• Tidak ada hasil yang ditemukan

Angka Partisipasi Sekolah

PROFIL DAN ANALISIS: GENDER, ANAK DAN PEREMPUAN

2.1 Bidang Pendidikan

2.1.2 Angka Partisipasi Sekolah

Angka partisipasi sekolah merupakan ukuran daya serap sistem pendidikan terhadap penduduk usia sekolah. Angka tersebut memperhitungkan adanya perubahan penduduk terutama usia muda. Ukuran yang banyak digunakan di sektor pendidikan seperti pertumbuhan jumlah murid lebih menunjukkan perubahan jumlah murid yang mampu ditampung di setiap jenjang sekolah. Naiknya persentase jumlah murid tidak dapat diartikan sebagai semakin meningkatnya partisipasi sekolah.

Kenaikan tersebut dapat pula dipengaruhi oleh semakin besarnya jumlah penduduk usia sekolah yang tidak diimbangi dengan ditambahnya infrastruktur sekolah serta peningkatan akses masuk sekolah sehingga partisipasi sekolah seharusnya tidak berubah atau malah semakin rendah.

Tabel 6

Angka Partisipasi Sekolah Usia 7-12 Tahun Berdasarkan Gender Kab/ Kota Tahun 2006 2007 2008 L P L P L P Gunung Kidul 105,58 % 89,65 % 101,97 % 91,52 % 102,41 % 91,44 % Bantul 98,97 % 100,00 % 73,14 % 76,15 % 78,02% 78,24% Kulon Progo 49,22 % 50,78 % 49,37 % 50,63 % 48,77 % 51,23 % Sleman 99.02% 100.00% 99.06% 100.00% 99.18% 98.56% Kota Yogya 130,97% 123,45% 91,41%

Sumber: Dinas Pendidikan kabupaten/kota Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Tabel di atas menunjukkan, bahwa persentase atau angka partisipasi sekolah usia 7-12 tahun di masing-masing kabupaten/kota di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta lebih tinggi bila dibandingkan dengan kelompok usia yang lain (13-15 tahun dan 16-18 tahun). Tabel di atas juga menunjukkan bahwa partisipasi laki-laki masih lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan, kecuali di Kabupaten Kulon Progo, dalam persentase terlihat bahwa partisipasi sekolah perempuan lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan di Kabupaten Kulon Progo, telah mendapatkan kesamaan hak dengan laki-laki dalam menempuh atau mengenyam pendidikan.

Untuk mengukur penduduk dalam memanfaatkan fasilitas pendidikan formal persekolahan, dapat digunakan angka Angka Partisipasi Sekolah (APS). Di bawah ini adalah tabel angka partisipasi sekolah (APS) usia 13-15 tahun

Tabel 7

Angka Partisipasi Sekolah Usia 13-15 Tahun Berdasarkan Gender Kab/ Kota Tahun 2006 2007 2008 L P L P L P Gunung Kidul 89,55 % 86,20 % 90,30 % 86,27 % 96,72 % 89,69 % Bantul 96,59 % 89,00 % 97,91 % 92,69 % 78,02 % 78,24 % Kulon Progo 50,66 % 93,34 % 51,14 % 46,38 % 50,87 % 49,13 % Sleman 82,15 % 58,40 % 77,92 % 59,48 % 76,68 % 60,60 % Kota Yogya 97,58% 95,85% 91,41%

Sumber: Dinas Pendidikan kabupaten/kota se Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa persentase Angka Partisipasi Sekolah usia 13-15 tahun di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2006-2008. Tahun 2006, partisipasi siswa perempuan dibanding laki-laki tertinggi terdapat di Kabupaten Kulon Progo, laki-laki 50,66 % dan perempuan 93,34 %. Terendah di Kabupaten Gunungkidul, laki-laki 89,55 % dan perempuan 86,2 %

Tahun 2007, partisipasi laki-laki lebih tinggi daripada perempuan, angka tertinggi terdapat di Kabupaten Gunungkidul yaitu, laki-laki 90,30 % dan perempuan 86,27 % sedangkan terendah di Kabupaten Kulom Progo, laki-laki 51,14 % dan perempuan 46,38 %.

Tahun 2008, partisipasi laki-laki kembali tinggi dibanding perempuan. Angka tertinggi terdapat di Kabupaten Gunungkidul, laki-laki 96,72 % dan perempuan 89,69 %, dan yang terendah di Kabupaten kulon Progo yaitu, laki-laki 50,87 % dan perempuan 49,13 %. Sementara itu untuk angka partisipasi sekolah di Kota Yogyakarta, data yang ada belum terpilah.

