• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hak Sipil Sebagai Constitusional Rigths

Pencatatan sipil merupakan pencatatan terhadap peristiwa penting yang dialami oleh seseorang dalam suatu buku register pencatatan sipil yang dilakukan oleh Negara. Peristiwa penting yang perlu dicatat adalah peristiwa yang dialami oleh penduduk yang membawa akibat terjadinya perubahan hak-hak keperdataan, maupun lahirnya hak-hak keperdataan atau hapusnya hak-hak keperdataan. Jadi yang dicatat adalah setiap peristiwa perdata yang dialami seseorang dengan tujuan agar peristiwa itu dapat diketahui dengan jelas.

Pada dasarnya pencatatan sipil itu dilakukan untuk mencatatkan peristiwa perdata yang dialami penduduk karena adanya perubahan terhadap status sipil dari sebelumnya belum ada, seperti perkawinan, kelahiran, perceraian hal ini

22

yang dikenal dengan hak sipil dalam sudut pandang hukum perdata. (M.

Jafar, 2011)

Hak sipil dalam sudut pandang hukum perdata dalam implementasinya dilakukan oleh lembaga Pencatatan Sipil. Lembaga pencatatan sipil yang ada saat ini merupakan kelanjutan dari Belanda yang dinamakan Burgerlyke Stand, yaitu sebagai suatu lembaga yang diadakan oleh pemerintah Belanda dengan maksud membukukan selengkap mungkin dan memberikan kepastian hukum tentang semua peristiwa penting dari hak keperdataan seperti, kelahiran, perkawinan, perceraian, pengangkatan anak dan kematian.

Pemberlakuan pencatatan sipil oleh pemerintah Hindia Belanda sesuai dengan politik hukum pemerintah dan penggolongan penduduk di Hindia Belanda sesuai dengan Pasal 131 juncto Pasal 163 Indische Staats Regeling.

Sebagai akibat dari politik pemerintah Hindia Belanda, maka aturan pencatatan sipil di Indonesia yang berlaku bagi penduduk tidak seragam aturan hukumnya, yaitu:

1. Reglemen Catatan Sipil Stb.1849-25 tentang Pencatatan Perkawinan dan Perceraian bagi warga negara Indonesia keturunan Eropah.

2. Reglemen Catatan Sipil Stb.1917-130 jo.Stb.1919-81 tentang Pencatatan Perkawinandan Perceraian bagi warga Negara Indonesia keturunan Cina.

3. Reglemen Catatan Sipil Stb.1933-75 jo. Stb. 1936-607 tentang Pencatatan Perkawinan dan Perceraian bagi warga Negara Indonesia yang beragama Kristen di Jawa, Madura, Minahasa, Ambon, dan sebagainya.

4. Reglemen Catatan Sipil Stb.1904-279 tentang Pencatatan Perkawinan dan Perceraian bagi warga Negara Indonesia perkawinan campuran.

5. Reglemen Catatan Sipil Stb.1920-751 jo. Stb.1927-564 tentang Pencatatan Kelahiran dan Kematian bagi warga Negara Indonesia asli di Jawa dan Madura.

Berdasarkan ketentuan tersebut di atas bahwa pemerintah Hinda Belanda belum memperhatikan secara serius mengenai pencatatan sipil dalam bidang hukum perdata bagi orang-orang yang beragama Islam. Ketentuan pencatatan sipil hak keperdataan bagi orang-orang yang beragama Islam baru

23

diberlakukan setelah Indonesia merdeka yaitu melalui Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1954 tentang pencatatan nikah, talak dan rujuk bagi warga Indonesia yang beragama Islam.

Urgensi pencatatan sipil dalam bidang hukum perdata menurut UU Adminduk, adalah pencatatan terhadap peristiwa penting yang dialami seseorang dalam register pencatatan sipil pada instansi pelaksana. Peristiwa penting dalam bidang keperdataan di antaranya adalah: (M. Jafar, 2011) 1. Kelahiran

Kepastian hukum mengenai kelahiran menentukan status perdata mengenai dewasa atau belum dewasa seseorang. Kepastian hukum mengenai perkawinan menentukan status perdata mengenai boleh atau tidaknya melangsungkan perkawinan dengan orang lain lagi. Kepastian hukum mengenai perceraian menetukan status perdata untuk bebas mencari pasangan lain. Kepastian hukum mengenai kematian menentukan status perdata sebagai ahli waris dan keterbukaan waris.

