• Tidak ada hasil yang ditemukan

F. Anggaran Biaya

Pembiyaan penelitian ini ditanggung oleh Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Institut Agama Islam Negeri Batusangkar Tahun 2021 dengan maksimum anggaran Rp. 17.500.000,- (tujuh belas juta lima ratus ribus) rupiah sebagaimana terlampir.

33

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Wilayah Kabupaten Kepulaun Mentawai

1. Wilayah Administrasi

Kepulauan Mentawai merupakan gugusan pulau-pulau besar dan kecil yang terdapat di pantai barat Sumatera, berikut di jelaskan dalam bentuk tebel terkait wilayah administrasi Kabupaten Kepulauan Mentawai:

(“Badan Pusat Statistik Kabupaten Kepulauan Mentawai Statistics of Kepulauan Mentawai Regency,” 2020)

a. Batas Daerah Menurut Kecamatan di Kabupaten Kepulauan Mentawai Tahun 2020

34

b. Luas Daerah dan Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan di Kabupaten di Kabupaten Kepulauan Mentawai Tahun 2020

c. Jumlah Desa Menurut Kecamatan di Kabupaten Kepulauan Mentawai 2016-2020

35

d. Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan dan Agama yang dianut di Kabupaten Kepulauan Mentawai 2020

2. Keberadaan administratif Kabupaten Kepulauan Mentawai ini dikukuhkan berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 49 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Kepulauan Mentawai di Provinsi Sumatera Barat Tanggal 7 Juni 2000. Secara administratif wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai, berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Mentawai Nomor 15 Tahun 2002 telah mengalami pemekaran.

3. Luas wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai secara keseluruhan adalah 6.011,35 Km² atau 601.135 Ha.

B. Kondisi Wilayah

1. Ketinggian dan Kemiringan

Berdasarkan hasil intepretasi terhadap peta topografi, ketinggian lahan di wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai cukup bervariasi, mulai dari dataran rendah yang berawal dari jenis pasang surut (0-2 meter DPL) sampai dengan ketinggian 50 meter hingga 270 MDPL. Namun secara umum, ketinggian lahan di wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai ini didominasi ketinggian lahan antara 100 – 150 MDPL. Keadaan topografi Kabupaten Kepulauan Mentawai berdasarkan kelerengan terbagi atas:

a. Coastal land/Flat land, yaitu daerah yang bermula dari garis pantai dan menaik menjadi zona kelerengan 0 – 3 % menuju daratan. Pada

36

daerah sekitar pantai merupakan dataran rendah dan rawa-rawa serta berlumpur, pada saat pasang daerah ini terendam air laut, seperti di Muara Siberut, muara sikabaluan serta desa-desa lainnya di pinggir pantai.

b. Low land, yaitu daerah yang memiliki topografi yang berombak dengan kemiringan antara 3 – 8 %, dan secara umum sudah bebas dari pengaruh pasang surut.

c. Middle land, merupakan daerah berbatasan dengan Low land menuju arah perbukitan dengan zona kemiringan 8 – 25 %. Pada daerah ini sangat sesuai untuk pengembangan perkebunan atau tanaman keras seperti karet, cengkeh, kelapa, nilam, manau, coklat dan komoditas lainnya.

d. Up land, bentuk berbukit-bukit hingga daerah catchment sungai-sungai baik yang bermuara ke pantai barat maupun pantai timur pulau, dengan ketinggian antara 50–275 m di atas permukaan laut dan dengan kelerengan >25%. Sebagian besar kawasan ini merupakan kawasan lindung.

2. Geologi

Ditinjau dari segi litologis, Pulau Sipora dan Pulau Siberut mempunyai litologi batu lempungan dengan di beberapa tempat ada sisipan batu intrusive. Dari umur geologi dapat diindikasikan sebagai wilayah yang berumur resen dan masih muda. Untuk Pulau Siberut memiliki laju sedimentasi yang tinggi sehingga pulau ini juga merupakan pulau sedimentasi, yang dipenuhi oleh lumpur, tanah liat bercampur kapur yang masih relatif muda.

