• Tidak ada hasil yang ditemukan

Data Pilah Gender/ Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Data Pilah Gender/ Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020"

Copied!
163
0
0

Teks penuh

(1)

Data Pilah Gender/

Data Pembuka Wawasan

Kota Yogyakarta 2020

Tim Penyusun:

Sri Purwatiningsih, S.Si., M.Kes.

Triyastuti Setianingrum, S.I.P., M.Sc.

Dyah Kartika, S.Si., M.Ec.Dev.

Ir. Edy Muhammad

Retno Sari, S.H, M.H

Indrawati, S.Sos

Kerja Sama

Dinas Pemberdayaan Masyarakat,

Perempuan dan Perlindungan Anak

Kota Yogyakarta

dengan

Universitas Gadjah Mada

Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan

Yogyakarta

2020

(2)
(3)

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

iii

Kata Sambutan

Kata Sambutan Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa memberikan pertolongan sehingga penyusunan Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta Tahun 2020 ini dapat dilaksanakan. Penyusunan Data Pilah Gender ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang kondisi, kebutuhan, serta persoalan yang dihadapi perempuan terkait dengan akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat dalam pembangunan. Selain itu, data pilah ini diharapkan dapat digunakan sebagai data dasar untuk penyusunan perencanaan, kebijakan dan program dalam upaya mengurangi kesenjangan antara perempuan dan laki-laki dalam akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat pembangunan.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak atas kerja sama dan dukungan yang luar biasa dalam penyusunan data pilah ini. Semoga data pilah ini bermanfaat untuk pembangunan gender di Kota Yogyakarta. Akhirnya kami menyadari bahwa data pilah ini masih memiliki kekurangan, baik kelengkapan, akurasi data, maupun teknik penyajiannya. Oleh sebab itu, kami mengharapkan saran untuk perbaikan selanjutnya. Yogyakarta, November 2020 Kepala DPMPPA Kota Yogyakarta Ir. Edy Muhammad NIP. 19630916 199203 1006

(4)
(5)

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

v

Kata Pengantar

Kata Pengantar Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Yogyakarta bersama Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada (PSKK UGM) dapat melakukan kerja sama untuk melakukan Penyusunan Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Tahun 2020 Kota Yogyakarta. Kegiatan yang bertujuan untuk memperoleh informasi yang menggambarkan kondisi, kebutuhan, dan persoalan yang dihadapi perempuan terkait akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat dalam pembangunan sehingga memudahkan dalam proses perencanaan dan penganggaran program/kegiatan di Kota Yogyakarta ini dilakukan selama bulan April–Juli 2020, meskipun dilakukan selama pandemi Covid-19. Saat ini kegiatan berada pada akhir pelaksanaan. Dengan demikian, hasil kegiatan tersebut dapat disusun dalam laporan akhir ini.

Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu kesuksesan penelitian ini, khususnya kepada asisten peneliti, seluruh OPD di lingkungan Pemerintah Kota Yogyakarta dan pihak-pihak lainnya yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu. Semoga laporan ini dapat memberikan manfaat bagi para pengambil kebijakan yang berkaitan dengan anak. Yogyakarta, November 2020 Kepala PSKK UGM Dr. Agus Joko Pitoyo, M.A. NIP. 19740317 199803 1001

(6)
(7)

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

vii

Daftar Isi

Daftar Isi Kata Sambutan ... iii Kata Pengantar ... v Daftar Isi ... vii Daftar Tabel ... xi Daftar Gambar ... xvii Ringkasan Eksekutif ... xxi Bab 1 Pendahuluan ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Maksud dan Tujuan ... 7 1.3 Sumber Data ... 7 1.4 Sistematika Penyajian ... 8 Bab 2 Konstruksi Gender ... 9 Bab 3 Profil Umur Penduduk Kota Yogyakarta ... 13 Bab 4 Profil Gender Bidang Kesehatan ... 17 4.1 Angka Harapan Hidup ... 17 4.2 Angka Kematian Ibu Melahirkan ... 17 4.3 Cakupan Pertolongan Persalinan ... 19

(8)

viii

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020 4.4 Kunjungan Ibu Hamil (K1/K4) ke Posyandu dan Puskesmas ... 20 4.5 Imunisasi atau Vaksinasi Tetanus Toxoid (TT) pada Ibu Hamil ... 21 4.6 Ibu Hamil yang Mendapat Tablet Zat Besi (Fe) ... 23 4.7 Ibu Hamil yang Berisiko ... 24 4.7.1 Ibu Hamil Kekurangan Energi Kronis ... 24 4.7.2 Ibu Hamil Anemia ... 25 4.8 Status Gizi Balita ... 25 Bab 5 Profil Gender Bidang Pendidikan ... 29 5.1 Angka Partisipasi Kasar berdasarkan Jenjang Pendidikan ... 29 5.2 Angka Partisipasi Sekolah Menurut Kelompok Umur ... 32 5.3 Angka Partisipasi Murni berdasarkan Jenjang Pendidikan ... 35 5.4 Angka Melek Huruf berdasarkan Kelompok Umur 38 5.5 Angka Putus Sekolah berdasarkan Jenjang Pendidikan ... 40 5.6 Penduduk berdasarkan Jenis Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan ... 42 5.7 Guru dengan Sertifikasi Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) ... 45 5.8 Bantuan Jaminan Pendidikan Daerah (JPD) untuk Anak Perempuan dari Keluarga Kurang Mampu .... 47 5.9 Akses Pendidikan Sekolah Dasar untuk Anak Perempuan dari Keluarga Kurang Mampu ... 48 Bab 6 Profil Gender Bidang Ekonomi dan Ketenagakerjaan ... 51 6.1 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja ... 51 6.2 Kepala Keluarga Miskin ... 55 6.3 Antar Kerja Antar Daerah ... 56 6.4 Antar Kerja Antar Negara ... 58

(9)

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

ix

6.5 Pekerja di Sektor Formal ... 59 6.6 Pekerja di Sektor Informal ... 62 6.7 Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) ... 63 6.8 Pengangguran ... 66 6.9 Pekerja berdasarkan Lapangan Usaha, Status Pekerjaan, dan Jenis Pekerjaan ... 68 6.10 Perbedaan Upah ... 81 6.11 Kepemilikan Rumah dan Tanah ... 83 6.12 Pedagang Perempuan ... 86 6.13 Industri Kecil dan Menengah ... 88 Bab 7 Profil Gender Bidang Politik dan Pengambilan Keputusan ... 91 7.1 Posisi dalam Pemerintahan ... 91 7.2 Posisi dalam Jabatan Politik ... 94 Bab 8 Profil Gender Bidang Hokum dan Sosial Budaya ... 105 8.1 Bidang Hukum ... 105 8.2 Bidang Sosial Budaya ... 109 8.2.1 Lansia ... 109 8.2.2 Penyandang Disabilitas ... 113 8.2.3 Perkawinan dan Perceraian ... 116 8.2.4 Kelompok Sosial Lainnya ... 119 a. Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) ... 119 b. Seni dan Budaya ... 121 c. Sosial Kemasyarakatan ... 122 Bab 9 Profil Gender berdasarkan Insiden Khusus ... 125 9.1 Persalinan Remaja ... 125 9.2 Usia Perkawinan Pertama ... 126 9.3 Kasus Kekerasan ... 127

(10)

x

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020 9.4 Penderita HIV/AIDS ... 129 9.5 Penyalahgunaan NAPZA ... 131 Bab 10 Penutup ... 133 Daftar Pustaka ... 135

(11)

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

xi

Daftar Tabel

Daftar Tabel Tabel 1.1 Capaian Indikator Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) Kota Yogyakarta, Provinsi DIY dan Nasional Tahun 2018 ... 4 Tabel 3.1 Penduduk Kota Yogyakarta berdasarkan Kelompok Umur dan Jenis Kelamin ... 14 Tabel 3.2 Penduduk Kota Yogyakarta berdasarkan Jenis Kelamin per Kecamatan ... 15 Tabel 4.1 Angka Harapan Hidup Penduduk Kota Yogyakarta Tahun 2018 ... 17 Tabel 4.2 Jumlah Kematian Ibu berdasarkan Umur di Kota Yogyakarta ... 18 Tabel 4.3 Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas ... 19 Tabel 4.4 Ibu Nifas yang Mendapatkan Vitamin A ... 20 Tabel 4.5 Cakupan Kunjungan Ibu Hamil ke Puskesmas ... 21 Tabel 4.6 Capaian TT untuk Ibu Hamil di Kota Yogyakarta ... 22 Tabel 4.7 Jumlah Ibu Hamil yang Mendapatkan Tablet Zat Besi ... 23 Tabel 4.8 Hasil Pemantauan Status Gizi Balita di Kota Yogyakarta 2018 ... 26

(12)

xii

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020 Tabel 4.9 Hasil Pemantauan Status Gizi Balita di Kota Yogyakarta 2019 ... 26 Tabel 5.1 Angka Partisipasi Kasar Kota Yogyakarta menurut Jenjang Pendidikan Tahun 2018 Versi SIGA DIY ... 30 Tabel 5.2 Angka Partisipasi Sekolah Kota Yogyakarta menurut Kelompok Umur Tahun 2018 Versi SIGA DIY ... 33 Tabel 5.3 Angka Partisipasi Murni Kota Yogyakarta Menurut Jenjang Pendidikan dan Jenis Kelamin Tahun 2018 Versi SIGA DIY (dalam %) ... 35 Tabel 5.4 Angka Melek Huruf Kota Yogyakarta Tahun 2018-2019 ... 38 Tabel 5.5 Angka Putus Sekolah berdasarkan Jenjang Pendidikan Kota Yogyakarta Tahun 2018-2019 ... 41 Tabel 6.1 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Kota Yogyakarta Tahun 2018-2019 ... 52 Tabel 6.2 Besaran Upah berdasarkan Jenis Kelamin di Kota Yogyakarta Tahun 2018 dan 2019 ... 82 Tabel 6.3 Jumlah Wajib Pajak Bumi dan Bangunan menurut Kecamatan di Kota Yogyakarta Tahun 2017-2019 ... 83 Tabel 6.4 Banyaknya Pemohon Sertifikat Tanah yang Telah Diselesaikan di Kota Yogyakarta Tahun 2014-2019 .. 85 Tabel 6.5 Jumlah Pedagang Perempuan berdasarkan Pasar di Kota Yogyakarta Tahun 2019 ... 86 Tabel 6.6 Jumlah Industri Kecil dan Menengah yang Dikelola Perempuan Di Kota Yogyakarta Tahun 2018-2019 ... 89 Tabel 7.1 Data ASN berdasarkan Jabatan Fungsional Umum, Tertentu, dan Struktural di Kota Yogyakarta Tahun 2018 dan 2019 ... 92 Tabel 7.2 Aparatur Sipil Negara berdasarkan Jabatan Struktural ... 92

