Bab 5 Profil Gender Bidang Pendidikan
5.4 Angka Melek Huruf berdasarkan Kelompok Umur 38
dinas-dinas terkait dapat bersinergi untuk memetakan permasalahan tersebut dan menemukan solusi bersama.
5.4 Angka Melek Huruf berdasarkan Kelompok Umur
Pendidikan menjadi satu syarat utama dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Penduduk yang terdidik akan memiliki pengetahuan yang lebih luas serta daya tawar lebih kuat, yang tentu saja akan bermanfaat bagi kehidupan dan penghidupannya. Terkait dengan pendidikan dan pengetahuan ini, indikator yang paling mendasar adalah kemampuan penduduk untuk membaca dan menulis. Hal ini karena membaca merupakan dasar utama dalam memperluas ilmu pengetahuan. Dengan demikian, di samping mengetahui akses terhadap fasilitas pendidikan yang tercermin melalui capaian APK, APM dan APS, penting pula untuk mengetahui sejauh mana kemampuan membaca dan menulis penduduk di suatu wilayah. Dalam terminologi BPS, kemampuan membaca dan menulis ini diketahui melalui pengukuran angka melek huruf, yang merupakan proporsi penduduk usia 15 tahun ke atas yang mempunyai kemampuan membaca dan menulis huruf latin dan huruf lainnya, tanpa harus mengerti apa yang dibaca atau ditulisnya terhadap penduduk usia 15 tahun ke atas (BPS).
Tabel 5.4 Angka Melek Huruf Kota Yogyakarta Tahun 2018-2019
BPS (2018) BPS (2018-2019) Kemampuan
Membaca Laki-laki Perempuan Kelompok Umur 2018 2019
Huruf Latin 99.46 97.43 15-19 100.00 100.00 Huruf Lainnya 62.90 60.48 20-24 100.00 100.00 Melek Huruf 99.60 97.95 25-29 100.00 100.00 30-34 100.00 100.00 35-39 100.00 100.00 40-44 100.00 100.00 45-49 97.75 98.75 50+ 96.18 96.7 Jumlah 98.75 98.95 Sumber: BPS Kota Yogyakarta
Penghitungan dan pencapaian angka melek huruf penting dilakukan untuk beberapa kegunaan. Menurut BPS, kegunaan yang pertama adalah untuk
Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020
39
melihat pencapaian indikator dasar yang telah dicapai oleh suatu daerah. Kegunaan yang kedua adalah untuk melihat sejauh mana penduduk suatu daerah terbuka terhadap pengetahuan. Masih menurut BPS, bila angka melek huruf tinggi, atau dengan kata lain tingkat buta huruf rendah, menunjukkan adanya sebuah sistem pendidikan dasar yang efektif dan/atau program keaksaraan yang memungkinkan sebagian besar penduduk untuk memperoleh kemampuan menggunakan kata-kata tertulis dalam kehidupan sehari-hari dan melanjutkan pembelajarannya. Dengan demikian, angka melek huruf perlu terus diupayakan terus meningkat sampai pada akhirnya tidak ada lagi penduduk yang buta huruf.
Angka melek huruf di Kota Yogyakarta berdasarkan kelompok umur tahun 2018-2019 yang dirilis BPS (tabel 6.3. kolom BPS (2018-2019)) menunjukkanbahwa pada kelompok umur muda, angka melek huruf sudah mencapai 100%. Artinya, penduduk pada kelompok-kelompok umur tersebut semuanya telah mampu membaca dan menulis. Penduduk yang tidak melek huruf pada 2018 dan 2019 umumnya adalah penduduk kelompok umur lebih tua, yaitu 45 tahun ke atas. Kelompok ini adalah hasil dari program pendidikan di masa lalu yang mungkin belum sebaik sekarang dari sisi akses kesempatan, akses fasilitas dan kesadaran terhadap pendidikan. Secara tidak langsung, hal ini juga menggambarkan telah terjadi perbaikan dan peningkatan sistem pendidikan, akses dan kesadaran terhadap pentingnya pendidikan dari waktu ke waktu.
Kemudian berdasarkan jenis kelamin, data BPS tahun 2018 (tabel 6.3. kolom BPS (2018)) juga menunjukkan angka melek huruf yang tinggi, yaitu 99,60% untuk laki-laki dan 97,95% untuk perempuan. Angkanya memang tidak mencapai 100% karena sebagaimana dijelaskan sebelumnya, terdapat beberapa kelompok umur, umumnya kelompok umur tua yang tidak semuanya melek huruf. Kemudian apabila jumlah penduduk laki-laki dan perempuan dibandingkan, meski angkanya sama-sama tinggi, angka melek huruf pada laki-laki relatif lebih tinggi dari perempuan. Selisih angka melek huruf antara laki-laki dan perempuan sekitar 1,65 %, sehingga dapat dikatakan terjadi kesempatan dan akses yang berbeda antara perempuan dan laki-laki pada kisaran angka tersebut. Selisih tersebut tentunya juga berasal dari perempuan kelompok umur 45 tahun ke atas karena pada kelompok usia yang lebih muda, semua penduduk, baik laki-laki maupun perempuan, telah 100% melek huruf. Dengan demikian, perbedaan akses antara laki-laki dan perempuan bisa jadi berkaitan dengan aspek sosial, budaya, dan ekonomi yang mungkin belum sebaik sekarang dan kurang berpihak pada perempuan.