2. Kematian

Sebagian masyarakat tidak menyadari bahwa memiliki dokumen kependudukan adalah hal yang sangat penting, namun tidak semua masyarakat menyadari tentang hal tersebut teutama yang berkaitan dengan dokumen akta kematian. Seseorang yang sudah meninggal keluarganya harus segera mengurus akta kematiannya.(Fasya et al., 2021).

Pencatatan kematian diatur dalam Pasal 44 UU Adminduk Ayat (1) Setiap kematian wajib dilaporkan oleh keluarganya atau yang mewakili kepada Instansi Pelaksana paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal kematian. Ayat (2) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) Pejabat Pencatatan Sipil mencatat pada Register Akta Kematian dan Penerbitan Kutipan Akta Kematian.

3. Perkawinan

Perkawinan dalam Pasal 1 Undang-undang Nomor 16 Tahun 2019 Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 (Selanjutnya ditulis UU Perkawinan) merupakan ikatan lahir batin antara seorang pria

24

dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Maka perkawinan adalah sunnatullah sebagai suatu cara yang dipilih oleh Allah SWT untuk manusia dalam melanjutkan keturunan serta me-lestarikan kehidupan. (Muhmmad Farhan, 2020) kemudian, perkawinan hanya sah bila dilakukan di hadapan pegawai pencatat nikah, pada ketentuan ini sangat penting bagi setiap orang yang melakukan peristiwa hukum dalam hubungan keperdataan berupa perkawinan untuk mencatatkannya baik di kantor catatan sipil maupun di kantor urusan agama.

4. Perceraian

Perceraian merupakan institusi yang digunakan untuk melepaskan ikatan perkawinan. Menurut Pasal 113 Kompilasi Hukum Islam perceraian merupakan salah satu dari sebab putusnya perkawinan. Pada pasal tersebut dinyatakan bahwa perkawinan dapat putus karena kematian, perceraian, dan atas putusan Pengadilan. Sekalipun perkawinan seyogyanya dilakukan untuk seumur hidup, ketika tidak dapat dipertahankan lagi karena suatu sebab, maka Islam memberi jalan terakhir berupa perceraian. Perceraian ini dalam Islam disebut sebagai sesuatu yang paling dibenci dari yang termasuk pada kategori halal. Undang-undang dirancang agar perceraian ini tidak dilakukan secara serampangan, ketika seorang suami tidak senang kepada istrnya lalu meninggalkannya begitu saja misalnya. Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan dengan alasan yang dibatasi yaitu yang hanya disebutkan secara eksplisit di dalam peraturan perundang-undangan.(Juriyana Megawati Hasibuan, 2020)

5. Pengakuan Anak

Pencatatan anak sebagai bagian dari hak sipil yang terkategori dalam hak keperdataan telah ditetapkan dalam Pasal 49 UU Adminduk yaitu (1) Pengakuan anak wajib dilaporkan oleh orang tua pada Instansi Pelaksana paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal Surat Pengakuan Anak oleh ayah dan disetujui oleh ibu dari anak yang bersangkutan. (2)

25

Kewajiban melaporkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikecualikan bagi orang tua yang agamnya tidak membenarkan pengakuan anak yang lahir di luar hubungan perkawinan yang sah. (3) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pejabat Pencatatan Sipil mencatat pada Register Akta Pengakuan Anak dan menerbitkan Kutipan Akta Pengakuan Anak.

6. Pengangkatan Anak

Sebagai bagian dari hak keperdataan, pengangkatan anak harus dicatatkan, hal ini diatur dalam Pasal 47 UU Adminduk sebagai berikut:

(1) Pencatatan pengangkatan anak dilaksanakan berdasarkan penetapan pengadilan di tempat tinggal pemohon. (2) Pencatatan pengangkatan anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilaporkan oleh Penduduk kepada Instansi Pelaksana yang menerbitkan Kutipan Akta Kelahiran paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah diterimanya salinan penetapan pengadilan oleh Penduduk (3) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Pejabat Pencatatan Sipil membuat catatan pinggir pada Register Akta Kelahiran dan Kutipan Akta Kelahiran.

7. Pengesahan Anak

Pencatatan pengesahan anak diatur pada Pasal 50 UU Adminduk yaitu (1) Setiap pengesahan anak wajib dilaporkan oleh orang tua kepada Instansi Pelaksana paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak ayah dan ibu dari anak yang bersangkutan melakukan perkawinan dan mendapatkan akta perkawinan. (2) Kewajiban melaporkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikecualikan bagi orang tua yang agamanya tidak membenarkan pengesahan anak yang lahir diluar hubungan perkawinan yang sah. (3) Berdasarkan laporan pengesahan anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pejabat Pencatatan Sipil membuat catatan pinggir pada Akta Kelahiran.

