38
Dalam perencanaan tata ruang, kondisi sosial budaya pada hakekatnya merupakan aspek yang turut mempengaruhi pemanfaatan dan pengelolaan lingkungan yang terpadu. Eksploitasi bentang alam yang tidak memperhatikan kearifan lokal diduga akan menyebabkan krisis lingkungan. Budaya bermukim masyarakat dengan latar belakang sosial-budayanya telah menghasilkan produk lingkungan binaan sebagai wujud kearifan masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan alam.
Pemanfaatan dan pengelolaan lingkungan melalui proses perencanaan dan perancangan memerlukan pendekatan yang komprehensif dan terpadu. Penerapan kearifan lokal (local wisdom) merupakan suatu upaya dalam rangka mewujudkan lingkungan binaan yang harmoni dan sustainable melalui pemanfaatan pengetahuan lokal (indigenous knowledge), pendekatan kontekstual serta pendekatan partisipatif.
Masyarakat yang mendiami Kabupaten Kepulauan Mentawai terdiri dari suku Mentawai, Minang, Batak, dan Jawa. Secara sosiokultur penduduk asli Mentawai merupakan keturunan Polinesia dari Melayu Tua atau Proto Melayu, yang berbeda dengan penduduk yang bermukim di daratan Sumatera yangmerupakan keturunan Melayu. Sebagian besar penduduknya beragama Kristen Protestan, agama Kristen Katholik dan selebihnya beragama Islam.Masyarakat Mentawai bersifat patrilineal, struktur sosial tradisional adalah kebersamaan, mereka tinggal di rumah besar yang disebut juga "uma" yang berada di tanah-tanah suku. Seluruh makanan, hasil hutan dan pekerjaan dibagidalam satu uma. Struktur sosial itu juga bersifat egalitarian, yaitu setiap anggotadewasa dalam uma mempunyai kedudukan yang sama kecuali "Sikerei" (ataudukun) yang mempunyai hak lebih tinggi karena dapat menyembuhkan penyakitdan memimpin upacara keagamaan.
Agama Suku Mentawai adalah Arat Sabulungan yang percaya bahwa segala sesuatu mempunyai roh masing-masing yang sama sekali
39
terpisah dari raganya dan bebas berkeliaran di alam luas. Konsep Arat Sabulungan merupakan suatu kepercayaan bagaimana kelompok masyarakat memberi penghormatan yang sangat tinggi untuk hidup dalam keselarasan dengan alam lingkungannya. Dalam Arat Sabulungan menjelaskan seluruh benda hidup dan segala yang ada di alam mempunyai roh atau jiwa (simagre). Roh dapat memisahkan dari tubuh dan bergerak dengan bebas. Jika keharmonisan antara roh dan tubuhnya tidak dipelihara, maka roh akan pergi dan dapat menyebabkan penyakit. Konsep kepercayaan ini berlaku dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kegiatan keseharian dapat mengganggu keseimbangan dan keharmonisan roh di alam.
Kepercayaan Arat Sabulungan ini berhubungan erat dengan keberadaansumber daya alam yang tersedia di sekitarnya. Hal ini tercermin dalam tatanankehidupan sehari-hari masyarakat seperti berburu, bercocok tanam, meramu maupun menyiapkan permukiman. Adanya tata aturan menjadikan muncul keharmonisan hidup dengan lingkungan sekitarnya, contohnya masyarakatmemiliki konsep yang tegas dan jelas dalam mewujudkan suatu tata ruang dalam membagi.
