BAB V KESIMPULAN & SARAN
5.2 Saran
Beberapa saran dalam desain alat dan ruang kerja:
1. Perlu adanya penerapan ergonomi yang disesusaikan dengan antropometri tubuh dari si pengguna. Sehingga pengguna tidak terlalu banyak menjangkau atau melakukan gerakan paksaan yangdapat menyebabkan cedera.
2. Pembenahan atau redesain alat dan tempat kerja apabila tidak sesuaidengan antropometri tenaga kerja. Agar kegiatan dapat berjalandengan lancar.
Beberapa saran dalam melakukan praktikum:
1. Saat pengukuran praktikan diharapkan serius dan teliti agar tidak terjadi kesalahan pada pengukuran.
2. Praktikan harus memanfaatkan waktu dengan efektif dan efisien.
3. Hendaknya praktikan agar bersungguh-sungguh dalam melaksanakan praktikum, agar memperoleh hasil yang maksimal.
4. Perlu adanya redesain kursi dan meja agar probandus dapat lebihnyaman dalam kegiatan belajar mengajar.
BAB VI DAFTAR ISI
http://repository.uin-suska.ac.id/3894/3/BAB%20II https://www.statistikian.com/2013/01/uji-normalitas.html
https://pusdiklat.bps.go.id/diklat/bahan_diklat/BA_Paket%20Program%20Komputer
%20(SPSS)%20-%20Deskriptif%20Statistik_Budiyanto,%20S.Si.,%20M.S.E_2117.pdf https://repository.maranatha.edu/4523/2/0223136_Appendices
https://www.greelane.com/id/sains-teknologi-matematika/matematika/what-is-a-percentile-3126238/
http://antropometriindonesia.org/index.php/detail/artikel/4/10/data_antrop ometri https://www.temukanpengertian.com/2020/05/pengertian-spss-dan-kegunaannya-serta.html
https://dspace.uii.ac.id/bitstream/handle/123456789/12472/05.04.%20BAB%20IV.pd f?sequence=8&isAllowed=y
MODUL II
ERGONOMI ANTROPOMETRI
LABORATORIUM
PERANCANGAN SISTEM KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS KRISNADWIPAYANA JAKARTA
2021
LEMBAR PENGESAHAN
Setelah diperiksa secara seksama dan telah menyelesaikan dengan baik maka laporan modul 2 “Perbaikan Cara Kerja” memenuhi syarat untuk laporan praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi yang telah di ACC dan dapat dikumpulkan dan dinilai.
KELOMPOK 9
Nama NIM
1. Denta Izha Mahendra (1970031133)
2. Edi Sutisna (1970031150)
3. Denny Setiawan (2070031048)
4. Bayu Aji Nugroho (2070031050)
5. Muhammad Nurkholiq A (2070031056)
6. Heru Adi Prasetyo (2070031057)
7. Amjad Ghufroon Marwanca (2070031059)
8. Putri Indriyani (2070031060)
9. Marsela Dwi Parlina M (2070031061)
Menyetujui,
KaProdi Teknik Industri
Ir. Florida Butarbutar, MT NIDN 0310056507
Mengetahui
Jakarta, November 2021
Herdryantama Ramadhan Saputra NIM 1870031030
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ... cxvii DAFTAR ISI... cxviii KATA PENGANTAR ... cxx BAB I ...1 1,1 Maksud dan Tujuan ...1 1.2 Latar Belakang Masalah ...1 1.3 Perumusan Masalah ...1 ...2 1.4 Pembatasan Masalah ...3 1.5 Sistematika Pembahasan ...3 BAB II ...4 2.1 Pengertian Biomekanika ...4 2.2 Tujuan Biomekanika ...5 2.3 Hubungan Biomekanika dengaan Ergonimic ...6 2.4 Pengertian RULA ...7 2.4 Pengertian REBA ...8 2.5 Manual Material Handling (MMH) ... 12 BAB III ... 16 3.1 Tabel RULA sebelum perbaikan ... 16 3.2 Tabel REBA Sebelum Perbaikan ... 22 3.3 Tabel RULA Setelah Perbaikan ... 26 3.3 Tabel REBA Setelah Perbaikan ... 32 BAB IV ... 34
4.1 Analisis hasil praktikum kedua dengan membandingkannya dengan praktikum pertama (analisis level cidera RULA dan REBA) ... 34 4.2 Jelaskan kontribusi modul sebelumnya (Modul I) terhadap praktikum Modul II ini: .