8. Perubahan Kewarganegaraan.

Perubahan status kewarganegaraan di Indonesia adalah bagian dari hak keperdataan yang harus dicatatkan, hal ini diatur dalam Pasal 53 UU

26

Adminduk yaitu (1) Perubahan status kewarganegaraan dari warga negara asing menjadi Warga Negara Indonesia wajib dilaporkan oleh Penduduk yang bersangkutan kepada Instansi Pelaksana di tempat peristiwa perubahan status kewarganegaraan paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak berita acara pengucapan sumpah atau pernyataan janji setia oleh pejabat. (2) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pejabat Pencatatan Sipil membuat catatan pinggir pada register akta Pencatatan Sipil dan kutipan akta Pencatatan Sipil.

Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pada hakikatnya berkewajiban untuk memberikan perlindungan dan pengakuan terhadap penentuan status pribadi dan status hukum setiap Peristiwa Kependudukan dan Peristiwa Penting yang dialami oleh Penduduk yang berada di dalam dan/atau di luar wilayah Republik Indonesia.

Dalam pemenuhan hak-hak keperdataan, terutama di bidang hak sipil, masih ditemukan penggolongan Penduduk yang didasarkan pada perlakuan diskriminatif yang membeda-bedakan suku, keturunan, dan agama atau kepercayaan sebagaimana diatur dalam berbagai peraturan produk kolonial Belanda. Penggolongan Penduduk dan pelayanan diskriminatif yang demikian itu tidak sesuai dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

27

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode adalah proses, prinsip-prinsip dan tata cara memecahkan suatu masalah, sedangkan penelitian adalah pemeriksaan secara hati-hati, tekun dan tuntas terhadap suatu gejala untuk menambah pengetahuan manusia, maka metode penelitian dapat diartikan sebagai proses prinsip-prinsip dan tata cara untuk memecahkan masalah dalam melakukan penelitian. (Soejono Soekanto, 2012)

Penelitian hukum merupakan kegiatan ilmiah, yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu, dengan jalan menganalisisnya juga diadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta hukum tersebut, untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas permasalahan-permasalahan yang timbul di dalam gejala yang bersangkutan. (Soejono Soekanto, 2012) A. Jenis Penelitian

Penelitian karya ilmiah berupa penelitian ini berjenis penelitian hukum yuridis empiris yaitu penelitian yang bertujuan untuk meneliti asas-asas hukum, sistematika hukum, sinkronisasi hukum, sejarah hukum dan perbandingan. Penelitian yuridis empiris adalah mengidentifikasi dan mengkonsepsikan hukum sebagai institusi sosial yang riil dan fungsional dalam sistem kehidupan yang mempola. (Soejono Soekanto dan Sri Mamudji, 2011) maksudnya adalah dengan mengkonfirmasikan ketentuan hukum dan hak asasi manusia dengan pemenuhan hak-hak keperdataan terhadap penganut kepercayaan Sabulungan di Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Metode penelitian dalam penelitian ini adalah penelitian hukum empiris (sosio legal research). Metode pendekatan penelitian menggunakan metode penelitian hukum empiris berkaitan dengan penggunaan dan memilih metode, maka penggunaan metode tergantung pada objek dan tujuan dari penelitian yang bersangkutan. (Gomgom T.P.

Siregar, 2020). Penelitian empiris ini dengan tipologi kualitatif, yaitu

28

dengan secara langsung mengamati pemernuhan hak-hak keperdataan terhadap penganut penghayat kepercayaan Sabulungan masyarakat kabupaten Kepulauan Mentawai kemudian mendeskripsikan hasil temuan kedalam gambaran dan penjelasan secara kualitatif.

B. Sumber Data

1. Sumber Data Primer

Sumber data primer dapat diperoleh dengan cara penelitian lapangan (field research), bahwa penelitiakan mengumpulkan data-data konkrit berupa data primer. Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari sumber pertama. (Sumardi Suryabrata, 1998) Sumber data utama dalam penelitian ini di antaranya:

a. Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Kepulauan Mentawai

b. Kepala Cabang Bank Nagari Kabupaten Kepulauan Mentawai c. Kepala Cabang Bank Negara Indonesia Kabupaten Kepulauan

Mentawai

d. Kepala Cabang Bank Rakyat Indonesia Kabupaten Kepulauan Mentawai

e. Notaris

f. Bapak Aprijon, S.H.I. Kepala Desa Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara Kabupaten Kepulauan Mentawai.

g. Bapak Daniel Subagalet sebagai Sekretaris Desa Madobag Kecamatan Siberut Selatan Kabupaten Kepulauan Mentawai.

