• Tidak ada hasil yang ditemukan

Angka Partisipasi Kasar berdasarkan Jenjang

Bab 5 Profil Gender Bidang Pendidikan

5.1 Angka Partisipasi Kasar berdasarkan Jenjang

5

Profil Gender Bidang

Pendidikan

Bab 5 Profil Gender Bidang Pendidikan

5.1 Angka Partisipasi Kasar berdasarkan Jenjang

Pendidikan

Badan Pusat Statistik (BPS) mendefinisikan angka partisipasi kasar (APK) sebagai perbandingan antara jumlah penduduk yang masih bersekolah di jenjang pendidikan tertentu (tanpa memandang usia penduduk tersebut) dengan jumlah penduduk yang memenuhi syarat resmi penduduk usia sekolah di jenjang pendidikan yang sama. Di dalam situsnya, BPS menjelaskan bahwa penghitungan APK dilakukan secara rutin dalam rangka memenuhi beberapa fungsi atau kegunaan. Fungsi tersebut untuk menunjukkan seberapa besar tingkat partisipasi penduduk pada suatu tingkat pendidikan pada umumnya. Fungsi yang lain adalah untuk

menunjukkan besar kapasitas sistem pendidikan dapat menampung siswa dari kelompok usia sekolah tertentu. Data APK juga berfungsi sebagai indikator pelengkap dari indikator angka partisipasi murni (APM) yang dapat menunjukkan besarnya penduduk yang bersekolah pada suatu jenjang namun usianya belum mencukupi atau bahkan melebihi dari usia sekolah yang seharusnya.

Nilai APK sangat mungkin lebih dari 100% karena APK tidak hanya mencakup anak yang bersekolah

Gambar 5.1 Angka Partisipasi Kasar Kota Yogyakarta berdasarkan Jenjang Pendidikan Tahun 2018 dan 2019 Versi BPS Sumber: BPS Kota Yogyakarta

30

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

pada suatu jenjang pendidikan tertentu sesuai dengan kategori umurnya. Pada APK, anak yang bersekolah tidak sesuai dengan kategori umurnya juga dihitung, misalnya anak yang terlalu dini masuk jenjang sekolah tersebut, anak yang terlambat masuk sekolah, dan anak yang mengulang kelas. Nilai APK lebih dari 100% juga mengindikasikan kemampuan wilayah dalam menampung penduduk usia sekolah lebih dari target yang sesungguhnya. Target utama penyediaan fasilitas pendidikan tentunya adalah untuk anak yang sesuai dengan kategori usianya untuk jenjang pendidikan tersebut, dengan asumsi bahwa tidak ada siswa yang terlalu awal masuk sekolah, tidak ada siswa yang terlambat masuk sekolah, dan tidak ada siswa yang tidak naik kelas. Ketika asumsi-asumsi tersebut tidak terpenuhi tetapi semua anak, baik anak yang sesuai kategori usia maupun tidak, tetap dapat mengakses pendidikan. Artinya, fasilitas yang disediakan sangat memadai dan siap mengantisipasi berbagai kemungkinan.

Sebagai kota yang menjadi barometer pendidikan di Indonesia, Kota Yogyakarta juga secara rutin melakukan penghitungan APK. Setidaknya, Kota Yogyakarta memiliki dua sumber data APK. Sumber pertama adalah APK yang dihitung dan dipublikasikan oleh BPS Kota Yogyakarta. Sedangkan sumber kedua berasal dari publikasi Sistem Informasi Gender dan Anak Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (SIGA DIY). Sebagaimana ditunjukkan dalam gambar 6.1 dan tabel 6.1, data APK tahun

2018 yang dikeluarkan oleh SIGA DIY selalu lebih besar dari APK yang dipublikasikan oleh BPS Kota Yogyakarta, baik data APK laki-laki dan perempuan. Perbedaan data antara kedua sumber tersebut cukup jauh, berkisar antara 13,68% hingga 44,63%. Perbedaan paling mencolok terlihat pada data APK untuk jenjang pendidikan SMP/MTS dengan selisih di atas 40%. Jika dipilah berdasarkan jenis kelamin, perbedaan APK antara laki-laki dan perempuan masih ditemukan. Artinya, perbedaan partisipasi pendidikan antara laki-laki dan perempuan dalam hitungan yang kasar pun masih terjadi. Namun, pada 2018, pola perbedaan tersebut berbeda antara data APK versi BPS dan versi SIGA DIY. Pada data APK versi BPS, data APK laki-laki pada 2018 konsisten selalu lebih tinggi dari APK perempuan, baik jenjang SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA. Pada tingkat pendidikan SD/MI, APK laki-laki lebih tinggi dari APK perempuan dengan selisih sekitar 5,52%. Selisihnya semakin Tabel 5.1 Angka Partisipasi Kasar Kota Yogyakarta menurut Jenjang Pendidikan Tahun 2018 Versi SIGA DIY Jenjang Pendidikan SD/MI SMP/MTs SMA/MA Laki-Laki 121 125 123 Perempuan 122 124 131 Sumber: SIGA DIY

