khas dari setiap tokoh yaitu Le Petit Poucet, saudara-saudara Le Petit Poucet, ayah Le Petit Poucet, ibu Le Petit Poucet, istri raksasa, raksasa, serta anak-anak perempuan raksasa. Dari tokoh-tokoh tersebut, tokoh yang menonjol dalam dongeng ini adalah Le Petit Poucet dan raksasa.

4.2.3.1 Le Petit Poucet

Le Petit Poucet adalah tokoh utama dalam dongeng ini. Ia adalah anak laki-laki yang masih berusia tujuh tahun. Dalam dongeng ini, ia digambarkan memiliki berbagai kelebihan dan kelemahan. Berikut akan dipaparkan tokoh dan penokohan dari Le Petit Poucet.

54

4.2.3.1.1 Anak seorang penebang kayu

Ia merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara. Orang tuanya bekerja sebagai penebang kayu.

(16) Il était une fois un bûcheron et une bûcheronne qui avaient sept enfants, tous garçons; l'aîné n'avait que dix ans, et le plus jeune n'en avait que sept. (p.191)

‘Pada suatu ketika hiduplah sepasang suami istri penebang kayu yang mempunyai tujuh orang anak laki-laki. Anak tertua berusia sepuluh tahun dan yang paling muda berusia tujuh tahun.’

4.2.3.1.2 Bertubuh Kecil dan Lemah

Le Petit Poucet bertubuh kecil dan lemah serta pendiam. Ia dijuluki Le Petit Poucet karena ketika ia lahir, ukuran tubuhnya sangat kecil menyerupai jari jempol. Sebenarnya Le Petit Poucet adalah anak yang paling cerdik di antara saudara-saudaranya, namun ia selalu diremehkan oleh keenam kakaknya.

(17) Ce qui les chagrinait encore, c'est que le plus jeune était fort délicat et ne disait mot : prenant pour bêtise ce qui était une marque de la bonté de son esprit.

Il était fort petit, et, quand il vint au monde, il n'était guère plus gros que le pouce, ce qui fit qu'on l'appela Le Petit Poucet. Ce pauvre enfant était le souffre-douleur de la maison, et on lui donnait toujours tort. (p.191)

‘Yang membuat mereka semakin bersedih adalah bahwa si bungsu sangat ringkih dan jarang berbicara, tidak mengucapkan hal-hal buruk, yang menandakan bahwa ia berhati baik.

Ia bertubuh sangat kecil, dan ketika ia lahir, ukuran tubuhnya hampir tidak lebih besar dari jari jempol sehingga ia dijuluki Le Petit Poucet. Anak malang itu merupakan anak yang paling menderita dalam keluarganya karena mereka selalu menyalahkan dirinya.

4.2.3.1.3 Cerdik

Le Petit Poucet merupakan anak yang paling cerdas di antara kakak-kakaknya. Ia anak yang pendiam namun pendengar yang baik.

(18) Cependant il était le plus fin et le plus avisé de tous ses frères, et, s'il parlait peu, il écoutait beaucoup. (p.191)

‘Walaupun begitu ia adalah anak yang paling cerdas dan bijaksana dibandingkan keenam kakaknya, dan karena ia sedikit berbicara, ia selalu mendengarkan.’

Ia selalu menggunakan akalnya agar dapat mengatasi berbagai masalah yang dihadapinya. Sebelum melakukan sesuatu, ia terlebih dahulu memikirkan akibat yang akan terjadi sehingga dapat dikatakan bahwa ia selalu merencanakan segala tindakannya dengan matang.

