• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.3. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)

2.3.1. Pendapatan Asli Daerah

Menurut Pasal 6 Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah menyatakan : PAD bersumber dari Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan, dan Lain-lain PAD yang sah.

Lain-lain PAD yang sah meliputi hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan, jasa giro, pendapatan bunga, keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, dan komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh daerah.

Dari pernyataan kedua pasal di atas diketahui bahwa sumber-sumber penerimaan Pendapatan Asli Daerah meliputi Pajak Daerah, Retribusi Daerah, pengelolaan kekayaan Daerah, Laba Perusahaan Milik Daerah dan lain-lain pendapatan yang sah.

2.3.1.1. Pajak Daerah

Menurut Pasal 1 ayat 6 Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah mengatakan bahwa Pajak Daerah, yang selanjutnya disebut pajak, adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada Daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan Daerah dan pembangunan Daerah.

Pajak merupakan sumber umum penerimaan Pemerintah yang hampir tidak berubah dan benar-benar dijaga oleh Pemerintah Pusat. Pembagian hasil penerimaan ini dengan cara penyerahan atau pembagian adakalanya dicantumkan dalam undang-undang. Beberapa cara Pemerintah Daerah di negara kesatuan memperoleh penerimaan yang berasal dari pajak pendapatan sebagian karena dimungkinkan oleh sistem pajak nasionalnya dan lainnya karena perbedaan dasar pajak yang ditetapkan. Pengaturan pembagian hasil pajak yang dimaksud antara lain dicantumkan pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah, yaitu pada pasal yang menerangkan tentang pembagian hasil Pajak Bumi dan Bangunan dan Perolehan Hak atas Bumi dan Bangunan.

Sistem pajak pendapatan nasional memiliki ciri - ciri umum tertentu, yang membedakan antara pajak yang dikenal atas penghasilan perorangan dan laba yang diperoleh sebuah perusahaan. Penetapan bagi pajak perorangan dengan cara mengenakan pajak atas pendapat hasil seseorang setelah dikurangi biaya-biaya dan potongan yang biasanya berbeda antara satu keluarga dengan yang lainnya. Pajak perusahaan dikenakan atas laba yang diperoleh suatu perusahaan setelah diperhitungkan dana untuk penyusutan. Pajak pendapatan perorangan biasanya

bersifat progresif sedangkan tingkat pajak yang berbeda dikenakan terhadap laba suatu perusahaan yang biasanya dimulai dari prosentase yang lebih tinggi. Tingkat pajak perorangan seringkali dibedakan antara pendapatan dan penghasilan yang diperoleh seseorang akan tetapi bukan merupakan suatu pendapatan dimana yang terakhir ini tingkat pajaknya dikenakan lebih tinggi. Tunjangan yang diberikan kepada perorangan (personal allowances) adalah untuk meringankan golongan berpenghasilan rendah. Bagi negara-negara berkembang hal ini secara efektif memberikan keringanan untuk sebagian terbesar dari jumlah penduduknya. Dalam hal ini administrasi pajak pendapatan nasional secara nyata memusatkan perhatian pada gaji di sektor formal yang diterima oleh pegawai pemerintah, swasta dan laba atas perusahaan.

2.3.1.2. Retribusi Daerah

Pasal 1 ayat 26 Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 menyatakan bahwa Retribusi Daerah, yang selanjutnya disebut Retribusi, adalah pungutan Daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan pribadi atau badan.

Berhubungan dengan retribusi daerah, Pemerintah Daerah hendaknya dapat mengembangkan inisiatif dan upaya untuk meningkatkan penerimaan retribusi daerah. Upaya ini antara lain dilakukan dengan cara memberikan pelayanan publik secara profesional dan mampu memberikan kepuasan kepada setiap penerima pelayanan. Hal ini menjadi penting untuk dipertimbangkan secara cermat dan komprehensif bagaimana teknis penerimaan tersebut dibarengi dengan kemampuan memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Dalam konteks pengelolaan sumber-sumber penerimaan Pendapatan Asli Daerah dari jenis retribusi tentu mempunyai konsekuensi yang harus dipikirkan oleh Pemerintah Daerah. Artinya, Pemerintah Daerah tidak boleh hanya memikirkan bagaimana memperoleh penerimaan yang sebesar-besarnya dari pemungutan retribusi, tetapi Pemerintah Daerah pun harus bertanggungjawab atas konsekuensi pemungutan retribusi tersebut. Dalam hal ini persoalannya adalah

bagaimana biaya yang dikeluarkan untuk memberikan pelayanan dengan tingkat pemasukan yang diterima dari pemungutan retribusi atas pelayanan tersebut.

2.3.1.3. Laba Usaha Daerah

Adanya Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) serta penyertaan modal Daerah ke dalam berbagai bentuk usaha patungan merupakan upaya Pemerintah Daerah untuk memperbanyak sumber Pendapatan Asli Daerah. Dengan membentuk badan usaha Pemerintah Daerah tentu berharap dapat memperoleh pendapatan yang lebih.

Dengan demikian, masing-masing Daerah dapat mengembangkan potensi perekonomian Daerah melalui badan usaha yang dikelolanya. Adapun ciri pokok dari perusahaan daerah adalah adanya kesatuan produksi (regional) dalam arti luas termasuk memberi jasa, menyelenggarakan kemanfaatan umum dan memupuk pendapatan.

Jenis usaha yang dikelolah Pemerintah Daerah sangat beraneka ragam. Hal ini tergantung pada kebutuhan dan kemampuan masing-masing Daerah. Semakin banyak potensi dan peluang usaha yang dapat dikembangkan, maka semakin besar pula kesempatan untuk meningkatkan kontribusi laba usaha Daerah terhadap Pendapatan Asli Daerah.

2.3.1.4. Lain-lain Pendapatan yang sah

Pasal 6 Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah menjelaskan : Lain-lain PAD yang sah meliputi Hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan, jasa giro, pendapatan bunga, keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, dan komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh daerah.

Berbeda dengan pengelolaan pajak daerah, retribusi daerah dan laba usaha milik daerah, pengelolaan lain-lain penerimaan Pendapatan Asli Daerah yang sah ini tampaknya sangat terbatas dan sumbernya pun bersifat khusus, seperti misalnya hibah, penjualan asset tetap Daerah, dan jasa giro. Perhitungan terhadap

pengelolaan sumber-sumber penerimaan seperti ini tentu kurang optimal bagi perumusan kebijakan keuangan Daerah. Namun demikian, hal terpenting dalam menganalisis kinerja keuangan Daerah adalah bagaimana secara kreatif masing-masing Daerah dapat mengembangkan atau memperluas penerimaan dari lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah, dengan tetap memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hal ini tergantung pada kemampuan dan kreativitas Daerah dalam menilai potensi sumber-sumber penerimaannya, termasuk dalam mengelola sistem keuangannya.

Dokumen terkait