• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2. Kinerja Pembangunan Daerah

5.2.5. PCA Variabel-variabel Kinerja Pembangunan

Variabel-variabel : persentase PAD terhadap total penerimaan, rataan persentase LPE, PDRB per kapita(ribu) , dan PDRB per luas lahan (juta/km2) kemudian dianalisis menggunakan PCA untuk memperoleh indeks komposit kinerja pembangunan.

Gambar 5.15. Plot eigenvalues variabel-variabel kinerja pembangunan.

Plot of Eigenvalues 1 2 3 4 Number of Eigenvalues 0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 Val ue

Berdasarkan nilai eigenvalue pada Tabel 5.8 dan plot dari eigenvalue pada Gambar 5.15 diambil dua faktor utama hasil dari penyederhanaan variabel-variabel kinerja pembangunan, dengan pertimbangan adanya nilai cummulative eigenvalue relatif besar dan dalam plot eigenvalue yang kurvanya masih curam. Dengan dua faktor tersebut nilai eigen-nya adalah 89,2% yang berarti hasil PCA tersebut mewakili lebih dari 89% keragaman data.

Tabel 5.8. Eigenvalues. Extraction: Principal components :Variabel-variabel kinerja pembangunan.

% Total Cumulative Cumulative

Eigenvalue variance Eigenvalue % 1 2,604174 65,10436 2,604174 65,1044 2 0,963666 24,09166 3,567841 89,196 3 0,324856 8,12139 3,892696 97,3174 4 0,107304 2,68259 4 100

Berdasarkan Tabel 5.9 dibawah, dapat diketahui bahwa variabel Rataan % LPE(Laju Pertumbuhan Ekonomi) communalities lebih dari 99% dan factor loading lebih dari 99% . Kemudian % PAD terhadap Total Penerimaan nilai

communalities sebesar 93%. Sedangkan PDRB per kapita dan PDRB per luas lahan mempunyai factor loading hampir sama yaitu sekitar 80%.

Faktor I hasil PCA yang merupakan variabel-variabel tingkat produktifitas ekonomi disusun oleh variabel-variabel: % PAD Terhadap Total Penerimaan, PDRB Perkapita, dan PDRB per Luas Lahan. Untuk Faktor II nilai yang nyata adalah variabel Rataan % LPE sehingga dapat disebut variabel tingkat pertumbuhan ekonomi.

Variabel-variabel penyusun tingkat produktifitas semua memiliki factor loading positif, berarti masing-masing secara nyata saling terkait positif, setiap kenaikan salah satu faktor akan berpengaruh pada kenaikan faktor-faktor lain. Analisis ini dapat membuktikan bahwa kapasitas fiskal yang tercermin dalam besarnya PAD berkaitan erat dengan produktifitas orang (PDRB perkapita) dan produktifitas lahan (PDRB per luas lahan).

Tabel 5.9. Factor loading dan communalities variabel-variabel kinerja pembangunan.

Factor Factor

Variabel Communa

lites 1 2

1. % PAD thd total penerimaan 0,931005 0,950468 0,166176

2. Rataan % LPE 0,99806 0,082292 0,995635

4. PDRB per Kapita(ribu) 0,825359 0,908489 0,00244 5. PDRB per Luas Lahan

(juta/km2) 0,813417 0,89868 0,076101

Expl.Var 2,543141 1,0247

Prp.Totl 0,635785 0,256175

Bobot 0,712795 0,287205

Sumber : DJAPK, Data diolah

Terdapat hal yang cukup menarik ternyata variabel laju pertumbuhan ekonomi kurang berkaitan dengan variabel-variabel tingkat produktifitas. Hal ini karena untuk daerah-daerah penelitian terdapat daerah yang pertumbuhan ekonomi tinggi tetapi produktifitasnya masih rendah. Terdapat pula daerah yang produktifitasnya tinggi tetapi pertumbuhan ekonominya rendah.

Tabel 5.10. Nilai factor scores hasil PCAvariabel-variabel kinerja pembangunan.