Tabel 8

Angka Partisipasi Sekolah Usia 16-18 Tahun Berdasarkan Gender Kab/ Kota Tahun 2006 2007 2008 L P L P L P Gunung Kidul 35,18 % 32,31 % 37,08 % 33,60 % 40,05 % 38,08 % Bantul 61.08 % 62.99 % 62,68 % 64,18 % 62,46 % 63,42 % Kulon Progo 37,65 % 62,35 % 37,05 % 63,08 % 36,51 % 63,49 % Sleman 45,33 % 43,70 % 45,03 % 55,62 % 48,40 % 52,50 % Kota Yogya 89,96% 86,64% 82,81%

Sumber: Dinas Pendidikan kabupaten/kota se Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pendidikan formal merupakan proses transfer ilmu pengetahuan yang ditempuh berjenjang dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Proses ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas peserta didiknya, sehingga akan melahirkan lulusan yang berkualitas serta memilki ketrampilan. Bekal serta ketrampilan tersebut berguna bagi masyarakat dalam menjalankan aktifitas kehidupan, sehingga mereka berpeluang untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik dari segi ekonomi maupun social.

Angka Partisipasi Kasar (APK) adalah rasio jumlah siswa, berapapun usianya, yang sedang sekolah di tingkat pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tertentu. Angka Partisipasi Kasar (APK) menggambarkan keikutsertaan penduduk pada setiap jenjang pendidikan. APK merupakan indikator yang paling sederhana untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah di masing-masing jenjang pendidikan. Keikutsertaan pendidikan pada proses pendidikan ini tidak terbatas pada kelompok usia normative untuk setiap jenjang pendidikan, misalnya partisipasi untuk SD, tidak terbatas bagi penduduk berusia 7-12 tahun, namun juga melibatkan mereka yang tidak termasuk pada kelompok umur tersebut. Seperti anak berusia 6 tahun yang

telah bersekolah di SD maupun mereka yang lebih dewasa namun mengikuti jenjang pendidikan yang setara dengan SD (Kelompok belajar Paket A). Berikut ini disajikan data Partisipasi Kasar dari tingkat SD sampai SMA.

Tabel 9

Angka Partisipasi Kasar Sekolah Dasar Berdasarkan Gender No Kab/ Kota 2006 2007 2008 % % % L P L P L P 1 Gunung Kidul 97,55 86,14 97,71 87,00 96,60 86,11 2 Bantul 111,66 98,77 98,24 110,88 103,73 3 Kulon Progo 86,02 80,9 111,09 98,66 94,51 4 Sleman 117,34 106,63 122,28 106,27 115,60 5 Kota Yogya 184,2 178,16 116,52 108,97

Sumber: Dinas Pendidikan Kab/Kota se Provinsi DIY dan Dinas Pendidikan Provinsi DIY.

Pada tabel di atas dapat dilihat hanya Kabupaten Gunungkidul yang mempunyai data pilah pada trend tiga tahun. Kabupaten/ Kota di DIY lainnya, hanya memiliki data pilah pada tahun 2006. Selain itu, tabel di atas juga menunjukkan bahwa pada tahun 2006, secara umum terdapat kesenjangan gender dalam hal APK di tingkat SD. Pada empat Kabupaten semuanya menunjukkan terjadi kesenjangan gender pada pihak perempuan dengan angka tertinggi di Kabupaten Bantul yaitu antara laki-laki dan perempuan selisih 12,89 %, hal yang perlu dikaji adalah angka partisipasi kasar perempuan yang umumnya kurang dari 100 % dan angka partisipasi penduduk laki-laki yang lebih dari 100 %. Hal ini menunjukkan bahwa kesenjangan gender diakibatkan oleh tingginya penduduk laki-laki luar Kabupaten/ Kota yang menjadi siswa/i SD. Hal sebaliknya terjadi di Kulon Progo dan Gunungkidul yaitu APK baik laki-laki maupun perempuan kurang dari 100 %. Mengingat dua Kabupaten tersebut berbatasan dengan daerah lain di Jawa Tengah, terdapat kemungkinan banyak penduduk yang bersekolah luar daerah perbatasan. Jadi, dapat disimpulkan masih banyak kaum perempuan yang belum terlayani. Selanjutnya, di bawah ini disajikan data mengenai angka partisipasi kasar SMP

Tabel 10

Angka Partisipasi Kasar SMP Berdasarkan Gender

No Kab/ Kota 2006 2007 2008 % % % L P L P L P 1 Gunung Kidul 84,91 81,77 86,09 81,81 87,15 81,99 2 Bantul 90,46 85,6 92,69 97,91 113,22 3 Kulon Progo 102,15 102,77 95,59 89,00 124,81 4 Sleman 95,29 89,25 95,41 109,92 172,24 5 Kota Yogya 59,69 57,83 124,97 110,92

Sumber: Dinas Pendidikan Kab/Kota se Provinsi DIY dan Dinas Pendidikan Provinsi DIY.

