• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemenuhan Hak Keperdataan Penghayat Kepercayaan Lokal Sabulungan

Mahkamah Konstitusi

Gambaran pemeluk kepercayaan lokal Sabulungan merupakan contoh kecil dari ratusan komunitas masyarakat asli Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan memiliki persoalan terkait aktualisasi diri

52

sebagai warga Negara Republik Indonesia yang juga merupakan bagian dari kesatuan identitas bangsa. Beberapa di antaranya masayarakat adat Bayan Sasak di Lombok, warga Marapu di Sumba, Suku Kajang Ammatoa dan Penganut Towani Tolatang di Sulawesi Selatan, Penganut Parmalim di Sumatera Utara, penganut Sedulur Sikep/ Samin di kabupaten Kudus Jawa Tengah, dan lainnya yang mungkin mempunyai masalah yang sama. Persoalan dari sistem informasi administrasi kependudukan ialah berawal ketika penganut aliran kepercayaan pada merasa bahwa pengosongan kolom agama pada kartu identitas penduduk elektronik (eKTP) yang diterbitkan berdasarkan UU Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan, telah menimbulkan dampak buruk bagi pelaksanaan hak-hak dasar mereka dalam memperoleh akses terhadap layanan umum, seperti pernikahan, kelahiran, pekerjaan, pemakaman. (Albariansyah, 2017: 4791) Di samping itu juga berdampak pada hak keperdataan lainnya seperti pemanfaatan fasilitas perbankan serta kebebasan dalam berkontrak.

Menempatkan kebebasan beragama sebagai hak konstitusional warga Negara adalah konsekuensi Negara hukum sebagaimana secara eksplisit dijelaskan dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945. Pemaknaan atas frasa Negara hukum tersebut bahwa berjalannya suatu Negara harus bernafaskan pada peraturan-peraturan sebagai command of the law giver yang memberikan jaminan atas kepastian hukum. Peraturan tersebut meliputi kebebasan beragama dan beribadah sesuai dengan kpeercayaan yang dianut oleh masyarakat.

Dari 6 agama resmi sebagaimana ditetapkan melalui PNPS Nomor 1 Tahun 1965, Negara juga mengakui keberadaan masyarakat adat yang beribadah berdasarkan kepercayaan lokal atau local belief. Kepastian hukum atas kepercayaan lokal tersebut dapat ditemukan dalam berbagai regulasi di antaranya Pasal 18 B ayat (2) UUD 1945 bahwa Negara Indonesia mengakui keberadaan masyarakat hukum adat beserta kearfal lokanya. Kemudian, Mahkamah Konstitusi sebagai the guardian of constitution juga menetapkan

53

konstitusionalitas masyarakat adat yang beribadah sesuai dengan kepercayaan lokal melalui putusannya Nomor 97/PUU-XIV/2016.

Putusan tersebut juga berlaku sebagai legal substance yang dijadikan sebagai pedoman dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Maka berdasarkan putusan tersebut hendaknya tidak ada lagi diskriminasi di segala aspek kehidupan masyarakat yang menganut kepercayaan lokal yang tersebar di seluruh wilayah bangsa Indonesia. Termasuk Kabupaten Kepualaun Mentawai yang notabenenya sebagai bagian dari NKRI masih menyimpan kekayaan budaya yang terus terwarisi secara turun temurun, termasuk kepercayaan yang dianutnya yaitu kepercayaan Sabulungan.

Kehadiran Negara sangat diharapkan oleh masyarakat penghayat kepercayaan lokal Sabulungan di Kabupaten Kepulauan Mentawai dalam pemenuhan hak-hak mereka sebagai warga Negara yang tidak dapat diderogasi hanya karena persolan kepercayaan. Selain hak-hak konstitusional, Negara juga harus melakukan pemenuhan terhadap hak keperdataan masyarakat penghayat kepercayaan Sabulungan di Kabupaten Kepualauan Mentawai. Berikut bentuk keikutsertaan Negara dalam pemenuhan hak keperdataan masyarakat penghayat kepercayaan Sabulungan di Kabupaten Kepulauan Mentawai:

1. Pemenuhan Hak Keperdataan Oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil

Berdasarkan hasil wawancara bersama Bapak Muhammad Irsal, S.Pd., M.Si. Sekretaris Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Kepulauan Mentawai pada tanggal 1 Juli 2021, bahwa di samping kepercayaan lokal Sabulungan juga terdapat kerecayaan Baha’i di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Masyarakat pengahayat kedua kepercayaan tersebut masih eksis hingga saat ini, khusus kepercayaan Baha’i mereka meminta secara eksplisit untuk dituliskan dalam kolom agama pada Kartu Tanda Penduduk. Tentu hal ini tidak dapat dilakukan, karena terkendala pada regulasi sebagai payun hukum bagi Dinas Dukcapil untuk melakukan pemenuhannya.

