0 on
Dr. Ulya Atsani, S.H., M.Hum.
Hidayati Fitri, S.Ag., M.Hum.
Nurhikma, S.Sy.,M.Sy.
PERLINDUNGAN HAK KEPERDATAAN PENGHAYAT SABULUNGAN SEBAGAI PENGANUT KEPERCAYAAN DI LUAR AGAMA RESMI
DI KEPULAUAN MENTAWAI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BATUSANGKAR
2021
COVER
LAPORAN PENELITIAN DASAR PENGEMBANGAN PROGRAM STUDI
Didanai Oleh DIPA IAIN Batusangkar Nomor 025.04.2.424069/2021 Dan
Dan Dilaksanakan Berdasarkan Kontrak
B-1378.f/In.27/ R/ IV/ TL.00/06/2021
1
DAFTAR ISI
COVER ... Error! Bookmark not defined.
DAFTAR ISI ... 1
BAB I ... 3
A. Latar Belakang Masalah ... 3
B. Rumusan Masalah ... 10
C. Tujuan Penelitian ... 11
D. Telaah Pustaka ... 12
BAB II ... 17
A. Negara Hukum ... 17
B. Teory Legal System ... 20
C. Hak Sipil Sebagai Constitusional Rigths ... 21
BAB III ... 27
A. Jenis Penelitian ... 27
B. Sumber Data ... 28
C. Metode Pengumpulan Data ... 29
D. Pengolahan dan Analisis Data ... 30
E. Jadwal Penelitian ... 31
F. Anggaran Biaya ... 32
BAB IV ... 33
A. Gambaran Wilayah Kabupaten Kepulaun Mentawai ... 33
B. Kondisi Wilayah ... 35
C. Isu Strategis Sosial, Ekonomi dan Lingkungan ... 37
D. Pemenuhan Hak Keperdataan Penghayat Kepercayaan Lokal Sabulungan di Kabupaten Kepulauan Mentawai Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi ... 51
E. Kepatuhan Stakeholder Untuk Melaksanakan Putusan Mahkamah Konstitusi dalam Pemenuhan Hak Keperdataan Penghayat Kepercayaan Lokal Sabulungan di Kabupaten Kepulauan Mentawai ... 64
BAB V ... 71
PENUTUP ... 71
A. Kesimpulan ... 71
B. Saran ... 73
2
3
BAB I
PERLINDUNGAN HAK KEPERDATAAN PENGHAYAT SABULUNGAN SEBAGAI PENGANUT KEPERCAYAAN DI LUAR AGAMA RESMI
DI KEPULAUAN MENTAWAI
A. Latar Belakang Masalah
Ubi societas ibi ius merupakan adagium yang mendeskripsikan entitas masyarakat dan regulasi (Marwan dan Jimmy, 2009; 620) sebagai patokan dalam hidup dan kehidupan masyakarat suatu Negara. Regulasi dimaksud baik tumbuh dengan sendirinya sebagai hukum tidak tertulis (Anton Soemarman, 2003)maupun dibuat oleh negara melalui pemerintah sebagai otoritas tertinggi (the supreme political authority) (Efendi, 2019) yang harus dipatuhi baik oleh pembuat hukum maupun masyarakat tanpa membedakan golongan, ras, dan suku.(Muhammad Sadi Is dan Sobandi, 2020)
Kehidupan berkelompok tidak akan berjalan harmonis tanpa hadirnya Negara dan hukum untuk mengaturnya. Sehingga, lahir ide Negara hukum sebagai bentuk Negara ideal bagi manusia agar terjamin perlindungan hak setiap warga negara.Eksistensi Negara begitu urgent karena ketidakhadiran Negara maka tidak terwujud komunitas manusia sebagai suatu kelompok.
Rosseau berpendapat bahwa Negara menjadi satu-satunya wujud komunal dalam berinterkasi sosial dan dipercaya membentuk manusia menjadi zoon politicon dan mengantarkan pada suatu pemikiran Negara adalah wujud dari komunal kehidupan yang lebih tinggi dari pada wujud kehidupan berkelompok lainnya.(Muhammad Sadi Is dan Sobandi, 2020)
Urgensi Negara bagi masyarakat relevan dengan tujuan bangsa Indonesia dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar tahun 1945 (UUD 1945) yakni melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia serta memberikan jaminan atas keadilan sosial. Hal ini memuat paradigma dan sikap bangsa terhadap pemenuhan serta perlindungan hak asasi manusia (HAM) yang bersumber dari ajaran agama dan kepercayaan, nilai
4
moral universal serta nilai luhur budaya bangsa berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. (Muhmmad Farhan, 2020)
Ham merupakan arus utama peradaban dunia, capaian tersebut adalah klimaks pergerakan kemanusiaan yang muncul dari awal peradaan baik pada tataran konsep maupun praktek sosial. Pemikiran tentang ham dapat ditelusuri sejak masa Yunani Kuno dalam sebagai tujuan dan orientasi utama kehidupan sosial maupun sebagai hak untuk bebas dari penindasan. (Al Araf dkk, 2010)
Ham merupakan seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara hukun, Pemerintahan, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.(Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tenga Hak Asasi Manusia, n.d.)
Mahkamah Konstitusi melalui putusannya Nomor 97/PUU-XIV/2016, menerangkan bahwa salah satu hak yang harus dilindungi oleh Negara adalah hak beragama, untuk menganut agama atau kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa merupakan hak konstitusional (constitutional rights) warga Negara, bukan pemberian Negara. Hak dasar untuk menganut agama, yang di dalamnya mencakup hak untuk menganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah bagian dari hak asasi manusia dalam kelompok hak sipil dan politik. Artinya hak untuk menganut agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa merupakan salah satu hak yang diturunkan dari atau bersumber pada hak alamiah dan hak ini melekat pada setiap orang karena, bukan pemberian Negara. Di Indonesia, pernyataan ini bukan sekedar doktriner melainkan telah menjadi norma dalam hukum dasar (konstitusi), sehingga mengikat seluruh kekuasaan negara dan warga Negara, sebab hal itu telah ditetapkan dalam:
Pasal 28E UUD 1945
(1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih
5
kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah Negara dan meninggalkannya, serta berak kembali.
(2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.
Pasal 29 Ayat (2)
(2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu.
Bahwa apabila norma hukum dasar di atas dihubungkan secara sistematis, terdapat dua point penting, Pertama, Pasal 28E Ayat (1) dan Ayat (2) UUD 1945 merupakan bagian dari Bab XA yang terkait dengan hak asasi manusia, sedangkan Pasal 29 merupakan isi dari Bab XI terkait dengan agama. Dengan demikian, Pasal 28E Ayat (1) dan Ayat (2) berisikan pengakuan terhadap hak setiap manusia untuk memeluk agama dan hak untuk menyakini kepercayaan. Pengakuan tersebut membawa implikasi bahwa memeluk agama dan meyakini kepercayaan merupakan hak yang melekat pada setiap orang. Sebagai konsekuensinya, Pasal 29 UUD 1945 muncul dengan rumusan sebagaimana tersebut di atas, artinya Pasal 28E Ayat (1) dan Ayat (2) merupakan pengakuan konstitusi terhadap hak atas kebebasan beragama dan berkeyakinan bagi siapapun, sedangkan Pasal 29 merupakan penegasan atas peran yang harus dilakukan oleh Negara untuk menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama dan keyakinan yang dianutnya.
Berdasarkan uraian di atas, menjadi tetap ketika Pasal 28I Ayat (1) UUD 1945 menegaskan hak ini adalah bagian dalam kelompok hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun (non derogable rights). Lebih jauh, karena hak beragama dan menganut kepercayaan sebagai bagian dari hak asasi manusia sekaligus sebagai hak konstitusional maka timbul kewajiban atau tanggung jawab bagi Negara terutama pemerintah untuk menghormati, melindungidan memenuhihak tersebut.
6
Konstitusi menempatkan agama berkaitan dengan kepercayaan, di mana agama adalah kepercayaan itu sendiri. Hanya saja, dengan membaca dan memahami keberadaan Pasal 28E Ayat (1) dan (2) UUD 1945, agama dan kepercayaan sangat mungkin dipahami sebagai dua hal yang berbedanamun keduanya sama-sama diakui eksistensinya.
Kebebasan beragama dan menganut kepercayaan telah diatur dalam Penetapan Presiden Nomor 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama secara resmi hanya mengakui enam agama, yakni Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Budha dan Khonghucu.
Pernyataan ini telah menjadi pemahaman umum dan memunculkan anggapan bahwa agama-agama di luar itu dipandang bukanlah sebagai agama yang diakui. Pemahaman ini kemudian diadobsi ke dalam produk legislasi dan praktek birokrasi. Akibat lebih jauh berimplikasi pada pengecualian hak-hak kewarganegaraan para penganut agama yang dipandang tidak diakui. Mulai dari minimnya pengakuan persamaan kedudukan di muka hukum dan pemerintahan, diskriminasi pelayanan publik, pembatasan hak beragama, bahkan sampai memunculkan intoleransi di tengah-tengah masyarakat (YLBHI, 2019).