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

31

mengecil seiring dengan meningkatnya jenjang pendidikan, yaitu 3,47% di tingkat SMP/MTs serta 2,97% di tingkat SMA/MA. Kemungkinan penyebabnya adalah jumlah siswa laki-laki yang menempuh masing-masing jenjang pendidikan tersebut di luar rentang usia untuk jenjang pendidikan tersebut lebih banyak dari siswa perempuan, baik karena terlalu muda atau terlalu tua. Kemungkinan ini tentu harus dikonfirmasi dengan data angka pendidikan murni (APM) yang akan dibahas kemudian.

Berdasarkan data versi BPS ini, satu hal yang perlu diwaspadai adalah mengenai rendahnya APK pada jenjang pendidikan SMP/MTs, baik APK laki-laki maupun perempuan. APK jenjang SMP/MTs pada 2018 kurang dari 100%. Artinya, belum semua anak berpartisipasi pada pendidikan SMP/MTs, bahkan untuk anak yang memang secara kategori usia seharusnya berada di jenjang SMP/MTs. Tingkat partisipasi pada jenjang ini semakin rendah pada anak perempuan, dengan beda sekitar 3,47%. Pada 2019, tingkat partisipasi perempuan pada jenjang SMP/MTs ini mengalami perbaikan dengan meningkatnya nilai APK meski belum bisa mencapai 100. Namun, untuk tingkat partisipasi laki-laki pada jenjang SMP/MTs yang pada 2018 relatif lebih baik dari perempuan, justru mengalami penurunan pada 2019. Angkanya mengalami penurunan yang cukup signifikan dari 82,84 menjadi 67,89. Kemudian pada jenjang pendidikan SMA/MA, hal yang perlu diwaspadai adalah adanya penurunan partisipasi perempuan pada tahun 2019. Pada 2018, APK perempuan pada jenjang SMA/MA masih baik, yaitu 106,35. Artinya, semua anak di usia sekolah SMA/MA maupun anak di luar usia sekolah tersebut dapat mengakses pendidikan SMA/MA. Namun pada 2019, angkanya turun menjadi 91,84. Angka tersebut menunjukkan bahwa untuk minimal membuat semua anak perempuan yang sesuai dengan usia sekolah SMA/MA dapat mengakses pendidikan tersebut pun belum dapat terpenuhi. Data tersebut juga sekaligus menunjukkan bahwa anak perempuan lebih rentang mengalami putus sekolah pada jenjang pendidikan SMA/MA. Bila data versi BPS ini benar, tentu perlu ditelusuri penyebab serta solusinya, misalnya apakah dari sisi kapasitas sistem pendidikan yang kurang memadai atau ada permasalahan lain, seperti dari sisi kesadaran dari masyarakatnya. Untuk data versi SIGA DIY, terdapat variasi pola APK antara laki-laki dan perempuan di jenjang pendidikan yang berbeda di tahun 2018. Pada jenjang pendidikan SD/MI, APK perempuan sedikit lebih tinggi dari laki-laki dengan selisih sekitar 1%. Kemudian polanya berubah pada tingkat SMP/MTs, yaitu APK laki-laki menjadi 1% lebih tinggi dari APK perempuan. Sampai di sini, meski ada perbedaan tingkat partisipasi pendidikan antara laki-laki dan perempuan, perbedaannya tidak mengkhawatirkan karena baik lebih tinggi laki-laki maupun perempuan, selisihnya kecil. Berdasarkan data versi SIGA

32

Data Pilah Gender/Data Pembuka Wawasan Kota Yogyakarta 2020

DIY ini, hal yang mengkhawatirkan adalah pada jenjang pendidikan SMA/MA. APK perempuan pada tingkat pendidikan SMA/MA memang lebih tinggi dari APK laki-laki. Hal ini merupakan sesuatu yang menggembirakan karena mengindikasikan bahwa perempuan juga memiliki akses yang sangat baik terhadap pendidikan yang lebih tinggi. Namun, dengan selisih perbedaan APK yang cukup besar, yaitu 8%, justru memunculkan “alarm” terkait adanya permasalahan akses pendidikan SMA/MA untuk penduduk laki-laki. Dari sisi sarana dan prasarana serta kesempatan, tidak ada perbedaan perlakuan antara penduduk laki-laki dan perempuan dalam mengakses pendidikan SMA/MA. Penyebab yang mungkin terjadi adalah adanya masalah dari sisi keluarga siswa laki-laki atau siswa laki-laki itu sendiri. Selain itu, mengingat usia SMA/MA, anak sedang dalam puncak proses pencarian jati dirinya, baik ke arah positif maupun negatif.