54

Setelah ditetapkannya Putusan MK No 97/PUU-XIV/2016, Dinask Kependudukan dan Catatan Sipil mempunyai dasar untuk memberikan pemenuhan hak masyarakat penghayat kepercayaan lokal untuk data kependudukan dengan Kepercayaan Pada Tuhan YME, sebagaimana tertera pada tampilan system DUKCAPIL sebagai berikut:

(Sumber: Dinas Dukcapil Kab Kepulauan Mentawai)

Dengan adanya pembaharuan dalam system Dinas Dukcapil terkait pilihan agama yang akan diisikan pada kolom KTP, Dinas Dukcapil telah responsive terhadap putusan MK sebagai upaya pemenuhan hak masyarakat Penghayat Kepercayaan Lokal Sabulungan. Kemudian, dalam system pelayanan kependudukan di Dinas Dukcapil terdapat 23 Jenis pelayanan dokumen kependudukan yang telah tersedia di dalam alplikasi, yaitu:

a. Kartu Keluarga (KK)

b. Kartu Tanda Penduduk (KTP) c. Surat Keterangan Pindah

d. Surat Keterangan Pindah datang WNI (SKPWNI) e. Surat Keterangan Pindah Ke Luar Negeri

f. Surat Keterangan Datang Dari Luar Negeri

55 g. Surat Keterangan Tempat Tinggal h. Surat Keterangan Kelahiran i. Surat Keterangan Lahir Mati

j. Surat Keterangan Pembatalan Perkawinan k. Surat Keterangan Pembatalan Perceraian l. Surat Keterangan Kematian

m. Surat Keterangan Pengangkatan Anak

n. Surat Keterangan Pelepasan Kewarganegaraan o. Surat Keterangan Pengganti Identitas

p. Surat Keterangan Pencatatan Sipil q. Akta Kelahiran

r. Akta Kematian s. Akta Perkawinan t. Akta Perceraian

u. Akta Pengangkatan Anak v. Akta Pengesahan Anak w. Data Kependudukan

Berdasarkan data tersebut di atas, peneliti mengidentifikasi terdapat beberapa jenis pelayanan Dinas Dukcapil yang terkualifikasi sebagai pememuhan hak keperdataan kepada masyarakat secara umum maupun terhadap pemeluk kepercayaan lokal Sabulungan, yaitu:

a. Surat Keterangan Pembatalan Perkawinan b. Surat Keterangan Pembatalan Perceraian c. Akta Kelahiran

d. Akta Kematian e. Akta Perkawinan f. Akta Perceraian

g. Akta Pengangkatan Anak h. Akta Pengesahan Anak

2. Pemenuhan Hak Keperdataan Oleh Lembaga Perbankan

56

Dalam menjelaskan tentang pemenuhan hak keperdataan bagi penganut kepercayaan Sabulungan di Kabupaten Kepulauan Mentawai, perlu difahami terlebih dahulu terkait dengan hukum perdata. Hukum perdata merupakan disiplin ilmu hukum yang mengatur tentang hubungan antara subjek hukum yang satu (individu) dengan subjek hukum lainnya baik itu antara manusia dengan manusia lainnya atau manusia dengan badan hukum.

Dari terminology hukum perdata tersebut tergambar dengan jelas garis demarkasi tentang hubungan hukum antar subjek hukum dalam hukum perdata yaitu individu dengan individu maupun individu dengan koorporasi atau korporasi dengan korporasi. Hubungan hukum tersebut merupakan suatu keniscayaan yang tidak dapat dihindari sebagai zoon politicon tanpa mengklasifikasikan strata social, etnis, suku maupun keprcayaan atau agama yang dianut oleh subjek hukum itu. Karena hubungan hukum hanya dapat dilakukan oleh subjek hukum, yaitu orang yang dapat mengemban hak dan kewajiban serta tidak di bawah pengampuan.

Dalam kaitannya dengan penelitian ini adalah adanya suatu kewajiban oleh Negara termasuk Lembaga Keuangan Bank yang berstatus Badan Usaha Milik Negara (termasuk daerah) untuk melakukan pemenuhan hak-hak keperdataan dari para subjek hukum. Khususnya subjek hukum penganut kepercayaan lokal Sabulungan di Kabupaten Kepulauan Mentawai yang akan melakukan hubungan hukum dengan lembaga keuangan Bank. Hubungan hukum dimaksud meliputi pemanfaatan fasilitas perbankan seperti deposito, tabungan, kredit atau pembiayaan nasabah lainnya.

