• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Pola Penganggaran

5.1.2. APBD Belanja per luas wilayah

Analisis ini menggunakan data APBD Belanja Bidang tahun 2003 yang dirasiokan dengan luas wilayah. Hasil analisis PCA diperoleh hasil sebagai berikut:

1. Berdasarkan nilai akar ciri (eigenvalue) pada Tabel 5.3 dan plot dari akar ciri pada Gambar 5.4 diambil 2 faktor utama hasil dari penyederhanaan Belanja Bidang per luas wilayah, dengan pertimbangan adanya perubahan nilai eigenvalue yang signifikan yaitu 16,5574-2,36343=14,1937 >> 1 atau dalam plot yang kurvanya paling curam. Dengan dua faktor tersebut nilai eigen-nya adalah 86.0038% yang berarti hasil PCA tersebut mewakili lebih dari 85% keragaman data.

Tabel 5.3. Eigenvalues. Extraction: Principal components APBD Bidang per luas wilayah

% Total Cumulative Cumulative Factor Eigenvalue variance Eigenvalue % 1 16,5574 75,26091 16,5574 75,2609 2 2,36343 10,74284 18,92083 86,0038 3 1,24493 5,65876 20,16575 91,6625 4 0,76822 3,4919 20,93397 95,1544

2. Hanya tiga bidang yang tidak memberikan nilai yang signifikan terhadap 2 komponen utama hasil PCA yaitu Bidang Penanaman Modal, Bidang Pendidikan dan Kebudayaan, dan Bidang Pertanahan karena bidang-bidang lain memiliki nilai communalities kurang dari 0,7. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 5.4. Bidang-bidang yang kurang memberi nilai signifikan tersebut berarti bidang-bidang tersebut relatif homogen atau kurang nyata perbedaan nilainya. Nilai rata-rata belanja Bidang Penanaman Modal per luas wilayah adalah 0,11%, Bidang Pendidikan dan Kebudayaan sebesar 19% dan Bidang Pertanahan sebesar 0,40%. Dari nilai persentase tersebut terlihat bahwa wilayah Jawa bagian barat kurang memberi perhatian kepada Bidang Penanaman Modal dan Bidang Pertanahan terlihat dari kecilnya nilai belanja. Sedangkan Bidang Pendidikan dan Kebudayaan sudah relatif cukup tinggi dan homogen.

Plot of Eigenvalues Number of Eigenvalues 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 Va lu e

Gambar 5.4. Plot eigenvalues APBD bidang per luas wilayah.

3. Dari Tabel 5.4 dapat diketahui ternyata Bidang Kehutanan dan Perkebunan mempunyai korelasi positif terhadap Bidang Penataan Ruang yang berarti bila belanja Bidang Kehutanan dan Perkebunan dinaikkan maka memberi akibat Bidang Penataan Ruang akan naik, begitu pula sebaliknya. Ini berarti bila kebijakan untuk meningkatkan pembangunan pada salah satu bidang tersebut harus atau berimplikasi dengan peningkatan pembangunan pada bidang lainnya. Kedua bidang ini memberi nilai yang signifikan pada faktor II yang merupakan belanja tata ruang dan hutbun. Hal ini kemungkinan disebabkan karena kebijakan pada kedua bidang tersebut saling berhubungan. Pengaturan bidang kehutanan dan perkebunan harus pula mengatur tata ruang.

4. Bidang-bidang lain yang merupakan belanja sarana prasarana yang disusun dari: Total Belanja,Bidang Administrasi Pemerintahan, Bidang Pertanian, Bidang Perikanan, Bidang Pertambangan Dan Energi, Bidang Perindustrian Dan Perdagangan, Bidang Perkoperasian, Bidang Penanaman Modal, Bidang Ketenagakerjaan ,Bidang Kesehatan, Bidang Pendidikan Dan Kebudayaan, Bidang Sosial, Bidang Permukiman, Bidang Pekerjaan Umum, Bidang Perhubungan, Bidang Lingkungan Hidup, Bidang Kependudukan, Bidang Olahraga, Bidang Kepariwisataan saling memberi korelasi positif yang berarti terjadi saling keterkaitan antara satu dengan yang lain sehingga

variabel-variabel APBD Belanja Bidang per luas wilayah ini terdapat hubungan timbal balik yang cukup besar, saling mendukung dan mempunyai pengaruh cukup nyata.

