• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nama Lengkap : Ansaruddin Syarifuddin Naldin Tempat Tanggal Lahir : Kute Lintang, 05 Maret 1968

Alamat : Kute Lintang Takengon Aceh

Tengah

Istri : Sulislawati

Anak : 1. Liana Syahrani Azma

2. Lukman Hakim Azma 3. Baihaqi Azma

Pendidikan : SLTA

Partai politik : Golongan Karya

Fraksi : Golongan Karya

No. Hp : 085359826587

Dapil : Aceh Tengah 2

Jumlah Suara : 1.292

Pengalaman kerja :

Tanda jasa : -

Orang tua sebagai petani membuatnya sering ditinggal bersama nenek. Lebih banyak mendapat didikan, belaian kasih sayang nenek, pria satu ini tak lantas bersikap manja, justru, menjadi orang yang disiplin. Orang tuanya sering pergi dan menginap di kawasan perkebunan harus diterimanya. Naldin kecil, panggilan akrab Ansaruddin Syarifuddin Naldin, hidup di bawah asuhan sang nenek Rabumah dan saudara tertuanya Yusrin yang ketika itu tinggal di Kampung Bale Atu, Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah.

Selama tinggal bersama nenek, Naldin belajar dibiasakan bangun pagi lebih awal dan mengikuti nenek ke Mersah (mushola) pada subuh hingga ikut menemani nenek berjualan di pasar. Dari nenek jugalah, anak ke lima dari mantan Ketua Group Didong Lakiki itu, belajar hidup harus bermanfaat bagi orang lain.

Lahir sebagai anak ke lima dari pasangan Syarifuddin dan Sakdiah di Kampung Kute Lintang, Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah, 47 tahun silam. Ansaruddin Syarifuddin Naldin, dibesarkan sang nenek karena orang tuanya harus sering pergi dan tinggal jauh di kebun kopi, menggarap lahan di Pantan Jerik Kecamatan Kute Panang, dan bertani di Pantan Lues, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah, demi menghidupi keluarga serta ke lima saudara kandung Naldin.

51

52

Profil DPRK Aceh Tengah Periode 2014-2019 Profil DPRK Aceh Tengah Periode 2014-2019

Jika ditelisik lebih jauh, ada cerita unik dan sedikit berliku terkait nama Ansaruddin Syarifuddin Naldin. Pria yang kini menjadi salah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tengah, Periode 2014-2019 dari Partai Golkar, lahir dengan nama Analdin yang ditambalkan padanya oleh kedua orang tua.

Analdin kecildulunya kerap sakit-sakitan. Berdasarkan pengalaman dan hasil penerawangan para orang tua kampung (sesepuh-guru) ketika itu, nama Analdin, merupakan salah satu penyebab ia sering sakit. Akhirnya, nama Analdin dirubah menjadi Ansari. Ketika masuk sekolah dasar (SD), namanya berubah menjadi Ansaruddin sesuai saran dari ayah kandungnya. Selanjutnya, saudara kandungnya Yusrin meminta Tgk H Muhammad Sabil (Pak Gotol) menambahkan namanya menjadi Ansaruddin.

Tidak hanya sampai disitu, perubahan nama kembali terjadi dengan menambah huruf S di ujung nama Ansaruddin. Huruf S merupakan akronim dari Syarifuddin yang merupakan nama ayahnya, sehingga panggilannya berubah menjadi Ansaruddin S. Penambahan itu diberikan Aliuddin, Kepala SDN 1 Takengon. Lika-liku nama yang terus berganti, akhirnya Naldin, memantapkan namanya menjadi Ansaruddin Syarifuddin Naldin.

Naldin mengawali pendidikan sekolah dasar di SDN 1 Takengon, dan melanjutkan ke SMP 2 Takengon serta menamatkan pendidikan di jenjang sekolah menengah atas di SMA 1 Takengon.