………..34 4.3 Bandingkan praktikum I dan II dilihat dari data waktu siklus apakah dapat
disimpulkan bahwa perbaikan yang dilakukan berhasil? Jelakan. ... 35 4.4 Lakukan analisis terhadap praktikum II sehingga dapat disimpulkan apakah sistem kerja yang diusulkan lebih baik atau tidak bagian yang di analisis yaitu: ... 35 BAB V ... 38 5.1 Kesimpulan ... 38
5.2 Saran ... 38 DAFTAR PUSTAKA ... 39
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr.wb
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya yang telah diberikan, sehingga penyusun bisa menyelesaikan Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja & Ergonomi ini. Adapun tujuan disusunnya laporan ini adalah sebagai syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Perancangan Sistem Kerja.
Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak/Ibu tugas yang telah diberikan ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan terkait bidang yang ditekuni kami. Kami juga mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah membantu proses penyusunan makalah ini.
Kami sangat menyadari bahwa laporan ini masihlah jauh dari sempurna.
Untuk itu, kami selaku tim penyusun menerima dengan terbuka semua kritik dan saran yang membangun agar laporan ini bisa tersusun lebih baik lagi. Kami berharap semoga laporan ini bermanfaat untuk kita semua.
Jakarta, 5 November 2021
Kelompok 9
1
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Maksud dan Tujuana. Maksud
1) Mampu Memahami Perbaikan Cara Kerja
2) Mampu Memahami Penggunaan RULA dan REBA
b. Tujuan
1) Memahami dalam mempelajari perbaikan cara kerja
2) Melatih kemampuan menggunakan RULA dan REBA dalam mengidentifikasi permasalahan yang ada.
3) Melatih kemampuan dalam menggunakan RULA dan REBA sebagai alat analisis perbaikan suatu sistem kerja.
1.2 Latar Belakang Masalah
Dalam dunia pekerjaan terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi jalannya pekerjaan tersebut, sehingga diperlukan suatu analisa dan perancangan kerja untuk memberikan kondisi sedemikian rupa sehingga proses pekerjaan dapat berjalan secara optimal dan dapat menghasilkan output baik berupa produk atau jasa yang berkualitas, bernilai tambah dan bagi subyek pelaku pekerjaan dapat bekerja dengan kondisi yang sehat, aman dan nyaman sehingga tercapai produktifitas yang maksimal.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja para karyawan ini dapat menghambat produktifitas, sehingga harus diadakan analisa gerakan guna mengevaluasi gerakan–gerakan yang dilakukan oleh para karyawan yang tidak produktif bagi perusahaan.
1.3 Perumusan Masalah
Permasalah yang ada dipraktikum modul 2 ini adalah bagaimana cara menggunakan perbaikan cara kerja dalam proses pengelasan dan pengedrilan
besi pada ragum di laboratorium dan menganalisa perbaikan cara kerja tersebut agar langkah-langkah kerja tersebut bisa terlaksana dengan baik dan lancer.
Mulai
Identifikasi masalah
Postur kerja
Pengumpulan data postur kerja
Pengelolaan data postur kerja manual
Analisis manual dan postur kerja
Asistensi
Selesai
Tidak Ya
1.1 1.4 Pembatasan Masalah
Batasan praktikum pada bab ini adalah membahas bagian analisa perbaikan cara kerja yang menggunakan metode RULA dan REBA pada pengelasan dan pengedrilan besi di ragum sesuai dengan arahan yang diberikan pada praktikan dan hanya di ikuti oleh peserta praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi
1.2 1.5 Sistematika Pembahasan
Laporan akhir ini terbagi dalam lima bab yang tersusun secara sistematis agar memudahkan dalam membaca dan memahaminya. Sistematika penulisan tugas akhir ini dapat dijabarkan sebagai berikut :
BAB 1 : PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan tentang maksud dan tujuan, latar belakang dari perbaikan cara kerja, perumusan masalah, pembatasan masalah, dan sistematika pembahasan BAB 2 : LANDASAN TEORI
Bab ini menjelaskan tentang perbaikan cara kerja dan materi-materi lainnya yang menyangkut dengan tentang perbaikan cara kerja.