(13)

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

xiii

Tabel 7.3 Tingkat Jabatan Struktural (Eselon) Laki-laki dan Perempuan Tahun 2018 ... 93 Tabel 7.4 Aparatur Sipil Negara berdasarkan Jabatan Fungsional Umum dan Tertentu Tahun 2018 dan 2019 ... 93 Tabel 7.5 PNS Kota Yogyakarta berdasarkan Golongan Tahun 2018 ... 94 Tabel 7.6 Pengurus Harian Parpol dan Calon Legislatif Tahun 2018 ... 95 Tabel 7.7 Calon Anggota DPRD Kota Yogyakarta pada Pemilu Tahun 2019 ... 95 Tabel 7.8 Jumlah Keterwakilan Perempuan di DPRD Kota Yogyakarta Periode 2019-2024 Berdasarkan Partai . 96 Tabel 7.9 Dapil Calon Terpilih Anggota DPRD Kota Yogyakarta ... 96 Tabel 7.10 Penyelenggara/Panitia Pemilu Tahun 2019 di Kota Yogyakarta ... 101 Tabel 7.11 Keterwakilan Partisipasi Pemilih Berdasarkan Dapil dan Jenis Kelamin dalam Pemilu Legislatif 2019 di Kota Yogyakarta ... 102 Tabel 7.12 Pemilih dalam Kategori Penyandang Disabilitas Tahun 2019 di Kota Yogyakarta ... 102 Tabel 8.1 Penghuni Rumah Tahanan berdasarkan Jenis Kejahatan/Pelanggaran, Status dalam Lembaga, dan Jenis Kelamin Tahun 2018 dan 2019 ... 106 Tabel 8.2 Warga Binaan Permasyarakatan Rumah Tahanan berdasarkan Jenis Kejahatan/Pelanggaran, Status dalam Lembaga, dan Jenis Kelamin Tahun 2018 ... 107 Tabel 8.3 Warga Binaan Pemasyarakatan Rumah Tahanan berdasarkan Jenis Kejahatan/Pelanggaran, Status dalam Lembaga, dan Jenis Kelamin Tahun 2019 ... 108 Tabel 8.4 Aktivitas Lansia pada 2018 dan 2019 ... 111

(14)

xiv

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020 Tabel 8.5 Penyandang Disabilitas Kota Yogyakarta Tahun 2018 ... 113 Tabel 8.6 Aktivitas Penyandang Disabilitas di Kota Yogyakarta Tahun 2018. ... 115 Tabel 8.7 Pernikahan atau Rujuk berdasarkan Umur di Kota Yogyakarta Tahun 2018 ... 117 Tabel 8.8 Pernikahan atau Rujuk berdasarkan Umur di Kota Yogyakarta Tahun 2019 ... 118 Tabel 8.9 Data Penasihat atau Konsultasi Pernikahan di Kota Yogyakarta Tahun 2019 ... 119 Tabel 8.10 Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) berdasarkan Jenis Kelamin di Kota Yogyakarta Tahun 2018 dan 2019 ... 120 Tabel 8.11 Aktivitas Rintisan Kelurahan Budaya Kota Yogyakarta Tahun 2018 ... 121 Tabel 8.12 Kepemilikan SKT berdasarkan Kecamatan di Kota Yogyakarta ... 122 Tabel 8.13 Partisipasi Perempuan pada Penyuluhan Kebakaran Tahun 2018, 2019, dan 2020 ... 123 Tabel 9.1 Kasus Persalinan Remaja dan Kehamilan Tidak Dikehendaki ... 126 Tabel 9.2 Jumlah Kasus HIV/AIDS berdasarkan Kecamatan di Kota Yogyakarta, 2019 ... 130 Tabel 9.3 Penderita HIV-AIDS berdasarkan Jenis Kelamin dan Kelompok Umur ... 130 Tabel 9.4 Kasus Ibu Hamil dengan HIV ... 131 Tabel 9.5 Kasus Penyalahgunaan Narkoba di Kota Yogyakarta ... 132 Tabel 9.6 Jumlah Kasus Penyalahgunaan Narkoba berdasarkan Wilayah di Kota Yogyakarta ... 132

(15)

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

xv

(16)
(17)

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

xvii

Daftar Gambar

Daftar Gambar Gambar 1.1 Indeks Pembangunan Gender (IPG) Nasional, Provinsi DIY dan Kota Yogyakarta Tahun 2010-2018 ... 2 Gambar 1.2 Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) Nasional dan Provinsi DIY Tahun 2010-2018 ... 3 Gambar 3.1 Struktur Penduduk Kota Yogyakarta berdasarkan kelompok Umur dan Jenis Kelamin ... 15 Gambar 4.1 Capaian TT pada Ibu Hamil ... 22 Gambar 4.2 Tren Kejadian Ibu Hamil KEK di Kota Yogyakarta . 24 Gambar 4.3 Tren Kejadian Anemia pada Ibu Hamil di Kota Yogyakarta ... 25 Gambar 4.4 Kasus Balita Stunting (Pendek dan Sangat Pendek) ... 25 Gambar 5.1 Angka Partisipasi Kasar Kota Yogyakarta berdasarkan Jenjang Pendidikan Tahun 2018 dan 2019 Versi BPS ... 29 Gambar 5.2 Angka Partisipasi Sekolah Kota Yogyakarta berdasarkan Kelompok Umur Tahun 2018-2019 Versi BPS ... 32 Gambar 5.3 Angka Partisipasi Murni Kota Yogyakarta Menurut Jenjang Pendidikan dan Jenis Kelamin Tahun 2018 dan 2019 Versi BPS (dalam %) ... 36

(18)

xviii

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020 Gambar 5.4 Penduduk Kota Yogyakarta Menurut Jenis Kelamin dan Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Tahun 2018 ... 42 Gambar 5.5 Penduduk Kota Yogyakarta Menurut Jenis Kelamin dan Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Tahun 2018 dan 2019 ... 43 Gambar 5.6 Guru yang Bersertifikat PPG Berdasarkan Jenis Kelamin di Kota Yogyakarta Tahun 2019 ... 46 Gambar 6.1 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) berdasarkan Tingkat Pendidikan di Kota Yogyakarta Tahun 2018-2019 ... 54 Gambar 6.2 Persentase Keluarga Miskin berdasarkan Gender di Kota Yogyakarta Tahun 2018-2019 ... 55 Gambar 6.3 Persentase Angkatan Kerja Antar Daerah (AKAD) Kota Yogyakarta Tahun 2018-2019 ... 57 Gambar 6.4 Persentase Angkatan Kerja Antar Negara (AKAN) Kota Yogyakarta Tahun 2018-2019 ... 59 Gambar 6.5 Persentase Pekerja Sektor Formal Kota Yogyakarta Tahun 2018 ... 60 Gambar 6.6 Persentase Pekerja Sektor Informal Kota Yogyakarta Tahun 2018 ... 62 Gambar 6.7 Persentase Usaha Mikro Kecil dan Menengah Kota Yogyakarta Tahun 2018 ... 64 Gambar 6.8 Persentase Penganggur Kota Yogyakarta Tahun 2018 ... 67 Gambar 6.9 Persentase Pekerja berdasarkan Lapangan Usaha Kota Yogyakarta Tahun 2018 dan 2019 ... 70 Gambar 6.10 Persentase Pekerja Menurut Status Pekerjaan Kota Yogyakarta Tahun 2018 dan 2019 ... 75 Gambar 6.11 Persentase Pekerja Menurut Jenis Pekerjaan Kota Yogyakarta Tahun 2018 dan 2019 ... 78

(19)

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

xix

Gambar 7.1 Jenjang pendidikan Calon DPRD Kota Yogyakarta . 99 Gambar 7.2 Latar Belakang Pekerjaan Calon DPRD Kota Yogyakarta Tahun 2019 ... 99 Gambar 7.3 Usia Calon DPRD Kota Yogyakarta 2019 ... 100 Gambar 8.1 Tingkat Pendidikan Penduduk Lansia Tahun 2018 ... 110 Gambar 8.2 Tingkat Pendidikan Penduduk Lansia Tahun 2019 ... 110 Gambar 8.3 Tingkat Pendidikan Penyandang Disabilitas Kota Yogyakarta ... 116 Gambar 9.1 Gambar Usia Perkawinan Pertama di Kota Yogyakarta ... 127 Gambar 9.2 Kasus Kekerasan berdasarkan Umur ... 128 Gambar 9.3 Kasus Kekerasan Berdasarkan Tempat Kejadian 128

(20)
(21)

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

xxi

Ringkasan Eksekutif

Ringkasan Eksekutif

Buku Penyusunan Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Tahun 2020 Kota Yogyakarta ini berisi informasi yang menggambarkan kondisi, kebutuhan, dan persoalan yang dihadapi perempuan terkait akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat dalam pembangunan, sehingga memudahkan proses perencanaan dan penganggaran program/kegiatan. Selain itu, buku ini diharapkan dapat membantu pengisian indikator pemantauan dan evaluasi pelaksanaan pembangunan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak oleh pemerintah daerah secara berkala.