Meski belajar di sekolah umum, untuk menguatkan pemahamannya tentang agama, ia diajari oleh sang nenek mengutamakan pendidikan agama. Demi pendidikan, Naldin kemudian merantau ke Medan, Sumatera Utara, melanjutkan pendidikan di Institut Teknologi Medan (ITM). Keinginan menyelesaikan kuliah di ITM, kandas lantaran didera sakit. Ia melepas

status mahasiswa dan akhirnya kembali ke Kota Takengon. Tak lama kemudian, ia memutuskan menikahi Sulislawati tahun 1993, perempuan asal Kampung Bale, Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah.

Tanggungjawab sebagai suami tentunya tidak membuatnya berpangku tangan. Naldin memulai usaha dengan bertani nenas di daerah Pegasing yang memang dikenal sebagai sentra produksi di Aceh Tengah. Pada saat itu, ia menggarap seluas satu hektar kebun nenas. Sayangnya, menjadi petani nenas tak bertahan lama lantaran tidak bisa lagi menjadi tumpuan hidup keluarga. Alhasil, lahan yang sebelumnya ditanami nenas dialih fungsikan menjadi areal kebun kopi.

Di samping itu, Naldin yang mulai menetap di Kampung Kute Lintang sejak tahun 1989, beternak unggas dan kambing untuk menambah uang belanja sehari-hari. Sembari bertani, ia dipercaya menjadi salah satu aparat desa, sebagai Ketua Badan Permusyawaratan Kampung (BPK) Kute Lintang. Aktifitas lainnya, sebagai pengajar sekolah lapangan, ketua kelompok tani, dan sering mengikuti pelatihan-pelatihan mengenai pertanian hingga luar daerah.

Naldin mulai lebih banyak memikirkan kepentingan warga. Ia terus berusaha mendapatkan bantuan untuk pembangunan di kampung dan beberapa tempat, membantu pembangunan perumahan di desa-desa serta kerap memberikan pertolongan kepada masyarakathampir di semua lini, demi kebaikan warga.

Naldin menggagas berdirinya taman kanak-kanak (TK), karena belum tersedia lembaga pendidikan itu di Kampung Kute Lintang. Ia pun dipercaya sebagai Ketua Yayasan TK Kerawang Bercucuk. Dengan kegigihan, memperjuangkan, memfasilitasi lahan dan bangunan untuk

53

54

Profil DPRK Aceh Tengah Periode 2014-2019 Profil DPRK Aceh Tengah Periode 2014-2019

TK tersebut. Ia bekerja keras demi memberikan pendidikan terhadap anak sejak usia dini.

Kecintaan terhadap dunia pendidikan, menjadi fokus utama Naldin saat menyerap aspirasi.Tahun 2006, Naldin berhasil memfasilitasi proses penegrian TK Kerawang Bercucuk. TK yang terlihat kokoh di Kampung Kute Lintang itu, kini dikenal dengan TK Pembina Kecamatan Pegasing.

Sejak tahun 2010, Naldin mencurahkan pikiran terhadap pendidikan, terutama bidang agama, ditunjuk sebagai Ketua Pembangunan Masjid Al Qadim Kampung Kute Lintang.

Dinyatakannya, banyak suka duka saat proses pembangunan masjid.

Terkadang harus sering terjadi perbedaan pendapat antar warga, tapi sebagai pemegang amanah, ia harus mampu memberikan penjelasan kepada warga lainya demi tertata, terlaksana pembangunan masjid sesuai kebutuhan di masa depan.

Kepedulian terhadap pendidikan, menjadikanya sosok yang dikenal sebagai pemikir untuk kemajuan pendidikan. Naldin dipercayakan sebagai Komite TK Pembina Kecamatan Pegasing, Komite SD Kute Lintang dan SMPN 5 Takengon. Sebagai komite sekolah, ia mencetuskan ide, yang telah berjalan, yaitu pemberian dana pembinaan bagi siswa berprestasi. “Diberikan sedikit uang untuk kepada siswa berprestasi ketika lulus ujian akhir. Guna memotivasi siswa untuk belajar lebih rajin dan memberikan motivasi kepada wali murid supaya mendorong anaknya lebih rajin belajar, serta mengerti pentingnya pendidikan,” kata Naldin, yang dipercaya sebagai Ketua Group Didong Lakiki pada Tahun 2011.