BAB 3 : PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
Bab ini berisi pengumpulan hasih data yang diambil saat melakukan perhitungan pada metode yang akan digunakan.
BAB 4 : TUGAS AKHIR DAN ANALISIS HASIL PRAKTIKUM
Bab ini menjelaskan tentang analisis terhadap pengolahan data perbaikan cara kerja yang digunakan pada metode RULA dan REBA.
BAB 5 : KESIMPULAN DAN SARAN
Membuat kesimpulan hasil penelitian yang sesuai dengan materi penelitian dan
saran pengembangannya, saran perbaikan terhadap jalannya proses praktikum dan penyusunan laporan akhir.
BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Biomekanika
Biomekanika merupakan ilmu yang membahas aspek-aspek biomekanika dari gerakan–gerakan tubuh manusia. Biomekanika merupakan kombinasi antar keilmuan mekanika, antropometri, dan dasar ilmu kedokteran ( biologi dan fisiologi ). Menurut Frankel dan Nordin, biomekanika menggunakan konsep fisika dan teknik untuk menjelaskan gerakan pada berbagai macam bagian tubuh dan gaya yang bekerja pada bagian tubuh pada aktivitas sehari-hari. Menurut Caffin dan Anderson (1984), occupacional biomechanics adalah ilmu yang mempelajari hubungan antar pekerja dan peralatannya, lingkungan kerja dan lain-lain untuk meningkatkan performansi dan meminimisasi kemungkinan cidera.
Biomekanika dan cara kerja adalah pengaturan sikap tubuh dalam bekerja. Sikap kerja yang berbeda akan menghasilkan kekuatan yang berbeda pula dalam melakukan tugas. Dalam hal ini penelitian biomekanika mengukur kekuatan dan ketahanan fisik manusia dalam melakukan pekerjaan tertentu, dengan sikap kerja tertentu. Tujuannya untuk mendapatkan cara kerja yang lebih baik, dimana kekuatan/ketahanan fisik maksimum dan kemungkinan cidera minimum.
Ilmu Biomekanika membahas mengenai manusia dari segi kemampuan-kemampuannya seperti kekuatan, daya tahan, kecepatan dan ketelitian.
Biomekanika didefinisikan sebagai bidang ilmu aplikasi mekanika pada system biologi. Biomekanika merupakan kombinasi antara disiplin ilmu mekanika terapan dan ilmu-ilmu biologi dan fisiologi. Biomekanika menyangkut tubuh manusia dan hampir semua tubuh mahluk hidup. Dalam biomekanika prinsip-prinsip mekanika dipakai dalam penyusunan konsep,
analisis, disain dan pengembangan peralatan dan sistem dalam biologi dan kedoteran.
Dalam melakukan tugas-tugas yang manipulatif, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain:
➢ Menyeimbangkan antara gerakan yang statik dan gerak yang dinamis.
➢ Menjaga kekuatan otot, dimana pemakaian otot maksimum di bawah 15%.
➢ Mencegah Range of Motion (ROM) sendi yang berlebihan.
➢ Menggunakan grup otot yang lebih kecil untuk kecepatan dan ketelitian.
Dalam biomekanika, pada dasarnya ada 2 jenis model gerakan, yaitu:
1. Single- segment Static Model
Menggambarkan beban diterima oleh siku (elbow), yaitu gayareaksi siku (RE) dan momen reaksi siku (ME).