Salah satu bukti empiris yang memperlihatkan terjadinya diskriminasi terhadap kepercayaan di luar agama yang diakui adalah kepercayaan Sabulungan di Kabupaten Kepalauan Mentawai. Kornelius Glossanto (2019:
2) dalam tesisnya menyatakan bahwa Sabulungan merupakan kepercayaan lokal masyarakat Mentawai yang mengakui keradaan dan pengaruh roh-roh alam sebagai keselarasan mausia dan lingkungannya. Pada tahun 1954 terjadi peristiwa pelarangan terhadap ajaran Sabulungan yang dikenal dengan rekomendasi rapat tiga agama. Peristiwa ini tidak dapat dilepaskan dari upaya Negara melakukan penertiban terhadap agama bentuk pengakuan tehadap sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Akibatnya pada waktu itu pemerintah melakukan pelarangan bahkan dengan kekerasan karena Sabulungan dianggap sebagai ajaran primitiv dan bertentangan dengan Pancasila.
7
Setelah lebih dari enam dekade pasca peristiwa rapat tiga agama tahun 1954, ternyata kepercayaan lokal Sabulungan tidak benar-benar hilang dari masyarakat Mentawai. Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 2020, terlihat dari data Agama yang dianut oleh Masyakat Kabupaten Kepulauan Mentawai Provinsi Sumatera Barat sebagai berikut:
Tabel 1
Agama Penduduk Kapaten Kepulauan Mentawai
Dari tabel tersebut di atas dapat dianalisis terdapat 172 jiwa yang memilih menganut agama dan kepercayaan sesuai dengan keyakinan merekadengan terminology penganut kepercayaan lokal Sabulungan. Arat Sabulungan adalah kepercayaan asli bagi masyarakat suku bangsa Mentawai yang berasal dari Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat, teristimewa orang Sakuddei di Pulau Siberut secara bahasa, Arat berarti adat, Sa berarti sekitar, dan bulungan artinya daun. Sebutan Sabulungan lahir karena acara ritualnya selalu menggunakan daun-daun yang dipercaya bisa menjadi perantara hubungan manusia dengan Tuhan yang disebut dengan Ulau Manua.
Bukti empiris telah terjadinya diskriminasi terhadap penganut kepercayaan Sabulungan adalah terjadinya peristiwa pelanggaran terhadap kepercayaan Sabulungan yang dikenal dengan rapat rekomendasi 3 agama.
Rapat tiga agama sendiri muncul dengan latar belakang program pemerintah
8
pasca kemerdekaan yang bertujuan untuk menyatukan suku-suku dari seluruh nusantara dalam kelompok sosial dan budaya yang bersifat nasional. Pelarangan Arat Sabulugan oleh pemerintah pada tahun 1954 bukan karena kepercayaan tersebut mengandung unsur ajaran sesat atau juga bukan merupakan sempalan dari agama resmi yang di akui negara, akan tetapi larangan itu karena ketakutan pemerintah yang memandang sistem kepercayaan itu berpotensi mengancam kestabilan negara kesatuan. (Mulhadi, 2008:14)
Rapat digelar di tiap-tiap kecamatan menjelang lahirnya tiga keputusan yang sekaligus semakin membenamkan Arat Sabulungan. Ketiga keputusan tersebut adalah sebagai berikut: Agama Sabulungan harus dihapuskan dengan paksa dengan pertolongan polisi, dalam tempo tiga bulan masyarakat diberi kebebasan untuk memilih agama Kristen Protestan atau Islam bagi penduduk asli atau penganut Arat Sabulungan. Kalau dalam tempo tersebut tidak juga memilih, maka semua alat-alat pujaan agama Sabulungan harus dibakar polisi dan diancam dijatuhi hukuman. Ancaman dan pemaksaan yang ada membuat masyarakat takut untuk melaksanakan ritual. Namun, Mentawai bagian Siberut masih mempertahankan kepercayaannya dengan gigih sementara di wilayah lain tradisinya telah meluntur.
Eksistensi penganut aliran penghayat kepercayaan ini perlu mendapatkan perlindungan dalam pemenuhan hak keperdataanagar tidak terjadi diskriminasi dari pemeluk agama lainnya maupun Negara. Salah satu upaya yang dilakukan oleh masyarakat penghayat kepercayaan lokal adalah mengajukan permohonan uji materil terhadap Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan (selanjutnya ditulis UU Adminduk) yang di ajukan oleh warga kepercayaan dari komunitas Merapu di Sumba Timur Pulau Sumba, para pemohon merupakan salah satu dari 21.000 orang penganut kepercayaan lokal dan 40.000 orang di antaranya yang terlanggar hak atas layanan kependudukannya. Para pemohon menilai ketentuan di dalam UU Adminduk itu dinilai tidak mampu memberikan jaminan perlindungan dan pemenuhan hak yang sama kepada penganut
9
kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa atau penghayat selaku warga negara. Selama ini, para penghayat kepercayaan, mengalami diskriminasi dalam mengakses layanan publik karena kolom agama dalam Kartu Keluarga dan KTP mereka dikosongkan.(Putusan MK Nomor 97/PUU-XIV/2016: 6)
Maka untuk menjamin terpenuhinya hak asasi manusia atas kebebasan beragama dan beribadah sesuai dengan kepercayaan serta wujud dari toleransi antar umat beragama, secara implisit Mahkamah Konstitusi memberikan jaminan dan legitimasi terhadap para penganut aliran penghayat kepercayaan di Indonesia melalui Putusannya Nomor 97/PUU-XIV/2016. Putusan ini berkaitan dengan hasil uji materi terhadap pasal 61 Ayat (1) dan (2), serta pasal 64 ayat (1) dan (5) Undang-Undang Nomor Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan,kedua pasal ini mengatur mengenai ketentuan pengosongan kolom agama pada Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP).
Putusan MK tersebut seyogyanya dapat dijadikan sebagai sumber hukum yang menjadi payung atas keberadaan kelompok penganut aliran kepercayaan dan hak keperdataan yang melekat sebagai warga negara.
Namun, dari wawancara awal dengan Doni Rachvi Hendra sebagai seorang Notaris di Kabupaten Kepulauan Mentawai ditemukan fakta hukum bahwa masyarakat penganut kepercayaan Sabulungan di Kabupaten Mentawai terkendala dalam hal pemenuhan hak keperdataan yang disebabkan kepercayaan yang dianut. Hak keperdataan dimaksud meliputi pemanfaatan fasilitas perbankan, seperti fasilitas kredit, pembiayaan serta fasilitas tabungan. (Wawancara, 1 Maret 2021).
Para penghayat kepercayaan lokal mengalami kesulitan dalam mendapatkan hak-hak dasar lain yang dijamin konstitusi, seperti hak memperoleh jaminan pendidikan, pekerjaan, kesehatan, jaminan social,sulitnya mendapatkan akta kelahiran, kartu keluarga, buku nikah, proses pemakaman, hingga sulitnya diterima di tempat kerja karena kolom agamanya kosong yang berakibat aliran penghayat/kepercayaan dituding tidak beragama (atheis).
10
Hal ini menjadi keresahan tersendiri bagi Peneliti karena masih terjadi diskriminasi pada penganut kepercayaan Sabulungan, di samping itu juga hal ini bukan sekedar pemenuhan hak keperdataan terhadap penghayat Sabulungan tetapi juga berkaitan penyetaraan agama dengan kepercayaan lokal sehingga menarik untuk diteliti lebih komprehensif dan fundamental guna mengidentifikasi serta menganlisis peran Negara terhadap Eksistensi Kepercayaan Lokal Sabulungan Di Kabupaten Mentawai: Kajian Atas Perlindungan Hak Keprdataan Penganut Kepercayaan di Luar Agama Resmi.
B. Rumusan Masalah
Keberagaman atau pluralisme di Indonesia merupakan fakta sosial yang tidak perlu diragukan apalagi dibantah. Kemajemukan tersebut meliputi keberagaman suku, budaya, ras, bahasa serta agama dari masyarakat bangsa ini, sehingga dibutuhkan sikap tenggang rasa dan toleransi atas keberagaman tersebut termasuk juga keberagaman agama dan kepercayaan. Selain enam agama resmi yang diakui di Indonesia, juga terdapat kelompok masyarakat penganut penghayat aliran kepercayaan sebagai wujud atas keberagaman sebagaimana tersebut di atas. Keberadaan kelompok masyarakat penghayat kepercayaan telah diakui secara eksplisit dalam Pancasila serta UUD 1945 dan peraturan perundangan lainnya, maka sudah menjadi keharusan bagi negara untuk melakukan pemenuhan atas hak-hak mereka termasuk juga hak keperdataan yang tidak boleh diderogasi atas alasan apapun. Karena kebebasan beragama dan beribadah sesuai dengan kepercayaan merupakan hak alamiah yang melekat atas keberadaannya sebagai manusia yang dibawa semenjak lahir, selain negara yang melakukan kewajiban pemenuhan hak terhadap penghayat kepercayaan, masyarakat juga harus menumbuhkan sikap toleransi antar pemeluk agama. Agar lebih terarahnya penelitian yang akan dilakukan, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pemenuhan hak keperdataan penghayat kepercayaan lokal Sabulungan di Kabupaten Kepulauan Mentawai Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi?