Seiring waktu berjalan dan tuntutan hidup semakin besar, membuka wawasan Naldin untuk melebarkan sayap usaha bergerak di bidang lain. Bermodalkan pengalaman seadanya, Naldin memberanikan diri terjun di dunia jasa konstruksi. Ia mendirikan perusahaan dengan nama CV Empat Lima yang bergerak di bidang konstruksi dan levelansir tahun 2004. Ia menjabat sebagai direktur perusahaan itu, sembari berkebun kopi.

Dunia politik bagi Naldin sebenarnya buka hal baru. Sejak tahun 2004 sudah tiga partai politik (Parpol) yang menjadi

“perahunya”. Ia pernah tercatat sebagai politikus Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU).Hanya saja belum ada keinginan kuat untuk duduk di bangku parlemen kala itu. Ia masih merasa belum mampu dan tidak ada dorongan kuat untuk duduk di parlemen.

Namun menjelang pemilu legislatif 2014, Naldin alumni SMA 1 Takengon itu, merasa mantap, optimis untuk maju sebagai calon legislatif (caleg). Alasannya untuk maju menjadi salah satu kandidat calon wakil rakyat lantaran adanya dukungan dari berbagai lapisan masyarakat. Ia mendapat dukungan masyarakat sehingga kembali mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif dengan bergabung di Partai Golongan Karya (Golkar) dari daerah pemilihan (Dapil) Aceh Tengah Dua (Kecamatan Pegasing, Atu Lintang, Jagong dan Linge).

Selama masa kampanyetertutup dan terbuka, Naldin memberi pencerahan kepada masyarakat bahwa semua partai politik dan caleg itu baik. Ia pun sering diundang ke berbagai kampung didapilnya, tapi tidak di Kecamatan Pegasing, karena hanya beberapa rumah saja yang disambanginya. Namun suara terbanyak ia dapatkan dari Kecamatan

55 56

Profil DPRK Aceh Tengah Periode 2014-2019 Profil DPRK Aceh Tengah Periode 2014-2019

Pegasing sebagai lumbung suara, mencapai 900-an dari 1.292 total suaranya. “Sebelum pencoplosan, di rumah, para pendukung melakukan shalat bersama dan kepada warga selama kampanye kita sarankan melakukan shalat istikharah (meminta petunjuk),” kata Naldin.

Seseorang yang memutuskan diri menjadi caleg, menurut Naldin, harus menilai kemampuan diri sendiri, bukan nafsu akan kekuasan, tapi keharusan mampu bekerja serta kepuasan bathin bila berhasil memperjuangkan aspirasi masyarakat. Tatkala terpilih sebagai anggota dewan, harus memberi contoh baik kepada masyarakat dalam segala bidang. Bersikap haruslah santun, sopan menghargai orang lain dimanapun berada.

Setelah dilantik menjadi anggota DPRK Aceh Tengah periode 2014-2019, Naldin menyatakan hasratnya untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat tapi yang lebih condong ke bidang pendidikan.

Dengan alasan, ajaran Islam lebih mengutamakan pendidikan dan sebagai wakil rakyat ia harus memperjuangkannya.

Diakui Naldin, pemkab Aceh Tengah telah melaksanakan amanah undang-undang untuk anggaran pendidikan harus mencapai 20%, bahkan serapan di Aceh Tengah telah lebih. Beberapa sekolah di dataran tinggi Gayo juga dinilai sudah berhasil memberikan layanan pendidikan dengan baik. Seriring hal itu, Naldin tetap bertekad mengawal program pendidikan lebih maju lagi.“Pendidikan adalah langkah maju untuk bergerak ke depan, lebih utama dari yang

lainnya,”demikian Naldin.

