• Tidak ada hasil yang ditemukan

Angka Partisipasi Murni berdasarkan Jenjang

Bab 5 Profil Gender Bidang Pendidikan

5.3 Angka Partisipasi Murni berdasarkan Jenjang

sedikit perbedaan capaian antara APS laki-laki dan perempuan, perbedaan tersebut disebabkan oleh faktor lain, bukan pembedaan akses untuk laki-laki dan perempuan.

5.3 Angka Partisipasi Murni berdasarkan Jenjang

Pendidikan

Di samping Angka Partisipasi Kasar (APK), terdapat indikator lain yang digunakan untuk mengukur capaian pendidikan, yaitu Angka Partisipasi Murni (APM) yang merupakan proporsi dari penduduk kelompok usia sekolah tertentu yang sedang bersekolah tepat di jenjang pendidikan yang seharusnya terhadap penduduk kelompok usia sekolah yang bersesuaian (BPS). Dengan kata lain, APM menghitung kesesuaian antara umur penduduk dengan ketentuan usia bersekolah di jenjang tersebut. Kesesuaian umur ini yang menjadi pembeda mendasar dengan Angka Partisipasi Kasar (APK).

Nilai APM berguna untuk memberikan informasi atau menunjukkan seberapa besar penduduk yang bersekolah tepat waktu, atau bersekolah dengan umur yang sesuai dengan ketentuan kelompok usia sekolah di jenjang pendidikan yang sedang ditempuh (BPS). Karena APM hanya menghitung penduduk yang bersekolah tepat waktu, maka nilainya pasti berkisar antara 0-100%. Nilai APM tidak mungkin melebihi 100%. Dengan demikian, umumnya nilai APM akan selalu lebih rendah dari nilai APK karena adanya selisih dari penduduk yang bersekolah tidak tepat waktu.

Salah satu sumber data APM yang dimiliki Kota Yogyakarta berasal dari Sistem Informasi Gender dan Anak Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (SIGA DIY). Berdasarkan versi SIGA, APM Kota Yogyakarta pada 2018, APM jenjang pendidikan SMP/MTs dan SMA masih berkisar 90-an, baik laki-laki maupun perempuan. Artinya, masih ada sekitar 1% hingga 9% anak usia sekolah SMP/MTs dan SMA/MA yang belum mengakses pendidikan di jenjang tersebut. Kemungkinan penyebabnya adalah karena putus sekolah atau status mereka saat ini adalah bersekolah, tapi jenjang yang ditempuh saat ini tidak sesuai dengan seharusnya karena suatu hal. Kemudian untuk jenjang

Tabel 5.3 Angka Partisipasi Murni Kota Yogyakarta Menurut Jenjang Pendidikan dan Jenis Kelamin Tahun 2018 Versi SIGA DIY (dalam %) Angka Partisipasi Murn Tahun 2018 Jenjang Pendidikan SD/MI SMP/MTs SMA/MA Laki-Laki 113 99 91 Perempuan 114 97 99 Sumber: SIGA DIY

36

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

pendidikan SD/MI, nilai APM versi SIGA DIY berada di angka 113 pada laki-laki dan 114 pada perempuan. Mengacu pada konsep BPS, seharusnya nilai APM tidak mungkin bisa lebih dari 100. Dalam kasus ini, SIGA DIY memiliki metode perhitungan yang berbeda dengan BPS. Bukan hanya pada jenjang SD/MI, bila dibandingkan dengan data BPS yang akan dibahas selanjutnya, angka versi SIGA DIY untuk jenjang pendidikan yang lain juga selalu lebih tinggi dari versi BPS.

Selain data versi SIGA DIY, Kota Yogyakarta juga memiliki data APM versi BPS. Di Kota Yogyakarta, berdasarkan data yang dirilis oleh BPS Kota Yogyakarta, APM menurut jenjang pendidikan pada 2018 dan 2019 secara umum masih kurang dari 100%. Capaian APM paling tinggi ada pada jenjang pendidikan SD/MI, dan kemudian

menurun pada jenjang

pendidikan selanjutnya (SMP/MTs dan SMA/MA). Artinya, pada jenjang yang lebih tinggi terdapat kecenderungan jumlah anak yang bersekolah

tidak sesuai dengan ketentuan usia menjadi semakin tinggi. Kemungkinan faktor penyebabnya adalah sebagai dampak dari ketidaktepatan usia sekolah pada jenjang pendidikan sebelumnya. Faktor yang lain adalah adanya sejumlah anak yang memiliki pengalaman tidak naik kelas, sehingga anak berada pada jenjang pendidikan tertentu sampai melebihi ketentuan usia yang seharusnya.

