• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Uang Tidak Layar Edar dan Uang Palsu

Dalam dokumen Periode Februari 2018 (Halaman 108-115)

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAERAH

5 BAB V PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG

5.2 Perkembangan Transaksi Tunai

5.2.2 Perkembangan Uang Tidak Layar Edar dan Uang Palsu

60 70 80

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 2013 2014 2015 2016 2017

triliun rupiah

Pemusnahan UTLE (Sisi Kanan) Inflow (Sisi Kanan) Rasio Pemusnahan UTLE terhadap Inflow

%

Sumber: Bank Indonesia

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90

I II III IV I II III IV I II III IV 2015 2016 2017

Pemusnahan UTLE dalam lembar juta lembar

Sumber: Bank Indonesia

Grafik 5.5. Aliran Uang Kas Masuk (Inflow) dan Keluar (Outflow) di Wilayah Sumatera Barat

Grafik 5.6. Perkembangan Pemusnahan Uang Tidak Layak Edar (UTLE) dalam lembar

5.2.2 Perkembangan Uang Tidak Layar Edar dan Uang Palsu

Uang tidak layak edar (UTLE) yang dimusnahkan mengalami kenaikan pada triwulan akhir 2017. Nominal pemusnahan UTLE di Sumatera Barat mengalami kenaikan mencapai 42,84% (yoy) menjadi Rp1,63 triliun. Kenaikan pemusnahan UTLE secara nominal tersebut juga sejalan dengan kenaikan pemusnahan secara lembaran. Terjadi peningkatan jumlah uang yang dimusnahkan menjadi 54,3 juta lembar atau 7,11% (yoy).

Kenaikan pemusnahan UTLE tersebut mendorong peningkatan rasio pemusnahan UTLE terhadap arus kas perbankan yang masuk. Tercatat, terjadi kenaikan rasio sebesar 63,82% (yoy) menjadi 62,6% pada triwulan IV 2017.

104 111 86 112 83 136 132 151 188 194 114 161 104 146 125 281 207 138 101 99 119 0 50 100 150 200 250 300

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 2013 2014 2015 2016 2017

Lembar Temuan Uang Palsu

Sumber: Bank Indonesia

Grafik 5.7. Temuan UPAL di Sumbar

Temuan uang rupiah palsu kembali turun. Setelah pada triwulan sebelumnya uang Rupiah palsu yang berhasil diidentifikasi mengalami penurunan, temuan uang Rupiah palsu pada triwulan IV 2017 berlanjut turun. Tercatat terdapat 119 lembar temuan Rupiah palsu yang didominasi uang pecahan besar (pecahan Rp100.000,00 dan Rp50.000,00). Secara tahunan, temuan Rupiah palsu pada tahun 2017 lebih sedikit dibandingkan dengan temuan pada tahun 2016. Pada tahun 2017, tercatat temuan sebesar 457 lembar, dari tahun 2016 sebesar 759 lembar. Efek gencarnya kampanye Ciri-ciri Keaslian Uang Rupiah (Cikur) yang dilakukan oleh Bank Indonesia, koordinasi antara instansi terkait yang menangani uang palsu dan diluncurkannya uang Rupiah baru yang memperkuat fitur-fitur pengamanan menjadi beberapa faktor menurunnya temuan uang palsu di Sumatera Barat selama tahun 2017.

Dalam rangka mendukung terwujudnya penyelenggaraan Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing (KUPVA) Bukan Bank yang sehat, efisien, dan memiliki tata kelola yang baik, Bank Indonesia sebagai otoritas sistem pembayaran telah mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia No. 18/20/PBI/2016 tanggal 3 Oktober 2016 dan Surat Edaran Bank Indonesia No. 18/42/DKSP tanggal 30 Desember 2016 tentang Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank (KUPVA BB). Sesuai ketentuan dimaksud, para penyelenggara KUPVA BB (money changer) harus berbentuk badan hukum dan mendapatkan izin usaha dari Bank Indonesia. Setelah berakhirnya masa transisi pada 7 April 2017, Bank Indonesia terus melakukan

BOKS 3:

Penerapan Anti Pencucian Uang (APU) dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT) Bagi Penyelenggara Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank

105

sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terkait kewajiban berizin bagi penyelenggara KUPVA BB, termasuk melakukan pemetaan (mapping) dan penertiban terhadap penyelenggara KUPVA BB tidak berizin, bekerja sama dengan berbagai pihak terkait (Kepolisian, PPATK, BNN dan lainnya).