Berbagai dokumen perencanaan pembangunan saat ini, baik pada level global, nasional maupun daerah, telah memasukkan isu kesetaraan gender sebagai satu hal penting untuk menghapus berbagai macam diskriminasi gender. Di tingkat global, salah satu upaya untuk menghapus diskriminasi gender adalah mencantumkan gender sebagai salah satu tujuan Sustainable Development

Goals (SDGs) 2015-2030, tepatnya dalam tujuan SDGs kelima, yaitu mencapai

kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan.

Upaya pembangunan gender telah dilakukan untuk mengimplementasikan apa yang tertuang dalam dokumen perencanaan pembangunan. Perkembangan implementasi tersebut termonitor dari hasil Indeks Pembangunan Gender (IPG) dan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG). IPG menggambarkan kesenjangan pencapaian pembangunan manusia antara laki-laki dan perempuan. Sementara IDG mengukur partisipasi aktif laki-laki dan perempuan pada kegiatan ekonomi, politik, dan pengambilan keputusan. Dasar penyusunan buku ini adalah Perwal Nomor 53 Tahun 2018 yang menyebutkan bahwa seluruh Perangkat Daerah menyusun Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender (PPRG) di dalam Dokumen Perencanaan dan dalam RKA/DPA. Berdasarkan Pasal 9, Data Pembuka

(22)

xxii

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

Wawasan memiliki beberapa fungsi sebagai berikut: 1) Sebagai data base untuk mengungkapkan kesenjangan antara perempuan dan laki-laki, 2) Sebagai informasi yang dibutuhkan bagi semua pihak untuk mewujudkan kesetaraan gender, 3) Sebagai pertimbangan dalam menentukan alokasi sumber daya, 4) Sebagai input untuk melakukan gender analisis, 5) Mengindentifikasi masalah, membangun opsi, dan memilih yang paling efektif untuk mendapatkan manfaat secara optimal bagi perempuan maupun laki-laki, 6) Memahami kontribusi ekonomi, keadaan, dan realitas sesungguhnya kehidupan perempuan maupun laki-laki, serta 7) Melihat dampak dari intervensi pembangunan terhadap perempuan dan laki-laki dengan cara melaksanakan evaluasi, monitoring, mengukur kemajuan, dan mengukur

outcome.

Berdasarkan profil penduduk Kota Yogyakarta, penduduk perempuan di Kota Yogyakarta lebih banyak dibandingkan penduduk laki-laki, baik pada 2018 maupun 2019. Jika dilihat berdasarkan kelompok umur, tampak bahwa lebih banyak penduduk perempuan pada kelompok umur di atas 15 tahun. Sedangkan pada kelompok usia di bawah 15 tahun, terdapat lebih banyak penduduk laki-laki. Dengan komposisi penduduk seperti ini, hal ini tentu akan menentukan pengambilan kebijakan, terutama hal yang berkaitan dengan pemberdayaan dan pembangunan perempuan.

Sementara itu, profil gender berdasarkan aspek kesehatan menunjukkan bahwa pembangunan kesehatan di Kota Yogyakarta sudah cukup baik, bahkan sudah melebihi capaian nasional. Misalnya, pada angka harapan hidup di Kota Yogyakarta tergolong tinggi, bahkan provinsi DIY merupakan provinsi dengan capaian angka harapan hidup tertinggi di Indonesia. Namun pada kasus kematian ibu, kasusnya berkisar 0,13% dibandingkan dengan jumlah peristiwa kelahiran yang terjadi di Kota Yogyakarta pada 2018. Hal ini menunjukkan bahwa kasus kematian ibu melahirkan ini masih menjadi catatan bagi upaya peningkatan kualitas layanan kesehatan, khususnya layanan kesehatan pada ibu hamil dan melahirkan. Hal ini bisa terjadi karena cakupan pelayanan terkait ibu hamil dan melahirkan di Kota Yogyakarta masih belum menjangkau seluruh ibu hamil.

Pada bidang Pendidikan, data APK laki-laki pada 2018 menunjukkan konsistensi yang selalu lebih tinggi dari APK (Angka Partisipasi Kasar) perempuan, baik jenjang SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA. Pada tingkat pendidikan SD/MI, APK laki-laki lebih tinggi dari APK perempuan dengan selisih sekitar 5,52%. Selisihnya semakin mengecil seiring dengan meningkatnya jenjang Pendidikan. Sedangkan jika dilihat dari data Angka Partisipasi Sekolah (APS), semua penduduk Kota Yogyakarta pada kelompok

(23)

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

xxiii

usia 7-12 dan 13-15 sudah dapat mengakses pendidikan. Namun pada kelompok umur 16-18 tahun, APS versi SIGA DIY tidak setinggi dua kelompok umur di bawahnya. APS perempuan pada kelompok umur ini masih lebih baik karena mencapai angka 100, sedangkan laki-laki masih 94. Sementara itu, jika dilihat dari data Angka Partisipasi Murni (APM), APM Kota Yogyakarta pada 2018 untuk jenjang pendidikan SMP/MTs dan SMA masih di kisaran 90an, baik untuk laki-laki atau perempuan. Artinya, masih ada sekitar 1% sampai dengan 9% anak usia sekolah SMP/MTs dan SMA/MA yang belum mengakses pendidikan di jenjang tersebut.

Sementara itu, untuk bidang ekonomi, aspek yang dilihat antara lain TPAK untuk melihat angka ketergantungan. Di Kota Yogyakarta, baik pada 2018 maupun tahun 2019, secara keseluruhan rasio TPAK laki-laki lebih tinggi dari perempuan. Artinya, dari seluruh penduduk usia kerja (kelompok produktif), laki-laki lebih banyak menjadi angkatan kerja dan aktif secara ekonomi. Pada Jika dilihat dari tingkat kemiskinan berdasarkan data dari Dinas Sosial Kota Yogyakarta, baik pada tahun 2018 dan 2019, aspek ekonomi wilayah menunjukkan proporsi keluarga miskin dengan kepala keluarga perempuan kurang lebih sekitar 30% dari jumlah seluruh keluarga miskin.

Jika dilihat dari Profil gender di Kota Yogyakarta dilihat dari partisipasi di Lembaga legislative berdasarkan data Pemilu 2019, dari 15 partai politik yang mengajukan calon untuk berlaga dalam pemilihan anggota DPRD Kota Yogyakarta, kuota minimal 30% perempuan telah dipenuhi semua partai. Berdasarkan proporsi persentasenya, kuota calon anggota DPRD perempuan telah lebih dari 30%. Partisipasi yang sudah memenuhi tersebut sayangnya keterpilihan para perempuan tersebut yang besar belum diikuti oleh masyarakat sebagai pemilih. Dari total 156 calon perempuan yang berlaga dalam Pemilu Legislatif 2019, pada akhirnya hanya 5 orang yang benar-benar menjadi anggota DPRD Kota Yogyakarta periode 2019-2024. Jika dilihat dari pengurus harian parpol dan calon legislatif, jumlah laki-laki lebih banyak dari perempuan, baik sebagai pengurus harian parpol maupun calon legislatif. Namun persentase di kedua posisi ini sudah lebih dari 30 persen.

Sementara itu, berdasarkan partisipasi perempuan dalam sektor publik sebagai ASN (Aparatur Sipil Negara) untuk jabatan struktural, terdapat kesenjangan (gap) posisi antara laki-laki dan perempuan pada 2018, yaitu sebesar 4,7 persen dan menurun menjadi 1,68 persen pada 2019. Penurunan ini semakin memperlihatkan bahwa jumlah laki-laki dan perempuan yang menduduki jabatan struktural relatif sama. Namun apabila dilihat lebih jauh dari eselonnya, maka posisi laki-laki dan perempuan untuk eselon IV, III dan II menunjukkan persentase berbeda, yaitu laki-laki lebih dari perempuan.

(24)

xxiv

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

Posisi laki-laki dan perempuan berdasarkan jabatan fungsional umum dan tertentu tahun 2018 dan 2019 memperlihatkan bahwa, untuk jabatan fungsional umum, persentase laki-laki lebih banyak dari perempuan, yaitu mencapai dua kali lipat.

Berdasarkan bidang sosial budaya, data penyandang disabilitas di Kota Yogyakarta menunjukkan bahwa penyandang disabilitas laki-laki lebih banyak dari perempuan. Pemerintah Kota Yogyakarta bahkan menargetkan seluruh kecamatan sudah menjadi kecamatan inklusi pada 2022. Artinya, semua wilayah di Kota Yogyakarta ramah disabilitas. Sementara untuk lansia di Kota Yogyakarta lebih banyak memiliki tingkat pendidikan menengah ke bawah. Sedangkan data Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS yang dulu disebut Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial/PMKS) yang ada di Kota Yogyakarta masih relatif banyak dan membutuhkan perhatian pemerintah daerah. Jenis PPKS relatif masih banyak, baik pada 2018 maupun 2019, adalah penyandang disabilitas, lanjut usia terlantar, orang dengan HIV/AIDS, dan anak jalanan.

Berkaitan dengan profil gender dalam bidang hukum, data semua penghuni rumah tahanan sebagai narapidana memperlihatkan bahwa semua narapidana berjenis kelamin laki-laki, baik pada 2018 maupun 2019. Data terkait bidang hukum lain adalah penyalahgunaan NAPZA. Berdasarkan data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Yogyakrta, terjadi fluktuasi penyalahgunaan narkoba di Kota Yogyakarta. Namun jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, penyalahgunaan terbanyak adalah laki-laki dengan persentase lebih dari 90 persen.