57

Profil DPRK Aceh Tengah Periode 2014-2019 Profil DPRK Aceh Tengah Periode 2014-2019

6. H. HASBULLAH

Nama Lengkap : H. Hasbullah

Alamat : Simpang 4 Bebesen Kab. Aceh Tengah

Nama Istri : Hj. Nirwany

Partai Politik : Golkar

Anak : 1. Iwan Rahmat

2. (Alm) Al Fadli 3. Hardiyani

4. Haslina

5. Hadilah Simah Bengi

Pendidikan : SLTA

Partai politik : Golongan Karya

Fraksi : Golongan Karya

No. Hp : 085270855757

Dapil : Aceh Tengah 3

Jumlah Suara : 1.049

Pengalaman kerja : - Tanda jasa : -

Masyarakat Aceh Tengah paham betul jika ada yang membahasakan bahwa sejak kecil telah “merokok”, tidaklah selalu berarti ada pemuda yang salah pergaulan. Bahasa “merokok”

bukanlah seperti anak muda jaman sekarang yang merokok karena beberapa alasan, seperti kebiasaan gaya hidup atau sekedar ikut-ikutan. Di dataran tinggi Gayo, orang yang sejak remaja telah merokok bisa saja karena dianggap telah bisa mencari uang sendiri sejak kecil, mandiri. Untuk membeli sebatang rokok bukan lagi uang dari orang tua tapi hasil keringat sendiri. Hal itulah yang berlaku bagi ayah lima orang anak ini, Hasbullah, pria kelahiran Juru Mudi, 24 Mei 1957.

Hasbullah sejak kecil merantau dari Takengon ke Bireun, tahun 1957 hingga tahun 1967. Selama sepuluh tahun, As panggilan kecilnya, membantu orang tua berdagang tembakau. Sejak di bangku Sekolah Dasar (SD) kelas V, ia sangat tekun membantu orang tua berdagang. Ia diajarkan bagaimana berdagang dengan sistem bagi hasil, meski dengan ayahnya sendiri. Disanalah ia mulai merokok.

Begitu juga saat dibangku SMP, As bersama Nasaruddin (bupati Aceh Tengah) dan Halimansyah (mantan Asisten ISetdakab Aceh Tengah) pernah berjualan jeruk ke pasar dengan sistem bagi hasil, 50-50, dengan pemilik jeruk. “Pulang sekolah kami petik jeruk,

58 59

Profil DPRK Aceh Tengah Periode 2014-2019 Profil DPRK Aceh Tengah Periode 2014-2019

usai shalat magrib kami pilah antara yang besar dan kecil, pagi sembari berangkat sekolah kami jual ke pasar,” kenang Hasbullah.

Sekembalinya dari Bireun, Hasbullah kembali tinggal di Sadong Juri Mudi dan bersekolah di SD Kebet, lulus tahun 1969.

Melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Takengon, lulus tahun 1972.

Nasaruddin adalah teman sebangku dan sebantal tidurnya. Tahun 1973, Hasbullah melanjutkan pendidikan di SPMA (sekarang STM Pertanian), meski tidak tamat, As melanjutkannya dengan mengambil Paket C.

Setelah tamat SMP, Hasbullah sangat tekun dan gigih sekali mencari nafkah. Pernah bekerja di perusahaan asuransi Bumi Putera dan bekerja serabutan di pabrik kopi sebagai buruh kasar. Tahun 1987, setelah sepuluh bulan sepuluh hari bekerja di pabrik kopi, ia memberanikan diri jual beli kopi. Itupun, bermodalkan kepercayaan saja. Kopi diambil dari petani dan setelah dijual kepada toke (penampung), As membayarnya kepada petani. “Beli kopi tidak ada modal, hanya tulis berapa jumlah dan harganya di bungkus rokok.

Semua modal kepercayaan,” ungkap Hasbullah, yang pernah menjadi Manager Koperasi Unit Desa (KUD) Genap Mupakat Kecamatan Bebesen.

Setelah usaha jual beli kopi, As kemudian dipercaya oleh seorang keturunan Tiongkok (pemilik showroom Yamaha di Takengon). As diberi suntikkan modal dagang kopi sebesar Rp 500 ribu, kala itu senilai dengan 400 kg kopi kering gading (gabah kering).