2. Kondisi Ekonomi
Manusia dengan kebudayaannya mampumengatasi berbagai keterbatasan dalam hidupnya. Kebudayaan dalam hal ini dimaksudkan sebagai sistem rancangan gagasan, yang sedikit banyak dimiliki bersama untuk kehidupan dan merupakan kekhususan masyarakat tersebut (Keesing 1989: 146). Kebudayaan merupakan pedoman bagi kehidupan masyarakat atau blueprint, merupakan perangkat-perangkat acuan yang berlaku umum dan menyeluruh untuk menghadapi lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidup para warga masyarakat pendukung kebudayaan tersebut. Kebudayaan dengan demikian dilihat sebagai perangkat perangkat pengetahuan dan keyakinan-keyakinan yang dimiliki pendukung kebudayaan tersebut. Perangkat-perangkat pengetahuan dan keyakinan-keyakinan tersebut dilihat sebagai sistem yang terdiri atas
40
aturan-aturan yang berbeda-beda serta bertingkat-tingkat yang fungsional hubungannya satu sama lainnya secara keseluruhan.
4. Kepercayaan Lokal Sabulungan 1. Terminologi Sabulungan
Arat Sabulungan adalah kepercayaan asli bagi masyarakat suku bangsa Mentawai yang berasal dari Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat, Indonesia, teristimewa orang Sakuddei di pulau Siberut. Secara bahasa, Arat berarti adat, Sa berarti sekitar, dan bulungan artinya daun. Sebutan Sabulungan lahir karena acara ritualnya selalu menggunakan daun-daun yang dipercaya bisa menjadi perantara hubungan manusia dengan Tuhan yang disebut dengan Ulau Manua. Awalnya, istilah arat tidak dipergunakan dan nama yang lebih sering dipakai adalah punen yang memiliki arti kegiatan, upacara, atau pesta. Seiring berjalannya waktu, diperkenalkan istilah arat pada era 1950-an untuk menyebut kepercayaan ini. Jadi, kata arat mewakili kepercayaan atau ideologi sementara punen lebih sering mengacu pada perayaan seremonial dan upacara.
Suku Mentawai tinggal di Kepulauan Mentawai yang terletak sekitar 100 KM di sebelah barat pantai Sumatera, yang terdiri dari 40 pulau besar dan kecil. Ada empat pulau besar yang didiami manusia yaitu Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan. Masyarakat Mentawai memiliki kepercayaan yang unik dalam menjaga makhluk, tumbuhan dan hewan. Masyarakat berinteraksi dengan alam dan dapat mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan oleh alam. Bagi masyarakat Mentawai alam itu punya nyawa dan hidup, sewaktu waktu alam bisa memberikan sesuatu yang berguna bagi manusia dan sewaktu-waktu alam akan murka.
Tindakan Penduduk Mentawai selalu dikontrol dengan cara pantangan (enungan mukeikei).
Pandangan ini sangat berbeda dengan paradigma masyarakat modern yang memandang manusia sebagai makhluk yang paling tinggi
41
derajatnya. Masyarakat Mentawai memiliki kemampuan berkomunikasi dengan alam, kemampuan yang tidak dimiliki manusia lain. Kemampuan ini syarat dengan ide post human, kemampuan yang tidak manusiawi.