(19) Il alla se recoucher et ne dormit point du reste de la nuit, songeant à ce qu'il avait à faire. Il se leva de bon matin, et alla au bord d'un ruisseau, où il emplit ses poches de petits cailloux blancs, et ensuite revint à la maison. On partit, et Le Petit Poucet ne découvrit rien de tout ce qu'il savait à ses frères. (p.192)

’Ia kembali ke tempat tidurnya namun tidak dapat tidur sepanjang malam karena ia terus memikirkan apa yang dapat dilakukannya. Ia bangun pagi-pagi sekali dan segera pergi ke tepi kali untuk mengumpulkan kerikil putih, kemudian pulang kembali ke rumahnya. Ketika mereka sekeluarga berangkatpun, Le Petit Poucet tidak mengatakan apa yang diketahuinya kepada keenam kakaknya.’

56

Berkat kecerdikannya, ia dapat memanfaatkan situasi yang ada agar dapat mencapai keinginannya. Ia meminta belas kasihan kepada istri raksasa yang baik hati sehingga mereka diijinkan untuk bermalam di situ.

(20) Le Petit Poucet lui dit qu'ils étaient de pauvres enfants qui s'étaient perdus dans la forêt, et qui demandaient à coucher par charité. (p.195)

‘Le Petit Poucet mengatakan bahwa mereka adalah anak-anak malang yang tersesat di dalam hutan dan meminta belas kasihan untuk dapat bermalam di rumahnya.’

4.2.3.1.4 Berjiwa Pemimpin

Walaupun Le Petit Poucet diremehkan oleh saudara-saudaranya, ia selalu bertindak menjadi pemimpin dari keenam kakaknya. Ketika mereka bingung dan menangis karena tersesat di hutan, ia menenangkan mereka dan menyuruh mereka mengikutinya berjalan pulang.

(21) Le Petit Poucet les laissait crier, sachant bien par où il reviendrait à la maison, car en marchant il avait laissé tomber le long du chemin les petits cailloux blancs qu'il avait dans ses poches. Il leur dit donc:

" Ne craignez point, mes frères; mon père et ma mère nous ont laissés ici, mais je vous ramènerai bien au logis: suivez-moi seulement. "

Ils le suivirent, et il les mena jusqu'à leur maison, par le même chemin qu'ils étaient venus dans la forêt. (p.192)

‘Le Petit Poucet membiarkan mereka menangis karena mengetahui bahwa ia dapat kembali ke rumah dengan cara mengikuti kerikil-kerikil putih yang telah dijatuhkannya di sepanjang jalan dari rumah menuju hutan. Ia berkata kepada mereka,

“Jangan takut, kakak-kakakku, orang tua kita telah meninggalkan kita di sini tetapi aku akan membawa kalian pulang. Ikuti aku.”

Mereka mengikutinya dan ia membawa mereka sampai ke rumah mereka dengan melewati jalan yang sama seperti yang mereka lewati sebelumnya saat pergi ke hutan.’

4.2.3.1.5 Penyayang

Dalam cerita ini Le Petit Poucet terlihat sangat menyayangi keenam saudaranya. Ia selalu menggunakan akalnya untuk dapat menyelamatkan mereka.

(22) Il ne savait que faire, lorsque, la bûcheronne leur ayant donné à chacun un morceau de pain pour leur déjeuner, il songea qu'il pourrait se servir de son pain au lieu de cailloux, en rejetant par miettes le long des chemins où ils passeraient: il le serra donc dans sa poche (p.194).

‘Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Pada saat ibunya memberikan kepada mereka masing-masing sepotong roti, ia berpikir bahwa ia dapat menjatuhkan rotinya sebagai pengganti batu kerikil sepanjang jalan yang mereka lewati. Maka ia pun memasukkan rotinya ke dalam sakunya.’

Sebelum berhadapan dengan sang Raksasa pun, ia memikirkan kakak-kakaknya dan menyuruh mereka untuk pergi menyelamatkan diri mereka masing-masing.

(23) Le Petit Poucet en eut moins de peur, et dit à ses frères de s'enfuir promptement à la maison pendant que l'Ogre dormait bien fort, et qu'ils ne se missent point en peine de lui. Ils crurent son conseil, et gagnèrent vite la maison. (p.198-199).