11
2. Bagaimana efektivitas putusan Mahkamah Konstitusi dalam pemenuhan hak keperdataan penghayat kepercayaan lokal Sabulungan di Kabupaten Kepulauan Mentawai untuk dipatuhi dan dilaksanakan oleh stake holder?
C. Tujuan Penelitian
Kebebasan beragama dan beribadah sesuai kepercayaan telah dijamin oleh negara melalui Pancasila (Staatsfundamental) norm dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (Grund Norm) yang menjadi landasan filosofis serta landasan konstitusional kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Selain itu, negara juga telah mengikrarkan dirinya untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia termasuk perlindungan terhadap kebebasan beragama dan beribadah sesuai dengan kepercayaan yang diyakini oleh masyarakat. Kebebasan beragama dapat diwujudkan dengan menganut satu dari enam agama resmi atau beribadah sesuai dengan kepercayaan masyarakat lokal dengan terminologi aliran penghayat kepercayaan. Sebagai negara hukum, yang mengedepankan jaminan atas hak asasi manusia patut diapresiasi dan diimplementasikan tanpa terkecuali begitu juga dengan pemenuhan hak keperdataan kepada masyarakat penganut penghayat kepercayaan masyarakat di Kabupaten KepulauanMentawai. Terlebih dengan adanya putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 97/PUU-XIV/ 2016, maka urgensi penelitian ini bertujuan untuk :
1. Untuk mengidentifikasi, mendeskripsikan pemenuhan hak keperdataan penghayat kepercayaan lokal Sabulungan di Kabupaten Kepulauan Mentawai Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi.
2. Untuk menelaah dan menganalisis efektivitas kepatuhan stake holder dalam melaksanakan putusan Mahkamah Konstitusi dalam pemenuhan hak keperdataan penghayat kepercayaan lokal Sabulungan di Kabupaten Kepulauan Mentawai.
12 D. Telaah Pustaka
Adapun penelitian terdahulu yang relevan dengan pembahasan atas aliran penghayat kepercayaan adalah sebagai berikut:
1. Jurnal Info Singkat Hukum Judul Tindak Lanjut Putusan MK terkait Penganut Aliran Kepercayaan.(Hairi, 2017)
Dalam penelitiannya menjelaskan bahwa hakikat tindak lanjut terhadap putusan MK merupakan upaya yang harus dilakukan oleh pemerintah agar masyarakat lebih mudah memahami perubahan norma yang terjadi pasca putusan MK. Hal ini terutama dilakukan untuk menindaklanjuti putusan MK yang diputus secara konstitusional bersyarat atau inskonstitusional bersyarat. Sementara untuk norma undang-undang yang diuji dan diputuskan dicabut atau dinyatakan tidak berlaku, tidak lanjut pemerintah terhadap putusan MK berfungsi untuk menghindari kekosongan hukum yang terjadi pasca-putusan serta untuk membenahi norma hukum agar sesuai dengan apa yang ditafsirkan oleh MK.
Selain itu, setelah suatu putusan MK diterbitkan, pemerintah sebagai salah satu pemangku kepentingan yang memiliki kewenangan melaksanakan undang-undang juga harus menyesuaikan aturan-aturan hukum ataupun kebijakan lainnya dalam pengaplikasian norma undang- undang tersebut agar sejalan dengan kaidah norma yang sudah diputuskan oleh MK. Terkait Putusan MK No. 97/PUU-XIV/2016 ini, terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah sebagai tindak lanjut putusan MK tersebut.
2. Jurnal Positum, Judul Politik Hukum dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan (Studi Putusan MK tentang Pencatatan Administrasi Kependudukan Masyarakat Penghaya Kepercayaan Lokal (Kamalludin, 2019).
Dalam penelitiannya menjelaskan bahwa perlindungan hukum kelompok masyarakat penghayat kepercayaan di Indonesia telah diwujudkan melalui putusan Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Nomor 97/PUU-XIV/2016 yang mensyaratkan bahwa status penghayat
13
kepercayaan dapat dicantumkan dalam kolom agama di kartu keluarga dan kartu tanda penduduk elektronik tanpa perlu merinci aliran kepercayaan yang dianut. Hal tersebut diperlukan untuk mewujudkan tata tertib administrasi kependudukan mengingat jumlah penghayat kepercayaan dan masyarakat Indoensia sangat banyak dan beragam. Pengaturan tersebut menjadi wadah atas perlakuan yang berbeda terhadap warga Negara penganut penghayat kepercayaan dan warga Negara penganut agama yang diakui menurut peraturan perundang-undangan dalam mengakses pelayanan public yang berlaku sebelumnya.
Dalam membuat kebijakan perlindungan hukum terhadap kelompok masyarakat penghayat kepercayaan harus mengacu pada prinsip Hukum yang berkeadilan berdasarkan Pancasila. Hal ini didasarkan rumusan keadilan yang terlaksana dalam masyarakat Indonesia, dengan keadilan yang menekankan pada keseimbangan antara hak dan kewajiban yaitu hak untuk menikmati hasil pembangunan dengan kewajiban darma baktinya. Dengan adanya rumusan keadilan ini, maka pembangunan hukum nasional dalam negara hukum Pancasila sesuai dengan tujuan untuk melindungi: (1) segenap bangsa Indonesia, (2) seluruh tumpah darah Indonesia, (3) cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia, (4) masyarakat Indonesia dan individu-individu, (5) jiwa, kebebasan individu, kehormatan dan harta bendanya, (6) pelaksanaan pembangunan (hukum harus berfungsi sebagai sarana penunjang perkembangan modernisasi dan pembangunan yang menyeluruh).
Mengingat kembali karakter produk hukum oleh Mahfud MD, yaitu produk hukum responsif/ populisti dan produk hukum konservatif/ortodoks/elitis, politik hukum yang digunakan digunakan dalam hal ini oleh Mahkamah Konstitusi terhadap perlindungan masyarakat penghayat kepercayaan lokal untuk mencantumkan kepercayaan pada KTP, sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai Pancasila yang kemudian lebih condong kepada karakter produk hukum yang pertama, yaitu produk hukum responsif/populistik, dimana produk hukum ini
14
mencerminkan rasa keadilan dan memenuhi harapan masyarakat. Dalam proses pembuatannya memberikan peranan besar dan partisipasi penuh kelompok-kelompok sosial atau individu di dalam masyarakat. Hasilnya bersifat responsif terhadap tuntutan-tuntutan kelompok sosial atau individu masyarakat.
3. Jurnal: Politik Hukum Mahkamah Konstitusi Atas Rekognisi Penghayat Kepercayaan Dalam Kontestasi Politik Kewargaan Indonesia. (M. Wildan Humaidi, 2020)
Dalam penelitiannya menjelaskan Putusan MK No. 97/PUU- XIV/2016 sejatinya merupakan koreksi mendasar tentang posisi status kewarganegaraan (citizenship) penghayat kepercayaan untuk diletakkan kembali secara utuh sebagai warga negara. Status kewarganegaraan yang utuh adalah akses utama pemenuhan HAM bagi penghayat kepercayaan untuk berpartisipasi secara setara dan adil dengan kelompok masyarakat lainnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Selain pergeseran konsep poli tik kewarganegaraan yang dialami oleh penghayat kepercayaan melalui upaya rekognisi, Putusan MK tersebut juga memberikan pergeseran dalam ruang keberagamaan di Indonesia. Pasca putusan MK tersebut, ruang kebebasan beragama di Indonesia mengalami pergeseran paradigma yang cukup mendasar.
Dengan diputusnya perkara tersebut, MK telah melakukan koreksi atas politik hukum negara terkait kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia selama ini yang justru memunculkan praktik diskriminasi. MK menegaskan bahwa Negara selama ini telah mendikotomikan antara hak beragama dan hak meyakini kepercayaan. Negara dalam konstitusinya mengakui keduanya yang merupakan hak yang bersifat constitusional rights dan oleh karenanya bersifat fundamental. Dengan demikian negara memiliki kewajiban untuk memenuhi, melindungi, dan turut serta bertanggung jawab atas pengejawantahan hak tersebut.
Sebagai tindak lanjut Putusan MK, Pemerintah harus memberikan perlindungan dan jaminan atas pengakuan terhadap agama dan penghayat
15
kepercayaan yang dimiliki oleh warga negara sebagai hak fundamental (constitusional rights) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Konsep perlindungan, pengakuan, dan pemberian jaminan atas eksistensi keberadaan agama dan kepercayaan harus diwujudkan dalam seluruh pelayanan pemerintahan, baik dalam tataran regulasinya, konsep dan sistemnya, hingga sampai pada ranah implementasinya di masyarakat.