Dua bulan kemudian, telah berani menjual kopi ke kota Medan, kepada eksportir. Ia juga bermitra dengan pemilik Kilang Kopi Aman Kuba, Kilang Bukit Sama, dan Kilang Abdul Wahab, tempat ia pernah menjadi buruh angkut dan menjemur kopi. Hasil jual kopi dengan bantuan dana dari Cine Abi, As mendapatkan keuntungan fantastis di tahun 1978, berhasil memperoleh keuntungan senilai 3 kg emas. As

pun kemudian menikahi dengan Nirwani, wanita asal Bale Atu Takengon yang kini bekerja sebagai guru SDN 2 Takengon.

Sembari berjualan kopi ke Medan, As tidak menyia-nyiakan kesempatan. Bila pulang dari Medan, keuntungan kopi digunakan untuk membeli sepeda motor yang nantinya dijual setiba di Takengon.

Sejak dagang kopi, As tidak lagi tinggal di tempat lahirnya tapi sudah hijrah ke seputaran Kota Takengon. “Kalau mau tanah luas ada hutan luas terbentang. Jika ingin kaya, pergilah ke tempat yang ramai,” kata Hasbullah mengenang pesan seorang kakek yang menasehatinya saat muda di Kampung Juru Mudi.

Selama berdagang kopi, As pernah mengalami masa sulit dan ada empat kali mengalami kerugian, pada tahun 1984, 1988, 1990, dan 1993. Namun As, selalu berhasil bangkit kembali dengan kepercayaan kepada petani yang menjual kopi padanya. Sejak 1993, perekonomiannya terus beranjak naik. Ia mulai membeli tanah, kebun kopi dan mendirikan penggilingan kopi di Kampung Tansaril.

Selain berdagang kopi, Hasbullah melebarkan sayap usaha dengan mendirikan perusahaan konstruksi pada tahun 2007, CV.Riyan Mutia. Baginya, Aceh Tengah bukanlah tempat orang yang tidak punya uang, hanya orang malas yang tidak memiliki banyak penghasilan.

Meski tergolong pedagang kopi yang sangat berhasil, As tidak serta merta terjun ke politik aktif, guna mendapatkan kekuasaan yang lebih. Ia hanya menjadi simpatisan Partai Demokrasi Indonesia (saat ini PDI Perjuangan), sejak tahun 1979. Pun bisa menjadi anggota legislatif pada tahun 1982, karena tidak ada ambisi, ia lebih memilih berdagang meski peluangnya sangat besar di politik kala itu. As pernah menjadi bagian dari LSM yang bergerak diusaha kopi dengan donator pihak asing yang bertujuan membantu masyarakat pada tahun 1980.

60

Profil DPRK Aceh Tengah Periode 2014-2019 Profil DPRK Aceh Tengah Periode 2014-2019

“Pondasi (perekonomian) saya sudah kuat, makanya sekarang mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. Menjadi anggota dewan bukan lagi mencari kekayaan tapi pengabdian. Jangan kita sibuk politik, waktu tersita, uang tidak punya,” kata Hasbullah yang sering menjadi penjaga gawang sepak bola saat pertandingan.

Setelah berhasil memperoleh 1.049 suara, di daerah pemilihan (dapil) Aceh Tengah 3, Hasbullah yang bergabung dengan Partai Golongan Karya (Golkar) juga dipercaya sebagai Wakil Ketua DPD II Golkar Aceh Tengah sejak tahun 2013. Sebagai politikus, Hasbullah memiliki prinsip dalam pertemanan dan perpolitikkan. Baginya ada beberapa istilah pertemanan. Pertama, ada kategori teman saat senang. Teman dikala sedih, dan teman setia.

Jauh sebelum terlibat partai, As melihat partai politik dulu lebih baik dari sekarang. Politikus di zaman orde baru dan lama lebih memiliki jiwa sosial yang lebih tinggi dan kesetiaan terhadap partai serta kepada masyarakat. “Sifat tidak bisa dirubah kecuali perangai,”

kata Hasbullah.

