• Tidak ada hasil yang ditemukan

APBD Provinsi Sumatera Barat

Dalam dokumen Periode Februari 2018 (Halaman 49-54)

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAERAH

2 BAB II KEUANGAN PEMERINTAH

2.1 APBD Provinsi Sumatera Barat

2.1.1 Realisasi Pendapatan Provinsi Sumatera Barat

Realisasi pendapatan Provinsi Sumatera Barat sampai dengan triwulan IV menurun dibandingkan realisasi sampai dengan triwulan IV 2016. Realisasi pendapatan secara persentase pada triwulan IV 2017 adalah 94,38%, lebih rendah dibandingkan dengan realisasi triwulan IV 2016 yang sebesar 100,02%. Namun, secara nominal, realisasi pendapatan hingga triwulan IV 2017 meningkat menjadi Rp5.767,50 miliar dibandingkan triwulan IV 2016 yang hanya sebesar Rp4.629,00 miliar (tabel 2.2).

Sementara itu, ketergantungan pendapatan

terhadap transfer dana dari pusat semakin

meningkat. Transfer dana dari pusat/dana

perimbangan berkontribusi sebesar 67,07% terhadap realisasi pendapatan pada triwulan IV 2017 (grafik 2.3.), meningkat dibandingkan triwulan IV 2016 yang hanya sebesar 55,56%. Ketergantungan yang semakin tinggi akan dana perimbangan merupakan dampak

Sumber: Kanwil DPJB Sumatera Barat, diolah Sumber: Kanwil DPJB Sumatera Barat, diolah Grafik 2.1. Anggaran, Realisasi dan Daya Serap

Belanja di Provinsi Sumatera Barat Triwulan IV 2017

Grafik 2.2. Komposisi Belanja (%) di Provinsi Sumatera Barat Triwulan IV 2017

45

langsung meningkatnya biaya pegawai secara signifikan yang sumber dananya berasal dari pemerintah pusat. Selain itu, ketergantungan yang tinggi juga menunjukkan bahwa pendapatan asli daerah (PAD), terutama pajak daerah dan retribusi daerah masih belum optimal menjadi motor penghasil pendapatan bagi daerah.

Akan tetapi, upaya Pemerintah Provinsi Sumatera Barat untuk menggenjot penerimaan PAD berdampak positif pada penerimaan pajak daerah di triwulan IV 2017. Hal ini ditunjukkan dengan pencapaian pendapatan pajak daerah yang melebihi target (106,11%). Peraturan daerah (perda) yang memuat kenaikan tarif pajak kendaraan bermotor di Sumatera Barat terbukti mampu mendongkrak pendapatan pajak daerah. Perubahan mendasar dari perda tersebut adalah adanya kenaikan terhadap pajak kendaraan bermotor untuk kepemilikan pertama dari 1,5% menjadi 1,65%, lalu untuk kepemilikan kendaraan bermotor kedua dikenakan tarif pajak sebesar 2,5%, ketiga 3%, keempat 3,5%, serta kendaraan kelima dan seterusnya akan dikenakan pajak tetap sebesar 4%. Kemudian, strategi untuk memperluas jenis layanan pembayaran pajak kendaraan bermotor melalui pelayanan jemput ke alamat (quick response), drive-thru, pajak corner, dan Samsat Keliling juga terbukti memudahkan masyarakat untuk melakukan pembayaran pajak kendaraan bermotor. Didorong oleh kedua hal tersebut, pendapatan kendaraan bermotor (PKB) dapat berkontribusi bagi pendapatan daerah sebesar Rp563,67 miliar (105,21% dari target) atau yang paling tinggi di antara porsi pendapatan pajak daerah lainnya.

Sehubungan dengan itu, kebijakan pemutihan pajak dan sanksi administrasi bea balik nama kendaraan bermotor juga mampu mendongkrak pendapatan pajak daerah dari Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) hingga mencapai angka Rp398,91 miliar atau 108,93% dari target. Kebijakan ini berhasil mendorong masyarakat untuk melakukan balik nama atas kendaraannya dan membayarkan pajak kendaraan yang mungkin selama ini terkendala karena berbedanya nama pemilik kendaraan bermotor di Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) dengan nama yang tertera pada Kartu Tanda Penduduk (KTP).

46

Tabel 2.1. Pendapatan Provinsi Sumatera Barat Triwulan IV Tahun 2016 dan 2017

Pangsa

Anggaran Anggaran * 2017

(Miliar Rp) (Miliar Rp) % (Miliar Rp) (Miliar Rp) % (%)

Pendapatan Daerah 4.629,00 4.630,00 100,02 6.110,98 5.767,50 94,38 100,00

Pendapatan Asli Daerah 1.894,00 1.970,00 104,01 2.044,50 1.834,68 89,74 31,81

1.419,00 1.522,40 107,29 1.533,30 1.626,92 106,11 28,21 20,00 19,40 97,00 19,95 22,91 114,84 0,40 90,00 90,20 100,22 98,87 94,61 95,69 1,64 365,00 338,00 92,60 392,38 90,24 23,00 1,56 Dana Perimbangan 2.647,00 2.577,00 97,36 3.990,89 3.868,41 96,93 67,07 188,00 135,00 71,81 158,22 152,44 96,34 2,64 1.262,00 1.262,00 100,00 2.067,84 2.014,65 97,43 34,93 1.197,00 1.180,00 98,58 1.764,83 1.701,32 96,40 29,50