Selain itu, juga terdapat batuan (schist) dan tanah kwarts dari masa pra-miocene, beberapa batu kapur dari pra-miocene, serta vulkanis yang tersebar menunjukkan asalnya dari keadaan vulkanis Sumatera dari masa miocene.

Namun sebagian besar susunan geologis menunjukkan asal dari masa pliocene, pleistocene dan zaman baru. Struktur geologi Kepulauan Mentawai dibagi menjadi dua guguskepulauan yaitu gugus geologi Pulau

37

Siberut dan gugus geologi Pulau Sipora,Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan.

3. Mitigasi Bencana

Kepulauan Mentawai termasuk dalam kawasan potensi yang rawan bencana baik berupa gempa bumi (tektonik), gelombang besar tsunami, abrasi pantaidan longsor. Dari 43 desa yang ada, 33 desa diantaranya merupakan desapesisir, yang pada kondisi saat ini kawasan pesisir merupakan kawasan rawan bencana terhadap bahaya tsunami.

Sebagaimana yang telah terjadi padatanggal 25 Oktober 2010, bencana gempa bumi berkekuatan 7,2 SR (atau 7,5 SR menurut USGS) telah memicu terjadinya gelombang tsunami. Berdasarkan informasi dari BPBD Provinsi Sumatera Barat, kedalaman gempa bumi yang cukup dangkal dan terletak pada zona subduksi di bawah dasar laut tersebut telah memicu terjadinya gelombang tsunami dengan ketinggian gelombangmencapai 3 meter yang menghasilkan landaan tsunami sejauh 1 Kilometer kearah daratan.

Guncangan gempa dan gelombang tsunami tersebut telah menyebabkan kerusakan dan kerugian di 4 (empat) wilayah kecamatan di Kepulauan Mentawai, yaitu Kecamatan Sipora Selatan, Pagai Utara, Pagai Selatan dan Sikakap. Wilayah Kecamatan Pagai Selatan dan Pagai Utara merupakan daerah yang paling parah terkena dampak bencana yang mengakibatkan banyak korban jiwa dan kerusakan bangunan rumah serta sarana dan prasarana. Hal ini juga turut dipengaruhi oleh letak geografis wilayah Kecamatan Pagai Selatan yang berada dekat dengan pusat kejadian gempa dan terletak di pesisir pantai barat. Dengan kejadian tersebut di atas, mengakibatkan beberapa diantara 33 desa pesisir di wilayah ini terkena tsunami dan harus direlokasi ke tempat yang lebih aman.

C. Isu Strategis Sosial, Ekonomi dan Lingkungan 1. Kondisi Sosial

38

Dalam perencanaan tata ruang, kondisi sosial budaya pada hakekatnya merupakan aspek yang turut mempengaruhi pemanfaatan dan pengelolaan lingkungan yang terpadu. Eksploitasi bentang alam yang tidak memperhatikan kearifan lokal diduga akan menyebabkan krisis lingkungan. Budaya bermukim masyarakat dengan latar belakang sosial-budayanya telah menghasilkan produk lingkungan binaan sebagai wujud kearifan masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan alam.

Pemanfaatan dan pengelolaan lingkungan melalui proses perencanaan dan perancangan memerlukan pendekatan yang komprehensif dan terpadu. Penerapan kearifan lokal (local wisdom) merupakan suatu upaya dalam rangka mewujudkan lingkungan binaan yang harmoni dan sustainable melalui pemanfaatan pengetahuan lokal (indigenous knowledge), pendekatan kontekstual serta pendekatan partisipatif.