Penulis ingin menggali ide posthuman yang muncul dalam keseharian Masyarakat Mentawai. (Model & Baru, 2019)
Agama tradisional Mentawi adalah Arat Sabulungan. Orang Mentawai Barat sering menyebut agama dalam bahasa sehari-hari sebagai Alat. Kata ini mengikuti istilah umum yang mengacu pada kepercayaan lokal yang berasal dari ajaran nenek moyang mereka, yaitu Arat Sabulungan. Arat artinya adat dan Sabulungan berasal dari kata bulug yang artinya daun. Penambahan awalan (sa) dan akhiran (an) menunjukkan kondisi kelompok. Sabulungan berarti kumpulan daun atau tumbuhan yang sering digunakan dalam praktek ritual mereka. Kumpulan daun-daunan ini sebagai bahan ritual dan mantra dalam upacara keagamaan, juga sebagai perantara dan persembahan bagi roh-roh pelindung uma, Sabulungan dipahami dari prilaku manusia yang menjalankan keyakinan terhadap roh-roh yang tidak kelihatan dengan persembahan (buluat) sebagai wujud pemujaan agar memperoleh keberuntungan dan terhindar dari celaka. (Delfi, 2014)
Agama ini berasal dari ajaran nenek moyang berisi seperangkat nilai yang berisi aturan hidup masyarakat Mentawai, biasa disebut dengan Kepulauan Mentawai, Arat Sabulungan mengandung filosofi kehidupan oMentawai. Arat juga dianggap sebagai warisan suci dan menjadi norma kehidupan pribadi, di keluarga dan uma (klan), karenanya Arat tersebut bagi orang Mentawai adalah keselarasan dengan dunia dan pemersatu dengan uma. Keselarasan dengan alam mencakup keselaran antara masyarakat, manusia dengan Alam, makhluk hidup (tumbuhan dan hewan), benda mati, peristiwa alam, dan hubungan interpersonal dengan roh gaib. Arat sebagai aturan-aturan yang berasal dari nenek moyang dianggap aturan yang sangat penting dalam kehidupan orang Mentawai, terutama bagi mereka yang masih terikat dalam kehidupan komunal uma.
42
Uma menjadi pusat dalam berbagai praktik ritual kelompok dan menjadi hal penting dalam kehidupan orang Mentawai. (Dalam & Arat, 2012)
Dipakainya istilah arat dilatarbelakangi oleh kebutuhan pemerintah dan para misionaris untuk menyebut berbagai agama, termasuk sistem kepercayaan tradisional. Sabulungan kemudian dikategorikan sebagai agama setelah ditambahkan istilah arat. Istilah ini juga diberikan kepada agama yang dibawa dari luar Mentawai seperti arat Katolik, arat Protestan, dan arat Islam. Kepercayaan Arat Sabulungan mengandung dua keyakinan, yaitu keyakinan mengenai adanya hubungan gaib antara berbagai hal yang berbeda. Kemudian keyakinan kedua adalah adanya kekuatan gaib yang memiliki kesaktian namun tidak berkemauan dalam alam sekitar manusia. Meski mayoritas masyarakat Mentawai sudah menganut agama Katolik di samping Protestan, Islam, atau Baha'i, kepercayaan Arat Sabulungan masih mampu bertahan bersama sebagian penganutnya.
Arat Sabulungan mengajarkan agar adanya keseimbangan antara alam dan manusia. Artinya, manusia sudah semestinya memperlakukan alam dan seisinya seperti tumbuh-tumbuhan, air, dan hewan seperti mereka memperlakukan dirinya sendiri. Ajaran mengenai keseimbangan manusia dan alam terefleksi dari bagaimana alam dimaknai oleh penganutnya. Alam dianggap sebagai tempat bersemayamnya para dewa sehingga harus dihormati. Jika sikap hormat itu tidak ada, maka manusia akan ditimpa malapetaka, wawasan penduduk Mentawai mengenai alam lingkungan dan jagat raya tidak berasal dari cerita dongeng, melainkan dari kisah yang benar-benar pernah terjadi.
Pada zaman dahulu, Arat Sabulungan menjadi patokan norma untuk mengatur hubungan antara manusia dan alam serta dalam hubungan batin dengan tuhan. Dari sini, kemudian terjalin sikap hormat orang Mentawai terhadap alam. Jika alam dirusak, maka pemiliknya yang memiliki kekuatan sangat besar pun akan mengirim bencana. Pelanggaran terhadap aturan pun akan berakibat hukuman. Hukuman ini ditentukan
43
melalui musyawarah di uma. Jika ada satu orang yang melanggar, maka seluruh anggota masyarakat juga dianggap akan terkena dampaknya.
2. Mitologi dan Sistim kepercayaan
Dalam kepercayaan Arat Sabulungan, diyakini bahwa roh leluhur nenek moyang yang disebut Ketsat adalah zat yang memiliki kesaktian.