Komponen Utama Hasil PCA

No. KABUPATEN/KOTA Faktor I

(Produktifitas Ekonomi) Faktor II (Pertumbuhan Ekonomi) 1 DKI Jakarta 1,000 0,354 2 Kab. Bogor 0,070 1,000 3 Kab. Sukabumi 0,013 0,297 4 Kab. Cianjur 0,026 0,081

5 Kab. Bandung dan Kota Cimahi 0,084 0,093

6 Kab. Garut 0,009 0,314

7 Kab. Dan Kota Tasikmalaya 0,004 0,123

8 Kab. Ciamis dan Kota Banjar 0,026 0,015

9 Kab. Kuningan 0,000 0,291 10 Kab. Cirebon 0,027 0,305 11 Kab. Majalengka 0,025 0,052 12 Kab. Sumedang 0,030 0,528 13 Kab. Indramayu 0,111 0,288 14 Kab. Subang 0,031 0,405 15 Kab. Purwakarta 0,116 0,000 16 Kab. Karawang 0,061 0,643 17 Kab. Bekasi 0,288 0,063 18 Kota Bogor 0,096 0,124 19 Kota Sukabumi 0,111 0,145 20 Kota Bandung 0,292 0,240 21 Kota Cirebon 0,318 0,048 22 Kota Bekasi 0,167 0,144 23 Kota Depok 0,077 0,137 24 Kab. Pandeglang 0,007 0,093 25 Kab. Lebak 0,011 0,025 26 Kab. Tangerang 0,103 0,102 27 Kab. Serang 0,085 0,025 28 Kota Tangerang 0,214 0,085 29 Kota Cilegon 0,418 0,156

Sumber:BPS, DJPK Departemen Keuangan, data diolah

Dari pola spasial kategori daerah berdasarkan tingkat produktifitas seperti pada Gambar 5.16 terlihat bahwa sebagian besar wilayah penelitian yaitu 23 daerah termasuk dalam kategori rendah. DKI Jakarta satu-satunya yang termasuk kategori tinggi, sedangkan yang masuk kategori sedang ada lima daerah, yaitu Kota Cilegon, Kota Tangerang, Kabupaten Bekasi, Kota Bandung dan Kota Cirebon. Komposisi tipologi tersebut menunjukkan bahwa terjadi berbedaan tingkat produktifitas yang cukup tinggi.

Kab. Cianjur Kab. Lebak

Kab. Garut Kab. Sukabumi

Kab. Bogor Kab. Subang Kab. Pandeglang

Kab. Serang

Kab. Indramayu Kab. Karawang

Kab. Dan Kota Tasikmalaya Kab. Bekasi

Kab. Bandung dan Kota Cimahi Kab. Sumedang Kab. Cirebon Kab. Majalengka Kab. Tangerang Kab. Purwakarta DKI Jakarta Kota Depok Kota Cilegon Kota Cirebon Kota Bekasi Kota Bandung Kota Tangerang Kota Bogor Kab. Kuningan

Kab. Ciamis dan Kota Banjar Kota Sukabumi Klasifikasi Rendah Sedang Tinggi 100 0 100 Kilometers N U

Gambar 5.16. Pola spasial kategori daerah berdasarkan tingkat produktifitas.

Berdasarkan pola spasial kategori daerah berdasarkan tingkat pertumbuhan pada Gambar 5.17 dibawah, terlihat bahwa Kabupaten Karawang dan Kabupaten Bogor termasuk daerah dengan tipologi tinggi, yang berarti kedua daerah tersebut mngalami perkembangan atau pertumbuhan ekonomi paling baik diantara daerah-daerah Jawa bagian barat.

Kab. Cianjur Kab. Lebak

Kab. Garut Kab. Sukabumi

Kab. Bogor Kab. Subang Kab. Pandeglang

Kab. Serang

Kab. Indramayu Kab. Karawang

Kab. Dan Kota Tasikmalaya Kab. Bekasi

Kab. Bandung dan Kota Cimahi Kab. Sumedang Kab. Cirebon Kab. Majalengka Kab. Tangerang Kab. Purwakarta DKI Jakarta Kota Depok Kota Cilegon Kota Cirebon Kota Bekasi Kota Bandung Kota Tangerang Kota Bogor Kab. Kuningan

Kab. Ciamis dan Kota Banjar Kota Sukabumi Klasifikasi Rendah Sedang Tinggi 100 0 100 Kilometers N U

Gambar 5.17. Pola spasial kategori daerah berdasarkan tingkat pertumbuhan.