Masyarakat yang mendiami Kabupaten Kepulauan Mentawai terdiri dari suku Mentawai, Minang, Batak, dan Jawa. Secara sosiokultur penduduk asli Mentawai merupakan keturunan Polinesia dari Melayu Tua atau Proto Melayu, yang berbeda dengan penduduk yang bermukim di daratan Sumatera yangmerupakan keturunan Melayu. Sebagian besar penduduknya beragama Kristen Protestan, agama Kristen Katholik dan selebihnya beragama Islam.Masyarakat Mentawai bersifat patrilineal, struktur sosial tradisional adalah kebersamaan, mereka tinggal di rumah besar yang disebut juga "uma" yang berada di tanah-tanah suku. Seluruh makanan, hasil hutan dan pekerjaan dibagidalam satu uma. Struktur sosial itu juga bersifat egalitarian, yaitu setiap anggotadewasa dalam uma mempunyai kedudukan yang sama kecuali "Sikerei" (ataudukun) yang mempunyai hak lebih tinggi karena dapat menyembuhkan penyakitdan memimpin upacara keagamaan.

Agama Suku Mentawai adalah Arat Sabulungan yang percaya bahwa segala sesuatu mempunyai roh masing-masing yang sama sekali

39

terpisah dari raganya dan bebas berkeliaran di alam luas. Konsep Arat Sabulungan merupakan suatu kepercayaan bagaimana kelompok masyarakat memberi penghormatan yang sangat tinggi untuk hidup dalam keselarasan dengan alam lingkungannya. Dalam Arat Sabulungan menjelaskan seluruh benda hidup dan segala yang ada di alam mempunyai roh atau jiwa (simagre). Roh dapat memisahkan dari tubuh dan bergerak dengan bebas. Jika keharmonisan antara roh dan tubuhnya tidak dipelihara, maka roh akan pergi dan dapat menyebabkan penyakit. Konsep kepercayaan ini berlaku dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kegiatan keseharian dapat mengganggu keseimbangan dan keharmonisan roh di alam.

Kepercayaan Arat Sabulungan ini berhubungan erat dengan keberadaansumber daya alam yang tersedia di sekitarnya. Hal ini tercermin dalam tatanankehidupan sehari-hari masyarakat seperti berburu, bercocok tanam, meramu maupun menyiapkan permukiman. Adanya tata aturan menjadikan muncul keharmonisan hidup dengan lingkungan sekitarnya, contohnya masyarakatmemiliki konsep yang tegas dan jelas dalam mewujudkan suatu tata ruang dalam membagi.

2. Kondisi Ekonomi

Manusia dengan kebudayaannya mampumengatasi berbagai keterbatasan dalam hidupnya. Kebudayaan dalam hal ini dimaksudkan sebagai sistem rancangan gagasan, yang sedikit banyak dimiliki bersama untuk kehidupan dan merupakan kekhususan masyarakat tersebut (Keesing 1989: 146). Kebudayaan merupakan pedoman bagi kehidupan masyarakat atau blueprint, merupakan perangkat-perangkat acuan yang berlaku umum dan menyeluruh untuk menghadapi lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidup para warga masyarakat pendukung kebudayaan tersebut. Kebudayaan dengan demikian dilihat sebagai perangkat perangkat pengetahuan dan keyakinan-keyakinan yang dimiliki pendukung kebudayaan tersebut. Perangkat-perangkat pengetahuan dan keyakinan-keyakinan tersebut dilihat sebagai sistem yang terdiri atas

40

aturan-aturan yang berbeda-beda serta bertingkat-tingkat yang fungsional hubungannya satu sama lainnya secara keseluruhan.