2. Two-segment Static Model
Menggambarkan beban diterima oleh bahu (shoulder), yaitu gayareaksi bahu (RE) dan momen reaksi bahu (MS)
2.2 Tujuan Biomekanika
• Mencegah gangguan/cedera pada sistem otot rangka (MSDs) • Memperbaiki kondisi tempat kerja
• Meningkatkan kinerja organisasi (effisiensi, kualitas dan kepuasan pekerja)
• Panduan prinsip : Maintain D < C
D: task Demands (force, moment, etc.)
C: human Capacity (strength, tissue tolerance, etc.)
Faktor-faktor Resiko terkait Permasalahan MSDs (hand & wrist):
2.3 Hubungan Biomekanika dengaan Ergonimic
Biomekanika memiliki hubungan yang sangat erat dengan Antropometri, dikarenakan dalam Biomekanika mempelajari bagaimana melakukan suatu pekerjaan dengan menggunakan gaya dengan energi yang kecil. Sedangkan Antropometri merupakan pembelajaran dalam suatu perhitungan kepada alat-alat yang di gunakan oleh manusia di dalam kehidupan sehari-hari. Antropometri menganalisis dimensi-dimensi alat tersebut dengan menghubungkan tubuh manusi sebagai acuan, sehingga terciptalah suatu alat atau perkakas yang dapat digunakan dengan gaya yang tidak terlalu besar.
Biomekanika tidak saja berhubungan erat dengan Antropometri tetapi juga dengan ilmu fisiologi dan postur kerja karena dengan mempelajari tentang gaya yang bekerja pada tubuh, maka dapat dihitung dan diketahui berapa jumlah energi dan konsumsi oksigen yang dibutuhkan serta dapat mengevaluasi posisi tubuh yang kurang ergonomis pada saat melakukan suatu pekerjaan.
Hubungan antara biomekanika dengan ergonomi juga dapat dilihat dari definisi ergonomi, yaitu suatu cabang ilmu yang sistematis untuk memanfaatkan informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan, dan keterbatasan manusia untuk merancang suatu sistem kerja sehingga orang dapat
hidup dan bekerja pada sistem itu dengan baik, yaitu mencapai tujuan yang diinginkan melalui pekerjaan itu dengan efektif, aman, sehat, nyaman, dan efisien.
2.4 Pengertian RULA
Rapid Upper Limb Assessment (RULA) adalah sebuah metode untuk menilai postur, gaya, dan gerakan suatu aktivitas kerja yang berkaitan dengan penggunaan anggota tubuh bagian atas (upper limb). Metode ini menggunakan diagram postur tubuh dan tabel penilaian untuk memberikan evaluasi terhadap faktor resiko yang akan dialami oleh pekerja. Faktor-faktor resiko yang diselidiki dalam metode ini adalah yang telah dideskripsikan oleh McPhee’
sebagai faktor beban eksternal (external load factors) yang meliputi: jumlah gerakan, jerja otot statis, gaya, postur kerja yang ditentukan oleh perlengkapan dan perabotan, dan waktu kerja tanpa istirahat.
Untuk menilai empat faktor beban eksternal pertama yang disebutkan di atas (jumlah gerakan, kerja otot statis, gaya dan postur), Rapid Upper Limb Assessment(RULA)
❖ Menyediakan metode penyaringan populasi kerja yang cepat, untuk penjabaran kemungkinan resiko cidera dari pekerjaan yang berkaitan dengan anggota tubuh bagian atas.
❖ Mengenali usaha otot berkaitan dengan postur kerja, penggunaan gaya dan melakukan pekerjaan statis atau repetitif, dan hal–hal yang dapat menyebabkan kelelahan otot.
❖ Memberikan hasil yang dapat digabungkan dalam penilaian ergonomi yang lebih luas meliputi faktor-faktor epidemiologi, fisik, mental, lingkungan dan organisasional.
2.4 Pengertian REBA
Rapid Entire Body Assissment (REBA) adalah suatu metode dalam bidang ergonomi yang digunakan secara cepat untuk menilai postur leher, punggung, lengan, pergelangan tangan dan kaki seorang pekerja.