Selain itu, dipercaya bahwa roh terkandung dalam setiap objek yang ada di dunia, baik itu benda mati maupun makhluk hidup. Roh ini terpisah dari jasad yang berkeliaran secara bebas di alam luas. Pemahaman ini berbeda dengan agama-agama Samawi yang dominan di Indonesia dewasa ini di mana roh diyakini hanya terdapat pada makhluk hidup. Arat Sabulungan mengajarkan bahwa bukan manusia saja yang memiliki jiwa. Roh setiap objek di dunia dipercaya menempati seluruh ruang di alam semesta, baik itu di darat, laut, dan udara. Perlu diketahui, gagasan mengenai roh dan jiwa adalah hal yang berbeda di mana jiwa dapat berdiam di dalam tubuh manusia yang sudah meninggal dunia meski rohnya sudah pergi.
Roh-roh yang banyak dikenal dalam kepercayaan Arat Sabulungan turut kerap dijumpai dalam mitos yang menceritakan asal-usul dunia di mata penduduk Mentawai. Mitos-mitos ini dirangkum dalam sebuah buku berjudul Mitos dan Legenda Suku Mentawai yang ditulis oleh Bruno Spina. Dicatat bahwa dunia ini diyakini diciptakan oleh roh-roh dengan cara dilempar dari langit hingga terbentuklah pulau-pulau Sumatra dan sekitarnya. Kemudian roh-roh menciptakan pula manusia dan hewan yang menghuni pulau tersebut dan memberikan berbagai bimbingan kepada manusia pertama mengenai cara-cara hidup. Roh orang yang sudah meninggal dipercaya bisa berkomunikasi dengan manusia yang masih hidup dan tinggal di dunia. Komunikasi ini diperantarai oleh Sikerei alias tabib atau dukun tradisional Mentawai. Roh orang yang meninggal tersebut bahkan bisa menuturkan certia mengenai kematiannya atau menitipkan pesan kepada keluarga yang ditinggalkan untuk kemudian disampaikan kepada keluarga oleh Sikerei.
44
Jika asal-usul dunia bisa dijelaskan melalui cerita mitologi yang berkaitan dengan roh, gagasan mengenai asal-usul manusia justru sebaliknya karena tidak ada penjelasan apapun yang diyakini orang-orang Mentawai. Menurut Spina, kepercayaan yang dipegang orang Mentawai mengenai asal-usul keberadaan manusia konsepnya berbeda dengan banyak suku bangsa lain di Indonesia. Tidak ada cerita atau konsep mengenai asal-usul eksistensi manusia.
Bagi orang Mentawai, dunia adalah tempat besar di mana mereka bisa hidup dengan memanfaatkan segala sumber daya yang ada di alam. Maka dari itu manusia diwajibkan menjalin hubungan baik dengan roh-roh dengan cara selalu berterima kasih dan tidak menyalahgunakan segala yang bisa didapatkan. Dunia yang dihuni ini dianggap bukanlah milik manusia.
Ada beberapa roh yang dikenal dalam kepercayaan Arat Sabulungan di mana roh-roh tersebut memiliki peran dan karakter yang berbeda satu-sama lain. Konsep pengetahuan akan hal gaib berupa roh yang menyebabkan orang dapat hidup disebut dengan Simagre. Roh yang dikenal di antaranya Sabulungan, yaitu roh yang keluar dari tubuh dan dianggap keluarnya terkadang hanya untuk sesaat, misalnya ketika seseorang sedang terkejut. Selain itu ada pula roh yang tidak pergi jauh dari tempat yang dihuni manusia di bumi, di air, udara, hutan belantara dan pegunungan. Di dalam uma, yaitu rumah yang berfungsi sebagai balai pertemuan dan tempat digelarnya acara-cara adat Mentawai juga bahkan dikenal terdapat roh penunggu. Roh ini disebut dengan nama kina. Tidak hanya roh baik, dikenal pula roh yang bersifat jahat yang memiliki tugas menebarkan penyakit dan menimbulkan gangguan bagi manusia yang disebut sanitu. Roh ini berasal dari roh manusia yang bergentayangan setelah mati dengan cara yang tidak wajar, misalnya mati dibunuh atau bunuh diri.