0.000 0.200 0.400 0.600 0.800 1.000 1.200 0.000 0.200 0.400 0.600 0.800 1.000 1.200 Y1 Y2

Gambar 5.18. Grafik plot antara variabel produktifitas ekonomi dan variabel pertumbuhan ekonomi.

Bila nilai-nilai variabel Kinerja Pembangunan tersebut dibuat grafik plot seperti pada gambar 5.18 akan terlihat komposisi daerah-daerah berdasarkan tingkat produktifitas dan tingkat pertumbuhan.

Tabel 5.11. Kategori daerah berdasarkan tingkat produktifitas dan tingkat pertumbuhan

Tipologi Tingkat produktifitas

Laju

pertumbuhan Daerah

1 tinggi sedang DKI Jakarta

2 sedang sedang Kota Bandung, Kota Cilegon 3 sedang rendah Kab. Bekasi,,Kota Bekasi, Kota

Cirebon, Kota Tangerang 4 rendah tinggi Kab. Bogor dan Kab. Karawang 5 rendah sedang Kab. Cirebon, Kab. Garut, Kab.

Kuningan, Kab. Subang, Kab. Sukabumi, Kab. Sumedang, Kab. Indramayu

6 rendah rendah Kab. Cianjur, Kab. Majalengka, Kab. Purwakarta, Kab. Dan Kota

Tasikmalaya, Kota Bogor, Kota Sukabumi, Kab. Lebak, Kab. Tangerang, Kab. Ciamis dan Kota Banjar, Kota Depok, Kab.

Pandeglang, Kab. Serang, Kab. Bandung dan Kota Cimahi

Berdasarkan skor dari variabel tingkat produktifitas dan variabel tingkat pertumbuhan dilakukan query, menghasilkan klasifikasi daerah berdasarkan nilai tingkat produktifitas dan laju pertumbuhan seperti pada Tabel 5.11.

Bila termasuk dalam tingkat pertumbuhan yang rendah berarti daerah yang bersangkutan memerlukan inovasi-inovasi baru, paradigma baru dalam perencanaan pembangunan.

Kab. Cianjur Kab. Lebak

Kab. Garut Kab. Sukabumi

Kab. Bogor Kab. Subang Kab. Pandeglang

Kab. Serang

Kab. Indramayu Kab. Karawang

Kab. Dan Kota Tasikmalaya Kab. Bekasi

Kab. Bandung dan Kota Cimahi Kab. Sumedang Kab. Cirebon Kab. Majalengka Kab. Tangerang Kab. Purwakarta DKI Jakarta Kota Depok Kota Cilegon Kota Cirebon Kota Bekasi Kota Bandung Kota Tangerang Kota Bogor Kab. Kuningan

Kab. Ciamis dan Kota Banjar Kota Sukabumi Klasifikasi Y1:Tinggi - Y2:Sedang Y1:Sedang - Y2:Sedang Y1:Sedang - Y2:Rendah Y1:Rendah - Y2:Tinggi Y1:Rendah - Y2:Sedang Y1:Rendah - Y2:Rendah 100 0 100 Kilometers N U

Gambar 5.19. Pola Spasial Kategori daerah berdasarkan Tingkat Produktifitas (Y1) dan Tingkat Pertumbuhan (Y2).

Klasififikasi berdasarkan Tabel 5.11 dipetakan dalam peta administrasi lalu dilakukan analisis klasifikasi menghasilkan sebaran spasial seperti pada Gambar 5.19. Kabupaten Bogor dan Kabupaten Karawang termasuk tipologi tingkat produktifitas (Y1) rendah dan tingkat pertumbuhan (Y2) tinggi yang berarti kedua daerah ini sedang bangkit dari ketertinggalan dan diharapkan akan menjadi daerah dengan tingkat produktifitas yang tinggi.

Wilayah DKI Jakarta termasuk tipologi tinggi - sedang, berati DKI Jakarta sudah hampir mencapai titik jenuh dan sudah melewati tahap pertumbuhan tinggi sehingga diperlukan penanganan dengan inovasi baru. Daerah yang termasuk dalam tipologi tingkat produktifitas (Y1) rendah dan tingkat pertumbuhan (Y2)

rendah berarti daerah yang bersangkutan masih tertinggal atau daerah tersebut belum dapat bangkit dari ketertinggalan. Diperlukan kerja keras untuk membangun daerah tersebut agar terlepas dari ketertinggalan.

Dokumen terkait