Hingga akhir Desember 2017, jumlah penyelenggara KUPVA BB di wilayah Sumatera Barat yang telah mendapatkan izin dari Bank Indonesia sebanyak 14 KUPVA BB (13 Kantor Pusat dan 1 Kantor Cabang) yang tersebar di kota Padang, Bukittinggi, Payakumbuh, dan Kab. Padang Pariaman. Jumlah ini meningkat 100% dari tahun sebelumnya yang hanya 7 KUPVA BB berizin.

Tabel. 1 Penyelenggara KUPVABB Berizin di Wilayah Sumatera Barat Posisi Desember 2017

No. Nama KUPVA BB Alamat

1 PT Inavalas Rekananda

Jl. Batang Arau No. 88/C.8 Kel. Batang Arau, Kec. Padang Selatan Kota Padang

2 PT Equator Valutamas

- Terminal Kedatangan Internasional Lt 1 Bandara Internasional Minangkabau Kel. Nagari Ketaping, Kec. Batang Anai Kab. Padang Pariaman

- Jl. Hayam Wuruk No. 31 (Kantor Cabang) - Jl. Veteran No. 51 Padang (Kantor

Cabang)

- Jl. By Pass KM 10 Simpang Taruko Padang (Kantor Cabang)

3 PT Uda Metro Money Exchange

Jl. Ir. H. Juanda No. 79 (Hotel Pangeran) Kel. Rimbo Kaluang Kec. Padang Barat Kota Padang

4 PT Murni Valas Abadi

Pasar Raya Barat III No. 3 C Kel. Kampuang Jao Kec. Padang Barat Kota Padang

5 PT Vito Mandiri Sepakat

Jl. Imam Bonjol No. 2 D Kel. Belakang Pondok Kec. Padang Selatan Kota Padang

6 PT Rambuti Valuta Asing

Jl. Minangkabau No. 38 Kel. Benteng Pasar Atas Kec. Gugak Panjang Kota Bukittinggi

106

No. Nama KUPVA BB Alamat

Internasional Minangkabau, Kel.

Nagari Ketaping, Kec. Batang Anai Kab. Padang Pariaman

8 PT Cahaya Valuta Perkasa

Lantai I Ruang Kedatangan

Internasional Bandar Udara

Internasional Minangkabau, Kec.

Batang Anai, Kab. Padang Pariaman.

9 PT Jasa Baguna Mandiri Jl. Jhoni Anwar No. 3 A Kel. Lapai Kec.

Nanggalo, Kota Padang

10 PT Mutiara Jaya Valutamas

Jl. Bundo Kanduang No. 20-28 Kel. Kampung Pondok, Kec. Padang Barat, Padang

11 PT Asia Artha Lestari

Jl. Gajah Mada No. 268 Kel. Nunang Daya Bangun Kec. Payakumbuh Barat, Payakumbuh

12 PT Permata Valas Bukittinggi

Jl. Soekarno-Hatta No. 2 Kel. Aur Tajungkang Tengah Sawah, Kec. Guguk Panjang, Bukittinggi

13 PT Singgalang Asri Valutamas

Janjang 40 No. 5 Kel. Aur Tajungkang Tengah Sawah, Kec. Guguk Panjang, Bukittinggi

14 PT Garuda Usaha Ibu Jl. Soekarno-Hatta No. 54 Batusangkar

Berdasarkan data transaksi valuta asing (valas) yang dilakukan oleh penyelenggara Kegiatan Valuta Asing (KUPVA) Bukan Bank (BB) berizin, total volume transaksi jual dan beli valas di Sumatera Barat pada tahun 2017 mencapai Rp223,76 miliar. Transaksi valas tersebut didominasi oleh mata uang Ringgit Malaysia, Dollar Amerika, dan Dollar Singapura.