Lain-Lain Pendapatan Yang Sah 88,00 83,00 94,32 75,59 64,41 85,88 1,12

10,00 5,00 50,00 25,24 14,06 55,72 0,24 42,00 42,00 100,00 50,35 50,35 100,00 0,87 12,00 12,00 9,21 - - - 0,00 24,00 24,00 - - - - 0,00

Dana Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak

*) Anggaran awal, sebelum perubahan

Pendapatan Lainnya Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Hibah

Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus Bantuan Keuangan

Pajak Daerah

Lain-Lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah Uraian

2016 2017

Realisasi s.d Tw-IV Realisasi s.d Tw-IV

Retribusi Daerah

Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan

Sumber : DPKD Sumatera Barat, diolah

Grafik 2.3. Komposisi Pendapatan Provinsi Sumatera Barat

2.1.2 Realisasi Belanja Provinsi Sumatera Barat

Realisasi belanja Provinsi Sumatera Barat secara nominal meningkat signifikan pasca perubahan kewenangan pembayaran gaji sejumlah guru SMA/SMK dan sederajat lainnya di tahun 2017 ini. Realisasi belanja sampai dengan triwulan IV 2017 mencapai Rp5.755,98 miliar (92,45% dari anggaran), meningkat dibandingkan dengan realisasi belanja sampai dengan triwulan IV 2016 yang hanya mencapai Rp4.504,00 miliar (93,70% dari anggaran) sebagaimana terlihat pada tabel 2.2. Bertambahnya belanja pegawai disebabkan terdapat sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN), khususnya guru SMA/SMK dan sederajat yang penggajiannya sejak tanggal 1

47

Januari dialihkan dari APBD 19 Kabupaten/Kota menjadi APBD Provinsi Sumatera Barat sebagaimana amanat UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah.

Tabel 2.2. Belanja Provinsi Sumatera Barat Triwulan IV Tahun 2016 dan 2017

Sumber : DPKD Sumatera Barat, diolah

Daya serap belanja Provinsi Sumatera Barat masih tergolong moderat. Realisasi belanja nominal pada triwulan IV 2017 meningkat dibandingkan dengan triwulan IV 2016, namun secara persentase daya serap belanja sampai dengan triwulan IV 2017 hanya mencapai 92,45%, sedikit menurun dibandingkan triwulan yang sama pada tahun sebelumnya sebesar 93,70% (grafik 2.4). Daya serap belanja pegawai dan belanja modal pada triwulan IV 2017 bahkan menunjukkan sedikit penurunan dibandingkan daya serap belanja triwulan IV 2016 (grafik 2.5 dan 2.7). Walau demikian, daya serap belanja barang/jasa mengalami lonjakan dengan realisasi daya serap mencapai 115,87% dari anggaran belanja 2017, jauh lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2016 (grafik 2.6).

Sumber: DPKD Sumatera Barat, diolah

Grafik 2.4. Daya Serap Belanja Sumatera Barat

48

Sumber: DPKD Sumatera Barat, diolah

Grafik 2.6. Daya Serap Belanja Barang/jasa

Sumatera Barat per Triwulan 2016 dan 2017 Grafik 2.7. Daya Serap Belanja Modal Sumatera Barat per Triwulan 2016 dan 2017

Porsi belanja pegawai masih mendominasi realisasi belanja Provinsi Sumatera Barat. Porsi belanja pegawai pada triwulan IV 2017 sebesar 35,16%, melonjak tajam dibandingkan dengan triwulan IV 2016 sebesar 15,63% (grafik 2.8). Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, kenaikan porsi belanja pegawai dimaksud disebabkan oleh bertambahnya jumlah ASN yang sebagian besar merupakan guru SMA/SMK sederajat, yang penggajiannya sejak Januari 2017 menggunakan APBD Provinsi Sumatera Barat. Di samping itu, komposisi belanja modal Sumatera Barat para triwulan IV 2017 jauh lebih kecil dibandingkan dengan triwulan IV 2016 (grafik 2.8). Menurunnya komposisi belanja modal antara lain turut disebabkan oleh menurunnya anggaran belanja modal Provinsi Sumatera Barat dari Rp1.117,40 pada tahun 2016 menjadi Rp832,18 miliar pada tahun 2017.

Sumber : DPKD Sumatera Barat, diolah

Grafik 2.8. Komposisi Belanja Provinsi Sumatera Barat

Realisasi 10 proyek belanja modal terbesar tergolong minim. Anggaran belanja modal terbesar Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2017 adalah untuk pembangunan gedung tempat kerja yang mencapai Rp299,96 miliar dengan realisasi sampai dengan triwulan IV

49

2017 sebesar 93,18%. Walau 6 proyek belanja modal terbesar memiliki daya serap di atas 90% pada triwulan IV 2017 ini, belanja modal Alat Peraga/Praktek Sekolah, belanja modal BLUD, dan pembangunan jembatan daya serapnya masih sangat rendah (grafik 2.9).

Sumber : DPKD Sumatera Barat, diolah

Grafik 2.9. Realisasi 10 Anggaran Belanja Modal Terbesar Provinsi Sumatera Barat Triwulan IV 2017

Dalam dokumen Periode Februari 2018 (Halaman 49-54)