(25)

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

1

1

Pendahuluan

Bab 1 Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Isu gender, terutama mengenai kesetaraan gender, menjadi isu penting yang banyak diperbincangkan beberapa waktu terakhir, baik dalam tataran kebijakan maupun praktik. Namun menurut Rahmawati, dkk (2018: 5), upaya untuk meraih kesetaraan gender sebenarnya telah dirintis sejak lama, diawali dengan gerakan-gerakan feminisme di negara-negara barat pada abad ke-17. Masih menurut Rahmawati, dkk (2018: 5), upaya tersebut kemudian dilanjutkan dengan dibentuknya berbagai kesepakatan yang mengikat secara internasional, seperti Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan/Convention on the Elimination of All Forms of

Discrimination Against Women (CEDAW) dan Beijing Declaration and Platform for Action (BDPA).

Dokumen perencanaan pembangunan saat ini juga telah memasukkan isu kesetaraan gender sebagai satu hal penting untuk menghapus berbagai macam diskriminasi gender. Di tingkat global, salah satu upaya tersebut adalah mencantumkan gender sebagai salah satu tujuan Sustainable

Development Goals (SDGs) 2015-2030, tepatnya dalam tujuan SDGs kelima,

yaitu mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua

perempuan. S di tingkat nasional, kesetaraan dan keadilan gender merupakan

salah satu tujuan pembangunan yang tercantum dalam RPJPN 2005-2025, sekaligus menjadi poin dalam tiga isu strategis RPJMN 2015-2019 (Rahmawati dkk, 2018: 11). Ketiga isu tersebut adalah meningkatkan kualitas hidup dan peran perempuan dalam pembangunan, meningkatkan perlindungan bagi perempuan dari berbagai tindak kekerasan, termasuk tindak pidana perdagangan orang (TPPO), dan meningkatkan kapasitas kelembagaan PUG dan kelembagaan perlindungan perempuan dari berbagai tindak kekerasan.

(26)

2

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

Berbagai upaya pembangunan gender telah dilakukan untuk mengimplementasikan apa yang tertuang dalam dokumen perencanaan pembangunan. Perkembangan dari implementasi tersebut termonitor dari hasil Indeks Pembangunan Gender (IPG) dan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG). IPG menggambarkan kesenjangan pencapaian pembangunan manusia antara laki-laki dan perempuan. Sementara IDG mengukur partisipasi aktif laki-laki dan perempuan pada kegiatan ekonomi, politik, dan pengambilan keputusan. Laporan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bersama dengan BPS yang ditulis oleh Rahmawati, dkk (2018: 16) menyebutkan bahwa masih terdapat kesenjangan capaian pembangunan manusia antara perempuan dan laki-laki. Laporan mencatat bahwa secara nasional, pembangunan perempuan masih tertinggal dari laki-laki. Dari tahun 2010, pembangunan laki-laki sudah berstatus “tinggi” dengan IPM di atas 70, sedangkan pembangunan perempuan masih di kisaran angka 60-an dan berstatus “sedang”. Hal tersebut menyebabkan IPG Indonesia masih berada di bawah 100 dalam kurun waktu 2010-2018. * Keterangan: Data IPG Kota Yogyakarta Tahun 2016 tidak tersedia Gambar 1.1 Indeks Pembangunan Gender (IPG) Nasional, Provinsi DIY dan Kota Yogyakarta Tahun 2010-2018 Sumber: Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak & BPS, 2018 Meski sampai tahun 2018 IPG masih di bawah 100, data di atas menunjukkan tren peningkatan IPG dari tahun ke tahun, baik di tingkat nasional, Provinsi DIY maupun Kota Yogyakarta. Selama kurun waktu tersebut, IPG Kota Yogyakarta juga selalu lebih tinggi dari IPG nasional maupun IPG Provinsi DIY. Bahkan pada 2017 dan 2018, IPG Kota Yogyakarta termasuk 10 besar

(27)

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

3

kabupaten/kota di Indonesia dengan IPG tertinggi. Meski tidak lebih tinggi dari Kota Yogyakarta, IPG Provinsi DIY juga selalu lebih tinggi dari IPG nasional. Pada 2017, IPG Provinsi DIY merupakan IPG tertinggi ketiga di tingkat provinsi setelah Provinsi Sulawesi Utara dan DKI Jakarta. Meski belum mencapai angka 100, peningkatan IPG yang terjadi dalam kurun waktu 2010-2018 tersebut dapat dikatakan mengalami kemajuan terkait kesetaraan gender. Menurut Rahmawati, dkk (2018: 16), kemajuan tersebut disebabkan oleh komponen-komponen pembangunan perempuan yang terus tumbuh dengan kecepatan yang lebih cepat dari laki-laki.

Tren peningkatan IPG, yang menggambarkan semakin kecilnya kesenjangan pembangunan manusia antara laki-laki dan perempuan, sayangnya tidak otomatis mendorong perempuan untuk dapat lebih berperan aktif dalam sektor publik. Hal ini ditunjukkan oleh tren Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) yang belum memberikan hasil yang cukup menggembirakan. Gambar 1.2 Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) Nasional dan Provinsi DIY Tahun 2010-2018 Sumber: Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak & BPS, 2018 Dalam rentang waktu antara tahun 2010-2018, IDG Nasional maupun Provinsi DIY masih berada pada kisaran antara 60-70an, bahkan sempat mengalami penurunan yang cukup tajam pada tahun 2014 di Provinsi DIY, meski kemudian tren-nya kembali meningkat secara perlahan. BPS dalam Rahmawati, dkk (2018: 68) menyebutkan bahwa pembangunan gender di

(28)

4

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020 Provinsi DIY memang tinggi, tetapi pemberdayaan gender-nya masih di bawah angka nasional. Bahkan, Provinsi DIY sempat menjadi salah satu dari empat provinsi yang berpindah ke kuadran dengan kualitas yang lebih buruk. Tabel 1.1 Capaian Indikator Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) Kota Yogyakarta, Provinsi DIY dan Nasional Tahun 2018 Indikator Indeks Pemberdayaan Gender

(IDG) Tahun 2018 Yogyakarta Kota Provinsi DIY Nasional

Keterlibatan perempuan di parlemen (%) 25.00 12.73 17.32 Perempuan sebagai tenaga profesional (%) 55.79 47.70 47.02 Sumbangan pendapatan perempuan (%) 44.19 40.78 36.70 IDG 80.65 69.64 72.10 Sumber: Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak & BPS, 2018

Salah satu indikator paling utama yang memicu rendahnya IDG adalah keterlibatan perempuan di parlemen. Hal ini terjadi di semua tingkatan wilayah, baik nasional, provinsi maupun kabupaten/kota, termasuk di Provinsi DIY dan Kota Yogyakarta. Dua indikator yang lain adalah perempuan sebagai tenaga profesional dan sumbangan pendapatan perempuan juga belum memberikan capaian yang memuaskan. Oleh sebab itu, Rahmawati, dkk (2018: 5) menyebutkan bahwa berbagai upaya masih diperlukan untuk menghapus berbagai perbedaan dan menciptakan kehidupan yang bersifat adil secara gender.

Sebagai upaya untuk mewujudkan SDGs kelima serta tujuan pembangunan yang tercantum dalam RPJPN 2005-2025, pemerintah pusat telah memberikan arahan dan panduan kepada pemerintah daerah untuk menyusun kebijakan, program, dan melaksanakan pembangunan yang responsif terhadap gender. Wujud arahan dan panduan tersebut adalah Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah, yang kemudian direvisi melalui Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2011 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 Tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah. Berdasarkan Pasal 4 dalam regulasi tersebut, pemerintah daerah berkewajiban menyusun kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan responsif gender yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah atau RPJMD, Rencana Strategis SKPD, dan Rencana Kerja SKPD. Pasal tersebut juga menyebutkan bahwa

(29)

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

5

penyusunan kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan responsif gender dilakukan melalui analisis gender. Di dalam regulasi ini, analisis gender didefinisikan sebagai proses analisis data gender secara sistematis tentang kondisi laki-laki dan perempuan khususnya berkaitan dengan tingkat akses, partisipasi, kontrol, dan perolehan manfaat dalam proses pembangunan untuk mengungkapkan akar permasalahan terjadinya ketimpangan kedudukan, fungsi, peran, dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan.

Pemerintah Kota Yogyakarta kemudian menindaklanjuti arahan dalam Permendagri tersebut dengan mengeluarkan Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 53 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Kota Yogyakarta. Berdasarkan Pasal 2 Perwal tersebut, maksud ditetapkannya Peraturan Walikota adalah sebagai panduan bagi pemerintah daerah dalam merumuskan dan melaksanakan Pengarusutamaan Gender (PUG). PUG yang dimaksud adalah strategi yang dibangun untuk mengintegrasikan Gender menjadi laki-laki dan perempuan. Sementara tujuan dari Perwal ini adalah sebagai pedoman untuk meningkatkan pemahaman, kemampuan dan keterampilan kerja Perangkat Daerah dalam menyusun perencanaan penganggaran, pengimplementasian, pemantauan, pemeriksaan, dan pelaporan kegiatan pembangunan yang responsif terhadap gender.

Kemudian berdasarkan Pasal 4 Perwal Nomor 53 Tahun 2018, seluruh Perangkat Daerah menyusun Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender (PPRG) di dalam Dokumen Perencanaan dan RKA/DPA. Lebih lanjut, berdasarkan Pasal 5, penyusunan PPRG memerlukan Data Pembuka Wawasan yang digunakan untuk menganalisis gender. Data pembuka wawasan terdiri atas a) data pilah berdasarkan jenis kelamin; b) data kuantitatif gender; dan/atau c) data berdasarkan insiden khusus.