58

‘Le Petit Poucet tidak merasa takut, ia berkata kepada saudara-saudaranya untuk pergi dengan cepat menuju rumah mereka selama raksasa tertidur. Mereka meninggalkan raksasa, mengikuti saran Le Petit Poucet dan sampai di rumah dengan cepat.’

4.2.3.1.6 Pemberani

Dari perkataan Le Petit Poucet terlihat bahwa ia berani mengambil resiko dimangsa oleh raksasa dengan meminta ijin istri raksasa untuk dapat bermalam di rumahnya. Sikap ini dilatarbelakangi oleh kecerdikannya. Ia yakin bahwa ia pasti akan menemukan jalan keluar agar ia dan keenam kakaknya selamat. Ia juga dapat memilih peluang lebih besar untuk dapat selamat. Jika mereka bertujuh tetap berada di hutan, mereka tidak akan sanggup menghadapi serigala-serigala yang buas. Walaupun bermalam di rumah raksasa juga merupakan pilihan yang beresiko, hal itu masih dapat diatasinya karena ia mengetahui kebaikan hati istri sang Raksasa.

(24) “Hélas ! madame, lui répondit Le Petit Poucet, qui tremblait de toute sa force, aussi bien que ses frères, que ferons-nous ? Il est bien sûr que les loups de la forêt ne manqueront pas de nous manger cette nuit si vous ne voulez pas nous retirer chez vous, et cela étant, nous aimons mieux que ce soit Monsieur qui nous mange ; peut-être qu'il aura pitié de nous si vous voulez bien l'en prier." (p.195)

“Sayang sekali, Nyonya,” jawab Le Petit Poucet dengan gemetar, sama seperti kakak-kakaknya, “Apa yang dapat kami perbuat? Sudah pasti serigala-serigala di hutan tidak akan

menyia-nyiakan kesempatan mereka untuk memangsa kami malam ini jika anda tidak mengijinkan kami untuk beristirahat di rumah anda. Kami bahkan lebih memilih untuk dimangsa oleh suami anda, mungkin ia akan mengasihani kami bila anda meminta kepadanya.”

4.2.3.1.7 Berbakti kepada Orang Tua

Ia selalu ingat orang tuanya walaupun mereka menelantarkannya dan kakak-kakaknya. Ia hanya berpikir bahwa jika keluarganya hidup berkecukupan, orang tuanya pasti tidak akan menelantarkannya dan keenam saudaranya lagi di hutan.

(25) Le Petit Poucet, étant donc chargé de toutes les richesses de l'Ogre, s'en revint au logis de son père, où il fut reçu avec bien de la joie. (p.199)

‘Le Petit Poucet, yang sudah memperoleh semua kekayaan raksasa, kembali ke rumahnya dan disambut dengan suka cita.’ 4.2.3.1.8 Tidak Tahu Berterima Kasih

Setelah Le Petit Poucet berhasil memohon kepada istri raksasa agar memperbolehkan mereka bermalam di rumahnya, ia seakan melupakan kebaikan hati istri raksasa yang telah melindunginya dari raksasa yang hendak memangsanya. Ketika istri raksasa berhasil membujuk suaminya untuk menunda memangsa mereka, Le Petit Poucet dan keenam kakaknya diperbolehkan oleh raksasa untuk tidur di kamar anak-anak perempuannya. Bukannya membalas kebaikan istri sang Raksasa dengan tindakan yang mengungkapkan rasa terima kasih, Le Petit Poucet malah menjadi penyebab kematian anak-anak perempuan

60

raksasa. Pada saat kedatangannya ke rumah raksasa mengenakan sepatu ajaib milik raksasa, ia bertemu dengan istri raksasa yang sedang menangisi ketujuh anak perempuannya yang sudah tewas. Ia tidak meminta maaf, melainkan menipu istri raksasa dengan mengatakan bahwa ia diutus raksasa untuk mengambil uangnya.