4. Kepercayaan Lokal Sabulungan 1. Terminologi Sabulungan

Arat Sabulungan adalah kepercayaan asli bagi masyarakat suku bangsa Mentawai yang berasal dari Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat, Indonesia, teristimewa orang Sakuddei di pulau Siberut. Secara bahasa, Arat berarti adat, Sa berarti sekitar, dan bulungan artinya daun. Sebutan Sabulungan lahir karena acara ritualnya selalu menggunakan daun-daun yang dipercaya bisa menjadi perantara hubungan manusia dengan Tuhan yang disebut dengan Ulau Manua. Awalnya, istilah arat tidak dipergunakan dan nama yang lebih sering dipakai adalah punen yang memiliki arti kegiatan, upacara, atau pesta. Seiring berjalannya waktu, diperkenalkan istilah arat pada era 1950-an untuk menyebut kepercayaan ini. Jadi, kata arat mewakili kepercayaan atau ideologi sementara punen lebih sering mengacu pada perayaan seremonial dan upacara.

Suku Mentawai tinggal di Kepulauan Mentawai yang terletak sekitar 100 KM di sebelah barat pantai Sumatera, yang terdiri dari 40 pulau besar dan kecil. Ada empat pulau besar yang didiami manusia yaitu Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan. Masyarakat Mentawai memiliki kepercayaan yang unik dalam menjaga makhluk, tumbuhan dan hewan. Masyarakat berinteraksi dengan alam dan dapat mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan oleh alam. Bagi masyarakat Mentawai alam itu punya nyawa dan hidup, sewaktu waktu alam bisa memberikan sesuatu yang berguna bagi manusia dan sewaktu-waktu alam akan murka.

Tindakan Penduduk Mentawai selalu dikontrol dengan cara pantangan (enungan mukeikei).

Pandangan ini sangat berbeda dengan paradigma masyarakat modern yang memandang manusia sebagai makhluk yang paling tinggi

41

derajatnya. Masyarakat Mentawai memiliki kemampuan berkomunikasi dengan alam, kemampuan yang tidak dimiliki manusia lain. Kemampuan ini syarat dengan ide post human, kemampuan yang tidak manusiawi.

Penulis ingin menggali ide posthuman yang muncul dalam keseharian Masyarakat Mentawai. (Model & Baru, 2019)

Agama tradisional Mentawi adalah Arat Sabulungan. Orang Mentawai Barat sering menyebut agama dalam bahasa sehari-hari sebagai Alat. Kata ini mengikuti istilah umum yang mengacu pada kepercayaan lokal yang berasal dari ajaran nenek moyang mereka, yaitu Arat Sabulungan. Arat artinya adat dan Sabulungan berasal dari kata bulug yang artinya daun. Penambahan awalan (sa) dan akhiran (an) menunjukkan kondisi kelompok. Sabulungan berarti kumpulan daun atau tumbuhan yang sering digunakan dalam praktek ritual mereka. Kumpulan daun-daunan ini sebagai bahan ritual dan mantra dalam upacara keagamaan, juga sebagai perantara dan persembahan bagi roh-roh pelindung uma, Sabulungan dipahami dari prilaku manusia yang menjalankan keyakinan terhadap roh-roh yang tidak kelihatan dengan persembahan (buluat) sebagai wujud pemujaan agar memperoleh keberuntungan dan terhindar dari celaka. (Delfi, 2014)

Agama ini berasal dari ajaran nenek moyang berisi seperangkat nilai yang berisi aturan hidup masyarakat Mentawai, biasa disebut dengan Kepulauan Mentawai, Arat Sabulungan mengandung filosofi kehidupan oMentawai. Arat juga dianggap sebagai warisan suci dan menjadi norma kehidupan pribadi, di keluarga dan uma (klan), karenanya Arat tersebut bagi orang Mentawai adalah keselarasan dengan dunia dan pemersatu dengan uma. Keselarasan dengan alam mencakup keselaran antara masyarakat, manusia dengan Alam, makhluk hidup (tumbuhan dan hewan), benda mati, peristiwa alam, dan hubungan interpersonal dengan roh gaib. Arat sebagai aturan-aturan yang berasal dari nenek moyang dianggap aturan yang sangat penting dalam kehidupan orang Mentawai, terutama bagi mereka yang masih terikat dalam kehidupan komunal uma.

