• Tidak ada hasil yang ditemukan

Relasi Sintagmatik dan Relasi Paradigmatik

TINJAUAN PUSTAKA

2.8 Relasi Sintagmatik dan Relasi Paradigmatik

dengan koleksi cerita rakyat dari seluruh dunia. Perrault meninggal di Paris pada 1703 pada usia 75 tahun.

2.8 Relasi Sintagmatik dan Relasi Paradigmatik

Bahasa sebagai suatu sistem memiliki satuan-satuan. Satuan-satuan dalam bahasa memiliki hubungan (relasi) dengan satuan yang lainnya. Setiap satuan, bagi terbentuknya satuan yang lebih besar, merupakan unsur (constituent). Jadi, dalam setiap bahasa terjadi relasi antarunsur.

Relasi antarunsur dapat dilihat dari dua dimensi, yakni dimensi horisontal dan dimensi vertikal. Relasi antarunsur yang berdimensi horisontal dikenal dengan relasi sintagmatik dan relasi antarunsur yang berdimensi vertikal disebut relasi paradigmatik (Oka 1994: 75).

2.8.1 Relasi Sintagmatik

Relasi sintagmatik merupakan relasi antarunsur bahasa yang hadir dalam suatu tuturan. Dalam tuturan itu, unsur-unsur yang berelasi itu diucapkan. Dalam bahasa tulis, unsur-unsur itu dituliskan. Relasi antarunsur yang bersifat linear itu terjadi atau terdapat pada berbagai tataran, misal dalam tataran fonologis, misalnya, terdapat bunyi-bunyi /b/, /a/, /t/, dan /u/. Dalam bahasa Indonesia, relasi sintagmatiknya bermacam-macam dan memungkinkan terbentuknya kata batu, buta, buat, baut, tuba, dan tabu. Dalam tataran morfologis, tampak adanya relasi antarunsur pembentuk kata. Dalam konteks ini, imbuhan dan bentuk dasar atau bentuk akar tidak dapat bertukar tempat. Ada kata nonaktif tetapi tidak ada kata aktifnon. Dalam tataran frase, urutan unsur membentuk relasi yang berdampak

pada status unsur itu dalam frase. Frase tetangga adik teman saya memiliki makna yang berbeda dengan adik teman tetangga saya, tetangga teman adik saya, teman adik tetangga saya, atau teman tetangga adik saya karena urutan unsur pembentuknya (Oka 1994: 75-77).

Analisis sintagmatik dipergunakan untuk mengetahui jalannya alur cerita serta fungsi utama untuk mengetahui hubungan sebab akibat dalam suatu karya sastra. Dalam karya fiksi wujud hubungan itu dapat berupa hubungan kata, peristiwa, atau tokoh. Jadi, bagaimana peristiwa yang satu diikuti oleh peristiwa-peristiwa yang lain yang bersebab akibat, kata-kata saling berhubungan dengan makna penuh, dan tokoh-tokoh membentuk antitese dan gradasi. Untuk menelaah struktur teks, yang pertama dilakukan adalah menentukan satuan-satuan cerita dan fungsinya dengan mendasarkan diri pada kriteria makna (Barthes dalam Nurgiyantoro 2005: 46).

Satuan cerita atau sekuen disusun secara berurutan dan linear sehingga menunjukkan hubungan yang horisontal. Menurut Barthes (dalam Nurgiyantoro 2005: 46) satuan cerita atau sekuen mempunyai dua fungsi, yaitu fungsi utama dan katalisator. Fungsi utama adalah sekuen yang memiliki hubungan sebab akibat yang mengarahkan jalan cerita (plot). Katalisator berfungsi untuk melengkapi dan mendukung fungsi utama serta mempunyai hubungan kronologis dengan satuan cerita lainnya.

Contoh sekuen:

1. Deskripsi keluarga le petit Poucet yang miskin. (fungsi utama)

22

3. Ketidaksanggupan penebang kayu memberi nafkah anak-anaknya sehingga ia membuang mereka di hutan. (fungsi utama)

4. Kesedihan istri penebang kayu yang tidak dapat berbuat apapun kecuali menerima keputusan suami. (katalisator)

Teori mengenai sekuen lainnya juga dikemukakan oleh M.P. Schmitt dan A. Viala dalam Handayani (1994: 35) melalui gagasan sebagai berikut:

1. Sekuen harus terpusat pada satu titik tertentu, misalnya peristiwa yang sama, tokoh yang sama, gagasan yang sama, ide atau pikiran yang sama.

2. Sekuen harus mengurung suatu kurun waktu dan ruang yang koheren: sesuatu terjadi pada tempat atau waktu yang sama. Hal itu dapat juga merupakan gabungan beberapa tempat namun dalam waktu yang tercakup dalam satu tahapan, misalnya suatu periode dalam kurun waktu yang tercakup dalam kehidupan seorang tokoh, serangkaian contoh dan bukti-bukti untuk mendukung suatu gagasan.

3. Selain itu, sekuen yang diberi batasan seperti tersebut di atas, masing-masing dapat menjadi elemen dari sekuen yang lebih besar, sehingga seluruh teks membentuk teks yang maksimal.

2.8.2 Relasi Paradigmatik

Relasi paradigmatik yakni relasi yang berdimensi vertikal dan merupakan relasi antarunsur yang tidak hadir dalam tuturan. Unsur yang tidak hadir adalah unsur yang diasosiasikan. Kata-kata kekerabatan, misalnya, memiliki hubungan asosiatif. Begitu kata saudara dituturkan atau didengarkan, kata itu memiliki

asosiasi atau berparadigma dengan kata-kata adik, kakak, keponakan, paman, tante, dll.

Dalam analisis paradigmatik, unsur yang dibahas adalah unsur-unsur yang berkaitan dengan makna cerita. Nurgiyantoro (2005: 47) menyatakan bahwa kajian analisis paradigmatik dalam karya sastra berupa kajian tentang tokoh, perwatakan tokoh, dan latar. Lebih jelasnya, kajian ini dibedakan menjadi dua, yakni indeks dan informan.

2.8.2.1 Indeks

Indeks menerangkan tentang sifat tokoh atau biasa dikenal dengan penokohan. Tokoh dalam suatu teks karya sastra sangatlah penting karena dapat menjelaskan bagaimana jalan cerita. Menurut Nurgiyantoro (2005: 165) istilah tokoh menunjuk pada orangnya, pelaku cerita, watak, perwatakan dan karakter menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh yang ditafsirkan oleh pembaca, lebih menunjuk pada kualitas pribadi seorang tokoh. Dalam setiap cerita narasi terdapat beberapa tokoh sentral yang memegang peranan penting dalam cerita.

Contoh: Le Petit Poucet merupakan anak yang paling cerdas di antara kakak-kakaknya. Ia anak yang pendiam namun pendengar yang baik.

2.8.2.2 Informan

Pembahasan mengenai informan berkisar pada masalah ruang dan waktu, yaitu keterangan mengenai tempat terjadinya peristiwa dan keterangan mengenai kapan waktu peristiwa cerita berlangsung dalam sebuah karya fiksi. Nurgiyantoro (2005: 229) menyatakan bahwa latar tempat dalam sebuah karya fiksi berupa

24

lokasi yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain sejalan dengan perkembangan plot dan tokoh.

Contoh: Rumah keluarga penebang kayu. Terdapat tiga ruang yang menjadi latar tempat dari peristiwa yang terjadi. Yang pertama adalah ruang keluarga tempat penebang kayu dan istrinya merencanakan untuk menelantarkan anak-anaknya.

25

BAB 3

Dokumen terkait