• Tidak ada hasil yang ditemukan

Antropometri

Dalam dokumen MODUL I ERGONOMI ANTROPOMETRI (Halaman 13-19)

BAB II LANDASAN TEORI

2.2 Antropometri

Istilah antropometri berasal dari “anthro” yang berarti manusia dan “metri”

yang berarti ukuran. Secara definitif antropometri dapat dinyatakan sebagai satu studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia. Manusia pada dasarnya akan memiliki bentuk, ukuran (tinggi, lebar, dsb) berat dan lain-lain yang berbeda satu dengan yang lain-lainnya.

Antropometri secara luas akan digunakan sebagai pertimbangan-pertimbangan ergonomis dalam melakukan interaksi manusia. Data

antropometri yang berhasil diperoleh akan diaplikasikan secara luas antara lain dalam hal:

1. Perancangan area kerja

2. Perancangan peralatan kerja seperti mesin, equipment, perkakas (tool) dan sebagainya.

3. Perancangan produk-produk konsumtif seperti pakaian, kursi, meja, komputer, dan lain-lain.

4. Perancangan lingkungan kerja fisik.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data antropometri akan menentukan bentuk, ukuran, dan dimensi yang tepat yang berkaitan dengan produk yang dirancang dan manusia yang akan mengoprasikan atau mengunakan produk tersebut (Wignjosoebroto, 2000).

2.2.1. Data Antropometri dan Pengukurannya

Manusia pada umumnya akan berbeda-beda dalam hal bentuk dan dimensi ukuran tubuhnya. Disini ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi ukuran tubuh manusia, sehingga sudah semestinya seorang perancang produk harus

memperhatikan faktor-faktor tersebut itu antara lain:

a) Umur. Secara umum dimensi tubuh manusia akan tumbuh

dan bertambah besar seiring dengan bertambahnya umur yaitu sejak awal kelahirannya sampai dengan umur sekitar 20 tahun. Setelah itu, tidak akan terjadi pertumbuhan bahkan justru akan cendrung berubah penurunan ataupun penyusutan yang dimulai sekitar umur 40 tahunan.

b) Jenis kelamin (sex). Dimensi tubuh ukuran laki-laki pada umumnya akan lebih besar dibandingkan dengan wanita, terkecuali untuk beberapa bagian tubuh, seperti pinggul dan sebagainya.

c) Suku bangsa (ethnic). Setiap suku bangsa maupun kelompok ethnic akan memeliki karakteristik fisik yang akan berbeda satu dengan yang lainnya.

d) Posisi tubuh (posture). Sikap pusture ataupun sikap tubuh akan berpengaruh terhadap ukuran tubuh oleh sebab itu, posisi tubuh standar harus diterapkan untuk survei pengukuran.

Adapun anggota tubuh yang perlu diukur adalah seperti terlihat pada gambar 2.1 sebagai berikut (Wignjosoebroto, 2000):

Keterangan Gambar:

1. Tinggi tubuh posisi tegak (ttt), yaitu jarak vertikal dari lantai ke bagian paling atas kepala

2. Tinggi mata (tm), yaitu jarak vertikal dari lantai ke bagian luar sudut mata.

3. Tinggi bahu (tb), yaitu jarak vertikal dari lantai ke bagian atas bahu kanan (acromion) atau ujung tulang bahu kanan 4. Tinggi siku (ts), yaitu jarak vertikal dari lantai ke titik

terbawah disudut siku bagian kanan.

5. Tinggi pinggul (tp), yaitu jarak vertikal dari lantai ke bagian pinggul kanan.

6. Tinggi tulang ruas (ttr), yaitu jarak vertikal dari lantai ke bagian tulang ruas atau buku jari tangan kanan (metacarpals) 7. Tinggi ujung jari (tuj), yaitu jarak vertikal dari ujung jari

tengah kanan (dacytlion)

8. Tinggi dalam posisi duduk (tmd), yaitu jarak vertikal dari alas duduk ke bagian paling atas kepala.

9. Tinggi mata dalam posisi duduk (tmd), yaitu jarak vertikal dari alas duduk ke bagian luar sudut mata kanan.

10. Tinggi bahu dalam posisi duduk (tbd), yaitu jarak vertikal dari alas duduk ke bagian atas bahu kanan.

11. Tinggi siku dalam posisi duduk (tsd), yaitu jarak vartikal dari

alas duduk ke bagian bawah, lengan bawah tangan kanan.

12. Tebal paha (tp), yaitu jarak vertikal dari alas duduk ke bagian paling atas paha.

13. Panjang lutut (pl), yaitu jarak horizontal dari bagian belakang pantat/pinggul ke bagian depan lutut kaki kanan.

14. Panjang popliteal (pp), yaitu jarak horizontal dari bagian belakang pinggul ke bagian belakang lutut belakang.

15. Tinggi lutut (tl), yaitu jarak vertikal dari lantai ke tempurung lutut kanan.

16. Tinggi popliteal (tp), yaitu jarak vertikal dari lantai ke sudut popliteal yang terletak dibawah paha. Tepat di bagian belakang lutut kaki kanan.