2. Sumber Data sekunder diperoleh dari kajian literasi perpustakaan (library reaserach), artinya penelitian ini dilakukan dengan menelaah literatur-literatur yang relevan dengan objek kajian yakni pembahasan tentang hak asasi manusia serta peraturan perundang-undangan. Dalam penggunaan data sekunder ini, termasuk juga di dalamnya mempedomani sumber bahan hukum, yaitu:

a. Sumber bahan hukum primer

29

Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang mempunyai otoritas (autoritatif). Bahan hukum primer terdiri atas peraturan perundang-undangan, catatan-catatan resmi atau risalah dalam pembuatan suatu peraturan perundang-undangan.

Misalnya kajian akademik yang diperlukan dalam pembuatan suatu rancangan peraturan perundang-undangan dan/ atau peraturan daerah. Kemudian, bahan hukum primer juga dapat berupa putusan pengadilan.(Zainuddin Ali, 2011) Dalam penelitian ini bahan hukum primer yang akan digunakan di antaranya:

1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945.

2) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

3) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesagan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik)

4) Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 97/PUU-XIV/2016.

b. Sumber bahan hukum sekunder

Bahan hukum sekunder merupakan bahan-bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan-bahan hukum primer yang diperoleh dari studi kepustakaan berupa literatur-literatur yang relevan dengan objek kajian.Bahan hukum sekunder dalam penelitian ini di antaranya:

a) Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor XVII/MPR/1998.

b) Universal Declaration of Human Rights.

c) International Covenan on Civil and Political Rights.

C. Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, pengumpulan data dilakukan dengan cara:

30 1. Wawancara

Wawancara adalah situasi peran antara pribadi bertatap muka (face to face) ketika seseorang yaitu antara pewawancara dalam hal ini adalah peneliti dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dirancang dan berkaitan dengan hak keperdataan penghayat kepercayaan lokal Sabulungan untuk memperoleh jawaban-jawaban yang relevan dengan objek penelitian.(Amiruddin dan Zainal Asikin, 2004) Dalam hal ini, wawancara akan dilakukan terhadap beberapa sumber data primer sebagaimana tersebut di atas.

2. Studi Dokumen

Studi dokumen adalah teknik pengumpulan data yang berwujud sumber data tertulis atau gambar. Sumber tertulis atau gambar berwujud dokumen resmi, buku, majalah, arsip, dokumen pribadi, dan foto yang terkait dengan permasalahan yang diteliti yakni pemenuhan hak keperdataan bagi penganut kepercayaan Lokal Sabulungan di Kabupaten Kepulauan Mentawai. (Sudarto, 2002) Dalam peneltian ini dokumen yang dijadikan sebagai sumber data adalah dokumen pada Dinas Pencatatan Sipil Kabupaten Mentawai dan aplikasi pada system perbankan di Kabupaten Kepulauan Mentawai.

D. Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan data adalah kegiatan merapikan hasil pengumpulan data di lapangan, yaitu dengan cara menyeleksi atas dasar reabilitas dan validitasnya. (Sumardi Suryabrata, 2006) Data yang telah didapat dilakukan edditing yaitu meneliti kembali terhadap catatan-catatan, berkas-berkas, informasi yang dikumpulkan oleh pencari data yang diharapkan akan dapat meningkatkan mutu kehandalan (reabilitas) yang hendak dianalisis. (Amiruddin dan Zainal Asikin, 2004) Setelah lengkap data yang penulis kumpulkan dari masyarakat dan Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Mentawai, serta stakeholder lainnya, Peneliti

31

melakukan pengolahan data ketahap berikutnya yaitu cording yaitu proses untuk mengklasifikasikan jawaban-jawaban responden berdasarkan kriteria yang ditetapkan. (Bambang Sugono, 2001)

Artinya terhadap data yang diperoleh di lapangan, baik hasil wawancara dengan masyarakat lokal penganut aliran kepercayaan, Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Mentawai dan dokumen-dokumen yang diperoleh akan diolah secara komprehensif dan fundamental sesuai kriteria di atas untuk mendapatkan data yang benar-benar menunjang untuk menjawab objek kajian dalam penelitian ini.