Artinya lembaga perbankan dituntut melakukan pemenuhan hak keperdataan terhadap warga Negara tanpa terkecuali untuk menggunakan fasilitas perbankan sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang.

Maka pasca ditetapkannya Putusan Mahkamah Konstitusi No 97/PUU-XIV/2016 yang berlaku sebagai umbera act dan memberikan jaminan

57

kepastian hukum bagi para penganut kepercayaan lokal serata dengan agama. Dengan demikian, jika dokumen kependudukan telah mengakomodir eksistensi masyarakat penganut kepercayaan lokal dalam kolom KTP, maka pihak perbankan seharusnya juga dalam persepsi yang sama untuk memberikan pemenuhan hak keperdataan berupa fasilitas berbankan terhadap penganut kepercayaan lokal Sabulungan di Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Untuk mengetahui pemenuhan hak keperdataan bagi penganut kepercayaan lokas Sabulugan di Kabupaten Kepulauan Mentawai, berikut data yang telah peneliti himpun dari lembaga perbankan, yaitu:

a. Bank Nagari Cabang Mentawai

Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Bagain Keuangan dan Kas Bank Nagari Mentawai pada 1 Juli 2021, bahwa Bank Nagari pada dasarnya telah respon terhadap Putusan Mahkamah Konstitusi yang memberikan jaminan akan konstitusionalitas penghayat kepercayaan lokal termasuk Sabulungan di Kabupaten Kepulaun Mentawai. Respon positif ditunjukan Bank Nagari dengan melakukan penyempurnaan pada system internal. Penyempurnaan ini dengan menambahkan pilihan agama dalam system yang semula hanya mengakomodir 6 agama resmi saja seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu ditambah dengan kepercayaan Lokal.

Pemenuhan hak keperdataan dapat diberikan oleh Bank Nagari terhadap calon nasabah yang menganut kepercayaan lokal Sabulungan sepanjang calon nasabah memenuhi persyaratan administrative berupa e-KTP yang dikeluarkan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil serta persyaratan internal perbankan lainnya. E-KTP merupakan dokumen kependudukan yang umum untuk dijadikan sebagai syarat administrative, karena dalam dalam e-KTP telah dikonstruksikan sesuai dengan kebutuhan perbankan. Pihak bank hanya cukup menginput NIK dalam e-KTP calon nasabah maka pihak bank sudah

58

dapat mengakses seluruh data lainnya termasuk data agama atau kepercayaan.

Maka, Bank Nagari akan memberikan hak keperdataan kepada masyarakat penganut kepercayaan lokal Sabulungan sebagai calon nasabah sepanjang telah mencukupi syarat administrative dan tidak melanggar peraturan perundang-undangan dalam memanfaatkan fasilitas perbankan serta peraturan tambahan lainnya seperti analis kredit 5 C, (Capital, Carracter, Capacity, Collateral and Condition).

Berikut tampilan pada system perbankan Bank Nagari terhadap penghayat Sabulungan yang akan memanfaatkan fasilitas perbankan:

(sumber: Bank Nagari Cabang Mentawai)

b. Bank Negara Indonesia (BNI) Kantor Kas Kabupaten Kepulauan Mentawai

Selanjutnya, pemenuhan hak keperdataan terhadap penghayat kepercayaan lokal Sabulungan di Kabupaten Kepulauan Mentawai dapat dilihat pada Bank Negara Indonesia BNI). Di mana sejak ditetapkan Putusan Mahkamah Konstitusi, Bank BNI juga mengakomodir sepenuhnya calon nasabah tanpa membedakan kepercayaan yang di anutnya. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Taufan Custumor Service Bank BNI Kantor Kas Tuahpejat pada

59

5 Juli 2021 menjelaskan bahwa terhitung pada tahun 2019 terdapat 3 (tiga) nasabah, tahun 2020 terdapat 1 (satu) nasabah yang menganut kepercayaan lokal Sabulungan.

Ini merupakan novum atas pemenuhan hak keperdataan kepada penghayat kepercayaan lokal Sabulungan oleh Bank BNI di Kabupaten Kepulauan Mentawai dan ini berlaku secara nasional dalam memberikan fasilitas perbankan terhadap kepercayaan lokal lainnya.