4. Jurnal: Perkembangan Aliran/ Paham Keagamaan di Sumatera Barat.
(Jufri, 2014)
Dalam penelitiannya menjelaskan Aliran dan kelompok keagamaan yang berkembang di Sumatera Barat lebih banyak berorientasi pada perbaikan moral para anggotanya. Hampir tidak ada aliran dan kelompok keagamaan yang berpaham radikal yang menentang keberadaan negara.
Kelompok dan aliran ini mengalami seleksi alamiah. Banyak aliran yang lambat laun menghilang karena ditinggalkan pengikutnya akibat tidak adanya lagi tokoh panutan yang memimpin kelompok tersebut. Aliran dan kelompok keagamaan yang ada di Sumatera Barat berkembang dengan cara yang eksklusif. Perkembangan yang demikian menimbulkan prasangka di tengah masyarakat yang kerap memunculkan riak-riak kecil konflik sosial. Keterbukaan dan sikap egaliter masyarakat Sumatera Barat yang telah mentradisi mampu mencegah timbulnya konflik yang lebih besar. Elit agama maupun politik yang diwakili pemerintahan masih menerapkan pola penanganan aliran dan kelompok keagamaan semasa Orde Baru. Kelompok maupun aliran yang dianggap mengganggu stabilitas diputus sesat yang berujung pada pelarangan aktivitas kelompok maupun aliran tersebut. Pendekatan ini tentu saja mengabaikan sejarah dan potensi masyarakat Sumatera Barat yang terbuka dan egaliter.
Antara 4 (empat) penelitian terdahulu tersebut di atas, tentunya memiliki perbedaan yang sangat signifikan dengan penelitian yang akan peneliti lakukan. Di mana dalam penelitian ini memiliki focus serta kajian terhadap peran Negara dalam menjamin pemenuhan atas hak-hak keperdataanpenghayat kepercayaan SabulunganKabupaten Mentawai
16
Pasca putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 97/PUU-XIV/2016.
Selanjutnya penelitian ini bermaksud untuk mengidentifikasi serta memberikan solusi atas dinamika kehidupan kelompok penganut aliran penghayat kepercayaan pada masyarakat Kabupaten Mentawai. Serta untuk mengeksplorasi serta mendeskripsikan upaya pemerintah daerah provinsi Sumatera Barat dalam mengantisipasi diskriminasi terhadap kelompok penganut aliran penghayat kepercayaan pada masyarakat Kabupaten Mentawai.
17
BAB II
KERANGKA TEORI A. Negara Hukum
Konsep ide Negara hukum menurut Plato dan Aristoteles merupakan Negara yang berdiri di atas hukum menjadi keadilan kepada warga negaranya dan sebagai dasar dari keadilan itu perlu diajarkan rasa susila kepada setiap manusia agar ia menjadi warga Negara yang baik. Menurut Aristoteles, yang memerintah dalam Negara bukanlah manusia sebenarnya melainkan pikiran yang adil, sedangkan penguasa sebenarnya hanya pemegang hukum dan keseimbangan saja.(Muhammad Sadi Is dan Sobandi, 2020)
Dalam Negara hukum mengharuskan adanya pengakuan normative dan empiric terhadap prinsip supremasi hukum di mana semua masalah diselesaikan dengan hukum sebagai pedoman tertinggi. Pengakuan normative mengenai supremasi hukum terwujud dalam pembentukan norma hukum secara hierarkis yang berpuncak pada supremasi konstitusi. Adapun secara empiric terwujud dalam prilaku pemerintah dan masyarakat yang mendasarkan pada aturan hukum yang berlaku.
Secara umum, system Negara hukum di dunia mengenal dua macam Negara hukum yaitu Negara hukum Eropa Kontinental/civil law dan Negara hukum Anglo Saxon/ common law. Yang mana kedua Negara hukum tersebut memiliki ciri-ciri Negara hukum yang berbeda. Dalam Negara hukum Eropa Kontinental dikenal dengan konsep rechstaat sedangkan Negara hukum Anglo Saxon dikenal dengan konsep rule of law.Pada dasarnya kedua konsep Negara hukum ini mengarahkan dirinya pada satu sasaran utama yaitu pengakuan dan perlindungan terhadap hak asasi manusia.
Ciri-ciri Negara hukum rechstaat adalah sebagai berikut:
1. Adanya Undang-Undang Dasar atau konstitusi yang memuat ketentuan tertulis tentang hubungan antara penguasa dengan rakyat.
2. Adanya pemisahan kekuasaan yang meliputi kekuasaan pembuat undang-undang dan berada dalam posisi parlemen, kekuasaan kehakiman yang bebas dan merdeka dan tidak hanya menangani
18
sengketa antara individu rakyat tetapi antara rakyat dengan penguasa dan pemerintah yang mendasarkan dirinya pada undang-undang.
3. Diakui dan dilindunginya hak-hak rakyat yang sering disebut dengan vrijheidsrchten van burger.
Sedangkkan konsep Negara hukum the rule of law yaitu:
1. Supremasi hukum absolute atau predominasi dari regular law untuk menentang pengaruh dari arbitrary power dan meniadakan kesewenang-wenangan, jadi berupa discretionary authority yang luas dari pemerintah.
2. Persamaan di hadapan hukum atau penundukan yang sama dari semua golongan kepada ordinary law of the land yang dilaksanakan oleh ordinary court, ini berarti bahwa tidak ada orang yang berada di atas hukum baik pejabat maupun rakyat jadi tidak perlu adanya peradilan administrasi Negara.
3. Konstitusi dari hasil the ordinary law of land, bahwa hukum konstitusi bukan sekedarlah sumber tetapi merupakan konsekuensi dari hak-hak individu yang dirumuskan dan ditegaskan oleh peradilan, singkatnya prinsip-prinsip hukum privat malalui tindakan peradilan dan parlemen diperluas hingga membatasi posisi crown dan pejabat-pejabatnya.
(Jimly Asshiddiqie, 2005)
Menurut Robert Maclver, inti Negara hukum yaitu sebagai alat pemaksamereka sendiri mematuhi peraturan agar tercapai keinginan bersama.
Dengan konsep pokok Negara hukum yaitu pembatasan oleh hukum.
Maksudnya adalah setiap sikap, tingkah laku, perbuatan, baik yang dilakukan oleh penguasa maupun oleh warga negaranya bebas dari tindakan sewenang- wenang para penguasa Negara. Dengan demikian, untuk membatasi kekuasaan pemerintah, seluruh kekuasaan di dalam Negara hukum haruslah dipisahkan dan dibagi kedalam kekuasaan yang menangani bidang tertentu.(Ellydar Chaidir, 2007)
Walaupun konsep Negara hukum yang dianut dalam system hukum di berbagai Negara memiliki karakteristik yang berbeda, namun hakikatnya
19
memiliki tujuan tujuan yang sama yaitu melindungi warga negaranya dari tindakan sewenang-wenang penguasa maupun warga Negara lainnya. Dalam pandangan seluruh Negara hukum mengandung cita-cita perlindungan terhadap hak asasi manusia dan martabat manusia (the dignity of man). Cita-cita ini merupakan cita-cita universal milik seluruh umat manusia kapanpun dan di manapun mereka berada. Untuk mewujudkan hal tersebut maka hukum harus ditegakkan dan dijadikan panglima dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Negara hukum dapat diartikan dengan suatu Negara di mana setiap kebijakan pemerintah dan tindakan rakyatnya harus sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku. Dengan kata lain, dapat ditegaskan bahwa dalam suatu Negara hukum sangat dilarang tindakan sewenang-wenang penguasa atau disebut otoriterisme. Sebaliknya jika yang melakukan tindakan sewenang- wenang adalah rakyat, maka hal itu dinamakan anarkisme.(Mardenis, 2016)
Konsep Negara hukum ini juga diterapkan di Indonesia yaitu Negara Hukum Pancasila, Pasal 1 Ayat (3) UUD 1945 menjelaskan bahwa Negara Indonesia adalah Negara hukum. Mengandung makna bahwa Indonesia bukanlah Negara kekuasaan, artinya bahwa suatu Negara di mana kekuasaan harus tunduk pada hukum yang berlaku di Negara kesatuan Republik Indonesia. Menurut Muhammad Yamin menjelaskan bahwa Negara hukum Indonesia merupakan Negara hukum yang menjalankan pemerintahan yang tidak menurut kemauan orang-orang yang memegang kekuasaan, melainkan menurut aturan tertulis yang dibuat oleh badan-badan perwakilan rakyat yang terbentuk secara sah sesuai dengan asas the laws and not men shall goverrl.
(Muhammad Sadi Is dan Sobandi, 2020) Ciri-ciri Negara hukum Indonesia adalah Negara hukum Pancasila, karena Pancasila harus diangkat sebagai dasar pokok dan sumber hukum, maka Negara hukum Indonesia dapat juga dinamakan dengan Negara hukum Pancasila. Salah satu cirri utama negera hukum Pancasila ialah adanya jaminan terhadap freedom of religion atau kebebasan beragama sebagaimana diatur dalam Pasal 29 UUD 1945.