Metode ini juga dilengkapi dengan faktor coupling, beban eksternal, dan aktivitas kerja. Dalam metode ini, segmen-segmen tubuh dibagi menjadi dua grup, yaitu grup A dan Grup B. Grup A terdiri dari punggung (batang tubuh), leher dan kaki. Sedangkan grup B terdiri dari lengan atas, lengan bawah dan pergelangan tangan.
Penentuan skor REBA, yang mengindikasikan level resiko dari postur kerja, dimulai dengan menentukan skor A untuk postur-postur grup A ditambah dengan skor beban (load) dan skor B untuk postur-postur grup B ditambah dengan skor coupling. Kedua skor tersebut (skor A dan B) digunakan untuk menentukan skor C. Skor REBA diperoleh dengan menambahkan skor aktivitas pada skor C. Dari nilai REBA dapat diketahui level resiko cedera.
Pengembangan Rapid Entire Body Assissment (REBA) terdiri atas 3 (tiga) tahapan, yaitu:
1. Mengidentifikasikan kerja, 2. Sistem pemberian skor,
3. Skala level tindakan yang menyediakan sebuah pedoman pada tingkat yang ada, dibutuhkan untuk mendorong penilaian yang lebih detail berkaitan dengan analisis yang didapat.
MSDS juga didefinisikan sebagai gangguan dan 2. Metode Rapid Entire Body Assissment (REBA)
Sebuah metode dalam bidang ergonomi yang digunakan secara cepat untuk menilai postur leher, punggung, lengan, pergelangan tangan dan kaki seorang
pekerja luka-luka yang dialami di tempat kerja dikenal sebagai Musculos Keletal Disorder (MSDS). penyakit pada otot yang telah terbukti atau dihipotesa yang disebabkan dengan pekerjaan.
REBA merupakan suatu metode penelitian untuk penilaian tubuh dengan cepat secara keseluruhan. Metode ini tidak membutuhkan peralatan spesial dalam penilaian postur punggung, leher, kaki, dan lengan tangan dan pergelangan tangan. Setiap pergerakan diberi dengan skor yang telah ditetapkan.
REBA dikembangkan sebagai suatu metode untuk menilai postur kerja yang merupakan faktor resiko (risk factor). Metode ini didesain untuk menilai pekerja dan mengetahui Muscules keletal yangg kemungkinan dapat menimbulkan gangguan pada anggota tubuh.
Dalam usaha untuk penilaian 3 (tiga) faktor beban eksternal, jumlah gerakan, kerja otot statis, tenaga/ kekuatan, dan postur, REBA dikembangkan untuk:
1. Memberikan sebuah metode penyaringan suatu populasi kerja yang beresiko menyebabkan gangguan pada anggota tubuh, 2. Mengidentifikasi usaha otot yang berhubungan dengan postur
kerja, penggunaan tenaga dan kerja yang berulang-ulang yang dapat menimbulkan kelelahan (fatique) otot,
3. Memberikan hasil yang dapat digabungkan dengan sebuah metode penilaian ergonomi, yaitu epidemiologi, fisik, mental, lingkungan dan faktor organisasi.
Metode REBA telah mengikuti karakteristik, yang telah dikembangkan untuk memberikan jawaban untuk keperluan mendapatkan peralatan yang bisa digunakan untuk mengukur pada aspek pembebanan fisik para pekerja. Analisa dapat dibuat sebelum atau setelah sebuah interferensi untuk mendemonstrasikan resiko yang telah dihentikan dari sebuah cedera yang timbul. Hal ini memberikan sebuah kecepatan pada penilaian sistematis dari
resiko sikap tubuh dari seluruh tubuh yang bisa pekerja dapatkan dari pekerjaannya.
Pengembangan dari percobaan metode REBA adalah (Hignett dan McAtemney, 2000) :
• Untuk mengembangkan sebuah sistem dari analisa bentuk tubuh yang pantas untuk resiko musculoskeletal pada berbagai macam tugas.
• Untuk membagi tubuh kedalam bagian-bagian untuk pemberian kode individual, menerangkan rencana perpindahan.
