Bab 5 Profil Gender Bidang Pendidikan
5.2 Angka Partisipasi Sekolah Menurut Kelompok
DIY ini, hal yang mengkhawatirkan adalah pada jenjang pendidikan SMA/MA. APK perempuan pada tingkat pendidikan SMA/MA memang lebih tinggi dari APK laki-laki. Hal ini merupakan sesuatu yang menggembirakan karena mengindikasikan bahwa perempuan juga memiliki akses yang sangat baik terhadap pendidikan yang lebih tinggi. Namun, dengan selisih perbedaan APK yang cukup besar, yaitu 8%, justru memunculkan “alarm” terkait adanya permasalahan akses pendidikan SMA/MA untuk penduduk laki-laki. Dari sisi sarana dan prasarana serta kesempatan, tidak ada perbedaan perlakuan antara penduduk laki-laki dan perempuan dalam mengakses pendidikan SMA/MA. Penyebab yang mungkin terjadi adalah adanya masalah dari sisi keluarga siswa laki-laki atau siswa laki-laki itu sendiri. Selain itu, mengingat usia SMA/MA, anak sedang dalam puncak proses pencarian jati dirinya, baik ke arah positif maupun negatif.
5.2 Angka Partisipasi Sekolah Menurut Kelompok Umur
Salah satu hak warga negara adalah memperoleh akses pendidikan yang merata bagi semua orang. Untuk memenuhi hak tersebut, pemerintah memiliki kewajiban untuk
menyediakan fasilitas
pendidikan yang memadai, serta memastikan semua penduduk usia sekolah mengenyam pendidikan. Untuk mengetahui apakah semua penduduk usia sekolah telah memanfaatkan fasilitas pendidikan, dibuatlah sebuah indikator untuk mengukur seberapa luas akses
tersebut. Indikator tersebut adalah angka partisipasi sekolah (APS). Badan Pusat Statistik (BPS) mendefinisikan APS sebagai proporsi dari penduduk kelompok usia sekolah tertentu yang sedang bersekolah (tanpa memandang jenjang pendidikan yang ditempuh) terhadap penduduk kelompok usia sekolah yang bersesuaian. Berdasarkan definisi tersebut, maka nilai APS akan berkisar antara 0 sampai dengan 100. Semakin tinggi nilai APS, maka berarti semakin banyak penduduk usia sekolah yang bersekolah di suatu daerah. APS Gambar 5.2 Angka Partisipasi Sekolah Kota Yogyakarta berdasarkan Kelompok Umur Tahun 2018-2019 Versi BPS Sumber: BPS Kota Yogyakarta
Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020
33
yang semakin tinggi juga menunjukkan peluang penduduk untuk mengakses pendidikan yang semakin besar.
Kota Yogyakarta memiliki dua sumber data yang memberikan informasi APS Kota Yogyakarta tahun 2018 berdasarkan kelompok umur. Sumber data tersebut adalah Sistem Informasi Gender dan Anak Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (SIGA DIY) serta BPS Kota Yogyakarta. Data APS versi SIGA DIY umumnya lebih tinggi dari data APS versi BPS. Bahkan APS untuk kelompok umur 7-12 dan 13-15 versi SIGA DIY, angkanya di atas 100, baik untuk APS laki-laki maupun perempuan.
Bila merujuk definisi dari BPS, maksimal angka APS adalah 100, sehingga tidak mungkin angka APS lebih dari 100. Kemungkinan ada perbedaan metodologi penghitungan APS antara SIGA DIY dan BPS, di mana jumlah penduduk yang menjadi pembagi dalam versi SIGA DIY termasuk penduduk yang secara administratif bukan warga Kota Yogyakarta.