(26) Il alla droit à la maison de l'Ogre, où il trouva sa femme qui pleurait auprès de ses filles égorgées. " Votre mari, lui dit Le Petit Poucet, est en grand danger; car il a été pris par une troupe de voleurs, qui ont juré de le tuer s'il ne leur donne tout son or et tout son argent. Dans le moment qu'ils lui tenaient le poignard sur la gorge, il m'a aperçu et m'a prié de vous venir avertir de l'état où il est, et de vous dire de me donner tout ce qu'il a de vaillant, sans en rien retenir, parce qu'autrement ils le tueront sans miséricorde. Comme la chose presse beaucoup, il a voulu que je prisse ses bottes de sept lieues que voilà, pour faire diligence, et aussi afin que vous ne croyiez pas que je sois un affronteur." (p.199).

‘Ia pergi menuju rumah sang Raksasa dan menemukan istri raksasa yang sedang menangisi kematian anak-anaknya. Le Petit Poucet berkata kepadanya, “Suami anda berada dalam bahaya, karena ia sedang ditawan oleh sekawanan perampok yang mengancam akan membunuhnya jika ia tidak memberikan semua emas atau uangnya. Pada saat mereka menempelkan pisau ke leher suami anda, ia melihat saya dan memohon kepada saya dan ia memohon kepada kepada saya untuk datang kepada anda dan memberitahu keadaannya dan ia menyuruh anda untuk memberikan seluruh uangnya kepada saya agar saya dapat mengantarkannya kepada para perampok itu. Karena waktu yang mendesak, suami anda menyuruh saya untuk memakai sepatu ajaibnya agar saya dapat berjalan dengan cepat, dan agar anda tidak menyangka bahwa saya adalah seseorang yang dapat melakukan tantangan itu.”

Dari pemaparan mengenai karakter Le Petit Poucet di atas, dapat dikatakan bahwa tokoh ini mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah ia cerdik sehingga dapat menyelamatkan saudara-saudaranya dari bahaya,

dapat memimpin keenam kakaknya dalam menghadapi berbagai rintangan untuk dapat kembali ke rumah mereka, dan berbakti kepada orang tuanya. Sementara kelemahan dari tokoh ini adalah kondisi tubuhnya yang kecil dan lemah. Meskipun demikian, ia mampu menyelamatkan keluarganya dari kemiskinan dengan melakukan penipuan terhadap istri raksasa untuk mendapatkan harta milik raksasa. Kelemahan lainnya adalah ia hanya memikirkan kepentingan dirinya dan keluarganya sehingga merugikan orang lain, serta membalas kebaikan orang lain yang telah menolongnya dengan tindakan yang merugikan orang yang telah menolongnya.

4.2.3.2 Raksasa

4.2.3.2.1 Pemakan Anak Kecil

Dalam dongeng ini, sang Raksasa adalah tokoh yang suka memakan anak-anak kecil. Ia dapat mencium keberadaan anak-anak kecil di sekitarnya tanpa melihat mereka.

(27) Le mouton était encore tout sanglant, mais il ne lui en sembla que meilleur. Il flairait à droite et à gauche, disant qu'il sentait la chair fraîche.

" Il faut, lui dit sa femme, que ce soit ce veau que je viens d'habiller, que vous sentez.

Je sens la chair fraiche, te dis-je encore une fois, reprit l'Ogre, en regardant sa femme de travers, et il y a ici quelque chose que je n'entends pas. "

En disant ces mots, il se leva de table, et alla droit au lit. (p.195)

62

’Daging domba yang dihidangkan masih berlumuran darah namun raksasa merasakan ada yang lebih enak lagi. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan sambil berkata bahwa ia mencium aroma daging segar.

Istrinya berkata, ”Pasti yang kau cium itu berasal dari daging sapi yang telah kau kuliti.”