Novelty lainnya peneliti juga memperoleh tampilan pada system perbankan Bank BNI dalam pemenuhan hak keperdataan penganut kepercayaan lokal Sabulungan maupun kepercayaan lainnya dalam pemanfaatan hak pekerdataan sebagai mana tersebut di bawah ini:

(sumber: Bank BNI Mentawai)

c. Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Mentawai

Bank BRI sebagai Bank BUMN telah menyebar ke seluruh penjuru negeri mulai dari kota hingga ke pelosok nusantara. Begitu juga keberadaan Bank BRI di Kabupaten Kepulauan Mentawai juga telah menyebar dengan baik di seluruh wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai meliputi Pulau Sipora, Pulau Siberut dan Pulau Sikakap.

Berdasarkan hasil wawancara bersama Bapak Metrozze, S.H. Account Officer Bank BRI menjelaskan sejak awal dalam system perbankan BRI telah difasilitasi dengan pilihan agama meliputi 6 agama resmi

60

dan 1 pilihan lainnya. Pilihan lainnya ini adalah aplikasi untuk calon nasabah yang tidak memeluk 1 dari 6 agama resmi. Ketika Custumor Service melayani nasabah yang tidak memeluk agama resmi atau penganut kepercayaan lokal, maka CS dapat memilih menu agama lainnya dan dilanjutkan dengan mengetik secara manual kepercayaan yang dianut oleh calon nasabah. Langkah selanjutnya CS mengklik LANJUT pada menu yang tersedia pada aplikasi, namun proses tidak dapat dilanjutkan. Artinya terdapat kendala bagi penghayat kepercayaan lokal untuk menggunakan jasa perbankan pada Bank BRI.

Berikut adalah tampilan pada system aplikasi perbankan Bank BRI:

3. Pemenuhan Hak Keperdataan Dalam Kebebasan Berkontrak bagi Penghayat Kepercayaan Lokal Sabulungan

Masyarakat penghayat kepercayaan lokal Sabulungan merupakan sekelompok masyarakat yang hidup bersama dalam suatu komunitas terorganisir dalam wilayah Kabupaten Kepualauan Mentawai. (Taufiq El Rahman, 2011) sebagai mahluk sosial, maka masyarakat penghayat kepercayaan Sabulungan dalam hidup dan kehidupan selalu berinteraksi antara satu dengan lainnya. Artinya, banyak timbul hubungan hukum baru

61

di masyarakat di mana hal itu muncul karena adanya kebutuhan yang mendesak terutama yang berkaitan dengan bidang sosial dan ekonomi.

Agar hubungan hukum itu tidak menimbulkan konflik, maka oleh para pihak kemudian aturan-aturan yang diwadahi dalam suatu perjanjian.

Perjanjian adalah perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap orang lain atau lebih (Pasal 1313 KUHPerdata). Suatu perjanjian sah apabila dilakukan oleh subjek hukum yang telah cakap hukum serta memenuhi asas-asas serta syarat sahnya perjanjian. (Doni Rachvi Hendra, 2021). Adapun asas dan syarat sahnya perjanjian adalah sebagai berikut: (Roni Efendi dan Hebby Rahmatul Utamy, 2020)

a. Asas-Asas Perjanjian

1) Asas Konsensualisme, asas ini dapat dikemukakan dalam Pasal 1320 KUHPerdata yang mensyaratkan adanya kesepakatan sebagai sahnya suatu perjanjian. Meskipun demikian, perlu diperhatikan bahwa terhadap asas konsensualisme terdapat pengecualian, yaitu dalam perjanjian riil dan perjanjian formil yang mensyaratkan adanya penyerahan atau memenuhi bentuk tertentu yang disyaratkan oleh undang-undang.

2) Asas Pacta Sunservanda, dasar teoritik mengikatnya kontrak bagai para pihak yang umumnya dianut di negara-negara civil law dipengaruhi oleh hukum Kanonik. Hukum Kanonik dimulai dari disiplin penitisial bahwa setiap janji itu mengikat. Dari sinilah kemudian lahir prinsip pacta sunt servanda. Menurut asas ini kesepakatan para pihak itu mengikat sebagaimana layaknya undang-undang bagai para pihak yang membuatnya.

3) Asas Kebebasan berkontrak yaitu Asas kebebasan berkontrak merupakan tiang dari sistem hukum perdata, khususnya hukum perikatan yang diatur Buku III KUHPerdata. Bahkan menurut Rutten, hukum perdata, khususnya hukum perjanjian, seluruhnya didasarkan pada asas kebebasan berkontrak. Asas kebebasan

62

berkontrak yang dianut hukum Indonesia tidak lepas kaitannya dengan Sistem Terbuka yang dianut Buku III KUHPerdata merupakan hukum pelengkap yang boleh dikesampingkan oleh para pihak yang membuat perjanjian. Dengan asas kebebasan berkontrak orang dapat menciptakan perjanjian-perjanjian baru yang dikenal dalam Perjanjian Bernama dan isinya menyimpang dari Perjanjian Bernama yang diatur oleh undang-undang.