Data Pembuka Wawasan sebagaimana disebutkan dalam Pasal 9 memiliki beberapa fungsi sebagai berikut:

1) sebagai data base untuk mengungkapkan kesenjangan antara perempuan dan laki- laki;

2) sebagai informasi yang dibutuhkan bagi semua pihak untuk mewujudkan kesetaraan gender;

3) sebagai pertimbangan dalam menentukan alokasi sumber daya; 4) sebagai input untuk melakukan gender analisis;

(30)

6

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

5) mengindentifikasi masalah, membangun opsi, dan memilih opsi yang paling efektif untuk mendapatkan manfaat secara optimal bagi perempuan dan laki-laki;

6) memahami kontribusi ekonomi, keadaan, dan realitas sesungguhnya kehidupan perempuan maupun laki-laki; dan

7) melihat dampak dari intervensi pembangunan terhadap perempuan dan laki-laki dengan cara melaksanakan evaluasi, monitoring, mengukur kemajuan, dan mengukur outcome.

Pasal 10 menjelaskan bahwa Data Pembuka Wawasan harus memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut: 1) spesifik, artinya menggambarkan secara spesifik indikator gender dan anak; 2) dapat diukur, artinya dengan menggunakan metodologi konsep, definisi, klasifikasi, dan ukuran-ukuran statistik yang mengacu pada standar yang telah ditetapkan;

3) dapat dipercaya, dari segi kualitas pengumpulan, pengolahan dan penyajian data, serta dihitung dengan menggunakan metode dan prosedur yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah;

4) sesuai, artinya masih berlaku dan dibutuhkan bagi perencanaan,

pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi atas

kebijakan/program/kegiatan pembangunan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak; dan

5) berkelanjutan.

Untuk melaksanakan amanat Peraturan Walikota Yogyakarta tersebut, terutama dalam hal penyediaan Data Pembuka Wawasan, maka Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Yogyakarta bekerja sama dengan Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan, Universitas Gadjah Mada dengan melakukan Penyusunan Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Tahun 2020 pada kegiatan Pembinaan Pengarusutamaan Gender. Target atau sasaran dari kegiatan ini adalah tersusunnya data pilah gender/data pembuka wawasan tahun 2020 pada kegiatan pembinaan pengarusutamaan gender tahun 2020.

(31)

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

7

1.2 Maksud dan Tujuan

Maksud dari kegiatan Penyusunan Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Tahun 2020 ini adalah sebagai berikut:

1. Penyusunan Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Tahun 2020 digunakan untuk menganalisis gender;

2. Penyusunan Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Tahun 2020 digunakan untuk penyusunan perencanaan, kebijakan, dan program; dan

3. Penyusunan Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Tahun 2020 digunakan sebagai baseline data agar dapat mengurangi kesenjangan antara perempuan dan laki-laki dalam akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat pembangunan.

Sementara tujuan dari kegiatan Penyusunan Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Tahun 2020 adalah sebagai berikut:

1. Memperoleh informasi yang menggambarkan kondisi, kebutuhan, dan persoalan yang dihadapi perempuan terkait akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat dalam pembangunan, sehingga memudahkan dalam proses perencanaan dan penganggaran program/kegiatan; dan

2. Membantu pengisian indikator pemantauan dan evaluasi pelaksanaan pembangunan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak oleh pemerintah daerah secara berkala.

1.3 Sumber Data

Data penyusunan buku ini berasal dari hasil kajian data sekunder, observasi, dan wawancara mendalam. Data sekunder dikumpulkan dari beberapa instansi terkait di wilayah Kota Yogyakarta, yaitu Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Perlindungan Anak (DPMPPA); Dinas Pendidikan; Dinas Kesehatan; Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Tenaga Kerja dan Transmigrasi; Dinas Pertanahan dan Tata Ruang; Dinas Sosial; Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil; Dinas Kebudayaan; Dinas Kebakaran; Dinas Pemuda dan Olahraga; Dinas Perindustrian dan Perdagangan; Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana; Bappeda; Kementerian Agama; Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia; Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan (BKPP); Sekretariat Dewan

(32)

8

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

Perwakilan Rakyat Daerah; Badan Pusat Statistik (BPS); Badan Narkotika Nasional (BNN); Badan Pertanahan Nasional (BPN); Polres Kota Yogyakarta; Pengadilan Agama Kota Yogyakarta; UPT Lembaga Pemasyarakatan Wirogunan; dan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Informan wawancara mendalam adalah instansi pemerintah sebagai pembuat regulator kebijakan gender dan pelaksana kebijakan terkait gender.

1.4 Sistematika Penyajian

Buku ini terdiri atas sepuluh bab. Pemilihan bab disesuaikan dengan pemilahan data berdasarkan jenis kelamin yang diatur dalam Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 53 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Kota Yogyakarta. Pemilahan tersebut meliputi profil atau karakteristik penduduk berdasarkan jenis kelamin, data bidang kesehatan berdasarkan jenis kelamin, data bidang pendidikan berdasarkan jenis kelamin, data bidang ekonomi dan ketenagakerjaan berdasarkan jenis kelamin, data bidang politik dan pengambilan keputusan berdasarkan jenis kelamin, data bidang hukum dan sosial budaya berdasarkan jenis kelamin, dan data berdasarkan insiden khusus.

Bab pertama adalah pendahuluan yang berisi latar belakang, maksud dan tujuan, serta sumber data penyusunan buku Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta Tahun 2020. Bab kedua berisi informasi mengenai konstruksi gender dalam masyarakat serta urgensi upaya kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan. Bab ketiga adalah profil penduduk Kota Yogyakarta berdasarkan umur dan jenis kelamin. Bab empat sampai bab delapan berisi profil gender berdasarkan bidang-bidang tertentu. Berturut-turut adalah bidang kesehatan di bab empat, bidang pendidikan di bab lima, bidang ekonomi dan ketenagakerjaan di bab enam, bidang politik dan pengambilan keputusan di bab tujuh, dan bidang hukum dan sosial budaya di bab delapan. Bab sembilan berisi informasi profil gender berdasarkan insiden khusus. Bab terakhir, yaitu bab sepuluh, berisi penutup yang merupakan inti dari sembilan bab sebelumnya.

(33)

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

9

2

Konstruksi Gender

Bab 2 Konstruksi Gender Pembahasan mengenai gender sering rancu dengan jenis kelamin. Di kalangan awam, gender dan jenis kelamin sering dianggap sama. Padahal keduanya merupakan dua hal yang berbeda. Jenis kelamin mengacu pada kondisi fisik yang secara lahiriah dimiliki oleh seseorang (Rahmawati dkk, 2018: 3). Sementara gender mengacu pada atribut, harapan, dan norma sosial, perilaku, dan budaya yang terkait dengan menjadi perempuan atau laki-laki (UN Women dalam World Bank, 2012). Perbedaan norma dan perilaku/perlakuan terhadap seseorang yang terlahir sebagai laki-laki atau perempuan inilah yang kemudian membentuk peran, perilaku, dan atribut yang dikonstruksikan secara sosial dalam masyarakat (Rahmawati dkk, 2018: 3). Konstruksi sosial tersebut yang disebut dengan gender.

Konstruksi sosial dalam masyarakat yang memberikan perlakuan, norma, dan pandangan yang berbeda terhadap laki-laki dan perempuan pada kenyataannya berdampak terhadap adanya diskriminasi gender. Diskriminasi gender ini menimbulkan perbedaan capaian antara laki-laki dan perempuan yang disebut sebagai ketimpangan gender (Rahmawati dkk, 2018: 3). Rahmawati, dkk (2018: 3) lebih lanjut menyebutkan bahwa ketimpangan ini diperkuat dengan tumbuhnya budaya patriarki yang lebih mengutamakan laki-laki dari perempuan. Budaya patriarki menempatkan laki-laki sebagai pihak yang bertanggungjawab pada peran publik, sedangkan perempuan hanya berkutat pada peran domestik. Sebenarnya perempuan memiliki hak untuk memilih dan menjalani peran domestik maupun publik. Namun, masalah terjadi ketika peran yang dijalani perempuan dicampuri oleh tekanan pihak luar, bahkan pihak terdekat (Rahmawati dkk, 2018: 4). Mengenai partisipasi perempuan pada sektor publik ini, data dari BPS menunjukkan bahwa pada 2017, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan berada di angka 50,89, jauh lebih rendah dari TPAK laki-laki, yaitu 82,51 (BPS,

(34)

10

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

2017). Ketimpangan partisipasi angkatan kerja antara laki-laki dan perempuan ini umumnya terjadi di negara berkembang (Verick, 2014).

Di samping persoalan terkait partisipasi kerja, polemik peran perempuan juga terjadi ketika perempuan berada di dunia kerja. Perempuan dihadapkan dengan berbagai kebijakan yang tidak responsif terhadap gender. Diskriminasi kebijakan ini dimulai dari proses perekrutan pegawai hingga perbedaan upah tenaga kerja antara laki-laki dan perempuan (Rahmawati dkk, 2018: 4). Banyak perempuan yang bekerja di sektor informal serta banyak perempuan dengan kemampuan yang sama dengan laki-laki tetapi digaji lebih rendah (Sri Mulyani Indrawati dalam Kemenkeu, 2019). Lebih lanjut, Sri Mulyani juga menyebutkan bahwa perempuan memiliki kendala kesempatan yang sama untuk mengakses modal. Hal ini karena akses terhadap modal memerlukan kapasitas, seperti pendidikan, skill, dan leadership. Dari sisi legal barrier atau hambatan dari segi hukum, banyak perempuan yang tidak memiliki aset atas nama dirinya, seperti rumah, tanah atau perusahaan (Sri Mulyani Indrawati dalam Kemenkeu, 2019). Perempuan juga dihadapkan pada polemik lain yang masih sulit diselesaikan, yaitu pelecehan yang mengarah ke tindak asusila serta tindak perdagangan orang yang berujung pada eksploitasi dan prostitusi (Rahmawati dkk, 2018: 4). Data International

Organization for Migration mengungkapkan bahwa pada periode tahun 2005-2015, 70% korban perdagangan manusia berjenis kelamin perempuan. Untuk mengatasi berbagai polemik atau diskriminasi tersebut, perlu ada kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan. Kesetaraan gender adalah kesamaan kondisi bagi perempuan dan laki-laki untuk memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan, dan kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan (Rahmawati dkk, 2019: 2). Kesetaraan gender juga mengacu pada persamaan hak, tanggung jawab, dan kesempatan antara perempuan dan laki-laki (UN Women).