Menjadi bagian DPRK Aceh Tengah Periode 2014-2019, Hasbullah dipercaya sebagai Ketua Komisi A. Sebagai wakil rakyat ia ingin memotivasi masyarakat untuk lebih giat bercocok tanam karena Aceh Tengah memiliki sumber daya alam yang luar biasa. “Demi kesejahteraan masyarakat, maka harus ada pengawasan dan pemantauan, yang tidak boleh dilepas begitu saja,” kata Hasbullah yang pernah ditetapkan Bupati Mustafa Tamy sebagai tokoh

masyarakat Aceh Tengah pada tahun 1999.

61

62

Profil DPRK Aceh Tengah Periode 2014-2019 Profil DPRK Aceh Tengah Periode 2014-2019

7. ISMAIL, SE

Nama Lengkap : Ismail, SE

Tanggal Lahir : 22 Desember 1969

Alamat : Desa Pinangan Kecamatan Kebayakan Kab. Aceh Tengah Istri : Mayang Murni

Anak : 1. Ridwan 2. Nadia Rahayu 3. Firman Yoga 4. dr. Hanipah

Pendidikan : S1

Partai politik : Demokrat

Fraksi : Demokrat

No. Hp : 08116703609

Dapil : Aceh Tengah 3

Jumlah Suara : 2001/1.103

Pengalaman kerja : Anggota DPRK Aceh Tengah Periode 2009-2014

Tanda jasa : -

Bersahaja dan tak banyak bicara. Begitulah sosok politikus Partai Demokrat (PD) ini. Berkiprah di dunia politik, berangkat hanya dari seorang pedagang kopi. Ia adalah Ismail SE, salah seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tengah, Periode 2014-2019.

Dua periode menjadi wakil rakyat di kabupaten penghasil kopi itu, tidak membuat sosok ayah empat orang anak ini menjadi tinggi hati. Penampilannya tetap low profil dan ramah dengan semua orang.

Ia juga dikenal dengan politikus yang terbilang hemat bicara, namun sepak terjangnya di dunia politik sudah tak asing lagi.

Siapa yang tak kenal dengan Aman Nir, panggilan akrab Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) Partai Demokrat Kabupaten Aceh Tengah ini. Namanya mencuat di dunia politik di Kabupaten Aceh Tengah, seiring dengan lahirnya Partai Demokrat (PD) yang didirikan oleh Presiden RI ke-enam, Susilo Bambang Yudhonyono.

Ia menjadi kader partai berlatar belakang warna biru itu, sejak tahun 2005. Bahkan sejak saat itu, ia dipercaya menjadi nakhoda Partai Demokrat sampai dengan saat ini. Andil Aman Nir, berhasil membawa sejumlah kader partainya ke kursi dewan. Bahkan pada priode 2009-2014, Partai Demokrat mendominasi perolehan kursi di DPRK Aceh Tengah.

63 64

Profil DPRK Aceh Tengah Periode 2014-2019 Profil DPRK Aceh Tengah Periode 2014-2019

Ketika itu, pucuk pimpinan dewan dipegang satu periode oleh Partai Demokrat. Memasuki pemilihan legislatif (pileg) 2014-2019, meski jumlah kader partai yang berhasil maju menjadi wakil rakyat berkurang, namun salah satu kader Partai Demokrat masih mendapat posisi di pimpinan dewan sebagai Wakil Ketua DPRK.

Keberhasilan dua periode mendominasi perolehan suara di dewan, tak lepas dari usaha keras yang dilakukan oleh mantan pedagang kopi ini. Meski selama mengarungi dunia politik, banyak alar melintang namun Ismail Aman Nir, masih mampu untuk membawa kemajuan bagi Partai Demokrat. Badai persoalan, silih berganti menerpa sosok pria berpenampilan sederhana ini, namun bisa ia hadapi dengan penuh sabar.

Bila melirik awal kariernya di dunia politik, Ismail Aman Nir, sebelumnya hanya seorang pedagang kopi biasa di kabupaten tetangga, Bener Meriah. Ia menggeluti usaha di bidang komoditi unggulan di Dataran Tinggi Gayo (DTG) itu, sejak tahun 1990 hingga tahun 1999. Setelah ekonominya membaik dari berdagang kopi, Ismail mencoba mengembangkan usaha.