Selanjutnya, Peneliti melakukan analisis data dengan menggunakan metode analisis kualitatif yaitu analisis yang dilakukan tidak dengan menggunakan angka-angka atau rumus statistik, melainkan dengan menggunakan kata-kata atau uraian kalimat dengan melakukan penilaian berdasarkan peraturan perundang-undangan, teori atau pendapat ahli, serta logika sehingga dapat ditarik kesimpulan yang logis dan merupakan jawaban dari permasalahan. Kemudian penulis juga menggunakan analisis isi (content analisis) yaitu teknik apapun yang digunakan untuk menarik kesimpulan melalui usaha menemukan karakteristik pesan dan dilakukan secara objektif dan sistematis.

E. Jadwal Penelitian

Agar lebih sistematis dan terukur, peneliti perlu menetapkan jadwal penelitian sebagai berikut:

No Kegiatan Waktu

1 Merumuskan Proposal Penelitian Januari s.d Februari 2021 2 Registrasi dan Submit Proposal s.d 4 s.d 20 Maret 2021 3 Verifikasi Proposal 15 s.d 27 Maret 2021 4 Penilaian Proposal oleh Reviewer secara

online 29 Maret s.d 3 April 2021

5 Seminar Proposal secara Daring 5 s.d 8 April 2021 6 Pengumuman Penerima Bantuan 14 April 2021

7 Pelaksanaan Penelitian April s.d September 2021 8 Monitoring dan Evaluasi Juni s.d Juli 2021

9 Progress Report (laporan antara) Agustus 2021 10 Seminar Hasil (Presentasi Hasil Luaran September 2021

32 Bantuan)

11 Penyerahan Laporan Hasil Oktober 2021

F. Anggaran Biaya

Pembiyaan penelitian ini ditanggung oleh Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Institut Agama Islam Negeri Batusangkar Tahun 2021 dengan maksimum anggaran Rp. 17.500.000,- (tujuh belas juta lima ratus ribus) rupiah sebagaimana terlampir.

33

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Wilayah Kabupaten Kepulaun Mentawai

1. Wilayah Administrasi

Kepulauan Mentawai merupakan gugusan pulau-pulau besar dan kecil yang terdapat di pantai barat Sumatera, berikut di jelaskan dalam bentuk tebel terkait wilayah administrasi Kabupaten Kepulauan Mentawai:

(“Badan Pusat Statistik Kabupaten Kepulauan Mentawai Statistics of Kepulauan Mentawai Regency,” 2020)

a. Batas Daerah Menurut Kecamatan di Kabupaten Kepulauan Mentawai Tahun 2020

34

b. Luas Daerah dan Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan di Kabupaten di Kabupaten Kepulauan Mentawai Tahun 2020

c. Jumlah Desa Menurut Kecamatan di Kabupaten Kepulauan Mentawai 2016-2020

35

d. Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan dan Agama yang dianut di Kabupaten Kepulauan Mentawai 2020

2. Keberadaan administratif Kabupaten Kepulauan Mentawai ini dikukuhkan berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 49 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Kepulauan Mentawai di Provinsi Sumatera Barat Tanggal 7 Juni 2000. Secara administratif wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai, berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Mentawai Nomor 15 Tahun 2002 telah mengalami pemekaran.

3. Luas wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai secara keseluruhan adalah 6.011,35 Km² atau 601.135 Ha.

B. Kondisi Wilayah

1. Ketinggian dan Kemiringan

Berdasarkan hasil intepretasi terhadap peta topografi, ketinggian lahan di wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai cukup bervariasi, mulai dari dataran rendah yang berawal dari jenis pasang surut (0-2 meter DPL) sampai dengan ketinggian 50 meter hingga 270 MDPL. Namun secara umum, ketinggian lahan di wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai ini didominasi ketinggian lahan antara 100 – 150 MDPL. Keadaan topografi Kabupaten Kepulauan Mentawai berdasarkan kelerengan terbagi atas:

a. Coastal land/Flat land, yaitu daerah yang bermula dari garis pantai dan menaik menjadi zona kelerengan 0 – 3 % menuju daratan. Pada

36

daerah sekitar pantai merupakan dataran rendah dan rawa-rawa serta berlumpur, pada saat pasang daerah ini terendam air laut, seperti di Muara Siberut, muara sikabaluan serta desa-desa lainnya di pinggir pantai.

b. Low land, yaitu daerah yang memiliki topografi yang berombak dengan kemiringan antara 3 – 8 %, dan secara umum sudah bebas dari pengaruh pasang surut.

c. Middle land, merupakan daerah berbatasan dengan Low land menuju arah perbukitan dengan zona kemiringan 8 – 25 %. Pada daerah ini sangat sesuai untuk pengembangan perkebunan atau tanaman keras seperti karet, cengkeh, kelapa, nilam, manau, coklat dan komoditas lainnya.

d. Up land, bentuk berbukit-bukit hingga daerah catchment sungai-sungai baik yang bermuara ke pantai barat maupun pantai timur pulau, dengan ketinggian antara 50–275 m di atas permukaan laut dan dengan kelerengan >25%. Sebagian besar kawasan ini merupakan kawasan lindung.