Rahmawati, dkk (2019: 4) menyebutkan bahwa promosi kesetaraan gender adalah bagian utama dari strategi pembangunan untuk memberdayakan masyarakat (semua orang), baik perempuan dan laki-laki, dan mengentaskan diri dari kemiskinan serta meningkatkan taraf hidup. Dengan kata lain, adanya kesetaraan gender akan memperkuat kemampuan negara untuk berkembang, mengurangi kemiskinan, dan memerintah secara efektif. Hal serupa juga diungkapkan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati dalam Rapat Koordinasi Nasional Kementrian Pembangunan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada bulan April 2019. Menurutnya, kesetaraan

(35)

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

11

gender tidak hanya penting dari sisi moralitas dan keadilan, tetapi juga sangat penting dan relevan dari sisi ekonomi (Kemenkeu, 2019). Mengutip dari lembaga konsultan internasional McKinsey, Sri Mulyani menyebutkan bahwa apabila suatu negara tidak menciptakan lingkungan yang setara seperti kesetaraan gender, maka 12 triliun USD kue ekonomi akan hilang atau kira-kira 16,5% dari total ekonomi global yang setara dengan delapan kali ekonomi Indonesia.

Sri Mulyani menekankan, kesetaraan gender adalah kesempatan yang sama bagi laki-laki dan perempuan dalam partisipasi ekonomi, kesetaraan akses pendidikan, kesehatan serta political empowerment (Kemenkeu, 2019). Kesempatan yang sama bagi laki-laki dan perempuan dapat terwujud bila pembangunan manusia yang dilakukan berbasis gender, artinya terjadi perbaikan kualitas hidup yang seimbang antara laki-laki dan perempuan. Kualitas hidup yang meningkat, seperti bidang kesehatan, pendidikan dan ekonomi, akan mendorong ke arah pemberdayaan yang tidak hanya dari laki-laki saja, tetapi juga dari perempuan (Rahmawati dkk, 2018: 63). Lebih lanjut, Rahmawati, dkk (2018: 63) menyebutkan bahwa idealnya, peningkatan pembangunan gender akan menciptakan keseimbangan pemberdayaan antara laki-laki dan perempuan. Sebagaimana dinyatakan McKinsey and Company (2015 dalam Rahmawati dkk, 2019: 4), jika perempuan dan laki-laki memiliki peran yang sama dalam pasar tenaga kerja, maka pada 2025 GDP global tahunan akan bertambah sebesar $28 triliun atau meningkat 26 persen.

(36)
(37)

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

13

3

Profil Umur Penduduk

Kota Yogyakarta

Bab 3 Profil Umur Penduduk Kota Yogyakarta Penduduk perempuan di Kota Yogyakarta lebih banyak dari penduduk laki-laki, baik pada 2018 maupun 2019. Jumlah penduduk total Kota Yogyakarta pada 2018 sebesar 427.498 jiwa, sementara pada 2019 menurun menjadi 414.055 jiwa. Penurunan jumlah penduduk ini bisa disebabkan oleh berbagai hal, karena jumlah penduduk dipengaruhi oleh faktor kelahiran, kematian, dan migrasi. Selain itu, perubahan jumlah penduduk juga dapat disebabkan oleh adanya perapihan data administrasi kependudukan.

Sementara itu, jika dilihat dari komposisi penduduk berdasarkan kelompok umur, terdapat perbedaan antara 2018 dan 2019, seperti data pada grafik berikut. Pada 2018, komposisi penduduk menonjol pada kelompok usia 20-24 tahun, kemudian diikuti kelompok usia 25-29 tahun dan 15-19 tahun. Artinya, pada 2018, komposisi penduduk Kota Yogyakarta didominasi oleh kelompok usia muda. Namun pada 2019, terdapat perubahan komposisi penduduk. Pada kelompok umur yang sebelumnya menonjol, pada 2019 tidak lagi dominan, tetapi komposisi penduduk hampir menyebar pada beberapa kelompok umur, dan pada ketiga kelompok umur yang sebelumnya dominan menjadi lebih rendah.

Perbandingan jumlah penduduk laki-laki dan perempuan menurut kelompok umur menunjukkan lebih banyak penduduk perempuan pada kelompok umur di atas 15 tahun. Sedangkan pada kelompok usia di bawah 15 tahun, lebih banyak penduduk laki-laki. Pada kelompok usia 0-4 tahun dan 5-9 tahun, baik pada 2018 maupun 2019, terdapat lebih banyak penduduk laki-laki dari penduduk perempuan. Hal ini tentu akan menentukan bagaimana kebijakan diambil, terutama kebijakan terkait kesehatan dan pendidikan anak.

(38)

14

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020 Tabel 3.1 Penduduk Kota Yogyakarta berdasarkan Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Kelompok Umur 2018 2019 L P Jumlah L P Jumlah 0–4 14.212 13.501 27.713 13.050 12.225 25.275 5–9 14.419 13.722 28.141 15.145 14.646 29.791 10–14 13.850 13.010 26.860 16.128 15.415 31.543 15–19 17.909 19.675 37.584 16.929 16.250 33.179 20–24 24.280 25.850 50.130 15.453 15.246 30.699 25–29 21.991 19.913 41.904 14.777 15.325 30.102 30–34 16.818 16.110 32.928 14.096 14.973 29.069 35–39 14.511 14.809 29.320 16.339 16.713 33.052 40–44 13.331 14.304 27.635 15.183 16.207 31.390 45–49 13.753 15.026 28.779 14.531 15.578 30.109 50–54 13.093 14.504 27.597 13.726 15.557 29.283 55–59 11.087 12.905 23.992 11.965 13.579 25.544 60–64 7.755 8.237 15.992 9.894 11.347 21.241 65–69 4.690 5.844 10.534 6.734 7.702 14.436 70–74 3.134 4.510 7.644 3.380 4.517 7.897 75 + 3.959 6.786 10.745 4.208 7.237 11.445 Jumlah 208.792 218.706 427.498 201.538 212.517 414.055 Sumber: Kota Yogyakarta dalam Angka 2019 dan 2020 Berdasarkan kecamatan, jumlah penduduk terbesar dimiliki oleh Kecamatan Umbulharjo, di mana kecamatan ini merupakan kecamatan dengan wilayah terluas di Kota Yogyakarta. Pada 2018, jumlah penduduk di Kecamatan Umbulharjo adalah 92.867 dengan rincian 45.064 laki-laki dan 47.803 penduduk perempuan. Sedangkan pada 2019, jumlah penduduk Kecamatan Umbulharjo turun menjadi sebesar 69.887 dengan rincian jumlah penduduk laki-laki 34.200 dan penduduk perempuan 35.687 jiwa. Artinya, baik pada 2018 maupun 2019, jumlah penduduk perempuan lebih besar dari jumlah penduduk laki-laki. Jika dilihat berdasarkan sebaran penduduk per kecamatan, hampir semua kecamatan di Kota Yogyakarta memiliki jumlah penduduk perempuan yang lebih besar, baik pada 2018 maupun 2019. Namun ada kecamatan yang memiliki jumlah penduduk perempuan yang lebih sedikit dari penduduk laki-laki, yaitu Kecamatan Wirobrajan pada 2018.

(39)

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

15

2018 2019 Gambar 3.1 Struktur Penduduk Kota Yogyakarta berdasarkan kelompok Umur dan Jenis Kelamin Sumber: Kota Yogyakarta dalam angka 2019 dan 2020 Tabel 3.2 Penduduk Kota Yogyakarta berdasarkan Jenis Kelamin per Kecamatan Kecamatan 2018 2019

Laki-laki Perem-puan Jumlah Laki-laki Perem-puan Jumlah

Mantrijeron 16.421 17.267 33.688 17.209 18.224 35.433 Kraton 8.467 9.168 17.575 10.610 11.221 21.831 Mergangsan 15.183 15.653 30.836 15.474 16.569 32.043 Umbulharjo 45.064 47.803 92.867 34.200 35.687 69.887 Kotagede 18.957 18.980 37.937 16.913 17.398 34.311 Gondokusuman 23.173 24.558 47.731 20.692 22.126 42.818 Danurejan 9.484 9.739 19.223 10.434 10.901 21.335 Pakualaman 4.542 4.794 9.336 5.161 5.649 10.810 Gondomanan 6.470 7.311 13.781 7.284 7.698 14.982 Ngampilan 7.999 9.118 17.117 9.061 9.489 18.550 Wirobrajan 13.270 12.864 26.134 13.523 14.345 27.868 Gedongtengen 8.855 9.691 18.546 9.696 10.195 19.891 Jetis 11.775 12.261 24.036 13.143 13.989 27.132 Tegalrejo 19.192 19.499 38.691 18.138 19.026 37.164 Kota Yogyakarta 208.852 218.706 427.498 201.538 212.517 414.055 Sumber: Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Yogyakarta

(40)
(41)

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

17

4

Profil Gender Bidang

Kesehatan

Bab 4 Profil Gender Bidang Kesehatan

4.1 Angka Harapan Hidup

Angka Harapan Hidup (AHH) penduduk Kota Yogyakarta tahun 2018 adalah 74, dengan rincian AHH laki-laki sebesar 72 dan perempuan sebesar 76. Angka ini menunjukkan bahwa harapan hidup perempuan lebih tinggi dari laki-laki. Sementara itu, jika dibandingkan dengan angka provinsi, capaian Kota Yogyakarta masih di bawah angka harapan hidup provinsi karena angka harapan hidup untuk provinsi DIY adalah 74,84 dengan rincian angka harapan hidup laki-laki adalah 73,03 dan perempuan sebesar 76,65.