Di sela-sela kesibukannya membuka usaha jual beli kopi, akhirnya Ismail mencoba peruntungan lain di bidang jasa kontruksi (kontraktor). Dua usaha tersebut ia geluti sekaligus untuk menghidupi keluarga. Ismail sempat bergelut dengan dunia kontraktor hingga tahun 2008 dan akhirnya ia fokus untuk terjun ke dunia politik.

Ternyata, niatnya untuk ikut berkiprah membangun daerah dari dunia politik tak sia-sia. Namanya pun mulai bersinar di kancah politik. Sebagai ketua partai di tingkat kabupaten, Ismail dipercaya sebagai ketua tim pemenangan pasangan calon presiden dan wakil presiden, Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla di tahun 2005.

berlanjut pada pilpres tahun 2009, sebagai ketua tim pemenangan, ia juga berhasil memenangkan SBY-Budiono di Kabupaten Aceh Tengah.

Pemilu legislatif tahun 2014, Ismail kembali mencalonkan diri dari daerah pemilihan (dapil) Aceh Tengah 2 (Kecamatan Pegasing, Atu Lintang, Jagong dan Linge). Ia berhasil memperoleh 1.103 suara.

Pemilu tersebut Partai Demokrat berhasil mendudukan empat orang di DPRK Aceh Tengah dan salah satu dari tiga pimpinan DPRK periode 2014-2019.

Kini, sebagai anggota DPRK Aceh Tengah selama dua periode, Ismail juga menjabat sebagai Ketua Fraksi Demokrat pada tahun 2009-2014, dan 2014 sampai 2019, selain sebagai anggota Komisi A.

Pada tahun 2012, Partai Demokrat juga sukses mengantarkan calon Bupati Aceh Tengah, Nasaruddin–Khairul Asmara ke kursi Aceh Tengah Satu. Dimana dibawah kepemimpinan Ismail sebagai partai pendukung utama, mengalahkan 10 pasangan cabup/cawabup.

65 66

Profil DPRK Aceh Tengah Periode 2014-2019 Profil DPRK Aceh Tengah Periode 2014-2019

8. Ir. AMIRUDDIN

Nama : Ir. H. AMIRUDDIN

Tempat Tanggal Lahir : Takengon, 13 September 1966

Agama : Islam

Alamat : Gunung Bukit

Istri : Sri Lindawati

Anak : 1. Aminur Jahri Syahputra

2. Rahma Sari 3. Alfata Muntasir

4. Alanisa Putri Ayu 5. Alif Gailan Jabar

Pendidikan : S1

Partai politik : Demokrat

Fraksi : Demokrat

No. Hp : 0811680812

Dapil : III

Jumlah Suara : 1.400/1.464

Pengalaman kerja : 3 (tiga) Periode Anggota DPRK Aceh Tengah

Tanda jasa : LEMHANAS Piagam Latihan

Menembak di Sukabumi

Lelaki bertubuh gempal kekar ini, berlatar bekalang sebagai seorang pengusaha di Aceh Tengah, lahir dari keluarga sederhana mengaharuskan dirinya menjadi tonggak keluarga. Perjalanan hidupnya, awal tidaklah sesukses pengusaha-pengusaha lain.

Merangkak dari bawah membuat dirinya menjadi tegar dan penuh pertimbangan dalam membuat keputusan, dan terbukti setelah hengkang sebagai pebisnis, sosok ini berhasil tiga kali duduk sebagai perwakilan rakyat di lembaga DPPK.

Ayah lima orang anak ini, dalam perjalanan menuju sebagai seorang politikus di Aceh Tengah tidak segampang membalikan telapak tangan. Berlabuh awal di lembaga Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tengah tahun 1999 dengan mengunakan Partai Patriot, pria berkumis ini berlahan membuka lembar demi

Ayah lima orang anak ini, dalam perjalanan menuju sebagai seorang politikus di Aceh Tengah tidak segampang membalikan telapak tangan. Berlabuh awal di lembaga Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tengah tahun 1999 dengan mengunakan Partai Patriot, pria berkumis ini berlahan membuka lembar demi

Dokumen terkait