107

Sumber : Bank Indonesia, diolah Sumber : Bank Indonesia, diolah Grafik 5.8. Pembelian valas oleh

KUPVA BB

Grafik 5.9. Penjualan valas oleh KUPVA BB

Perkembangan inovasi teknologi yang cukup pesat telah mendorong munculnya berbagai inovasi dalam kegiatan sistem pembayaran dan kegiatan usaha penukaran valuta asing sehingga produk/jasa dan transaksi serta model bisnis sistem pembayaran dan kegiatan penukaran valuta asing menjadi semakin kompleks. Kemajuan teknologi informasi saat ini juga telah menghilangkan batas negara yang memudahkan terjadinya kejahatan terorganisasi secara lintas batas (transnational crime) sehingga risiko pencucian uang dan pendanaan terorisme menjadi semakin meningkat. Peningkatan risiko tersebut perlu direspons dengan penguatan pengawasan berbasis risiko (Risk Based Approach) agar pengawasan dapat dilakukan secara optimal.

Perkembangan metode pencucian uang dan pendanaan terorisme merupakan fenomena global. Berdasarkan FATF (Financial Action Task Force)7, setiap negara harus mengidentifikasi, menilai dan memahami risiko pencucian uang dan pendanaan terorisme. Berdasarkan hasil kajian penilaian risiko secara nasional (National Risk Assesment/NRA) atas Money Laundering/Terrorist Financing (ML/TF) tahun 2015, KUPVA dinilai memiliki risiko menengah dalam Money Laundering untuk kategori penyelenggara. Sementara itu, berdasarkan hasil kajian Sectoral Risk Assesment (SRA) terkait Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang dilakukan oleh Bank Indonesia pada Mei 2017, wilayah DKI Jakarta dan Kepulauan Riau serta Bali, yang memiliki banyak penyelenggara KUPVA termasuk dalam kategori risiko TPPU yang tinggi dan menengah, sedangkan wilayah lainnya termasuk Sumatera Barat

7 FATF merupakan lembaga antar negara yang diinisiasi dalam pertemuan negara-negara G7 di

108

memiliki risiko TPPU yang rendah. Dilihat dari produk atau mata uang yang digunakan, Dollar Amerika Serikat termasuk dalam risiko tinggi, disusul dengan Dollar Singapura (risiko menengah) dalam praktek TPPU. Sementara dari sisi pelaku, yang termasuk kategori tinggi adalah pegawai swasta, sedangkan kategori menengah adalah pelaku bisnis dan ibu rumah tangga.

Sesuai UU tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (UU TPPU) dan UU tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme (UU TPPT), Bank Indonesia merupakan salah satu Lembaga Pengawas dan Pengatur (LPP) yang memiliki kewenangan untuk melakukan pengawasan, pengaturan, dan mengenakan sanksi terhadap Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) selain Bank dan Penyelenggara Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank (KUPVA BB) dalam penerapan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai anti pencucian uang dan pencegahan pendanaan terorisme.

Untuk menjalankan kewenangan tersebut Bank Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia No. 19/10/PBI tanggal 6 September 2017 tentang Penerapan Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran Selain Bank dan Penyelenggara KUPVA Bukan Bank, yang merupakan penyempurnaan dari ketentuan sebelumnya. Penerapan APU dan PPT oleh Penyelenggara dan Pengawasan Bank Indonesia dilakukan dengan pendekatan berbasis risiko (risk based approach). Dalam hal ini, penyelenggara menerapkan manajemen risiko dan wajib melakukan identifikasi, penilaian, pengendalian, dan mitigasi risiko pencucian uang dan pendanaan terorisme. Sedangkan Bank Indonesia akan melakukan pengawasan dengan mengombinasikan pendekatan kepatuhan dan pendekatan berbasis risiko.