17. Lebar sisi bahu (lsb), yaitu jarak horizontal antara sisi paling luar bahu kiri dan sisi paling luar bahu kanan.

18. Lebar bahu bagian atas (lba), yaitu jarak horizontal antar bahu atas kanan dan bahu atas kiri.

19. Lebar pinggul (lp), yaitu jarak horizontal antara sisi luar pinggul kiri dan sisi luar pinggul kanan.

20. Tebal dada (td), yaitu jarak horizontal dari bagian belakang tubuh ke bagian dada untuk subyek laki-laki atau ke bagian buah dada untuk subyek wanita.

21. Tebal perut (tp), yaitu jarak horizontal dari bagian belakang tubuh yang paling menonjol di bagian perut

22. Panjang lengan atas (pla), yaitu jarak vertikal dari bagian bawah lengan bawah kanan ke bawah atas bahu kanan.

23. Panjang lengan bawah (plb), yaitu jarak horizontal dari lengan bawah diukur dari bagian belakang siku kanan ke bagian ujung dari jari tengah.

24. Panjang rentang tangan ke depan (prtd), yaitu jarak dari bagian atas bahu kanan (acromion) ke ujung jari tengah tangan kanan dengan siku dan pergelangan tangan kanan

lurus.

25. Panjang bahu genggaman tangan ke depan (pbtd), yaitu jarak dari bagian bawah bahu kanan ke bagian pergelapan tangan kanan dengan siku dan tangan kanan lurus.

26. Panjang kepala (pk),yaitu jarak dari bagian tengah kepala belakang ke bagian tengah dahi kepala depan.

27. Lebar kepala (lk), yaitu jarak antara bagian atas telinga kanan ke bagian atas telinga kiri.

28. Panjang tangan (pt), yaitu jarak dari pergelangan tangan atas ke bagian ujung jari tengah tangan kanan.

29. Lebar tangan (lt), yaitu jarak horizontal dari ujung kanan tangan dengan ujung kiri tangan.

30. Panjang rentangan tangan kesamping (prts), yaitu jarak antara ujung jari tengah tangan kanan ke ujung jari tengah tangan kiri.

31. Panjang rentangan siku (prs),yaitu jarak dari ujung siku tangan kanan ke ujung siku tangan kiri.

32. Tinggi genggaman tangan ke atas dalam posisi berdiri (tgtb), yaitu jarak dari bagian pergelangan tangan kanan ke bagian lantai dalam posisi berdiri.

33. Tinggi genggaman tangan ke atas dalam posisi duduk (tgtd), yaitu jarak vertikal dari alas duduk ke bagian pergelangan tangan kanan.

34. Panjang genggaman tangan ke depan (pgtd), yaitu jarak dari bagian pinggang ke pergelangan tangan kanan dengan posisi tangan kanan lurus.

35. Sudut putaran lengan (spl), yaitu mengukur sudut putaran lengan tangan bagian bawah di posisi awal sampai putaran maksimum. Posisi awal lengan tangan bagian bawah di tekuk ke kiri semaksimal mungkin. Kemudian di putar ke kanan sejauh mungkin. Kemudian putar dari posisi awal ke kiri

sejauh mungkin.

36. Sudut putaran pergelangan kaki (sppt), yaitu mengukur sudut putaran cengkraman jari tangan .posisi awal , jari jari mengcengkram batang tengah busur. Kemudian di putar ke kanan sejauh mungkin (pergelangan dan lengan tangan tetep diam) .lalu dengan cara yang sama diputar ke kiri sejauh mungkin.

2.2.2. Aplikasi Data Antropometri Dalam Perancangan produk

Agar rancangan suatu produk nantinya bisa sesuai dengan ukuran tubuh manusia yang akan mengoprasikannya, maka prinsip-prinsip yang harus diambil dalam aplikasi data antropometri harus ditetapkan terlebih dahulu seperti berikut:

1. Prinsip perancangan produk bagi individu dengan ukuran ekstrim Prinsip rancangan produk ini dibuat agar bisa memenuhi dua sasaran produk:

o Bisa sesuai ukuran tubuh manusia yang mengikuti klasifikasi

ekstrim dalam arti terlalu besar atau terlalu kecil bila dibandingkan dengan rata- ratanya.

o Tetap bisa digunakan untuk memenuhi ukuran tubuh yang lain (mayoritas dari populasi yang ada).

2. Prinsip perancangan produk yang bisa diopersikan diantara rentang tertentu Disini rancangan bisa diubah-ubah ukurannya sehingga cukup fleksibel dioperasikan oleh setiap orang yang memiliki berbagai macam ukuran tubuh.

3. Prinsip perancangan produk dengan ukuran rata-rata Disini produk rancangan dibuat untuk mereka yang

berukuran sekitaran rata- rata, sedangkan bagi mereka yang memiliki ukuran ekstrim akan dibuat rancangan tersendiri.

Problem pokok yang dihadapi dalam hal ini justru sedikit sekali mereka yang berada dalam ukuran rata-rata

(Wignjosoebroto, 2000).

Dalam dokumen MODUL I ERGONOMI ANTROPOMETRI (Halaman 13-19)

Dokumen terkait