40
Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020
Dengan kecenderungan pada kelompok umur muda, baik laki-laki maupun perempuan, angka melek huruf sudah mencapai 100%. Hal ini berarti bahwa angka melek huruf sudah tidak menjadi masalah lagi di Kota Yogyakarta. Penduduk laki-laki dan perempuan juga memiliki kesempatan dan akses yang sama untuk melek huruf. Hal yang perlu diperhatikan saat ini adalah memastikan ahwa pada tahun-tahun ke depan, semua penduduk, khususnya kelompok muda, semuanya melek huruf serta mendapatkan akses yang tetap sama dan merata untuk semua penduduk laki-laki dan perempuan.
5.5 Angka Putus Sekolah berdasarkan Jenjang
Pendidikan
Akses pendidikan yang merata bagi seluruh warga negara merupakan salah satu kewajiban negara yang harus dipenuhi. Oleh sebab itu, pemerintah pusat maupun daerah, melalui berbagai program, melakukan pembangunan di bidang pendidikan untuk memastikan fasilitas pendidikan dapat diakses oleh semua anak usia sekolah. Kemudian untuk mengevaluasi sejauh mana keberhasilan pembangunan di bidang pendidikan tersebut, beberapa indikator telah dibuat, seperti Angka Partisipasi Kasar (APK), Angka Partisipasi Murni (APM), Angka Partisipasi Sekolah (APS) serta Angka Putus Sekolah. APK, APM, dan APS. Indikator-indikator ini telah dibahas pada sub-bab sebelumnya. Selain tiga indikator tersebut yang menunjukkan capaian positif, seberapa besar angka putus sekolah masih terjadi juga penting untuk dilihat sebagai bahan evaluasi. BPS mendefinisikan angka putus sekolah ini sebagai proporsi anak menurut kelompok usia sekolah yang sudah tidak bersekolah lagi atau yang tidak menamatkan suatu jenjang pendidikan tertentu. Kelompok usia sekolah ini terdiri atas SD/MI/sederajat (7-12 tahun), SLTP/MTs (13-15 tahun), dan SLTA/sederajat (16-18 tahun). Masih menurut BPS, angka putus sekolah ini penting dilihat karena berguna untuk mengukur kemajuan pembangunan di bidang pendidikan dan untuk melihat keterjangkauan pendidikan maupun pemerataan pendidikan pada masing-masing kelompok umur. Angka putus sekolah yang semakin tinggi menggambarkan kondisi pendidikan yang tidak baik dan tidak merata, begitu pula sebaliknya. Daerah dengan angka putus sekolah yang masih tinggi memiliki pekerjaan rumah yang cukup berat untuk menurunkan atau bahkan menghilangkan sama sekali kejadian putus sekolah.Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020
41
Tabel 5.5 Angka Putus Sekolah berdasarkan Jenjang Pendidikan Kota Yogyakarta Tahun 2018-2019
Jenjang Pendidikan 2018 2019
Laki-Laki Perempuan Laki-Laki Perempuan
SD/MI/Sederajat 0 0 0 0
SLTP/MTs/Sederajat 0 0 4 0
SLTA/Sederajat 11 2 TT TT
Sumber: BPS Kota Yogyakarta
Bergelar Kota Pelajar, seluruh wilayah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi barometer pendidikan bagi wilayah-wilayah lain di Indonesia. Dengan demikian, tanggung jawab untuk memastikan akses pendidikan merata bagi semua kelompok usia sekolah menjadi lebih berat, termasuk bagi Pemerintah Kota Yogyakarta. Sejauh ini, tantangan tersebut mampu dijawab oleh Pemerintah Kota Yogyakarta, terutama untuk pendidikan dasar dan menengah. Pada 2018 dan 2019, tidak ada kasus putus sekolah sama sekali untuk tingkat pendidikan SD/MI/Sederajat. Artinya, semua anak usia sekolah 7-12 tahun telah mendapatkan layanan pendidikan SD/MI. Kondisi yang sama juga terjadi pada tingkat pendidikan SLTP/MTs untuk tahun 2018. Pada tahun tersebut, semua anak kelompok usia 13-15 tahun telah mendapatkan akses pendidikan SLTP/MTs. Namun pada 2019, terdapat empat kasus putus sekolah terhadap kelompok usia tersebut. Dari empat kasus tersebut semuanya laki-laki, baik karena setelah lulus tidak melanjutkan ke SMP/MTs maupun berhenti di tengah menempuh pendidikan SMP/MTs. Meski jumlah kasusnya tidak banyak, setelah tahun sebelumnya tidak ada kasus, munculnya kasus tersebut menjadi hal yang tidak menggembirakan.
Pada tingkat pendidikan SLTA/sederajat pada 2018, kasus putus sekolah cukup banyak, yaitu 13 kasus. Dari jumlah tersebut, mayoritas kasus, yaitu 11 kasus adalah kasus putus sekolah pada laki-laki. Jumlah tersebut patut diantisipasi agar tidak semakin banyak. Namun, data kasus putus sekolah pada 2019 tidak tersedia, sehingga tidak diketahui perkembangannya apakah telah terjadi penurunan kasus, tetap, atau justru terjadi peningkatan. Kemudian bila dicermati kasusnya, mayoritas putus sekolah terjadi pada anak laki-laki. Dengan pola ini, penyebabnya bisa diduga bukan karena faktor ekonomi. Pada sekolah negeri khususnya, banyak program pendidikan yang telah membebaskan siswa dari biaya sekolah hingga menengah atas. Kemungkinan penyebabnya adalah faktor kenakalan remaja atau permasalahan internal lain
42
Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020
diri anak dan lingkungan keluarganya. Jika hal hal tersebut adalah penyebabnya, maka upaya-upaya advokasi atau konseling dari pihak-pihak terkait perlu lebih ditingkatkan. Hal ini penting untuk dilakukan, bukan hanya untuk menghindari pertambahan kasus putus sekolah, tetapi juga untuk menghindarkan anak dari dampak negatif kenakalan remaja lainnya.