Berdasarkan tabel di atas, tampak bahwa secara umum terdapat kesenjangan gender dalam APK tingkat SMP di Provinsi DIY tahun 2006, sedangkan menurut Kabupaten, pada empat Kabupaten/ Kota semuanya menunjukkan kecenderungan kesenjangan gender, pada pihak perempuan dengan angka tertinggi di Kabupaten Sleman selisih sebanyak 6,04 %. Kemudian kesenjangan gender di pihak laki-laki terdapat di Kabupaten Kulon Progo. Hal yang perlu dikaji adalah angka partisipasi kasar laki-laki maupun perempuan yang pada umumnya kurang dari 100% terutama di Kabupaten Gunungkidul dan Kota Yogyakarta. Dengan demikian hal ini menunjukkan bahwa masih banyak penduduk laki-laki maupun perempuan yang belum terlayani.

Tabel 11

Angka Partisipasi Kasar SMA Berdasarkan Gender No Kabupaten/ Kota 2006 2007 2008 % % % L P L P L P 1 Gunung Kidul 16,66 21,20 15,45 20,94 15,91 21,58 2 Bantul 71,07 73,92 75,24 77,31 78,02 78,24 3 Kulon Progo 77,37 76,99 76,82 80,62 4 Sleman 69,34 79,07 85,51 79,25 79,32 5 Kota Yogyakarta 158,11 124,64 116.52 108,97

Angka Patisipasi Kasar SMA di Provinsi DIY menunjukkan untuk laki-laki, jumlah tertinggi terdapat di Kota Yogyakarta. Hal ini dapat dipahami mengingat di Kota Yogyakarta banyak terdapat sekolah-sekolah menengah yang lebih baik, sehingga banyak siswa yang berasal dari luar Kota Yogyakarta, sedangkan yang paling sedikit untuk siswa perempuan terdapat di Kabupaten Gunungkidul.

Angka Partisipasi Sekolah dapat dikaitkan dengan keadaan putus sekolah. di beberapa Kabupaten/ Kota di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta masih dijumpai anak putus sekolah, baik di tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas maupun Sekolah Menegah Kejuruan.

2.1.3 Angka Putus Sekolah

Pencanangan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun oleh pemerintah sejak tahun 1994 menunjukkan keberhasilan jika dilihat dari angka partisipasi sekolah di semua tingkatan. Angka partisipasi murni SD saat ini sudah mencapai 90 persen lebih, sedangkan SMP di angka 60-an persen dengan trend membaik setiap tahun, namun keterbatasan kemampuan sebagian masyarakat mengelola pendidikan tampak dari masih adanya siswa putus sekolah. Di tingkat pendidikan dasar, putus sekolah masih menjadi ”momok” upaya penuntasan wajib belajar sembilan tahun. Berikut ini disajikan data tentang angka putus sekolah baik di tingkat SD, SMP, SMA maupun SMK di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tabel 12

Angka Putus Sekolah Dasar Berdasarkan Gender

No Kabupaten/ Kota L 2006 P L 2007 P L 2008 P 1 Gunung Kidul 71 37 51 22 54 19 2 Bantul 25 40 42 23 29 15 3 Kulon Progo 43 20 8 5 7 4 4 Sleman 36 12 34 7 28 9 5 Kota Yogyakarta 16 6 20 13 9 2

Dari tabel di atas tampak bahwa angka putus sekolah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta untuk tingkat SD terbanyak di Kabupaten Gunungkidul yaitu pada tahun 2006 terdapat laki-laki 71 anak dan perempuan 37 anak, kemudian pada tahun 2007 berjumlah 51 anak laki-laki dan 22 anak perempuan, dan pada tahun 2008 terdapat 54 anak laki-laki dan 19 anak perempuan. Kabupaten Kulon Progo angka anak putus sekolah dalam trend tiga tahun selalu terjadi penurunan dan jika dibanding dengan kabupaten yang lain, angka putus sekolah di Kabupaten Kulon Progo paling sedikit, yaitu 43 anak laki-laki dan 20 anak perempuan pada tahun 2006, selanjutnya pada tahun 2007 turun menjadi 8 anak laki-laki dan 5 anak perempuan, kemudian turun kembali pada tahun 2008 yaitu masing-masing 9 untuk anak laki-laki dan 2 untuk anak perempuan. Angka Putus sekolah di tingkat SMP dapat dilihat pada tabel di bawah ini