Sementara itu, istilah magere digunakan untuk merujuk pada jiwa manusia. Magere ini diyakini beerada di bagian ubun-ubun kepala,
45
Magere bisa keluar dari tempatnya berdiam dan melakukan petualangan saat manusia sedang tertidur hingga menimbulkan mimpi. Jika magere bertemu dengan roh jahat ketika sedang keluar, maka tubuh manusia tersebut akan sakit. Sedangkan jika tubuh meminta pertolongan kepada leluhur maka tubuh akan meninggal dengan roh yang telah pergi. Perginya roh sekaligus membuat tubuh hanya di tempat oleh jiwa yang disebut pitok.
Pitok adalah sosok yang ditakuti oleh masyarakat Mentawai. Pitok dipercaya mencari tubuh manusia lain sebagai korban agar ia bisa terus berada di bumi. Karena alasan inilah masyarakat Mentawai kerap menggelar upacara-upacara untuk mengusir pitok. Selain roh dan jiwa, pengakuan terhadap keberdaaan dewa-dewa juga dikenal dalam Arat Sabulungan. Setidaknya ada tiga dewa yang diposisikan secara terhormat.
Pertama Tai Kalelu, yakni dewa hutan dan gunung. Kedua Tai Leubagat, yaitu dewa laut. Yang ketiga adalah dewa langit pemberi hujan dan kehidupan yang disebut Tai Kamanua.
3. Ritual dan kepercayaan
Ada beberapa ritual yang biasa dilakukan masyarakat Mentawai penganut kepercayaan Arat Sabulungan. Misalnya ada masa nyepi di mana oang-orang akan menghentikan aktivitas rutinnya untuk sementara. Masa nyepi ini ada dua macam, yaitu Lia dan Punen. Lia adalah menghentikan akfitas karena adanya peristiwa-peristiwa hidup yang dianggap penting seperti kelahiran, kematian, atau ada anggota keluarga yang sakit.
Kegiatan pembuatan perahu pun termasuk masa-masa yang perlu diiringi dengan lia.
Tradisi Sabulungan identik dengan proses pembuatan tato Mentawai melalui proses ritual, dan memakan waktu lama, karena merupakan bagian dari Arat Sabulungan (kepercayaan terhadap makhluk halus). Sebelum melakukan ritual tato, upacara adat yang disebut "punen kepa", yang bertujuan untuk menghilangkan pengaruh jahat dan ancaman pertumpahan darah terhadap dusun tempat mereka tinggal. (Yulia et al., 2019)
46
Sementara itu, punen adalah nyepi yang dilakukan oleh masyarakat secara keseluruhan di mana pelaksanannya menyangkut masa pembangunan uma, kecelakaan, merebaknya wabah penyakit, atau adanya pembunuhan. Selama pelaksanaan lia dan punen, masyarakat tidak diperbolehkan bekerja. Sedangkan kegiatan makan dan minum masih diizinkan untuk dilakukan. Lia tergolong sebagai upacara kecil yang dalam perayaannya tidak disertai acara seperti berburu hewan atau pementasan tari-tarian. Lia dan punen pun ada beragam macamnya, misalnya lia sagu dan lia sapuo, kemudian untuk punen di antaranya ada punen matutu, punen, lalai angalou, punen pangambok, dan punen abinen.
Bagi orang Mentawai penganut Arat Sabulungan, ritual dalam daur hidupnya sudah dilakukan sejak seseorang baru dilahirkan ke dunia.