42

Uma menjadi pusat dalam berbagai praktik ritual kelompok dan menjadi hal penting dalam kehidupan orang Mentawai. (Dalam & Arat, 2012)

Dipakainya istilah arat dilatarbelakangi oleh kebutuhan pemerintah dan para misionaris untuk menyebut berbagai agama, termasuk sistem kepercayaan tradisional. Sabulungan kemudian dikategorikan sebagai agama setelah ditambahkan istilah arat. Istilah ini juga diberikan kepada agama yang dibawa dari luar Mentawai seperti arat Katolik, arat Protestan, dan arat Islam. Kepercayaan Arat Sabulungan mengandung dua keyakinan, yaitu keyakinan mengenai adanya hubungan gaib antara berbagai hal yang berbeda. Kemudian keyakinan kedua adalah adanya kekuatan gaib yang memiliki kesaktian namun tidak berkemauan dalam alam sekitar manusia. Meski mayoritas masyarakat Mentawai sudah menganut agama Katolik di samping Protestan, Islam, atau Baha'i, kepercayaan Arat Sabulungan masih mampu bertahan bersama sebagian penganutnya.

Arat Sabulungan mengajarkan agar adanya keseimbangan antara alam dan manusia. Artinya, manusia sudah semestinya memperlakukan alam dan seisinya seperti tumbuh-tumbuhan, air, dan hewan seperti mereka memperlakukan dirinya sendiri. Ajaran mengenai keseimbangan manusia dan alam terefleksi dari bagaimana alam dimaknai oleh penganutnya. Alam dianggap sebagai tempat bersemayamnya para dewa sehingga harus dihormati. Jika sikap hormat itu tidak ada, maka manusia akan ditimpa malapetaka, wawasan penduduk Mentawai mengenai alam lingkungan dan jagat raya tidak berasal dari cerita dongeng, melainkan dari kisah yang benar-benar pernah terjadi.

Pada zaman dahulu, Arat Sabulungan menjadi patokan norma untuk mengatur hubungan antara manusia dan alam serta dalam hubungan batin dengan tuhan. Dari sini, kemudian terjalin sikap hormat orang Mentawai terhadap alam. Jika alam dirusak, maka pemiliknya yang memiliki kekuatan sangat besar pun akan mengirim bencana. Pelanggaran terhadap aturan pun akan berakibat hukuman. Hukuman ini ditentukan

43

melalui musyawarah di uma. Jika ada satu orang yang melanggar, maka seluruh anggota masyarakat juga dianggap akan terkena dampaknya.

2. Mitologi dan Sistim kepercayaan

Dalam kepercayaan Arat Sabulungan, diyakini bahwa roh leluhur nenek moyang yang disebut Ketsat adalah zat yang memiliki kesaktian.

Selain itu, dipercaya bahwa roh terkandung dalam setiap objek yang ada di dunia, baik itu benda mati maupun makhluk hidup. Roh ini terpisah dari jasad yang berkeliaran secara bebas di alam luas. Pemahaman ini berbeda dengan agama-agama Samawi yang dominan di Indonesia dewasa ini di mana roh diyakini hanya terdapat pada makhluk hidup. Arat Sabulungan mengajarkan bahwa bukan manusia saja yang memiliki jiwa. Roh setiap objek di dunia dipercaya menempati seluruh ruang di alam semesta, baik itu di darat, laut, dan udara. Perlu diketahui, gagasan mengenai roh dan jiwa adalah hal yang berbeda di mana jiwa dapat berdiam di dalam tubuh manusia yang sudah meninggal dunia meski rohnya sudah pergi.