Tabel 13

Angka Putus Sekolah SMP Berdasarkan Gender

No Kabupaten/ Kota L 2006 P L 2007 P L 2008 P 1 Gunung Kidul 735 611 172 109 58 39 2 Bantul 63 74 120 53 106 36 3 Kulon Progo 55 11 95 35 17 2 4 Sleman 56 12 89 24 24 13 5 Kota Yogyakarta 31 12 51 9 1 1

Sumber: Dinas Pendidikan kabupaten/kota se Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Seperti terlihat pada tabel di atas Kabupaten Gunungkidul memiliki angka putus sekolah untuk tingkat SMP terbanyak dibanding dengan Kabupaten lainnya di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sedangkan di Kota Yogyakarta memiliki angka putus sekolah terendah yaitu, 31 anak laki-laki dan 12 perempuan pada tahun 2006, 51 anak laki-laki dan 9 anak perempuan di tahun 2007, kemudian pada tahun 2008 turun drastis menjadi 1 anak laki-laki dan 1 anak perempuan yang mengalami putus sekolah di tingkat SMP. Selanjutnya pada tabel di bawah ini, dapat kita lihat angka putus sekolah di tingkat SMA.

Tabel 14

Angka Putus Sekolah SMA Berdasarkan Gender

No Kabupaten/ Kota L 2006 P L 2007 P L 2008 P 1 Gunung Kidul 120 90 39 47 7 3 2 Bantul 32 21 16 17 7 5 3 Kulon Progo 12 9 40 37 5 16 4 Sleman 18 15 65 19 3 2 5 Kota Yogyakarta 33 18 34 13 15 2

Sumber: Dinas Pendidikan kabupaten/kota se Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Pada tabel di atas terlihat jumlah siswa putus sekolah SMA di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan angka yang bervariasi. Pada tahun 2008 di Kabupaten kulonprogo, angka putus sekolah perempuan lebih banyak dibanding dengan laki-laki. Kondisi sosial dan budaya yang masih menunjukkan adanya anggapan bahwa perempuan tidak harus memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, karena nantinya mereka akan menjadi ibu rumah tangga mengurus suami dan anak-anaknya. Sementara banyaknya laki-laki yang putus sekolah karena mereka pergi merantau, mencari pekerjaan di daera lain, untuk membantu orang tua mereka. Sementara itu, angka putus sekolah pada jenjang SMK dapat kita lihat pada tabel di bawah ini

Tabel 15

Angka Putus Sekolah SMK Berdasarkan Gender

No Kabupaten/ Kota L 2006 P L 2007 P L 2008 P 1 Gunung Kidul 259 208 121 79 24 23 2 Bantul 109 35 230 42 39 11 3 Kulon Progo 74 57 100 34 23 36 4 Sleman 68 76 96 84 19 36 5 Kota Yogyakarta 153 121 84 26 1 11

Jika dilihat dari tabel angka putus sekolah, baik di tingkat SD sampai SMA/ SMK, Kabupaten Gunungkidul memiliki angka putus sekolah tertinggi jika dibandingkan dengan Kabupaten/ Kota di Daerah Istimewa Yogyakarta lainnya. Hal ini berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat Gunungkidul yang masih dalam taraf miskin, yang dibuktikan dengan masih banyaknya rumah tangga miskin di Kabupaten Gunungkidul, yakni sebanyak 95.722 RTM dan 340.635 jiwa masyarakat miskin (Dinkes Gunungkidul, 2007).

Kemiskinan seringkali menjadi alasan bagi siswa sekolah untuk tidak melanjutkan sekolah, karena mereka diharapkan membantu mencari nafkah untuk keluarganya, dan anggapan lebih baik bekerja dengan mendapatkan uang, disamping anggapan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin besar pula biaya yang diperlukan atau dikeluarkan. Sementara masyarakat miskin dan rumah tangga miskin, tidak memiliki penghasilan yang cukup untuk biaya pendidikan.

Kondisi geografis juga berpengaruh terhadap tingginya angka putus sekolah. Aksesibilitas yang rendah untuk menjangkau sekolah dengan sarana dan prasarana transportasi yang terbatas dan masih sulit dijangkau oleh masyarakat di pelosok pedesaan, merupakan salah satu alasan bagi siswa untuk tidak melanjutkan sekolah, meskipun guru telah memberi dorongan dan motivasi kepada siswa agar tidak putus sekolah.

Dokumen terkait