Terlepas dari perbedaan metodologi tersebut, data APS versi SIGA DIY menunjukkan bahwa untuk kelompok umur 7-12 dan 13-15, semua penduduk Kota Yogyakarta pada kelompok usia tersebut sudah dapat mengakses pendidikan. Bahkan fasilitas pendidikan yang ada juga mampu melayani penduduk luar Kota Yogyakarta yang ingin bersekolah di Kota Yogyakarta. Namun pada kelompok umur 16-18 tahun, APS versi SIGA DIY tidak setinggi dua kelompok umur di bawahnya. APS perempuan pada kelompok umur ini masih lebih baik karena mencapai angka 100, angka maksimal APS yang menandakan seluruh warga perempuan umur 16-18 tahun yang secara administratif memang warga Kota Yogyakarta dapat mengakses pendidikan. Namun untuk laki-laki pada kelompok umur yang sama, angka APS versi SIGA DIY hanya 94. Artinya masih ada sekitar 6% penduduk laki-laki Kota Yogyakarta umur 16-18 tahun yang tidak bisa mengakses pendidikan. Kemungkinan penyebabnya ada dua, yaitu fasilitas pendidikan yang tidak atau kurang memadai atau ketidakmampuan ekonomi. Mana yang menjadi penyebab utama perlu diketahui oleh pemerintah sehingga penanganannya lebih terarah, apakah lebih kepada penambahan fasilitas atau lebih kepada bantuan pendidikan bagi warga miskin. Tabel 5.2 Angka Partisipasi Sekolah Kota Yogyakarta menurut Kelompok Umur Tahun 2018 Versi SIGA DIY Kelompok Umur 7-12 13-15 16-18 Laki-Laki 124 141 94 Perempuan 126 141 100 Sumber: SIGA DIY
34
Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020
Pada data APS versi BPS, belum semua penduduk kelompok umur telah dapat mengakses pendidikan. Pada tahun 2018, APS dengan angka 100 hanya ditemui pada penduduk laki-laki kelompok umur 7-12 tahun dan penduduk perempuan kelompok umur 13-15 tahun. Sementara pada tahun 2019, APS dengan angka 100 hanya ditemui pada penduduk perempuan kelompok umur 7-12 tahun. Di satu sisi ada peningkatan partisipasi untuk penduduk perempuan kelompok umur 7-12 tahun. Tapi di sisi lain, pada waktu yang bersamaan terjadi penurunan partisipasi pada penduduk laki-laki kelompok umur 7-12 tahun dan penduduk perempuan kelompok umur 13-15. Untuk kelompok usia lainnya, kecuali kelompok umur 19-24 tahun, APS memang sudah lebih dari 98%, tapi belum dapat mencapai 100. Ada sekitar 1-2% penduduk yang masih menjadi pekerjaan rumah Pemerintah Kota Yogyakarta untuk mengetahui mengapa mereka belum terakses pendidikan dan memastikan mereka dapat mengakses pendidikan, paling tidak hingga jenjang SMA/sederajat (kelompok umur 16-18 tahun). Untuk APS kelompok umur 19-24 tahun, yang umumnya sedang menempuh pendidikan tinggi (Diploma atau Sarjana), angkanya bahkan jauh lebih rendah, tidak sampai 70%, baik untuk laki-laki maupun perempuan (kecuali pada kelompok perempuan di tahun 2019). Bila APS pada kelompok ini tidak tinggi dapat dipahami karena untuk menempuh pendidikan tinggi membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Selain itu, kebutuhan untuk meneruskan pendidikan di jenjang pendidikan tinggi berbeda-beda antar individu. Meski memang hal ini sedikit ironi dengan status Provinsi DIY, termasuk Kota Yogyakarta di dalamnya, sebagai kota pelajar. Sedangkan berdasarkan gender, tidak ada pola APS yang khas dan berlaku untuk semua kelompok umur. Sebagai contoh, pada kelompok umur 7-12 tahun, APS laki-laki pada 2018 sedikit lebih tinggi dari perempuan. Ketika APS laki-laki sudah mencapai 100, APS perempuan masih 99,34. Namun pada 2019, polanya berubah , yaitu APS perempuan naik menjadi 100 dan APS laki-laki turun menjadi 99,65. Pada kelompok umur di atasnya, yaitu 13-15 tahun, pola berubah pada 2018, yaitu APS perempuan menjadi lebih tinggi dari APS laki-laki. Pada kelompok umur ini, APS perempuan sudah mencapai 100, sementara APS laki-laki masih 98,71. Namun pada 2019, kedua kelompok gender ini sama-sama mengalami penurunan APS menjadi sama-sama kurang dari 100. Untuk kelompok umur di atasnya, yaitu umur 16-18 tahun dan umur 19-24 tahun, relatif tidak ada perbedaan APS, baik antara laki-laki dan perempuan maupun antara tahun 2018 dan 2019. Dengan pola APS pada masing-masing kelompok umur tersebut, dapat dikatakan bahwa berdasarkan gender tidak ada perbedaan akses terhadap fasilitas pendidikan di Kota Yogyakarta. Penduduk laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati fasilitas pendidikan di Kota Yogyakarta. Kalaupun ada
Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020
35
sedikit perbedaan capaian antara APS laki-laki dan perempuan, perbedaan tersebut disebabkan oleh faktor lain, bukan pembedaan akses untuk laki-laki dan perempuan.