Jika dibandingkan dengan angka nasional, angka harapan hidup di Kota Yogyakarta tergolong tinggi, bahkan provinsi DIY merupakan provinsi dengan capaian angka harapan hidup tertinggi di Indonesia. Angka harapan hidup untuk Indonesia adalah 71,2 dengan rincian 69,3 untuk laki-laki dan 73,33 untuk perempuan.

4.2 Angka Kematian Ibu Melahirkan

Berdasarkan data Dinas Kesehatan tahun 2018, terdapat empat kasus kematian ibu yang melahirkan, dengan rincian yaitu 1 kasus ibu melahirkan pada usia 20–34 tahun dan 3 kasus pada ibu melahirkan usia di atas 34 tahun. Kasus kematian ini yang terjadi pada ibu nifas, artinya kematian terjadi pasca melahirkan. Berdasarkan usia kematian ibu melahirkan tersebut, kasus

Tabel 4.1 Angka Harapan Hidup Penduduk Kota Yogyakarta Tahun 2018 Angka Harapan Hidup L P L+P 72 76 74 Sumber: SIGA DIY, 2019

(42)

18

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

terbanyak terjadi pada kelompok usia di atas 34 tahun yang memang tergolong berisiko tinggi untuk melahirkan.

Tabel 4.2 Jumlah Kematian Ibu berdasarkan Umur di Kota Yogyakarta

Puskesmas Jumlah Lahir Hidup

Kematian Ibu Jumlah Kematian

Ibu Hamil Jumlah Kematian Ibu Bersalin Jumlah Kematian Ibu Nifas Jumlah Kematian Ibu

< 20 th 20-34 th ≥35 th Jml < 20 th 20-34 th ≥35 th Jml < 20 th 20-34 th ≥35 th Jml < 20 th 20-34 th ≥35 th Jml Danurejan 1 72 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Danurejan 2 68 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Gondokusuman 1 232 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Gondokusuman 2 67 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Gondomanan 138 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 1 0 1 Gedongtengen 109 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Jetis 283 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Kotagede 1 207 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Kotagede 2 169 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Kraton 165 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Mergangsan 251 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Mantrijeron 297 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 1 1 Ngampilan 136 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Pakualaman 103 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Tegalrejo 341 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Umbulharjo 1 480 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2 0 0 2 2 Umbulharjo 2 180 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Wirobrajan 287 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Jumlah 3.585 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 3 4 0 1 3 4 Angka Kematian Ibu (Dilaporkan) 111,5 Sumber: PJ: Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Keterangan: Jumlah kematian ibu = Jumlah kematian ibu hamil + Jumlah kematian ibu bersalin + Jumlah kematian ibu nifas

Sementara jika dilihat dari sebaran kecamatan, kasus kematian di Gondomanan sebanyak 1 kasus, di Mergangsan sebanyak 1 kasus, dan di Umbulharjo sebanyak 2 kasus terjadi di wilayah Puskesmas Umbulharjo 1. Jika dilihat dari kasusnya yang berkisar 0,13% dibandingkan dengan jumlah peristiwa kelahiran yang terjadi di Kota Yogyakarta pada 2018, masih ada kasus kematian ibu melahirkan yang menjadi catatan bagi upaya peningkatan kualitas layanan kesehatan, khususnya layanan kesehatan pada ibu hamil dan melahirkan.

(43)

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

19

4.3 Cakupan Pertolongan Persalinan

Pada pelayanan ibu bersalin, 100% sudah mendapatkan pelayanan ibu bersalin dari tenaga kesehatan di Kota Yogyakarta. Sementara untuk pelayanan nifas, belum seluruhnya mendapatkan pelayanan kesehatan nifas, yaitu 93,48% ibu nifas mendapatkan pelayanan kesehatan nifas. Namun, wilayah kerja Puskesmas Gondokusuman 2, 100% ibu nifas telah mendapatkan pelayanan kesehatan nifas. Puskesmas Umbulharjo 2 (99,44%) dan Puskesmas Danurejan 1 (98,55%) merupakan wilayah kerja terbanyak kedua dan ketiga untuk ibu nifas. Sementara itu, Puskesmas Mergangsan (83,79%) dan Puskemas Gondokusuman 1 (85,57%) menjadi\cakupan terendah untuk pelayanan ibu nifas. Tabel 4.3 Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas Puskesmas Ibu Bersalin / Nifas Jumlah Persalinan

Ditolong Nakes Yankes Nifas Mendapat

Ibu NIFAS Mendapat Vitamin A Jumlah % Jumlah % Jumlah %

Danurejan 1 69 69 100,00 68 98,55 69 100,00 Danurejan 2 67 67 100,00 58 86,57 67 100,00 Gondokusuman 1 234 234 100,00 199 85,04 234 100,00 Gondokusuman 2 66 66 100,00 66 100,00 66 100,00 Gondomanan 137 137 100,00 134 97,81 137 100,00 Gedongtengen 107 107 100,00 99 92,52 105 98,13 Jetis 283 283 100,00 274 96,82 283 100,00 Kotagede 1 205 205 100,00 198 96,59 205 100,00 Kotagede 2 173 173 100,00 168 97,11 167 96,53 Kraton 165 165 100,00 153 92,73 151 91,52 Mergangsan 253 253 100,00 212 83,79 253 100,00 Mantrijeron 298 298 100,00 285 95,64 298 100,00 Ngampilan 135 135 100,00 129 95,56 135 100,00 Pakualaman 102 102 100,00 99 97,06 98 96,08 Tegalrejo 341 341 100,00 315 92,38 300 87,98 Umbulharjo 1 484 484 100,00 442 91,32 439 90,70 Umbulharjo 2 179 179 100,00 178 99,44 179 100,00 Wirobrajan 289 289 100,00 276 95,50 285 98,62 Jumlah 3.587 3.587 100,00 3.353 93,48 3.471 96,77 Sumber: Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta

(44)

20

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

Berkaitan dengan cakupan layanan untuk ibu nifas, belum semua ibu nifas mendapatkan vitamin A. Kota Yogyakarta, pada 2018 baru mencapai 96,77%. Meski demikian, sudah banyak wilayah di Kota Yogyakarta yang memiliki cakupan pemberian vitamin A untuk ibu nifas yang mencapai 100%, yaitu Kecamatan Danurejan (semua

puskesmas), Kecamatan

Gondokusuman (semua puskesmas), Kecamatan Gondomanan, Kecamatan Jetis, Kecamatan Kotagede untuk Puskesmas Kotagede 1, Kecamatan

Mergangsan, Kecamatan

Mantrijeron, Kecamatan Ngampilan, dan Kecamatan Umbulharjo untuk Puskesmas Umbulharjo 2.

4.4 Kunjungan Ibu Hamil

(K1/K4) ke Posyandu

dan Puskesmas

Cakupan kunjungan ibu hamil untuk K1 sudah 100%, artinya semua ibu hamil pada trimester pertama sudah mengunjungi pelayanan kesehatan. Namun untuk cakupan K4 menunjukkan penurunan, yaitu menjadi 90,11% di Kota Yogyakarta.

Hal ini menunjukkan bahwa pada masa menjelang kelahiran, banyak ibu hamil yang memilih untuk melahirkan di daerah asal agar lebih dekat dengan orangtuanya, sehingga cakupan K4 menjadi tidak 100%. Cakupan K4 tertinggi jika dilihat berdasarkan wilayah, terdapat di Kecamatan Kotagede untuk wilayah Puskesmas Kotagede 2 (97,78%), kemudian Kecamatan Tegalrejo (97,47%), dan Kecamatan Wirobrajan (97,08%). Sementara cakupan K4 terendah berada di Kecamatan Gedongtengen (70,34%) dan Kecamatan Kotagede untuk wilayah Puskesmas Kotagede 1 (71,78%).

Tabel 4.4 Ibu Nifas yang Mendapatkan Vitamin A

Puskesmas Jumlah Ibu Nifas Menda-patkan Vitamin A % Danurejan 1 69 69 100,00 Danurejan 2 67 67 100,00 Gondokusuman 1 234 234 100,00 Gondokusuman 2 66 66 100,00 Gondomanan 137 137 100,00 Gedongtengen 107 105 98,13 Jetis 283 283 100,00 Kotagede 1 205 205 100,00 Kotagede 2 173 167 96,53 Kraton 165 151 91,52 Mergangsan 253 253 100,00 Mantrijeron 298 298 100,00 Ngampilan 135 135 100,00 Pakualaman 102 98 96,08 Tegalrejo 341 300 87,98 Umbulharjo 1 484 439 90,70 Umbulharjo 2 179 179 100,00 Wirobrajan 289 285 98,62 Total 3.587 3.471 96,77 Sumber: Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta

(45)

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

21

Tabel 4.5 Cakupan Kunjungan Ibu Hamil ke Puskesmas Puskesmas Ibu Hamil Jumlah 2018 2019 K1 K4 K1 K4

Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %

Danurejan 1 99 99 100,00 94 94,95 80 100 64 80 Danurejan 2 62 62 100,00 59 95,16 62 100 42 67,74 Gondokusuman 1 320 320 100,00 273 85,31 256 100 211 82,42 Gondokusuman 2 119 119 100,00 110 92,44 102 100 101 99,02 Gondomanan 158 158 100,00 151 95,57 171 100 163 95,32 Gedongtengen 145 145 100,00 102 70,34 95 100 95 100 Jetis 296 296 100,00 266 89,86 294 100 201 68,37 Kotagede 1 287 287 100,00 206 71,78 275 100 246 89,45 Kotagede 2 180 180 100,00 176 97,78 164 100 159 96,95 Kraton 179 179 100,00 163 91,06 147 100 122 82,99 Mergangsan 287 287 100,00 245 85,37 233 100 203 87,12 Mantrijeron 325 325 100,00 315 96,92 323 100 292 90,40 Ngampilan 156 156 100,00 151 96,79 179 100 170 94,97 Pakualaman 112 112 100,00 107 95,54 102 100 70 68,63 Tegalrejo 395 395 100,00 385 97,47 362 100 335 92,54 Umbulharjo 1 543 543 100,00 473 87,11 554 100 508 91,70 Umbulharjo 2 236 236 100,00 216 91,53 136 100 128 94,12 Wirobrajan 308 308 100,00 299 97,08 320 100 297 92,81 Jumlah 4.207 4.207 100,00 3.791 90,11 3855 100 3407 88,38 Sumber: Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, 2019

4.5 Imunisasi atau Vaksinasi Tetanus Toxoid (TT) pada

Ibu Hamil

Imunisasi Tetanus Toxoid (TT) merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk menekan angka kematian ibu dan bayi, sebagai salah satu upaya untuk program Eliminasi Tetanus Maternal dan Neonatorum (ETMN). Tetanus Neonatorum merupakan tetanus yang terjadi pada bayi baru lahir dengan usia 2-28 hari dan Tetanus Maternal merupakan tetanus yang terjadi pada kehamilan kemudian dalam 6 minggu setelah ibu tersebut melahirkan.