• Untuk mendukung sistem penilaian aktivitas otot pada posisi statis (kelompok bagian, atau bagian dari tubuh), dinamis (aksi berulang, contohnya pengulangan yang unggul pada veces/minute, kecuali berjalan kaki), tidak cocok dengan perubahan posisi yang cepat.
• Untuk menggapai interaksi atau hubungan antara seorang dan beban adalah penting dalam manipulasi manual, tetapi itu tidak selalu bisa dilakukan dengan tangan.
• Untuk memberikan sebuah tingkatan dari aksi melalui nilai akhir dengan indikasi dalam keadaan terpaksa.
• Hanya membutuhkan peralatan yang minimal seperti pena dan kertas metode.
Metode REBA juga dilengkapi dengan faktor coupling, beban eksternal aktivitas kerja. Dalam metode ini, segmen-segmen tubuh dibagi menjadi dua group, yaitu group A dan group B. Group A terdiri dari punggung (batang tubuh), leher, dan kaki. Sedangkan group B terdiri dari lengan atas, lengan bawah, dan pergelangan tangan.
Untuk menentukan skor REBA ada beberapa langkah yang harus dilalui terlebih dahulu. Yang pertama menghitung skor pada tabel A yang terdiri dari leher (neck), batang tubuh (trunk), dan kaki (legs). Kemudian menghitung tabel B yang terdiri dari lengan atas (upper arm), lengan bawah (lower arm), dan pergelangan tangan (wrist). Setelah didapatkan skor akhir tabel A dan B maka dimasukkan ke dalam tabel C yang kemudian menentukan ketegori tindakannya. Terdapat 13 langkah dalam menentukan skor REBA.
Postur kerja yang salah sering diakibatkan oleh letak fasilitas yang kurang sesuai dengan anthropometri sehingga mempengaruhi kinerja yang tidak alami menyebabkan ketidaknyamanan. Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh manusia ternyata bahwa sikap kerja yang tidak sesuai dapat menimbulkan ketidaknyamanan pada saat bekerja. Hasil perhitungan postur kerja dengan metode REBA tentang keluhan kerja diperoleh tingkat terjadinya pada organ leher sebesar 22%, organ tubuh bagian punggung sebesar 45%, pada bagian kaki sebesar 37%, pada bagian lengan atas sebesar 69%, pada bagian lengan bawah sebesar 29%, dan pada bagian pergelangan tangan sebesar 21%. Selain beban pekerjaan yang cukup besar maka postur tubuh saat bekerja sangat berpengaruh dengan konsumsi energi. Analisis postur kerja dengan metode REBA pada Pekerja Proses Pengasahan Batu Akik sangat perlu dilakukan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, permasalahan yang dihadapi seorang pekerja proses pengasahan batu akik adalah pekerja kurang memperhatikan keselamatan dan resiko yang terjadi bila pekerja terus menerapkan posisi kerja yang tidak sesuai dengan anthropometri.
untuk itu penulis ingin menganalisa penilaian postur kerja berdasarkan metode REBA pada pekerja proses pengasahan batu akik dengan metode kerja dan proses kerja. Adapun Rumusan permasalahan adalah bagaimana penilaian postur kerja berdasarkan metode REBA pada pekerja proses pengasahan batu akik.
2.5 Manual Material Handling (MMH)
Penanganan material secara manual atau Manual Material Handling (MMH) merupakan aktivitas yang setiap hari dilakukan oleh manusia.
Penggunaan tenaga manusia di berbagai aktivitas yang dilakuan secara manual masih sangat dominan. Pekerjaan yang terkait dengan MMH sering kita lihat dalam pekerjaan pertukangan, bongkar muat barang, aktivitas di pasar dan kegiatan-kegiatan bisnis lainnya. Aktivitas MMH antara lain proses mengangkat, mendorong, memanggul, menggendong, menarik dan aktivitas penanganan material lainnya tanpa alat bantu mekanis. Kelebihan MMH dibandingkan dengan penanganan material yang menggunakan alat bantu adalah fleksibilitas gerakan yang dilakukan. Akan tetapi dibalik keuntungan tersebut terdapat kekurangan, yaitu dalam hal keselamatan dan kesehatan kerja.