Tabel 5.4. Factor loading dan communalities APBD bidang per luas wilayah.

Variabel Factor loading

No Nama

Communali-ties 1 2

1 Total Belanja 0,985676 0,95505 0,271203 2 BIDANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN 0,991435 0,94106 0,325346 3 BIDANG PERTANIAN 0,822358 0,69926 0,577398 4 BIDANG PERIKANAN 0,889877 0,91087 0,245349 5 BIDANG PERTAMBANGAN DAN ENERGI 0,854547 0,92404 -0,02636 6 BIDANG KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN 0,848291 -0,09493 0,916121

7 BIDANG PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN 0,906035 0,95157 0,023419 8 BIDANG PERKOPERASIAN 0,776567 0,84676 0,244046 9 BIDANG PENANAMAN MODAL 0,690566 0,8154 -0,16029 10 BIDANG KETENAGAKERJAAN 0,94574 0,97245 -0,00867 11 BIDANG KESEHATAN 0,899525 0,94398 0,09182 12 BIDANG PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 0,601133 0,7625 -0,14044 13 BIDANG SOSIAL 0,953872 0,91869 0,331472 14 BIDANG PENATAAN RUANG 0,716355 -0,02482 0,846014

15 BIDANG PERMUKIMAN 0,94446 0,93825 0,253277 16 BIDANG PEKERJAAN UMUM 0,901715 0,94877 -0,03945 17 BIDANG PERHUBUNGAN 0,826277 0,89412 0,163791 18 BIDANG LINGKUNGAN HIDUP 0,949985 0,97413 -0,03262 19 BIDANG KEPENDUDUKAN 0,980263 0,98802 0,063945 20 BIDANG OLAHRAGA 0,896873 0,90338 0,284225 21 BIDANG KEPARIWISATAAN 0,935845 0,96596 0,05253 22 BIDANG PERTANAHAN 0,60343 0,59109 0,504021 Expl.Var 16,13296 2,787865 Prp.Totl 0,73332 0,126721 Bobot 0,8526563 0,147344

Sumber :DJPK Departemen Keuangan, Data diolah

5. Klasifikasi hasil factor score untuk faktor I yang ditunjukkan pada Gambar 5.5 yang tertinggi adalah DKI Jakarta, kemudian klasifikasi sedang adalah sejumlah kota-kota:Bekasi, Bogor,Sukabumi dan Cirebon. Daerah-daerah selain tersebut masuk dalam klasifikasi rendah. Hal ini disebabkan untuk daerah kota memiliki luas wilayah yang relatif kecil bila dibandingkan daerah kabupaten sedangkan jumlah APBD Bidang relatif tinggi. Dari pola spasial pada Gambar 5.5 tersebut belum terlihat keterkaitan hubungan penganggaran antar daerah.

Kab. Cianjur Kab. Lebak

Kab. Garut Kab. Sukabumi

Kab. Bogor Kab. Subang Kab. Pandeglang

Kab. Serang

Kab. Indramayu Kab. Karawang

Kab. Dan Kota Tasikmalaya Kab. Bekasi

Kab. Bandung dan Kota Cimahi Kab. Sumedang Kab. Cirebon Kab. Majalengka Kab. Tangerang Kab. Purwakarta DKI Jakarta Kota Depok Kota Cilegon Kota Cirebon Kota Bekasi Kota Bandung Kota Tangerang Kota Bogor Kab. Kuningan

Kab. Ciamis dan Kota Banjar Kota Sukabumi Klasifikasi Rendah Sedang Tinggi 100 0 100 Kilometers N U

Gambar 5.5. Pola Spasial Factor Scores I (belanja sarana prasarana) APBD Bidang per luas wilayah.

Kab. Cianjur Kab. Lebak

Kab. Garut Kab. Sukabumi

Kab. Bogor Kab. Subang Kab. Pandeglang

Kab. Serang

Kab. Indramayu Kab. Karawang

Kab. Dan Kota Tasikmalaya Kab. Bekasi

Kab. Bandung dan Kota Cimahi Kab. Sumedang Kab. Cirebon Kab. Majalengka Kab. Tangerang Kab. Purwakarta DKI Jakarta Kota Depok Kota Cilegon Kota Cirebon Kota Bekasi Kota Bandung Kota Tangerang Kota Bogor Kab. Kuningan

Kab. Ciamis dan Kota Banjar Kota Sukabumi Klasifikasi Rendah Sedang Tinggi 100 0 100 Kilometers N U

Gambar 5.6. Pola spasial Factor Scores II (belanja tata ruang dan hutbun) APBD Bidang per luas wilayah.