Roh-roh yang banyak dikenal dalam kepercayaan Arat Sabulungan turut kerap dijumpai dalam mitos yang menceritakan asal-usul dunia di mata penduduk Mentawai. Mitos-mitos ini dirangkum dalam sebuah buku berjudul Mitos dan Legenda Suku Mentawai yang ditulis oleh Bruno Spina. Dicatat bahwa dunia ini diyakini diciptakan oleh roh-roh dengan cara dilempar dari langit hingga terbentuklah pulau-pulau Sumatra dan sekitarnya. Kemudian roh-roh menciptakan pula manusia dan hewan yang menghuni pulau tersebut dan memberikan berbagai bimbingan kepada manusia pertama mengenai cara-cara hidup. Roh orang yang sudah meninggal dipercaya bisa berkomunikasi dengan manusia yang masih hidup dan tinggal di dunia. Komunikasi ini diperantarai oleh Sikerei alias tabib atau dukun tradisional Mentawai. Roh orang yang meninggal tersebut bahkan bisa menuturkan certia mengenai kematiannya atau menitipkan pesan kepada keluarga yang ditinggalkan untuk kemudian disampaikan kepada keluarga oleh Sikerei.

44

Jika asal-usul dunia bisa dijelaskan melalui cerita mitologi yang berkaitan dengan roh, gagasan mengenai asal-usul manusia justru sebaliknya karena tidak ada penjelasan apapun yang diyakini orang-orang Mentawai. Menurut Spina, kepercayaan yang dipegang orang Mentawai mengenai asal-usul keberadaan manusia konsepnya berbeda dengan banyak suku bangsa lain di Indonesia. Tidak ada cerita atau konsep mengenai asal-usul eksistensi manusia.

Bagi orang Mentawai, dunia adalah tempat besar di mana mereka bisa hidup dengan memanfaatkan segala sumber daya yang ada di alam. Maka dari itu manusia diwajibkan menjalin hubungan baik dengan roh-roh dengan cara selalu berterima kasih dan tidak menyalahgunakan segala yang bisa didapatkan. Dunia yang dihuni ini dianggap bukanlah milik manusia.

Ada beberapa roh yang dikenal dalam kepercayaan Arat Sabulungan di mana roh-roh tersebut memiliki peran dan karakter yang berbeda satu-sama lain. Konsep pengetahuan akan hal gaib berupa roh yang menyebabkan orang dapat hidup disebut dengan Simagre. Roh yang dikenal di antaranya Sabulungan, yaitu roh yang keluar dari tubuh dan dianggap keluarnya terkadang hanya untuk sesaat, misalnya ketika seseorang sedang terkejut. Selain itu ada pula roh yang tidak pergi jauh dari tempat yang dihuni manusia di bumi, di air, udara, hutan belantara dan pegunungan. Di dalam uma, yaitu rumah yang berfungsi sebagai balai pertemuan dan tempat digelarnya acara-cara adat Mentawai juga bahkan dikenal terdapat roh penunggu. Roh ini disebut dengan nama kina. Tidak hanya roh baik, dikenal pula roh yang bersifat jahat yang memiliki tugas menebarkan penyakit dan menimbulkan gangguan bagi manusia yang disebut sanitu. Roh ini berasal dari roh manusia yang bergentayangan setelah mati dengan cara yang tidak wajar, misalnya mati dibunuh atau bunuh diri.

Sementara itu, istilah magere digunakan untuk merujuk pada jiwa manusia. Magere ini diyakini beerada di bagian ubun-ubun kepala,

45

Magere bisa keluar dari tempatnya berdiam dan melakukan petualangan saat manusia sedang tertidur hingga menimbulkan mimpi. Jika magere bertemu dengan roh jahat ketika sedang keluar, maka tubuh manusia tersebut akan sakit. Sedangkan jika tubuh meminta pertolongan kepada leluhur maka tubuh akan meninggal dengan roh yang telah pergi. Perginya roh sekaligus membuat tubuh hanya di tempat oleh jiwa yang disebut pitok.