”Kukatakan sekali lagi bahwa aku mencium bau daging segar,” ulang raksasa sambil memandang istrinya dengan pandangan mencurigai, ”dan ada sesuatu di sini yang tidak kuketahui.” Sambil mengatakan itu, ia bangkit dari meja dan berjalan menuju tempat tidur.

4.2.3.2.2 Kasar

Karakter tokoh raksasa yang kasar terlihat dari setiap tindakannya yang semena-mena terhadap orang lain.

(28) " Ah! dit-il, voilà donc comme tu veux me tromper, maudite femme! Je ne sais à quoi il tient que je ne te mange aussi : bien t'en prend d'être une vieille bête. Voilà du gibier qui me vient bien à propos pour traiter trois ogres de mes amis, qui doivent me venir voir ces jours-ci. " (p.196)

‘”Ah! Jadi ini yang ingin kau sembunyikan dariku, wahai wanita terkutuk! Aku tidak tahu mengapa aku tidak memakanmu juga walaupun kau sudah menjadi hewan yang tua sekalipun. Inilah buruan yang dapat kusajikan untuk ketiga

teman raksasaku yang akan datang berkunjung dalam waktu dekat.”

4.2.3.2.3 Sadis

Sang Raksasa merupakan raksasa yang paling sadis di antara raksasa-raksasa yang lain. Ketika ia menemukan Le Petit Poucet dan saudara-saudaranya, tanpa ragu ia hendak membunuh mereka.

(29) Il les tira de dessous le lit, l'un après l'autre. Ces pauvres enfants se mirent à genoux, en lui demandant pardon; mais ils avaient affaire au plus cruel de tous les ogres, qui, bien loin d'avoir de la pitié, les dévorait déjà des yeux, et disait à sa femme que ce seraient là de friands morceaux, lorsqu'elle leur aurait fait une bonne sauce. (p.196)

‘Ia menarik mereka dari bawah tempat tidur, satu persatu. Anak-anak itu berlutut dan meminta ampun kepada sang Raksasa namun mereka berhadapan dengan raksasa yang paling kejam di antara raksasa yang lain, yang jauh dari rasa kasihan, dengan sinar mata yang seakan-akan mencabik mereka. Ia mengatakan kepada istrinya bahwa mereka akan menjadi makanan yang lezat bila istrinya membuatkan saus yang enak. Ia juga digambarkan pembunuh berdarah dingin, terlihat ketika ia memenggal kepala anak-anaknya tanpa disadarinya.

(30) En disant ces mots, il coupa sans balancer la gorge à ses sept filles. (p.197)

‘Sambil mengatakannya, ia memotong leher ketujuh anaknya tanpa ragu-ragu.’

Tokoh ini, sama seperti tokoh penebang kayu, juga menggambarkan sosok ayah yang gagal melindungi anak-anaknya.

4.2.3.3 Ayah Le Petit Poucet

64

Si penebang kayu mengusulkan dengan berat hati kepada istrinya untuk membawa anak-anak mereka ke hutan dan meninggalkan mereka di sana karena keadaan keluarganya yang miskin dan tidak sanggup lagi membesarkan ketujuh anaknya. Ia mengambil keputusan tersebut karena menurutnya hal itu lebih baik daripada melihat anak-anaknya mati kelaparan.

(31) Un soir que ces enfants étaient couchés, et que le bûcheron était auprès du feu avec sa femme, il lui dit, le coeur serré de douleur :

" Tu vois bien que nous ne pouvons plus nourrir nos enfants; je ne saurais les voir mourir de faim devant mes yeux, et je suis résolu de les mener perdre demain au bois, ce qui sera bien aisé, car, tandis qu'ils s'amuseront à fagoter, nous n'avons qu'à nous enfuir sans qu'ils nous voient. (p.191-192)

‘Pada suatu malam ketika anak-anaknya sedang tertidur dan si penebang kayu berada di dekat perapian bersama istrinya, ia berkata berkata kepada istrinya dengan sedih, “Kamu tahu betul bahwa kita sudah tidak sanggup lagi memberi makan anak-anak kita. Aku tidak mau melihat mereka mati kelaparan di depan mataku dan aku memutuskan untuk membawa mereka ke hutan besok dan hal itu adalah sesuatu yang dapat dilakukan dengan mudah karena di saat mereka sedang bersenang-senang sambil mengumpulkan ranting-ranting, kita dapat pergi secara diam-diam tanpa terlihat oleh mereka.”