Pangabela adalah ritual pertama yang dilakukan oleh seseorang sesaat setelah lahir sebagai bayi. Tujuannya, memperkenalkan sang bayi dengan alam serta roh-roh di dalamnya. Dengan pangabela seorang bayi diharapkan terhindar dari penyakit dan keberadaannya tidak menimbulkan gangguan bagi roh-roh. Pangabela dilakukan tiga hari setelah kelahiran dengan memberi sang bayi makanan dan memandikannya di sungai hingga kulitnya memucat karena kedinginan.
Kemudian, dinyalakan api pada suluh dan menanam beberapa jenis tanaman tertentu. Ibu bayi kemudian membawa anaknya pulang ke rumah sambil menuangkan air sungai di sepanjang jalan. Untuk memberikan nama untuk bayi pun diperlukan ritual khusus yang disebut pangambok.
Ritual yang disertai penyembelihan hewan kurban berupa ayam atau babu ini si bayi akan mendapatkan nama Mentawainya.
Dengan bertambahnya usia penduduk Mentawai, ritual akan kembali diadakan untuk menjadikan seseorang yang beranjak remaja memiliki kemampuan untuk menang hewan, baik itu lewat berburu di hutan atau menangkap ikan di sungai. Bagi anak laki-laki, upacara ini disebut eneget sementara untuk perempuan adalah sogunei. Jika orang Mentawai anak menikah, ritual khusus kembali digelar dengan nama pangurei yang
47
beruapa acara makan bersama antara mempelai pria dan perempuan.
Dilakukan pula pemberian persembahan berupa seekor ayam dan telur serta babi. Pelaksanaan pangurei ini mengalami perubahan setelah dianutnya agama-agama dari luar. Pangurei dewasa ini disertai dengan doa-doa dari agama yang dianut dan terkadang digelar setelah pernikahan digelar, bahkan saat kedua mempelai sudah memiliki anak.
Dalam kematian sebagai tahap terakhir dari daur hidup manusia di dunia, kepercayaan Arat Sabulungan memiliki ritual untuk membersihkan rumah dari pengaruh roh orang yang meninggal itu. Ritual tersebut berupa acara memercikan rumah orang yang meninggal dengan air. Selain itu, barang-barang milik orang yang meninggal juga dikeluarkan dari rumah dengan harapan roh orang yang meninggal tidak datang lagi untuk mengambilnya. Seperti beragam ritual Arat Sabulungan lain, ritual kematian ini juga sudah dipengaruhi pengaruh agama yang datang dari luar. Air yang dipercikkan misalnya, digunakan air suci yang telah diberkati oleh imam. Doa-doa yang dibacakan pun juga berupa doa katolik.
4. Perkembangan dan Dinamika
Masuknya pengaruh dari luar ke Mentawai turut berpengaruh terhadap keberadaan Arat Sabulungan. Pada perkembangannya, Arat Sabulungan tidak lagi dilaksanakan secara formal. Terlebih setelah hadirnya agama-agama baru, posisi Arat Sabulungan menjadi semakin terpojok pada tahun 1950-an. Agama-agam baru punya pengaruh besar di Mentawai, terutama Protestan yang memiliki jumlah penganut terbanyak.
Berdasarkan Data Sensus Penduduk Kabupaten Mentawai tahun 2010, agama Protestan menjadi yang terbanyak dianut oleh masyarakat dengan persentase 50,32 persen, disusul oleh Katolik (36,62 persen), dan Islam (16,57 persen). Program pengenalan agama baru dari luar Mentawai sudah tercatat ada sejak awal abad ke-20. Adalah R.M.G (Reinise Zending Mission Geselschaft) yang sudah mulai bekerja menyebarkan agama Kristen di Mentawai sejak tahun 1901. Upaya pengkristenan ini semakin
48
masif hingga bergulirnya Perang Dunia Kedua. Selain agama Kriten, Islam juga disebarkan olah mualim-mualim Muslim yang menjalankan misi memualafkan orang Mentawai sejak masa pendudukan Jepang.