Aktivitas MMH mempunyai potensi kecelakaan yang cukup besar, karena pada aktivitas ini akan terjadi kontak langsung antara beban dan tubuh manusia.
Beban yang tinggi pada otot maupun sistem skeletal dapat mengakibatkan overstrain pada otot terutama pada otot leher dan tulang belakang dan pada bagian tubuh yang lain. Disamping itu pemakaian postur kerja yang tidak fisiologis atau tidak aman dan beban yang besar dapat menyebabkan cedera tulang punggung pada pekerja. Studi MMH pada hakekatnya untuk mengidentifikasi dan pengawasan penyebab cedera dan meminimasi bahaya tersebut dengan menerapkan pengendalian administratif dan pengendalian teknik. Aplikasi pengendalian administratif antara lain dengan mempekerjakan personal yang terpilih, melakukan pelatihan teknik penanganan material yang baik dan rotasi kerja. Sedang pengendalian teknik antara lain dengan merancang ulang pekerjaan dan penanganan material dengan bantuan mekanis.
Pemindahan secara manual apabila tidak dilakukan secara ergonomis akan menimbulkan kecelakaan. Kecelakaan kerja yang terjadi karena kerusakan jaringan tubuh yang diakibatkan oleh kelebihan beban angkat. Kenyataan menunjukkan bahwa manusia memiliki batas-batas kemampuan, baik menyangkut kemampuan pengamatan kognitif, fisik, maupun psikologis.
Dalam sistem kerangka manusia terdapat beberapa titik rawan, yaitu pada ruas tulang leher, ruas tulang belakang dan pada pangkal paha. Titik pada ruas tulang belakang khususnya antara ruas lumbar ke-5 dan sacrum ke-1 (L5/S1), merupakan titik yang paling rawan terhadap kecelakaan kerja, karena pada titik tersebut terdapat disk (selaput yang berisi cairan) yang berfungsi untuk meredam pergerakan antar ruas. Jika tekanan yang diakibatkan pengangkatan beban kerja melebihi Maximum Permissible Limit (MPL) sebagai batas angkat maksimum, maka akan menyebabkan pecahnya disk tersebut sehingga manusia akan mengalami kelumpuhan.
MMH yang dilakukan dengan tidak benar akan berdampak pada cedera yang bersifat sementara atau permanen, bahkan kondisi lebih buruk lagi terjadinya kecelakaan kerja yang berakibat kematian. Cedera terjadinya kecelakaan kerja yang berakibat kematian. Cedera kecelakaan kerja yang berakibat kematian. Cedera dan kecelekaan kerja disebabkan karena para pelaku usaha maupun ara pelaku usaha maupun pemegang kebijakan di pemerintah kurang peduli terhadap pemindahan material yang berisiko tinggi.
Disisi lain, pengetahuan terhadap pemindahan material secara aman belum dimiliki pekerja. Jika kita pekerja. Jika kita pekerja. Jika kita runtut permasalahan diatas merupakan kelemahan sistem pelaksanaan dan pengawasan terhadap jaminan keamanan MMH. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia melainkan merupakan permasalahan dunia. Fakta kecelakaan kerja menurut International Labor Organization (ILO), setiap tahun terjadi 1,1 juta kematian yang sebagian besar disebabkan karena kecelakaan akibat hubungan pekerjaan, dan sisanya disebabkan penyakit akibat hubungan pekerjaan. Kasus kecelakaan kerja akibat pembebanan yang melebihi batas yang diijinkan yang terjadi di Amerika Serikat dinyatakan bahwa selama dekade 70 an, sekitar 20 juta orang Amerika mengalami permasalahan biomekanika dan kelelahan kerja (Chaffin, 1991). Sedangkan National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH, 1981) melaporkan bahwa dalam satu tahun sekitar 500 ribu
pekerja di Amerika Serikat menderita berbagai jenis cedera akibat kerja dengan pengerahan otot yang berlebihan.
MMH merupakan penyebab kecelakaan yang lebih dari sepertiga setiap
MMH merupakan penyebab kecelakaan yang lebih dari sepertiga setiap