20 B. Teory Legal System
Negara hukum saja belum dapat berjalan dengan baik jika tidak diwujudkan oleh alat-alat negara yang saling bersinergi untuk menopang negara hukum dimaksud. Alat-alat negara tersebut dalam perspektif Friedman dikenal melalui teori Legal System atau teori sistem hukum. Menurut Friedman sebagaimana dikuti dari Roni Efendi menjelaskan bawah suatu sistem hukum dalam operasi aktualnya merupakan organisme kompleks yang saling berkaitan antara satu dan lainnya meliputi legal substance, legal structure dan legal culture.
Hampir senada dengan pendapat Friedmann, Sudikno Mertokusumo menjelaskan bahwa hukum merupakan sistem yang berarti bahwa hukum merupakan tatanan dan suatu kesatuan yang utuh yang berdiri dari bagian- bagian atau unsur-unsur yang saling terkait erat satu sama lain. Sistem hukum adalah suatu kesatuan yang terdiri dari unsur-unsur yang mempunyai interaksi satu sama lain dan bekerja sama untuk mencapai tujuan tersebut.
Suatu sistem hukum yang bergerak seakan melingkar dan saling terkoneksi tanpa adanya jeda-jeda yang dapat menjadikan hambatan dalam bekerjanya hukum dalam suatu sistem hukum. Agar tercapainya dan bergeraknya suatu sistem hukum, maka C.F.G. Sunaryati Hartono berpendapat bahwa dibutuhkan suatu organisasi yang dilandaskan kepada asas-asas tertentu.(Roni Efendi, 2020; 13-14).
Hal ini tentu relevan dengan objek kajian dalam penelitian ini, orientasi utama dari Negara hukum termasuk Negara hukum Pancasila adalah Negara hukum mengandung cita-cita perlindungan terhadap hak asasi manusia dan martabat manusia (the dignity of man). Perlindungan terhadap hak asasi manusia secara legal substance harus tercantum dalam undang-undang sebagai bentuk jaminan kepastian hukum atas hak tersebut. Hal sebagaimana dimaksud dalam UU juga harus diimplementasikan melalui legal structure yakni aparat penegak hukum juga melalui Pemerintah serta dukungan penuh oleh legal culture yakni masyarakat sebagai salah satu elemen berdirinya negara. Di mana salah satu hak yang dijamin dalam undang-undang adalah hak untuk memeluk
21
agama dan beribadah sesuai dengan kepercayaan. Jelas bahwa Indonesia sebagai bangsa yang plural masyarakatnya memiliki corak dan tipologi yang majemuk juga bahkan dalam hal beragama dan peribadatan, dengan demikian bukan menjadi suatu hal yang aneh apabila terdapat sebagian masyarakat yang tidak memeluk agama dan beribadah sesuai dengan 6 (enam) agama resmi dan beribadah berdasarkan kepercayaan atau penganut aliran kepercayaan sebagaimana tersebar di berbagai provinsi termasuk masyarakat kabupaten Mentawai.
Sebagai Negara hukum, hal ini terjadi karena Konstitusi memberikan jaminan tersebut, yakni pemaknaan pada Pasal 28E ayat (1) dan (2) serta pasal 29 Ayat (2) UUD 1945, sehingga menjadi keharusan dan kewajiban bagi Negara untuk melindungi serta mengakui keberadaan masyarakat adat dan kearifan lokalnya termasuk dalam hal beragama dan beribadah (Pasal 18B Ayat (2)). Di samping itu Negara tidak dibenarkan mengklasifikasikan warga negara hanya karena berbeda cara beragama dan beribadat, sebab Negara telah meberikan jaminan atas kedudukan yang sama di hadapan hukum dan pemerintahan. Artinya perbedaan cara beragama dan beribadah warga Negara tidak akan mengurangi esensi prinsip equality before the law.
C. Hak Sipil Sebagai Constitusional Rigths
Pencatatan sipil merupakan pencatatan terhadap peristiwa penting yang dialami oleh seseorang dalam suatu buku register pencatatan sipil yang dilakukan oleh Negara. Peristiwa penting yang perlu dicatat adalah peristiwa yang dialami oleh penduduk yang membawa akibat terjadinya perubahan hak- hak keperdataan, maupun lahirnya hak keperdataan atau hapusnya hak keperdataan. Jadi yang dicatat adalah setiap peristiwa perdata yang dialami seseorang dengan tujuan agar peristiwa itu dapat diketahui dengan jelas.
Pada dasarnya pencatatan sipil itu dilakukan untuk mencatatkan peristiwa perdata yang dialami penduduk karena adanya perubahan terhadap status sipil dari sebelumnya belum ada, seperti perkawinan, kelahiran, perceraian hal ini
22
yang dikenal dengan hak sipil dalam sudut pandang hukum perdata. (M.
Jafar, 2011)
Hak sipil dalam sudut pandang hukum perdata dalam implementasinya dilakukan oleh lembaga Pencatatan Sipil. Lembaga pencatatan sipil yang ada saat ini merupakan kelanjutan dari Belanda yang dinamakan Burgerlyke Stand, yaitu sebagai suatu lembaga yang diadakan oleh pemerintah Belanda dengan maksud membukukan selengkap mungkin dan memberikan kepastian hukum tentang semua peristiwa penting dari hak keperdataan seperti, kelahiran, perkawinan, perceraian, pengangkatan anak dan kematian.
Pemberlakuan pencatatan sipil oleh pemerintah Hindia Belanda sesuai dengan politik hukum pemerintah dan penggolongan penduduk di Hindia Belanda sesuai dengan Pasal 131 juncto Pasal 163 Indische Staats Regeling.
Sebagai akibat dari politik pemerintah Hindia Belanda, maka aturan pencatatan sipil di Indonesia yang berlaku bagi penduduk tidak seragam aturan hukumnya, yaitu:
1. Reglemen Catatan Sipil Stb.1849-25 tentang Pencatatan Perkawinan dan Perceraian bagi warga negara Indonesia keturunan Eropah.
2. Reglemen Catatan Sipil Stb.1917-130 jo.Stb.1919-81 tentang Pencatatan Perkawinandan Perceraian bagi warga Negara Indonesia keturunan Cina.
3. Reglemen Catatan Sipil Stb.1933-75 jo. Stb. 1936-607 tentang Pencatatan Perkawinan dan Perceraian bagi warga Negara Indonesia yang beragama Kristen di Jawa, Madura, Minahasa, Ambon, dan sebagainya.
4. Reglemen Catatan Sipil Stb.1904-279 tentang Pencatatan Perkawinan dan Perceraian bagi warga Negara Indonesia perkawinan campuran.
5. Reglemen Catatan Sipil Stb.1920-751 jo. Stb.1927-564 tentang Pencatatan Kelahiran dan Kematian bagi warga Negara Indonesia asli di Jawa dan Madura.
Berdasarkan ketentuan tersebut di atas bahwa pemerintah Hinda Belanda belum memperhatikan secara serius mengenai pencatatan sipil dalam bidang hukum perdata bagi orang-orang yang beragama Islam. Ketentuan pencatatan sipil hak keperdataan bagi orang-orang yang beragama Islam baru
23
diberlakukan setelah Indonesia merdeka yaitu melalui Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1954 tentang pencatatan nikah, talak dan rujuk bagi warga Indonesia yang beragama Islam.
Urgensi pencatatan sipil dalam bidang hukum perdata menurut UU Adminduk, adalah pencatatan terhadap peristiwa penting yang dialami seseorang dalam register pencatatan sipil pada instansi pelaksana. Peristiwa penting dalam bidang keperdataan di antaranya adalah: (M. Jafar, 2011) 1. Kelahiran
Kepastian hukum mengenai kelahiran menentukan status perdata mengenai dewasa atau belum dewasa seseorang. Kepastian hukum mengenai perkawinan menentukan status perdata mengenai boleh atau tidaknya melangsungkan perkawinan dengan orang lain lagi. Kepastian hukum mengenai perceraian menetukan status perdata untuk bebas mencari pasangan lain. Kepastian hukum mengenai kematian menentukan status perdata sebagai ahli waris dan keterbukaan waris.
2. Kematian
Sebagian masyarakat tidak menyadari bahwa memiliki dokumen kependudukan adalah hal yang sangat penting, namun tidak semua masyarakat menyadari tentang hal tersebut teutama yang berkaitan dengan dokumen akta kematian. Seseorang yang sudah meninggal keluarganya harus segera mengurus akta kematiannya.(Fasya et al., 2021).
Pencatatan kematian diatur dalam Pasal 44 UU Adminduk Ayat (1) Setiap kematian wajib dilaporkan oleh keluarganya atau yang mewakili kepada Instansi Pelaksana paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal kematian. Ayat (2) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) Pejabat Pencatatan Sipil mencatat pada Register Akta Kematian dan Penerbitan Kutipan Akta Kematian.