Jika diamati kembali pada APK sebelumnya telah dibahas pada subbab 6.1, capaian APM pada jenjang SD/MI yang baru berada pada kisaran 90an% disebabkan oleh adanya fenomena anak yang masuk SD/MI pada usia yang lebih muda dari ketentuan yang seharusnya. Ketentuan usia untuk jenjang pendidikan SD/MI adalah usia 7-12 tahun. Syarat usia tersebut hanya berlaku ketat pada sekolah negeri. Sementara pada sekolah swasta, aturan tersebut lebih lentur. Oleh sebab itu, terdapat cukup banyak anak yang sudah masuk SD/MI meski usianya belum mencapai 7 tahun di sekolah swasta. Kemudian pada jenjang SMP/MTs, tidak mengherankan bila APM masih berkisar 60-80an% pada 2018-2019 karena capaian APK pada tahun yang sama juga

Gambar 5.3 Angka Partisipasi Murni Kota Yogyakarta Menurut Jenjang Pendidikan dan Jenis Kelamin Tahun 2018 dan 2019 Versi BPS (dalam %) Sumber: BPS Kota Yogyakarta

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

37

belum mencapai 100%. Di samping dampak adanya anak yang masuk sekolah SD/MI lebih awal, data ini sekaligus mengkonfirmasi data APK bahwa masih ada sejumlah anak di Kota Yogyakarta yang belum dapat mengakses pendidikan SMP/MI. Letak permasalahan akses pendidikan SMP/MI ini yang perlu ditelusuri oleh Pemerintah Kota Yogyakarta, apakah pada daya tampung fasilitas pendidikan yang memadai, atau adanya kasus putus sekolah baik karena faktor ekonomi maupun faktor-faktor non ekonomi. Untuk jenjang pendidikan SMA/MA, bila melihat capaian APK (subbab 6.1) sebenarnya sudah bagus karena rata-rata sudah di atas 100%. Namun untuk capaian APM-nya masih di kisaran 60-70an%. Artinya, untuk jenjang pendidikan ini, akses terhadap pendidikan SMA/MA sebenarnya sudah bagus. Namun di antara penduduk yang mengakses pendidikan SMA/MA tersebut, masih cukup banyak yang menempuh pendidikan tidak sesuai dengan ketentuan usia, baik terlalu muda atau terlalu tua dari ketentuan.

Berdasarkan gender, data yang dirilis oleh BPS Kota Yogyakarta ini menunjukkan bahwa untuk jenjang pendidikan SD/MI dan SMP/MTs, capaian APM perempuan lebih tinggi dari laki-laki, baik pada 2018 maupun 2019. Sementara untuk jenjang pendidikan SMA/MI, pada 2018 maupun 2019, APM perempuan menjadi lebih rendah dari laki-laki. Kemudian bila dilihat tren untuk masing-masing jenjang pendidikan antara tahun 2018 dan 2019, APM laki-laki maupun perempuan untuk jenjang pendidikan SD/MI cenderung meningkat. Untuk jenjang pendidikan SMP/MTs, APM laki-laki pada 2019 cenderung menurun, sementara APM perempuan cenderung meningkat. Sebaliknya, untuk jenjang pendidikan SMA/MI, APM laki-laki pada tahun 2019 cenderung meningkat, sementara APM perempuan cenderung menurun. Berdasarkan pola data tersebut serta capaian APK pada subbab 6.1, terdapat gambaran bahwa pada jenjang pendidikan SD/MI dan SMP/MTs, siswa yang masuk sekolah tidak sesuai dengan ketentuan usia yang seharusnya lebih banyak terjadi pada siswa laki-laki dari siswa perempuan. Hal ini bisa disebabkan karena lebih banyak siswa laki-laki yang masuk sekolah lebih awal atau lebih banyak siswa laki-laki yang tidak naik kelas (dari jenjang SD ke SMP). Untuk jenjang SMA/MI, APM laki-laki lebih tinggi dari perempuan. Bahkan APM perempuan di jenjang pendidikan SMA/MI ini pada tahun 2019 cenderung mengalami penurunan dibandingkan tahun 2018. Artinya, terdapat sejumlah anak perempuan yang setelah lulus SMP tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah atas. Berkaitan dengan akses pendidikan, Pemerintah Kota Yogyakarta telah memberikan akses pendidikan yang sama antara laki-laki dan perempuan. Terdapat faktor eksternal di luar akses pendidikan terkait aspek sosial, budaya, dan ekonomi yang menjadi dasar atas penurunan APM SMA/MI pada siswa perempuan ini. Dinas Pendidikan dan

38

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

dinas-dinas terkait dapat bersinergi untuk memetakan permasalahan tersebut dan menemukan solusi bersama.