Alasan yang menyebabkan si penebang kayu menelantarkan anak-anaknya di dalam hutan adalah kondisi ekonominya yang sangat buruk. Sebenarnya keputusan yang dibuat si penebang kayu adalah keputusan yang egois karena ia hanya mementingkan dirinya serta istrinya. Ia tidak mau berusaha lebih keras lagi agar keluarganya dapat hidup lebih baik tanpa terpisah satu sama lain. Bagaimanapun juga anak-anaknya adalah darah dagingnya sendiri yang harus dilindungi dan dijaga dengan baik.

4.2.3.3.2 Kasar

Dari sini tokoh penebang kayu digambarkan kasar. Sikap istrinya yang tidak henti-hentinya menyesali perbuatannya dan selalu mengingatkannya akan kesalahannya, membuatnya mengancam akan memukul istrinya jika istrinya tidak segera diam.

(32) Le bûcheron s'impatienta à la fin ; car elle redit plus de vingt fois qu'ils s'en repentiraient, et qu'elle l'avait bien dit. Il la menaça de la battre si elle ne se taisait. (p.193)

‘Si penebang kayu hilang kesabaran pada akhirnya karena istrinya selalu mengulang kata-katanya bahwa ia menyesal telah meninggalkan anak-anaknya di hutan. Ia mengancam akan memukul istrinya jika tidak bisa diam.’

4.2.3.3.3 Egois

Penebang kayu dapat dikatakan lebih mementingkan dirinya dan istrinya daripada anak-anaknya karena ia tidak hanya sekali menelantarkan mereka di dalam hutan yang penuh bahaya, melainkan dua kali. Jika ia memikirkan

anak-66

anaknya, ia pasti akan berusaha lebih keras untuk mendapatkan uang agar dapat menghidupi ketujuh anaknya.

(33) Mais, lorsque l'argent fut dépensé, ils retombèrent dans leur premier chagrin, et résolurent de les perdre encore ; et, pour ne pas manquer leur coup, de les mener bien plus loin que la première fois. (p.194)

‘Tapi saat uang mereka habis, mereka kembali pada kesedihan mereka. Dan jalan keluar satu-satunya adalah membuang mereka lagi. Agar mereka tidak gagal lagi, mereka akan meninggalkan mereka lebih jauh lagi dari yang pertama.’

Tokoh penebang kayu yang berperan sebagai ayah digambarkan sebagai tokoh ayah yang tidak dapat melindungi anak-anaknya dengan baik karena ia lebih mengutamakan kepentingannya sendiri daripada kepentingan anak-anaknya. Akibat perbuatannya, anak-anaknya yang tidak berdosa harus menghadapi bahaya tanpa ada

sosok yang melindungi mereka.

4.2.3.4 Ibu Le Petit Poucet 4.2.3.4.1 Penyayang

Sebagai ibu, ia sangat menyayangi anak-anaknya. Walaupun pada awalmya ia tidak menyetujui keputusan suaminya yang akan meninggalkan anak-anaknya di hutan, namun akhirnya ia menerimanya dengan rasa sedih. Setidaknya

dengan ia membuang anak-anaknya di hutan, ia tidak menyaksikan anak-anaknya mati di depan matanya.

(34) Son mari avait beau lui représenter leur grande pauvreté, elle ne pouvait y consentir; elle était pauvre, mais elle était leur

Dokumen terkait