3. Perkawinan
Perkawinan dalam Pasal 1 Undang-undang Nomor 16 Tahun 2019 Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 (Selanjutnya ditulis UU Perkawinan) merupakan ikatan lahir batin antara seorang pria
24
dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Maka perkawinan adalah sunnatullah sebagai suatu cara yang dipilih oleh Allah SWT untuk manusia dalam melanjutkan keturunan serta me- lestarikan kehidupan. (Muhmmad Farhan, 2020) kemudian, perkawinan hanya sah bila dilakukan di hadapan pegawai pencatat nikah, pada ketentuan ini sangat penting bagi setiap orang yang melakukan peristiwa hukum dalam hubungan keperdataan berupa perkawinan untuk mencatatkannya baik di kantor catatan sipil maupun di kantor urusan agama.
4. Perceraian
Perceraian merupakan institusi yang digunakan untuk melepaskan ikatan perkawinan. Menurut Pasal 113 Kompilasi Hukum Islam perceraian merupakan salah satu dari sebab putusnya perkawinan. Pada pasal tersebut dinyatakan bahwa perkawinan dapat putus karena kematian, perceraian, dan atas putusan Pengadilan. Sekalipun perkawinan seyogyanya dilakukan untuk seumur hidup, ketika tidak dapat dipertahankan lagi karena suatu sebab, maka Islam memberi jalan terakhir berupa perceraian. Perceraian ini dalam Islam disebut sebagai sesuatu yang paling dibenci dari yang termasuk pada kategori halal. Undang-undang dirancang agar perceraian ini tidak dilakukan secara serampangan, ketika seorang suami tidak senang kepada istrnya lalu meninggalkannya begitu saja misalnya. Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan dengan alasan yang dibatasi yaitu yang hanya disebutkan secara eksplisit di dalam peraturan perundang-undangan.(Juriyana Megawati Hasibuan, 2020)
5. Pengakuan Anak
Pencatatan anak sebagai bagian dari hak sipil yang terkategori dalam hak keperdataan telah ditetapkan dalam Pasal 49 UU Adminduk yaitu (1) Pengakuan anak wajib dilaporkan oleh orang tua pada Instansi Pelaksana paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal Surat Pengakuan Anak oleh ayah dan disetujui oleh ibu dari anak yang bersangkutan. (2)
25
Kewajiban melaporkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikecualikan bagi orang tua yang agamnya tidak membenarkan pengakuan anak yang lahir di luar hubungan perkawinan yang sah. (3) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pejabat Pencatatan Sipil mencatat pada Register Akta Pengakuan Anak dan menerbitkan Kutipan Akta Pengakuan Anak.
6. Pengangkatan Anak
Sebagai bagian dari hak keperdataan, pengangkatan anak harus dicatatkan, hal ini diatur dalam Pasal 47 UU Adminduk sebagai berikut:
(1) Pencatatan pengangkatan anak dilaksanakan berdasarkan penetapan pengadilan di tempat tinggal pemohon. (2) Pencatatan pengangkatan anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilaporkan oleh Penduduk kepada Instansi Pelaksana yang menerbitkan Kutipan Akta Kelahiran paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah diterimanya salinan penetapan pengadilan oleh Penduduk (3) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Pejabat Pencatatan Sipil membuat catatan pinggir pada Register Akta Kelahiran dan Kutipan Akta Kelahiran.
7. Pengesahan Anak
Pencatatan pengesahan anak diatur pada Pasal 50 UU Adminduk yaitu (1) Setiap pengesahan anak wajib dilaporkan oleh orang tua kepada Instansi Pelaksana paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak ayah dan ibu dari anak yang bersangkutan melakukan perkawinan dan mendapatkan akta perkawinan. (2) Kewajiban melaporkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikecualikan bagi orang tua yang agamanya tidak membenarkan pengesahan anak yang lahir diluar hubungan perkawinan yang sah. (3) Berdasarkan laporan pengesahan anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pejabat Pencatatan Sipil membuat catatan pinggir pada Akta Kelahiran.
8. Perubahan Kewarganegaraan.
Perubahan status kewarganegaraan di Indonesia adalah bagian dari hak keperdataan yang harus dicatatkan, hal ini diatur dalam Pasal 53 UU
26
Adminduk yaitu (1) Perubahan status kewarganegaraan dari warga negara asing menjadi Warga Negara Indonesia wajib dilaporkan oleh Penduduk yang bersangkutan kepada Instansi Pelaksana di tempat peristiwa perubahan status kewarganegaraan paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak berita acara pengucapan sumpah atau pernyataan janji setia oleh pejabat. (2) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pejabat Pencatatan Sipil membuat catatan pinggir pada register akta Pencatatan Sipil dan kutipan akta Pencatatan Sipil.
Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pada hakikatnya berkewajiban untuk memberikan perlindungan dan pengakuan terhadap penentuan status pribadi dan status hukum setiap Peristiwa Kependudukan dan Peristiwa Penting yang dialami oleh Penduduk yang berada di dalam dan/atau di luar wilayah Republik Indonesia.
Dalam pemenuhan hak-hak keperdataan, terutama di bidang hak sipil, masih ditemukan penggolongan Penduduk yang didasarkan pada perlakuan diskriminatif yang membeda-bedakan suku, keturunan, dan agama atau kepercayaan sebagaimana diatur dalam berbagai peraturan produk kolonial Belanda. Penggolongan Penduduk dan pelayanan diskriminatif yang demikian itu tidak sesuai dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
27
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode adalah proses, prinsip-prinsip dan tata cara memecahkan suatu masalah, sedangkan penelitian adalah pemeriksaan secara hati-hati, tekun dan tuntas terhadap suatu gejala untuk menambah pengetahuan manusia, maka metode penelitian dapat diartikan sebagai proses prinsip-prinsip dan tata cara untuk memecahkan masalah dalam melakukan penelitian. (Soejono Soekanto, 2012)
Penelitian hukum merupakan kegiatan ilmiah, yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu, dengan jalan menganalisisnya juga diadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta hukum tersebut, untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas permasalahan-permasalahan yang timbul di dalam gejala yang bersangkutan. (Soejono Soekanto, 2012) A. Jenis Penelitian
Penelitian karya ilmiah berupa penelitian ini berjenis penelitian hukum yuridis empiris yaitu penelitian yang bertujuan untuk meneliti asas-asas hukum, sistematika hukum, sinkronisasi hukum, sejarah hukum dan perbandingan. Penelitian yuridis empiris adalah mengidentifikasi dan mengkonsepsikan hukum sebagai institusi sosial yang riil dan fungsional dalam sistem kehidupan yang mempola. (Soejono Soekanto dan Sri Mamudji, 2011) maksudnya adalah dengan mengkonfirmasikan ketentuan hukum dan hak asasi manusia dengan pemenuhan hak-hak keperdataan terhadap penganut kepercayaan Sabulungan di Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Metode penelitian dalam penelitian ini adalah penelitian hukum empiris (sosio legal research). Metode pendekatan penelitian menggunakan metode penelitian hukum empiris berkaitan dengan penggunaan dan memilih metode, maka penggunaan metode tergantung pada objek dan tujuan dari penelitian yang bersangkutan. (Gomgom T.P.
Siregar, 2020). Penelitian empiris ini dengan tipologi kualitatif, yaitu
28
dengan secara langsung mengamati pemernuhan hak-hak keperdataan terhadap penganut penghayat kepercayaan Sabulungan masyarakat kabupaten Kepulauan Mentawai kemudian mendeskripsikan hasil temuan kedalam gambaran dan penjelasan secara kualitatif.
B. Sumber Data
1. Sumber Data Primer
Sumber data primer dapat diperoleh dengan cara penelitian lapangan (field research), bahwa penelitiakan mengumpulkan data-data konkrit berupa data primer. Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari sumber pertama. (Sumardi Suryabrata, 1998) Sumber data utama dalam penelitian ini di antaranya:
a. Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Kepulauan Mentawai
b. Kepala Cabang Bank Nagari Kabupaten Kepulauan Mentawai c. Kepala Cabang Bank Negara Indonesia Kabupaten Kepulauan
Mentawai
d. Kepala Cabang Bank Rakyat Indonesia Kabupaten Kepulauan Mentawai
e. Notaris
f. Bapak Aprijon, S.H.I. Kepala Desa Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara Kabupaten Kepulauan Mentawai.
g. Bapak Daniel Subagalet sebagai Sekretaris Desa Madobag Kecamatan Siberut Selatan Kabupaten Kepulauan Mentawai.
2. Sumber Data sekunder diperoleh dari kajian literasi perpustakaan (library reaserach), artinya penelitian ini dilakukan dengan menelaah literatur-literatur yang relevan dengan objek kajian yakni pembahasan tentang hak asasi manusia serta peraturan perundang- undangan. Dalam penggunaan data sekunder ini, termasuk juga di dalamnya mempedomani sumber bahan hukum, yaitu:
a. Sumber bahan hukum primer
29
Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang mempunyai otoritas (autoritatif). Bahan hukum primer terdiri atas peraturan perundang-undangan, catatan-catatan resmi atau risalah dalam pembuatan suatu peraturan perundang-undangan.