Selepas kemerdekaan Indonesia, giliran Zending Batak yang menjalankan misi perluasan agama pada akhir tahun 1951. Awalnya, kehadiran agama baru menuai pertentangan dari masyarakat Mentawai.
Perlawanan fisik bahkan tidak terhindarkan karena mereka merasa sudah punya agama yang dijadikan pegangan hidup. Meski demikian, kemudian yang terjadi adalah sejumlah penduduk ditangkap dan dipaksa meninggalkan Arat Sabulungan lalu memeluk agama baru. Arat Sabulungan yang dianggap sebagai kepercayaan sesat pun harus rela segala atributnya dihancurkan. Ancaman dan pemaksaan yang ada sempat membuat masyarakat takut untuk melaksanakan ritual. Namun, Mentawai bagian Siberut masih mempertahankan kepercayaannya dengan gigih sementara di wilayah lain tradisinya telah meluntur.
Pemberangusan Arat Sabulungan mencapai puncaknya pada tahun 1954. Kala itu digelar Rapat Tiga Agama yang melibatkan pihak Kristen Protestan, Islam, dan Arat Sabulungan. Rapat digelar di tiap-tiap kecamatan menjelang lahirnya tiga keputusan yang sekaligus semakin membenamkan Arat Sabulungan. Ketiga keputusan tersebut adalah sebagai berikut.
a. Agama Sabulungan harus dihapuskan dengan paksa dengan pertolongan polisi.
b. Dalam tempo tiga bulan masyarakat diberi kebebasan untuk memilih agama Kristen Protestan atau Islam bagi penduduk asli atau penganut Arat Sabulungan.
c. Kalau dalam tempo tersebut tidak juga memilih, maka semua alat-alat pujaan agama Sabulungan harus dibakar polisi dan diancam dijatuhi hukuman.
Adalah Surat Keputusan No. 167/PROMOSI/1954 tentang pembentukan Panitia Interdepartemental Peninjauan
Kepercayaan-49
kepercayaan di dalam Masyarakat (Panitia Interdep Pakem) yang menjadi dasar pemerintah menyatakan Arat Sabulungan sebagai kepercayaan terlarang pada tahun 1954. SK itu berisi aturan yang bertujuan untuk menertibkan macam-macam adat perkawinan karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran agama resmi negara dan dikeluarkan oleh Perdana Menteri Republik Indonesia, Ali Sastroamidjojo. Tidak hanya Arat Sabulungan, SK itu juga berlaku untuk banyak aliran kepercayaan lain di Indonesia.
Pada 1955, orang Mentawai dihadapkan keharusan untuk memeluk satu dari agar, yang diajukan. Tradisi Arat Sabulungan pun tidak bisa dilakukan lagi, misalnya ritual yang melibatkan sikerei, pemakaian tato tradisional, atau meruncingkan gigi sebagai bagian dari ritus. Untuk semakin menghapus budaya Arat Sabulungan, pemerintah juga menggerakan program transmigrasi lokal. Penganut Arat Sabulungan pun hanya tersisa di Pulau Siberut karena pulau yang menjadi pusat kebudayaan lokal itu sulit untuk dijangkau.
Kebebasan orang Mentawai untuk melaksanakan ritual dan mempraktikkan tradisi Arat Sabulungan baru didapat lagi pada tahun 1980-an setelah perwakilan masyarakat menemui pemerintah provinsi Sumatra Barat di Padang untuk menanyakan perihal pelarangan yang
Kebebasan orang Mentawai untuk melaksanakan ritual dan mempraktikkan tradisi Arat Sabulungan baru didapat lagi pada tahun 1980-an setelah perwakilan masyarakat menemui pemerintah provinsi Sumatra Barat di Padang untuk menanyakan perihal pelarangan yang