Dalam penerapan manajemen risiko, penyelenggara KUPVA wajib memiliki kebijakan dan prosedur terkait Customer Due Diligence (CDD), pengelolaan data, informasi dan dokumen, serta pelaporan Transaksi Keuangan Mencurigakan dan laporan lainnya. Terkait dengan CDD, penyelenggara KUPVA BB wajib melaksanakan CDD terhadap pengguna jasa untuk memastikan efektivitas penerapan APU dan PPT. Salah satu penerapan CDD adalah dengan meminta informasi dan dokumen identitas (seperti nama, nomor identitas, alamat, tempat/tanggal lahir, tanda tangan dan data pendukung lainnya) kepada para

109

pengguna jasa. Apabila pengguna jasa termasuk dalam kategori berisiko tinggi8 atau termasuk dalam Politically Exposed Person (PEP)9, maka penyelenggara KUPVA BB wajib melakukan CDD yang lebih mendalam, yaitu dengan menerapkan Enhanced Due Diligence (EDD). Dalam EDD, penyelenggara KUPVA BB akan meminta informasi tambahan seperti sumber dana dan tujuan transaksi kepada pengguna jasa. Dalam hal pengguna jasa tidak memberikan data identitas atau menggunakan nama fiktif/anonim, atau penyelenggara meragukan kebenaran identitas nasabah, maka penyelenggara KUPVA BB dapat menolak/membatalkan transaksi pengguna jasa.

Selain itu, sebagai salah satu upaya untuk memitigasi risiko terjadinya tindak pidana pencucian uang dan pendanaan terorisme, maka sesuai ketentuan terkait penyelenggaraan KUPVA BB, pembelian uang kertas asing (UKA) terhadap Rupiah oleh nasabah dari penyelenggara KUPVA BB di atas jumlah tertentu (threshold) wajib memiliki underlying transaksi. Pembelian UKA tanpa dokumen underlying transaksi hanya dapat dilakukan paling banyak sebesar USD25,000.00 (dua puluh lima ribu dolar Amerika Serikat) atau ekuivalennya per bulan per Nasabah.

8

Kriteria risiko tinggi ditentukan dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti a) risiko pengguna jasa, antara lain dilihat dari jenis pekerjaan/profesi, kewarganegaraan, bidang usaha, skala kegiatan usaha, dan kepemilikan, b) risiko negara atau wilayah geografis, antara lain dilihat dari lokasi usaha atau negara asal/tujuan transaksi, c) risiko produk atau jasa, antara lain ditentukan berdasarkan pola transaksi, penggunaan uang tunai, jumlah transaksi, penggunaan teknologi, dll, dan d) risiko jalur atau jaringan transaksi (delivery channels), antara lain ditentukan berdasarkan penggunaan platform berbasis web/internet/media lainnya yang memungkinkan transaksi dilakukan tanpa hubungan tatap muka, dan penggunaan pihak ketiga dalam melkukan hubungan usaha dengan pengguna jasa.

9

Politically Exposed Person (PEP) atau orang yang populer secara politis meliputi a) PEP asing yaitu orang yang diberi kewenangan untuk melakukan fungsi penting (prominent function) oleh negara lain; b) PEP domestik yaitu orang yang diberi kewenangan untuk melakukan fungsi penting (prominent function) oleh negara; dan c) orang yang diberi kewenangan untuk melakukan fungsi penting (prominent function) oleh organisasi internasional. Termasuk dalam PEP antara lain pejabat negara (baik dari lembaga eksekutif, legislatif, maupun yudikatif), direktur BUMN, ketua partai politik, dan anggota keluarganya (pasangan, orang tua, saudara, anak, menantu, cucu).

110

Dalam dokumen Periode Februari 2018 (Halaman 108-115)