Misalnya kajian akademik yang diperlukan dalam pembuatan suatu rancangan peraturan perundang-undangan dan/ atau peraturan daerah. Kemudian, bahan hukum primer juga dapat berupa putusan pengadilan.(Zainuddin Ali, 2011) Dalam penelitian ini bahan hukum primer yang akan digunakan di antaranya:
1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945.
2) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.
3) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesagan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik)
4) Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 97/PUU-XIV/2016.
b. Sumber bahan hukum sekunder
Bahan hukum sekunder merupakan bahan-bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan-bahan hukum primer yang diperoleh dari studi kepustakaan berupa literatur-literatur yang relevan dengan objek kajian.Bahan hukum sekunder dalam penelitian ini di antaranya:
a) Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor XVII/MPR/1998.
b) Universal Declaration of Human Rights.
c) International Covenan on Civil and Political Rights.
C. Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, pengumpulan data dilakukan dengan cara:
30 1. Wawancara
Wawancara adalah situasi peran antara pribadi bertatap muka (face to face) ketika seseorang yaitu antara pewawancara dalam hal ini adalah peneliti dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dirancang dan berkaitan dengan hak keperdataan penghayat kepercayaan lokal Sabulungan untuk memperoleh jawaban- jawaban yang relevan dengan objek penelitian.(Amiruddin dan Zainal Asikin, 2004) Dalam hal ini, wawancara akan dilakukan terhadap beberapa sumber data primer sebagaimana tersebut di atas.
2. Studi Dokumen
Studi dokumen adalah teknik pengumpulan data yang berwujud sumber data tertulis atau gambar. Sumber tertulis atau gambar berwujud dokumen resmi, buku, majalah, arsip, dokumen pribadi, dan foto yang terkait dengan permasalahan yang diteliti yakni pemenuhan hak keperdataan bagi penganut kepercayaan Lokal Sabulungan di Kabupaten Kepulauan Mentawai. (Sudarto, 2002) Dalam peneltian ini dokumen yang dijadikan sebagai sumber data adalah dokumen pada Dinas Pencatatan Sipil Kabupaten Mentawai dan aplikasi pada system perbankan di Kabupaten Kepulauan Mentawai.
D. Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan data adalah kegiatan merapikan hasil pengumpulan data di lapangan, yaitu dengan cara menyeleksi atas dasar reabilitas dan validitasnya. (Sumardi Suryabrata, 2006) Data yang telah didapat dilakukan edditing yaitu meneliti kembali terhadap catatan-catatan, berkas-berkas, informasi yang dikumpulkan oleh pencari data yang diharapkan akan dapat meningkatkan mutu kehandalan (reabilitas) yang hendak dianalisis. (Amiruddin dan Zainal Asikin, 2004) Setelah lengkap data yang penulis kumpulkan dari masyarakat dan Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Mentawai, serta stakeholder lainnya, Peneliti
31
melakukan pengolahan data ketahap berikutnya yaitu cording yaitu proses untuk mengklasifikasikan jawaban-jawaban responden berdasarkan kriteria yang ditetapkan. (Bambang Sugono, 2001)
Artinya terhadap data yang diperoleh di lapangan, baik hasil wawancara dengan masyarakat lokal penganut aliran kepercayaan, Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Mentawai dan dokumen- dokumen yang diperoleh akan diolah secara komprehensif dan fundamental sesuai kriteria di atas untuk mendapatkan data yang benar- benar menunjang untuk menjawab objek kajian dalam penelitian ini.
Selanjutnya, Peneliti melakukan analisis data dengan menggunakan metode analisis kualitatif yaitu analisis yang dilakukan tidak dengan menggunakan angka-angka atau rumus statistik, melainkan dengan menggunakan kata-kata atau uraian kalimat dengan melakukan penilaian berdasarkan peraturan perundang-undangan, teori atau pendapat ahli, serta logika sehingga dapat ditarik kesimpulan yang logis dan merupakan jawaban dari permasalahan. Kemudian penulis juga menggunakan analisis isi (content analisis) yaitu teknik apapun yang digunakan untuk menarik kesimpulan melalui usaha menemukan karakteristik pesan dan dilakukan secara objektif dan sistematis.
E. Jadwal Penelitian
Agar lebih sistematis dan terukur, peneliti perlu menetapkan jadwal penelitian sebagai berikut:
No Kegiatan Waktu
1 Merumuskan Proposal Penelitian Januari s.d Februari 2021 2 Registrasi dan Submit Proposal s.d 4 s.d 20 Maret 2021 3 Verifikasi Proposal 15 s.d 27 Maret 2021 4 Penilaian Proposal oleh Reviewer secara
online 29 Maret s.d 3 April 2021
5 Seminar Proposal secara Daring 5 s.d 8 April 2021 6 Pengumuman Penerima Bantuan 14 April 2021
7 Pelaksanaan Penelitian April s.d September 2021 8 Monitoring dan Evaluasi Juni s.d Juli 2021
9 Progress Report (laporan antara) Agustus 2021 10 Seminar Hasil (Presentasi Hasil Luaran September 2021
32 Bantuan)
11 Penyerahan Laporan Hasil Oktober 2021
F. Anggaran Biaya
Pembiyaan penelitian ini ditanggung oleh Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Institut Agama Islam Negeri Batusangkar Tahun 2021 dengan maksimum anggaran Rp. 17.500.000,- (tujuh belas juta lima ratus ribus) rupiah sebagaimana terlampir.
33
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Wilayah Kabupaten Kepulaun Mentawai
1. Wilayah Administrasi
Kepulauan Mentawai merupakan gugusan pulau-pulau besar dan kecil yang terdapat di pantai barat Sumatera, berikut di jelaskan dalam bentuk tebel terkait wilayah administrasi Kabupaten Kepulauan Mentawai:
(“Badan Pusat Statistik Kabupaten Kepulauan Mentawai Statistics of Kepulauan Mentawai Regency,” 2020)
a. Batas Daerah Menurut Kecamatan di Kabupaten Kepulauan Mentawai Tahun 2020
34
b. Luas Daerah dan Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan di Kabupaten di Kabupaten Kepulauan Mentawai Tahun 2020
c. Jumlah Desa Menurut Kecamatan di Kabupaten Kepulauan Mentawai 2016-2020
35
d. Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan dan Agama yang dianut di Kabupaten Kepulauan Mentawai 2020
2. Keberadaan administratif Kabupaten Kepulauan Mentawai ini dikukuhkan berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 49 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Kepulauan Mentawai di Provinsi Sumatera Barat Tanggal 7 Juni 2000. Secara administratif wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai, berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Mentawai Nomor 15 Tahun 2002 telah mengalami pemekaran.
3. Luas wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai secara keseluruhan adalah 6.011,35 Km² atau 601.135 Ha.
B. Kondisi Wilayah
1. Ketinggian dan Kemiringan
Berdasarkan hasil intepretasi terhadap peta topografi, ketinggian lahan di wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai cukup bervariasi, mulai dari dataran rendah yang berawal dari jenis pasang surut (0-2 meter DPL) sampai dengan ketinggian 50 meter hingga 270 MDPL. Namun secara umum, ketinggian lahan di wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai ini didominasi ketinggian lahan antara 100 – 150 MDPL. Keadaan topografi Kabupaten Kepulauan Mentawai berdasarkan kelerengan terbagi atas:
a. Coastal land/Flat land, yaitu daerah yang bermula dari garis pantai dan menaik menjadi zona kelerengan 0 – 3 % menuju daratan. Pada
36
daerah sekitar pantai merupakan dataran rendah dan rawa-rawa serta berlumpur, pada saat pasang daerah ini terendam air laut, seperti di Muara Siberut, muara sikabaluan serta desa-desa lainnya di pinggir pantai.
b. Low land, yaitu daerah yang memiliki topografi yang berombak dengan kemiringan antara 3 – 8 %, dan secara umum sudah bebas dari pengaruh pasang surut.
c. Middle land, merupakan daerah berbatasan dengan Low land menuju arah perbukitan dengan zona kemiringan 8 – 25 %. Pada daerah ini sangat sesuai untuk pengembangan perkebunan atau tanaman keras seperti karet, cengkeh, kelapa, nilam, manau, coklat dan komoditas lainnya.
d. Up land, bentuk berbukit-bukit hingga daerah catchment sungai- sungai baik yang bermuara ke pantai barat maupun pantai timur pulau, dengan ketinggian antara 50–275 m di atas permukaan laut dan dengan kelerengan >25%. Sebagian besar kawasan ini merupakan kawasan lindung.
2. Geologi
Ditinjau dari segi litologis, Pulau Sipora dan Pulau Siberut mempunyai litologi batu lempungan dengan di beberapa tempat ada sisipan batu intrusive. Dari umur geologi dapat diindikasikan sebagai wilayah yang berumur resen dan masih muda. Untuk Pulau Siberut memiliki laju sedimentasi yang tinggi sehingga pulau ini juga merupakan pulau sedimentasi, yang dipenuhi oleh lumpur, tanah liat bercampur kapur yang masih relatif muda.