2. Geologi

Ditinjau dari segi litologis, Pulau Sipora dan Pulau Siberut mempunyai litologi batu lempungan dengan di beberapa tempat ada sisipan batu intrusive. Dari umur geologi dapat diindikasikan sebagai wilayah yang berumur resen dan masih muda. Untuk Pulau Siberut memiliki laju sedimentasi yang tinggi sehingga pulau ini juga merupakan pulau sedimentasi, yang dipenuhi oleh lumpur, tanah liat bercampur kapur yang masih relatif muda.

Selain itu, juga terdapat batuan (schist) dan tanah kwarts dari masa pra-miocene, beberapa batu kapur dari pra-miocene, serta vulkanis yang tersebar menunjukkan asalnya dari keadaan vulkanis Sumatera dari masa miocene.

Namun sebagian besar susunan geologis menunjukkan asal dari masa pliocene, pleistocene dan zaman baru. Struktur geologi Kepulauan Mentawai dibagi menjadi dua guguskepulauan yaitu gugus geologi Pulau

37

Siberut dan gugus geologi Pulau Sipora,Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan.

3. Mitigasi Bencana

Kepulauan Mentawai termasuk dalam kawasan potensi yang rawan bencana baik berupa gempa bumi (tektonik), gelombang besar tsunami, abrasi pantaidan longsor. Dari 43 desa yang ada, 33 desa diantaranya merupakan desapesisir, yang pada kondisi saat ini kawasan pesisir merupakan kawasan rawan bencana terhadap bahaya tsunami.

Sebagaimana yang telah terjadi padatanggal 25 Oktober 2010, bencana gempa bumi berkekuatan 7,2 SR (atau 7,5 SR menurut USGS) telah memicu terjadinya gelombang tsunami. Berdasarkan informasi dari BPBD Provinsi Sumatera Barat, kedalaman gempa bumi yang cukup dangkal dan terletak pada zona subduksi di bawah dasar laut tersebut telah memicu terjadinya gelombang tsunami dengan ketinggian gelombangmencapai 3 meter yang menghasilkan landaan tsunami sejauh 1 Kilometer kearah daratan.

Guncangan gempa dan gelombang tsunami tersebut telah menyebabkan kerusakan dan kerugian di 4 (empat) wilayah kecamatan di Kepulauan Mentawai, yaitu Kecamatan Sipora Selatan, Pagai Utara, Pagai Selatan dan Sikakap. Wilayah Kecamatan Pagai Selatan dan Pagai Utara merupakan daerah yang paling parah terkena dampak bencana yang mengakibatkan banyak korban jiwa dan kerusakan bangunan rumah serta sarana dan prasarana. Hal ini juga turut dipengaruhi oleh letak geografis wilayah Kecamatan Pagai Selatan yang berada dekat dengan pusat kejadian gempa dan terletak di pesisir pantai barat. Dengan kejadian tersebut di atas, mengakibatkan beberapa diantara 33 desa pesisir di wilayah ini terkena tsunami dan harus direlokasi ke tempat yang lebih aman.

C. Isu Strategis Sosial, Ekonomi dan Lingkungan 1. Kondisi Sosial

38

Dalam perencanaan tata ruang, kondisi sosial budaya pada hakekatnya merupakan aspek yang turut mempengaruhi pemanfaatan dan pengelolaan lingkungan yang terpadu. Eksploitasi bentang alam yang tidak memperhatikan kearifan lokal diduga akan menyebabkan krisis lingkungan. Budaya bermukim masyarakat dengan latar belakang sosial-budayanya telah menghasilkan produk lingkungan binaan sebagai wujud kearifan masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan alam.

Pemanfaatan dan pengelolaan lingkungan melalui proses perencanaan dan perancangan memerlukan pendekatan yang

Pemanfaatan dan pengelolaan lingkungan melalui proses perencanaan dan perancangan memerlukan pendekatan yang