(46)

22

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020 Tabel 4.6 Capaian TT untuk Ibu Hamil di Kota Yogyakarta Puskesmas Total TT1 sd TT5 (Status) Total TT1 sd TT5 (Pemberian) Total 2019 2018 2019 N % N % Danurejan 1 79 98,75 99 100,00 48 Danurejan 2 50 80,65 68 109,68 17 Gondokusuman 1 256 100 322 100,63 96 Gondokusuman 2 102 100 119 100,00 3 Gondomanan 156 91,23 155 98,10 4 Gedongtengen 95 100 145 100,00 31 Jetis 294 100 296 100,00 0 Kotagede 1 275 100 275 95,82 2 Kotagede 2 164 100 175 97,22 34 Kraton 147 100 179 100,00 18 Mergangsan 232 99,57 287 100,00 34 Mantrijeron 321 99,38 325 100,00 2 Ngampilan 179 100 156 100,00 79 Pakualaman 102 100 112 100,00 4 Tegalrejo 362 100 399 101,01 18 Umbulharjo 1 554 100 543 100,00 188 Umbulharjo 2 140 102,94 236 100,00 4 Wirobrajan 320 100 308 100,00 0 Total 3828 99,30 4199 99,81 582 Sumber: Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, capaian pemberian imunisasi TT pada ibu hamil, baik data

2018 maupun 2019, sudah

menunjukkan hasil yang baik karena capaian lebih dari 99%. Bahkan jika dilihat dari sebaran wilayah, ada beberapa kecamatan yang sudah mencapai 100%. Hanya ada 3 kecamatan yang belum mencapai 100% pada 2019, yaitu Kecamatan Gondomanan, Kecamatan Kotagede untuk wilayah Puskesmas Kotagede 1, dan Puskesmas Kotagede 2. Hasil ini sangat bagus

Gambar 4.1 Capaian TT pada Ibu Hamil Sumber: Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta (Laporan Puskesmas)

(47)

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

23

karena capaian di Kota Yogyakarta sudah jauh melebihi target internasional 90%.

4.6 Ibu Hamil yang Mendapat Tablet Zat Besi (Fe)

Selama mengandung, Ibu hamil mendapatkan minimal 90 tablet tambah darah selama kehamilannya. Ibu hamil yang mendapatkan tablet zat besi (Fe) minimal 90 tablet disebut sebagai indikator Fe3. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan, cakupan ibu hamil yang mendapatkan zat besi selama kehamilannya masih di bawah 90%, yaitu 87,33% pada 2018 dan 88,4% pada 2019. Namun pada 2018, ada wilayah yang mampu mencapai 100%, yaitu di Puskesmas Danurejan 2, namun pada 2019 turun menjadi 87,1%. Pada 2019, capaian tertinggi terdapat di Puskesmas Gondokusuman 2 dengan capaian 99%.

Tabel 4.7 Jumlah Ibu Hamil yang Mendapatkan Tablet Zat Besi

Kecamatan Puskesmas

Jumlah Ibu

Hamil Tablet) 2018 FE1 (30 FE3 (90 Tablet) 2018 2019 Jml % 2018 2019 Jml % Jml % Danurejan Danurejan 1 99 80 86 86,87 90 90,91 79 98,8 Danurejan Danurejan 2 62 62 66 106,45 62 100,00 54 87,1 Gondokusuman Gondokusuman 1 320 256 296 92,50 26 8 83,75 248 96,9 Gondokusuman Gondokusuman 2 119 102 88 73,95 103 86,55 101 99,0 Gondomanan Gondomanan 158 171 153 96,84 151 95,57 151 88,3 Gedongtengen Gedongtengen 145 95 117 80,69 97 66,90 80 84,2 Jetis Jetis 296 294 296 100,00 282 95,27 201 68,4 Kotagede Kotagede 1 287 275 257 89,55 220 76,66 237 86,2 Kotagede Kotagede 2 180 164 179 99,44 172 95,56 159 97,0 Kraton Kraton 179 147 171 95,53 148 82,68 118 80,3 Mergangsan Mergangsan 287 233 265 92,33 212 73,87 193 82,8 Mantrijeron Mantrijeron 325 323 295 90,77 295 90,77 274 84,8 Ngampilan Ngampilan 156 179 155 99,36 153 98,08 170 95,0 Pakualaman Pakualaman 112 102 112 100,00 105 93,75 72 70,6 Tegalrejo Tegalrejo 395 362 390 98,73 373 94,43 335 92,5 Umbulharjo Umbulharjo 1 543 554 519 95,58 473 87,11 506 91,3 Umbulharjo Umbulharjo 2 236 136 185 78,39 179 75,85 133 97,8 Wirobrajan Wirobrajan 308 320 292 94,81 291 94,48 297 92,8 Jumlah (Kab/Kota) 4.207 3855 3.922 93,23 3.674 87,33 3408 88,4 Sumber: Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta

(48)

24

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

Belum tercapainya target cakupan pemberian tablet darah pada ibu hamil, maka beberapa upaya diperlukan untuk meningkatkan capaian pemberian zat besi pada ibu hamil. Pemberian zat besi pada ibu hamil ini bertujuan untuk menurunkan kejadian anemia pada ibu hamil yang kadang menjadi penyebab perdarahan saat persalinan ibu hamil tersebut dan berujung pada kematian ibu bersalin.

4.7 Ibu Hamil yang Berisiko

4.7.1 Ibu Hamil Kekurangan Energi Kronis

Ibu hamil kurang energi kronis (KEK) adalah ibu hamil yang mempunyai lingkar Lengan Atas (LILA) < 23,5 cm. Target nasional untuk kejadian ibu hamil kekurangan energi kronis adalah 20%. Jika dilihat dari data ibu hamil KEK di Kota Yogyakarta, pemerintah Kota Yogyakarta sudah dapat melebihi target nasional dan sesuai dengan harapan.

Tren cakupan ibu hamil KEK di Kota Yogyakarta tahun 2016-2018 dapat dilihat pada grafik berikut. Pada 2016, kejadian ibu hamil KEK di Kota Yogyakarta sebesar 15,02%, kemudian turun menjadi 13,46% pada 2017. Namun pada 2018, tren ibu hamil KEK mengalami peningkatan menjadi 15,2%. Kejadian ibu hamil KEK ini berkaitan dengan status gizi ibu hamil. Jika ibu hamil kekurangan gizi, maka akan ada kemungkinan melahirkan bayi kurang gizi, sehingga kondisi ini perlu diatasi. Upaya-upaya yang dilakukan untuk menurunkan kejadian ibu hamil KEK adalah Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk ibu hamil KEK serta

konseling gizi pada ibu hamil. Untuk calon ibu hamil, pencegahan yang dapat dilakukan pada saat menjadi calon pengantin adalah melakukan konseling calon pengantin. Gambar 4.2 Tren Kejadian Ibu Hamil KEK di Kota Yogyakarta Sumber: Seksi Kesga dan Gizi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta

Gambar

Tabel	4.8	 Hasil	Pemantauan	Status	Gizi	Balita	di	Kota	Yogyakarta	2018
Tabel	5.4	 Angka	Melek	Huruf	Kota	Yogyakarta	Tahun	2018-2019
Tabel	5.5	 Angka	Putus	Sekolah	berdasarkan	Jenjang	Pendidikan	Kota	 Yogyakarta	Tahun	2018-2019
Tabel	6.3	 Jumlah	Wajib	Pajak	Bumi	dan	 Bangunan	menurut	 Kecamatan	di	Kota	 Yogyakarta	Tahun	2017-2019	 Kecamatan	 Tahun	 2017	 2018	 2019	 Mantrijeron	 7.954	 7.956	 8.069	 Kraton	 4.342	 4.341	 4.343	 Mergangsan	 7.378	 7.370	 7.414	 Umbulharjo	 20.562
+7

Referensi

Dokumen terkait

Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

Kecerdasan ini harus dikembangkan agar anak didik dapat tumbuh dan besar menjadi manusia yang cerdas dan siap menghadapi segala tantangan dimasa depa, yaitu kecerdasan

Banyaknya kombinasi jadwal dan berbagai constraint yang diberikan, antara lain : dosen yang memiliki jabatan struktural tidak dapat dijadwalkan pada waktu tertentu,

gender dengan kesulitan terbesar dalam hal penentuan isu gender, keterbatasan data pembuka wawasan, dan membedakannya dengan data dasar/baseline, dan indikator

instrumen analisis gender dengan kesulitan terbesar dalam hal penentuan isu gender, keterbatasan data pembuka wawasan, dan membedakannya dengan data dasar/baseline,

Laporan Keuangan Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta, Tahun Anggaran 2020 disusun sebagaimana

Rencana Aksi Data Dasar (Base-line) Indikator Gender Identifikasi dan tuliskan tujuan dari Kebijakan/ Program/ Kegiatan Sajikan data pembuka wawasan, yang terpilah