4) Asas Kepatutan, asas ini berkaitan dengan ketentuan mengenai isi perjanjian, pengaturan asas ini ditegaskan dalam Pasal 1339 KUHPerdata, yaitu perjanjian-perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-hal dengan tegas dinyatakan di dalamnya, tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat perjanjian, diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan atau undang-undang.

5) Asas Keseimbangan yaitu suatu asas yang dimaksudkan untuk menyelaraskan pranata-paranata hukum dan asas-asas pokok hukum perjanjian yang dikenal di dalam KUHPerdata berdasarkan pemikiran dan latar belakang individualisme pada satu pihak dan cara pikir bangsa Indonesia pada pihak lain.

b. Syarat Syahnya Perjanjian

Dalam Pasal 1320 KUHPerdata telah ditentukan bahwa untuk sahnya suatu perjanjian harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1) Kesepakatan para pihak

2) Kecakapan untuk membuat suatu perikatan 3) Suatu hal tertentu

4) Suatu sebab yang halal.

c. Unsur Perjanjian

1) Essentialia, unsur yang sangat esensi/ penting dalam suatu perjanjian yang harus ada. Bagian ini merupakan sifat yang harus ada di dalam perjanjian, sifat yang menentukan atau menyebabkan perjanjian itu tercipta.

63

2) Naturalia, untuk perjanjian yang sewajarnya ada jika tidak dikesampingkan oleh kedua belah pihak.

3) Accidentalia, unsur perjanjian yang ada jika dikehendaki oleh kedua belah pihak.

Dari uraian di atas, jelas bahwa KUHPerdata tidak mengatur subjek hukum dalam perikatan ditentukan berdasarkan agama atau kepercayaan yang dianut oleh para pihak. Sepanjang syarat sahnya perjanjian terpenuhi maka perjanjian yang dibentuk dapat diberlakukan serta berlaku sebagai undang-undang bagi para pembuatnya. Dengan demikian aliran penghayat Sabulungan sebagai suatu kepercayaan sebagian masyarakat Kabupaten Kepulauan Mentawai tidak dapat dijadikan sebagai alasan oleh Notaris untuk menolak dalam membuat suatu perikatan.

Hal ini didasarkan pada asas prefensi yang dianut oleh suatu Negara Hukum yakni equality before the law, yang mengajarkan hak dan kewajiban masyarakat itu sama di hadapan hukum tanpa harus dibedakan status sosial, agama, pangkat dan jabatan dan lain sebagainya. Di samping itu juga Mahkamah Konstitusi melalui putusannya telah menjamin konstitusionalitas keberadaan penghayat kepercayaan setara dengan agama. Sekalipun putusan MK nomor 97/PUU-XIV/2016 ini tidak menyebutkan secara eksplisit aliran Sabulungan, tetapi putusan MK tersebut berlaku secara integral sebagai paying hukum bagi masyarakat penghayat aliran kepercayaan termasuk di dalamnya adalah kepercayaan lokal Sabulungan.

Maka dengan tidak menerima masyarakat pengahayat kepercayaan dalam membuat hubungan hukum melalui perikatan, berarti Notaris telah melakukan penderogasian terhadap hak asasi manusia yang telah ditetapkan secara konstitusional melalui UUDTahun 1945 serta bertentangan dengan Undang-Undang Jabatan Notaris. Position of Notary is regulated in Law of the Republic of Indonesia No 30 of 2004 on Notary Position as amended by Law of the Republic of Indonesia No 2 of 2014 on

64

Amendment Law of the Republic of Indonesia No 30 of 2004 on Amendment to Law of the Republic of Indonesia Number 30 of 2004 on Notary Position (then referred to as UUJN). Article 1 of the UUJN states that a Notary is authorized to make an authentic deed as long as the making of certain authentic deed is not specific to other public officials.

The making of an authentic deed by a Notary, not only because it is required by laws and regulations, but also because it is desired by the related parties to ensure the rights and obligations of the parties for certainty, order and legal protection for related parties as well as for society as a whole. (Meilisa Fitri Harahap dan Roni Efendi, 2020)

E. Kepatuhan Stakeholder Untuk Melaksanakan Putusan