Pitok adalah sosok yang ditakuti oleh masyarakat Mentawai. Pitok dipercaya mencari tubuh manusia lain sebagai korban agar ia bisa terus berada di bumi. Karena alasan inilah masyarakat Mentawai kerap menggelar upacara-upacara untuk mengusir pitok. Selain roh dan jiwa, pengakuan terhadap keberdaaan dewa-dewa juga dikenal dalam Arat Sabulungan. Setidaknya ada tiga dewa yang diposisikan secara terhormat.

Pertama Tai Kalelu, yakni dewa hutan dan gunung. Kedua Tai Leubagat, yaitu dewa laut. Yang ketiga adalah dewa langit pemberi hujan dan kehidupan yang disebut Tai Kamanua.

3. Ritual dan kepercayaan

Ada beberapa ritual yang biasa dilakukan masyarakat Mentawai penganut kepercayaan Arat Sabulungan. Misalnya ada masa nyepi di mana oang-orang akan menghentikan aktivitas rutinnya untuk sementara. Masa nyepi ini ada dua macam, yaitu Lia dan Punen. Lia adalah menghentikan akfitas karena adanya peristiwa-peristiwa hidup yang dianggap penting seperti kelahiran, kematian, atau ada anggota keluarga yang sakit.

Kegiatan pembuatan perahu pun termasuk masa-masa yang perlu diiringi dengan lia.

Tradisi Sabulungan identik dengan proses pembuatan tato Mentawai melalui proses ritual, dan memakan waktu lama, karena merupakan bagian dari Arat Sabulungan (kepercayaan terhadap makhluk halus). Sebelum melakukan ritual tato, upacara adat yang disebut "punen kepa", yang bertujuan untuk menghilangkan pengaruh jahat dan ancaman pertumpahan darah terhadap dusun tempat mereka tinggal. (Yulia et al., 2019)

46

Sementara itu, punen adalah nyepi yang dilakukan oleh masyarakat secara keseluruhan di mana pelaksanannya menyangkut masa pembangunan uma, kecelakaan, merebaknya wabah penyakit, atau adanya pembunuhan. Selama pelaksanaan lia dan punen, masyarakat tidak diperbolehkan bekerja. Sedangkan kegiatan makan dan minum masih diizinkan untuk dilakukan. Lia tergolong sebagai upacara kecil yang dalam perayaannya tidak disertai acara seperti berburu hewan atau pementasan tari-tarian. Lia dan punen pun ada beragam macamnya, misalnya lia sagu dan lia sapuo, kemudian untuk punen di antaranya ada punen matutu, punen, lalai angalou, punen pangambok, dan punen abinen.

Bagi orang Mentawai penganut Arat Sabulungan, ritual dalam daur hidupnya sudah dilakukan sejak seseorang baru dilahirkan ke dunia.

Pangabela adalah ritual pertama yang dilakukan oleh seseorang sesaat setelah lahir sebagai bayi. Tujuannya, memperkenalkan sang bayi dengan alam serta roh-roh di dalamnya. Dengan pangabela seorang bayi diharapkan terhindar dari penyakit dan keberadaannya tidak menimbulkan gangguan bagi roh-roh. Pangabela dilakukan tiga hari setelah kelahiran dengan memberi sang bayi makanan dan memandikannya di sungai hingga kulitnya memucat karena kedinginan.

Kemudian, dinyalakan api pada suluh dan menanam beberapa jenis tanaman tertentu. Ibu bayi kemudian membawa anaknya pulang ke rumah sambil menuangkan air sungai di sepanjang jalan. Untuk memberikan nama untuk bayi pun diperlukan ritual khusus yang disebut pangambok.

Kemudian, dinyalakan api pada suluh dan menanam beberapa jenis tanaman tertentu. Ibu bayi kemudian membawa anaknya pulang ke rumah sambil menuangkan air sungai di sepanjang jalan. Untuk memberikan nama untuk bayi pun diperlukan ritual khusus yang disebut pangambok.