6. Belanja tata ruang dan hutbun (Faktor II) yang masuk klasifikasi tinggi hanya Kota Cirebon sehingga kota ini yang paling memberi perhatian lebih terhadap bidang tersebut. DKI Jakarta pada klasifikasi ini termasuk sedang.

Sedangkan berdasarkan klasifikasi empat indeks komposit variabel belanja Bidang tersebut, diperoleh tiga belas jenis tipologi wilayah.

Tabel 5.5. Tipologi wilayah berdasarkan pola penganggaran.

Jenis belanja Tipo- logi Adminis-trasi dan produksi Penanaman modal Sarana prasarana Tata ruang dan hutbun Kabupaten/Kota

1 tinggi sedang tinggi sedang DKI Jakarta

2 tinggi rendah sedang tinggi Kota Cirebon

3 sedang tinggi sedang rendah Kota Sukabumi

4 sedang sedang sedang rendah Kota Bandung,Kota Bogor

5 sedang sedang rendah rendah Kab. Tangerang,Kota Cilegon

6 sedang rendah rendah sedang Kab. Purwakarta, Kab. Subang,

Kab. Sumedang

7 sedang rendah rendah rendah Kab. Karawang,,Kab.

Pandeglang

8 rendah tinggi rendah sedang Kota Tangerang

9 rendah sedang sedang sedang Kota Bekasi

10 rendah sedang rendah sedang Kota Depok

11 rendah sedang rendah rendah Kab. Bekasi, Kab. Serang,Kab.

Bandung dan Kota Cimahi

12 rendah rendah rendah sedang Kab. Bogor,Kab. Cianjur, Kab.

Cirebon, Kab. Garut, Kab. Kuningan, Kab. Majalengka, Kab. Sukabumi,

Kab. Ciamis dan Kota Banjar

13 rendah rendah rendah rendah Kab. Dan Kota Tasikmalaya,

Kab. Lebak, dan Kab. Indramayu

Tipologi wilayah berdasarkan nilai-nilai belanja: administrasi dan produksi, penanaman modal, sarana prasarana, dan tata ruang dan hutbun dapat dilihat pada Tabel 5.5, sedangkan pola spasialnya dapat dilihat pada Gambar 5.7.

Kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan belanja tersebut sering disebut sebagai kebijakan fiskal. Kebijakan fiskal dapat pula diartikan sebagai kebijakan pemerintah dalam bidang anggaran dan belanja negara dengan maksud untuk mempengaruhi jalannya perekonomian (Putong, 2003).

Sedangkan fungsi utama kebijakan fiskal diantaranya adalah sebagai berikut: 1) Fungsi alokasi, yaitu untuk mengalokasikan faktor-faktor produksi yang tersedia dalam masyarakat sedemikian rupa sehingga kebutuhan masyarakat berupa public goods seperti jalan, jembatan, pendidikan, dan tempat ibadah dapat terpenuhi secara layak dan dapat dinikmati seluruh masyarakat. 2) Fungsi distribusi, yaitu fungsi yang mempunyai tujuan agar pembagian pendapatan dapat lebih merata untuk semua kalangan. 3) Fungsi Stabilisasi, agar terpeliharanya

keseimbangan ekonomi terutama berupa kesempatan kerja yang tinggi, tingkat harga-harga umum yang relatif stabil dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang relaitf memadai.

Pada analisis struktur pola pengalokasian anggaran ini belum dapat diketahui tingkat efektifitas penganggaran suatu daerah apakah sesuai dengan fungsinya atau tidak, untuk lebih mengetahui tentang tingkat efektifitas pola penganggaran dilakukan analisis keterkaitan antara pola penganggaran dan kinerja pembangunan. 11 12 12 12 12 12 12 6 6 12 6 13 4 9 4 2 3 13 5 8 12 10 7 13 1 7

Dokumen terkait