Selain itu, juga terdapat batuan (schist) dan tanah kwarts dari masa pra- miocene, beberapa batu kapur dari miocene, serta vulkanis yang tersebar menunjukkan asalnya dari keadaan vulkanis Sumatera dari masa miocene.
Namun sebagian besar susunan geologis menunjukkan asal dari masa pliocene, pleistocene dan zaman baru. Struktur geologi Kepulauan Mentawai dibagi menjadi dua guguskepulauan yaitu gugus geologi Pulau
37
Siberut dan gugus geologi Pulau Sipora,Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan.
3. Mitigasi Bencana
Kepulauan Mentawai termasuk dalam kawasan potensi yang rawan bencana baik berupa gempa bumi (tektonik), gelombang besar tsunami, abrasi pantaidan longsor. Dari 43 desa yang ada, 33 desa diantaranya merupakan desapesisir, yang pada kondisi saat ini kawasan pesisir merupakan kawasan rawan bencana terhadap bahaya tsunami.
Sebagaimana yang telah terjadi padatanggal 25 Oktober 2010, bencana gempa bumi berkekuatan 7,2 SR (atau 7,5 SR menurut USGS) telah memicu terjadinya gelombang tsunami. Berdasarkan informasi dari BPBD Provinsi Sumatera Barat, kedalaman gempa bumi yang cukup dangkal dan terletak pada zona subduksi di bawah dasar laut tersebut telah memicu terjadinya gelombang tsunami dengan ketinggian gelombangmencapai 3 meter yang menghasilkan landaan tsunami sejauh 1 Kilometer kearah daratan.
Guncangan gempa dan gelombang tsunami tersebut telah menyebabkan kerusakan dan kerugian di 4 (empat) wilayah kecamatan di Kepulauan Mentawai, yaitu Kecamatan Sipora Selatan, Pagai Utara, Pagai Selatan dan Sikakap. Wilayah Kecamatan Pagai Selatan dan Pagai Utara merupakan daerah yang paling parah terkena dampak bencana yang mengakibatkan banyak korban jiwa dan kerusakan bangunan rumah serta sarana dan prasarana. Hal ini juga turut dipengaruhi oleh letak geografis wilayah Kecamatan Pagai Selatan yang berada dekat dengan pusat kejadian gempa dan terletak di pesisir pantai barat. Dengan kejadian tersebut di atas, mengakibatkan beberapa diantara 33 desa pesisir di wilayah ini terkena tsunami dan harus direlokasi ke tempat yang lebih aman.
C. Isu Strategis Sosial, Ekonomi dan Lingkungan 1. Kondisi Sosial
38
Dalam perencanaan tata ruang, kondisi sosial budaya pada hakekatnya merupakan aspek yang turut mempengaruhi pemanfaatan dan pengelolaan lingkungan yang terpadu. Eksploitasi bentang alam yang tidak memperhatikan kearifan lokal diduga akan menyebabkan krisis lingkungan. Budaya bermukim masyarakat dengan latar belakang sosial- budayanya telah menghasilkan produk lingkungan binaan sebagai wujud kearifan masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan alam.
Pemanfaatan dan pengelolaan lingkungan melalui proses perencanaan dan perancangan memerlukan pendekatan yang komprehensif dan terpadu. Penerapan kearifan lokal (local wisdom) merupakan suatu upaya dalam rangka mewujudkan lingkungan binaan yang harmoni dan sustainable melalui pemanfaatan pengetahuan lokal (indigenous knowledge), pendekatan kontekstual serta pendekatan partisipatif.
Masyarakat yang mendiami Kabupaten Kepulauan Mentawai terdiri dari suku Mentawai, Minang, Batak, dan Jawa. Secara sosiokultur penduduk asli Mentawai merupakan keturunan Polinesia dari Melayu Tua atau Proto Melayu, yang berbeda dengan penduduk yang bermukim di daratan Sumatera yangmerupakan keturunan Melayu. Sebagian besar penduduknya beragama Kristen Protestan, agama Kristen Katholik dan selebihnya beragama Islam.Masyarakat Mentawai bersifat patrilineal, struktur sosial tradisional adalah kebersamaan, mereka tinggal di rumah besar yang disebut juga "uma" yang berada di tanah-tanah suku. Seluruh makanan, hasil hutan dan pekerjaan dibagidalam satu uma. Struktur sosial itu juga bersifat egalitarian, yaitu setiap anggotadewasa dalam uma mempunyai kedudukan yang sama kecuali "Sikerei" (ataudukun) yang mempunyai hak lebih tinggi karena dapat menyembuhkan penyakitdan memimpin upacara keagamaan.
Agama Suku Mentawai adalah Arat Sabulungan yang percaya bahwa segala sesuatu mempunyai roh masing-masing yang sama sekali
39
terpisah dari raganya dan bebas berkeliaran di alam luas. Konsep Arat Sabulungan merupakan suatu kepercayaan bagaimana kelompok masyarakat memberi penghormatan yang sangat tinggi untuk hidup dalam keselarasan dengan alam lingkungannya. Dalam Arat Sabulungan menjelaskan seluruh benda hidup dan segala yang ada di alam mempunyai roh atau jiwa (simagre). Roh dapat memisahkan dari tubuh dan bergerak dengan bebas. Jika keharmonisan antara roh dan tubuhnya tidak dipelihara, maka roh akan pergi dan dapat menyebabkan penyakit. Konsep kepercayaan ini berlaku dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kegiatan keseharian dapat mengganggu keseimbangan dan keharmonisan roh di alam.
Kepercayaan Arat Sabulungan ini berhubungan erat dengan keberadaansumber daya alam yang tersedia di sekitarnya. Hal ini tercermin dalam tatanankehidupan sehari-hari masyarakat seperti berburu, bercocok tanam, meramu maupun menyiapkan permukiman. Adanya tata aturan menjadikan muncul keharmonisan hidup dengan lingkungan sekitarnya, contohnya masyarakatmemiliki konsep yang tegas dan jelas dalam mewujudkan suatu tata ruang dalam membagi.
2. Kondisi Ekonomi
Manusia dengan kebudayaannya mampumengatasi berbagai keterbatasan dalam hidupnya. Kebudayaan dalam hal ini dimaksudkan sebagai sistem rancangan gagasan, yang sedikit banyak dimiliki bersama untuk kehidupan dan merupakan kekhususan masyarakat tersebut (Keesing 1989: 146). Kebudayaan merupakan pedoman bagi kehidupan masyarakat atau blueprint, merupakan perangkat-perangkat acuan yang berlaku umum dan menyeluruh untuk menghadapi lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidup para warga masyarakat pendukung kebudayaan tersebut. Kebudayaan dengan demikian dilihat sebagai perangkat perangkat pengetahuan dan keyakinan-keyakinan yang dimiliki pendukung kebudayaan tersebut. Perangkat-perangkat pengetahuan dan keyakinan-keyakinan tersebut dilihat sebagai sistem yang terdiri atas
40
aturan-aturan yang berbeda-beda serta bertingkat-tingkat yang fungsional hubungannya satu sama lainnya secara keseluruhan.
4. Kepercayaan Lokal Sabulungan 1. Terminologi Sabulungan
Arat Sabulungan adalah kepercayaan asli bagi masyarakat suku bangsa Mentawai yang berasal dari Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat, Indonesia, teristimewa orang Sakuddei di pulau Siberut. Secara bahasa, Arat berarti adat, Sa berarti sekitar, dan bulungan artinya daun. Sebutan Sabulungan lahir karena acara ritualnya selalu menggunakan daun-daun yang dipercaya bisa menjadi perantara hubungan manusia dengan Tuhan yang disebut dengan Ulau Manua. Awalnya, istilah arat tidak dipergunakan dan nama yang lebih sering dipakai adalah punen yang memiliki arti kegiatan, upacara, atau pesta. Seiring berjalannya waktu, diperkenalkan istilah arat pada era 1950-an untuk menyebut kepercayaan ini. Jadi, kata arat mewakili kepercayaan atau ideologi sementara punen lebih sering mengacu pada perayaan seremonial dan upacara.
Suku Mentawai tinggal di Kepulauan Mentawai yang terletak sekitar 100 KM di sebelah barat pantai Sumatera, yang terdiri dari 40 pulau besar dan kecil. Ada empat pulau besar yang didiami manusia yaitu Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan. Masyarakat Mentawai memiliki kepercayaan yang unik dalam menjaga makhluk, tumbuhan dan hewan. Masyarakat berinteraksi dengan alam dan dapat mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan oleh alam. Bagi masyarakat Mentawai alam itu punya nyawa dan hidup, sewaktu waktu alam bisa memberikan sesuatu yang berguna bagi manusia dan sewaktu-waktu alam akan murka.
Tindakan Penduduk Mentawai selalu dikontrol dengan cara pantangan (enungan mukeikei).
Pandangan ini sangat berbeda dengan paradigma masyarakat modern yang memandang manusia sebagai makhluk yang paling tinggi